
Aku serasa berbaring di atas rerumputan hijau nan lembut. Ah bahkan ada bau embun pagi yang menetes di ujung-ujung daun kecil. Entah di mana aku, tapi aku benar-benar menyukai aroma ini. Seperti aroma hutan di pagi hari ditambah aroma seperti vanilla yang begitu manis. Kemudian sesuatu menyentuh leherku, pelan namun itu membuyarkan anganku. Aku tersentak. Membuka mata. Seorang laki-laki bermata biru topaz cemerlang menatapku. Wajah kami teramat dekat. Aku bisa merasakan napasnya yang berhembus di pipiku. Dia terlihat sama terkejutnya denganku. Tapi kemudian ia segera mundur dan berdiri di samping tempat tidur tempatku berbaring.
Aku bangun dan duduk. Leherku terasa sangat sakit. Dan aku menemukan tubuhku gemetaran tak
terkendali. “A-apakah aku masih hidup?”, tanyaku.
“Ya”, jawab pria itu.
“Ta-tapi, bagaimana? Bagaimana mungkin?” Hal terakhir yang kuingat seorang vampire meneguk habis darahku.
Karen berlari masuk ke kamar tempatku terbangun. “Syukurlah. Kakak sudah sadar”
Aku tidak mengerti. “Apa yang terjadi? Apakah semua itu...mimpi?”
Air mata terlihat mulai mengalir dari kedua mata Karen. “Tidak, kak. Semua itu bukan mimpi”. Ia mulai
terisak. “Aku....aku benar-benar mengira kalau aku akan kehilangan kakak malam itu.... Semua terjadi begitu cepat, dan aku tidak bisa melakukan apapun. Bahkan Ayah dan Ibu...”
“Apakah mereka....?” Pertanyaanku menggantung di udara, tak mampu kuselesaikan. Aku tahu jawabannya begitu air mata Karen semakin deras. Dadaku sesak, napasku mendadak berat seolah sesuatu mengganjalnya. “Karena aku....”
Karen meraih tanganku, menggenggamnya. “Tidak. Ini bukan salah kakak”
Aku memeluk Karen, mengusap punggungnya. Untuk sesaat aku benar-benar lupa apa yang telah terjadi padaku. Tunggu, apa yang terjadi padaku? Vampire itu menyerangku dan mengatakan sesuatu tentang mengubahku dan semacamnya. Lalu apa yang terjadi denganku?
“Siapa dia?”, tanyaku pada Karen, mendadak ingat ada orang lain di sana.
“Ah, ini kak Zero. Dia yang menyelamatkan kita”
“Oh..”, gumamku pelan,berusaha tersenyum. Zero hanya mengangguk pelan. “Apa yang terjadi padaku?”
Karen dan Zero tampak tak bergeming, seolah waktu berhenti mengalir untuk beberapa detik panjang. Lantas Zero menoleh padaku dan berkata, “Kau sudah tahu. Kau akan menjadi vampire”
“A-apa??! Kau pasti bercanda! Aku tidak mungkin menjadi vampire. Aku ini manusia!!” Entah kenapa suaraku meninggi. Aku tidak bisa mempercayainya. Aku tidak ingin mempercayainya. Dan orang ini, bisa-bisanya dia mengatakannya tanpa perasaan sama sekali begitu. "Aku tidak akan menjadi vampire", gumamku lebih pada diriku sendiri.
“Kau pasti berubah, cepat atau lambat”, ujar Zero.
“Tidak! Pasti ada yang bisa dilakukan”
“Tidak ada yang bisa dilakukan untuk menarik kembali darah vampire yang sudah mengambil alih
tubuhmu”
Hatiku mencelos. Tidak ada yang bisa dilakukan, katanya. Lantas untuk apa aku hidup. Untuk apa aku diselamatkan. “Tidak mungkin...”
Karen hanya menunduk, mungkin ia menghindari tatapanku. Karen selalu begitu saat dia tidak ingin memberitahuku sesuatu yang diketahuinya. Ia tidak pandai berbohong ataupun menyembunyikan sesuatu. Tapi meski Karen tidak mengatakan apapun, aku sudah tahu dari wajahnya kalau dia pasti sudah melihat masa depanku. Dan itu bukan hal yang bagus.
Zero mendesah. “Istirahatlah. Aku akan menyiapkan makan malam”, katanya sambil berbalik badan hendak keluar.
“Tunggu!”, panggilku tanpa sadar. Mendadak teringat sesuatu.“Bagaimana dengan vampire itu?”
Zero tidak menoleh dia hanya berdiri tak bergeming beberapa saat. “Dia...lari”, ujarnya lantas berjalan meninggalkan aku dan Karen ke luar ruangan.
Dia lari??!! Ulangku dalam batin. Tidak habis pikir dengan jawaban ini.
Karen yang mengerti kalau aku penasaran lantas menceritakan padaku apa yang terjadi malam itu setelah aku kehilangan kesadaranku. Menurut cerita Karen, Zero datang dan bertarung menggunakan pedang untuk melawan vampire yang menyerangku. Tidak terlalu jelas bagaimana detail pertarungan itu. Aku tak bisa menyalahkannya, Karen pasti dilanda syok saat menjadi saksi dari semua horor mengerikan itu. Karen bilang untuk saat ini kami tidak perlu khawatir, Zero tidak keberatan jika kami tinggal di rumahnya. Walau sebenarnya tidak mungkin aku tidak khawatir. Tapi yah, mengingat tubuhku yang masih gemetaran dan demam tinggi kurasa aku tidak punya pilihan.
***
"Kau bisa bertanya padaku. Aku akan menjawabnya”, kata Zero memecah lamunanku. Sedari tadi dia duduk di pintu menuju balkon sambil mengotak-atik laptop.
“Huh?”
Zero menatapku, “Katakan saja apa yang ingin kau ketahui"
Aku beralih menatapnya, memang banyak pertanyaan yang menggangguku. Kecurigaan muncul dari detail yang tidak lengkap pada cerita Karen tentang apa yang terjadi malam itu. Dan sebuah firasat terus menggelitik kepalaku. Baiklah, aku akan bertanya. "Karen bilang, kau menemukan kami dan bertarung dengan vampire
itu. Bagaimana bisa? Bertarung?"
Zero masih memasang wajah datar. "Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Katanya, 2 vampire lain datang, jadi di sana ada 3 vampire, dan kau bertarung dengan mereka? Lalu mereka lari? Aneh sekali. Mereka itu vampire, jadi bagaimana kau menjelaskan alasan mereka lari?"
"Manusi tidak mungkin bisa melawan mereka, itu kan maksudmu", gumam Zero, mata birunya kini menghujam ke dalam mataku. "Aku seorang vampire"
Kedua mataku membesar, bulu kudukku berdiri. Kengerian menyebar ke setiap sel dalam tubuhku. Ini benar-benar gila! Kedua orang tuaku dibunuh vampire di depan mataku. Dan vampire itu nyaris membunuhku. Dan sekarang seorang vampire lain menyelamatkanku?!!!
“Kenapa kau menyelamatkanku?”
“Karena aku tidak ingin kau mati”
“Kenapa?", tanyaku setengah menyeringai, tidak bisa mempercayai pendengaranku. “Kau tidak mengenalku”
Aku memalingkan pandanganku, tapi aku tahu Zero tengah menatapku lekat-lekat seolah ia punya tatapan laser yang bisa melihat menembus diri seseorang. “Jangan bilang kalau kau berharap untuk tidak diselamatkan”
Aku tidak menjawab. Bibirku kelu dan kehilangan kemampuan untuk mengeluarkan suara. Ususku seolah terpelintir dan mengeras. Aku juga tidak yakin. Mungkinkah aku berharap begitu? Jika hidupku berakhir malam itu, aku tidak harus menghadapi vampire lain seperti yang terjadi sekarang. Aku tidak bisa mempercayainya. Zero salah satu dari monster yang membunuh keluargaku. Dia pasti punya motif tersembunyi sehingga dia menyelamatkanku dan Karen. Hatiku mencelos menyadari satu kemungkinan besar yang menjadi motif Zero. Dia mengincar hal yang sama dengan vampire yang menyerang kami. Darah!
besar Karen melihat 'masa depan' ini sehingga dia menyimpulkan demikian. Tapi jika vampire mengincar darah yang
spesial, tentunya itu bukan darahku. Aku tidak spesial. Yang diincarnya adalah Karen!
Sial! Aku harus memberitahunya. Karen harus bersembunyi. Tempat ini juga sama sekali tidak aman. Si vampir Zero itu mungkin juga menginginkan darah Karen. Aku bergegas keluar kamar tempatku terbangun. Sudah dua hari sejak aku terbangun di kamar itu, dan baru kali ini aku keluar kamar. Aku menyeberangi sebuah ruangan luas dengan sofa dan rak-rak buku, menuju ke tangga. Ada satu pintu lain selain pintu darimana aku keluar. Kalau tidak salah itu adalah kamar baru si vampir. Aku mendengarnya masuk ke sana. Begitu menuruni anak tangga aku bisa melihat Karen sedang menerima paket di pintu depan, Zero berdiri di sampingnya. Aku bergegas menghampirinya. Petugas pengantar paket sudah pergi saat aku mendekat.
“Apa itu?”
“Pakaian. Kita harus ganti baju, kan”, jawab Karen lantas ia menoleh ke Zero. “Kak Zero, terimakasih”
Zero cuma mengangguk pelan lalu berjalan ke seberang ruang tamu. Dia membuka kulkas kecil di sana dan mengambil sekaleng cola. Karen mulai berjalan ke sebuah pintu di samping tangga. Ia membukanya dan melenggang masuk ke dalam.
“Karen, kita perlu bicara”, ujarku sambil mengikutinya ke dalam ruangan yang ternyata adalahkamar.
Karen duduk di atas tempat tidur, menatapku penuh tanda tanya. "Ada apa?"
Aku menutup pintu rapat-rapat sebelum berbalik menghadap Karen. "Kita harus pergi dari sini"
"Pergi?"
Aku mengangguk. "Di sini tidak aman. Orang itu sama sekali tidak menyelamatkan kita. Dia juga seorang vampire!"
Mata Karen nampak membesar. Anehnya, dia tidak terlihat kaget dengan fakta bahwa Zero seorang vampire. Karen mendesah pelan.
"Jangan bilang..."
Karen mengagguk. "Iya, aku sudah tahu tentang kak Zero.."
"Lalu kenapa??!! Kenapa kau diam saja?!! Apa kau tidak sadar kalau kita harus melarikan diri?!!"
"Kita tidak perlu. Kak Zero tidak memiliki niat buruk seperti yang kakak pikirkan"
"Kenapa kau bicara begitu? Bagaimana bisa..!"
"Aku melihatnya, masa depan. Kakak juga tahu masa depan terjadi seperti yang kulihat. Kak Zero tidak akan membahayakan kita. Kakak harus percaya padaku"
"Dengar, Karen, ini bukan hanya masalah apakah aku percaya padamu atau tidak. Aku tahu kau melihat masa depan, aku percaya itu. Tapi jangan lupa, kau bukan melihat hati seseorang. Kita tidak tahu seperti apa vampire itu" Dan aku tidak merasa ingin tahu juga. Pokoknya, kami harus pergi dari sini. "Sst..." Aku melangkah ke pintu, mendekatkan telingaku ke daun pintu. "Ada yang datang"
Karen tidak berpindah dari posisinya. Entah apa yang dipikirkanya hingga dia sangat mempercayai Zero. Tapi apapun itu, aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa percaya pada orang yang baru kutemui, laki-laki yang tidak kukenal, terlebih lagi dia seorang vampire. Dan dari suara langkah kaki di luar, vampire itu punya 2 orang teman! Sial!! Belum selesai aku memikirkan cara untuk kabur dari 1 vampire, apa sekarang ini datang vampire lain. Aku mendengar suara dua orang laki-laki selain Zero. Cara bicara mereka terdengar seperti sebaya dengan Zero. Hanya saja 2 orang yang baru datang ini memiliki suara yang sangat mirip, meskipun gaya bicara mereka berbeda. Zero menanyakan kabar mereka, atau sesuatu seperti itu.
"Jadi kalian masih hidup?"
"Dasar! Setidaknya tanya yang benar kenapa", salah seorang memprotes.
"Tentu saja kami masih hidup. Misi seperti itu tidak cukup untuk membunuh kami", ujar yang satu orang lagi, terdengar lebih serius.
"Yah...tapi kali ini benar-benar tidak mudah. Kami bisa saja mati jika markas pusat tidak menarik mundur pasukan pagi ini"
"....kami kalah jumlah dan kehilangan jejak. Tapi ada beberapa hal yang dapat dipastikan..."
"Pertama, mereka bukan mad vampire. Kedua mereka mengincar sesuatu.."
"Hanya 1 blok yang diserang..." Zero tampak bergumam. "Apa yang mereka incar?"
"Tidak tahu. Kami berhasil menangkap seorang vampire, tapi dia tetap tidak mau buka mulut", ujar suara serius.
"Zero, kelihatannya mereka dipimpin seorang pureblood"
"Siapa pemimpinya?"
"VanBlood"
Terdengar suara kertas diremas dengan marah.
"Kenapa? Kau mengenalnya? Apa dia musuhmu atau semacamnya?"
"Shane", suara lain menegur suara yang lebih serius.
"Apa? Aku hanya penasaran. Zero tidak pernah menunjukkan reaksi seperti ini sebelumnya"
"Tapi jika kau benar-benar tertarik atau semacamnya, kenapa kau tidak membantu misi kali ini? Bahkan hari itu kau menyadari serangan itu sebelum markas hunter"
Zero tidak menjawab.
"Dasar... kami sudah mengirim tim lain untuk memantau keadaan. Tapi tidak akan mudah untuk melacak lokasi mereka"
"Di saat seperti ini, Guardian benar-benar berguna. Mereka memanipulasi hasil otopsi dan penyelidikan teror di kota Siverra dengan sangat baik. Tch!" suara serius (Shane) terdengar mengumpat.
Napasku tertahan demi mendengar nama kota Siverra di mana kami pindah 2 minggu lalu. Mereka membicarakan serangan vampire. Aku bergegas keluar kamar berlari ke ruang tamu di mana Zero dan 2 orang temannya berbincang. Mereka tampak terkejutdengan semua kepala tertoleh ke arahku.
"Katakan padaku sekali lagi!", seruku tanpa menghiraukan keterkejutan mereka.