The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 18 Messed Up



Aku merebahkan tubuh di ranjang. Terlalu bugar untuk merasa


mengantuk. Aku maish tidak percaya aku benar-benar meminumdarh Shane kemarin. Bukan


hanya itu, aku nyaris membunuhnya. Tubuh ini sudah lama bukan lagi milikku. Aku


dapat merasakan darah vampire dalam tubuhku menggelegak puas setelah dahaganya


terpenuhi. Benar-benar menjijikkan.


Belakangan ini aku hanya bisa mengacau. Melukai diriku


sendiri, membuat keributan di prom dan nyaris menjadi makanan vampire di satu


sekolah. Apa tidak ada yang bisa kulakukan dengan benar? Beberapa hari lalu,


Zero bilang dia berhasil menemukan jejak Vanblood dan kita bisa segera


melakukan penyerangan. Tapi sepertinya masih belum ada kemajuan hingga


sekarang.


Andai saja aku bisa menemukanya sendiri…. Tunggu! Aku


mungkin saja bisa melakukanya sendiri! Beberapa waktu lalu Vanblood berkata


dalam pikiranku kalau ia akan menunjukkan tempatnya jika aku datang sendirian.


Aku tidak yakin kalau perkataanya bisa dipercaya, tapi kalau itu artinya tidak


perlu membuat orang lain terluka lagi maka aku akan pergi.


Aku meraih busur dan pedangku . Tidak lupa membawa sekantung


belati kecil. Menurut yang  dikatakan


Zero dan Arion, pureblood itu jauh lebih kuat dari vampire non pureblood. Dan mereka


bisa mengendalikan tubuh exhuman yang memiliki darahnya. Tapi kurasa itu bukan


berarti tidak mungkin bagiku untuk menang. Aku akan mengusahakan sesuatu nanti.


Aku melompat turun dari balkon. Berjalan sebiasa mungkin


agar tidakada yang curiga. Aku sering berkeliaran ke hutan sendirian, jadi


kurasa tidak apa-apa. Setelah cukp jauh, aku berpikir untuk mulai berlari, tapi


saat itulah sekonyong-konyong seseorang berdiri menghalangi jalanku. Zero! Lagi-lagi


dia! Sial, aku sama sekali tidak mendengarnya menyusulku.


“Apa yng kau pikirkan?”


“Minggir, Zero! Jangan menghalangiku!!”


Zerotak bergeming. Wajahnya masih datar dan tanpa


ekspresiseperti biasanya. Tapi entah kenapa aku bisa merasakan kemarahanya. “Aku


sudah ilang aku akan menemukanya”


“Aku akan melakukanya sendiri”


“Keras kepala. Apa kau tidak bisa tetap aman dan


membiarkankami mengurusnya?”


“Aku tidak bisa”


“Aku bilag serahkan dendam itu padaku! Aku akan membunuhnyauntukmu!


Kalau kaumau aku akan membawa mayatnya kehadapanmu”


Zero kehilangan kesabaran. Ia bahkn berteriak dan jauh dari


kata tenang. Aku benar-benar tidak bisa memahaminya. “Kenapa kau mau


melakukanya? Katakan, apa yang kau harapkan sebagai imbalan?”


Mata Zero menyipit, ia menatapku dalam-dalam. “Kalau aku


bilang aku menginginkanmu, apa kau akan memberikanya?”


Aku merasakan darah dalam tubuhku mendidih. Seolah siap


menyembul melalui ubun-ubun. Aku menghunuskan pedangku, mengarahkan pada Zero.


Zero hanya meangkah mundur dank e samping untukmenghindar. Ia tidakmembawa


pedangnya. Aku terus menyerangnya, tapi Zero bisa menghindari semua


seranankutanpa kesulitan. Beberapa saat kemudian, Zero meraih tanganku dan mengunci  semua gerakanku.


“Kupikir kau tidak ingin membunuhku”, bisik Zero.


“Kau membuatku berubah pikiran”


“Kami akan berangkat besok. Sudah ketemu”, ujar Zero. “Maaf


tidak   memberitahumu. Aku berniat


membuatmu tidak ikut”


Aku menghemas tangan Zero dan melepaskan diri. Berjalan


kembali ke rumah tanpa menoleh menatap Zero. Aku benar-benar membenci sifatnya


yang egois dan mulut kasarnya itu. Walau harus kuakui aku tidak mungkin bisa mengalahkanya.


***


Shine beralih menatap Karen. “Apa kau bisa melihatnya?


Apa yang akan terjadi nanti? Apakah semua akan berjalan lancar?”


Karen terdiam sesaat sebelum menjawab. “Yah, kurasa


begitu. Seperti yang diinginkan”


Entah hanya perasaanku atau selama sedetik Karen dan Zero


bersitatap. Apa yang sebenarnya dilihat Karen? Sesuatu pasti melibatkan Zero.


Tapi aku mengurungkan niatku untuk bertanya. Shane bersikeras untuk ikut dan


Shine berusaha membujuknya agar tidak memaksakan diri. Dilihat darimanapun


Shane terlalu lemah untuk bertarung. Aku ikut membujuknya untuk tinggal di


rumah, seseorang harus menemani Karen. Tapi Shane tetaplah Shane, pendiriannya


kokoh dan tidak mau berubah. Ia malah menyuruh Shine untuk menemani Karen.


 Waktunya tiba.


Kami mengendarai sebuah van keluar kota, memasuki daerah pinggiran. Setelah


melewati beberapa kilometer daerah tanpa peradaban, kami tiba di kota tua


dengan banyak bangunan tinggi berwarna pudar. Zero memimpin jalan.


Shane saat kami menelusuri jalan" sempit berliku.


"Dia tidak akan bisa mengendalikan Key jika terlalu


jauh. Bahkan tidak semua pureblood sekuat itu untuk memainkan darahnya di dalam


tubuh orang lain"


Shane mendengus. "Apa maksudmu ada pureblood yang


bisa mengendalikan dari jarak lebih jauh?"


Zero menganguk. "Beberapa"


Kami mulai memasuki sebuah bangunan bergaya gothic,


menuju basement. Zero memberi isyarat untuk tidak bersuara. Ada dua orang


vampire berdiri di depan sebuah pintu. Zero menyerang secepat kilat,


berlari  dan muncul di antara kedua


vampire itu. Menghimpit kepala keduanya dengan dua lengan. Terdengar bunyi krek


pelan sebelum dua vampire itu bersuara. Aku terengah, menahan napas. Tidak


menyangka Zero baru membunuh dua orang vampire dalam hitungan detik. Kini dia


meraih gagang pintu, bersiap membukanya sambil meraih sebilah pedang di


punggungnya. Aku menggenggam Phoenix erat". Shane mengagguk ke arahku,


inilah saatnya. Zero membanting pintu terbuka. Ada 6  vampire di dalam ruangan itu, yang menoleh ke


pintu dengan terkejut. Shane langsung membidikan pistolnya. Aku pun mulai


membidik. Menargetkan vampire yang kini berdiri di tengah ruangan sambil


menyeringai.


"Oh, kau rupanya. Lama tidak bertemu. Lihatlah


dirimu, seorang vampire baru yang sangat cantik"


Cih! Phoenix menyala, apinya menjalar ke anak panahku.


Aku melepaskannya, membiarkan panah itu melesat ke jantung vanBlood. Gagal!


Sebuah dinding batu yang entah darimana datangnya menghalangi anak panahku.


Dinding itu mulai meluruh setelah menangkis seranganku. Memperlihatkan vanBlood


yang masih menyeringai keji. Benar, dia seorang pureblood. Dan inilah bakatnya.


Sementara itu, bau darah tercium. Zero baru menebaskan


pedangnya, mengakhiri hidup ketiga vampire yang bertarung melawannya. Gerakan


Zero tidak main-main. Bahkan bagi vampire, dia sangat lihai. Shane menumbangkan


seorang vampire. Tinggal dua lagi! Zero muncul di sebelahku, melemparkan sebuah


pisau ke arah seorang vampire lain yang tersisa selain vanBlood. Tepat mengenai


lehernya. Darah mengucur deras dan vampire itu ambruk. VanBlood menatap Zero


dengan mata penuh amarah.


"Jangan takut", bisik Zero pelan. "Aku


akan maju dulu. Bidiklah begitu kau melihat kesempatan"


Aku menoleh menatap Zero. Mengangguk. Mencoba terlihat


tegar. Tidak, aku tidak takut. Aku pasti akan membunuhnya. Aku kembali menarik


busur Phoenix, membuat sebuah anak panah dari cahaya dan api muncul dengan


sendirinya. Zero sudah melesat dan mengayunkan pedangnya. Tapi ia hanya menebas


dinding batu yang dibuat vanBlood untuk menangkis setiap serangan. Gerakan Zero


jauh lebih cepat dari sebelumnya, vanBlood meraih pedangnya. Zero beberapa kali


berhasil melewati dinding batu dan menyerang vanBlood. Aku melesatkan anak


panahku saat vanBlood menangkis serangan Zero. Gagal lagi. Beberapa batu buatan


vanBlood menangkisnya. Aku melesatkan anak panahku lagi dan lagi setiap melihat


kesempatan dan vanBlood berhasil menghindarinya setiap kali.


Sial!


Ini tidak akan berhasil!Aku meraih pedang di punggungku. Menggenggamnya erat-erat dan mulai berlari


maju, ikut menyerang vanBlood. Beberapa kali aku hanya menebas dinding batu.


Hingga beberapa saat kemudian serangan Zero mengenai punggungnya. Aku


mendorongnya ke dinding terdekat. Pedangku terhunus mengarah ke jantungnya. Aku


tidak punya banyak waktu, aku harus segera menancapkan pedangku dan


membunuhnya. Tapi entah mengapa tanganku mengejang, tidak mampu kugerakkan.


VanBlood tampaknya menyadarinya, ia baru mulai akan menampilkan seringai


kejinya saat darah berhamburan memercik ke baju dan wajahnya. Sebuah pedang


tertancap menembus jantungnya! Tapi itu bukan pedangku. Aku menoleh ke


belakang, menemukan Zero yang sudah berdiri tepat di belakangku. Tangannya


masih memegang gagang pedang yang berlumuran darah dan menancap di dada


vanBlood.


"Jangan melihat" bisiknya pelan nyaris seperti


desau angin.


Tapi butuh beberapa detik bagiku untuk mencerna


maksudnya. Yang sayangnya terlambat. Aku sudah kembali menatap vaBlood saat


menyadarinya. Telapak tangan kiri Zero menutupi mataku, mencoba mencegahku


melihat. Terlambat. Aku tahu apa yang dia tidak mau aku melihatnya. Detik


ketika kematian membayang di mata vanBlood, membawa pergi apa yang disebut


nyawa dalam tubuhnya. Napasku tertahan, tanganku yang menggenggam pedang


gemetar hingga aku menjatuhkan pedang itu. Kakiku mendadak kehilangan kekuatan


untuk menumpu tubuhku.


***