The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 7 Vampire Putih (part 2)



Bermodal percakapan malam itu, aku menghampiri Shine dan Shane yang sedang berolahraga


di halaman belakang rumah. Sekarang hari minggu, kami tidak berangkat ke


sekolah. Dan mereka berdua sedang tidak ada misi.


"Bisakah kau mengajariku?", tanyaku.


"Mengajari apa?", tanya Shine.


"Cara membunuh vampire"


Shine dan Shane bertukar pandangan sebentar, kemudian mereka nampak menghela napas nyaris bersamaan. Shine angkat bicara. "Zero memberitahu kami bahwa kau mungkin akan menanyakan hal ini. Dan jawaban kami


adalah tidak"


"Kau mencoba untuk bunuh diri, apa itu benar?", selidik Shane.


"Tunggu... Itu berbeda"


Shane tampak tidak percaya dan marah mendengarku yang tidak menyangkal pertanyaanya.


"Apanya yang beda?"


"Maksudku, aku tidak akan melakukannya lagi"


"Bagaimana kami bisa mempercayainya?" Shane masih tidak mempercayaiku.


"Aku sudah berjanji pada Karen. Dan aku harus membalaskan dendam orang tuaku. Atau aku


tidak akan bisa hidup tenang" Aku memasang wajah memelas semaksimal yang


bisa kulakukan. Well, aku sudah kehabisan akal bagaimana cara membujuk mereka.


"Bukankah kau bilang kau akan membantuku, Shane. Kau bilang kau mengerti


bagaimana perasaanku"


"Tapi Key...ini terlalu berbahaya", ujar Shane. "Aku tidak ingin kau


terluka. Serahkan dendamu padaku. Aku akan membunuhnya untukmu"


Shane tidak mau mengalah. Kurasa aku memang tidak bisa membujuk orang dengan wajah


memelas. Sial! Kupikir aku bisa membuat mereka membantuku. Tapi ini sia-sia.


Aku sudah siap untuk mengurungkan niatku saat Shane kembali bicara.


"Aku sungguh akan membalaskan dendamu. Percayalah padaku" Suaranya melunak,


mungkin dia menangkap kekecewaan di wajahku.


"Aku pikir kau memahamiku, bahwa aku harus membunuhnya dengan tanganku sendiri"


Shane menarik napas dalam, mendekat ke tempatku berdiri. Dia meraih pundakku dan


mencengkeramnya dengan pelan."Dengar Key, musuh kita adalah vampire. Tidak


seperti manusia, membunuh vampire sama sekali bukan hal mudah. Bahkan hunter


seperti kami bisa mati kapan saja"


Itu aku juga tahu. Tapi aku tidak peduli dengan hidupku. "Aku harus membunuhnya. Aku


bisa membunuhnya. Aku bisa bertarung!"


Kedua mata Shane membesar, tangannya turun dari pundakku seolah kehilangan tenaga.


Kurasa dia baru mengerti sekarang bahwa tidak ada yang bisa mengubah pikiranku.


"Kau bisa bertarung, katamu?", tanya Shine.


Aku mengagguk. Aku bisa. Ayah mengajariku bela diri sejak aku berumur 8tahun. Menurut Ayah kemampuan untuk


membela diri dan bertahan itu penting. Walau waktu itu aku tidak punya tujuan


khusus untuk mempelajarinya.


"Ok. Bagaimana jika kita bertaruh? Jika kau bisa menjatuhkan Shane maka kami akan


mengajarimu cara melawan vampire"


"Ok"


"Tunggu! Aku tidak bilang setuju", protes Shane. "Aku tidak bisa memukul


seorang gadis"


Shine mendengus. "Kalau begitu biar aku saja"


"Kau serius, Shine?!", tanya Shane tidak percaya.


Shine tidak merespon, dia hanya tersenyum dan mengangguk padaku. Memberi sinyal untuk


mulai. Ragu, tapi aku mulai berlari ke arah Shine, melancarkan


tendangan tinggi dengan kaki kananku. Shine menangkisnya dan memegangi kakiku. Aku tidak boleh memberinya waktu. Aku mengarahkantinjuku ke wajahnya. Shine menutupi


wajahnya dan menangkap tanganku.  Dan aku


memberinya pukulan di perut tanpa jeda sedetikpun. Shine tidak sempat


menangkisnya,  tubuhnya terlontar mundur


menyeberangi halaman belakang hingga menabrak dinding rumah. Shine mendarat


dengan posisi duduk, mengerang kesakitan. Sementara aku membeku di tempatku


berdiri. Terkejut dengan kekuatan pukulanku sendiri. Shane terlihat sama


terkejutnya denganku, dia pun tak bergeming.


"Apa kau bodoh?" Zero melompat turun dari atap. Dia dari pagi hanya tiduran di


atap rumah. "Kau bisa mati jika tidak waspada dengan serangannya"


Shine terbatuk, memegangi perutnya yang sakit dengan sebelah tangan. "Aku tidak


tahu dia bisa bertarung"


"Dia sudah mengatakannya" Zero mengulurkan tangannya, membantu Shine berdiri.


"Itu di luar dugaan" Shine kembali mengerang kesakitan saat bangkit berdiri.


"Dia seorang gadis"


"Dia bukan manusia"


Perkataan Zero menamparku dan aku terhenyak kembali kepada kenyataan. Aku mengikuti Shane


yang berlari menghampiri Shine.


"Maaf", ujarku dengan bibir kelu.


Shane membantu Shine berdiri, seolah tidak rela peran itu diambil Zero. "Astaga!


Tadi itu mengejutkan. Kau baik-baik saja, Shine?"


"Yeah, sepertinya" Shine terbatuk lagi. Darah keluar saat ia terbatuk.


Aku menutup hidungku begitu bau darah nenyentuh udara. Sebuah sensasi mengeram


muncul dari balik paru-paruku. Sial! Aku benar-benar menginginkannya.


"Dia tidak baik-baik saja", kata Zero.“Kurasa rusuknya patah”


Shane membantu Shine berjalan masuk ke rumah. Zero mengikuti di belakangnya. Karen


terlihat berlari ke arah mereka, tapi dia menghampiriku. Kekhawatiran memenuhi


mata birunya yang indah.


"Kakak tidak apa-apa?"


Aku mengangguk pelan, berjalan masuk ke dalam rumah. Karen menggandeng tanganku, ia


berbisik pelan minta maaf karena dia tidak melihatnya. Yah, Karen juga tidak


bisa selalu mendapat penglihatan masa depan. Kami mengikuti Shane dan Zero yang


mengantar Shine ke ruang tamu, membiarkannya berbaringdi atas sofa. Zero


berjongkok di depannya, meraba bagian perut Shine yang terkena pukulanku. Seperti


biasa, wajahnya tidak menunjukkan perubahan ekspresi. Lalu ia mengeluarkan


ponsel dari saku celananya, menelpon seseorang.


"Kak Shine akan baik-baik saja", kata Karen mencoba menenangkanku.


Zero melenggang pergi menuju garasi begitu menutup telepon. Shane tengah


mengambilkan air minum untuk Shine saat seseorang melenggang masuk dari pintu


"Apa yang terjadi di sini?", tanya Arion yang menyadari situasi panik kami.


"Kak Shine terluka karena latihan", ujar Karen singkat. Sekali lagi,


kemampuannya menyembunyikan fakta tentangku masih membuatku terkejut.


"Aku memukulnya"


Aku tahu Karen langsung menoleh padaku dengan mata marah


melotot. Arion tampak terkejut tapi tidak mengatakan apa-apa.


Dia memperhatikan Shine dan Shane sebentar, lantas mencari orang lain yang


tidak dilihatnya di sini.


"Apa Zero mencari bantuan?"


"Sepertinya. Dia bicara ditelepon akan menjemput seseorang"


"Begitu", gumam Arion. "Kau tidak perlu khawatir, Key. Tidak akan ada masalah"


Sekitar 20 menit kemudian, Zero kembali bersama seorang gadis berambut putih lurus


sepanjang pinggul. Gadis itu tampak seumuranku, kulitnya pucat nyaris seputih


rambutnya, wajahnya tirus dengan tulang pipi yang indah. Dia nyaris tampak


seperti patung pahatan yang sangat elegan. Shane dan bahkan Shine yang terluka


menatapnya dengan mulut terbuka. Aku dapat melihat shadow menyerupai merpati


putih di belakangnya. Dia seorang vampire!


Arion melambaikan tangannya, gadis itu tampak terkejut melihat Arion. "Lama


tidak bertemu, Efterpi"


Efterpi mengalihkan tatapannya dari Arion ke Zero yang tidak memberikan respon. Dia


lantas tersenyum ke Arion. "Aku tidak menyangka kau di sini, Arion"


Arion mengeluarkan tawa pendek. Ia lalu menghampiri Zero yang berdiri di dekat


dinding. Sementara itu Efterpi memeriksa Shine yang terluka. Kelihatannya


memang butuh beberapa detik yang panjang bagi Shane dan Shine untuk tersadar


dari pesona Efterpi.


"Bisa buka bajumu?", tanya Efterpi pada Shine.


Shine tampak malu-malu, tapi tangannya bergerak membuka bajunya. Efterpi mendekatkan


tangan kanannya ke perut Shine yang terluka tapi tidak menyentuhnya. Dari


tangannya keluar sinar putih yang sangat terang. Sinar itu masuk ke dalam tubuh


Shine dan perlahan tapi pasti luka di perutnya tampak menghilang. Aku


mengeluarkan napas yang tanpa


sadar kutahan begitu Efterpi selesai menyembuhkan Shine. Tidak bisa mempercayai


apa yang baru kulihat. Vampire bernama Efterpi itu bisa menyembuhkan luka!


"Terimakasih banyak. Lagi-lagi kami merepotkanmu", ujar Shine.


"Tidak apa. Aku senang bisa membantu"


Aku mendengar helaan napas di sampingku. Karen. Dia tidak terlalu terkejut dengan


kedatangan Efterpi. Mungkinkah Karen sudah mengetahui tentang Efterpi? Benar


juga, Karen mungkin sudah melihat banyak hal yang tidak kuketahui. Tapi anehnya


dia tidak mengatakan apapun padaku.


Setelah menerima ucapan terimakasih Shane, Efterpi menghampiri Zero dan Arion. Mereka


kelihatannya hendak membicarakan sesuatu. Tapi Zero menghentikan Arion yang


mulai membuka topik.


"Tunggu sebentar. Kita bicara di atas"


Arion mendengus pelan, tampak kesal tapi dia mengikuti Zero ke lantai atas. Efterpi


juga ikut di belakang mereka. Karen menghampiri Shine menanyakan kondisinya.


Dia sedikit protes pada Shine yang tadi tersipu saat Efterpi menyuruhnya


membuka baju.


"Apa-apaan tadi itu? Kakak kan tidak perlu malu begitu. Kakak pasti memikirkan hal lain


kan?"


"Bu-bukan begitu", ujar Shine salah tingkah. "I-itu wajar kan, habis aku juga


laki-laki"


"Padahal aku pikir kakak berbeda.."


Aku berjalan ke halaman belakang, menutup pintu di belakang punggungku. Angin malam


yang dingin menyambutku. Kurasa aku perlu mengosongkan pikiran sebentar. Aku


meraih tas Shane yang berisi pisau-pisau kecil, melemparkannya ke papan target


di seberang lain halaman. Mencoba memfokuskan pikiranku hanya pada pisau di


tangan dan papan target. Tidak terlalu berhasil, aku masih mendengar obrolan


Karen dan Shine. Dan juga pembicaraan di lantai 2, di kamar Zero. Arion


mengatakan bahwa ibunya Zero mengkhawatirkannya. Dia mencoba mengajaknya


kembali pulang.


"Aku lebih khawatir dengan ayahmu. Beliau sama sekali tidak menunjukkan reaksi,


seolah tidak menganggapmu lagi", ujar Efterpi. "Belakangan aku


melihat Lucas mendekatinya"


"Bukan cuma mendekatimu?", tanya Zero.


Tidak ada respon. Alih-alih merespon Efterpi justru mengubah topik. "Arion


berhak mendapat penjelasan darimu"


"Aku tidak perlu menjelaskan apapun" Zero sepertinya tetap tak acuh.


"Aku mempercayaimu, apapun yang terjadi. Maaf karena waktu itu aku..."


Zero memotong perkataan Arion, "Lupakan, Arion. Kau tidak perlu terlibat"


"Vermillon", kata Efterpi lirih  seolah ia ragu untuk


mengatakannya.


"Efterpi!" Zero menaikkan suaranya.


"Setidaknya, Arion berhak mengetahuinya. Begitu juga Zane"


Ada keheningan yang terasa tegang sesaat. Zero dan Efterpi tidak mengatakan apapun.


Arion menggumamkan kata 'vermillon' beberapa kali, kemudian dengan napas


tertahan dia berseru lirih, "Jangan-jangan!"


"Sudah puas sekarang?", tanya Zero kesal.


"Pergilah"


Suara


Zero terdengar lebih ketus daripada biasanya. Dia benar-benar tidak


mempedulikan perasaan Arion ataupun Efterpi yang mengkhawatirkannya. Aku heran


kenapa mereka masih mau berteman dengan Zero. Well, bukan urusanku sih.


Setidaknya sekarang mereka sudah selesai, Arion dan Efterpi menuju ke lantai


satu dan pamit pulang. Aku mendesah pelan, mungkin sebaiknya aku mencoba tidur,


pisaunya juga sudah habis.


***