The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 22 Confession



Hari itu Archi menerima sebuah pesan yang aneh dari


Aileen. Dia segera berlari ke ruangan Aileen, menemukannya tergeletak di


lantai. Aileen tampak begitu pucat dan lemah. Tidak pernah sebelumnya Archi


melihat ada seorang vampire dalam kondisi itu. Archi meraih Aileen ke dalaml


pelukannya, langsung menyadari bahwa sepupu kesayangannya sekaligus tunangannya


itu tengah meregang nyawa. Tubuhnya benar-benar dingin dan kehilangan semua


kekuatan. Cahaya kehidupan di balik matanya perlahan menghilang.


“Aileen...apa yang-...?” Archi tak mampu menyelesaikan


kata-katanya. Lidahnya kelu.


Aileen membentuk sebuah senyum dengan bibirnya yang pucat


pasi. “Maafkan aku. Pada akhirnya, hanya ini yang bisa kulakukan untukmu, Yang


Mulia”


Archi menggemeterakkan giginya mendengar bagaimana Aileen


memanggilnya. “Kau..”


“Ah, tidak. Aku tidak melakukan ini hanya untuk itu”


Aileen terbatuk, lidahnya mulai susah untuk digerakkan. “Kau adalah seorang


kakak yang sangat kusayangi. Maaf tapi aku tidak bisa menikahimu dan aku tahu


kau juga tidak bisa”


“Karena itu kubilang aku akan mencari cara..”


“Aku tahu. Kakak kesulitan sendiri selama ini. Demi aku


dan keegoisanku untuk tetap mencintai Laurent. Bagaimana dengan hatimu? Kau


juga harus mengikuti kata harimu”


Archi menggeleng. “Hal terbaik yang bisa kulakukan


untuknya adalah tidak terlibat dalam hidupnya..”


“Bodoh! Aku bilang hatimu. Kau pasti ingin dia berada di


sisimu” Suara Aileen semakin pelan, kekuatannya mulai menguap hilang perlahan.


“Kali ini ijinkan aku melindungimu. Untuk sekali dalam hidupku, aku ingin


menjadi berguna untukmu. Aku ingin menjadi bagian darimu dan menjadi kekuatan


baru...”


“Hentikan, Aileen...”, gumam Archi nyaris berbisik. Ia


sudah tahu arah pembicaraan ini. Dan apa yang Aileen ingin dia lakukan. “Aku


tidak mau...”


Aileen menggunakan sisa-sisa kekuatannya untuk menyeka


air mata yang nyaris meleleh keluar dari pelupuk mata Archi. “Kau tidak boleh


menangis, kak. Tidak untuk keinginan terakhirku. Karena kau adalah putra


mahkota dan penerus tahta kerajaan vampire. Ambil jantungku dan biarkan aku


menjadi bagian darimu. Dan karena alasan yang sama pula, kaulah satu-satunya


yang boleh mengambilnya”


“Aileen...!”


“Cepat. Waktuku tidak banyak lagi. Dan sampaikan maafku


pada Laurent. Jika suatu saat kau bertemu dengannya maukah kau menyampaikan


bahwa aku begitu mencintainya, bahkan dalam kematian”


 Archi membelai wajah Aileen yang semakin pucat. Merapatkan gigi-giginya demi mendengar


beberapa suara langkah kaki yang tidak asing berlari mendekat. Tidak ada waktu


lagi. Archi merobek dada atas Aileen, memasukkan jemarinya yang panjang ke


dalamnya. Mengeluarkan segumpal jantung yang sudah hampir kehilangan detaknya.


Archi memejamkan mata dan membiarkan sisi liar vampire dari dirinya mengambil


alih, dan mulai melahap jantung di tangannya. Ketika dia selesai, dua orang


yang berlarian tadi sudah berdiri di ambang pintu, menatapnya penuh kengerian.


Dua orang yang dia paling tidak ingin mereka untuk melihatnya.


Mata Archi membesar menyadari kengerian yang memenuhi


mata kedua sahabatnya itu, Arion dan Aleron. Mereka membeku di tempat mereka


berdiri, tidak percaya dengan pemandangan di depannya. Archi meletakkan tubuh


Aileen di lantai, menyeka sisa darah di bibirnya. Lantas ia membuat kaca di


sebuah jendela besar di belakangnya hancur menjadi serpihan kecil dengan satu


tangan. Dan ia berlari pergi, menghilang bagai tertiup angin. Bersamaan dengan


itu dia menghilangkan jejak dengan menyambunyikan shadow-nya. Dua sahabatnya


masih terpaku di tempat, tidak bergeming. Archi berlari ke dalam hutan, keluar


dari kota Atlanta dan bersembunyi di dunia luar, di antara manusia. Ia masuk ke


dalam sebuah gang sempit di antara dua gedung tua yang tak terpakai.


Menyandarkan tubuhnya ke salah satu dinding. Meraih dadanya dengan sebelah


tangan. Sesuatu terasa janggal setelah ia menelan jantung Aileen.


Ini pasti karena ricin yang digunakan Aileen. Racun kuat


itu mampu membunuh setiap sel dalam tubuh, bahkan pada vampire. Aileen pasti


sudah mengkonsumsinya dalam waktu yang cukup lama. Kandungan ricin dalam


jantung Aileen berdampak juga pada Archibald. Dia mulai terbatuk. Tubuhnya


gemetaran dan ujung jemarinya menjadi dingin. Dia tidak ingin terlihat oleh


siapapun dalam kondisi ini. Archibald tidak pernah sekalipun memperlihatkan sisi


lemahnya kepada siapapun. Tidak, dia mungkin bahkan tidak pernah memilikinya.


Sejak awal, dia terlahir sebagai pangeran vampire yang sempurna. Kekacauan


pasti muncul di dalam kerajaan setelah apa yang dilakukannya. Memakan jantung


seorang pureblood adalah dosa besar bagi vampire. Archi mengetahuinya dan paham


betul resiko yang diambilnya. Tapi sekali lagi, Aileen benar, hanya dia yang


bisa melakukan hal ini. Jika tidak dilakukannya, seseorang pasti akan mengambil


kesempatan itu dan memakan jantung Aileen. Dan hal itu hanya akan menimbulkan


kekacauan yang lebih besar, mungkin bahkan pemberontakan dan perang akan


muncul. Jantung pureblood akan memberikan kekuatan di luar akal sehat bagi


orang yang memakannya. Korban akan berjatuhan jika perang sampai pecah. Archibald


tidak ingin melakukannya, tapi masih lebih baik jika dia menyandang dosa itu


daripada perang terjadi.


Tapi alasanya melarikan diri dari istana bukan hanya


karena dia tidak mau menghadapi para tetua dan dewan kerajaan dalam kondisinya


yang sekarang. Saat melihat bagaimana cara kedua sahabatnya menatapnya tadi,


Archibald menyadari mereka benar-benar melihat sisi monster dalam dirinya. Ia


mengenal Arion dan Aleron hampir sepanjang hidupnya. Sebagian dari dirinya


kecewa melihat cara mereka menatapnya, sekaligus merasa jijik pada dirinya


sendiri atas apa yang dilakukannya.


***


“...Seluruh sel dalam tubuh Aileen sudah mati saat aku


tiba. Aku yakin kalian menemukan ricin dalam penyelidikan, benar?”, ujar Archi


mengakhiri pengakuannya tentang apa yang terjadi hari itu, 2 tahun lalu, hari


ketika putri Aileen meninggal.


Hakim tua itu mengangguk mengerti, melirik detektor


kebohongan, tampak menunggu lampu detektor menyala. Begitu pula anggota


kerajaan lain yang duduk di kursi penonton. Tidak ada tanda kebohongan.


“Lalu mengapa kau bersembunyi selama 2 tahun ini?”


“Aku juga butuh waktu untuk memaafkan diriku sendiri.


Selain itu, aku memang menunggu gerakan seperti yang Aaron lakukan muncul.


Bukankah ini kesempatan yang sangat bagus untuk membuat mereka yang menentangku


untuk menampakkan diri mereka sendiri. Tidak mungkin aku melewatkannya” Archi


tersenyum ke arah kursi para tetua kerajaan. “Ah, aku mendapatkan daftar


lengkap mereka yang terlibat dari seorang teman. Kita bisa bicarakan di


kesempatan lain”


Beberapa anggota kerajaan tampak beringsut tak nyaman di


kursinya. Jelas merasa terancam dengan kata-kata Archi. Melihatnya mengatakan


ancaman sambil tersenyum ke arah para tetua, ia benar-benar terlihat seperti


pangeran. Tapi bukan hanya kata-katanya, sesuatu tampak benar-benar berbeda


darinya sejak shadow miliknya keluar. Entah mengapa Archibald terlihat agak


menyilaukan. Sosoknya sekarang ini, tidak mudah untuk siapapun menolak apa yang


dikatakannya.


Hakim tua kembali berdehem. “Satu pertanyaan lagi, kenapa


Anda bersikap seolah Anda bersalah selama ini? “


Archi tampak menghela napas sebelum bicara. “Aku memang


merasa kematian Aileen adalah salahku. Karena aku tidak mampu melakukan apapun


untuk menentang pertunangan kami. Dan dengan bodohnya aku membiarkan dia mengetahui


bahwa aku jatuh cinta pada seseorang yang tidak boleh kucintai. Seorang gadis


manusia”


Mataku membesar demi mendengarnya. Apa ini? Aku sama sekali tidak tahu? Apakah Zero maksudku Archibald


mencintai seseorang?! Apa yang harus kulakukan setelah semaunya sendiri


mengejarnya dan mengatakan aku akan tinggal di sisinya?


Seisi ruangan menahan napasnya. Tampak sama terkejutnya


denganku. Kemunginan besar tidak ada yang pernah mendengar hal ini. Tapi Arion


tidak terlihat terlalu terkejut.


“Ah, ini di luar topik sebenarnya. Tapi daripada muncul


kesalahpahaman, mungkin aku harus menceritakannya”, ujar Zero. “Pertama kali


bertemu, dia terluka dan nyaris tenggelam terbawa arus sungai. Aku menolongnya


dan nyaris menghabiskan separuh darahnya. Dan aku bisa berhenti karena naluri


vampire ku berpikir aku tidak boleh menghabiskan darah itu sekaligus. Aku


memberinya pertolongan pertama dan dia selamat. Gadis ini suka berkeliaran di


hutan jadi tidak sulit bagiku untuk mendekatinya setelah itu. Tapi aku justru


jatuh hati padanya. Dan aku melupakan niatku untuk merubahnya menjadi vampire.


Aku memutuskan untuk menghilang dari hidupnya dan aku mencuri ingatanya


tentangku. Dengan begitu aku menghilang dari hidupnya, meskipun dia tidak


pernah menghilang dari pikiranku”


Hatiku mencelos. Archibald


pasti sangat mencintai gadis itu.


menemukannya hampir mati karena seorang vampire mengubahnya”


Apa?!


“Dan dia ada di sini sekarang”


Tunggu dulu! Apa maksudnya?!


Archibald tersenyum ke arahku. Diikuti mata seisi


ruangan. Aku merasakan kedua pipiku menjadi merah. Dan detektor kebohongan itu


masih saja diam. Apakah Archibald


benar-benar mengatakan yang sejujurnya? Astaga! Apakah dia baru mengakui bahwa


dia sudah jatuh hati padaku sejak lama? Dia mencuri ingatanku... Sebenarnya,


sejauh apa yang sudah dilaluinya hanya karena aku?


***


Gawat. Dadaku terus berdebar keras. Aku tidak yakin harus


melakukan apa. Semua ini membuatku gugup. Zero maksudku Archi sudah kembali ke


tempat seharusnya dia berada. Seorang pangeran dan putra mahkota kerajaan


vampire. Dan aku mendapat apa yang kuinginkan, untuk tinggal di sisinya. Sudah


10 hari sejak sidang kejujuran kerajaan menyatakan Archibald tidak bersalah.


Dan tentu saja, dia mempertahankan kredibilitasnya sebagai penerus tahta


kerajaan. Dan sudah selama itu pula aku tinggal di kamar tamu kerajaan. Hari


ini diadakan pesta dansa untuk anggota kerajaan. Aku mendapat sepucuk undangan


kemarin, walaupun aku bukan anggota kerajaan. Dan yang mengejutkan, alih-alih


Archi, raja Arthur lah yang mengundangku. Sudah kuduga, seharusnya aku tidak


menolak tawaran Arion untuk berangkat bersamanya. Tapi hatiku tidak cukup tega


untuk membiarkan diriku terus menerima perhatian berlebihan dari Arion. Tidak


setelah dia mengakui perasaanya.


Aku menarik napas dalam-dalam, melangkah masuk ke aula


besar istana. Beberapa pasang mata langsung tertuju padaku begitu aku melewati


ambang pintu. Aku mencoba sebaik mungkin untuk mengabaikan tatapan mereka. Yah,


aku juga tahu aku bukan bagian dari mereka. Beberapa gadis mulai menarik napas


tertahan, aku mengikuti arah yang dilihat mereka. Seseorang berjalan ke arahku.


Tubuhnya terlihat menjulang tinggi melalui kumpulan vampire yang tengah


berdansa. Pelan tapi pasti, ia berjalan ke arahku. Rambut pirang keemasannya


disisir rapi, memperlihatkan mata biru cemerlangnya yang biasanya selalu


tertutup poni. Senyumnya mengembang begitu sampai di depanku. Dan jantungku


kembali melewatkan irama detaknya.


“Aku pikir kau tidak akan datang. Dan aku tidak bisa


berdansa lagi di pesta ini”, ujar Archi.


“Kenapa tidak? Kau tidak akan bilang kau hanya akan


berdansa denganku, kan?”


“Memang iya. Aku menunggu selama nyaris satu abad untuk


bisa berdansa di pesta ini. Ah, ini bukan pesta penyambutan saja, tapi hari ini


ulang tahunku”


“Kau tidak pernah berdansa di pesta ulang tahunmu? Serius?”


Archi mengangguk, tertawa pelan. “Aku biasanya berdansa


dengan Aileen di pesta apapun, selain ulang tahunku” Archi kembali


mengembangkan seulas senyum, mengulurkan sebelah tangannya padaku. “Mau


berdansa denganku?”


Jantungku kembali melewatkan detaknya. Aku meraih tangan


itu dengan sebuah senyum. Membiarkanya menuntunku ke lantai dansa. Archi


berhenti beberapa langkah dari lantai dansa, menatapku.


“Ada apa?”


“Apakah Valentine yang membuatkan bajumu ini?”, tanyanya.


Aku mengangguk, tidak mengerti ke mana arah pembicaraanya ini.


“Aku tidak suka”, ujarnya dengan nada kesal.


“Eh? Kenapa? Aku pikir ini terlihat bagus..”


Archi meraih jubah hitam yang dipakainya dan


melepaskannya. Lalu ia memakaikannya di bahuku. "Terlalu terbuka. Tidak


bagus sama sekali”


Aku mendengus. “Yah, semua orang juga mengenakan yang semacam


ini...”


“Kau tidak boleh. Nah, sekarang sudah bagus”, katanya


sambil mengancingkan pengait jubah. “Aku tidak suka orang lain melihat lehermu”


Zero pernah mengatakan hal serupa, waktu dia membuat


kekacauan di Humphire. Aku tersenyum, bertanya-tanya sisi apa lagi dari diri


Archi yang belum kuketahui sepenuhnya. Kami kembali meneruskan perjalanan ke


lantai dansa. Archi meraih pinggangku dan kami bergerak berayun seirama.


Setelah satu lagu selesai, Archi mengajakku ke luar balkon yang sepi, malah tak


ada orang sama sekali.


Aku menghela napas lega. Akhirnya bisa menyingkir dari


pesta itu.


“Ada apa?”


“Hanya...um, senang bisa sendiri”


“Aku ada di sini”


“Aku sudah berhenti menganggapmu orang lain. Hanya ada


kita. Melegakan”


Archi menaikkan sebelah alisnya. “Kau tidak begitu


menikmati pesta, benar kan?”


“Yah...aku mungkin akan lebih suka jika saja semua mata


tidak tertuju padaku sepanjang waktu. Kau tahu, aku benar-benar tegang dari


tadi, takut melakukan kesalahan”


“Kau bintang pesta ini Key karena kau bersamaku”


Aku menghela napas. " Aku tidak pernah menyukai


perhatian berlebih dari orang lain. Sudah cukup dengan berada di sisimu, Zero,


eh maksudku Archi"


Archi tertawa. "Kau boleh memanggilku Zero"


Aku menggeleng. "Tidak. Aku lebih menyukai Archi"


"Aku orang yang sama, Key"


Aku menggeleng lagi. "Kau terlihat lebih bahagia


sebagai Archi, karena itu dirimu yang sebenarnya. Zero bersembunyi dengan semua


penyesalannya. Dia bahkan hampir tidak pernah tersenyum" Dan senyum itu


segalanya bagiku sekarang. Meskipun jantungku sepertinya bisa berakhir rusak


jika terus menerus melewatkan irama detaknya.


"Jadi kau tidak suka Zero? Padahal itu sikapku sehari-hari"


Aku tertawa, mengingat sikap Archi di kerajaan. Benar,


dia masih orang yang sama. Archi bersikap seperti Zero yang semaunya sendiri,


hanya saja dengan shadow yang tidak lagi disembunyikan itu, dia tampak tidak


bisa ditolak dan penuh wibawa. "Kenapa kau bersikap begitu pada semua


orang? Archi tampak berbeda bagiku, beda dari Zero"


"Yaah...aku bisa semaunya sendiri. Toh mereka juga


tidak bisa menolak "


"Aku serius"


"Baiklah. Kenapa ya...aku juga tidak yakin"


"Mungkinkah karena mereka juga begitu padamu,


semaunya sendiri. Gelar pangeran dan sebagainya, kadang terasa seolah kau tidak


dipandang sebagai hanya seorang manusia biasa. Maksudku vampire biasa"


"Kau benar. Tapi kau tidak menganggapku begitu.


Bagimu aku hanya seorang pria, benar kan?"


Aku mengangguk, tersenyum menatapnya. Benar bagiku dia


hanya seorang pria. Tentu bukan pria biasa. Dia pria yang kucintai.


"Tapi aku tidak pernah menjadi hanya seorang pria,


Key. Aku penerus tahta kerajaan vampire, the Great Prince. Karena itu keadaan


juga tidak mudah bagimu setelah ini. Apakah kau yakin akan tetap


bersamaku?"


"Tentu saja. Jadi bisa kau mengatakannya?"


"Apa?"


"Kau belum pernah menyatakan perasaanmu padaku"


"Sudah kulakukan berkali-kali"


"Itu kan Zero..."


Archi kembali tertawa renyah. Ah, tawanya benar-benar


hidup. "Aku tidak tahu kau punya sisi seperti ini"


Aku juga.


Archi meraih kedua tanganku, mata birunya yang cemerlang


menatap ke dalam kedua mataku. "Aku mencintaimu"


Dan dia mengakhiri kalimatnya dengan sebuah senyum indah


tiada tara. Hanya Archi yang bisa tersenyum seindah itu, seolah seluruh


keindahn dunia bersatu dalam wajahnya. Matanya yang hampir menghimpit alis


terlihat berkilauan di bawah sinar rembulan. Dan kalimatnya menyempurnakanku.


Memberiku sumber kehidupan baru. Dan aku sudah tidak merasakan sakit lagi


karena aku adalah vampire atau apapun. Bahkan aku lega telah menjadi vampire.


Hanya dengan begitu aku bisa bersamanya. Bahkan aku bisa berkata dengan pasti


bahwa jika aku bertemu dengannya sebagai manusia, aku akan tetap jatuh cinta


padanya dan aku akan meninggalkan hidup manusiaku untuk bisa berdampingan


dengannya, sebagai vampire. Kurasa aku memang terlahir untuk menjadi vampire.


--the End--


See u in book 2