
Aku merebahkan tubuh di ranjang. Terlalu bugar untuk merasa
mengantuk. Aku maish tidak percaya aku benar-benar meminumdarh Shane kemarin. Bukan
hanya itu, aku nyaris membunuhnya. Tubuh ini sudah lama bukan lagi milikku. Aku
dapat merasakan darah vampire dalam tubuhku menggelegak puas setelah dahaganya
terpenuhi. Benar-benar menjijikkan.
Belakangan ini aku hanya bisa mengacau. Melukai diriku
sendiri, membuat keributan di prom dan nyaris menjadi makanan vampire di satu
sekolah. Apa tidak ada yang bisa kulakukan dengan benar? Beberapa hari lalu,
Zero bilang dia berhasil menemukan jejak Vanblood dan kita bisa segera
melakukan penyerangan. Tapi sepertinya masih belum ada kemajuan hingga
sekarang.
Andai saja aku bisa menemukanya sendiri…. Tunggu! Aku
mungkin saja bisa melakukanya sendiri! Beberapa waktu lalu Vanblood berkata
dalam pikiranku kalau ia akan menunjukkan tempatnya jika aku datang sendirian.
Aku tidak yakin kalau perkataanya bisa dipercaya, tapi kalau itu artinya tidak
perlu membuat orang lain terluka lagi maka aku akan pergi.
Aku meraih busur dan pedangku . Tidak lupa membawa sekantung
belati kecil. Menurut yang dikatakan
Zero dan Arion, pureblood itu jauh lebih kuat dari vampire non pureblood. Dan mereka
bisa mengendalikan tubuh exhuman yang memiliki darahnya. Tapi kurasa itu bukan
berarti tidak mungkin bagiku untuk menang. Aku akan mengusahakan sesuatu nanti.
Aku melompat turun dari balkon. Berjalan sebiasa mungkin
agar tidakada yang curiga. Aku sering berkeliaran ke hutan sendirian, jadi
kurasa tidak apa-apa. Setelah cukp jauh, aku berpikir untuk mulai berlari, tapi
saat itulah sekonyong-konyong seseorang berdiri menghalangi jalanku. Zero! Lagi-lagi
dia! Sial, aku sama sekali tidak mendengarnya menyusulku.
“Apa yng kau pikirkan?”
“Minggir, Zero! Jangan menghalangiku!!”
Zerotak bergeming. Wajahnya masih datar dan tanpa
ekspresiseperti biasanya. Tapi entah kenapa aku bisa merasakan kemarahanya. “Aku
sudah ilang aku akan menemukanya”
“Aku akan melakukanya sendiri”
“Keras kepala. Apa kau tidak bisa tetap aman dan
membiarkankami mengurusnya?”
“Aku tidak bisa”
“Aku bilag serahkan dendam itu padaku! Aku akan membunuhnyauntukmu!
Kalau kaumau aku akan membawa mayatnya kehadapanmu”
Zero kehilangan kesabaran. Ia bahkn berteriak dan jauh dari
kata tenang. Aku benar-benar tidak bisa memahaminya. “Kenapa kau mau
melakukanya? Katakan, apa yang kau harapkan sebagai imbalan?”
Mata Zero menyipit, ia menatapku dalam-dalam. “Kalau aku
bilang aku menginginkanmu, apa kau akan memberikanya?”
Aku merasakan darah dalam tubuhku mendidih. Seolah siap
menyembul melalui ubun-ubun. Aku menghunuskan pedangku, mengarahkan pada Zero.
Zero hanya meangkah mundur dank e samping untukmenghindar. Ia tidakmembawa
pedangnya. Aku terus menyerangnya, tapi Zero bisa menghindari semua
seranankutanpa kesulitan. Beberapa saat kemudian, Zero meraih tanganku dan mengunci semua gerakanku.
“Kupikir kau tidak ingin membunuhku”, bisik Zero.
“Kau membuatku berubah pikiran”
“Kami akan berangkat besok. Sudah ketemu”, ujar Zero. “Maaf
tidak memberitahumu. Aku berniat
membuatmu tidak ikut”
Aku menghemas tangan Zero dan melepaskan diri. Berjalan
kembali ke rumah tanpa menoleh menatap Zero. Aku benar-benar membenci sifatnya
yang egois dan mulut kasarnya itu. Walau harus kuakui aku tidak mungkin bisa mengalahkanya.
***
Shine beralih menatap Karen. “Apa kau bisa melihatnya?
Apa yang akan terjadi nanti? Apakah semua akan berjalan lancar?”
Karen terdiam sesaat sebelum menjawab. “Yah, kurasa
begitu. Seperti yang diinginkan”
Entah hanya perasaanku atau selama sedetik Karen dan Zero
bersitatap. Apa yang sebenarnya dilihat Karen? Sesuatu pasti melibatkan Zero.
Tapi aku mengurungkan niatku untuk bertanya. Shane bersikeras untuk ikut dan
Shine berusaha membujuknya agar tidak memaksakan diri. Dilihat darimanapun
Shane terlalu lemah untuk bertarung. Aku ikut membujuknya untuk tinggal di
rumah, seseorang harus menemani Karen. Tapi Shane tetaplah Shane, pendiriannya
kokoh dan tidak mau berubah. Ia malah menyuruh Shine untuk menemani Karen.
Waktunya tiba.
Kami mengendarai sebuah van keluar kota, memasuki daerah pinggiran. Setelah
melewati beberapa kilometer daerah tanpa peradaban, kami tiba di kota tua
dengan banyak bangunan tinggi berwarna pudar. Zero memimpin jalan.
Shane saat kami menelusuri jalan" sempit berliku.
"Dia tidak akan bisa mengendalikan Key jika terlalu
jauh. Bahkan tidak semua pureblood sekuat itu untuk memainkan darahnya di dalam
tubuh orang lain"
Shane mendengus. "Apa maksudmu ada pureblood yang
bisa mengendalikan dari jarak lebih jauh?"
Zero menganguk. "Beberapa"
Kami mulai memasuki sebuah bangunan bergaya gothic,
menuju basement. Zero memberi isyarat untuk tidak bersuara. Ada dua orang
vampire berdiri di depan sebuah pintu. Zero menyerang secepat kilat,
berlari dan muncul di antara kedua
vampire itu. Menghimpit kepala keduanya dengan dua lengan. Terdengar bunyi krek
pelan sebelum dua vampire itu bersuara. Aku terengah, menahan napas. Tidak
menyangka Zero baru membunuh dua orang vampire dalam hitungan detik. Kini dia
meraih gagang pintu, bersiap membukanya sambil meraih sebilah pedang di
punggungnya. Aku menggenggam Phoenix erat". Shane mengagguk ke arahku,
inilah saatnya. Zero membanting pintu terbuka. Ada 6 vampire di dalam ruangan itu, yang menoleh ke
pintu dengan terkejut. Shane langsung membidikan pistolnya. Aku pun mulai
membidik. Menargetkan vampire yang kini berdiri di tengah ruangan sambil
menyeringai.
"Oh, kau rupanya. Lama tidak bertemu. Lihatlah
dirimu, seorang vampire baru yang sangat cantik"
Cih! Phoenix menyala, apinya menjalar ke anak panahku.
Aku melepaskannya, membiarkan panah itu melesat ke jantung vanBlood. Gagal!
Sebuah dinding batu yang entah darimana datangnya menghalangi anak panahku.
Dinding itu mulai meluruh setelah menangkis seranganku. Memperlihatkan vanBlood
yang masih menyeringai keji. Benar, dia seorang pureblood. Dan inilah bakatnya.
Sementara itu, bau darah tercium. Zero baru menebaskan
pedangnya, mengakhiri hidup ketiga vampire yang bertarung melawannya. Gerakan
Zero tidak main-main. Bahkan bagi vampire, dia sangat lihai. Shane menumbangkan
seorang vampire. Tinggal dua lagi! Zero muncul di sebelahku, melemparkan sebuah
pisau ke arah seorang vampire lain yang tersisa selain vanBlood. Tepat mengenai
lehernya. Darah mengucur deras dan vampire itu ambruk. VanBlood menatap Zero
dengan mata penuh amarah.
"Jangan takut", bisik Zero pelan. "Aku
akan maju dulu. Bidiklah begitu kau melihat kesempatan"
Aku menoleh menatap Zero. Mengangguk. Mencoba terlihat
tegar. Tidak, aku tidak takut. Aku pasti akan membunuhnya. Aku kembali menarik
busur Phoenix, membuat sebuah anak panah dari cahaya dan api muncul dengan
sendirinya. Zero sudah melesat dan mengayunkan pedangnya. Tapi ia hanya menebas
dinding batu yang dibuat vanBlood untuk menangkis setiap serangan. Gerakan Zero
jauh lebih cepat dari sebelumnya, vanBlood meraih pedangnya. Zero beberapa kali
berhasil melewati dinding batu dan menyerang vanBlood. Aku melesatkan anak
panahku saat vanBlood menangkis serangan Zero. Gagal lagi. Beberapa batu buatan
vanBlood menangkisnya. Aku melesatkan anak panahku lagi dan lagi setiap melihat
kesempatan dan vanBlood berhasil menghindarinya setiap kali.
Sial!
Ini tidak akan berhasil!Aku meraih pedang di punggungku. Menggenggamnya erat-erat dan mulai berlari
maju, ikut menyerang vanBlood. Beberapa kali aku hanya menebas dinding batu.
Hingga beberapa saat kemudian serangan Zero mengenai punggungnya. Aku
mendorongnya ke dinding terdekat. Pedangku terhunus mengarah ke jantungnya. Aku
tidak punya banyak waktu, aku harus segera menancapkan pedangku dan
membunuhnya. Tapi entah mengapa tanganku mengejang, tidak mampu kugerakkan.
VanBlood tampaknya menyadarinya, ia baru mulai akan menampilkan seringai
kejinya saat darah berhamburan memercik ke baju dan wajahnya. Sebuah pedang
tertancap menembus jantungnya! Tapi itu bukan pedangku. Aku menoleh ke
belakang, menemukan Zero yang sudah berdiri tepat di belakangku. Tangannya
masih memegang gagang pedang yang berlumuran darah dan menancap di dada
vanBlood.
"Jangan melihat" bisiknya pelan nyaris seperti
desau angin.
Tapi butuh beberapa detik bagiku untuk mencerna
maksudnya. Yang sayangnya terlambat. Aku sudah kembali menatap vaBlood saat
menyadarinya. Telapak tangan kiri Zero menutupi mataku, mencoba mencegahku
melihat. Terlambat. Aku tahu apa yang dia tidak mau aku melihatnya. Detik
ketika kematian membayang di mata vanBlood, membawa pergi apa yang disebut
nyawa dalam tubuhnya. Napasku tertahan, tanganku yang menggenggam pedang
gemetar hingga aku menjatuhkan pedang itu. Kakiku mendadak kehilangan kekuatan
untuk menumpu tubuhku.
***