The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 12 Asa (part 1)



“Apa ini?”, tanyaku menerima bingkisan yang Karen bawa ke kamarku.


Karen mengangkat kedua bahunya. “Tidak tahu. Kak Zero


memintaku memberikannya pada kakak”


Aku menggerakkan tanganku untuk membuka bingkisan itu.


Mataku membesar demi melihat isinya. Sebuah busur untuk atlet panahan.


“Kata kak Zero, kakak tidak harus memakai pedang”, ujar


Karen pelan. Aku mendengarnya menelan ludah di akhir kalimatnya.


Aku menaikkan sebelah alisku. Sudah bisa kutebak apa yang


akan Karen katakan selanjutnya.


Karen memalingkan matanya dariku, seolah ingin


bersembunyi. “Apa kakak harus melakukannya?”, tanyanya pelan nyaris seperti


bisikan. “Apakah tidak bisa mengurungkan niat kakak?! Bukankah para hunter dan


vampire di luar sana juga mencari vanBlood?! Cepat atau lambat seseorang akan


menghukumnya. Tidakkah itu cukup?”


“Maaf, aku tidak bisa” Aku meraih busur itu dan berjalan


keluar lewat balkon, melompat ke tanah dan berlari masuk ke hutan.


Belakangan aku berniat memperbaiki suasana di antara


Karen dan aku. Tapi sepertinya sama sekali tidak berhasil. Yang kulakukan


justru memperburuk keadaan. Mungkin memang mustahil bagi kami untuk kembali


seperti sebelumnya. Atau mungkin tidak juga. Bukan bagi kami, hanya aku. Karen


kelihatannya sudah mulai pulih dari trauma yang didapatnya ketika vampire merenggut


nyawa orang tua kami. Meskipun dia


juga sama sepertiku, tidak akan bisa menghapus ingatan itu sampai kapan pun.


Nampaknya Karen sudah mulai menemukan pijakan-pijakan baru. Aku berhenti


berlari saat mencapai daerah yang cukup terbuka, mulai menarik busurku dan


membidik hewan kecil di belakang pohon rindang di depan sana. Berharap bisa


sedikit mengosongkan pikiranku tentang Karen, tentang diriku. Belakangan


kesadaranku kadang seolah hendak lepas dari kendaliku. Tampaknya, semua orangtahu kondisiku tambah buruk.


Beberapa hari yang lalu aku tidak sengaja mendengar percakapan Karen dan Shine.


"Kenapa kau tidak pernah mengatakan apapun tentang Key


yang menolak darah? Kau tahu bahwa tidak ada pilihan lain selain menerimanya,


atau dia bisa kehilangan dirinya”


“Apa maksud kakak?”, tanya Karen.


“Maksudku, kau tidak menganggapnya serius. Jika aku ada


di posisimu maka aku pasti sudah ketakutan setengah mati. Dia bisa menjadi mad


vampire”, ujar Shine. “Mungkinkah kau mendapat penglihatan tentang hal ini?”


“Aku tidak perlu penglihatan”, kata Karen kalem. “Aku


sudah tahu. Kakakku adalah orang yang sangat kuat. Dia tidak akan berubah


menjadi mad vampire”


Ada keheningan sejenak. Kemudian Shine kembali bicara.


“Aku tahu kalau ini sulit dipercaya. Tapi, aku pernah melihatnya, bagaimana


mereka berubah”


 “Aku juga sudah melihatnya. Seberapa kuat kakakku”


Jawaban Karen membuat hatiku mencelos. Entah aku merasa senang


atau sedih mendengarnya. Dia mempercayaiku. Bagaimana bisa? Kenapa Karen


mempercayaiku bahkan dengan kondisiku sekarang? Bahkan aku sendiri mulai ragu


apakah aku sanggup bertahan hingga kami menemukan vanBlood.


"Key..eh..um. Jadi kau mendengarnya?"


"Hmm" Aku mengangguk mengiyakan. "Tidak apa, Shine. Aku mengerti maksudmu"


“Oh..maaf. Aku hanyamencemaskan kalian”


“Jadi...menurutmu aku akan berubah menjadi mad vampire


suatu saat nanti?”


Shine mendesah pelan. “Kemungkinan besar begitu. Jika kau


terus keras kepala”


“Begitu ya”


Shine.


“Tidak ada yang bisa kulakukan”


“Ada”, timpalnya. “Tapi kau menolak”


Pangkal lidahku mendadak terasa pahit. Aku benar-benar


membenci topik ini. “Aku tidak bisa melakukannya. Jika kau ada di posisiku,


apakah kau bisa minum darah dari jenismu sendiri?”


“Aku tidak tahu. Tapi bagaimana jika kau berakhir sebagai


mad vampire?”


“Jika hal itu terjadi, maka kau harus membunuhku”


Mata Shine membelalak menatapku. “Apa?”


“Demi Karen, Shine, berjanjilah kau akan membunuhku jika


aku kehilangan kesadaranku”


“Dan bagaimana jika aku tidak bisa?”


Aku mengulum sebuah senyum lemah sebagai jawaban. Itu


bukan sebuah pilihan. Shine harus membunuhku jika aku benar-benar berubah


menjadi mad vampire. Hanya Shine yang bisa kumintai tolong. Dia akan


melakukanya walau tidak mau. Demi Karen.


Tapi masalah kesadaranku yang timbul tengelam ini rupanya menjadi semakin pelik. Mengingat


aku menghabiskan seharian di Humphire. Di sini ada peraturan yang melarang


muridnya melakukan aktivitas apapun yang menumpahkan darah. Maksudnya adalah


perkelahian dilarang begitu pula aktivitas ‘minum’ vampire.  Penyebab goyahnya kesadaranku adalah


saura-suara yang terus bermunculan di dalam kepalaku. Suara vampire dengan


seringai keji, suara vanBlood. Anehnya, tubuhku akan bergerak dengan


sendirinya mengikuti kata-katanya. Seolah aku mengingingkanya. ‘Minum! Minumlah


dan puaskan dahagamu!’, seru suara itu. ‘Bukankah mereka beraroma lezat? Darah


dari manusia-manusia ini? Ayolah, kau menginginkannya, bukan?’ Suara semacam itu muncul semakin


sering. Aku kadang terjatuh dengan lutut lemas karena mati-matian menghentikan


langkahku sendiri. Tapi kadang aku tidak ingat dengan apa yang kulakukan.


“Kami punya peraturan di sini, miss Wilder”, kata prof.


Quinton, kepala sekolah Humphire. “Kali ini aku akan memberikanmu peringatan


dan kau hanya harus menulis permintaan maaf. Tapi jika kau melakukan lebih dari


ini, mungin kami harus mengambil tindakan tegas”


Begitulah prof. Quinton memperingatkan. ‘Mengambil tindakan tegas’ katanya. Aku pernah mendengarnya dari beberapa murid. Hukuman terberat untuk murid vampire, kamar isolasi. Katanya, vampire paling merasa terhina ketika diperlakukan seperti tawanan hunter. Dan entah kenapa aku tidak terkejut ketika


suatu hari aku membuka mata di ruangan sempit dan gelap itu. Tidak ada jendela


ataupun luabng di dinding. Hanya ada satu pintu besi tebal, selain itu dinding polos.


‘Aneh, kenapa aku tidak bisa bergerak?’, batinku. ‘Ah’


Aku baru mengerti sekarang. Benar juga, aku seorang tawanan. Jadi mereka


mengikatku dengan tali hunter. Seperti kata Shine dan Shane, senjata hunter


memiliki rahasia di balik kekuatannya. Tali yang mengikat tangan dan kakiku


bukan hanya membuatku tak bisa bergerak. Tubuhku terasa lebih lemah dari


biasanya. Hampir seperti tanpa darah vampire, seperti saat aku masih manusia.


Ini buruk. Tunggu, kenapa buruk? Dengan begini akutidak bisa melakukan apapun. Aku tidak akan menyakiti


siapapun. Suara itu tidak bisa membuatku menyerang siapapun lagi. Mungkin


bahkan jauh lebih baik jika aku mati di sini. Tanpa ada yang melihat. Mungkin


aku bisa menghilang dalam kegelapan.


Kegelapan ini anehnya membawa rasa nyaman yang tak


kumengerti. Gelap dan sendirian. Anehnya, sungguh nyaman. Aku setengah tidur


ketika keanehan lain muncul. Rasanya seolah ada seseorang di sini. Aku


mendengar suara-suara. Dan mataku teruka. Ini bukan mimpi! Seseorang datang!


Tidak lama kemudian sebuah tangan meraihku. Astaga! Aku tidak bisa berkutik


sekarang ini! Aku tidak punya tenaga, lemah dan terikat seperti tikus. Apa yang orang ini


inginkan dariku?! Aku mencoba berteriak untuk minta tolong, tapi sebuah tangan


lain membungkam mulutku sebelum sempat bersuara.


***