
Hari itu Archi menerima sebuah pesan yang aneh dari
Aileen. Dia segera berlari ke ruangan Aileen, menemukannya tergeletak di
lantai. Aileen tampak begitu pucat dan lemah. Tidak pernah sebelumnya Archi
melihat ada seorang vampire dalam kondisi itu. Archi meraih Aileen ke dalaml
pelukannya, langsung menyadari bahwa sepupu kesayangannya sekaligus tunangannya
itu tengah meregang nyawa. Tubuhnya benar-benar dingin dan kehilangan semua
kekuatan. Cahaya kehidupan di balik matanya perlahan menghilang.
“Aileen...apa yang-...?” Archi tak mampu menyelesaikan
kata-katanya. Lidahnya kelu.
Aileen membentuk sebuah senyum dengan bibirnya yang pucat
pasi. “Maafkan aku. Pada akhirnya, hanya ini yang bisa kulakukan untukmu, Yang
Mulia”
Archi menggemeterakkan giginya mendengar bagaimana Aileen
memanggilnya. “Kau..”
“Ah, tidak. Aku tidak melakukan ini hanya untuk itu”
Aileen terbatuk, lidahnya mulai susah untuk digerakkan. “Kau adalah seorang
kakak yang sangat kusayangi. Maaf tapi aku tidak bisa menikahimu dan aku tahu
kau juga tidak bisa”
“Karena itu kubilang aku akan mencari cara..”
“Aku tahu. Kakak kesulitan sendiri selama ini. Demi aku
dan keegoisanku untuk tetap mencintai Laurent. Bagaimana dengan hatimu? Kau
juga harus mengikuti kata harimu”
Archi menggeleng. “Hal terbaik yang bisa kulakukan
untuknya adalah tidak terlibat dalam hidupnya..”
“Bodoh! Aku bilang hatimu. Kau pasti ingin dia berada di
sisimu” Suara Aileen semakin pelan, kekuatannya mulai menguap hilang perlahan.
“Kali ini ijinkan aku melindungimu. Untuk sekali dalam hidupku, aku ingin
menjadi berguna untukmu. Aku ingin menjadi bagian darimu dan menjadi kekuatan
baru...”
“Hentikan, Aileen...”, gumam Archi nyaris berbisik. Ia
sudah tahu arah pembicaraan ini. Dan apa yang Aileen ingin dia lakukan. “Aku
tidak mau...”
Aileen menggunakan sisa-sisa kekuatannya untuk menyeka
air mata yang nyaris meleleh keluar dari pelupuk mata Archi. “Kau tidak boleh
menangis, kak. Tidak untuk keinginan terakhirku. Karena kau adalah putra
mahkota dan penerus tahta kerajaan vampire. Ambil jantungku dan biarkan aku
menjadi bagian darimu. Dan karena alasan yang sama pula, kaulah satu-satunya
yang boleh mengambilnya”
“Aileen...!”
“Cepat. Waktuku tidak banyak lagi. Dan sampaikan maafku
pada Laurent. Jika suatu saat kau bertemu dengannya maukah kau menyampaikan
bahwa aku begitu mencintainya, bahkan dalam kematian”
Archi membelai wajah Aileen yang semakin pucat. Merapatkan gigi-giginya demi mendengar
beberapa suara langkah kaki yang tidak asing berlari mendekat. Tidak ada waktu
lagi. Archi merobek dada atas Aileen, memasukkan jemarinya yang panjang ke
dalamnya. Mengeluarkan segumpal jantung yang sudah hampir kehilangan detaknya.
Archi memejamkan mata dan membiarkan sisi liar vampire dari dirinya mengambil
alih, dan mulai melahap jantung di tangannya. Ketika dia selesai, dua orang
yang berlarian tadi sudah berdiri di ambang pintu, menatapnya penuh kengerian.
Dua orang yang dia paling tidak ingin mereka untuk melihatnya.
Mata Archi membesar menyadari kengerian yang memenuhi
mata kedua sahabatnya itu, Arion dan Aleron. Mereka membeku di tempat mereka
berdiri, tidak percaya dengan pemandangan di depannya. Archi meletakkan tubuh
Aileen di lantai, menyeka sisa darah di bibirnya. Lantas ia membuat kaca di
sebuah jendela besar di belakangnya hancur menjadi serpihan kecil dengan satu
tangan. Dan ia berlari pergi, menghilang bagai tertiup angin. Bersamaan dengan
itu dia menghilangkan jejak dengan menyambunyikan shadow-nya. Dua sahabatnya
masih terpaku di tempat, tidak bergeming. Archi berlari ke dalam hutan, keluar
dari kota Atlanta dan bersembunyi di dunia luar, di antara manusia. Ia masuk ke
dalam sebuah gang sempit di antara dua gedung tua yang tak terpakai.
Menyandarkan tubuhnya ke salah satu dinding. Meraih dadanya dengan sebelah
tangan. Sesuatu terasa janggal setelah ia menelan jantung Aileen.
Ini pasti karena ricin yang digunakan Aileen. Racun kuat
itu mampu membunuh setiap sel dalam tubuh, bahkan pada vampire. Aileen pasti
sudah mengkonsumsinya dalam waktu yang cukup lama. Kandungan ricin dalam
jantung Aileen berdampak juga pada Archibald. Dia mulai terbatuk. Tubuhnya
gemetaran dan ujung jemarinya menjadi dingin. Dia tidak ingin terlihat oleh
siapapun dalam kondisi ini. Archibald tidak pernah sekalipun memperlihatkan sisi
lemahnya kepada siapapun. Tidak, dia mungkin bahkan tidak pernah memilikinya.
Sejak awal, dia terlahir sebagai pangeran vampire yang sempurna. Kekacauan
pasti muncul di dalam kerajaan setelah apa yang dilakukannya. Memakan jantung
seorang pureblood adalah dosa besar bagi vampire. Archi mengetahuinya dan paham
betul resiko yang diambilnya. Tapi sekali lagi, Aileen benar, hanya dia yang
bisa melakukan hal ini. Jika tidak dilakukannya, seseorang pasti akan mengambil
kesempatan itu dan memakan jantung Aileen. Dan hal itu hanya akan menimbulkan
kekacauan yang lebih besar, mungkin bahkan pemberontakan dan perang akan
muncul. Jantung pureblood akan memberikan kekuatan di luar akal sehat bagi
orang yang memakannya. Korban akan berjatuhan jika perang sampai pecah. Archibald
tidak ingin melakukannya, tapi masih lebih baik jika dia menyandang dosa itu
daripada perang terjadi.
Tapi alasanya melarikan diri dari istana bukan hanya
karena dia tidak mau menghadapi para tetua dan dewan kerajaan dalam kondisinya
yang sekarang. Saat melihat bagaimana cara kedua sahabatnya menatapnya tadi,
Archibald menyadari mereka benar-benar melihat sisi monster dalam dirinya. Ia
mengenal Arion dan Aleron hampir sepanjang hidupnya. Sebagian dari dirinya
kecewa melihat cara mereka menatapnya, sekaligus merasa jijik pada dirinya
sendiri atas apa yang dilakukannya.
***
“...Seluruh sel dalam tubuh Aileen sudah mati saat aku
tiba. Aku yakin kalian menemukan ricin dalam penyelidikan, benar?”, ujar Archi
mengakhiri pengakuannya tentang apa yang terjadi hari itu, 2 tahun lalu, hari
ketika putri Aileen meninggal.
Hakim tua itu mengangguk mengerti, melirik detektor
kebohongan, tampak menunggu lampu detektor menyala. Begitu pula anggota
kerajaan lain yang duduk di kursi penonton. Tidak ada tanda kebohongan.
“Lalu mengapa kau bersembunyi selama 2 tahun ini?”
“Aku juga butuh waktu untuk memaafkan diriku sendiri.
Selain itu, aku memang menunggu gerakan seperti yang Aaron lakukan muncul.
Bukankah ini kesempatan yang sangat bagus untuk membuat mereka yang menentangku
untuk menampakkan diri mereka sendiri. Tidak mungkin aku melewatkannya” Archi
tersenyum ke arah kursi para tetua kerajaan. “Ah, aku mendapatkan daftar
lengkap mereka yang terlibat dari seorang teman. Kita bisa bicarakan di
kesempatan lain”
Beberapa anggota kerajaan tampak beringsut tak nyaman di
kursinya. Jelas merasa terancam dengan kata-kata Archi. Melihatnya mengatakan
ancaman sambil tersenyum ke arah para tetua, ia benar-benar terlihat seperti
pangeran. Tapi bukan hanya kata-katanya, sesuatu tampak benar-benar berbeda
darinya sejak shadow miliknya keluar. Entah mengapa Archibald terlihat agak
menyilaukan. Sosoknya sekarang ini, tidak mudah untuk siapapun menolak apa yang
dikatakannya.
Hakim tua kembali berdehem. “Satu pertanyaan lagi, kenapa
Anda bersikap seolah Anda bersalah selama ini? “
Archi tampak menghela napas sebelum bicara. “Aku memang
merasa kematian Aileen adalah salahku. Karena aku tidak mampu melakukan apapun
untuk menentang pertunangan kami. Dan dengan bodohnya aku membiarkan dia mengetahui
bahwa aku jatuh cinta pada seseorang yang tidak boleh kucintai. Seorang gadis
manusia”
Mataku membesar demi mendengarnya. Apa ini? Aku sama sekali tidak tahu? Apakah Zero maksudku Archibald
mencintai seseorang?! Apa yang harus kulakukan setelah semaunya sendiri
mengejarnya dan mengatakan aku akan tinggal di sisinya?
Seisi ruangan menahan napasnya. Tampak sama terkejutnya
denganku. Kemunginan besar tidak ada yang pernah mendengar hal ini. Tapi Arion
tidak terlihat terlalu terkejut.
“Ah, ini di luar topik sebenarnya. Tapi daripada muncul
kesalahpahaman, mungkin aku harus menceritakannya”, ujar Zero. “Pertama kali
bertemu, dia terluka dan nyaris tenggelam terbawa arus sungai. Aku menolongnya
dan nyaris menghabiskan separuh darahnya. Dan aku bisa berhenti karena naluri
vampire ku berpikir aku tidak boleh menghabiskan darah itu sekaligus. Aku
memberinya pertolongan pertama dan dia selamat. Gadis ini suka berkeliaran di
hutan jadi tidak sulit bagiku untuk mendekatinya setelah itu. Tapi aku justru
jatuh hati padanya. Dan aku melupakan niatku untuk merubahnya menjadi vampire.
Aku memutuskan untuk menghilang dari hidupnya dan aku mencuri ingatanya
tentangku. Dengan begitu aku menghilang dari hidupnya, meskipun dia tidak
pernah menghilang dari pikiranku”
Hatiku mencelos. Archibald
pasti sangat mencintai gadis itu.
menemukannya hampir mati karena seorang vampire mengubahnya”
Apa?!
“Dan dia ada di sini sekarang”
Tunggu dulu! Apa maksudnya?!
Archibald tersenyum ke arahku. Diikuti mata seisi
ruangan. Aku merasakan kedua pipiku menjadi merah. Dan detektor kebohongan itu
masih saja diam. Apakah Archibald
benar-benar mengatakan yang sejujurnya? Astaga! Apakah dia baru mengakui bahwa
dia sudah jatuh hati padaku sejak lama? Dia mencuri ingatanku... Sebenarnya,
sejauh apa yang sudah dilaluinya hanya karena aku?
***
Gawat. Dadaku terus berdebar keras. Aku tidak yakin harus
melakukan apa. Semua ini membuatku gugup. Zero maksudku Archi sudah kembali ke
tempat seharusnya dia berada. Seorang pangeran dan putra mahkota kerajaan
vampire. Dan aku mendapat apa yang kuinginkan, untuk tinggal di sisinya. Sudah
10 hari sejak sidang kejujuran kerajaan menyatakan Archibald tidak bersalah.
Dan tentu saja, dia mempertahankan kredibilitasnya sebagai penerus tahta
kerajaan. Dan sudah selama itu pula aku tinggal di kamar tamu kerajaan. Hari
ini diadakan pesta dansa untuk anggota kerajaan. Aku mendapat sepucuk undangan
kemarin, walaupun aku bukan anggota kerajaan. Dan yang mengejutkan, alih-alih
Archi, raja Arthur lah yang mengundangku. Sudah kuduga, seharusnya aku tidak
menolak tawaran Arion untuk berangkat bersamanya. Tapi hatiku tidak cukup tega
untuk membiarkan diriku terus menerima perhatian berlebihan dari Arion. Tidak
setelah dia mengakui perasaanya.
Aku menarik napas dalam-dalam, melangkah masuk ke aula
besar istana. Beberapa pasang mata langsung tertuju padaku begitu aku melewati
ambang pintu. Aku mencoba sebaik mungkin untuk mengabaikan tatapan mereka. Yah,
aku juga tahu aku bukan bagian dari mereka. Beberapa gadis mulai menarik napas
tertahan, aku mengikuti arah yang dilihat mereka. Seseorang berjalan ke arahku.
Tubuhnya terlihat menjulang tinggi melalui kumpulan vampire yang tengah
berdansa. Pelan tapi pasti, ia berjalan ke arahku. Rambut pirang keemasannya
disisir rapi, memperlihatkan mata biru cemerlangnya yang biasanya selalu
tertutup poni. Senyumnya mengembang begitu sampai di depanku. Dan jantungku
kembali melewatkan irama detaknya.
“Aku pikir kau tidak akan datang. Dan aku tidak bisa
berdansa lagi di pesta ini”, ujar Archi.
“Kenapa tidak? Kau tidak akan bilang kau hanya akan
berdansa denganku, kan?”
“Memang iya. Aku menunggu selama nyaris satu abad untuk
bisa berdansa di pesta ini. Ah, ini bukan pesta penyambutan saja, tapi hari ini
ulang tahunku”
“Kau tidak pernah berdansa di pesta ulang tahunmu? Serius?”
Archi mengangguk, tertawa pelan. “Aku biasanya berdansa
dengan Aileen di pesta apapun, selain ulang tahunku” Archi kembali
mengembangkan seulas senyum, mengulurkan sebelah tangannya padaku. “Mau
berdansa denganku?”
Jantungku kembali melewatkan detaknya. Aku meraih tangan
itu dengan sebuah senyum. Membiarkanya menuntunku ke lantai dansa. Archi
berhenti beberapa langkah dari lantai dansa, menatapku.
“Ada apa?”
“Apakah Valentine yang membuatkan bajumu ini?”, tanyanya.
Aku mengangguk, tidak mengerti ke mana arah pembicaraanya ini.
“Aku tidak suka”, ujarnya dengan nada kesal.
“Eh? Kenapa? Aku pikir ini terlihat bagus..”
Archi meraih jubah hitam yang dipakainya dan
melepaskannya. Lalu ia memakaikannya di bahuku. "Terlalu terbuka. Tidak
bagus sama sekali”
Aku mendengus. “Yah, semua orang juga mengenakan yang semacam
ini...”
“Kau tidak boleh. Nah, sekarang sudah bagus”, katanya
sambil mengancingkan pengait jubah. “Aku tidak suka orang lain melihat lehermu”
Zero pernah mengatakan hal serupa, waktu dia membuat
kekacauan di Humphire. Aku tersenyum, bertanya-tanya sisi apa lagi dari diri
Archi yang belum kuketahui sepenuhnya. Kami kembali meneruskan perjalanan ke
lantai dansa. Archi meraih pinggangku dan kami bergerak berayun seirama.
Setelah satu lagu selesai, Archi mengajakku ke luar balkon yang sepi, malah tak
ada orang sama sekali.
Aku menghela napas lega. Akhirnya bisa menyingkir dari
pesta itu.
“Ada apa?”
“Hanya...um, senang bisa sendiri”
“Aku ada di sini”
“Aku sudah berhenti menganggapmu orang lain. Hanya ada
kita. Melegakan”
Archi menaikkan sebelah alisnya. “Kau tidak begitu
menikmati pesta, benar kan?”
“Yah...aku mungkin akan lebih suka jika saja semua mata
tidak tertuju padaku sepanjang waktu. Kau tahu, aku benar-benar tegang dari
tadi, takut melakukan kesalahan”
“Kau bintang pesta ini Key karena kau bersamaku”
Aku menghela napas. " Aku tidak pernah menyukai
perhatian berlebih dari orang lain. Sudah cukup dengan berada di sisimu, Zero,
eh maksudku Archi"
Archi tertawa. "Kau boleh memanggilku Zero"
Aku menggeleng. "Tidak. Aku lebih menyukai Archi"
"Aku orang yang sama, Key"
Aku menggeleng lagi. "Kau terlihat lebih bahagia
sebagai Archi, karena itu dirimu yang sebenarnya. Zero bersembunyi dengan semua
penyesalannya. Dia bahkan hampir tidak pernah tersenyum" Dan senyum itu
segalanya bagiku sekarang. Meskipun jantungku sepertinya bisa berakhir rusak
jika terus menerus melewatkan irama detaknya.
"Jadi kau tidak suka Zero? Padahal itu sikapku sehari-hari"
Aku tertawa, mengingat sikap Archi di kerajaan. Benar,
dia masih orang yang sama. Archi bersikap seperti Zero yang semaunya sendiri,
hanya saja dengan shadow yang tidak lagi disembunyikan itu, dia tampak tidak
bisa ditolak dan penuh wibawa. "Kenapa kau bersikap begitu pada semua
orang? Archi tampak berbeda bagiku, beda dari Zero"
"Yaah...aku bisa semaunya sendiri. Toh mereka juga
tidak bisa menolak "
"Aku serius"
"Baiklah. Kenapa ya...aku juga tidak yakin"
"Mungkinkah karena mereka juga begitu padamu,
semaunya sendiri. Gelar pangeran dan sebagainya, kadang terasa seolah kau tidak
dipandang sebagai hanya seorang manusia biasa. Maksudku vampire biasa"
"Kau benar. Tapi kau tidak menganggapku begitu.
Bagimu aku hanya seorang pria, benar kan?"
Aku mengangguk, tersenyum menatapnya. Benar bagiku dia
hanya seorang pria. Tentu bukan pria biasa. Dia pria yang kucintai.
"Tapi aku tidak pernah menjadi hanya seorang pria,
Key. Aku penerus tahta kerajaan vampire, the Great Prince. Karena itu keadaan
juga tidak mudah bagimu setelah ini. Apakah kau yakin akan tetap
bersamaku?"
"Tentu saja. Jadi bisa kau mengatakannya?"
"Apa?"
"Kau belum pernah menyatakan perasaanmu padaku"
"Sudah kulakukan berkali-kali"
"Itu kan Zero..."
Archi kembali tertawa renyah. Ah, tawanya benar-benar
hidup. "Aku tidak tahu kau punya sisi seperti ini"
Aku juga.
Archi meraih kedua tanganku, mata birunya yang cemerlang
menatap ke dalam kedua mataku. "Aku mencintaimu"
Dan dia mengakhiri kalimatnya dengan sebuah senyum indah
tiada tara. Hanya Archi yang bisa tersenyum seindah itu, seolah seluruh
keindahn dunia bersatu dalam wajahnya. Matanya yang hampir menghimpit alis
terlihat berkilauan di bawah sinar rembulan. Dan kalimatnya menyempurnakanku.
Memberiku sumber kehidupan baru. Dan aku sudah tidak merasakan sakit lagi
karena aku adalah vampire atau apapun. Bahkan aku lega telah menjadi vampire.
Hanya dengan begitu aku bisa bersamanya. Bahkan aku bisa berkata dengan pasti
bahwa jika aku bertemu dengannya sebagai manusia, aku akan tetap jatuh cinta
padanya dan aku akan meninggalkan hidup manusiaku untuk bisa berdampingan
dengannya, sebagai vampire. Kurasa aku memang terlahir untuk menjadi vampire.
--the End--
See u in book 2