
"Ada apa?", tanya Zero. Gerakannya berhenti.
"Apa?"
"Dari tadi kau memandangiku"
"Eh?" Benarkah? Kurasa benar. Zero sedang berlatih pedang sejak pagi tadi. Awalnya
aku berniat hanya melihatnya sebentar. Tapi sepertinya tanpa sadar aku menatapnya
terlalu lama saat memperhatikan gerakan Zero.
"Ada yang mau kau katakan?"
"Em..tidak. Aku cuma merasa kau sangat ahli menggunakan pedang"
"Oh" Zero menyisir rambutnya ke belakang dengan jemarinya, menampakkan mata birunya
yang cemerlang. Keringat tampak mengalir dari atas keningnya. "Kau mau
berlatih?"
"Yeah" Bukan ide buruk kurasa. Aku melangkah menghampiri Zero.
Zero memberikan padaku pedangnya, lantas meraih sebuah pedang lain dari kotak besar
yang dibawanya dari basement. "Arion sudah bilang kalau kemampuan
menggunakan pedang itu penting?"
"Hmm"
"Tapi kau bisa menggunakan panah. Kurasa tidak perlu berlatih terlalu banyak gerakan seperti sebelumnya. Hanya
untuk berjaga-jaga jika ada situasi di mana kau harus bertarung jarak dekat,
pastikan kau bisa menyerang lawanmu. Jangan ragu-ragu, serang dengan cepat. Kau
tidak punya kesempatan jika berhadapan dengan ahli pedang, tapi kau cekatan.
Kau mungkin bisa menang jika seranganmu tepat sasaran. Lihat ini" Zero
melangkahkan kakinya sambil mengayunkan pedangnya ke depan dengan gerakan
menebas dan menusuk.
Aku mencoba mengikuti gerakannya. Zero menatapku dan mengangguk.
"Jangan ragu-ragu. Seperti ini, tepat ke jantung lawanmu", katanya sambil kembali menusukkan pedangnya
lurus ke udara di depannya.
Aku kembali menirukan gerakan yang dicontohkan Zero tadi.
"Lebih cepat", ujarnya
Baiklah. Aku mengulangi gerakan itu dengan lebih cepat.
"Lebih cepat"
Lagi. Gerakan yang sama dengan kecepatan lebih.
"Arahkan padaku"
"Eh?"
"Serangan tadi"
"Apa kau bercanda?"
"Tidak. Aku akan jadi lawanmu"
Aku menggeleng. "Aku tidak mau melawanmu dengan pedang sungguhan"
"Vampire tidak memakai pedang kayu"
"Aku tahu"
"Kau takut?"
"Mengarahkan pedang padamu, tentu saja"
"Heh. Itu hal termanis yang pernah kau katakan padaku"
Aku mendengus. "Aku sudah tahu bagaimana cara melakukannya. Jadi sudah
cukup"
"Tidak cukup dengan tahu. Kita harus mencobanya"
Aku kembali mendengus. Untuk sesaat aku hampir lupa kalau Zero memang orang yang
menyebalkan. Aku membencinya, tapi bukan maksudku sesuatu seperti ingin
menusuknya dengan pedang. Dia benar-benar tidak waras. Aku baru berlatih pedang
2 minggu belakangan ini. Jadi aku belum bisa mengontrol gerakanku dengan benar.
Jika aku sampai salah atau tidak bisa menghentikan seranganku..
"Ayo. Atau kau sudah menggugurkan niatmu"
Baiklah. "Ok"
Aku mulai melangkah maju, mengayunkan pedangku. Zero menangkisnya, pedang kami
beradu. "Hindari beradu pedang, kau tidak akan menang", bisiknya
lantas menghentakkan pedang kami dan melangkah mundur.
Aku kembali melakukan serangan, kali ini mengikuti nasihatnya untuk menghindari adu
pedang. Suka tidak suka, Zero benar bahwa kesempatanku menang sangat tipis.
"Lebih cepat!"
Aku menggigit bagian bibir bawahku. Mengumpulkan semua kekuatan di kakiku, mencoba
bergerak lebih cepat. Pedang Zero terus menangkis pedangku. Dia hanya bertahan,
tanpa gerakan menyerang sekalipun. Dan meskipun seperti itu, seranganku selalu
ditangkisnya. Nyaris tanpa kesulitan. Mungkin dia bisa membaca gerakanku. Dan
lagi, Zero jauh lebih cepat dibandingkan aku. Aku tidak bisa terus seperti ini.
Aku melangkahkan kaki kananku, mengambil kuda-kuda lalu menangkis pedang Zero
dan menusukkan pedangku ke arah depan dalam sepersekian detik. Aku terengah
melihat ujung pedangku nyaris menyentuh baju Zero. Tanganku yang memegang
pedang mendadak kaku. Tidak bisa digerakkan. Aku mengangkat wajahku, mataku
bertemu mata biru Zero. Keringat yang mengalir dari dahi ke sisi pipinya tampak
berkilau terkena cahaya matahari sore. Sebuah senyum mengembang di wajahnya.
Tanganku yang kaku berubah mati rasa. Jemariku dingin, seolah kehilangan kekuatannya.
Dan pedang yang kupedang terjatuh ke tanah dengan sendirinya. Aku melangkah
mundur. Tidak percaya melihat Zero tersenyum barusan. Dia gila!
"Bagus. Sekali lagi"
"Tidak! Sudah cukup", ujarku tanpa menghiraukan Zero yang anehnya tampak senang.
Aku berbalik masuk ke rumah. Berjalan secepat mungkin menaiki tangga menuju kamar. Aku meraih ikat rambutku lalu
membiarkan rambutku terurai. Lututku lemas. Dan aku jatuh terduduk di lantai di
samping ranjang. Meraih rambutku yang berantakan, menjambaknya pelan. Jemariku
masih dingin.
***
"Kalian bertengkar lagi?", celetuk Karen. Matanya masih tertumpu pada punggung
Zero yang berjalan keluar rumah. Ia bergegas pergi begitu aku masuk ke ruang
tamu.
"Kelihatannya memang sedang bertengkar. Apa yang terjadi?", tanya Arion.
Aku menghela napas pelan. "Aku hampir menusuknya dengan pedang"
"Apa?" Semua orang berseru terkejut.
"Kenapa? Dia membuatmu marah?", tanya Shane.
"Bukan begitu. Itu terjadi saat dia menjadi lawanku kemarin"
"Kau hampir menusuknya?!", ulang Arion. Wajahnya 10 kali lebih terkejut
dibanding waktu dia mendengarku mengatakanya tadi.
Aku mengangguk.
"Wuah! Itu hebat! Zero sangat ahli dalam pedang.. Tunggu dulu, dia tidak mungkin marah
karena hal itu"
Yeah. Dia tidak marah. Aku heran kenapa Arion memasang wajah berbinar. Rasanya kali
ini dia berpihak pada Zero.
"Aku hampir menusuknya! Kau tidak dengar? Bagian mana yang hebat dari itu"
"Yeah, well... Aku yakin kau tidak akan mengenainya", ujar Arion, nampak mulai
mengerti siapa yang marah di sini. "Seranganmu berhasil. Dan bukan pada
orang lain, tapi Zero. Asal kau tahu, walau dia bukan siapa-siapa, kemampuan pedangnya
level tinggi bagi vampire"
"Well, aku tidak yakin, Arion. Itu sangat dekat dan..." Aku mendengus kesal.
Sepertinya tidak ada yang akan mengerti maksudku.
"Key pasti khawatir pedangnya mengenai Zero", kata Shine. "Benar
kan?"
"Aah.." Arion mengerjapkan matanya beberapa kali. "Kau tidak perlu khawatir soal
itu"
"Bagaimana tidak?" Aku nyaris membunuhnya.
"Maksudku Zero pasti bisa menghindarinya...um, dia...kau tahu, sangat cepat"
"Arion benar, Key. Lagipula itu ide Zero bukan?", ujar Shine.
"Sudahlah, Kak. Tidak terjadi apa-apa dan aku akan memberitahumu jika aku melihat sesuatu.
Aku janji", ujar Karen. "Kakak tidak akan melukai siapapun"Karen
tersenyum manis, mencoba meyakinkanku. Benar, Karen bisa melihat masa depan.
Dia bisa memberitahuku untuk menghindari hal seperti kemarin. Aku membalas
senyumnya sambil mengangguk pelan.Mencoba mengedalikan emosiku.
"Ngomong-ngomong, Arion, apa kau tahu tentang the Lost Prince?", tanya Shine.
"Eh? Apa?"
"Pangeran kalian yang menghilang itu, apa kau mendengar sesuatu tentangnya?"
"Well, aku tidak ada pada posisi untuk mendengar apapun", ujar Arion yang meraih
sebungkus potato chip di meja. "Kenapa memangnya?"
"Kudengar pangeran itu sudah lama hilang. Belakangan jadi banyak keributan, sepertinya
beberapa dari kalian memulai gerakan tidak wajar.."
"Begitu ya. Jadi kalian para hunter juga mengamati yang terjadi dalam kerajaan
kami"
"Yah, sebisa mungkin. Karena tugas kami adalah menjaga keselamatan manusia",
ujar Shane. "Kau benar tidak mendengar apapun?"
"Hmm. Aku cuma seorang seniman. Dan aku tidak tertarik dengan politik"
"Benar-benar tidak membantu", komentar Shane. Wajahnya sengaja menampakkan
kekecewaannya. "Kupikir ada untungnya kita berekan dengan vampire.
Alih-alih kami hanya mendapat kenalan seorang seniman dan hacker
introvert itu"
Arion tertawa garing mendengar komentar sinis Shane. "Maaf kami tidak bisa
digunakan"
"Pangeran yang hilang.., bagaimana dia bisa hilang?",
tanyaku tiba-tiba sedikit ingin tahu.
"Ehm.. Sebenarnya bukan hilang, well, itu cuma bagaimana kebanyakan orang
menyebutnya", tutur Arion. "Yang Mulia mampu menyembunyikan
shadownya, yang mana bisa digunakan untuk melacak keberadaan seseorang. Karena
shadownya tidak bisa dideteksi maka kami mulai memakai kata hilang"
"Kau bilang tidak mendengar apapun", ujar Shane.
"Well, semua orang membicarakannya. Lagipula kalau cuma informasi ini kalian juga
pasti sudah tahu kan"
"Benar" Shine mengiyakan.
"Jadi dia menyembunyikan diri?" Aku menerka.
Arion mengangguk, begitupula Shine dan Shane yang mengetahui cerita itu.
"Dia membunuh tunangannya", kata Shane.
Mata Arion terlihat bergerak-gerak. Ia menahan napasnya sama sepertiku yang baru
mendengar untuk pertama kali. Kurasa Arion berada di pihak pendukung pangeran
itu, untuk alasan tertentu dia terlihat tidak suka kami membicarakannya.
"Apa itu benar?", tanyaku ragu.
Arion menelan ludah. "Begitulah kabarnya"
"Karena itu dia bersembunyi? Tapi bukankah dia seorang pangeran..., maksudku dia pasti
sangat kuat kan"
"Ya, pasti sangat kuat", ujar Shine.“Dia bisa jadi musuh yang tidak terduga”
Arion hanya mengangguk, menyibukkan diri dengan menjejalkan potato chips ke dalam
mulutnya. Aku menoleh menatap Karen yang sejak tadi memilih memelototi drama di
TV alih-alih ikut membahas pangeran vampire. Aku menghela napas. Kurasa sifat
ingin tahuku kadang membuatku berharap hal mustahil. Seperti, Karen mendapat
penglihatan tentang pangeran vampire yang hilang. Ah, bodohnya aku. Justru aku
harusnya lega bahwa Karen tidak mendapatkannya. Karen hanya bisa melihat masa
depan yang berhubungan dengan dirinya dan orang di sekitarnya saja. Jika dia
mendapat penglihatan tentang the lost prince maka bahaya besar mungkin menunggu
kami.
***