The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 9 Teman Lama (part 2)



Jantungku nyaris berhenti berdetak. Seperti dugaanku, Sheryll mengenaliku walau aku memakai masker untuk menutupi wajah.


"Bukan..", jawabku lirih. Dia tidak boleh mengenaliku. Dia tidak boleh mengetahui tentang vampire. Keyra Wilder


sudah mati, cukup itu yang perlu diingatnya. Aku membuang wajah dan berbalik pergi keluar.


"Key..tunggu...", panggil Sheryll. Ia berlari menyusulku.


"Kau salah orang", kataku.


"Kalian, bicaranya nanti saja. Kita harus pergi dulu dari tempat ini", ujar Shane yang berlari keluar sambil


mengarahkan gadis-gadis tawanan.


Sheryll tampaknya hendak protes tapi suaranya tidak keluar. Kemungkinan karena dia sudah melihat yang terjadi sesaat setelah dia tiba di sini. Bau darah yang kucium waktu itu milik salah satu gadis ini.


Sheryll menyaksikkan seorang vampire meminum darahnya.


Sebagian besar gadis masuk ke mobil Shane, duduk berdesakan. Dan sisanya naik mobil Zero. Aku ikut mobil Zero, karena Sheryll di sini. Tidak akan kubiarkan Zero atau vampire manapun menyentuhnya.


Kami berhenti di sebuah cafe tua tanpa pengunjung. Zero menyewa seisi cafe dan


meminta semua karyawan keluar setelah membuatkan minuman pesanan setiap orang.


Sementara Shane menjelaskan pada gadis-gadis itu tentang dirinya sebagai


hunter, mencoba menenangkan semuanya. Dan juga meyakinkan mereka agar bersedia


ingatannya dihapu. Sheryll meraih lenganku dan menarikku ke sudut lain cafe.


Membuatku duduk di hadapannya. Ah, aku benci situasi ini.


"Buka maskermu, Key", kata Sheryll dengan nada mengancam. Aku bahkan tidak bisa melihat ke dalam matanya.


"Buka sekarang!"


Mendengus, aku menarik masker wajahku dan membukanya. Menatap lurus ke mata Sheryll. Percuma saja. Aku tidak bisa menipunya.


Kedua mata Sheryll membesar, lalu air mata mulai menggenang memenuhi tepiannya hingga akhirnya meluncur jatuh. "Aku tahu itu kau. Kau mengikutiku dari hutan lindung kan? Aku benar, kan.


Key..." Ia mulai terisak. "..syukurlah kau masih hidup. Syukurlah.."


Aku menelan ludah yang terasa seperti seonggok batu. Apanya yang harus disyukuri dari hidupku yang terkutuk ini?  "Sudah kubilang aku bukan orang yang kau kenal. Dia sudah mati"


Sheryll menatapku tak mengerti. "Apa yang kau katakan? Tidak mungkin aku salah mengenalimu, Key"


"Manusia bernama Keyra Wilder sudah mati"


Tangis Sheryll semakin menjadi. Ia mengusap air mata di pipinya beberapa kali. Tampaknya kini dia melihat perbedaanku. Kupikir kami sudah selesai, jadi aku bangkit dari kursiku hendak pergi. Tapi tangan


Sheryll meraih lenganku.


"Tunggu. Aku punya satu permintaan",  ujarnya pelan. Suaranya serak karena isakan


tangisnya. Sheryll berdiri dari kursinya, melangkah ke depanku. "Biarkan


aku memelukmu sekali saja"


Belum sempat aku merespon, Sheryll sudah meraup punggungku dengan kedua lengannya. Beberapa bulir air matanya menetes ke bahuku. Ia memelukku erat, seolah meluapkan semua kerinduan kami. Inginnya aku


melakukan hal yang sama, tapi tidak bisa.


"Kau sudah menjadi kuat ya, Key", bisiknya pelan sesaat sebelum melepas pelukannya.


Sebulir air mata menggelinding dengan liar menuruni pipiku. Sheryll tersenyum hangat, meremas pelan pundakku. Lalu ia kembali ke antara gadis-gadis tawanan vampire, mengatre untuk dihapus


ingatannya oleh Zero. Aku melangkah ke bagian belakang cafe, tidak ingin


melihatnya. Shane menyusulku, ikut duduk di balik dinding. Sebentar lagi


giliran Sheryll.


"Tidak bolehkah aku menyimpan ingatanku?", tanya Sheryll.


"Ingatan itu hanya akan menakutimu. Lupakan saja"


"Aku tidak ingin melupakan Key. Dia masih hidup. Walau pertemuan kami seperti ini, aku ingin mengingatnya", ujar


Sheryll. "Sebenarnya, aku tidak bisa percaya saat menerima kabar kematianya. Aku berlari untuk datang ke pemakamannya dan peti itu kosong. Jasadnya tak pernah ditemukan. Jadi...jadi selama ini aku percaya kalau dia


pasti masih hidup. Dan sekarang aku melihatnya dengan mataku sendiri. Bagaimana


mungkin aku mau melupakannya"


"Dia mungkin bukan orang yang sama. Apa kau benar-benar tidak mengerti. Dia bukan lagi temanmu, dia bagian dari kami"


"Itu tidak masalah. Mengetahui Key masih hidup sudah cukup untukku. Kumohon, biarkan aku mengingatnya. Aku tidak akan memberitahu siapapun mengenai kalian"


Zero mendengus kesal. "Kenapa kau bersikeras, kalian cuma teman lama, kan?"


"Mana ada yang namanya teman lama. Sekali teman akan selalu jadi teman. Key adalah teman terbaikku"


Hatiku rasanya longsor ke dalam rongga perut. Aku benar-benar tidak tahan lagi. Kubiarkan air mata membanjiri pipiku. Sheryll, aku benar-benar merindukanmu.


Shane mengambilkan sekotak tissue lalu menaruhnya di depanku. "Aku akan mengantarkannya pulang dengan


selamat", ujarnya sebelum berjalan keluar. Shane mengajak Sheryll naik ke


mobilnya. Zero tidak berkata apapun, dia beranjak dari kursinya dan meraih


berhasil menyelamatkan beberapa gadis yang diculik. Selesai menelpon dan


memberitahu lokasi kami Zero berjalan ke mobilnya. Dia hanya duduk di belakang


kemudi. Butuh beberapa saat untukku menyadari kalau dia menungguku. Aku segera


membersihkan wajah dan menuju ke mobilnya.


Rupanya Zero sudah mengurus sendiri pembayaran sewa cafe dan pesanan kami sambil menelepon tadi. Kami segera pergi tanpa menunggu polisi datang. Zero tidak mau melibatkan diri dengan polisi manusia,


dan terlebih lagi pemilik mansion bergaya Eropa itu. Katanya dia seorang


pureblood dan juga salah satu pejabat paling berpengaruh di kota Ireland. Sisa


perjalanan pulang diisi keheningan. Tidak ada yang bisa kami bicarakan. Atau


lebih tepatnya, tidak ada yang ingin kudengar dari Zero. Biarpun dia bersikap


baik hari ini, membantu kami menyelamatkan gadis-gadis itu dan bahkan tidak


menghapus ingatan Sheryll, aku tetap tidak bisa mempercayainya seperti yang


Shane dan Shine lakukan. Dia mungkin saja baik dan berguna, tapi hal itu tidak


mengubah kenyataan kalau dia memanfaatkan Shine dan Shane. Aku tidak bisa


memikirkan alasan kenapa Zero menggunakan nama Shine untuk menyembunyikan


dirinya. Padahal dia bisa membuat identitas palsu dengan merekayasa data,


seperti saat dia membuatnya untukku. Menurut Shine, Zero tidak mau orang tuanya


menemukannya. Alibi itu tidak berdasar. Tapi aku belum menemukan alasan yang


kuat untuk mengutarakan kecurigaanku pada Shine maupun Shane.


Malam datang tak lama setelah kami sampai di rumah. Karen dan Shine lagi-lagi mengajukan diri untuk menyiapkan makan malam. Seharusnya kami bergantian, tapi satu-satunya pria yang bisa masak adalah


Shine. Dan Karen dengan senang hati menggantikan hampir setiap giliranku. Yah,


dari dulu dia memang suka masak sih. Seusai makan malam, Karen bahkan memberi


kami kejutan dengan memberi coklat pada semua orang. 14 Februari, valentine


ya.. Aku sama sekali tidak mengingatnya. Bagaimana Karen bisa menyiapkan


cokelat untuk semua orang, termasuk Zero. Aku benar-benar tidak mengerti.


Memangnya makhluk terkutuk sepertiku ini berhak merasakan kasih sayang? Konyol


sekali.


Aku menenggelamkan cokelat dari Karen ke dalam kopi hitam yang baru kubuat. Lebih cocok seperti ini, batinku.


"Lagi-lagi kopi kah?", ujar Shane yang bergabung denganku di teras samping. Dia duduk di kursi sebelahku. Di


tangan kananya membawa minuman suplemen yang rutin diminumnya. "Kenapa


suka kopi?"


"Karena pahit"


Shane tertawa pelan mendengar ucapanku yang tidak kumaksudkan untuk lucu. "Sheryll, dia gadis yang baik ya. Waktu aku mengantarnya pulang, dia minta tolong padaku untuk menjagamu"


"Hmm. Dia teman yang sangat baik. Kami nyaris seperti saudara kembar", ujarku. "Ah, tapi justru karena itu


aku tidak bisa membiarkan siapapun menyeretnya ke dunia vampire"


Shane tampak sedikit terkejut dengan yang kukatakan. Tapi dia kemudian tersenyum. "Bukan itu maksudku menanyakanya. Dia memang manis, tapi kau bisa tenang, aku tidak berniat untuk menjadikanya


pacarku kok"


 "Bagus deh" Aku membalasnya dengan sebuah senyum kecil. Sheryll memiliki wajah oriental dan warna kulit


kecoklatan. Dia manis dan baik hati. Mana mungkin aku tidak khawatir. Aku meraih cangkirku dan menyeruput kopi panas.


"Ngomong-ngomong, Key, waktu itu..."


Aku beralih menatap Shane yang entah kenapa kelihatan kesulitan mencari kata-kata.


"Waktu itu...kau tidak perlu minta maaf"


Eh? 'Waktu itu'? Apa maksudnya waktu aku memeluknya di hutan?


"Um..maksudku..jangan merasa bersalah begitu", lanjutnya. "Kau mungkin mendengar detak jantungku yang


menggila. Tapi itu sama sekali bukan seperti yang kau duga" Shane menoleh


menatapku sehingga mata kami dapat bertemu. "Aku tidak pernah merasa takut


padamu"


Aku tidak terlalu yakin ke mana arah pembicaraan ini. Tapi kalau perkiraanku tidak meleset, Shane menaruh


kepercayaan besar padaku. Cukup besar untuk disebut rekan. Tapi entah kenapa


ekspresinya tampak lebih serius lagi. Seolah ada yang lebih dari itu.