The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 5 Mereka Gila



            Tidak ada orang. Perlahan aku membuka daun pintu yang tak terkunci. Tempat ini akan direnovasi ulang rupanya. Beberapa peralatan renovasi tergeletak di ruang tamu, barang-barang milik keluargaku sudah dipindahkan semua. Aku menarik napas dalam-dalam, menegarkan diri. Ya, ini adalah rumah yang keluarga kami tempati bersama, untuk terakhir kalinya. Langkahku terhenti di ambang pintu dapur. Masih ada gambar jejak tubuh manusia di lantai, tepat di tempat ayahku meregang nyawa. Masih kuingat jelas bagaimana kami menyaksikkannya dari sudut ruangan dapur. Sebulir air mata menggelinding menuruni pipiku tanpa peringatan. Aku segera menyekanya. Ini bukan saatnya untuk menangis. Aku tidak boleh lengah. Waktuku mungkin tidak banyak. Tadi aku menyelinap keluar tanpa memberitahhu siapapun. Zero tidak di rumah sementara Shine dan Shane sedang menjalankan misi.


            Selesai menelusuri bekas rumahku, aku melaju ke hutan di pinggiran kota. Mengambil jalan yang sama seperti malam itu. Aku memarkirkan motor di tempat yang sama pula, lantas berjalan masuk ke hutan. Seperti dugaan, ingatanku tepat, padahal waktu itu adalah pertama kalinya akuk memasuki hutan ini. Tidak berselang lama, aku pun menemukan gua tempat kami bersembunyi. Dari sinilah titik sulitnya. Aku tidak sadarkan diri setelah diserang vanblood. Aku meremas jemariku sendiri. Tenanglah. Berpikir. Ke mana kemungkinan kelompok itu lari? Kalau aku jadi mereka ke mana aku akan lari? Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Lantas kembali ke tempatku memarkir motor. Kembali kukenakan masker penutup wajah dan helm. aku tidak ingin ada orang yang mengenaliku. Jadi pertama-tama lebih baik berpikit di tempat lain. Sebuah café kecil di pinggiran kota Siverra menjadi pilihanku. Tempat ini jauuh dari kompleks rumahku, tidak aka nada yang mengenaliku di sini. Walau begitu aku tidak melepaskan maskerku dan memilih duduk di sudut ruangan sambil menunggu kopi pesananku.


            “Key?”, panggil seseorang, nyaris saja membuatku melompat dari kursiku. Beruntung aku segera tenang setelah melihat wajah familiar.


            “Shane..”


            Shane duduk di kursi di depanku. “Apa yang kau lakukan di sini?”


            “Eh…sebenarnya aku mencoba melacak jejak mereka. Kau sendiri? Bukannya ada misi”


            Shane mendesah cukup panjang. “Aku baru saja selesai dan berpikir untuk melanjutkan pelacakan”


            Pelayan datang mengantarkan pesananku. Shane memesan segelas es Americano, pelayan itu mengangguk dan kembali pergi untuk membuatkan pesanannya.


            “Kau tidak seharusnya datang, Key. Tempat ini mungkin sangat berbahaya untukmu”


            “Tapi aku tidak bisa hanya berdiam diri dan menunggu”


            “Itulah yang terbaik. Kami semua akan membantumu. Kau tidak melibatkan diri dalam bahaya lagi. Lagipula ini tidak mudah” Shane mengeluarkan selembar kertas yang terlipat dan membentangkannya di atas meja. Itu peta kota Siverra. Ada beberapa lokasi yang ditandai. “Melacak vampire dengan akal sehat membutuhkan kesabaran ekstra. Tapi aku juga tidak bisa menunggu hasil tim pencari”


            “Apa titik-titik ini merupakan tempat mereka terlacak?”, tanyaku sambil memperhatikan titik-titik berwarna


merah pada peta.


 Shane mengangguk. “Kami baru melacak mereka hingga radius 5 km, dan berhenti di sekitar sini. Pinggiran kota seperti ini memang merepotkan. Tidak ada CCTV di sini”


CCTV, kamera pengawas itu ya. Aku baru melihatnya sekali di Siverra. Beberapa gedung di kota besar sudah memilikinya. “Jadi benar mereka ke arah utara”, gumamku. “Tunggu, apa kalian mengecek semua CCTV dalam radius itu?”


 “Benar. Memangnya bagaimana lagi kami bisa melacaknya. Zero bilang dia tidak memperhatikan arah kelompok vanblood lari, jadi dia meretas sistem keamanan kota dan mencuri rekaman CCTV yang ada. Kau sendiri darimana kau tahu kalau mereka ke arah utara?”


“Hanya dugaan. Itu arah mereka datang”


Pesanan Shane datang lalu kami pun menikmati minuman masing-masing. Aku kembali memperhatikan peta yang dibawa Shane. Benar-benar detail, setiap jalan kecil dan tempat ada tidaknya CCTV ditunjukkan semua. Hanya saja tidak ada CCTV di sepanjang daerah pinggiran ini dan ada dua jalan dengan arah berbeda. Menurut Shane, organisasi hunter punya mata-mata di kedua jalur ini, jadi dia berencana untuk menemui mereka. Tapi dia tidak bisa membawaku bersamanya. Yah, apa boleh buat. Aku tidak bisa memaksa untuk ikut dan membuatnya mendapat masalah gara-gara membawa setengah vampire.


“Ngomong-ngomong bagaimana kau akan pulang? Mau kuantar dulu”


Aku menggeleng. “Tidak usah. Aku bawa motor”


“Eh?!” Shane menatapku, tampak terkejut seolah tidak percaya yang didengarnya. “Bagaimana bisa?”


“Aku pinjam pada Shine”, kataku berbohong.


Shane tertawa pelan. “Shine tidak suka naik motor. Itu punyaku. Dan kuncinya ada di sini” Tanganya mengeluarkan sebuah kunci dari dalam tasnya.


“Ah…” Aku ikut tertawa kecil, memahami kebodohanku. “Maaf”


Shane kembali tertawa. “Aku benar-benar tidak menyangka, kau punya bakat tersembunyi seperti ini. Apa ayahmu juga yang mengajarkannya?”


Aku mengangguk. Ayah memang pernah iseng mengajariku cara membobol kunci rumah. Tapi setelah itu aku berimprovisasi sendiri untuk membobol kunci berbagai macam benda lain. Berkat bakat itu pula malam itu aku


bisa mealrikan diri dengan Karen dengan motor milik tetangga kami. Walaupun pelarian itu sia-sia.


Shane berkata dia harus segera pergi, jadi kami keluar dari cafe itu bersama. Sampai di luar Shane memberikan kunci motornya padaku. Aku memintanya untuk tidak memberitahu yang lain kalau bertemu denganku di sini. Aku tidak ingin mendengar omelan tidak berguna dari Zero. Sebuah senyum asing masih tersungging di wajahnya saat kami berpisah.


***


Jam istirahat  berbunyi. Aku segera keluar dari kelas, menuju ke kebun belakang yang sepi. Benar-benar menyesakkan, harus duduk lebih dari satu jam di tengah-tengah manusia. Tidak, bahkan duduk di dekat vampire pun menyesakkan untukku. Mungkin karena aku tidak termasuk kelompok manapun. Aku menghentikan langkahku, merasakan shadow seseorang di depan sana. Mengintip sebentar dan melihat pria berambut kelabu nyaris putih berbaring di salah satu dahan pohon besar. Shadow berbentuk serupa kucing besarnya menunjukkan bahwa dia vampire yang sangat kuat. Itu Leith. Aku berbalik dan berjalan pelan tanpa suara. Tidak ingin melibatkan diri dengan vampire lain lagi.


Sebenarnya arsitektur sekolah Humphire ini luar biasa. Gedung-gedung untuk ruangan kelas bertingkat tiga. Bangunannya bergaya Eropa kuno dengan pintu dan jendela melengkung di bagian atasnya. Pilar-pilar bangunanya besar dan kokoh. Langit-langitnya dihiasi lampu berbalut kristal. Beberapa bagian dindingnya dibiarkan memperlilhatkan tekstur batu-batanya yang besar-besar. Menambah kesan antik pada bangunan itu. Yang paling menonjol adalah bangunan di samping sekolah, rumah kepala sekolah Humphire, Prof. Quinton. Bentuknya seperti gedung tua dari Perancis, lengkap dengan atap berbentuk setengah lingkaran. Prof. Quinton sendiri terlihat seperti profesor tua biasa, maksudku seperti manusia. Jika Shine tidak mengatakannya aku tidak akan menyadari bahwa Beliau adalah seorang vampire. Shadownya tidak bisa kurasakan sama sekali. Menurut cerita yang beredar, Prof. Quinton mendirikan sekolah ini dengan harapan suatu saat manusia dan vampire bisa hidup berdampingan. Mungkin karena itu shadownya dibuat tidak tampak, agar dia bisa membaur dengan manusia normal. Ide yang mengerikan menurutku. Jika vampire tidak bisa dibedakan lagi dari manusia maka tanpa disadari siapapun suatu hari manusia bisa punah karena menjadi makanan orang yang dianggapnya teman.


Membuat dua spesies yang merupakan mangsa dan pemangsa untuk hidup berdampingan benar-benar ide yang konyol. Tidak, bahkan ide itu akan berakhir sebagai khayalan semata. Walau begitu, harus kuakui aturan untuk tidak ada pertumpahan darah di Humphire cukup menjamin keselamatan murid manusia. Tidak kusangka para vampire mematuhinya. Atau setidaknya begitu menurutku, sampai aku menyaksikkan adegan mengerikan sore ini.


Kelas sudah selesai, aku mampir ke perpustakaan untuk meminjam beberapa buku. Shane bilang dia mendapat misi jadi dia tidak bisa menungguku seperti biasanya. Dan hari ini Zero membolos sejak kelas kedua dimulai. Kupikir aku bisa menikmati waktuku sendiri untuk membaca buku di perpustakaan sampai sore. Hingga seuatu bau menggelitik indra penciumanku. Darah! Tidak salah lagi. Sontak aku melompat dari kursiku dan berlari keluar


ruang baca perpustakaan. Baunya cukup dekat. Aku berjalan ke arah datangnya bau hingga langkahku membeku demi melihat dua orang murid di pojok ruangan, bersembunyi di belakang barisan rak-rak buku. Seorang vampire pria tengah menegak darah seorang gadis manusia dengan rakusnya.


“Hentikan!”, seruku.


 Vampire itu hanya melirikku sekilas dari sudut matanya, kemudian kembali menegak darah sang gadis.


“Kubilang hentikan! Kalian tidak boleh melakukannya di sini! Lepaskan dia” Aku berseru lebih keras.


Kali ini vampire itu berhenti, dan berdiri menghadapku. Sebuah seringai geli muncul di wajahnya. “Melakukan apa?”


"Peraturan sekolah melarang pertumpahan darah. Jadi hentikan sekarang atau.."


"Kau akan melapor, begitu?" Pria vampire itu terlihat naik pitam. "Kau murid baru ya? Aturan itu cuma selama jam


sekolah. Sekarang kami bebas"


"Tidak sopan. Kalau kau juga mau kau bisa ikut di sebelah sana. Jangan ganggu kami", ujarnya ketus.


Tidak bisa kupercaya, orang ini justru marah padaku yang mencoba menyelamatkannya. Namun niatku untuk membalas perkataan ketusnya mendadak urung saat mataku menangkap bayangan sekelompok murid perempuan


berjalan ke arah asrama vampire. Ini tidak mungkin seperti yang kupikirkan, kan? Aku berlari keluar ruangan, menuruni tangga ke bawah lalu kembali berlagi ke arah barat sekolah, tempat asrama untuk murid vampire berada. Sempat kudengar gadis tadi mengataiku saat aku berlari keluar, sesuatu seperti 'rupanya benar'. Yap, aku tahu yang dipikirkannya tapi aku tak punya waktu untuk peduli. Sekitar 20 murid manusia berotak kosong sedang mengantre untuk bunuh diri saat ini. Aku harus menghentikan mereka. Aku menambah kecepatan lariku begitu melihat antrean itu. Menyerobot ke depan dan menghalangi langkah gadis di depan pintu.


"Jangan masuk ke sana!", ujarku. "Mereka akan membunuhmu. Berbaliklah dan lari secepat mungkin"


Aneh. Lagi-lagi bukannya lega diselamatkan gadis-gadis itu justru menatapku dengan marah.


"Apa yang kau katakan? Sudah gila ya. Minggir sana!"


"Hei, nggak usah pakai omong kosog gitu!"


"Kau harus ngantre seperti yang lain!!"


Aku benar-benar tidak habis pikir. Kenapa mereka justru marah. "Apa yang kalian katakan? Mereka itu monster. Mereka bisa membunuhmu atau lebih buruk lagi..."


Suatu aroma asing yang mendadak berada di belakangku membuatku tidak bisa menyelesaikan kalimat itu. Sontak aku berbalik lalu mengambil satu langkah mundur. Raymond, sang murid idol sudah berdiri di sana. Gadis-gadis yang mengantre pun menyerukan namanya.


Raymond melambai ke arah mereka dengan sebuah senyum apik tersungging di bibirnya. "Aku kira ada apa. Ternyata kita mendapat anggota baru", ujarnya lantas beralih menatapku. "Selamat datang di asrama kami. Sebenarnya kau harus mengantre, tapi karena ini kali pertamamu aku akan berbaik hati. Jadi nona manis..siapa namamu?"


Aku sampai kehabisan kata-kata untuk merespon. Sepertinya semua orang di sini benar-benar sudah kehilangan akal sehat. Raymond nampaknya tak mau menungguku menjawab, tangan kirinya terangkat hendak meraih pundakku. Celaka! Dia terlalu cepat!


PLAKKK!!!


Saat aku berpikir tangan Raymond akan mencengkeram pundak atau bahuku, seseorang menampiknya. Aku mengenali aroma ini, mint dan vanilla yang lembut. Tengkuk itu, punggung itu, dan rambut pirang tak tersisir. Zero.


"Jangan sentuh dia. Dia milikku", gumamnya dengan nada rendah mengancam.


Raymond menarik kembali tangannya. Dan untuk sepersekian detik, pupil matanya tampak bergerak ketakutan. Tapi kemudian ia menyeringai dengan congkak.


"Heh. Beraninya kau menghalangiku. Orang sepertimu bahkan tidak layak disebut vampire", cemoohnya.


Zero tidak menanggapi Raymond, ia meraih lenganku dan menariknya.


"Datanglah kapanpun kau sadar, seleramu buruk sekali nona manis. Orang berbau darah busuk itu tidak pantas untukmu", ujar Raymond saat aku mengikuti langkah Zero untuk pergi dari asrama vampire.


Wajah Zero masih datar seperti biasanya. Tapi aku tahu dia sedang marah. Tangannya masih memegang tanganku dengan erat hingga kami sampai halaman depan sekolah.


"Key...Zero..", panggil Shine sambil berjalan menghampiri kami.


Zero menghentikan langkahnya lalu melepas tanganku.


"Kau baik-baik saja?", tanya Shine khawatir. "Karen tadi meneleponku kalau kau akan terlibat masalah"


"Aku tak apa. Tapi gadis-gadis itu dalam bahaya. Bisakah kita menolongnya?"


Wajah khawatir Shine kini berganti menjadi prihatin. "Maaf, aku lupa mengatakannya. Aturan itu hanya berlaku sampai jam sekolah usai. Jadi tidak ada yang bisa kita lakukan”


“Jadi kalian akan membiarkannya saja? Bukankah tugas kalian adalah menjaga keamanan manusia? Gadis-gadis itu bisa mati atau lebih buruk lagi, mereka bisa diubah…”


“Itu bukan urusan kita”, sergah Zero. “Abaikan mereka”


Sepertinya dugaanku benar. Zero memang psikopat! Mana bisa aku mengabaikan mereka! Aku tidak bisa membiarkan orang lain bernasib sepertiku.


“Shine, ayo kembali dan selamatkan mereka”


Shine menatapku dalam, seolah dia mencoba membaca isi hatiku. Tapi ia ragu untuk menyetujuiku.


“Mereka datang dengan sukarela” Lagi-lagi Zero menyela. Aku tidak peduli dengan pendapatnya!


“Maaf, Key. Kita tak bisa…”


“Kau akan mengabaikan mereka?! Mereka itu manusia, Shine! Mana bisa kita berpaling dan mengabaikan mereka!!”


“Key, mereka selalu melakukan ini. Dan gadis-gadis itu datang atas kemauan mereka sendiri. Tidak ada yang memaksa mereka”


“Jadi kau mau bilang kalau itu bukan urusanmu? Dan kau menyebut dirimu vampire hunter?!” Aku kehabisan kesabaran dan meneriaki Shine tanpa sengaja. Keheningan yang canggung mengisi udara di antara kami. Kurasa perkataanku kelewatan. Tapi menurutku aku tidak salah.


“Tugas hunter adalah mengatasi vampire yang membahayakan manusia. Mereka tidak bisa menyelamatkan semua orang”, ujar Zero masih dengan wajah datarnya. “Lagipula tidak ada yang perlu diselamatkan di sana”


Aku mengepalkan tangan, bersiap menimpali Zero dengan umpatan saat Shine meraih bahuku. Pegangannya lemah, terlalu lemah malah. Matanya nampak kemerahan. Tapi ia bukan sedih karena perkataanku ataupun karena tidak bisa melakukan apapun untuk gadis-gadis di asrama vampire itu.


“Aku benar-benar menyesal tentang yang terjadi padamu. Tapi mereka berbeda denganmu, Key” Ucapan Shine membuat bara dalam dadaku meleleh.Dan beberapa bulir air mata menggelinding dari sudut mataku.


***