The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 21 Masquerade



Aku menatap cermin sekali lagi, menghela napas. Meskipun kemarin aku yang


bersikeras untuk datang kemari, rupanya aku tidak begitu yakin dengan


keputusanku sendiri. Namun sekarang bukan saatnya untuk berpikir. Aku meraih


topeng separuh wajah yang sewarna dengan gaunku malam ini—putih


gading—memakainya untuk menutupi separuh wajahku hingga bagian hidung. Kembali


menatap cermin untuk kesekian kalinya. Gaun berlengan singlet dengan hiasan


manik-manik serupa kristal yang membemtuk bunga dalam sulur-sulur yang menjulur


ke bagian bawah tampaknya memang dirancang untuk masquerade. Terlihat anggun dan misterius dipadukan dengan topeng berhiasan manik-manik serupa. Sudahlah!


Berhenti menatap cermin. Aku hanya sedikit nervous. Tidak apa-apa.aku bahkan tidak yakin untuk alasan apa aku merasa nervous. Banyak sekali yang terjadi


belakangan ini. Dan malam ini aku akan mengkonfirmasi kebenarannya. Mungkin aku


gugup karena akn segera mengetahui kebenaran itu. Ataukah aku gugup untuk


bertemu dia.


Begitu keluar kamar aku melihat Arion, Shine dan Karen sudah menunggu di lobi. Kami


bergegas ke alun-alun kerajaan, tempat di mana pesta diadakan. Arion menoleh


padaku lantas menyunggingkan senyum hangatnya. Aku hanya balas tersenyum dan


mengangguk. Arion menyewa sebuah limosin untuk membawa kami ke masquerade.


Pesta itu begitu ramai dan sesak. Sepertinya semua vampire benar-benar datang ke sini. Entah bagaimana caraku


menemukan orang itu di antara sekian banyak vampire.


"Kau mau berdansa denganku?", tanya Arion memecahkan lamunanku, sebelah


tangannya terjulur ke arahku.


Aku membentuk sebuah senyum lantas meraih tangannya. Arion menuntunku ke lantai


dansa, meletakkan sebelah tangannya ke pinggangku sementara tangan satunya


masih menggenggam tanganku. Dan kami mulai berayun mengikuti irama.


"Key..", kata Arion memecah keheningan. "Mmm...."


"Ada apa?"


"Eh...kau terlihat cantik malam ini"


"A-apa..?"


"Sungguh. Kau benar-benar cantik"


Kurasakan rona merah mulai menghangatkan kedua pipiku. Apa-apaan Arion ini? Dari semua


hal yang bisa dikatakan...maksudku, sekarang bukan saat yang tepat untuk


mengagumi penampilan. Tapi mungkin dia hanya mencoba mencairkan kegugupanku.


“Terimakasih”


“Ah, tidak perlu. Pujianku tulus”


Aku kembali tersenyum kecil. “Bukan itu. Terimakasih untuk semuanya”


Arion mengerjap. “Untuk menemanimu?”


“Itu juga, untuk membiarkanku datang ke sini, mengantarku, dan semua hal yang kau


lakukan sebelumnya. Juga untuk menyukaiku”


Arion hanya terdiam, menatapku dengan mata yang berisi jutaan emosi. Mustahil aku


bisa mengerti arti tatapannya. Kami masih bertatapan untuk beberapa lama hingga


ujung syaraf penciuman di dalam hidungku tiba-tiba mendeteksi aroma yang sangat


familiar. Aroma hangat dan sejuk sekaligus seperti aroma embun di ujung


rerumputan yang terkena sinar mentari pagi. Aku menoleh ke arah aroma itu


berasal. Itu dia! Berdiri menjulang tinggi di antara peserta pesta. Mata


birunya terlihat benderang walau dalam cahaya remang dan tersembunyi di balik


topengnya. Rambut pirang keemasannya masih nampak seperti surai singa, meskipun


sepertinya kali ini sudah disisir. Detik selanjutnya tanpa kusadari aku sudah


berlari menerobos keramaian ke arahnya. Aku menghamburkan diriku hingga tubuhku


menabrak dada bidangnya, kedua tanganku meraih belakang lehernya, menariknya


mendekat. Aku menciumnya. Zero nampak terkejut, kedua matanya membesar begitu


bibir kami bersentuhan. Namun dia membalas ciumanku dan memelukku erat. Kami


tenggelam dalam pelukan rindu dan untuk beberapa saat waktu serasa berhenti.


Saat kami kembali ke dalam kesadaran, ujung mataku menangkap bayangan beberapa


orang di sekeliling Zero menatapku dengan rahang menggantug terbuka. Astaga! Aku melepas pelukanku dan mundur selangkah.


Zero meraih tanganku, menggenggamnya sambil tersenyum. "Apa yang kau pikirkan


menyerang seorang pria dengan topeng begitu? Bagaimana jika kau salah


orang?"


"Tentu saja aku tidak akan salah. Dan kau!!! Apa yang kau pikirkan pergi dan


meninggalkanku, hah?!"


Zero hanya tersenyum tipis. "Kenapa kau di sini?"


"Untuk menangkapmu", ujarku pelan. "Sekarang karena aku sudah menangkapmu


kau harus mengabulkan satu keinginanku sebelum kulepaskan"


"Apa?"


"Biarkan aku tetap di sisimu. Aku tidak berniat menghalangimu melakukan apa yang harus


kau lakukan, tapi sebagai gantinya kau harus membiarkan aku tetap di sisimu"


Zero menghela napas, matanya mengerjap, masih menatapku. "Kau tidak tahu


melibatkan dirimu dalam apa.."


"Kau" Ujarku pendek memotong perkataan Zero. "Aku menlibatkan diriku dalam


hidupmu. Pergilah dan cepat lakukan yang harus kau lakukan"


Zero masih bergeming. Mata birunya menelisik ke dalam mataku, mencoba mencari


sesuatu. Ia menghela napas begitu mendapatkan apa yang dicarinya. Ya, dia tahu


aku sudah tahu. Sebelah tangannya membelai rambutku hingga ke sisi wajahku.


"Tetap di sini"


"Ok"


Zero melemparkan tatapannya ke seseorang di belakangku—percayalah walau aku tidak


menoleh aku tahu orang itu Arion—memberi isyarat, lantas berbalik dan


menghilang di keramaian. Beberapa orang yang tadi mengelilingi kami


mengikutinya sembari berpencar. Mereka menuju ke pusat pesta di mana anggota


kerajaan berkumpul. Raja dan ratu vampire yang juga menghadiri pesta duduk di semacam tandu besar yang dikawal warrior. Aku mengikuti langkah Zero dari


kejauhan. Memastikan dapat melihat semuanya. Aku tidak akan membiarkan dia


meninggalkanku lagi. Zero berhenti begitu beberapa bayangan beekelebat muncul


di lantai dansa. Membuat orang-orang berlari menjauh. Musik mendadak mati dan


seseorang berdiri di tengah-tengah lantai dansa yang kini nyaris kosong.


"Aku Aaron Rainier berharap untuk mengajukan permohonan kepada Yang Mulia"


Setelah membungkuk sebentar ia kembali berujar dengan suara keras. "Aku


mengajukan diri untuk melengkapi posisi pewaris tahta yang lama kosong. Mohon


Yang Mulia berhenti mengharapkan the lost


prince. Saya dapat membuktikan bahwa kemampuan dan kekuatan saya mencukupi


untuk posisi tersebut"


Suara napas tertahan terdengar dari segala penjuru. Belum sempat king Arthur merespon


perkataan Aaron, Zero terlihat melangkah ke hadapan raja dan membungkuk memberi


hormat. Raja dan ratu vampire sontak berdiri melihat Zero.


"K-kau..."


"Aku pulang, Ayah"


Perkataan Zero seolah membekukan waktu, semua orang mendadak terdiam tak bergerak.


Mencoba mencerna kembali apa yang baru didengarnya. Semua perhatian tertuju ke


sosok yang berdiri di depan raja. Zero meraih topengnya dan melepasnya.


Memperlihatkan seluruh wajahnya.


"Tidak mungkin!", teriak Aaron tampak beringas, menghilang dari tempatnya berdiri


dan muncul kembali di depan Zero. "Kau.." Aaron tampak terkejut tak


percaya dengan penglihatannya sendiri. "Aku tidak akan membiarkanmu


mengambil tempat yang baru kudapatkan"


Zero menyeringai. "Kau belum mendapatkannya, sepupuku. Dan biar kuingatkan


lagi, tempat itu adalah milikku"


Aaron berseru garang lantas melempar tinju ke arah Zero yang ditangkis oleh dinding


pasir yang terbentuk dalam hitungan detik. Aaron menggeram dan sesuatu seperti


asap hitam terlihat keluar dari  ujung


tangannya yang mengepal. Dinding pasir Zero mencair menjadi tak berbentuk dan


ambruk. Namun secepat dinding itu mencair secepat itu pula dinding baru


teebentuk. Zero menghilang dan muncul kembali beberapa meter di depan Aaron,


menjaga jarak aman. Kekuatan Aron adalah penghancuran dan pembusukan materi. Ia


“Cukup, Aaron! Kau tidak pernah mengalahkanku dan tidak akan pernah!! Menyerahlah


sekarang dan aku akan mengampuni hidupmu”, seru Zero yang kini mengeluarkan


kekuatan penuh untuk mengepung Aaron dengan badai elemen. Tanah, air udara,


bahkan api tampak menyusun dinding yang berpusar bak tornado itu.


Asap hitam Aaron yang hampir tak terlihat di bagian pusat pusaran kini menggelegak.


Kurasa inilah yang disebut kekuatan shadow. Aura di sekitar Aaron tampak


semakin pekat. Samar-samar terdengar suaranya di antara derung pertempuran.


“Aku tidak akan kalah darimu! Orang yang lari dan menyembunyikan diri sepertimu


tidak pantas untuk posisi itu”


Pertarungan begitu sengit. Aku cukup heran bagaimana anggota kerajaan hanya bergeming


menyaksikkan. Memang benar tadi raja Arthur bergumam kepada para pengawalnya


untuk diam di tempat dan mengatakan, “Ini adalah pertarungannya”. Tapi tidakkah


mereka ingin membela pangeran mereka? Bukan cuma itu, peserta pesta pun hanya


menyingkir memjauhi pusat alun-alun dan menonton saja. Sepertinya rumor itu


benar, kerajaan dan rakyat vampire sudah kehilangan kepercayaannya pada the lost prince. Hanya mereka yang


sepertinya termasuk pengikut Zero yang bertarung melawan pengikut Aaron yang


jumlahnya dua kali lipat. Zero sejauh ini hanya bertahan. Entah mungkin hanya


perasaanku saja, tapi dia tidak terlihat benar-benar menyerang. Mungkinkah dia


berpikir bisa menghentikan Aaron tanpa membunuhnya, mengingat bahwa


bagaimanapun mereka adalah sepupu. Selain itu mungkin karena akan merepotkan


meyakinkan pendukung Aaron di dalam kerajaan setelah ini jika Aaron terbunuh.


Entahlah aku tidak mengerti pikirannya.


Ujung mataku menangkap bayangan seseorang di antara peserta pesta yang terpaku di


pinggir, nampaknya ia hanya memperhatikan Zero dan Aaron. Dan bukan sekedar


memperhatikan, tapi seolah menunggu sesuatu. Benar saja, sebuah pedang terhunus


di tangan kanannya siap dilempar. Aku memanggil Phoenix bow, mulai membidiknya.


Tepat saat panahku melesat ia melemparkan pedangnya ke arah Zero yang lengah


karena kini tengah melawan asap beracun Aaron yang bergelung setinggi gunung.


Tanpa pikir panjang aku melesat ke arah pedang itu. Beruntung aku tepat waktu


untuk memblokir lajunya, tapi sialnya pedang itu menembus perutku. Aku


terlontar jatuh hingga ke tengah arena.


"Key...!", seru Zero tercengang. Aku tersungkur tepat dua meter di sampingnya.


"Aku tidak apa-apa", seruku berusaha meyakinkan Zero. Dia tidak boleh goyah.


Sial! Darahku masih mengundang perhatian vampire.


Beberapa mata mendadak tertuju ke arahku begitu darahku menyentuh udara. Aku


meraih gagang pedang yang menembus perutku, mencabutnya sekuat tenaga.


Kuayunkan pedang itu dengan satu tangan, menebas seorang pengikut Aaron yang


memcoba menyerangku. Satu tangan lain menutupi  luka di perutku, menahan darahku yang nengalir lebih banyak. Beberapa vampire lain mulai berlari ke arahku,


bahkan di antaranya peserta pesta yang tadi hanya menonton di pinggir. Tidak akan sempat!, pikirku sambil


menebas beberapa vampire lain di depanku.


Tepat saat itu sulur-sulur batang raksasa menjulang di sekitarku, membentuk dinding,


dan api yang entah datang darimana membakar vampire-vampire yang berlari ke arahku. Arion muncul di sampingku, menurunkan dinding sulurnya.


Bersamaan dengan itu aku merasakan sesuatu yang sangat kuat mengisi udara di


atas kami. Lidah api mulai surut dan memperlihatkan mata biru cemerlang yang


menatap ke arahku penuh amarah. Zero!


Tadi itu Zero. Bukan, inikah kekuatan Great Prince Archibald? Inikah shadow nya


yang selama ini disembunyikannya?


Matanya masih menatapku untuk beberapa detik selanjutnya sebelum ia berbalik. Gelombang


asap racun Aaron masih menggunung di belakang Zero. Zero mengangkat sebelah


tangannya dan entah bagaimana ia mengubah asap racun hitam pekat itu menjadi


putih dan menyerang balik pemiliknya. Aaron mencoba mengendalikan asapnya tapi


percuma. Asap itu memakamnya, dan ia hanya bisa meraung untuk terakhir kalinya.


Lalu semuanya menghilang. Zero bergeming di tempatnya. Pengikut Aaron jatuh di


atas lutut mereka. Tampak tidak mempercayai penglihatan mereka. Gemuruh petir


memenuhi langit. Dan entah bagaimana menjelaskannya tapi Zero lah yang


menyebabkan gemuruh itu. Aku bangkit dan melangkah ke tempat Zero berdiri,


mengabaikan Efterpi yang memanggil namaku berkali-kali. Kuraih tangan Zero dan menggenggamnya.


Amarah di matanya perlahan mulai redup. Demikian juga gemuruh di langit yg


mulai menghilang. Detik selanjutnya semua cahaya menghilang bersama


kesadaranku.


Saat kembali memperoleh kesadaran aku terbaring di atas tempat tidur. Zero duduk tertidur


di sampingku sambil menggenggam tangsnku. Aku mengusap rambut keemasannya.


Kedua mata birunya terbuka.


"Kau sudah bangun?"


"Yah. Akhirnya aku bisa tidur", ujarku pendek.


"Dasar tidak kenal takut! Bagaimana bisa kau berlari menghalangi pedang itu? kau


benar-benar membuatku takut"


Aku mencoba tersenyum. "Karena kau ada di sana, jadi aku tidak takut. Aku


terluka karena berusaha melindungi hal yang penting bagiku"


Tok!Tok!


Seseorang mengetuk pintu ruangan yang berayun membuka. "Sudah waktunya"


"Baiklah", kata Zero pendek.


"Kau mau pergi?"


Zero mengagguk, tersenyum tipis. "Aku harus pergi. Aku harus menghadiri sidang


kejujuran dan menebus kesalahanku"


"Aku ikut"


"Key.., kau tidak harus ikut. Maksudku, di sana ada detektor kebohongan dan aku akan


mengatakan semuanya. Kau tidak perlu mendengarnya. Itu hanya akan membuatmu


takut"


"Aku tidak akan takut. Ini keinginanku, untuk tetap di sisimu. Jadi biarkan aku


ikut"


Zero mengalah dan mengijinkanku ikut ke sidang kejujuran. Aleron, pengawal yg


mengantarkan Zero mempersilakanku duduk di bangku depan lalu kembali


mengiringi  Zero ke tengah ruangan.


Ruangan sidang ini lebih mirip stadion kecil dengan bangku penonton di tiga


sisi, dan satu sisi untuk semacam hakim dan para petinggi kerajaan. Aku tidak


yakin berapa banyak orang di ruangan ini, tapi nyaris semua kursi terisi.


"Tidak perlu dengan kursi itu kan?! Kau bisa menggunakan satu detektor saja"


Protes Aleron menunjuk kursi dengan banyak kabel detektor dan sabuk penahan.


"Di Yang Mulia The Great Prince, kalian tidak bisa memperlakukannya


seperti ini! Ini benar-benar merendahkan"


"Tidak ada perkecualian di depan keadilan", ujar orang tua berjenggot putih di


barisan hakim.


"Tapi.."


"Aleron", potong Zero. "Tidak apa"


Zero menatap Aleron, mengangguk meyakinkannya. Lalu duduk di kursi detektor.


Beberapa pengawal mengikatkan sabuk-sabuk penahan d kedua tangan dan kaki lalu


memasangkan kabel-kabel detektor di hampir sekujur tubuh Zero. Aleron


memalingkan kepala, tidak sanggup melihat. Matanya masih terlihat memancarkan


amarah. Sidang pun dimulai.


"Archibald Rainier, apakah Anda menyembunyikan shadow utk bersembunyi?"


"Ya"


"Apakah karena anda telah membunuh putri Aileen?"


"Tidak" kata Zero. Seisi ruangan tampak melirik layar komputer menunggu lampu merah


tanda kebohongan. Tidak ada.


"Bagaimana dengan saksi yang melihat Anda memakan jantung Aileen?"


"Benar. Aku melakukannya" Suara napas tertahan memenuhi ruangan. Semua mata


kembali melihat tidak adanya tanda bohong.