The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 17 Ujung Naluri (part 1)



Datang ke prom. Well, benar-benar bukan hal yang pernah


terpikir akan aku lakukan. Tapi di sinilah aku. Berdiri canggung di antara


murid-murid Humphire yang berbalut jas dan gaun ala prom night. Karen dan Shine


sudah dari tadi bergerak ke sana kemari di lantai dansa. Aku tidak terlalu


berminat untuk datang, jika saja bukan karena ajakan Shane dan Arion. Aku


memilih dress polos warna hitam selutut, dengan bagian bahu terbuka. Mengutuk


diri sendiri karena datang ke sini.


"Kau mau berdansa?", tanya Shane, yang menjadi


partner ku malam ini.


"Um..baiklah. 2 menit?"


Shane tertawa pelan. "Kenapa 2 menit?"


"Aku tidak terlalu...um, bisa...berdansa"


"Ok" Shane mengulurkan tangannya, menuntunku


bergabung dengan murid lain di lantai dansa.


Dansa bukan hal yang aku benci sebenarnya, tapi aku juga


tidak bisa bilang menyukainya. Aku tidak akan melakukannya jika tidak harus.


Dan jika harus aku hanya akan melakukannya sebentar. Bisa dibilang bukan hal


yang aku nikmati. Berbeda denganku, Shane terlihat menikmatinya. Padahal dia


tidak terlihat seperti orang yang menyukai hal-hal semacsm ini.


"Key..ada yang harus kukatakan"


"Apa?"


"Aku rasa aku menyukaimu"


Eh? Apa?! Gerakanku terhenti di tempat. Shane pun ikut


berhenti.


"Sudah cukup lama sebenarnya. Tapi aku ragu, lebih


tepatnya tidak tahu bagaimana mau mengatakannya. Dan aku senang kau mau datang


bersamaku ke prom"


Astaga! Aku harus bilang apa?! "A-aku..."


"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku hanya


ingin kau tahu"


Tapi ini tidak benar. Mata kami masih bertemu. Dan aku


tahu dia bersungguh-sungguh. Shane menyukaiku. Tidak, aku harus memberikan


jawaban sekarang juga.


"Maaf Shane. Aku tidak merasakan hal yang sama. Aku


benar-benar minta maaf"


Shane terdiam. Kekecewaan terlihat memenuhi raut


wajahnya. "Begitu.."


Waktu 2 menit belum habis, tapi kami sudah berhenti


dansa, kembali ke sekitar meja snack. Shane pergi ke meja minuman di seberang


ruangan. Dia tampak kecewa. Ah, aku jadi semakin menyesal datang. Apa yang salah dengan Shane? Dia tidak


serius kan? Kami sudah saling kenal, jadi kupikir dai tahu benar sejak awal


aku tidak punya waktu untuk hal seperti romansa.


Aku memilih tetap di tempatku berdiri, menunggu waktu


berlalu. Samar di seberang ruangan sana, tepat di samping pintu masuk aku


melihat sosok familiar. Zero. Dia datang rupanya, meskipun aku berani bertaruh


dia sama sekali tidak menikmati pesta ini. Sesosok lain mencuri perhatianku.


Leith yang sama penyendirinya dengan Zero juga datang. Bedanya ia tampak


benar-benar menikmati pesta dengan beberapa orang gadis. Aneh, seingatku mereka


bukan vampire. Aku baru menyadari bahwa ada banyak murid manusia yang hadir di


pesta. Aku sama sekali tidak mengeati alasan para gadis manusia itu merasa


senang dekat dengan vampire.


"Apa kau mau berdansa denganku?", tanya Arion


yang tiba-tiba muncul di depanku.


"Maaf, kurasa nanti..." Aku masih shock dengan


yang Shane katakan tadi.


"Baiklah. Ngomong-ngomong aku tidak tahu kau akan


datang dengan Shane"


"Eh...itu.. Aku juga menyesal datang"


"Bukan itu maksudku. Saat kau bilang akan datang,


kukira sebagai partner dansaku..."


Kedua mataku membesar, aku mendongak menatap Arion.


"Maaf soal itu. Aku tidak menduga Shane menganggap lebih dari sekedar


partner malam ini" Ah, keceplosan.


Arion tertawa pelan. "Kau terlalu meremehkan dirimu,


Key. Bahkan dengan tampilan sederhana ini, kau terlihat sangat cantik. Aku


tidak heran jika Shane memiliki perasaan padamu. Bahkan mungkin ada orang lain


lagi"


"Apa maksudmu? Aku tidak..."


"Kau tidak memikirkannya, aku tahu”, potong Arion. “Aku


hanya bilang bahwa kau gadis yang luar biasa. Bukan hanya cantik tapi juga


cerdas dan kuat. Jadi, berhati-hatilah, kau bisa membuat banyak pria jatuh hati


padamu. Lebih dari yang kau bayangkan"


Aku tidak sanggup menahan senyum, dia pasti bercanda. Yah,


Arion memang ahlinya memperbaiki mood. "Aku..."


Sebuah aroma menggiurkan baru saja menguar di udara. Aku


menelan ludah, dahaga mencuat dari kerongkonganku. Mataku otomatis mengikuti


arah asal aroma itu, begitu pula mata para vampire lain di pesta. Di lantai


dansa, Raymond tengah meminum darah ‘pasangan manusianya’ malam ini. Darah! Aku


menggigit bibir bagian bawah, entah bagaimana aku merasa suara itu akan kembali


muncul. Benar saja, sebelum detik berganti suara vanBlood menggema di dalam


kepalaku. Aku berlari di luar kehendakku. Tahu-tahu aku sudah mencengkeram partner


Raymond, mencoba menariknya. Taringku memanjang bersiap untuk minum. Raymond


beralih menatapku, terkejut menyadari apa yang hendak kulakukan, merebut makan


malamnya. Dia mendorongku dengan kekuatan di luar nalar manusia. Tubuhku


terlepanting jauh ke tepi ruangan,  jatuh


menimpa meja penuh gelas minuman. Meja itu patah, berserakan, dan serpihan


itu. Darahku.


Aku kembali memperoleh kendali atas tubuhku. Tunggu dulu,


darahku..?! Sial! Aku mendongak menatap mata penuh naluri liar para murid


vampire yang mulai berlari ke arahku. Dalam sekejap mata, seorang vampire sudah


berdiri di depanku, meraih lenganku. Leith akan meminum darahku! Saat aku pikir


sudah sangat terlambat untuk melawan, Leith berhenti, dan tatapan liarnya


mendadak hilang. Dia berbalik dan mengayunkan sebelah tanganya, mengeluarkan es


entah dari mana. Membekukan langkah para vampire yang berlari ke arahku, secara


harfiah.


"Jangan menyentuhnya!", kata Leith lebih seperti


menggeram. Aneh, kata-katanya membekukan vampire-vampire itu, dalam artian


lain.


Aku sempat melihat Arion hanya berdiri mematung di


tempatnya sambil menutup hidung. Rupanya terlalu terkejut untuk bereaksi. Shine


dan Karen berlari ke tempatku. Shane mendahului mereka, membantuku berdiri. Aku


membisikkan terimakasih pada Leith sebelum berjalan menjauh.


Lukaku cukup banyak, sebagian besar lenganku kini


dipenuhi plester. Tidak mau mengambil resiko luka itu terbuka lagi. Aku tidak


menyangka sebagian besar murid vampire nyaris menyerangku tadi malam. Benarkah


mereka terpancing oleh darahku? Bahkan tidak ada yang terpancing dengan darah


partner Raymond yang tengah diminum, kecuali aku. Maksudku, bukankah itu


berarti mereka seharusnya bisa menahan diri.


Dan sebenarnya, aku juga seharusnya bisa menahan diri.


Sewaktu suara vanBlood muncul di dalam kepalaku sesaat setelah aku mencium bau


darah, sebenarnya dia belum mengendalikan tubuhku. Aku bergerak tanpa


pengaruhnya. Rasa terbakar dalam keronganku sudah semakin parah belakangan ini.


Aku tidak yakin bisa datang ke Humphire lagi. Shine dan Shane, bahkan Karen


tidak menyadari hal ini. Aku tidak menemukan cara bagaimana memberitahu mereka.


Karen bahkan meminta maaf karena ia merasa bersalah telah lengah tidak memperhatikan


vanBlood akan mengendalikanku di prom. Dia tidak salah. Sama sekali. Karena


vanBlood memang tidak sempat mengendalikanku. Sisi vampire dalam diriku yang


menggerakkan tubuhku.


Zero melangkah ke balkon, tempatku duduk di atas ayunan


rotan. "Tunggulah sebentar lagi, kita akan membunuhnya"


"A-apa?" Siapa yang dia bicarakan tiba-tiba...


mungkinkah??


"vanBlood. Dalam 2 hari kita bisa menyerangnya"


"Apa kau serius?!"


Zero mengangguk, tatapannya melayang tepat ke dalam


mataku. Kemudian turun ke lenganku. Ah, apa dia dia sedang melihat


plester-plester di lenganku?


"Kau tidak mendukungku sebelumnya..."


"Aku berubah pikiran"


"Begitu..."


Keheningan yang aneh menyeruak di antara kami. Entah


mengapa aku merasa janggal. Biasanya Zero sudah mengomeliku dan sebagainya.


Bukan, bahkan tingkahnya belakangan sudah aneh. Ah, benar ini pertama kalinya


dia tidak berlari menolongku. Tadi malam dia datang ke pesta, dan aku


melihatnya hanya berdiri di samping pintu saat Leith membekukan kaki sebagian


besar vampire di sana. Mungkinkah...mungkinkah karena perkataanku waktu itu??


Dia benar-benar marah.


Zero melemparkan bungkusan kecil ke pangkuanku. "Itu


salep buatan elf. Khasiatnya sama dengan ludah vampire. Jangan berkeliaran


dengan semua plester itu"


"Eh?? Te-terimakasih" Sepertinya benar, karena


perkataanku sebelumnya. Waktu itu aku marah dan membentaknya untuk tidak


menyentuhku. "Zero..."


"Hmm..."


Ah, aku tidak tahu bagaimana mengatakannya. Apa aku


sebaiknya minta maaf atau tidak. Tapi dia juga salah. Tapi...


"Ada apa?"


"Eh? Tidak.."


Zero kembali melayangkan tatapannya ke dalam kedua


mataku. "Mungkinkah...tadi malam itu bukan karena vanBlood?"


Eh? Bagaimana dia tahu?! Kedua bola mataku membesar.


Bagaimana Zero menyadarinya? Bagaimana aku bisa bilang bukan?


"Jadi benar" Zero mendesah, nampak campuran


kecewa dan sedih mengelayuti matanya. "Kau harus mengendalikan rasa hausmu


itu sebelum kita menyerang vanBlood. Kau tahu itu, kan?"


Aku mengalihkan wajahku dari tatapan Zero. Tidak ingin


dia membaca isi kepalaku lebih jauh lagi.


"Kau tidak ingin kehilangan kendali dalam


pertarungan kan. Dan hal ini cepat atau lambat harus dihadapi, atau kau akan


kehilangan dirimu sepenuhnya. Aku percaya padamu."


Percaya... Aku bahkan tidak bisa mempercayai diriku lagi.


Tiga hari, katanya. Apa yang harus kulakukan? Akhirnya aku akan bisa


membalaskan dendamku. Tapi aku tahu lebih dari siapapun bahwa tubuhku tidak


sanggup lagi. Kesadaranku mulai goyah seakan perlahan tertelan oleh sisi


vampire dalam diriku. Tidak. Aku tidak boleh menyerah. Tidak sekarang. Hanya 2


hari. Jika aku bisa bertahan maka tidak apa-apa untuk kehilangan diriku setelah


2 hari berlalu. Aku pasti bisa bertahan sedikit lagi. Berangkat sekolah keesokan


harinya memang bukan pilihan yang bijak, tapi aku harus. Dengan begitu Zero,


Shine dan Shane berpikir aku baik-baik saja. Aku tidak bisa membiarkan mereka


menemukan alasan untuk melarangku.