The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 16 Amarah dan Emosi



"Pergi! Biarkan aku sendiri!!", seruku lebih seperti membentak. Bergegas menjauh.


Masuk ke dalam hutan. Aku harus menjernihkan kepalaku sebentar. Sebentar saja,


jauh dari siapapun. Jauh dari darah. Aku menghempas diriku duduk di tepian


sungai, cukup jauh di dalam hutan. Menyebalkan! Ini benar-benar menyebalkan!!


Meski aku berkata bahwa aku akan bertahan tanpa berubah menjadi monster,


sejujurnya aku tidak yakin lagi. Entah berapa lama lagi aku bisa bertahan


seperti ini. Tubuhku benar-benar sakit setengah mati. Dan entah berapa lama


lagi aku bisa mempertahankan kesadaran dan pikiranku yang belakangan mulai


memudar.


Sudah sebulan belakangan kondisiku semakindrop seperti ini. Aku tahu waktuku tidak banyak lagi, jadi aku kembali menanyakan hasil penyelidikan jejak vanBlood. Tapi organisasi hunter masih


belum menemukan lokasi vampire itu. Dan Zero mengajukan usul, menurutnya ia


bisa meminta bantuan temannya.


"Hanya butuh beberapa hari. Tapi sebelum itu, kau harus menegak segelas darah"


"Apa??!!"


"Aku serius. Kau tidak bisa apa-apa dengan kondisi seperti itu. Kau hanya akan


menjadi penghalang, Key"


"Zero..!" Shane hendak menimpali tapi Zero tidak berhenti bicara.


"Apa? Kau mau membelanya? Kalian tahu apa yang kukatakan benar, kenapa tidak ada yang


mengatakannya. Vampire yang akan kita hadapi adalah seorang pureblood. Kalian


hunter juga mengerti seberapa kuatnya pureblood. Tidak peduli kalauKey memilki kemampuan yang hebat


bagi seorang ex-human, melawan seorang pureblood dengan pengalaman bertarung


selama ratusan tahun, dia tidak punya harapan menang" Zero kembali menatap


ke dalam mataku. "Misi ini sama saja dengan bunuh diri"


"Aku tidak peduli! Berhenti memcampuri urusanku"


"Aku mencoba membantu! Sekarang giliranmu, jika kau masih bersikeras untuk membalas


dendam maka kau harus menjinakkan dahagamu itu. Atau urungkan saja niatmu"


"Kau gila?! Mana mungkin aku mengurungkannya!"


"Sebagai ganti, aku akan membalaskan


dendam itu untukmu"


Kedua mataku membesar, tak percaya dengan pendengaranku sendiri. "Kenapa?!


Kenapa kau terus ikut campur?!! Aku akan membunuhnya dengan tanganku


sendiri!!"


"Kau tidak bisa, serahkan padaku.."


"Dengar, Zero, aku pasti akan membunuhnya dengan tangan ini! Dan aku tidak butuh bantuan


dari vampire sepertimu!!"


Aku menyeruak keluar, membanting pintu di belakang


punggungku. Membiarkan kakiku membawaku berlari ke dalam hutan. Aku berhenti di


bawah naungan pohohn di tepi sebuah sungai kecil. Menatap bayanganku di


permukaan sungai yang beriak. Sudah lama aku tidak melihat diriku sendiri. Aku


nyaris melupakan bagaimana rupaku. Aku pun duduk di atas rumput tipis, menghela


napas. Mencoba merasakan energi damai yang selalu kudapat dari hutan.


"Kakak...kau tidak apa-apa?"


Aku mengangkat wajah, menoleh menatap Karen yang sudah berdiri di belakangku.


Tersenyum kecil. Aku harap aku bisa menjawab bahwa aku baik-baik saja, tapi


sepertinya tidak bisa lagi.


Karen duduk di sampingku di atas rerumputan. "Aku..."


"Kau mau mengatakan hal yang sama"


Karen tidak mengangguk, tapi tidak pula mengelak. "Aku tahu aku tidak berhak


mengatakannya, kakak menjadi seperti ini karena aku"


"Sudah kubilang ini bukan salahmu"


"Tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa kakak mengalami semua ini demi melindungiku!


Kenapa...kenapa kakak mengorbankan hidup kakak demi aku? Bahkan


sekarang.." Mata Karen tampak memerah dan air mata mulai menggenang di


pelupuk matanya. "Aku tidak menginginkan hal ini, kak. Aku tidak ingin kau


mati. Tidak demi aku dan tidak demi dendam"


"Dengar, Karen..."


"Tidak, dengarkan aku!" Karen tidak membiarkanku mengalihkan topik. "Aku akan


menjadi lebih kuat diorganisasi hunter. Aku akan menjadi kuat untuk melindungi diriku sendiri.


Karena itu..kakak mulai sekarang harus hidup untuk diri kakak sendiri"


Karen meraih tanganku. "Kumohon...tetaplah hidup. Tidak peduli apakah


kakak menjadi vampire ataupun monster. Kakak akan selalu menjadi kakakku"


Air mataku menggelinding menuruni pipi. Ah..aku mengerti perasaan Karen. Tapi


meskipun begitu, aku tidak mau menjadi monster penghisap darah. Aku tidak bisa


hidup seperti itu.Aku tidak


mau. Kupikir dalam hal ini Karen adalah yang paling memahamiku. tapi


sepertinya, Shane lebih mengerti. Dia hanya sekali membahas masalah ini


denganku. Shane tahu betul kenapa aku tidak mau menjadi penghisap darah. Dia


bahkan berjanji akan membantuku. Tapi seseorang tampaknya tidak setuju dengan


tindakan Shane. Dia memulai lagi pertengkaran yang sama saat yang sebelumnya


baru mereda.


"Kalian memanjakannya dengan bersikap seolah dia


manusia. Jangan lupa bahaya apa yang bisa terjadi jika dia terus hanyut dalam


mimpi dan menolak rasa hausnya..."


"Cukup!", seruku menghentikan ocehan Zero.


"Aku tidak lupa, jadi berhentilah bicara seolah kau tahu semuanya!"


"Aku tidak akan membuang tenagaku dengan mengulang


kata-kata yang sama kalau saja kau..."


"Aku tidak akan melakukannya! Sampai kapanpun kau


menyuruhku meminum darah, aku tidak akan melakukannya!!" Tanpa sadar aku


berteriak. Biar saja. Aku tidak peduli. Aku mengendus kesal dan berbalik pergi.


Tidak masalah walau tak punya tempat tujuan, selama aku bisa menjauh dari


vampire menyebalkan yang suka mengatur bernama Zero. Aku tidak tahan lagi


denganya. Shane memanggilku berkali-kali tapi aku tidak akan kembali ke sana.


Aku mulai berlari secepat yang kubisa. Aku berhenti ketika sudah cukup jauh.


Lariku terlalu kencang untuk ukuran manusia. Lagi-lagi hanya membuatku teringat


kenyataan bahwa aku mulai kehilangan sisi manusia dalam diriku. Menyebalkan.


Rupanya langit tidak berpihak padaku. Guntur menggelegar


di atas kota. Entah dari mana datangnya kawanan mendung yang menggulung itu,


tahu-tahu langit sudah dipenuhi warna kelabu. Tidak perlu berganti menit untuk


hujan jatuh ke bumi. Tetes-tetes air menimpa rambutku, aku mulai berlari kecil


ke salah satu halte bus. Padahal tadi pagi ramalan cuaca hari ini tidak turun


hujan. Aku basah kuyup meski baru kehujanan kurang dari 5 menit. Halte bus itu


kosong. Tidak ada orang sama sekali. Aku berdiri sendirian di sana. Tapi tidak


berselang lama seorang anak laki-laki berusia 10an tahun berlari ke arah halte.


Aneh, langkah kakinya terlihat janggal. Aku memperhatikan kakinya saat ia


mendekat. Rupanya dia terluka. Mungkin baru jatuh terpeleset. Noda lumpur


terlihat di celana dan bajunya. Dan...aku mencium bau kental amis yang


familiar. Darah!


'Minum itu! Bukankah kau haus? Dia cuma anak kecil. Mudah saja meminumnya.'


Siapa yang berbicara? Suara itu... dari dalam kepalaku?!


Tidak. Aku tidak akan melakukanya!


Aneh! Tubuhku tidak bergerak menurut kemauanku. Kakiku


aku...aku menyeringai!


"Kakak!", seru Karen. Sebuah bus baru berhenti,


Karen menyeruak keluar begitu pintu terbuka, berlari memelukku.


Sial! Aku tidak bisa berhenti!


Karen berbalik ke arah anak kecil itu, menuntunya menjauh


dariku. Karen memberikan payungnya pada anak itu sehingga dia bisa pulang. Aku


harus segera mengendalikan diriku, jika tidak aku pasti akan mengejar anak


kecil itu. Aku merapatkan gigi dan membenamkan kuku jari tangan ke bawah kulit


pahaku. Darah mengucur deras dari lukaku. Sensasi perih mulai muncul. Dan


perlahan aku mendapatkan kembali kendali atas tubuhku.


"Astaga! Apa yang kakak lakukan?", seru Karen


begitu berbalik dan melihat darah bercucuran dari pahaku.


"Ini bukan masalah" Aku tersenyum menenangkan


Karen, teringat kemampuan ludah vampire. Aku duduk di lantai halte, mulai


menjilat darah yang keluar dari lukaku. Anehnya lukaku tidak terlihat menutup


kembali sama sekali.


"Bodoh...", gumam suara yang paling tidak ingin


kudengar saat ini. Zero sudah berdiri di belakangku, basah kuyup. "Kau


belum menjadi vampire sepenuhnya, jadi ludahmu tidak bisa menutup luka. Biar


aku..."


"Jangan mendekat, Zero! Aku tidak perlu bantuanmu!


Jangan menyentuhku!!"


Zero menghentikan langkahnya, membeku di tempat. Dia mungkin


terkejut atau terluka dengan kata-kataku, tapi aku sama sekali tidak peduli.


Masa bodoh.


"Kak, kita harus melakukan sesuatu dengan luka


itu", kata Karen, mencoba membujukku.


Lupakan! Aku tidak butuh bantuan Zero. Aku melepas


sweater ku dan mengikatkannya di pahaku yang terluka, menghentikan darahku


terus mengucur.


"Key, aku janji aku tidak akan meminum darahmu, jika


itu yang kau khawatirkan. Jadi biarkan aku..."


"Tidak. Bukan itu. Aku benci kau! Aku tidak mau kau


menyentuhku!" Aku bangkit berdiri. Pahaku terasa kebas. Cukup banyak


darahku keluar tadi. Tapi aku tidak punya waktu untuk mengkhawatirkanya.


"Aku tidak apa-apa sekarang. Karen, kau bisa panggil taksi?"


Karen hanya mengangguk. Rupanya dia memutuskan untuk diam


dan menahan dirinya. Aku yakin dia ingin membujukku untuk menerima bantuan


Zero. Tapi dia tahu lebih dari siapapun bahwa itu percuma.


Ketika sampai di rumah, Shine dan Shane kaget melihat balutan


sewater di kakiku. Karen berbaik hati menceritakan apa yang terjadi pada


mereka. Rupanya dia sudah melihat kejadian tadi beberapa saat sebelumnya.


Karena itu dia langsung naik bus ke halte tempatku berada, untuk


menghentikanku. Jika tadi Karen tidak datang tepat waktu mungkin saja aku benar-benar


sudah menghisap darah anak kecil itu.


"..Tapi apa maksudnya kau tidak bisa mengendalikan


tubuhmu?", tanya Shane.


"Aku juga tidak tahu. Ini seperti waktu itu” Aku


teringat waktu aku kehilangan kesadaran dan berakhir di ruang isolasi karena


menyerang seorang murid manusia. “Sebuah suara muncul di dalam kepalaku dan


tubuhku bergerak berlawanan dengan kehendakku"


"Seseorang mengendalikanmu? Mungkinkah...?",


timpal Shine.


"VanBlood" Seperti biasa Zero mendadak muncul


entah darimana dan menimpali percakapan. Bajunya masih terlihat basah.


"Dia menggunakan darahnya yang ada di dalam tubuh Key"


"Tapi, bagaimana bisa?", tanya Shine.


"Salah satu kemampuan pureblood adalah darah mereka


sendiri. Darah pureblood adalah milik pureblood, tidak peduli di mana darah itu


berada. Karena itu dia bisa mengendalikannya"


Napas Karen tertahan mendengar penjelasan Zero.


"Tidak mungkin..."


"Hal ini akhirnya terjadi, kita tidak bisa


membiarkannya berlangsung lama-lama, tutur Zero. "Hunter masih belum bisa


menemukan lokasinya?"


Shine menggeleng. "Maaf.." Sepertinya mereka


terlalu sibuk dengan madvampire dan isu kembalinya pengeran yang hilang.


"Aku akan meminta bantuan temanku. Kita bisa


menemukannya lebih cepat"


"Syukurlah kalau begitu", kata Shine, mencoba


menurunkan ketegangan.


Shane melemparkan tatapanya padaku. "Ngomong-ngomong


kita perlu melakukan sesuatu dengan kakimu. Seorang gadis tidak boleh memiliki


bekas luka, kan?"


"Aku tidak masalah dengan ini", ujarku tidak


peduli.


"Kenapa kau tidak membantunya, Zero?", celetuk


Shine.


Shane melemparkan tatapan yang tak kumengerti pada Zero.Tanpa


menggubris Shane, Zero melangkah ke arahku, tapi dia hanya menyerahkan


bungkusan plastik yang dikeluarkannya dari saku jaketnya pada Karen. Lalu dia


berbalik ke tangga tanpa sepatah kata. Dia marah.


"Eh? Ada apa dengannya?", tanya Shine bingung.


Karen membuka bungkusan plastik di tangannya,


mengeluarkan botol desinfektan, obat luka, dan sebuah salep penghilang bekas


luka. Sebuah senyum tampak terkembang di wajah Karen. "Kak Shine, kakakku


yang keras kepala ini tidak mau menerima bantuan kak Zero. Dia pasti marah"


"Kenapa begitu? Eh, apa itu obat? Jangan bilang dia


repot-repot membelinya. Dia kan bisa mengobati dengan air ludahnya..."


Karen dan Shine mulai memperdebatkan tingkahku seolah aku


tidak sedang duduk di depan mereka. Astaga apa yang merasuki Karen? Dia


benar-benar mencoba kembali menjadi dirinya yang dulu. Bahkan dalam kondisi


kami yang sekarang? Bisa-bisanya dia membicarakan kejadian tadi dan kekesalanku


pada Zero seperti kisah remaja biasa. Aku, setengah vampire yang nyaris


kehilangan kendali dan di sisi lain ada seorang vampire psikopat tanpa perasaan


yang terus mencampuri hidupku. Dari sudut pandang manapun aku tidak bisa


mengerti bagaimana hal ini bisa dianggap biasa dan dijadikan bahan obrolan.


Shane sepertinya juga tidak tidak mengerti sudut pandang Shine yang kembarannya


sendiri. Dia memilih pergi ke dapur meraih sebungkus camilan dan sebotol soda.


***