The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 6 Mimpi Buruk



Sejak hari ketika aku membuka mata di rumah ini, aku tidak pernah mendapatkan tidur


nyenyak sekalipun. Setiap malam mimpi yang sama terus menghantuiku. Setiap kali


aku menutup mata, aku masih bisa melihatnya, saat terakhir ayah dan ibu, saat


kehidupan direnggut dari mereka untuk selamanya. Setiap kali isi kepalaku mulai


masuk fase lelap, gambar yang sama terus berputar mengusikku. Gambar


bergerak-gerak, berlari dan terus berlari. Melalui pepohonan besar, lari,


mencari tempat berlindung yang tidak pernah ada. Aku berlari ke dalam kegelapan


gua sempit itu. Dan seorang vampire yang terlihat seperti pria paruh baya


dengan seringai keji di wajahnya mengejar kami hinnga ke dalam gua. Dia


menyerangku, menancapkan dua taring buasnya menembus kulit leherku. Rasa sakit


itu kembali melanda. Seluruh tubuhku masih mengingat betul saat-saat di mana


kupikir nyawaku tidak akan bertahan.


Mimpi yang sama terus membangunkanku. Tidak. Ini bukan sekedar mimpi buruk. Hantu


dari masa lalu berupa kenangan yang tak mungkin kulupakan. Aku bangkit dan


duduk di ranjang. Menyerah dari usahaku untuk tidur. Aku sudah pindah ke kamar


di lantai dua. Berpikir mungkin memang sebaiknya seperti ini. Jika aku tidak


mendengar denyut nadi Karen di tengah malam, aku tidak akan berpikir mengenai


darah. Kamar ini tepat di sebelah kamar Zero. Aku masih mendengar suara ketikan


jari pada keyboard komputer. Zero masih terjaga. Kata Shine, Zero seorang


hacker yang mahir. Dia mendapat banyak pekerjaan sehingga waktunya banyak


dihabiskan di depan komputer. Zero baru akan tidur saat fajar menyingsing, lalu


dia akan bangun sekitar satu jam kemudian. Melihat Zero dan kondisiku sendiri


membuatku mengerti kalau vampire tidak butuh banyak tidur. Zero hanya tidur 1-2


jam setiap harinya dan dia tidak menunjukkan gejala kurang istirahat. Malah


kadang Zero tidak tidur sama sekali selama berhari-hari. Sebulan lebih aku


tinggal di sini. Bukan maksudku untuk mengamati Zero, hanya saja aku selalu


mendengarnya setiap malam. Setiap kali aku dibangunkan oleh mimpi yang sama.


Aku bahkan ragu apakah aku sudah tidur. Aku bukan manusia lagi, kalimat itu


selalu terdengar dalam pikiranku setiap malam. Sudah sebulan sejak saat itu,


aku belum pernah mendapatkan tidur malam yang cukup. Dan aku masih baik-baik saja.


Segala hal tentang tubuhku benar-benar tidak normal. Kelima indraku menjadi semakin


tajam. Aku bahkan bisa melihat jauh ke dalam hutan yang gelap dari balik


jendela kamar. Pendengaran dan penciumanku juga meningkat pesat. Bahkan kulitku


juga lebih sensitif pada suhu. Beberapa hari lalu, Arion mengatakan bahwa itu


normal. Vampire memang lebih sensitif terhadap perubahan suhu.


"Kau suka tempat sepi, ya. Kau mengingatkanku pada temanku. Dia


juga menyukai tempat-tempat sepi yang jarang dilewati orang. Tapi ngomong-ngomong


apa di sini tidak terlalu panas?"


"Apa vampire akan berubah menjadi abu jika


kepanasan?"


Arion tertawa mendengar pertanyaanku. Ah, kurasa


aku berhasil membuat lelucon. Dalam banyak cerita vampire adalah makhluk


kegelapan yang tidak bisa keluar di bawah sinar matahari. Tapi kurasa sinar


matahari tidak berpengaruh pada vampire di dunia nyata. Murid vampire di


Humphire tidak mengalami masalah dengan aktivitas di siang hari.


"Tidak. Kami tidak berubah menjadi abu hanya


karena sinar matahari. Hanya saja karena indra vampire lebih sensitif, kami


lebih suka menghindari tempat panas. Lihat, kulitku mulai kemerahan karena


panas", ujar Arion.


"Oh" Aku mengangguk, memperhatikan warna


kulit di lengan Arion yang kini kemerahan.


"Kenapa kita tidak ke perpustakaan saja?


Tempat itu sangat luas, jadi ada banyak tempat sepi"


"Kau benar. Mungkin di sana juga sepi"


"Kalau begitu, ayo ke sana", kata Arion.


Sebelah tangannya sudah meraih tanganku.


"Eh.." Aku tidak bilang aku mau ke sana


sekarang juga. Tapi Arion sudah menarikku bersamanya sebelum aku sempat berkata


apapun. Vampire yang satu ini memang agak aneh. Dia begitu, um, bagaimana aku


harus mengatakannya, bersahabat.. Seperti manusia. Dari yang kuamati kebanyakan


vampire tidak bersikap ramah ataupun peduli pada manusia. Dan tidak ada murid


vampire yang mengajakku bicara karena aku exhuman.


"Kalau tebakanku tidak salah, maka Zero pasti


tidak banyak memberitahumu tentang vampire?"


"Yah... Hanya satu, lebih tepatnya"


"Satu?"


"Hmm. Minum darah"


"Uuh... Ehm, sebenarnya itu penting. Tapi


kurasa kau tidak suka membicarakannya kan"


Aku mendongak menatap wajah Arion. Sungguh, ada


yang sangat berbeda darinya. Arion melangkah masuk ke perpustakaan sekolah,


masih menarik tanganku sehingga aku mengikuti langkahnya. Kami menuju tempat


duduk kecil yang menyatu dengan jendela yang mencekung keluar. Tempat itu


berada di sudut perpustakaan yang dipenuhi rak-rak dengan buku-buku besar.


Daerah yang paling jarang dijamah orang. Arion duduk di salah satu sisi


jendela, melepaskan tanganku yang dari tadi dipeganginya. Aku mengikutinya


duduk di sisi yang lain. Tempat ini cukup bagus, aku bisa melihat kebun


belakang sekolah dari jendela besar di sampingku.


"Kau mungkin juga tidak peduli untuk


mengetahui apapun tentang kami. Meski begitu, dengarkan saja, aku akan


menceritakan hal-hal yang harus kau ketahui. Ah, kau bisa bertanya padaku jika


ada sesuatu yang ingin kau ketahui", ujar Arion.


Aku menaikkan sebelah alisku, lagi-lagi gagal


mengerti maksud Arion. "Kenapa?"


"Apa? Kenapa apanya?"


"Kenapa kau mau repot-repot memberitahuku? Aku


tidak pernah memintamu"


"Ehm...entahlah. Aku tidak merasa ini


merepotkan. Lagipula apa aku harus memiliki alasan jika aku ingin melakukan


sesuatu?"


"Entahlah..." Dia tidak salah. Kadang


alasan tidak dibutuhkan. Tapi tetap saja, aku tidak mengerti kenapa dia


repot-repot mencampuri hidupku. Aku yang tidak punya tujuan selain untuk


membalas dendam. Dan aku bahkan berteman dengan Shine dan Shane agar aku bisa


memanfaatkan mereka. Kenapa Arion begitu peduli?


"Kau tahu, teman kan memang saling


membantu", ujarnya sambil mengulum senyum. "Mitos yang dibuat manusia tentang vampire, semua itu benar-benar mengada-ada. Kami tidak hidup


di dalam gua di gunung hitam, atau berubah menjadi kelelawar, atau tidur di


dalam peti mati"


"Kalian hidup seperti manusia, di antara


manusia"


Arion mengangguk. "Benar. Sebagian besar. Tapi


kami punya tempat untuk mereka yang tidak bisa atau tidak ingin tinggal di


antara manusia"


"Benarkah?"


"Hmm. Ada beberapa kota bawah tanah yang


tersembunyi di berbagai benua. Dan yang paling besar adalah ibukota kerajaan


kami, Lucania"


"Kerajaan?" Aku mengulang kata itu, tidak


yakin apakah aku mendengarnya dengan benar.


"Yep. Kerajaan vampire"


"Maksudmu, kerajaan sungguhan? Jadi ada raja vampire dan sebagainya?"


Arion mengangguk. Dia tampak sama terkejutnya


denganku. "Zero tidak mengatakan apapun?"


Aku menggeleng. Rupanya Arion mengira Zero sudah


memberitahuku.


"Wah, dia keterlaluan. Dia tahu cukup banyak


tentang kerajaan kami. Kau harusnya membuatnya memberitahumu."


"Jadi seperti apa raja vampire?" Entah


kenapa hal ini cukup membuatku ingin tahu. Ah, bukan itu. Aku hanya sedang


tidak mood untuk membaca buku jadi kupikir cerita Arion lebih menarik untuk


menghabiskan waktu istirahat.


"Seperti apa? Hmm... Bagaimana aku harus


mengatakannya" Arion tampak bersemangat. Seolah dia hendak menceritakan


sangat sangat kuat. King Arthur Rainier, raja ketiga kerajaan vampire,


shadownya berupa singa putih besar. Yang Mulia memiliki kekuatan telekinesis


yang memungkinkannya mengontrol gerakan"


"Jadi kalian punya kekuatan super? Kau


bercanda.."Aku hampir tidak bisa menahan tawa.


Arion menoleh padaku dan berkedip beberapa kali.


"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?"


Aku mengangguk. "Maksudku, bagaimana mungkin


ada hal seperti kekuatan super"


"Lalu bagaimana dengan Karen yang bisa melihat


masa depan? Apa itu juga tidak mungkin?"


"Entahlah. Jujur saja, kadang aku masih tidak


percaya"


Arion menarik tanganku, membawaku ke salah satu


balkon tak jauh dari tempat kami duduk. Ia menjulurkan tangan kirinya ke atas


sebatang tanaman mawar yang tidak berbunga. Beberapa detik kemudian sebuah


sinar tampak keluar dari balik batang tanaman itu. Sinar itu mendorongnya tumbuh


dari dalam hingga keluarlah sekuntum mawar merah yang merekah. Rahangku jatuh


hingga mulutku terbuka, bagaimana mungkin hal itu terjadi? Tidak. Apakah aku


sedang bermimpi?


Arion mengulum senyuman hangatnya, meraih tangkai


mawar itu dan memberikannya padaku. "Untukmu"


"Eh?! B-bagaimana kau melakukannya?"


"Tidak tahu. Konon katanya, spesies kami mengembangkan kekuatan setelah


bertahun-tahun mengkonsumsi darah manusia. Kekuatan ini bersifat magis dan


tidak bisa dijelaskan dengan sains. Yah, pokoknya beberapa vampire terlahir


dengan bakat unik"


‘Beberapa’ katanya. "Jadi tidak semua memilikinya?"


Arion menggeleng. "Benar. Tapi semua vampire


memiliki shadow. Kau sudah tahu apa itu shadow?"


"Ya. Aku bisa melihatnya" Aku teringat


perkataan Arion tadi. "Apa maksudmu waktu kau bilang shadow raja vampire


berbentuk singa putih?"


"Shadow vampire berhubungan dengan


kekuatannya. Pada vampire yang kuat, shadow tampak lebih padat dan seringkali


menyerupai bentuk binatang"


Jadi begitukah? Jadi bayang-bayang binatang besar


yang kadang kulihat di Humphire bukan cuma halusinasiku saja. Kalau diingat


lagi, beberapa murid vampire yang termasuk anak populer memiliki shadow dengan


bentuk tertentu. Aku yakin aku melihat semacam rusa, kelinci bahkan rubah. Aku


mengalihkan mataku ke shadow di belakang Arion. Milik Arion bentuknya seperti


rusa kutub dengan tanduk besar seperti dahan pohon. Uniknya lagi, shadow Arion


memiliki warna hijau cerah, sewarna dengan mata emerald-nya. Aku kemudian mengingat vampire lain yang


kukenal, Zero. Anehnya, aku tidak


ingat seperti apa shadow Zero.


***


Saat ini Karen menggunakan alasan sekolah di


Humphire dan tinggal di asrama untuk tetap bersamaku. Aku tidak suka Karen


harus berbohong demi merahasiakanku. Dia bahkan berbohong bahwa dia ingin


mandiri untuk bisa melupakan semua yang terjadi pada keluarga kami. Yang


membuatku paling heran, Karen melakukannya dengan baik tanpa keberatan


sedikitpun. Padahal Karen bukan seseorang yang biasa berbohong. Kami hanya melakukannya agar tak ada


orang yang terluka. Tapi aku tidak mengerti kenapa hunter membantu vampire


menyembunyikan keberadaan mereka.


"Berapa kalipun dipikirkan, aku masih tidak


mengerti. Kalian melawan dan membunuh vampire, lalu kenapa kalian membantu


merahasiakannya?" Akhirnya rasa penasaranku tidak sanggup kutahan lagi.


Menurutku, manusia menjaga rahasia vampire itu konyol.


Shine menatapku, dia nampak sedikit terkejut dengan


pertanyaanku. Tapi di saat yang sama dia tampak mengerti. "Itu adalah


bagian dari perjanjian"


"Perjanjian?"


Shine meletakkan koran yang sedari tadi dibacanya.


Memfokuskan diri pada pertanyaanku. "Benar. Dulu kami bertarung dengan


vampire secara terbuka. Sampai raja vampire datang dan menawarkan gencatan


senjata. Pemimpin kami dan raja vampire itu sepakat menandatangani sebuah perjanjian.


Isinya adalah bahwa kami menyetujui gencatan senjata dengan syarat mereka tidak


akan membahayakan manusia dan bagi vampire yang melanggar akan dianggap musuh.


Mereka menyetujunya dengan satu syarat juga. Yaitu untuk merahasiakan


keberadaan mereka"


"Itu tidak adil!", seruku tak habis


pikir. "Mereka masih membunuh manusia!"


"Iya, tapi tidak semuanya dari mereka


membunuh. Setidaknya keadaan membaik setelah perjanjian itu"


Yang benar saja, batinku. "Apakah ini pilihan


yang bijak untuk merahasiakan keberadaan mereka?"


Shine mengangguk, dia benar-benar yakin.


"Begitulah yang kami percaya. Menurutmu, apa yang akan terjadi kalau kita


tidak merahasiakannya?"


Aku berpikir sebentar, mendadak teringat malam itu,


dan mimpi buruk yang masih datang setiap malam. "Semua orang akan sangat


ketakutan. Mereka akan sulit percaya pada awalnya. Laluu mereka akan mulai


melawan"


"Perang", kata Shane yang dari tadi


memilih diam menikmati kopinya.


Shine mengangguk. "Banyak orang akan


mati"


"Tapi kita mungkin menang. Dan jika menang,


maka tidak akan ada lagi vampire!", ujarku mulai tersulut emosi. Tentu


saja akan jatuh korban. Tapi itu bukan berarti kita harus menyerah sebelum mencoba.


"Kalian tidak bisa menang", ujar suara


lain dari lantai 2. Aku mendongak untuk melihat Zero yang tengah duduk dekat


pagar, menyeruput kopinya.


Kali ini aku benar-benar geram. Memang setiap kali vampire sialan itu bicara


hanya hal menyebalkan yang keluar. Tapi belum sempat aku menimpali, Shine


mendahuluiku.


"Kita akan kehilangan terlalu banyak orang.


Dengan kekuatan kita saat ini, kita akan kalah"


"Apa??! Bagaimana kau bisa tahu? Jika semua


manusia bekerjasama, kita bisa menggunakan nuklir dan sebagainya.."


"Key", potong Shine. "Kau belum


mengetahui seberapa kuatnya mereka"


Aku menggemeretakkan gigi, komentar Shine


benar-benar membuat frustasi. Apa hunter hanya akan duduk melihat vampire


membantai kami sedikit demi sedikit? "Tadi kau bilang 'saat ini', jadi


hunter tetap berencana menyerang?"


Shane tanpa ragu berkata, "Ya"


"Tidak", ujar Shine di saat yang sama


dengan Shane. Mereka berdua otomatis bertukar pandangan, saling mengkritik


dengan tatapan matanya.


"Kami akan menepati perjanjian. Lagipula, mereka juga menepatinya"


"Hah?? Kau bersungguh-sungguh?! Kenapa? Untuk


apa perjanjian bodoh itu?! Menurutku mereka hanya mempermainkan kita. Vampire


masih menghisap darah manusia, membunuh dengan brutal. Dan mungkin ini cuma


masalah waktu saja.."


"Mereka tidak akan memulai perang", ujar


Shine mengerti arah pembicaraanku. "Raja vampire berkata kalau dia tidak


ingin kita manusia mati"


Tch! Itu sudah jelas karena mereka membutuhkan darah manusia. Lalu apa kita akan


diam saja mengetahui bahwa setiap hari beberapa manusia dibunuh dengan kejinya


dan darah mereka dihisap hingga kering. Yang benar saja!! Kita ini bukan hewan


ternak! Aku tidak percaya para hunter masih bisa hidup walau mengetahui hal ini.