
Bermodal percakapan malam itu, aku menghampiri Shine dan Shane yang sedang berolahraga
di halaman belakang rumah. Sekarang hari minggu, kami tidak berangkat ke
sekolah. Dan mereka berdua sedang tidak ada misi.
"Bisakah kau mengajariku?", tanyaku.
"Mengajari apa?", tanya Shine.
"Cara membunuh vampire"
Shine dan Shane bertukar pandangan sebentar, kemudian mereka nampak menghela napas nyaris bersamaan. Shine angkat bicara. "Zero memberitahu kami bahwa kau mungkin akan menanyakan hal ini. Dan jawaban kami
adalah tidak"
"Kau mencoba untuk bunuh diri, apa itu benar?", selidik Shane.
"Tunggu... Itu berbeda"
Shane tampak tidak percaya dan marah mendengarku yang tidak menyangkal pertanyaanya.
"Apanya yang beda?"
"Maksudku, aku tidak akan melakukannya lagi"
"Bagaimana kami bisa mempercayainya?" Shane masih tidak mempercayaiku.
"Aku sudah berjanji pada Karen. Dan aku harus membalaskan dendam orang tuaku. Atau aku
tidak akan bisa hidup tenang" Aku memasang wajah memelas semaksimal yang
bisa kulakukan. Well, aku sudah kehabisan akal bagaimana cara membujuk mereka.
"Bukankah kau bilang kau akan membantuku, Shane. Kau bilang kau mengerti
bagaimana perasaanku"
"Tapi Key...ini terlalu berbahaya", ujar Shane. "Aku tidak ingin kau
terluka. Serahkan dendamu padaku. Aku akan membunuhnya untukmu"
Shane tidak mau mengalah. Kurasa aku memang tidak bisa membujuk orang dengan wajah
memelas. Sial! Kupikir aku bisa membuat mereka membantuku. Tapi ini sia-sia.
Aku sudah siap untuk mengurungkan niatku saat Shane kembali bicara.
"Aku sungguh akan membalaskan dendamu. Percayalah padaku" Suaranya melunak,
mungkin dia menangkap kekecewaan di wajahku.
"Aku pikir kau memahamiku, bahwa aku harus membunuhnya dengan tanganku sendiri"
Shane menarik napas dalam, mendekat ke tempatku berdiri. Dia meraih pundakku dan
mencengkeramnya dengan pelan."Dengar Key, musuh kita adalah vampire. Tidak
seperti manusia, membunuh vampire sama sekali bukan hal mudah. Bahkan hunter
seperti kami bisa mati kapan saja"
Itu aku juga tahu. Tapi aku tidak peduli dengan hidupku. "Aku harus membunuhnya. Aku
bisa membunuhnya. Aku bisa bertarung!"
Kedua mata Shane membesar, tangannya turun dari pundakku seolah kehilangan tenaga.
Kurasa dia baru mengerti sekarang bahwa tidak ada yang bisa mengubah pikiranku.
"Kau bisa bertarung, katamu?", tanya Shine.
Aku mengagguk. Aku bisa. Ayah mengajariku bela diri sejak aku berumur 8tahun. Menurut Ayah kemampuan untuk
membela diri dan bertahan itu penting. Walau waktu itu aku tidak punya tujuan
khusus untuk mempelajarinya.
"Ok. Bagaimana jika kita bertaruh? Jika kau bisa menjatuhkan Shane maka kami akan
mengajarimu cara melawan vampire"
"Ok"
"Tunggu! Aku tidak bilang setuju", protes Shane. "Aku tidak bisa memukul
seorang gadis"
Shine mendengus. "Kalau begitu biar aku saja"
"Kau serius, Shine?!", tanya Shane tidak percaya.
Shine tidak merespon, dia hanya tersenyum dan mengangguk padaku. Memberi sinyal untuk
mulai. Ragu, tapi aku mulai berlari ke arah Shine, melancarkan
tendangan tinggi dengan kaki kananku. Shine menangkisnya dan memegangi kakiku. Aku tidak boleh memberinya waktu. Aku mengarahkantinjuku ke wajahnya. Shine menutupi
wajahnya dan menangkap tanganku. Dan aku
memberinya pukulan di perut tanpa jeda sedetikpun. Shine tidak sempat
menangkisnya, tubuhnya terlontar mundur
menyeberangi halaman belakang hingga menabrak dinding rumah. Shine mendarat
dengan posisi duduk, mengerang kesakitan. Sementara aku membeku di tempatku
berdiri. Terkejut dengan kekuatan pukulanku sendiri. Shane terlihat sama
terkejutnya denganku, dia pun tak bergeming.
"Apa kau bodoh?" Zero melompat turun dari atap. Dia dari pagi hanya tiduran di
atap rumah. "Kau bisa mati jika tidak waspada dengan serangannya"
Shine terbatuk, memegangi perutnya yang sakit dengan sebelah tangan. "Aku tidak
tahu dia bisa bertarung"
"Dia sudah mengatakannya" Zero mengulurkan tangannya, membantu Shine berdiri.
"Itu di luar dugaan" Shine kembali mengerang kesakitan saat bangkit berdiri.
"Dia seorang gadis"
"Dia bukan manusia"
Perkataan Zero menamparku dan aku terhenyak kembali kepada kenyataan. Aku mengikuti Shane
yang berlari menghampiri Shine.
"Maaf", ujarku dengan bibir kelu.
Shane membantu Shine berdiri, seolah tidak rela peran itu diambil Zero. "Astaga!
Tadi itu mengejutkan. Kau baik-baik saja, Shine?"
"Yeah, sepertinya" Shine terbatuk lagi. Darah keluar saat ia terbatuk.
Aku menutup hidungku begitu bau darah nenyentuh udara. Sebuah sensasi mengeram
muncul dari balik paru-paruku. Sial! Aku benar-benar menginginkannya.
"Dia tidak baik-baik saja", kata Zero.“Kurasa rusuknya patah”
Shane membantu Shine berjalan masuk ke rumah. Zero mengikuti di belakangnya. Karen
terlihat berlari ke arah mereka, tapi dia menghampiriku. Kekhawatiran memenuhi
mata birunya yang indah.
"Kakak tidak apa-apa?"
Aku mengangguk pelan, berjalan masuk ke dalam rumah. Karen menggandeng tanganku, ia
berbisik pelan minta maaf karena dia tidak melihatnya. Yah, Karen juga tidak
bisa selalu mendapat penglihatan masa depan. Kami mengikuti Shane dan Zero yang
mengantar Shine ke ruang tamu, membiarkannya berbaringdi atas sofa. Zero
berjongkok di depannya, meraba bagian perut Shine yang terkena pukulanku. Seperti
biasa, wajahnya tidak menunjukkan perubahan ekspresi. Lalu ia mengeluarkan
ponsel dari saku celananya, menelpon seseorang.
"Kak Shine akan baik-baik saja", kata Karen mencoba menenangkanku.
Zero melenggang pergi menuju garasi begitu menutup telepon. Shane tengah
mengambilkan air minum untuk Shine saat seseorang melenggang masuk dari pintu
"Apa yang terjadi di sini?", tanya Arion yang menyadari situasi panik kami.
"Kak Shine terluka karena latihan", ujar Karen singkat. Sekali lagi,
kemampuannya menyembunyikan fakta tentangku masih membuatku terkejut.
"Aku memukulnya"
Aku tahu Karen langsung menoleh padaku dengan mata marah
melotot. Arion tampak terkejut tapi tidak mengatakan apa-apa.
Dia memperhatikan Shine dan Shane sebentar, lantas mencari orang lain yang
tidak dilihatnya di sini.
"Apa Zero mencari bantuan?"
"Sepertinya. Dia bicara ditelepon akan menjemput seseorang"
"Begitu", gumam Arion. "Kau tidak perlu khawatir, Key. Tidak akan ada masalah"
Sekitar 20 menit kemudian, Zero kembali bersama seorang gadis berambut putih lurus
sepanjang pinggul. Gadis itu tampak seumuranku, kulitnya pucat nyaris seputih
rambutnya, wajahnya tirus dengan tulang pipi yang indah. Dia nyaris tampak
seperti patung pahatan yang sangat elegan. Shane dan bahkan Shine yang terluka
menatapnya dengan mulut terbuka. Aku dapat melihat shadow menyerupai merpati
putih di belakangnya. Dia seorang vampire!
Arion melambaikan tangannya, gadis itu tampak terkejut melihat Arion. "Lama
tidak bertemu, Efterpi"
Efterpi mengalihkan tatapannya dari Arion ke Zero yang tidak memberikan respon. Dia
lantas tersenyum ke Arion. "Aku tidak menyangka kau di sini, Arion"
Arion mengeluarkan tawa pendek. Ia lalu menghampiri Zero yang berdiri di dekat
dinding. Sementara itu Efterpi memeriksa Shine yang terluka. Kelihatannya
memang butuh beberapa detik yang panjang bagi Shane dan Shine untuk tersadar
dari pesona Efterpi.
"Bisa buka bajumu?", tanya Efterpi pada Shine.
Shine tampak malu-malu, tapi tangannya bergerak membuka bajunya. Efterpi mendekatkan
tangan kanannya ke perut Shine yang terluka tapi tidak menyentuhnya. Dari
tangannya keluar sinar putih yang sangat terang. Sinar itu masuk ke dalam tubuh
Shine dan perlahan tapi pasti luka di perutnya tampak menghilang. Aku
mengeluarkan napas yang tanpa
sadar kutahan begitu Efterpi selesai menyembuhkan Shine. Tidak bisa mempercayai
apa yang baru kulihat. Vampire bernama Efterpi itu bisa menyembuhkan luka!
"Terimakasih banyak. Lagi-lagi kami merepotkanmu", ujar Shine.
"Tidak apa. Aku senang bisa membantu"
Aku mendengar helaan napas di sampingku. Karen. Dia tidak terlalu terkejut dengan
kedatangan Efterpi. Mungkinkah Karen sudah mengetahui tentang Efterpi? Benar
juga, Karen mungkin sudah melihat banyak hal yang tidak kuketahui. Tapi anehnya
dia tidak mengatakan apapun padaku.
Setelah menerima ucapan terimakasih Shane, Efterpi menghampiri Zero dan Arion. Mereka
kelihatannya hendak membicarakan sesuatu. Tapi Zero menghentikan Arion yang
mulai membuka topik.
"Tunggu sebentar. Kita bicara di atas"
Arion mendengus pelan, tampak kesal tapi dia mengikuti Zero ke lantai atas. Efterpi
juga ikut di belakang mereka. Karen menghampiri Shine menanyakan kondisinya.
Dia sedikit protes pada Shine yang tadi tersipu saat Efterpi menyuruhnya
membuka baju.
"Apa-apaan tadi itu? Kakak kan tidak perlu malu begitu. Kakak pasti memikirkan hal lain
kan?"
"Bu-bukan begitu", ujar Shine salah tingkah. "I-itu wajar kan, habis aku juga
laki-laki"
"Padahal aku pikir kakak berbeda.."
Aku berjalan ke halaman belakang, menutup pintu di belakang punggungku. Angin malam
yang dingin menyambutku. Kurasa aku perlu mengosongkan pikiran sebentar. Aku
meraih tas Shane yang berisi pisau-pisau kecil, melemparkannya ke papan target
di seberang lain halaman. Mencoba memfokuskan pikiranku hanya pada pisau di
tangan dan papan target. Tidak terlalu berhasil, aku masih mendengar obrolan
Karen dan Shine. Dan juga pembicaraan di lantai 2, di kamar Zero. Arion
mengatakan bahwa ibunya Zero mengkhawatirkannya. Dia mencoba mengajaknya
kembali pulang.
"Aku lebih khawatir dengan ayahmu. Beliau sama sekali tidak menunjukkan reaksi,
seolah tidak menganggapmu lagi", ujar Efterpi. "Belakangan aku
melihat Lucas mendekatinya"
"Bukan cuma mendekatimu?", tanya Zero.
Tidak ada respon. Alih-alih merespon Efterpi justru mengubah topik. "Arion
berhak mendapat penjelasan darimu"
"Aku tidak perlu menjelaskan apapun" Zero sepertinya tetap tak acuh.
"Aku mempercayaimu, apapun yang terjadi. Maaf karena waktu itu aku..."
Zero memotong perkataan Arion, "Lupakan, Arion. Kau tidak perlu terlibat"
"Vermillon", kata Efterpi lirih seolah ia ragu untuk
mengatakannya.
"Efterpi!" Zero menaikkan suaranya.
"Setidaknya, Arion berhak mengetahuinya. Begitu juga Zane"
Ada keheningan yang terasa tegang sesaat. Zero dan Efterpi tidak mengatakan apapun.
Arion menggumamkan kata 'vermillon' beberapa kali, kemudian dengan napas
tertahan dia berseru lirih, "Jangan-jangan!"
"Sudah puas sekarang?", tanya Zero kesal.
"Pergilah"
Suara
Zero terdengar lebih ketus daripada biasanya. Dia benar-benar tidak
mempedulikan perasaan Arion ataupun Efterpi yang mengkhawatirkannya. Aku heran
kenapa mereka masih mau berteman dengan Zero. Well, bukan urusanku sih.
Setidaknya sekarang mereka sudah selesai, Arion dan Efterpi menuju ke lantai
satu dan pamit pulang. Aku mendesah pelan, mungkin sebaiknya aku mencoba tidur,
pisaunya juga sudah habis.
***