
Lia wanita dengan wajah sempurna itu sedang menikmati waktu istirahat malamnya, matanya terpejam tapi pikiran nya tak berhenti berfikir dan terus di hadapi dengan sebuah kesibukan yang mana, kini dia memikirkan john, sudah 2 hari ini lia bangun tanpa di sungguhkan dengan pemandangan wajah erotis milik john.
Hal itu membuatnya sedikit rindu dengan segala hal yang berhubungan dengan john, tapi sekali lagi, sebuah kenyataan memperingatkan lia untuk tidak terlalu membayangkan bahwa john mengkhawatirkan nya. Jika memang benar john mengkhawatirkan nya, pasti alasan john hanya karena anak ini, bayi yang sedang di kandung oleh lia, adalah alasan john untuk mempertahankannya.
Lia menggeliat ke samping kiri dan kanan, berguling guling tak karuan, jujur ini sulit baginya, di saat dia tengah mengandung lia harus menanggung semuanya sendiri.
Dia butuh kasih sayang seorang suami, dia butuh perlindungan yang benar benar di tunjukan khusus di berikan untuknya, bukan seperti ini, hidup di negara orang lain tanpa seorang yang benar benar lia butuhkan.
Gwen, wanita itu sangat baik, dia mau menampung gembel seperti dirinya, bahkan gwen dengan suka rela memberinya makan dan minum dengan teratur, jika bukan karena mengingat gwen adalah temannya, sulit untuk lia menerima segala pemberian orang lain, tapi beruntungnya dia di saat seperti ini masih ada orang yang mau mengasihinya.
Sudah 2 hari terhitung sejak lia meninggalkan john tanpa sebuah kabar, lia dengan sengaja merusak handphone agar sinyalnya tidak di temukan, dan pergi tanpa memberitahu siapa pun kecuali mia, yang memang mengetahui keputusan bodoh yang di ambil oleh lia.
Kadang rasa sesal masih sering membayangi hatinya, keputusan nya untuk pergi dari kehidupan john, membuatnya mengerti bahwa sesungguhnya dia sudah sangat menyayangi john.
setetes cairan bening lolos dari matanya, menangis adalah satu satunya cara agar seluruh penyesalan nya terlampiaskan. Tidak ada kata terlambat untuk lia memulai segalanya kembali, namun ada banyak hal yang dia takutkan, ada banyak hal yang dia pertimbangkan. Seluruh spekulasi nya tentang kelanjutan kisah hidupnya, akan selalu menjadi aliran sungai deras yang tiada ujungnya.
Jalan satu satunya yang dapat lia lakukan adalah menunggu waktu untuk menjawabnya, karena setidaknya jika dia benar benar tidak menemukan jawabannya, maka waktulah yang menggantikan, walaupun dia harus menerima segala keputusan yang di berikan oleh waktu.
"Lia? Kau belum tidur?" Gwen merasakan banyak kegelisahan yang sering di tampilkan oleh lia, terkadang gwen berfikir pergi dari john adalah hal terberat yang pernah di alami oleh lia.
Gwen sebenarnya tidak tega melihat kondisi sahabatnya ini, tapi dia tidak bisa melakukan apa pun karena semua ini adalah keputusannya.
"Be-lum" Jawab lia pelan, gwen membiarkan lia tidur bersamanya, karena gwen mengkhawatirkan kondisi lia yang sedang tidak baik.
"Istirahat lah yang cukup, bagaimana? Kau ikut denganku?" Tanya gwen menatap lia yang sedang memunggungi nya tengah menyembunyikan rasa sedih yang selama ini terpendam.
"Hmmm... " Lia berdehem pelan memikirkan jawaban yang akan dia berikan pada gwen.
"Aku... Aku ikut gwen, rasanya lebih baik aku benar benar pergi jauh dari kehidupan john..." Jawaban lia sudah membuat gwen yakin bahwa lia memang tidak bisa kehilangan john di hidupnya.
Terbukti dengan seringnya gwen mendengar isakan pelan di balik menta nya tidur lia, hingga ia tahu bagaimana lia mengigau memanggil manggil nama john dengan keras.
Hal itu sudah menjadi sebuah bukti untuk gwen bahwa lia memang sudah sangat mencintai john dan benar benar takut kehilangan.
"Kau yakin akan ikut denganku? Aku tidak ingin kau menyesal, oke?" Tanya gwen lagi meyakinkan keputusan yang di ambil oleh lia.
Lia mengangguk pelan, ya dia menyetujui permintaan gwen untuk ikut bersama nya pulang ke melbourne australia, tempat lahir gwen.
Gwen sebenarnya bukan asli orang london dia di sini hanya untuk meneruskan kuliah nya sama dengan lia. Hanya saja gwen memutuskan untuk bekerja di sini lebih lama agar mendapatkan pengalaman yang lebih banyak.
Dan kini orang tua gwen meminta nya kembali ke Australia, untuk membantu meneruskan perusahaan milik keluarga.
***
8 bulan kemudian...
Gadis bertubuh gemuk itu berjalan tertatih tatih setelah mengeluarkan tubuhnya dari dalam taksi, wajahnya terlihat lesu tak bersemangat. Sambil membawa sebuah tas jinjing bermerek, wanita itu menggenggam pinggangnya pelan, rasa sakit yang tak tertahankan dapat ia rasakan di dalam sendi sendi tulang punggung nya.
Membawa tubuhnya kini sudah sangat sulit untuknya, "Ahhh sakit.. " Rintih wanita itu yang di ketahui bernama annalia, lia yang masih menyusuri jalanan komplek perumahan mewah itu, memutuskan untuk menepi sebentar di pinggir jalan, hanya untuk sekedar mengistirahatkan kakinya.
"Stela!" Teriak seorang wanita dengan intonasi suara nyaring, yang sejujurnya menggangu saluran pendengaran.
Lia yang mendengar teriakan itu, melirik sebentar lalu tersenyum saat melihat seorang wanita dengan pakaian santai tengah berlari ke arahnya.
"Stela!" Saat sampai di depan lia, wanita itu menatap lia tajam, hendak memarahinya namun seperti nya dia tahan karena sekarang posisi mereka masih berada di sisi jalan.
"Ada apa?" Tanya lia pada wanita yang sedikit tua dari nya yang dia ketahui bernama emly Stewart.
"Stela.. Kau baru pulang bekerja? seharusnya kau istirahat saja, lihatlah perut mu sudah besar seperti itu? Apa kau tega membuat anak mu sendiri kelelahan?!" Omel emly pelan, tapi masih dengan tatapan menginterogasi meminta penjelasan.
"Tidak apa apa aku masih kuat... " Lia berdiri dari duduknya, sambil menjinjing tas dengan merek gucci itu.
"Stela!" Emly berteriak mendapati sikap acuh lia yang seakan tak peduli dengan kondisi anaknya sendiri.
Setelah memutuskan untuk ikut bersama dengan gwen ke melbourne, lia mengganti Identitas dirinya dengan sangat baik, ini semua berkat bantuan Keluarga gwen yang suka rela membantunya, kini lia di kenal dengan nama stela morris salah satu saudara dari keluarga besar morris, yang padahal tidak sesuai dengan realita.
"Iya? Apa? Aku ingin pulang kak!" Lia berjalan pergi meninggalkan emly.
"Tunggu!" Pekik emly lagi sambil mengejar lia yang sudah berjalan lumayan jauh darinya.
"Ayo pergi ke rumahku, aku membuat sup jamur dan beberapa makanan enak lainnya... Kau mau? Lagi pula gwen belum pulang." Tawar emly ramah pada lia yang tetap acuh berjalan meninggalkan nya.
"Aku akan menunggu gwen saja kak, terimakasih..." Lia membuka gerbang rumah yang selama 8 bulan ini ia tempati bersama dengan gwen.
"Tapi gwen meminta ku untuk mengajak mu makan bersama stela, mari aku sudah masakan sup jamur kesukaan mu." Paksa emly, lia memberhentikan aktivitas nya membuka gerbang rumah, lalu menatap emly yang lebih tua 2 tahun dari nya.
"Baiklah, hanya untuk makan siang bukan?" Tanya lia, dia bukan tak suka dengan perlakuan emly padanya hanya saja dia merasa emly terlalu berlebihan menganggapi kondisi nya.