
"Kenapa kau tidak bilang kalau johnshon lei itu adalah pemilik perusahaan HW evolution!"
Aedeline melempar seluruh kesalahannya pada georgeo dia menyalahkan georgeo karena tidak memberitahu siapa johnson lei sebenarnya.
"Aku sudah ingin bilang tapi mulutmu itu susah untuk di atur! kau terus beranggapan bahwa ayahmu berkuasa di mana mana!"
Georgeo tidak terima dia di salahkan atas apa yang di lakukan oleh aedeline.
"Sudah lah tidak ada gunannya kita bertengkar! Sekarang bagaimana kita akan mencari gaun pengantin ku!" Aedeline merasa tidak ada gunanya bertengkar dengan georgeo yang sangat keras kepala.
"Aku tidak tahu! Mari kita segera pulang aku ada rapat penting yang harus aku hadiri" Georgeo pergi meninggalkan aedeline, dia lebih mementingkan urusan kantor dari pada urusan dengan aedeline.
"Kau mau kemana! Kita harus mencari gaun pengantin kita sekarang juga! Jika kau tidak mau aku akan bilang pada ayah!" Ancam aedeline menarik tangan george agar tidak pergi.
"Kau ingin mengancam ku dengan membawa nama ayahmu! Asal kau tahu yah kau itu hanya anak tiri kau tidak berhak membawa namanya dalam urusan kita!"
Georgeo tidak takut akan ancaman dari aedeline.
"hhhhhh Awas kau georgeo kau tidak bisa pergi dari ku!"
Kesal aedeline di dalam hatinya, dia menahan emosinya karena dari tadi dia sudah di perhatikan oleh banyak orang yang berada di stargold mall.
"Georgeo tunggu aku!" Aedeline mengejar georgeo yang sudah berjalan menjauh.
"Ada apa lagi! Aku sebentar lagi akan ada rapat, kau pulang lah dengan taksi atau apa terserah padamu!"
Georgeo berhenti dia menatap aedeline dengan penuh amarah yang seakan di redam dalam dalam.
"Tunggu sebentar apakah kau tidak ingin melihat johnson lei! Aku ingin melihat siapa yang di ajak oleh johnson lei ke mall ini!"
Aedeline menarik narik tangan georgeo berusaha menahannya agar tidak pergi.
"Untuk apa melihat hal seperti itu! Dia Johnson lei sudah terkenal playboy dari dulu sudah menjadi hal biasanya baginya membawa gadis gadis baru."
Keluh georgeo dia merasa tidak ada yang istimewa dari johnson lei, john hanya beruntung karena dia tampan dan juga memliki banyak harta sehingga dia bisa bermain main dengan banyak perempuan.
Pikir georgeo.
"Pliss kita tunggu sebentar di sini aku memohon... " Aedeline memelaskan wajahnya, dia ingin georgeo menemaninya untuk sebentar saja melihat kedatangan johnson lei.
"Oke! Hanya melihatnya datang kesini! Setelah itu kita bisa pergi dari tempat ini!"
Syarat yang di berikan georgeo sangat mudah.
Aedeline mengangguk tanda setuju.
Sementara lia dengan john masih di perjalanan menuju mall stargold dan sebentar lagi mereka sampai.
Setelah beberapa menit, mobil milik john berhenti di depan sebuah gedung mall yang sangat besar.
Stargold mall adalah mall terbesar di negara ini, dan juga menjadi pusat perbelanjaan bagi para kaum elit yang ingin membeli pakaian dengan kualitas terbaik.
"Ayo turun... " John mengajak lia untuk turun bersama nya dari mobil.
"Tapi.. Lihatlah banyak orang... " Lia menatap ke arah jendela mobil dari pandangannya dia melihat banyak orang yang menunggu di depan.
"Kau bisa menggunakan kacamata hitam ini." John memberikan kacamata pada lia, lia menggunakan kacamata itu dia terlihat sangat cantik walau mata indahnya di tutupi oleh kacamata.
Lia dengan john turun bersama, sebuah red karpet menyambut kedatangan mereka.
Banyak pegawai yang berbaris rapih memberikan hormat pada john dan lia.
John menggandeng tangan lia, lia hanya menunduk malu.
Mereka berdua berjalan masuk kedalam mall di mana lantai satu masih di penuhi oleh banyak orang.
"Selamat datang pak johnson lei" Lelaki paruh baya itu memberikan hormat pada john.
"Terimakasih pak zhang...Saya harap saya tidak kecewa dengan pelayanan bapak di sini." kata john pada lelaki paruh baya itu yang ternyata xiao zhang.
"Mari... Saya antar anda ke tempat yang telah kami sediakan." Zhang mengantar john dengan lia menuju lantai 2 yang sudah di pesan oleh john.
Semua orang yang melihat kedatangan john terkejut, mereka hanya bisa memperhatikan dari jauh karena di halangi oleh pagar pembatas dan juga penjaga yang berbaris rapih.
Di Antara para pembeli yang memperhatikan kedatangan john, ada aedeline dengan georgeo yang ikut melihat kedatangan john.
"Aku merasa...? Perempuan yang di bawa john mirip dengan lia!"
Georgeo malah fokus memperhatikan lia dia merasa kenal dengan lia, tapi dia tidak yakin karena lia menutupi matanya dengan kacamata hitam.
"Sayang... Aku merasa wanita yang di bawa john mirip dengan Annalia!" Ucap georgeo pada aedeline.
"Tidak mungkin! Lia pasti sekarang sudah jadi gembel di pinggir jalan! Mana mungkin dia akan bersama johnshon lei."
Ucap aedeline tidak percaya, mana mungkin kakaknya itu bisa bersama johnson lei.
"Aiya... Kenapa kita tidak mengundang kakak mu untuk datang ke pesta pernikahan kita?" Saran georgeo pada aedeline.
"Benar juga... Aku akan menelefonnya nanti... Aku harap dia masih mempunyai handphone..." Aedeline tersenyum licik dia sangat setuju dengan saran tunangannya ini.
"Aku akan melihat wajah lia sangat marah... Karena aku berhasil merebut tunangannya."
Aedeline sangat senang jika dia berhasil membuat lia merasa sedih dan marah.
Lalu john dengan lia sekarang berada di lantai 2.
"Kau pilih apapun yang kau suka di sini, aku tidak akan melarangmu. Aku akan pergi mencari sesuatu kesana, pelayan tolong temani istri saya."
John memerintahkan pelayan untuk menemani lia berbelanja.
"Oke... " Lia bersama seorang pelayan pergi memilih milih baju.
Toko toko yang berada di lantai 2 ini sangat sepi tidak ada orang sama sekali sehingga lia tidak merasa terganggu.
"Mm.. Kemana seluruh pembeli di lantai ini? Apa benar benar tidak ada siapa siapa?"
Tanya lia pada pelayan yang mengikutinya.
"Lantai ini sudah di pesan oleh pak john, dia sudah memerintahkan untuk semua orang yang berada di lantai ini di kosongkan." Jawab pelayan.
"Benarkah? Dia mengosongkan seluruh lantai ini?" Lia terkejut dan lagi dia sangat kaget john bisa melakukan hal di luar bayangan lia.
"Iya... Nona anda sangat lah beruntung"
"Beruntung? Bahkan untuk hidup lama bersamanya aku tidak tahu akan kuat atau tidak?"
Pikir lia, kata beruntung baginya sudah tidak memiliki fungsi di hidupnya.
Lia melanjutkan memilih milih baju, dia lebih tertarik pada dress dress, dari pada baju jeans.
Entah kenapa setelah menikah ini minatnya pada baju atau celana jeans berkurang.
Lia tertarik pada sebuah drees malam selutut berwarna hitam dengan kerah berwarna putih, lalu di bagian tangan di tambah hiasan bling bling, yang sangat cocok jika di pakai untuk pergi ke pesta santai pada malam hari atau dinner.
"Aku ingin mencoba yang ini.. " Lia menunjuk dress yang membuatnya tertarik pada pelayan,