
Sebuah kelembutan yang jarang di rasakan oleh lia setelah beberapa tahun ini kembali dia rasakan dari john, walaupun sikap john yang sedikit egois namun dengan segala yang lia alami ini berbeda, lia baru tersadar jika john adalah seseorang yang sangat lembut.
Lia menutup matanya, setetes air mata jatuh di pipinya dengan kehangatan yang di rasakan oleh lia membuatnya tertidur pulas di dalam pelukan seorang harimau buas yang begitu kelaparan yang juga selama ini lia takuti.
John kembali mencium kening lia dengan sangat lembut, hatinya sangat terluka saat lia tidak mengingat tentang pernikahan mereka yang memang terjadi.
...
Pagi itu matahari kembali tersenyum menyinari wajah sempurna lia yang tidak akan habis di puji dengan beribu kata. Lia mengerjapkan matanya beberapa kali, ketika sinar mentari menerobos masuk ke dalam matanya.
Mencoba menahan rasa kantuk yang masih menyerang, lia mencoba untuk kembali membuka matanya sambil mengusap-usap kedua matanya.
Lia tersadar, semalam dirinya tertidur di samping john ketika lelaki itu mengusap-usap rambutnya hingga membuatnya tertidur. Lia tersenyum malu dia bahkan menutup wajahnya padahal tidak ada siapapun di kamar itu, merasa malu karena memang lia berkata dirinya tidak nyaman jika tidur bersama dengan john. Tapi, kenyataannya lia bahkan sangat terlelap dalam tidurnya.
Lia yang penasaraan segera berdiri dari tempat tidurnya menyibak selimut yang menutupi setengah tubuhnya. Walau dengan wajah yang tidak bagus, lia pergi keluar untuk mencari keberadaan john, entah kenapa dirinya sangat ingin melihat keadaan lelaki itu.
Saat membuka pintu kamarnya lia melihat seorang pembantu tengah membersihkan lantai, akhirnya lia memutuskan untuk bertanya pada pembantu itu.
"Mm, apakah john ada di rumah?" Tanya lia pelan yang masih berdiri di daun pintu kamarnya.
"Oh nyonya, tuan john sudah berangkat ke kantor, tuan hanya berpesan untuk nyonya menunggu tuan sampai dia kembali dan jika ada yang nyonya butuhkan, nyonya bisa memintanya pada saya dan pembantu yang lain." Jelas pembantu itu pada lia dan sempat memberhentikan kegiatan pembantu itu.
"Baiklah, terimakasih." Ucap lia yang kembali memasuki kamarnya, lia membuang nafas kasar dia masih bimbang dengan pilihannya sendiri, haruskan bertahan di sini atau pergi.
Lia membawa langkahnya pada jendela yang tertutup oleh hordeng yang bertebangan karena tiupan angin pagi yang sangat sejuk. Lia menyibak hordeng itu agar tidak menghalangi sinar matahari yang ingin menyapa kamarnya.
Lia terkesiap karena baru saja dia di sungguhkan oleh pemandangan taman bunga yang sangat luas, lia membulatkan mulutnya terkejut karena selain kasar john memang sangat pengertian.
Bagaimana bisa lelaki sedingin john mengetahui tempat yang paling lia sukai. Lia tersenyum manis ketika sekelebat bayangan tentang wajah john melintas di pikirannya, lelaki itu entah kenapa lia merindukannya. Sikapnya, senyumnya, bahkan sorotan mata tajamnya yang kadang membuat lia kesal.
Sudah puas dengan pemandangan taman bunga di pagi hari, lia memutuskan untuk membersihkan dirinya dengan mandi.
Setelah mandi yang hampir memakan waktu setengah jam. Lia, masih menggunakan bathrobe berlenggang menuju walk in closet yang berada di kamarnya.
Sekali lagi john berhasil membuat lia tercengang sebab yang sekarang berada di hadapan lia adalah deretan outfits terkenal yang di desain oleh berbagai brand ternama.
Lia berteriak kegirangan dia tidak pernah merasa di manjakan seperti ini hingga bisa mendapatkan pakaian yang sangat lama dia nantikan.
Lia mulai mencari pakaian yang akan dia gunakan pagi ini, dia memperhatikan satu persatu baju yang berada di menequen ataupun yang sengaja di gantung pada hangers.
Pandangan lia tertuju pada sebuah gaun selutut dengan bahu terbuka berwarna biru dongker dengan bagian leher berbordir, baju ini langsung di desain oleh Jemmie bernnietie pada edisi simple style nya. Lia kembali tersenyum karena ternyata yang mendapatkan baju ini adalah john.
Lia teringat saat acara pameran pakaian simple style milih jemmie, lia tidak bisa datang karena terhalang oleh acara pertunangannya dengan georgeo hingga lia harus menahan rasa kecewa karena baju yang dia incar telah di ambil oleh orang lain.
Tapi untungnya orang yang mendapatkan baju ini adalah john betapa beruntungnya lia. Lia tidak munafik siapapun wanita yang berada pada posisi lia saat ini pasti akan bahagia tiada tara, karena yang dia dapatkan adalah hal yang sangat di damba oleh para wanita di luar sana.
Lia langsung menggunakan dress itu, ukuran dress itu sangat pas dengan lia. Mungkinkah john sendiri yang memilih baju-baju ini atau john menyuruh seseorang untuk membelinya. Entahlah lia tidak peduli yang terpenting sekarang dirinya sangatlah senang.
Mendapatkan sebuah meja rias di dalam walk in closet itu membuat rasa penasaran lia semakin bertambah, setelah memakai dress itu lia berjalan menuju meja rias yang sangat besar.
Hal yang sama terjadi kembali membuat lia menganga pasalnya yang ada di atas meja rias adalah alat-alat make up buatan berbagai brand terkenal dari luar negeri.
Lia ingat dia adalah johnshon lei, lelaki itu keras kepala dan tidak suka penolakan.
Segera duduk di depan meja rias dengan lihainya dia mengusapkan seluruh make up pada wajahnya, hanya dalam waktu beberapa menit, simple make up telah selesai menghiasi wajah lia.
Menata rambutnya panjang dengan sederhana agar tidak terlihat terlalu berlebihan.
Karena merasa sudah cukup, lia berjalan keluar dari kamarnya. Niatnya akan mengelilingi mansion yang sangat besar ini, karena dari luar sudah terlihat banyak tempat dan spot yang bisa lia datangi.
Lia mencoba biasa saja dan tidak peduli dengan beberapa tatapan pembantunya yang memang terang-terangan merasa tidak suka dengan lia.
Ada juga beberapa penjaga yang terus memperhatikan gerak-gerik lia karena john berpesan supaya menjaga lia dengan sangat ketat. John tahu lia akan kabur atau melalukan rencana lain untuk pergi dari mansion ini.
Tapi sepertinya lia sudah lupa rencananya yaitu pergi dari rumah ini, mungkin karena hal yang berbeda dengan john yang semalam membuat lia berubah pikiran, namun mungkin itu hanya sementara.
"Tuan john memang pandai memilih istri, istrinya ini sangat cantik." Salah satu penjaga berkomentar tentang penampilan lia kepada penjaga yang lainnya. "Mata tuan john sangatlah jeli, dia tidak mungkin mau menikah dengan perempuan jelek." Komentar penjaga yang lainnya lagi mengikuti alur percakapan mereka.
"Tapi, aku semalam melihat nyonya di bawa paksa oleh tuan mereka juga tidur pisah ranjang. Sepertinya mereka di jodohkan."Jelas seorang penjaga lagi penjaga yang lainnya ikut terkekeh dengan teori yang di ucapankan temannya.
"Sudah jangan bergosip aku takut ada yang mendengar dan mengadukannya pada tuan john." Penjaga itu mulai khawatir melihat lia yant sedari tadi hanya diam di pinggir taman tanpa bergerak sedikitpun.
Lia mendecih sebal bagaimana bisa ada lelaki seperti mereka, suka sekali bergosip. Mungkin lia akan mengadukan hal ini pada john.
Memutuskan untuk menjauh dari kumpulan para penjaga itu, lia akhirnya menemukan tempat yang cocok untuk di jadikan tempat beristirahat.
Sambil melamun lia memandangi kumpulan bunga yang sedang bermekaran, wangi bunga-bunga itu menyeruak ke dalam indra penciuman lia membuat tersenyum senang.
Entah sudah berapa lama lia duduk di taman itu, selama di tempat itu lia terus melamunkan banyak hal tentang keluarganya, rencananya untuk kabur juga memanfaatkan kekuasaan john dan juga pernikahan mereka berdua.
Pikiran lia selalu terbagi dalam waktu yang berbeda karena memang hal itu yang sekarang tengah menjadi beban bagi lia.
Lia merasa seseorang ikut duduk bersama dengannya hingga membuat lia melirik siapa itu. Benar saja dia adalah johnshon lei, dengan raut wajah lelah dan mata yang tertutup john membiarkan angin menerpa wajahnya yang sangat tampan.
"Kau sudah pulang?" Tanya lia sambil menatap john yang tetap saja menutup kedua matanya.
"Hm, aku merindukan mu." John berucap sambil membuka kedua matanya melirik sebentar pada lia yang tetap menatap kedua mata john.
Lia tersenyum tipis bagaimana bisa ada seseorang yang mengatakan rindu padanya, lia merasa pipi nya sangat panas karena ucapan john tadi.
Lia sangat ingin mengatakan bahwa dia juga rindu pada john karena selama tidak ada lelaki ini lia merasa sangat kesepian. Tapi lia menggelengkan kepalanya untuk menahan perasaannya agar tidak mengatakan hal itu.
"Kau sudah datang kita jadi untuk memeriksakan buku nikah kita bukan?" Tanya lia yang membawa tubuhnya untuk berdiri dari kursi itu.
"Ya, tentu saja." Jawab john mendongak untuk menatap lia, kali ini keadaan berbalik pada john. John begitu terkejut karena tidak menyangka yang berada di hadapannya ini adalah lia istrinya, karena jika boleh jujur lia sangatlah cantik, john serasa baru bertemu dengan seorang malaikat tanpa sayap.