
Tak bisa dipercaya, bahkan di sekolah seperti Humphire hari Valentine masih menjadi momen penting. Berhubung valentine tahun ini jatuh di hari Minggu kemarin, maka hari Senin di mana-mana dipenuhi pemandangan
pemberian cokelat. Aku sempat melihat Shine dan Shane mendapat beberapa kotak
cokelat. Rupanya mereka cukup populer berkat tinggi dan postur maskulinya.
Kulit sawo matang mereka pun mampu menarik perhatian beberapa murid vampire.
Maklum saja, nyaris semua vampire berkulit putih pucat. Yang mengejutkan,
beberapa murid perempuan meninggalkan cokelat di laci meja Zero. Ada juga orang
gila yang tertarik padanya. Walau memang harus kuakui jika mengesampingkan
wataknya yang menyebalkan dan penampilan acak-acakannya, wajah Zero tidak terlalu
buruk. Rambut pirang agak ikal miliknya memang selalu tak terawat, seolah tidak
mengenal sisir. Namun mata biru topaz-nya tampak cemerlang di bawah alis
matanya yang tebal dan lurus. Dia juga memiliki garis rahang yang sangat tegas.
Dunia ini benar-benar tidak adil. Kenapa monster seperti
mereka memiliki paras yang memikat yang bahkan lebih elok dari kebanyakan
manusia? Miris melihat para murid manusia berusaha mendekati vampire-vampire di
sekolah ini. Tapi entah kenapa aku tidak merasa menyalahkan mereka yang
merubung Arion di sudut taman. Padahal Arion juga seorang vampire. Aku membuang
napas panjang, berjalan ke atap perpustakaan. Hari ini jauh lebih berisik dari
biasanya.
"Hei...", sapa Arion yang duduk di sampingku. Entah sejak kapan dia menyusul ke sini. Perasaan tadi Arion masih sibuk dengan selusin gadis.
"Arion? Bagaimana kau ada di sini?"
"Lewat tangga.."
"Bukan itu maksudku. Bukanya tadi kau cukup sibuk?"
Arion tertawa renyah, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Mereka selalu berlebihan ya kan"
"Menurutku tidak juga. Kau harusnya menghargai perasaan mereka"
"Maunya sih begitu...", ujar Arion. "Tapi aku tidak bisa membalas perasaan setiap orang. Satu gadis saja sudah cukup untukku"
Cukup mengejutkan mendengar kata-kata Arion barusan.
Padahal kukira dia tipe yang akan berganti gadis satu ke gadis lain,mengingat
berapa banyak gadis yang rela mengantre untuk mendapatkannya.
"Ngomong-ngomong, aku tidak melihat Zero hari ini"
"Ah.. dia tidur", ujarku.
"Eh? Apa terjadi sesuatu?"
Aku menggeleng. "Cuma kelelahan. Kemarin dia menghapus ingatan dari 24 orang gadis yang kami selamatkan"
"Eeh... kelelahan ya..." Sebuah senyum mengembang di wajah Arion tanpa alasan jelas. Ataukah dia senang Zero tidak datang sekolah?
"Apa semua vampire bisa menghapus ingatan?", tanyaku.
Arion mengangguk mengiyakan. "Itu sebenarnya lebih mirip seperti hipnotis. Biasanya dipakai untuk membuat manusia lupa tentang kami"
Pantas saja keberadaan mereka berhasil dirahasiakan selama
ratusan tahun. Kemampuan yang mengerikan, batinku.
"Apa kau mau keluar denganku?", tanya Arion tiba-tiba, membuatku beralih menatapnya. "Jarang-jarang kan kau bebas dari pengawasan Zero. Dan lagi ada festival yang menarik hari ini"
Festival? "Entahlah, Arion. Kurasa terlalu ramai..."
"Ayolaaah... Tidak apa-apa. Aku kan bersamamu, hm?"
Memang benar sih aku seharusnya memanfaatkan kesempatan
bebas dari Zero. Tapi yah...festival akan sangat ramai manusia. Sebenarnya
bukan keamananku sendiri yang kukhawatirkan, karena mungkin saat ini akulah bahayanya. Dan lagi,
aku tidak boleh membiarkan orang-orang melihatku masih hidup. Walaupun aku akan
dengan senang hati menghabiskan waktu bersama Arion. Apalagi mengingat aku
setuju untuk membantu Shine dan Shane menggali beberapa informasi. Aku tidak punya
pilihan lain selain Arion.
"Aku tidak boleh terlihat orang banyak, Arion"
Alih-alih menyerah, Arion tersenyum lebar seolah baru
menang. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku belakang celananya, menunjukkannya
di depanku. Dua buah topeng. Kini mata hijau emerald nya berbinar-binar. Dia
menang. Memang sulit sekali menolak Arion. Aku mengangguk dengan sebuah senyum
kecil. Kemudian kami segera menuju ke tempat parkir, menuju porsche toska muda
milik Arion.
Arion mengendarai mobilnya ke bagian timur kota, tempat
Hampir semua orang mengenakan topeng berbagai karakter, bahkan para penjaja
makanan di pinggir jalan. Setelah memarkirkan mobil dan mengenakan topeng, kami
pun membaur di antara lautan manusia. Arion mengenakan topeng setengah wajah,
berbentuk kucing. Sementara aku memakai topeng kelinci yang menutupi seluruh
wajah. Tak lama kemudian, sebuah pawai mulai berjalan. Bermacam-macam karakter
dikenakan oleh peserta pawai. Mulai dari beraneka hewan, cosplay hingga
karakter film seperti Avenger. Para pemeran karakter menaiki mobil-mobil yang
dihias pita dan bunga berbagai warna. Musik dan tarian memeriahkan suasana
pawai. Larut dalam euforia itu, aku melupakan semua kekhawatiranku tadi.
Mobil selanjutnya dipenuhi badut-badut dengan wajah
digambari bermacam ekspresi. Wajah senang, senyum, kecewa dan sedih. Ada juga
badut jahat yang muncul di film horor. Di puncak mobil badut berdirilah balon
badut raksasa yang melambai-lambai. Aku mengajak Arion sedikit mendekat, tapi
dia tidak merespon dan menurut saja waktu aku menarik lengannya. Ada yang aneh.
Wajah Arion terlihat tegang. Mata emerald nya tidak cemerlang seperti biasa.
Bahkan beberapa bulir keringat tampak menuruni dagunya. Tatapannya terpaku pada
badut-badut di depan kami. Tidak mungkin, batinku menerka penyebab keanehan
sikap Arion. Tapi jawabanya segera datang saat mobil dengan badut raksasa tepat
di depan Arion. Dia benar-benar gugup, dan tanpa pikir panjang langsung berlari
mundur, menabrak kerumunan orang.
Aku bergegas menyusulnya, tapi belum sempat memanggil nama
Arion, sebuah sepeda motor melaju kencang mengarah padanya. Aku melompat dengan
segenap tenaga, mendorongnya jatuh. Beruntung kami dapat menghindari motor tapi
sisi lain jalan merupakan tebing. Celaka! Aku tidak bisa berpegangan. Kami akan
jatuh ke bawah. Arion meraih pinggangku, membuatku mendekat. Kami berguling
menuruni tebing, tapi aku tidak merasakan kerasnya tanah. Barulah ketika kami
berhenti berguling saat mencapai dasar tebing, aku mengerti sebabnya. Arion
mendekapku sehingga aku tak terluka. Aku bahkan mendarat di atas dadanya.
"Arion, kau baik-baik saja?", tanyaku panik mendapati Arion berbaring dengan mata terpejam. Aroma darah menelisik hidungku. Cairan merah itu mengalir di bawah Arion. Kelihatannya bagian belakang kepala
Arion terantuk batu.
"Ya..", jawab Arion, ia langsung bangkit dan duduk. Meraba bagian belakang kepalanya dengan tangan kanan. "Tadi itu mengagetkan ya..maaf" Ia memperhatikan tangan kanannya yang mendapati
darah.
Aku mengalihkan wajahku. Darah Arion memiliki aroma seperti latte yang lembut. "K-kau terluka..."
"Ini tidak seberapa. Masalahnya adalah itu", ujar Arion sambil menunjuk ke atas tebing di mana orang-orang melongokkan kepala, mengecek keadaan korban kecelakaan. Motor tadi memang tidak mengenai
kami, tapi kemungkinan orang-orang beranggapan demikian.
"Kita harus berakting seperti manusia. Kau tahu kan?", kata Arion pelan. Dan dia langsung memulai aksinya.
Arion mencoba bangkit berdiri dengan susah payah,
memberiku sinyal untuk membantunya. Aku mendekat dan meminjamkan sebelah bahuku
untuk menjadi sandarannya. Lalu kami berjalan beriringan dengan langkah
tertatih, seolah sebelah kaki Arion terluka. Beberapa orang mengulurkan
tangannya membantu kami keluar dari tebing setinggi 3 meter itu.
"Kalian terluka?", tanya seorang pria paruh baya. Dia yang tadi mengendarai motor.
"Kepalanya terantuk batu, dan tulang kakinya mungkin patah", ujarku berbohong.
"Bagaimana denganmu?", tanya pria tua lainya.
"Aku tidak apa-apa, dia melindungiku"
Arion ikut menyahut. "Sudah seharusnya aku melindungimu" Suaranya pelan mirip sebuah bisikan, dan kedengarannya jauh dari kata bohong.
"Aku benar-benar minta maaf. Sekarang sebaiknya kita ke rumah sakit, aku akan bertanggung jawab", kata pria yang tadi mengendarai motor.
"Tidak perlu, pak. Tadi saya yang salah karena berlari ke jalanan. Kami akan ke rumah sakit berdua saja. Tidak ada luka serius juga. Jadi tidak perlu khawatir", ujar Arion sambil tersenyum.
Syukurlah orang-orang itu percaya dengan yang kami
katakan. Tidak ada satupun yang curiga. Padahal tebing yang 10 kalo lebih
tinggi pun belum cukup untuk membuat vampire kehilangan nyawa. Bahkan mungkin
mereka sama sekali tidak akan terluka. Aku masih ragu Arion benar-benar tidak
apa-apa sampai dia menunjukkan bagian belakang kepalanya. Lukanya langsung
menutup sempurna setelah Arion mengoleskan ludahnya.
***