THE PERFECT HUSBAND: I want you!

THE PERFECT HUSBAND: I want you!
api kemarahan yang menuntut pemabalasan!



  Langkah kaki lia terasa berat untuk meninggalkan rumah yang memiliki banyak kenangan bersama keluarga kecilnya dulu,  dimana hanya ada tawa dan canda, juga kasih sayang dari sang ayah dan ibu yang selalu dilimpahkan kepada lia.



Tapi lia ingat dirinya kini bukan siapa-siapa lagi, bahkan dia tidak lagi menyandang marga fanz pada nama belakangnya.



Berjalan dengan gontai lia membawa langkahnya menjauh dari rumah mewah ini, setelah pembantu rumah fanz memberikan koper yang berisi baju-baju lia padanya.



  Ingin sekali lia menangis sekeras mungkin lia sudah tidak tahan menghadapi semua ini, segala masalah yang terjadi sudah jauh dari ekspektasi yang di bayangkan oleh lia.



  Seingatnya lia tidak pernah seterpuruk ini dimana harga diri dan perasaannya dijatuhkan secara bersamaan dan rasanya ini sungguh menyakitkan.



  Setelah berjalan lumayan jauh dari kediaman fanz lia memberhentikan langkahnya di sebuah halte bus, mendudukan tubuhnya di atas kursi sambil menatap luas jalanan kota yang cukup ramai.



  Ada beberapa pejalan yang memandangi lia dengan tatapan heran, adapula yang menatap lia dengan tatapan benci sekaligus tidak suka.



  Lia tahu ini semua karena berita yang menyebar tentang dirinya, berita buruk yang sengaja di buat oleh aedeline untuk menjatuhkan karirnya, memang perempuan penjilat seperti aedeline sangatlah licik apapun caranya akan aedeline akan tempuh supaya bisa menjatuhkan lia.



  Karena merasa tidak akan aman jika terus menunjukan diri pada publik, lia mengambil masker yang berada di dalam tas yang lia bawa, menggunakannya supaya dirinya tidak dikenali oleh banyak orang.



  Dihalte bus itu lia hanya terdiam, pemikirannya terus berputar tentang kehidupan selanjutnya yang akan dia jalani.



Jujur, lia bingung tidak tahu harus memulai dari mana kehidupan barunya, tidak mungkin lia akan kembali ke industri permodelan karena sekarang pasti semua kontrak kerja yang terikat dengan lia akan di putuskan setelah berita itu tersebar.



  Mia monica yang juga adalah seorang manajernya tidak mungkin bisa membantu lia, semua ini sudah hancur tidak tersisa, seluruh karirnya yang ia bangun dari nol sudah hilang begitu saja hanya karena masalah seperti ini.



  Hanya sebuah masalah kecil tapi berdampak serius pada kehidupannya dan semua ini terjadi karena aedeline dan ibu tirinya.



  Lia mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan kobaran api kemarahan yang menuntut pemabalasan pada aedeline dan ibunya itu, mereka yang tidak tahu diri datang ke kehidupan lia yang bahagia merusak segalanya dengan berpura-pura menjadi baik ketika di hadapan ayah lia dan menjadi jahat saat ayah lia tidak ada.



  Tapi seberapa kejam mereka lia tidak akan pernah marah bahkan lia sangat sayang pada aedeline selaku adiknya dan inilah balasan yang mereka berikan.



Namun, inilah hal yang paling menyakitkan segalanya telah di rampas oleh orang tersayang lia sendiri, keluarganya, kehidupannya, kebahagiaannya, cintanya dan juga karirnya hancur.



  Lia akan membalas semua ini, dia yakin dirinya akan membuat aedeline merasakan hal yang sama dengan lia bahkan lebih.



  Tunggu tanggal dimana hal itu akan terjadi di mana lia akan melihat mereka kesusahan dan lia lah yang mentertawakan.



  Karena terlalu terbawa emosi yang berkobar lia tidak sadar sedari tadi sebuah mobil limousin berhenti di hadapannya, sampai ketika dua orang lelaki bertubuh kekar keluar dari mobil itu dan menarik paksa lia untuk masuk ke dalam mobil.



  Lia memberontak hingga membiarkan dirinya melupakan segala amarahnya untuk mencoba melepaskan diri dari kedua lelaki ini.



Tapi ketahuilah kekuatan mereka sangat kuat lia yang memang lemah tidak bisa melakukan apapun keculai pasrah dirinya di bawa paksa oleh kedua orang ini.



  Di dalam mobil lia masih sempat berteriak sekeras mungkin tapi semua orang acuh seakan tidak mendengar teriakan lia, hal itu semakin membuat lia merasa sakit hati bahkan dunia sudah tidak menganggap keberadaannya.



  Setetes air mata kembali terjatuh dari mata lia suara isakan pun lolos dari mulutnya karena tidak sanggup menerima kenyataan ini, kenyataan buruk yang lagi harus lia rasakan.



  Tuhan benar-benar memberikan sebuah cobaan yang berat pada lia hingga lia pun merasa tidak sanggup untuk menghadapinya. Kini dirinya hanya bisa terdiam di dalam mobil ini sambil menutup kedua matanya dengan isakan yang masih terdengar.



  Mencoba pasrah pada tuhan semoga saja ini bukan dari bagian rencana aedeline dan ibunya.



  "Seharusnya kau tidak menangis." Sebuah tangan kekar dengan halus mengusap air mata lia yang tidak berhenti menetes.



  Lia memalingkan wajahnya mendapati lelaki dengan nama johnson lei berada di hadapannya membuat amarah lia semakin tidak bisa di kendalikan.



  "K—au lagi!" Lia menepis tangan john yang masih berada di pipinya mencoba menguatkan dirinya agar tidak menangis saat berada di hadapan lelaki gila seperti john.



  "Apa lagi yang kau inginkan? Kau sudah merampas segalanya yang ku punya, aku tidak mempunyai apa-apa lagi dan kau puas bukan!?" Lia berbicara dengan nada bergetar tetapi matanya tidak bisa berbohong dia memang sangat membenci john.



  "Kau puas bukan? Hm?" Lia melemahkan ucapannya, dia berusaha kuat tapi gagal dia lakukan dirinya kembali menangis di hadapan john yang tidak seharusnya lia lakukan.




   Karena sudah tidak sanggup melihat lia bersedih john menggapai tubuh lia, mendekapnya dalam pelukan yang menghangatkan dan menenangkan.



  "Kau jahat! Kau lelaki ********,  kau merebut kebahagiaan ku" Lia menjerit histeris dalam pelukan john memukul dada john yang masih setia memeluknya mencoba mengurangi rasa kecewa yang di alami oleh lia.



   Lia memang bukan wanita yang kuat dia sangatlah lemah kehilangan sebuah keluarga dan harga diri bukan hal kecil baginya, justru ini membuatnya merasa terpukul.



  Tapi lia ingat janjinya akan membalas semua ini pada aedeline dan ibunya, jika dia lemah di hadapan john bagaimana dia bisa membalas dendam dengan kedua orang licik itu.



  Dengan keyakinan yang masih tersisa lia mencoba menguatkan dirinya sendiri, janjinya ini adalah kali terkahir lia akan menangis.



Dan lia mulai babak baru tentang kehidupannya.



  Lia menepis kedua tangan john yang masih mendekapnya mengusap kedua matanya untuk tidak lagi mengeluarkan air mata, lalu menatap john dengan tatapan yang sangat dingin mencoba menghilangkan rasa takutnya.



  "Lalu apa yang kau inginkan? Uang? Maaf aku tidak bisa memberikan itu, tapi jika kau memang menginginkannya, aku akan memberikannya pada mu tapi tidak sekarang." Tanya lia mengatur ekspresi wajahnya agar tidak terlihat ketakutan.



  "Aku menginginkan dirimu, bagaimana?" Tawar john dengan wajah licik juga sebuah smrik yang menakutkan.



  Lia mendecih sambil memutar bola matanya malas, bagaimana john bisa menginginkan lia di saat dirinya sudah tidak mempunyai apapun.


 


  "Jangan harap aku tertipu dengan rayuan murahan mu, aku tahu kau menginginkan ku untuk kau manfaatkan bukan? Bahkan kita tidak saling mengenal." Jawab lia sambil terkekeh gurat ekspresi pada wajah lia sangatlah berbeda ketika dirinya menangis tadi.



   Bagi lia hal seperti ini bukanlah hal asing mengubah air muka bukan hal yang aneh, jadi wajar perubahan ekspresi lia sangatlah drastis.



   "hm, menarik kau adalah perempuan pertama yang menghina diriku bahkan menuduhku." Ujar john tanpa ekspresi sedikit pun, lia berpikir mungkin wajah john sedingin itu pasalnya ekspresi tidak ada yang berbeda hanya dingin yang john tampilkan.



   "Lalu apakah aku salah? Kau yang bersekongkol dengan aedeline hingga membuat hidupku seperti ini." Kini giliran lia yang mengutarakan apa yang ingin dia katakan.



  "Apa kau pikir aku bersekongkol dengan adik jelekmu yang bodoh itu?" Tanya john membuat lia kebingungan jika orang yang berada di hadapannya ini tidak bersekongkol dengan adiknya, lalu siapa lelaki ini.



  "Selain adikku siapa lagi yang akan menghancurkan hidupku? Sudah cukup aku bersabar dengan semua ini, aku bisa melaporkan dirimu atas kasus penculikan dan pemerkosaan." Ancam lia sambil menunjukan ekspresi mengejek john bahkan lia mendengus benci pada john.



  Lia sendiri masih tidak tahu apakah ini benar dirinya atau bukan karena memang lia yang dulu sangatlah lemah lembut juga memiliki rasa empati tinggi pada orang lain.



  Tapi semua itu sudah lia hilangkan untuk saat ini.



  John yang mendapati ancaman itu hanya tersenyum santai dia tidak menunjukan raut kepanikan justru sebuah senyuman terpatri dari wajah simetris john membuat lia kesal bukan main.



   "Apa polisi akan menerima laporan mu? Jika kau melaporkan suami mu sendiri kau akan terlihat bodoh di depan mereka." John malah tertawa membalas tatapan mengejek dari lia.



Kesimpulannya dua orang ini memang sangat pandai mengubah ekspresi dan juga membalikan sebuah fakta.



  Ucapan john membuat lia semakin merasa pening teori macam apa lagi yang di utarakan oleh john.



"Menikah? Apa kau mencoba menipu ku? Oh—hei, aku tahu ini hanya alasan mu bukan? Lagi pula kau tidak memiliki bukti bahwa kita telah menikah." Lagi-lagi lia membalas ejeken john, bagaimana bisa lelaki itu mengaku bahwa mereka adalah suami istri.



  "Apa yang akan kau berikan jika memang benar bahwa kita telah menikah? Kau akan menyerahkan dirimu untuk ku?" John menarik dagu lancip lia menatap setiap wajah lia yang selalu menjadi candu untuk john.



  Perempuan yang ada di hadapannya ini bukanlah perempuan biasa saja tapi lia istimewa dan luar biasa.