
Datang ke prom. Well, benar-benar bukan hal yang pernah
terpikir akan aku lakukan. Tapi di sinilah aku. Berdiri canggung di antara
murid-murid Humphire yang berbalut jas dan gaun ala prom night. Karen dan Shine
sudah dari tadi bergerak ke sana kemari di lantai dansa. Aku tidak terlalu
berminat untuk datang, jika saja bukan karena ajakan Shane dan Arion. Aku
memilih dress polos warna hitam selutut, dengan bagian bahu terbuka. Mengutuk
diri sendiri karena datang ke sini.
"Kau mau berdansa?", tanya Shane, yang menjadi
partner ku malam ini.
"Um..baiklah. 2 menit?"
Shane tertawa pelan. "Kenapa 2 menit?"
"Aku tidak terlalu...um, bisa...berdansa"
"Ok" Shane mengulurkan tangannya, menuntunku
bergabung dengan murid lain di lantai dansa.
Dansa bukan hal yang aku benci sebenarnya, tapi aku juga
tidak bisa bilang menyukainya. Aku tidak akan melakukannya jika tidak harus.
Dan jika harus aku hanya akan melakukannya sebentar. Bisa dibilang bukan hal
yang aku nikmati. Berbeda denganku, Shane terlihat menikmatinya. Padahal dia
tidak terlihat seperti orang yang menyukai hal-hal semacsm ini.
"Key..ada yang harus kukatakan"
"Apa?"
"Aku rasa aku menyukaimu"
Eh? Apa?! Gerakanku terhenti di tempat. Shane pun ikut
berhenti.
"Sudah cukup lama sebenarnya. Tapi aku ragu, lebih
tepatnya tidak tahu bagaimana mau mengatakannya. Dan aku senang kau mau datang
bersamaku ke prom"
Astaga! Aku harus bilang apa?! "A-aku..."
"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku hanya
ingin kau tahu"
Tapi ini tidak benar. Mata kami masih bertemu. Dan aku
tahu dia bersungguh-sungguh. Shane menyukaiku. Tidak, aku harus memberikan
jawaban sekarang juga.
"Maaf Shane. Aku tidak merasakan hal yang sama. Aku
benar-benar minta maaf"
Shane terdiam. Kekecewaan terlihat memenuhi raut
wajahnya. "Begitu.."
Waktu 2 menit belum habis, tapi kami sudah berhenti
dansa, kembali ke sekitar meja snack. Shane pergi ke meja minuman di seberang
ruangan. Dia tampak kecewa. Ah, aku jadi semakin menyesal datang. Apa yang salah dengan Shane? Dia tidak
serius kan? Kami sudah saling kenal, jadi kupikir dai tahu benar sejak awal
aku tidak punya waktu untuk hal seperti romansa.
Aku memilih tetap di tempatku berdiri, menunggu waktu
berlalu. Samar di seberang ruangan sana, tepat di samping pintu masuk aku
melihat sosok familiar. Zero. Dia datang rupanya, meskipun aku berani bertaruh
dia sama sekali tidak menikmati pesta ini. Sesosok lain mencuri perhatianku.
Leith yang sama penyendirinya dengan Zero juga datang. Bedanya ia tampak
benar-benar menikmati pesta dengan beberapa orang gadis. Aneh, seingatku mereka
bukan vampire. Aku baru menyadari bahwa ada banyak murid manusia yang hadir di
pesta. Aku sama sekali tidak mengeati alasan para gadis manusia itu merasa
senang dekat dengan vampire.
"Apa kau mau berdansa denganku?", tanya Arion
yang tiba-tiba muncul di depanku.
"Maaf, kurasa nanti..." Aku masih shock dengan
yang Shane katakan tadi.
"Baiklah. Ngomong-ngomong aku tidak tahu kau akan
datang dengan Shane"
"Eh...itu.. Aku juga menyesal datang"
"Bukan itu maksudku. Saat kau bilang akan datang,
kukira sebagai partner dansaku..."
Kedua mataku membesar, aku mendongak menatap Arion.
"Maaf soal itu. Aku tidak menduga Shane menganggap lebih dari sekedar
partner malam ini" Ah, keceplosan.
Arion tertawa pelan. "Kau terlalu meremehkan dirimu,
Key. Bahkan dengan tampilan sederhana ini, kau terlihat sangat cantik. Aku
tidak heran jika Shane memiliki perasaan padamu. Bahkan mungkin ada orang lain
lagi"
"Apa maksudmu? Aku tidak..."
"Kau tidak memikirkannya, aku tahu”, potong Arion. “Aku
hanya bilang bahwa kau gadis yang luar biasa. Bukan hanya cantik tapi juga
cerdas dan kuat. Jadi, berhati-hatilah, kau bisa membuat banyak pria jatuh hati
padamu. Lebih dari yang kau bayangkan"
Aku tidak sanggup menahan senyum, dia pasti bercanda. Yah,
Arion memang ahlinya memperbaiki mood. "Aku..."
Sebuah aroma menggiurkan baru saja menguar di udara. Aku
menelan ludah, dahaga mencuat dari kerongkonganku. Mataku otomatis mengikuti
arah asal aroma itu, begitu pula mata para vampire lain di pesta. Di lantai
dansa, Raymond tengah meminum darah ‘pasangan manusianya’ malam ini. Darah! Aku
menggigit bibir bagian bawah, entah bagaimana aku merasa suara itu akan kembali
muncul. Benar saja, sebelum detik berganti suara vanBlood menggema di dalam
kepalaku. Aku berlari di luar kehendakku. Tahu-tahu aku sudah mencengkeram partner
Raymond, mencoba menariknya. Taringku memanjang bersiap untuk minum. Raymond
beralih menatapku, terkejut menyadari apa yang hendak kulakukan, merebut makan
malamnya. Dia mendorongku dengan kekuatan di luar nalar manusia. Tubuhku
terlepanting jauh ke tepi ruangan, jatuh
menimpa meja penuh gelas minuman. Meja itu patah, berserakan, dan serpihan
itu. Darahku.
Aku kembali memperoleh kendali atas tubuhku. Tunggu dulu,
darahku..?! Sial! Aku mendongak menatap mata penuh naluri liar para murid
vampire yang mulai berlari ke arahku. Dalam sekejap mata, seorang vampire sudah
berdiri di depanku, meraih lenganku. Leith akan meminum darahku! Saat aku pikir
sudah sangat terlambat untuk melawan, Leith berhenti, dan tatapan liarnya
mendadak hilang. Dia berbalik dan mengayunkan sebelah tanganya, mengeluarkan es
entah dari mana. Membekukan langkah para vampire yang berlari ke arahku, secara
harfiah.
"Jangan menyentuhnya!", kata Leith lebih seperti
menggeram. Aneh, kata-katanya membekukan vampire-vampire itu, dalam artian
lain.
Aku sempat melihat Arion hanya berdiri mematung di
tempatnya sambil menutup hidung. Rupanya terlalu terkejut untuk bereaksi. Shine
dan Karen berlari ke tempatku. Shane mendahului mereka, membantuku berdiri. Aku
membisikkan terimakasih pada Leith sebelum berjalan menjauh.
Lukaku cukup banyak, sebagian besar lenganku kini
dipenuhi plester. Tidak mau mengambil resiko luka itu terbuka lagi. Aku tidak
menyangka sebagian besar murid vampire nyaris menyerangku tadi malam. Benarkah
mereka terpancing oleh darahku? Bahkan tidak ada yang terpancing dengan darah
partner Raymond yang tengah diminum, kecuali aku. Maksudku, bukankah itu
berarti mereka seharusnya bisa menahan diri.
Dan sebenarnya, aku juga seharusnya bisa menahan diri.
Sewaktu suara vanBlood muncul di dalam kepalaku sesaat setelah aku mencium bau
darah, sebenarnya dia belum mengendalikan tubuhku. Aku bergerak tanpa
pengaruhnya. Rasa terbakar dalam keronganku sudah semakin parah belakangan ini.
Aku tidak yakin bisa datang ke Humphire lagi. Shine dan Shane, bahkan Karen
tidak menyadari hal ini. Aku tidak menemukan cara bagaimana memberitahu mereka.
Karen bahkan meminta maaf karena ia merasa bersalah telah lengah tidak memperhatikan
vanBlood akan mengendalikanku di prom. Dia tidak salah. Sama sekali. Karena
vanBlood memang tidak sempat mengendalikanku. Sisi vampire dalam diriku yang
menggerakkan tubuhku.
Zero melangkah ke balkon, tempatku duduk di atas ayunan
rotan. "Tunggulah sebentar lagi, kita akan membunuhnya"
"A-apa?" Siapa yang dia bicarakan tiba-tiba...
mungkinkah??
"vanBlood. Dalam 2 hari kita bisa menyerangnya"
"Apa kau serius?!"
Zero mengangguk, tatapannya melayang tepat ke dalam
mataku. Kemudian turun ke lenganku. Ah, apa dia dia sedang melihat
plester-plester di lenganku?
"Kau tidak mendukungku sebelumnya..."
"Aku berubah pikiran"
"Begitu..."
Keheningan yang aneh menyeruak di antara kami. Entah
mengapa aku merasa janggal. Biasanya Zero sudah mengomeliku dan sebagainya.
Bukan, bahkan tingkahnya belakangan sudah aneh. Ah, benar ini pertama kalinya
dia tidak berlari menolongku. Tadi malam dia datang ke pesta, dan aku
melihatnya hanya berdiri di samping pintu saat Leith membekukan kaki sebagian
besar vampire di sana. Mungkinkah...mungkinkah karena perkataanku waktu itu??
Dia benar-benar marah.
Zero melemparkan bungkusan kecil ke pangkuanku. "Itu
salep buatan elf. Khasiatnya sama dengan ludah vampire. Jangan berkeliaran
dengan semua plester itu"
"Eh?? Te-terimakasih" Sepertinya benar, karena
perkataanku sebelumnya. Waktu itu aku marah dan membentaknya untuk tidak
menyentuhku. "Zero..."
"Hmm..."
Ah, aku tidak tahu bagaimana mengatakannya. Apa aku
sebaiknya minta maaf atau tidak. Tapi dia juga salah. Tapi...
"Ada apa?"
"Eh? Tidak.."
Zero kembali melayangkan tatapannya ke dalam kedua
mataku. "Mungkinkah...tadi malam itu bukan karena vanBlood?"
Eh? Bagaimana dia tahu?! Kedua bola mataku membesar.
Bagaimana Zero menyadarinya? Bagaimana aku bisa bilang bukan?
"Jadi benar" Zero mendesah, nampak campuran
kecewa dan sedih mengelayuti matanya. "Kau harus mengendalikan rasa hausmu
itu sebelum kita menyerang vanBlood. Kau tahu itu, kan?"
Aku mengalihkan wajahku dari tatapan Zero. Tidak ingin
dia membaca isi kepalaku lebih jauh lagi.
"Kau tidak ingin kehilangan kendali dalam
pertarungan kan. Dan hal ini cepat atau lambat harus dihadapi, atau kau akan
kehilangan dirimu sepenuhnya. Aku percaya padamu."
Percaya... Aku bahkan tidak bisa mempercayai diriku lagi.
Tiga hari, katanya. Apa yang harus kulakukan? Akhirnya aku akan bisa
membalaskan dendamku. Tapi aku tahu lebih dari siapapun bahwa tubuhku tidak
sanggup lagi. Kesadaranku mulai goyah seakan perlahan tertelan oleh sisi
vampire dalam diriku. Tidak. Aku tidak boleh menyerah. Tidak sekarang. Hanya 2
hari. Jika aku bisa bertahan maka tidak apa-apa untuk kehilangan diriku setelah
2 hari berlalu. Aku pasti bisa bertahan sedikit lagi. Berangkat sekolah keesokan
harinya memang bukan pilihan yang bijak, tapi aku harus. Dengan begitu Zero,
Shine dan Shane berpikir aku baik-baik saja. Aku tidak bisa membiarkan mereka
menemukan alasan untuk melarangku.