The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 10 Senja (part 1)



 


 


Tak bisa dipercaya, bahkan di sekolah seperti Humphire hari Valentine masih menjadi momen penting. Berhubung valentine tahun ini jatuh di hari Minggu kemarin, maka hari Senin di mana-mana dipenuhi pemandangan


pemberian cokelat. Aku sempat melihat Shine dan Shane mendapat beberapa kotak


cokelat. Rupanya mereka cukup populer berkat tinggi dan postur maskulinya.


Kulit sawo matang mereka pun mampu menarik perhatian beberapa murid vampire.


Maklum saja, nyaris semua vampire berkulit putih pucat. Yang mengejutkan,


beberapa murid perempuan meninggalkan cokelat di laci meja Zero. Ada juga orang


gila yang tertarik padanya. Walau memang harus kuakui jika mengesampingkan


wataknya yang menyebalkan dan penampilan acak-acakannya, wajah Zero tidak terlalu


buruk. Rambut pirang agak ikal miliknya memang selalu tak terawat, seolah tidak


mengenal sisir. Namun mata biru topaz-nya tampak cemerlang di bawah alis


matanya yang tebal dan lurus. Dia juga memiliki garis rahang yang sangat tegas.


Dunia ini benar-benar tidak adil. Kenapa monster seperti


mereka memiliki paras yang memikat yang bahkan lebih elok dari kebanyakan


manusia? Miris melihat para murid manusia berusaha mendekati vampire-vampire di


sekolah ini. Tapi entah kenapa aku tidak merasa menyalahkan mereka yang


merubung Arion di sudut taman. Padahal Arion juga seorang vampire. Aku membuang


napas panjang, berjalan ke atap perpustakaan. Hari ini jauh lebih berisik dari


biasanya.


"Hei...", sapa Arion yang duduk di sampingku. Entah sejak kapan dia menyusul ke sini. Perasaan tadi Arion masih sibuk dengan selusin gadis.


"Arion? Bagaimana kau ada di sini?"


"Lewat tangga.."


"Bukan itu maksudku. Bukanya tadi kau cukup sibuk?"


Arion tertawa renyah, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Mereka selalu berlebihan ya kan"


"Menurutku tidak juga. Kau harusnya menghargai perasaan mereka"


"Maunya sih begitu...", ujar Arion. "Tapi aku tidak bisa membalas perasaan setiap orang. Satu gadis saja sudah cukup untukku"


Cukup mengejutkan mendengar kata-kata Arion barusan.


Padahal kukira dia tipe yang akan berganti gadis satu ke gadis lain,mengingat


berapa banyak gadis yang rela mengantre untuk mendapatkannya.


"Ngomong-ngomong, aku tidak melihat Zero hari ini"


"Ah.. dia tidur", ujarku.


"Eh? Apa terjadi sesuatu?"


Aku menggeleng. "Cuma kelelahan. Kemarin dia menghapus ingatan dari 24 orang gadis yang kami selamatkan"


"Eeh... kelelahan ya..." Sebuah senyum mengembang di wajah Arion tanpa alasan jelas. Ataukah dia senang Zero tidak datang sekolah?


"Apa semua vampire bisa menghapus ingatan?", tanyaku.


Arion mengangguk mengiyakan. "Itu sebenarnya lebih mirip seperti hipnotis. Biasanya dipakai untuk membuat manusia lupa tentang kami"


Pantas saja keberadaan mereka berhasil dirahasiakan selama


ratusan tahun. Kemampuan yang mengerikan, batinku.


"Apa kau mau keluar denganku?", tanya Arion tiba-tiba, membuatku beralih menatapnya. "Jarang-jarang kan kau bebas dari pengawasan Zero. Dan lagi ada festival yang menarik hari ini"


Festival? "Entahlah, Arion. Kurasa terlalu ramai..."


"Ayolaaah... Tidak apa-apa. Aku kan bersamamu, hm?"


Memang benar sih aku seharusnya memanfaatkan kesempatan


bebas dari Zero. Tapi yah...festival akan sangat ramai manusia. Sebenarnya


bukan keamananku sendiri yang kukhawatirkan, karena mungkin saat ini akulah bahayanya. Dan lagi,


aku tidak boleh membiarkan orang-orang melihatku masih hidup. Walaupun aku akan


dengan senang hati menghabiskan waktu bersama Arion. Apalagi mengingat aku


setuju untuk membantu Shine dan Shane menggali beberapa informasi. Aku tidak punya


pilihan lain selain Arion.


"Aku tidak boleh terlihat orang banyak, Arion"


Alih-alih menyerah, Arion tersenyum lebar seolah baru


menang. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku belakang celananya, menunjukkannya


di depanku. Dua buah topeng. Kini mata hijau emerald nya berbinar-binar. Dia


menang. Memang sulit sekali menolak Arion. Aku mengangguk dengan sebuah senyum


kecil. Kemudian kami segera menuju ke tempat parkir, menuju porsche toska muda


milik Arion.


Arion mengendarai mobilnya ke bagian timur kota, tempat


Hampir semua orang mengenakan topeng berbagai karakter, bahkan para penjaja


makanan di pinggir jalan. Setelah memarkirkan mobil dan mengenakan topeng, kami


pun membaur di antara lautan manusia. Arion mengenakan topeng setengah wajah,


berbentuk kucing. Sementara aku memakai topeng kelinci yang menutupi seluruh


wajah. Tak lama kemudian, sebuah pawai mulai berjalan. Bermacam-macam karakter


dikenakan oleh peserta pawai. Mulai dari beraneka hewan, cosplay hingga


karakter film seperti Avenger. Para pemeran karakter menaiki mobil-mobil yang


dihias pita dan bunga berbagai warna. Musik dan tarian memeriahkan suasana


pawai. Larut dalam euforia itu, aku melupakan semua kekhawatiranku tadi.


Mobil selanjutnya dipenuhi badut-badut dengan wajah


digambari bermacam ekspresi. Wajah senang, senyum, kecewa dan sedih. Ada juga


badut jahat yang muncul di film horor. Di puncak mobil badut berdirilah balon


badut raksasa yang melambai-lambai. Aku mengajak Arion sedikit mendekat, tapi


dia tidak merespon dan menurut saja waktu aku menarik lengannya. Ada yang aneh.


Wajah Arion terlihat tegang. Mata emerald nya tidak cemerlang seperti biasa.


Bahkan beberapa bulir keringat tampak menuruni dagunya. Tatapannya terpaku pada


badut-badut di depan kami. Tidak mungkin, batinku menerka penyebab keanehan


sikap Arion. Tapi jawabanya segera datang saat mobil dengan badut raksasa tepat


di depan Arion. Dia benar-benar gugup, dan tanpa pikir panjang langsung berlari


mundur, menabrak kerumunan orang.


Aku bergegas menyusulnya, tapi belum sempat memanggil nama


Arion, sebuah sepeda motor melaju kencang mengarah padanya. Aku melompat dengan


segenap tenaga, mendorongnya jatuh. Beruntung kami dapat menghindari motor tapi


sisi lain jalan merupakan tebing. Celaka! Aku tidak bisa berpegangan. Kami akan


jatuh ke bawah. Arion meraih pinggangku, membuatku mendekat. Kami berguling


menuruni tebing, tapi aku tidak merasakan kerasnya tanah. Barulah ketika kami


berhenti berguling saat mencapai dasar tebing, aku mengerti sebabnya. Arion


mendekapku sehingga aku tak terluka. Aku bahkan mendarat di atas dadanya.


"Arion, kau baik-baik saja?", tanyaku panik mendapati Arion berbaring dengan mata terpejam. Aroma darah menelisik hidungku. Cairan merah itu mengalir di bawah Arion. Kelihatannya bagian belakang kepala


Arion terantuk batu.


"Ya..", jawab Arion, ia langsung bangkit dan duduk. Meraba bagian belakang kepalanya dengan tangan kanan. "Tadi itu mengagetkan ya..maaf" Ia memperhatikan tangan kanannya yang mendapati


darah.


Aku mengalihkan wajahku. Darah Arion memiliki aroma seperti latte yang lembut. "K-kau terluka..."


"Ini tidak seberapa. Masalahnya adalah itu", ujar Arion sambil menunjuk ke atas tebing di mana orang-orang melongokkan kepala, mengecek keadaan korban kecelakaan. Motor tadi memang tidak mengenai


kami, tapi kemungkinan orang-orang beranggapan demikian.


"Kita harus berakting seperti manusia. Kau tahu kan?", kata Arion pelan. Dan dia langsung memulai aksinya.


Arion mencoba bangkit berdiri dengan susah payah,


memberiku sinyal untuk membantunya. Aku mendekat dan meminjamkan sebelah bahuku


untuk menjadi sandarannya. Lalu kami berjalan beriringan dengan langkah


tertatih, seolah sebelah kaki Arion terluka. Beberapa orang mengulurkan


tangannya membantu kami keluar dari tebing setinggi 3 meter itu.


"Kalian terluka?", tanya seorang pria paruh baya. Dia yang tadi mengendarai motor.


"Kepalanya terantuk batu, dan tulang kakinya mungkin patah", ujarku berbohong.


"Bagaimana denganmu?", tanya pria tua lainya.


"Aku tidak apa-apa, dia melindungiku"


Arion ikut menyahut. "Sudah seharusnya aku melindungimu" Suaranya pelan mirip sebuah bisikan, dan kedengarannya jauh dari kata bohong.


"Aku benar-benar minta maaf. Sekarang sebaiknya kita ke rumah sakit, aku akan bertanggung jawab", kata pria yang tadi mengendarai motor.


"Tidak perlu, pak. Tadi saya yang salah karena berlari ke jalanan. Kami akan ke rumah sakit berdua saja. Tidak ada luka serius juga. Jadi tidak perlu khawatir", ujar Arion sambil tersenyum.


Syukurlah orang-orang itu percaya dengan yang kami


katakan. Tidak ada satupun yang curiga. Padahal tebing yang 10 kalo lebih


tinggi pun belum cukup untuk membuat vampire kehilangan nyawa. Bahkan mungkin


mereka sama sekali tidak akan terluka. Aku masih ragu Arion benar-benar tidak


apa-apa sampai dia menunjukkan bagian belakang kepalanya. Lukanya langsung


menutup sempurna setelah Arion mengoleskan ludahnya.


***