
“Apa ini?”, tanyaku menerima bingkisan yang Karen bawa ke kamarku.
Karen mengangkat kedua bahunya. “Tidak tahu. Kak Zero
memintaku memberikannya pada kakak”
Aku menggerakkan tanganku untuk membuka bingkisan itu.
Mataku membesar demi melihat isinya. Sebuah busur untuk atlet panahan.
“Kata kak Zero, kakak tidak harus memakai pedang”, ujar
Karen pelan. Aku mendengarnya menelan ludah di akhir kalimatnya.
Aku menaikkan sebelah alisku. Sudah bisa kutebak apa yang
akan Karen katakan selanjutnya.
Karen memalingkan matanya dariku, seolah ingin
bersembunyi. “Apa kakak harus melakukannya?”, tanyanya pelan nyaris seperti
bisikan. “Apakah tidak bisa mengurungkan niat kakak?! Bukankah para hunter dan
vampire di luar sana juga mencari vanBlood?! Cepat atau lambat seseorang akan
menghukumnya. Tidakkah itu cukup?”
“Maaf, aku tidak bisa” Aku meraih busur itu dan berjalan
keluar lewat balkon, melompat ke tanah dan berlari masuk ke hutan.
Belakangan aku berniat memperbaiki suasana di antara
Karen dan aku. Tapi sepertinya sama sekali tidak berhasil. Yang kulakukan
justru memperburuk keadaan. Mungkin memang mustahil bagi kami untuk kembali
seperti sebelumnya. Atau mungkin tidak juga. Bukan bagi kami, hanya aku. Karen
kelihatannya sudah mulai pulih dari trauma yang didapatnya ketika vampire merenggut
nyawa orang tua kami. Meskipun dia
juga sama sepertiku, tidak akan bisa menghapus ingatan itu sampai kapan pun.
Nampaknya Karen sudah mulai menemukan pijakan-pijakan baru. Aku berhenti
berlari saat mencapai daerah yang cukup terbuka, mulai menarik busurku dan
membidik hewan kecil di belakang pohon rindang di depan sana. Berharap bisa
sedikit mengosongkan pikiranku tentang Karen, tentang diriku. Belakangan
kesadaranku kadang seolah hendak lepas dari kendaliku. Tampaknya, semua orangtahu kondisiku tambah buruk.
Beberapa hari yang lalu aku tidak sengaja mendengar percakapan Karen dan Shine.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakan apapun tentang Key
yang menolak darah? Kau tahu bahwa tidak ada pilihan lain selain menerimanya,
atau dia bisa kehilangan dirinya”
“Apa maksud kakak?”, tanya Karen.
“Maksudku, kau tidak menganggapnya serius. Jika aku ada
di posisimu maka aku pasti sudah ketakutan setengah mati. Dia bisa menjadi mad
vampire”, ujar Shine. “Mungkinkah kau mendapat penglihatan tentang hal ini?”
“Aku tidak perlu penglihatan”, kata Karen kalem. “Aku
sudah tahu. Kakakku adalah orang yang sangat kuat. Dia tidak akan berubah
menjadi mad vampire”
Ada keheningan sejenak. Kemudian Shine kembali bicara.
“Aku tahu kalau ini sulit dipercaya. Tapi, aku pernah melihatnya, bagaimana
mereka berubah”
“Aku juga sudah melihatnya. Seberapa kuat kakakku”
Jawaban Karen membuat hatiku mencelos. Entah aku merasa senang
atau sedih mendengarnya. Dia mempercayaiku. Bagaimana bisa? Kenapa Karen
mempercayaiku bahkan dengan kondisiku sekarang? Bahkan aku sendiri mulai ragu
apakah aku sanggup bertahan hingga kami menemukan vanBlood.
"Key..eh..um. Jadi kau mendengarnya?"
"Hmm" Aku mengangguk mengiyakan. "Tidak apa, Shine. Aku mengerti maksudmu"
“Oh..maaf. Aku hanyamencemaskan kalian”
“Jadi...menurutmu aku akan berubah menjadi mad vampire
suatu saat nanti?”
Shine mendesah pelan. “Kemungkinan besar begitu. Jika kau
terus keras kepala”
“Begitu ya”
Shine.
“Tidak ada yang bisa kulakukan”
“Ada”, timpalnya. “Tapi kau menolak”
Pangkal lidahku mendadak terasa pahit. Aku benar-benar
membenci topik ini. “Aku tidak bisa melakukannya. Jika kau ada di posisiku,
apakah kau bisa minum darah dari jenismu sendiri?”
“Aku tidak tahu. Tapi bagaimana jika kau berakhir sebagai
mad vampire?”
“Jika hal itu terjadi, maka kau harus membunuhku”
Mata Shine membelalak menatapku. “Apa?”
“Demi Karen, Shine, berjanjilah kau akan membunuhku jika
aku kehilangan kesadaranku”
“Dan bagaimana jika aku tidak bisa?”
Aku mengulum sebuah senyum lemah sebagai jawaban. Itu
bukan sebuah pilihan. Shine harus membunuhku jika aku benar-benar berubah
menjadi mad vampire. Hanya Shine yang bisa kumintai tolong. Dia akan
melakukanya walau tidak mau. Demi Karen.
Tapi masalah kesadaranku yang timbul tengelam ini rupanya menjadi semakin pelik. Mengingat
aku menghabiskan seharian di Humphire. Di sini ada peraturan yang melarang
muridnya melakukan aktivitas apapun yang menumpahkan darah. Maksudnya adalah
perkelahian dilarang begitu pula aktivitas ‘minum’ vampire. Penyebab goyahnya kesadaranku adalah
saura-suara yang terus bermunculan di dalam kepalaku. Suara vampire dengan
seringai keji, suara vanBlood. Anehnya, tubuhku akan bergerak dengan
sendirinya mengikuti kata-katanya. Seolah aku mengingingkanya. ‘Minum! Minumlah
dan puaskan dahagamu!’, seru suara itu. ‘Bukankah mereka beraroma lezat? Darah
dari manusia-manusia ini? Ayolah, kau menginginkannya, bukan?’ Suara semacam itu muncul semakin
sering. Aku kadang terjatuh dengan lutut lemas karena mati-matian menghentikan
langkahku sendiri. Tapi kadang aku tidak ingat dengan apa yang kulakukan.
“Kami punya peraturan di sini, miss Wilder”, kata prof.
Quinton, kepala sekolah Humphire. “Kali ini aku akan memberikanmu peringatan
dan kau hanya harus menulis permintaan maaf. Tapi jika kau melakukan lebih dari
ini, mungin kami harus mengambil tindakan tegas”
Begitulah prof. Quinton memperingatkan. ‘Mengambil tindakan tegas’ katanya. Aku pernah mendengarnya dari beberapa murid. Hukuman terberat untuk murid vampire, kamar isolasi. Katanya, vampire paling merasa terhina ketika diperlakukan seperti tawanan hunter. Dan entah kenapa aku tidak terkejut ketika
suatu hari aku membuka mata di ruangan sempit dan gelap itu. Tidak ada jendela
ataupun luabng di dinding. Hanya ada satu pintu besi tebal, selain itu dinding polos.
‘Aneh, kenapa aku tidak bisa bergerak?’, batinku. ‘Ah’
Aku baru mengerti sekarang. Benar juga, aku seorang tawanan. Jadi mereka
mengikatku dengan tali hunter. Seperti kata Shine dan Shane, senjata hunter
memiliki rahasia di balik kekuatannya. Tali yang mengikat tangan dan kakiku
bukan hanya membuatku tak bisa bergerak. Tubuhku terasa lebih lemah dari
biasanya. Hampir seperti tanpa darah vampire, seperti saat aku masih manusia.
Ini buruk. Tunggu, kenapa buruk? Dengan begini akutidak bisa melakukan apapun. Aku tidak akan menyakiti
siapapun. Suara itu tidak bisa membuatku menyerang siapapun lagi. Mungkin
bahkan jauh lebih baik jika aku mati di sini. Tanpa ada yang melihat. Mungkin
aku bisa menghilang dalam kegelapan.
Kegelapan ini anehnya membawa rasa nyaman yang tak
kumengerti. Gelap dan sendirian. Anehnya, sungguh nyaman. Aku setengah tidur
ketika keanehan lain muncul. Rasanya seolah ada seseorang di sini. Aku
mendengar suara-suara. Dan mataku teruka. Ini bukan mimpi! Seseorang datang!
Tidak lama kemudian sebuah tangan meraihku. Astaga! Aku tidak bisa berkutik
sekarang ini! Aku tidak punya tenaga, lemah dan terikat seperti tikus. Apa yang orang ini
inginkan dariku?! Aku mencoba berteriak untuk minta tolong, tapi sebuah tangan
lain membungkam mulutku sebelum sempat bersuara.
***