
Aku menatap cermin sekali lagi, menghela napas. Meskipun kemarin aku yang
bersikeras untuk datang kemari, rupanya aku tidak begitu yakin dengan
keputusanku sendiri. Namun sekarang bukan saatnya untuk berpikir. Aku meraih
topeng separuh wajah yang sewarna dengan gaunku malam ini—putih
gading—memakainya untuk menutupi separuh wajahku hingga bagian hidung. Kembali
menatap cermin untuk kesekian kalinya. Gaun berlengan singlet dengan hiasan
manik-manik serupa kristal yang membemtuk bunga dalam sulur-sulur yang menjulur
ke bagian bawah tampaknya memang dirancang untuk masquerade. Terlihat anggun dan misterius dipadukan dengan topeng berhiasan manik-manik serupa. Sudahlah!
Berhenti menatap cermin. Aku hanya sedikit nervous. Tidak apa-apa.aku bahkan tidak yakin untuk alasan apa aku merasa nervous. Banyak sekali yang terjadi
belakangan ini. Dan malam ini aku akan mengkonfirmasi kebenarannya. Mungkin aku
gugup karena akn segera mengetahui kebenaran itu. Ataukah aku gugup untuk
bertemu dia.
Begitu keluar kamar aku melihat Arion, Shine dan Karen sudah menunggu di lobi. Kami
bergegas ke alun-alun kerajaan, tempat di mana pesta diadakan. Arion menoleh
padaku lantas menyunggingkan senyum hangatnya. Aku hanya balas tersenyum dan
mengangguk. Arion menyewa sebuah limosin untuk membawa kami ke masquerade.
Pesta itu begitu ramai dan sesak. Sepertinya semua vampire benar-benar datang ke sini. Entah bagaimana caraku
menemukan orang itu di antara sekian banyak vampire.
"Kau mau berdansa denganku?", tanya Arion memecahkan lamunanku, sebelah
tangannya terjulur ke arahku.
Aku membentuk sebuah senyum lantas meraih tangannya. Arion menuntunku ke lantai
dansa, meletakkan sebelah tangannya ke pinggangku sementara tangan satunya
masih menggenggam tanganku. Dan kami mulai berayun mengikuti irama.
"Key..", kata Arion memecah keheningan. "Mmm...."
"Ada apa?"
"Eh...kau terlihat cantik malam ini"
"A-apa..?"
"Sungguh. Kau benar-benar cantik"
Kurasakan rona merah mulai menghangatkan kedua pipiku. Apa-apaan Arion ini? Dari semua
hal yang bisa dikatakan...maksudku, sekarang bukan saat yang tepat untuk
mengagumi penampilan. Tapi mungkin dia hanya mencoba mencairkan kegugupanku.
“Terimakasih”
“Ah, tidak perlu. Pujianku tulus”
Aku kembali tersenyum kecil. “Bukan itu. Terimakasih untuk semuanya”
Arion mengerjap. “Untuk menemanimu?”
“Itu juga, untuk membiarkanku datang ke sini, mengantarku, dan semua hal yang kau
lakukan sebelumnya. Juga untuk menyukaiku”
Arion hanya terdiam, menatapku dengan mata yang berisi jutaan emosi. Mustahil aku
bisa mengerti arti tatapannya. Kami masih bertatapan untuk beberapa lama hingga
ujung syaraf penciuman di dalam hidungku tiba-tiba mendeteksi aroma yang sangat
familiar. Aroma hangat dan sejuk sekaligus seperti aroma embun di ujung
rerumputan yang terkena sinar mentari pagi. Aku menoleh ke arah aroma itu
berasal. Itu dia! Berdiri menjulang tinggi di antara peserta pesta. Mata
birunya terlihat benderang walau dalam cahaya remang dan tersembunyi di balik
topengnya. Rambut pirang keemasannya masih nampak seperti surai singa, meskipun
sepertinya kali ini sudah disisir. Detik selanjutnya tanpa kusadari aku sudah
berlari menerobos keramaian ke arahnya. Aku menghamburkan diriku hingga tubuhku
menabrak dada bidangnya, kedua tanganku meraih belakang lehernya, menariknya
mendekat. Aku menciumnya. Zero nampak terkejut, kedua matanya membesar begitu
bibir kami bersentuhan. Namun dia membalas ciumanku dan memelukku erat. Kami
tenggelam dalam pelukan rindu dan untuk beberapa saat waktu serasa berhenti.
Saat kami kembali ke dalam kesadaran, ujung mataku menangkap bayangan beberapa
orang di sekeliling Zero menatapku dengan rahang menggantug terbuka. Astaga! Aku melepas pelukanku dan mundur selangkah.
Zero meraih tanganku, menggenggamnya sambil tersenyum. "Apa yang kau pikirkan
menyerang seorang pria dengan topeng begitu? Bagaimana jika kau salah
orang?"
"Tentu saja aku tidak akan salah. Dan kau!!! Apa yang kau pikirkan pergi dan
meninggalkanku, hah?!"
Zero hanya tersenyum tipis. "Kenapa kau di sini?"
"Untuk menangkapmu", ujarku pelan. "Sekarang karena aku sudah menangkapmu
kau harus mengabulkan satu keinginanku sebelum kulepaskan"
"Apa?"
"Biarkan aku tetap di sisimu. Aku tidak berniat menghalangimu melakukan apa yang harus
kau lakukan, tapi sebagai gantinya kau harus membiarkan aku tetap di sisimu"
Zero menghela napas, matanya mengerjap, masih menatapku. "Kau tidak tahu
melibatkan dirimu dalam apa.."
"Kau" Ujarku pendek memotong perkataan Zero. "Aku menlibatkan diriku dalam
hidupmu. Pergilah dan cepat lakukan yang harus kau lakukan"
Zero masih bergeming. Mata birunya menelisik ke dalam mataku, mencoba mencari
sesuatu. Ia menghela napas begitu mendapatkan apa yang dicarinya. Ya, dia tahu
aku sudah tahu. Sebelah tangannya membelai rambutku hingga ke sisi wajahku.
"Tetap di sini"
"Ok"
Zero melemparkan tatapannya ke seseorang di belakangku—percayalah walau aku tidak
menoleh aku tahu orang itu Arion—memberi isyarat, lantas berbalik dan
menghilang di keramaian. Beberapa orang yang tadi mengelilingi kami
mengikutinya sembari berpencar. Mereka menuju ke pusat pesta di mana anggota
kerajaan berkumpul. Raja dan ratu vampire yang juga menghadiri pesta duduk di semacam tandu besar yang dikawal warrior. Aku mengikuti langkah Zero dari
kejauhan. Memastikan dapat melihat semuanya. Aku tidak akan membiarkan dia
meninggalkanku lagi. Zero berhenti begitu beberapa bayangan beekelebat muncul
di lantai dansa. Membuat orang-orang berlari menjauh. Musik mendadak mati dan
seseorang berdiri di tengah-tengah lantai dansa yang kini nyaris kosong.
"Aku Aaron Rainier berharap untuk mengajukan permohonan kepada Yang Mulia"
Setelah membungkuk sebentar ia kembali berujar dengan suara keras. "Aku
mengajukan diri untuk melengkapi posisi pewaris tahta yang lama kosong. Mohon
Yang Mulia berhenti mengharapkan the lost
prince. Saya dapat membuktikan bahwa kemampuan dan kekuatan saya mencukupi
untuk posisi tersebut"
Suara napas tertahan terdengar dari segala penjuru. Belum sempat king Arthur merespon
perkataan Aaron, Zero terlihat melangkah ke hadapan raja dan membungkuk memberi
hormat. Raja dan ratu vampire sontak berdiri melihat Zero.
"K-kau..."
"Aku pulang, Ayah"
Perkataan Zero seolah membekukan waktu, semua orang mendadak terdiam tak bergerak.
Mencoba mencerna kembali apa yang baru didengarnya. Semua perhatian tertuju ke
sosok yang berdiri di depan raja. Zero meraih topengnya dan melepasnya.
Memperlihatkan seluruh wajahnya.
"Tidak mungkin!", teriak Aaron tampak beringas, menghilang dari tempatnya berdiri
dan muncul kembali di depan Zero. "Kau.." Aaron tampak terkejut tak
percaya dengan penglihatannya sendiri. "Aku tidak akan membiarkanmu
mengambil tempat yang baru kudapatkan"
Zero menyeringai. "Kau belum mendapatkannya, sepupuku. Dan biar kuingatkan
lagi, tempat itu adalah milikku"
Aaron berseru garang lantas melempar tinju ke arah Zero yang ditangkis oleh dinding
pasir yang terbentuk dalam hitungan detik. Aaron menggeram dan sesuatu seperti
asap hitam terlihat keluar dari ujung
tangannya yang mengepal. Dinding pasir Zero mencair menjadi tak berbentuk dan
ambruk. Namun secepat dinding itu mencair secepat itu pula dinding baru
teebentuk. Zero menghilang dan muncul kembali beberapa meter di depan Aaron,
menjaga jarak aman. Kekuatan Aron adalah penghancuran dan pembusukan materi. Ia
“Cukup, Aaron! Kau tidak pernah mengalahkanku dan tidak akan pernah!! Menyerahlah
sekarang dan aku akan mengampuni hidupmu”, seru Zero yang kini mengeluarkan
kekuatan penuh untuk mengepung Aaron dengan badai elemen. Tanah, air udara,
bahkan api tampak menyusun dinding yang berpusar bak tornado itu.
Asap hitam Aaron yang hampir tak terlihat di bagian pusat pusaran kini menggelegak.
Kurasa inilah yang disebut kekuatan shadow. Aura di sekitar Aaron tampak
semakin pekat. Samar-samar terdengar suaranya di antara derung pertempuran.
“Aku tidak akan kalah darimu! Orang yang lari dan menyembunyikan diri sepertimu
tidak pantas untuk posisi itu”
Pertarungan begitu sengit. Aku cukup heran bagaimana anggota kerajaan hanya bergeming
menyaksikkan. Memang benar tadi raja Arthur bergumam kepada para pengawalnya
untuk diam di tempat dan mengatakan, “Ini adalah pertarungannya”. Tapi tidakkah
mereka ingin membela pangeran mereka? Bukan cuma itu, peserta pesta pun hanya
menyingkir memjauhi pusat alun-alun dan menonton saja. Sepertinya rumor itu
benar, kerajaan dan rakyat vampire sudah kehilangan kepercayaannya pada the lost prince. Hanya mereka yang
sepertinya termasuk pengikut Zero yang bertarung melawan pengikut Aaron yang
jumlahnya dua kali lipat. Zero sejauh ini hanya bertahan. Entah mungkin hanya
perasaanku saja, tapi dia tidak terlihat benar-benar menyerang. Mungkinkah dia
berpikir bisa menghentikan Aaron tanpa membunuhnya, mengingat bahwa
bagaimanapun mereka adalah sepupu. Selain itu mungkin karena akan merepotkan
meyakinkan pendukung Aaron di dalam kerajaan setelah ini jika Aaron terbunuh.
Entahlah aku tidak mengerti pikirannya.
Ujung mataku menangkap bayangan seseorang di antara peserta pesta yang terpaku di
pinggir, nampaknya ia hanya memperhatikan Zero dan Aaron. Dan bukan sekedar
memperhatikan, tapi seolah menunggu sesuatu. Benar saja, sebuah pedang terhunus
di tangan kanannya siap dilempar. Aku memanggil Phoenix bow, mulai membidiknya.
Tepat saat panahku melesat ia melemparkan pedangnya ke arah Zero yang lengah
karena kini tengah melawan asap beracun Aaron yang bergelung setinggi gunung.
Tanpa pikir panjang aku melesat ke arah pedang itu. Beruntung aku tepat waktu
untuk memblokir lajunya, tapi sialnya pedang itu menembus perutku. Aku
terlontar jatuh hingga ke tengah arena.
"Key...!", seru Zero tercengang. Aku tersungkur tepat dua meter di sampingnya.
"Aku tidak apa-apa", seruku berusaha meyakinkan Zero. Dia tidak boleh goyah.
Sial! Darahku masih mengundang perhatian vampire.
Beberapa mata mendadak tertuju ke arahku begitu darahku menyentuh udara. Aku
meraih gagang pedang yang menembus perutku, mencabutnya sekuat tenaga.
Kuayunkan pedang itu dengan satu tangan, menebas seorang pengikut Aaron yang
memcoba menyerangku. Satu tangan lain menutupi luka di perutku, menahan darahku yang nengalir lebih banyak. Beberapa vampire lain mulai berlari ke arahku,
bahkan di antaranya peserta pesta yang tadi hanya menonton di pinggir. Tidak akan sempat!, pikirku sambil
menebas beberapa vampire lain di depanku.
Tepat saat itu sulur-sulur batang raksasa menjulang di sekitarku, membentuk dinding,
dan api yang entah datang darimana membakar vampire-vampire yang berlari ke arahku. Arion muncul di sampingku, menurunkan dinding sulurnya.
Bersamaan dengan itu aku merasakan sesuatu yang sangat kuat mengisi udara di
atas kami. Lidah api mulai surut dan memperlihatkan mata biru cemerlang yang
menatap ke arahku penuh amarah. Zero!
Tadi itu Zero. Bukan, inikah kekuatan Great Prince Archibald? Inikah shadow nya
yang selama ini disembunyikannya?
Matanya masih menatapku untuk beberapa detik selanjutnya sebelum ia berbalik. Gelombang
asap racun Aaron masih menggunung di belakang Zero. Zero mengangkat sebelah
tangannya dan entah bagaimana ia mengubah asap racun hitam pekat itu menjadi
putih dan menyerang balik pemiliknya. Aaron mencoba mengendalikan asapnya tapi
percuma. Asap itu memakamnya, dan ia hanya bisa meraung untuk terakhir kalinya.
Lalu semuanya menghilang. Zero bergeming di tempatnya. Pengikut Aaron jatuh di
atas lutut mereka. Tampak tidak mempercayai penglihatan mereka. Gemuruh petir
memenuhi langit. Dan entah bagaimana menjelaskannya tapi Zero lah yang
menyebabkan gemuruh itu. Aku bangkit dan melangkah ke tempat Zero berdiri,
mengabaikan Efterpi yang memanggil namaku berkali-kali. Kuraih tangan Zero dan menggenggamnya.
Amarah di matanya perlahan mulai redup. Demikian juga gemuruh di langit yg
mulai menghilang. Detik selanjutnya semua cahaya menghilang bersama
kesadaranku.
Saat kembali memperoleh kesadaran aku terbaring di atas tempat tidur. Zero duduk tertidur
di sampingku sambil menggenggam tangsnku. Aku mengusap rambut keemasannya.
Kedua mata birunya terbuka.
"Kau sudah bangun?"
"Yah. Akhirnya aku bisa tidur", ujarku pendek.
"Dasar tidak kenal takut! Bagaimana bisa kau berlari menghalangi pedang itu? kau
benar-benar membuatku takut"
Aku mencoba tersenyum. "Karena kau ada di sana, jadi aku tidak takut. Aku
terluka karena berusaha melindungi hal yang penting bagiku"
Tok!Tok!
Seseorang mengetuk pintu ruangan yang berayun membuka. "Sudah waktunya"
"Baiklah", kata Zero pendek.
"Kau mau pergi?"
Zero mengagguk, tersenyum tipis. "Aku harus pergi. Aku harus menghadiri sidang
kejujuran dan menebus kesalahanku"
"Aku ikut"
"Key.., kau tidak harus ikut. Maksudku, di sana ada detektor kebohongan dan aku akan
mengatakan semuanya. Kau tidak perlu mendengarnya. Itu hanya akan membuatmu
takut"
"Aku tidak akan takut. Ini keinginanku, untuk tetap di sisimu. Jadi biarkan aku
ikut"
Zero mengalah dan mengijinkanku ikut ke sidang kejujuran. Aleron, pengawal yg
mengantarkan Zero mempersilakanku duduk di bangku depan lalu kembali
mengiringi Zero ke tengah ruangan.
Ruangan sidang ini lebih mirip stadion kecil dengan bangku penonton di tiga
sisi, dan satu sisi untuk semacam hakim dan para petinggi kerajaan. Aku tidak
yakin berapa banyak orang di ruangan ini, tapi nyaris semua kursi terisi.
"Tidak perlu dengan kursi itu kan?! Kau bisa menggunakan satu detektor saja"
Protes Aleron menunjuk kursi dengan banyak kabel detektor dan sabuk penahan.
"Di Yang Mulia The Great Prince, kalian tidak bisa memperlakukannya
seperti ini! Ini benar-benar merendahkan"
"Tidak ada perkecualian di depan keadilan", ujar orang tua berjenggot putih di
barisan hakim.
"Tapi.."
"Aleron", potong Zero. "Tidak apa"
Zero menatap Aleron, mengangguk meyakinkannya. Lalu duduk di kursi detektor.
Beberapa pengawal mengikatkan sabuk-sabuk penahan d kedua tangan dan kaki lalu
memasangkan kabel-kabel detektor di hampir sekujur tubuh Zero. Aleron
memalingkan kepala, tidak sanggup melihat. Matanya masih terlihat memancarkan
amarah. Sidang pun dimulai.
"Archibald Rainier, apakah Anda menyembunyikan shadow utk bersembunyi?"
"Ya"
"Apakah karena anda telah membunuh putri Aileen?"
"Tidak" kata Zero. Seisi ruangan tampak melirik layar komputer menunggu lampu merah
tanda kebohongan. Tidak ada.
"Bagaimana dengan saksi yang melihat Anda memakan jantung Aileen?"
"Benar. Aku melakukannya" Suara napas tertahan memenuhi ruangan. Semua mata
kembali melihat tidak adanya tanda bohong.