The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 4 Humphire



Vampire. Makhluk kegelapan yang sering muncul dalam berbagai buku cerita dan film rupanya benar-benar ada. Mereka membaur di antara manusia. Mereka tidak memiliki mata merah ataupun taring panjang yang mencuat keluar di antara bibir. Mereka nampak seperti manusia biasa. Hal seperti bawang putih dan air suci tidak menyakiti mereka. Dan kisah tentang vampire yang hangus terbakar menjadi abu saat terkena sinar matahari hanyalah isapan jempol. Vampire bisa hidup dan berjalan di bawah terik matahari, tidak berbeda dari manusia. Mereka tidak tidur di siang hari di dalam peti mati di ruangan tertutup. Mereka menjalani aktivitas layaknya manusia normal. Hampir tidak mungkin membedakan mereka. Secara fisik, vampire terlihat seperti manusia biasa dengan wajah dan tubuh


ideal. Ya, anehnya vampire justru terlihat cantik. Seolah penampilan mereka merupakan senjata penarik mangsanya, yaitu kita para manusia. Hanya keberadaan shadow yang bisa membedakan mereka.


Aku orang yang logis dan tidak akan mempercayai hal-hal tidak masuk akal semacam vampire jika saja aku tidak terbangun di rumah seorang vampire seminggu yang lalu setelah vampire bernama vanBLood menyerang keluarga kami. Vampire yang menyelamatkanku dan Karen tinggal bersama dua orang vampire hunter, Shine dan Shane. Menurut para hunter itu Zero adalah ‘vampire baik’ jadi mereka berteman denganya. Aku benar-benar tidak bisa


mempercayai semua ini. Sudah sulit bagiku menghadapi fakta adanya vampire di dunia ini. Tapi begitu memasuki Humphire aku menemukan hal yang tidak pernah kusadari sebelumnya. Vampire benar-benar ada. Dan banyak. SMA Humphire dipenuhi dengan murid vampire yang berniat untuk beradaptasi dengan dunia manusia. Ada juga murid manusia di sini. Tapi nereka bukan manusia biasa. Mereka adalah orang-orang dengan bakat unik seperti Karen. Orang-orang dengan fisik berbeda dan mereka yang bisa membaca bola kristal dan kartu tarot. Dan


juga mereka yang menggunakan sihir. Yang terlihat paling normal di sini hanyalah para hunter. Setidaknya mereka adalah manusia biasa. Karena itu aku memilih duduk di sebelah Shane di dalam kelas.


"Kau tidak keberatan aku duduk di sini?", tanyaku.


"Asal kau tidak menggigitku" gurau Shane, senyum memgembang di wajahnya.


"Baiklah"


"Bagaimana menurutmu, kembali sekolah di tempat yang... um, spesial?"


Aku mengangkat kedua bahuku. "Menakutkan, kurasa. Aku benar-benar tidak habis pikir orang-orang ini ada. Ini seperti dunia yang berbeda"


“Sejak awal, beginilah kenyataan di dunia ini. Kau hanya belum menyadarinya”, ujar Shane. "Eh? Apa yang dilakukannya di sini?" Shane terdengar terkejut, tatapannya beralih ke bangku di ujung belakang. Seorang


laki-laki berambut pirang berantakan dengan mata biru topaz cemerlang dan mengenakan seragam Humphire duduk di sana dengan sebelah tangan menyangga kepalanya. Dia terlihat lelah dari bergadang. Zero!


"Apa yang dia lakukan?" Napasku tertahan, tidak percaya melihat Zero ada di ruangan ini. "Bukankah dia tidak sekolah?"


"Tidak. Dia terdaftar sebagai murid di sini, untuk mengawasi seperti aku dan Shine. Tapi dia berhenti datang karena menurutnya sangat merepotkan untuk mengikuti sekolah setiap pagi hingga sore."


"Kurasa aku tahu kenapa dia kembali datang. Dia ingin mengawasiku"


***


Seperti dugaanku, keluar dari rumah Zero sama sekali bulan hal buruk. Sebenarnya cukup menyenangkan melihat aktivitas yang biasa seperti sekolah. Kecuali bahwa aku tidak bisa hanya melihatnya dari jauh. Meskipun orang-orang di Humphire ‘spesial’, berada di antara manusia membuatku nervous. Bukan tanpa alasan tentunya. Di rumah Zero hanya ada dua orang manusia, dan mereka hunter yang lebih kuat dariku, selain itu hanya Karen. Aku tidak memiliki keinginan meminum darahnya. Tapi di Humphire keinginan itu terus timbul tenggelam di dalam kepalaku. Terkadang seperti sebuah bisikan dan kadang seperti naluri liar vampire yang terus mendorongku. Aku jadi lebih suka menyendiri, menjaga jarak dari murid lain, manusia karena mereka membuatku nervous, dan vampire karena aku tidak mau menjadi salah satu dari mereka. Saat jam istirahat tiba aku menjauhi kantin dan tempat-tempat ramai, menyendiri ke kebun di belakang gedung sekolah. Tapi sepertinya hari ini aku kurang beruntung. Aku mencium aroma seseorang di sini, dua orang. Itu Zero!


"Arion" Zero menyapa seorang murid yang menghampirinya, vampire. Zero masih berbaring di bawah pohon, bahkan tidak mengangkat wajah untuk melihat lawan bicaranya.


Vampire bernama Arion itu memiliki shadow yang sangat berbeda dari Zero. Shadownya besar, terasa hangat dan bercahaya. Arion memiliki rambut berwarna coklat yang cukup panjang hingga menutupi lehernya. Untuk beberapa alasan, dia terlihat sangat berbeda dari Zero.


"Aku menemukanmu!", kata Arion.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


Arion tampak kesal dengan pertanyaan Zero. "Aku yang seharusnya bertanya begitu! Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak sadar apa yang telah kau lakukan? Apa kau tidak sadar kami mengkhawatirkanmu?"


"Tenanglah, kau tidak seperti dirimu"


"Kau..." Kata-kata Arion tertahan di ujung lidahnya. Mata hijau emerald nya dipenuhi jutaan emosi yang tercampur aduk. Emosi yang nampaknya tidak bisa dibendung lagi.


"Jadi apa maumu?"


Arion merapatkan giginya menatap tajam ke arah Zero.


"Kau mau menangkapku?"


"Kau tahu aku tidak akan bisa meski aku mau"


Zero menoleh kepada Arion, menghela napas pendek. Lalu ia bangun ke posisi duduk. "Untunglah.."


"Sampai kapan kau akan..."


"Cukup, Arion. Tidak sekarang" Zero memotong perkataan Arion. Lantas ia berdiri dan menghilang di belakang pepohonan.


Apa-apaan barusan itu?Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Dan aku masih merasa tegang tanpa alasan. Aku berjalan mundur, hendak berbalik perlahan ketika kakiku terpaku demi mendengar suara memanggilku.


"Kau yang di sana!"


Detik selanjutnya vampire bernama Arion itu sudah muncul di depanku. Membuat langkahku terhenti di tempat seperti membeku.


"Apa kau menguping? Siapa kau?!"


"A-aku ti-tidak..." Menguping? Aku tidak menguping. Hanya tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Tapi entah kenapa lidahku tidak bisa mengatakannya dengan lancar. Dan lagi, pria di depanku ini terlihat tidak nyata. Maksudku ia tampak seperti peri alih-alih vampire. Kulit putihnya bersinar, rambut coklat tuanya sedikit mengombak, memanjang hingga ke leher membingkai wajahnya dengan apik. Lebih dari semua itu, matanya yang berwarna hijau emerald seperti mengeluarkan sihir.


"Dia tidak sengaja, biarkan saja"


Sontak aku menoleh mendengar suara Zero. Apa? Kapan dia kembali?!Tadi aku melihatnya pergi ke arah berlawanan. "Zero.."


Arion melemparkan tatapannya ke Zero, lantas kembali padaku. "Kalian saling kenal?"


"Bukan urusanmu", tukas Zero ketus. Ia berjalan meraih tanganku dan menarikku berjalan menjauhi Arion, kembali ke gedung sekolah. Jam istirahat berakhir tepat saat kami berjalan menuju kelas.


Aku tidak begitu memikirkan pembicaraan mereka siang tadi. Bahkan nyaris melupakannya setelah pulang. Tapi Arion datang ke rumah Zero malam itu. Tampaknya mereka teman dekat, atau setidaknya begitu dulu, karena Zero sama sekali tidak terlihat senang dengan kedatangan Arion. Dilihat sekilas merekamemiliki sifat yang benar-benar berkebalikan, aku tidak mengerti betul bagaimana mereka menjadi teman baik. Arion setinggi telinga Zero dan


tubuhnya sedikit lebih kurus dari Zero. Rambutnya yang menjuntai di sekitar lehernya nampak seperti lelehan coklat hangat. Wajahnya tirus dengan hidung tinggi dan bibi yang sangat apik. Warna matanya yang hijau emerald seolah mengeluarkan sinar sendiri. Aku tidak suka menilai penampillan orang tapi harus kuakui, dia sangat tampan. Dan sebagai vampire dia jauh dari kesan mengancam atau menyeramkan. Shine yang memiliki sifat serupa dengan Arion langsung akrab walau baru bertemu.


"Kita belum berkenalan. Namaku Arion Ravenly", ujar Arion waktu ia menghampiriku dengan tangan terjulur dan sebuah senyum bersahabat. Nama yang cantik, bahkan suaranya pun cantik.


Aku menjabat tangannya. "Keyra Wilder"


"Senang berkenalan denganmu. Em, dan kau?" Arion melempar tatapannya ke belakangku, Karen berdiri di ambang pintu. “Hei, kalian terlihat mirip! Apa kalian juga kembar?”


"Aku Karen Wilder, senang berkenalan denganmu", ujar Karen sambil mengulurkan tangan, menjabat Arion. "Kami


tidak kembar. Aku adiknya"


Arion ber-oh pelan, mengangguk kecil, lalu ia kembali menatapku. "Aku tidak menyadari sebelumnya, tapi kau...setengah vampire?"


"Ya, begitulah"


"Apakah Zero yang mengubahmu?"


Aku mengangkat sebelah alis, tidak menyangka pertanyaan semacam ini. "Tidak. Bukan dia. Dia hanya, um, memutuskan untuk mengawasiku"


"Haha. Kurasa pilihan katamu sedikit kurang bagus. Ayolah, Zero itu menyebalkan tapi dia baik"


"Ehm, aku permisi dulu", kata Karen, mulai berjalan ke arah Shine. Arion mengangguk dengan sebuah senyum pada Karen, ia duduk di kursi di sampingku.


"Tadi siang..."


"Ah. Aku tidak sengaja. Maaf" Aku mendahuluinya. Agak malu mengingat masalah menguping itu. "Dan kalau kau repot-repot datang ke sini untuk memastikannya atau sebagainya, tenang saja aku bahkan sudah melupakan apa yang kudengar. Itu bukan urusanku"


"Em...baiklah. Terimakasih. Aku bukan kemari untuk itu sebenarnya", ujar Arion. "Kau bersama Zero, jadi aku tidak


mencemaskannya."


Anehnya, tadi siang dia tidak terlihat 'tidak mencemaskannya'. Bukannya dia lumayan marah waktu mengetahui aku mendengar pembicaraan mereka. "Sepertinya kau teman Zero, kenapa tidak ke kamarnyadan bicara empat mata dengannya?"


"Yah... tapi dia tidak mau. Hahaha" Arion tertawa hambar. Rona kekecewaan kentara mewarnai wajahnya.


Maklum saja jika dia kecewa. Zero sama sekali tidak acuh dengan Arion, meskipun Arion nampak begitu peduli padanya. Zero bahkan terlihat kesal atau mungkin marah sewaktu melihat Arion datang ke rumahnya.


Aku tak bisa menahan senyumku. Sejujurnya aku tidak bisa bilang tidak. Aku sama sekali tidak punya maksud untuk mengenal vampire lain selain yang sudah kukenal. "Aku tidak keberatan, karena kau mencoba membawanya pulang kan, dengan kata lain pergi dari sini"


"Kau menyadarinya rupanya. Padahal aku tidak berkata banyak”, ujar Arion, sebuah senyum kembali menghias wajahnya. “Ngomong-ngomong apa kau sebegitu tidak menyukainya?"


"Aku tidak bisa bilang tidak"


Arion tertawa kecil. Kali ini tawanya terdengar renyah. "Tapi kurasa dia menyukaimu"


Eh? Dia bercanda?"Well, mungkin, sebagai kantung darah"


"Apa maksudmu? Apa dia minum darimu?"


"Tidak, belum. Dia hanya mengatakan darahku menarik"


Arion tampak terkejut, mulutnya terbuka selama beberapa detik yang terasa panjang. "Dia mengatakannya?"


Aku mengangguk. Tidak mengerti kenapa Arion terlihat begitu terkejut. Bukanya wajar saja Zero yang seorang


vampire untuk mengiginkan darahku.


"Kau memang tidak tahu apa-apa tentang vampire"


Sejujurnya aku sama sekali tidak ingin tahu tentang vampire. Jika saja aku bisa menghapus ingatanku maka aku pasti sudah menghapus semua hal tentang vampire. Mungkin dengan begitu rasa hausku akan darah tidak akan timbul. Ada banyak hal yang ingin kulupakan. Belakangan bahkan aku sudah mulai melupakan diriku sendiri. Setiap tarikan napasku saat berada di antara murid Humpire hanya semakin menyadarkan bahwa aku adalah vampire. Aku tidak bisa dekat-dekat dengan murid yang manusia karena suara detak jantung mereka memicu rasa 'haus' ku. Kerongkonganku akan memanas seolah terbakar dari dalam setiap kali naluri vampire dalam diriku terbangun.


Aku memang tidak pernah menginginkan untuk populer dan menjadi pusat perhatian di sekolah, tapi aku juga tidak mengiginkan menjadi sosok tidak terlihat. Tapi untuk diriku yang sekarang menjadi tidak terlihat adalah hal yang


sangat aku inginkan.


Baru beberapa hari berlalu sejak aku masuk ke Humphire, tapi aku sudah mengetahui beberapa murid populer di sini. Dari kelompok murid vampire, ada seorang laki-laki berambut pirang ikal bernama Raymond dan seorang


gadis semampai dengan rambut pirang lurus sepanjang pinggang, Thalia. Sedangkan dari murid manusia seorang penyihir laki-laki bernama Nicholas dan gadis karet bernama Luna adalah maskot mereka. Belakangan tampaknya posisi Luna terancam oleh Karen. Meskipun karakter keduanya berseberangan. Karen sama sepertiku yang tidak mengidamkan popularitas. Tapi tentu saja dengan wajah cantiknya, rambut pirang dan mata biru besar itu belum lagi sifatnya yang sangat feminim, Karen dengan cepat menjadi populer. Ada lagi murid yang menyedot perhatian, Arion, dengan ketampanan dan sikap ramahnya dan seorang murid baru yang masuk di hari yang sama denganku, Leith. Keduanya berada di kelas 3, dan aku hanya mengetahui sekilas tentang Leith. Dia sedikit lebih tinggi dari Arion, berkulit pucat dengan rambut putih dan mata kelabu. Aku tidak mengenalnya secara pribadi, tapi dia sering terlihat menyendiri di taman atau di atap gedung. Tidak sengaja memperhatikannya, karena aku sendiri juga sibuk menyendiri. Belakangan tampaknya aku termasuk dalam daftar menyedot perhatian. Kemungkinan besar karena aku adalah satu-satunya setengah vampire di Humphire. Aku dengar ada banyak exhuman di antara murid Humphire, hanya saja mereka sudah sepenuhnya menjadi vampire tanpa darah manusia. Konon, vampire bisa mengenali darah dari aromanya. Dan mungkin karena itu para murid vampire sering melempari tatapan ‘freak’ padaku.


"Key? Apa yang kau lakukan di atas sini?", tanya Arion yang keluar dari pintu di atap.


Aku mengangkat buku yang kupegang, menunjukkannya pada Arion. "Kau sendiri?"


"Hm? Aku mencarimu"


Aku mengangkat sebelah alis. Mencariku? "Ada perlu apa?"


Arion tertawa pelan, rupanya dia hanya bercanda. "Tidak ada. Apa tidak boleh kalau aku cuma mau menemuimu? Kita ini kan teman"


Entah sejak kapan dan atas persetujuan siapa Arion mengatakan bahwa kami berteman. Tapi anehnya, aku tidak merasa keberatan.


"Mulai sekarang biarkan aku menemanimu menyendiri"


"Kau tidak perlu", ujarku yang tidak mengerti apa maksud Arion. Apa mungkin dia memiliki tujuan tersendiri?


Arion menggeleng. "Mana bisa aku membiarkanmu, seorang gadis itu tidak boleh sendirian, kau tahu?"


Aku tidak bisa menahan senyumku. Aneh juga ada yang mengatakan hal seperti itu padaku. Yah, Arion tidak tahu saja kalau aku sudah terbiasa sendirian. Aku bahkan menjelajah hutan seorang diri.


"Oh! Kau tersenyum! Tunggu, aku tidak sedang bercanda lo"


"Maaf, itu lucu. Soalnya aku sudah biasa pergi sendiri"


"Begitu ya" Arion mengangguk-angguk seolah paham. Lalu matanya menatapku lama, sebelum ia akhirnya berkata, "Kau tahu, kau terlihat lebih cantik saat tersenyum. Kuharap aku bisa melihatmu tersenyum terus"


Bola mataku membesar, kedua pipiku memanas. Sebuah perasaan aneh membuncah dalam dadaku. Aku mengalihkan mataku dari Arion dan melempar tatapanku kembali ke buku. "Hanya orang gila yang tersenyum terus"


Arion tertawa renyah padakomentar sinisku yang kurang sinis. Yah, kurasa pujian manis seperti yang dilontarkan Arion masih mempan juga meskipun pada gadis sepertiku. Untuk sesaat, hanya untuk sesaat aku nyaris lupa bahwa aku bukan gadis biasa seperti dulu lagi. Tubuhku perlahan-lahan berubah. Dan aku secara bertahap semakin menjadi vampire. Aku tidak bisa menghentikannya. Walaupun aku tidak meminum darah, seperti yang Zero


katakan, perubahanku tidak terelakkan.


Malam semakin larut. Suara-suara mulai senyap. Rumah ini jauh dari jalan raya besar yang dipadati kendaraan. Pun jauh dari hiruk pikuk orang-orang di tengah peradaban manusia sana. Hanya ada suara binatang dan berbagai macam serangga nokturnal yang hidup di dalam hutan tepat 5 meter di belakang rumah ini. Dan kelihatannya sebagian besar binatang malam pun sudah terlelap sekarang. Yah, tengah malam telah lama berlalu, malah kurasa hampir pagi sekarang. Aku memejamkan mata sejak jam 9 malam, berharap dapat tertidur walau semenit saja


malam ini. Aku benar-benar lelah. Kepalaku terasa berputar-putar sejak kemarin. Tapi aku tetap tidak bisa tidur sama sekali. Aku menyibakkan selimut yang kupakai untuk menutupi hingga kepalaku. Menengok melihat jam kecil di dinding. Jam 3.20. Mendesah pelan. Aku melirik Karen yang terlelap di sampingku. Tidurnya tampak nyenyak. Tampaknya Karen jauh lebih tegar dariku. Bahkan belakangan ini dia terlihat kembali ceria. Seperti dulu sebelum bakatnya membuatnya diselimuti ketakutan setiap saat. Karen sering melihat masa depan di mana orang lain terluka bahkan meninggal. Dia akan menangis dan  mengunci diri di kamar setelah memberitahu orang itu tapi tidak bisa mengubah masa depannya. Karen akan terus mengutuk dirinya dan berkata semua adalah kesalahannya.


Aku kembali menghela napas. Kurasa sekarang aku mengerti perasaan Karen waktu itu. Karen memberitahuku semua detail mimpinya tentang penyerangan vanBlood. Tapi apapun yang kami lakukan nasib kami tidak


berubah. Masa depan yang dilihat Karen benar-benar terjadi. Semua detail kejadian malam itu masih tergambar jelas di benakku, setiap detiknya. Ingatan itu terus meraung dan bergema memenuhi kepalaku setiap kali aku memejamkan mata. Sosok hitam yang berkelebat mengejar di belakang kami terasa begitu nyata, begitu dekat. Aku masih bisa merasakan saat jemari vampire yang panjang dan kurus menekan leherku. Aku meraba leherku yang entah mengapa terasa panas. Kurasa aku haus. Aku bangun dan duduk di ranjang. Menoleh menatap Karen yang masih tidur. Dia benar-benar lelap. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang lambat. Dan nadi di urat lehernya berdenyut bersamaan dengan detak jantungnya.


Duk duk duk duk... Tanpa sadar aku menelan ludah. Astaga! Sontak aku bangun dari temppat tidur, melangkah keluar kamar tanpa suara. Bergegas menuju kulkas di dapur dan meraih sebotol air putih. Aku menegak seluruh isinya sekali minum. Panas di kerongkonganku sedikit berkurang. Menghela napas, aku meraih helaian rambut di bagian atas dahiku, menjambaknya pelan. Kepalaku benar-benar terasa akan pecah. Apa yang baru saja terjadi? Ke mana tadi pikiranku pergi?! Jemari tanganku mulai gemetaran. Aku menggenggam rambutku lebih kuat lagi, berharap menghentikan gemetarannya. Kenapa kerongkonganku terasa kering saat aku mendengarkan denyut nadi Karen? Sejujurnya kurasa aku tahu jawaban pertanyaan itu. Aku mencoba menampiknya dari pikiranku dengan mengacak-acak rambutku. Ini gila! Ini tidak mungkin terjadi. Mungkin seharusnya aku tidak bersikeras tidur bersama Karen. Zero menyuruhku tidur di lantai dua untuk menjaga jarak dari manusia. Aku menolaknya tanpa pikir panjang. Tidak. Aku hanya ingin percaya bahwa aku akan baik-baik saja.


Samar-samar. Aku mendengar suara gitar. Dari lantai atas. Zero! Kenapa si bodoh itu bermain gitar malam-malam begini? Mendengarnya membuatku mengingat perkataannya yang menyebalkan. Yah, semua yang dikatakannya


selalu menyebalkan. Aku melangkah ke teras belakang. Angin dingin yang datang dari arah hutan menyapaku. Aku kembali menghela napas dalam. Terdiam seribu bahasa, melempar pandanganku jauh ke balik barusan pepohonan di bibir hutan. Mendengus pelan. Aneh sekali bagaimana aku bisa melihat dengan jelas beberapa baris pepohonan lain di balik kegelapan di dalam hutan sana. Tidak ada suara apapun selain gerakan kaki beberapa serangga dan binatang malam. Dan gumaman pelan suara Zero yang masih memainkan gitarnya.


"Mengkhawatirkan sesuatu?", tanya Shane yang tanpa kusadari sudah duduk di sampingku di teras belakang.


Aku menggeleng pelan. "Kau tidak tidur?"


"Aku baru bangun. Ini sudah pagi. Shine dan aku biasa bangun pagi untuk olahraga", ujar Shane.


Dia ikut melempar pandanganya juah ke dalam hutan. Tapi Shane nampak memikirkan sesuatu yang lain. Saat dia bicara aku jadi mengerti bahwa dia sedang memikirkan bahan pembicaraan kami.


"Karen dan kau sangat mirip ya. Hanya beda warna rambut dan mata"


Aku tersenyum mendengar ucapan Shane. "Kurasa lebih dari itu perbedaan kami" Aku melirik untuk melihat wajah Shane, yang sepertinya baru menelan ludah pelan-pelan. "Saat ini Karen mencoba menjadi dirinya yang dulu"


"Dulu?"


Aku mengagguk. "Saat bakatnya muncul setahun lalu, dia membatasi dirinya dan lebih murung. Dulu Karen benar-benar manis dan ceria, dia orang yang menyenangkan. Dia membuat semua orang menyayanginya"


"Dan bagaimana denganmu, dulu?"


"Entahlah. Aku yang dulu sudah mati"Aku menyeringai mendengar perkataanku sendiri.


Shane menoleh menatapku, terkejut dengan kata-kata yang barusan kulontarkan. Tapi begitulah kenyataannya. Aku tidak bisa mengingatnya, diriku yang dulu. Aku memang bukan orangyang manis seperti Karen. Tapi kurasa diriku yang sekarang juga bukan diriku yang dulu. Sekarang ini aku hanya seonggok daging yang bergerak dan bernapas tanpa jiwa. Rongga di dalam diriku kini hanya dipenuhi dengan ketakutan dan amarah. Benar. Mungkin aku memang sudah mati malam itu saat vanBlood meminum darahku. Aku hanya baru menyadarinya sekarang.


Shane menarik napas dalam. "Kau sangat kuat Key. Karena itu kau bisa bertahan. Aku yakin orang tuamu sependapat denganku"


"Tidak. Mereka hanya tidak tahu kalau aku juga ketakutan"


"Tapi kau selalu mencoba menjadi kuat untuk melindungi adikmu. Kurasa semua kakak memang begitu", ujar Shane. Kali ini aku yang menoleh menatapnya. Perkataanya barusan tampaknya tidak ditujukan padaku. "Shine cuma lebih tua 3 menit dariku. Tapi dia selalu bersikap sebagai kakakku. Waktu itu kau pernah bertanya kan, kenapa kami di sini, tinggal bersama vampire"


Aku mengangguk. Shine tidak memberitahukanku apapun saat kutanyakan padanya.


"Semuanya karena aku. Kami juga sepertimu yang membenci vampire. Saat orang tua kami masih hidup, Shine dan aku keberatan dengan kewajiban meneruskan tugas keluarga kami sebagai hunter. Kami mulai serius menjadi hunter setelah vampire membunuh orang tua kami. Dulu kami juga berpikir semua vampire itu monster tanpa hati.


Mereka harus dibunuh untuk kelangsungan hidup kita"


"Dulu? Lalu bagaimana kau bisa berubah pikiran?"


"Zero. Setelah mengenalnya, aku setuju bahwa mereka memang spesies yang berbeda dari manusia, tapi tidak semua dari mereka jahat" Shane menatap ke dalam kedua mataku.. "Awalnya aku sama sepertimu, tidak percaya. Dua tahun lalu aku terluka parah dari suatu pertarungan, dan saat itu Shine nekat meminta pertolongan dari vampire"