
Sejak hari ketika aku membuka mata di rumah ini, aku tidak pernah mendapatkan tidur
nyenyak sekalipun. Setiap malam mimpi yang sama terus menghantuiku. Setiap kali
aku menutup mata, aku masih bisa melihatnya, saat terakhir ayah dan ibu, saat
kehidupan direnggut dari mereka untuk selamanya. Setiap kali isi kepalaku mulai
masuk fase lelap, gambar yang sama terus berputar mengusikku. Gambar
bergerak-gerak, berlari dan terus berlari. Melalui pepohonan besar, lari,
mencari tempat berlindung yang tidak pernah ada. Aku berlari ke dalam kegelapan
gua sempit itu. Dan seorang vampire yang terlihat seperti pria paruh baya
dengan seringai keji di wajahnya mengejar kami hinnga ke dalam gua. Dia
menyerangku, menancapkan dua taring buasnya menembus kulit leherku. Rasa sakit
itu kembali melanda. Seluruh tubuhku masih mengingat betul saat-saat di mana
kupikir nyawaku tidak akan bertahan.
Mimpi yang sama terus membangunkanku. Tidak. Ini bukan sekedar mimpi buruk. Hantu
dari masa lalu berupa kenangan yang tak mungkin kulupakan. Aku bangkit dan
duduk di ranjang. Menyerah dari usahaku untuk tidur. Aku sudah pindah ke kamar
di lantai dua. Berpikir mungkin memang sebaiknya seperti ini. Jika aku tidak
mendengar denyut nadi Karen di tengah malam, aku tidak akan berpikir mengenai
darah. Kamar ini tepat di sebelah kamar Zero. Aku masih mendengar suara ketikan
jari pada keyboard komputer. Zero masih terjaga. Kata Shine, Zero seorang
hacker yang mahir. Dia mendapat banyak pekerjaan sehingga waktunya banyak
dihabiskan di depan komputer. Zero baru akan tidur saat fajar menyingsing, lalu
dia akan bangun sekitar satu jam kemudian. Melihat Zero dan kondisiku sendiri
membuatku mengerti kalau vampire tidak butuh banyak tidur. Zero hanya tidur 1-2
jam setiap harinya dan dia tidak menunjukkan gejala kurang istirahat. Malah
kadang Zero tidak tidur sama sekali selama berhari-hari. Sebulan lebih aku
tinggal di sini. Bukan maksudku untuk mengamati Zero, hanya saja aku selalu
mendengarnya setiap malam. Setiap kali aku dibangunkan oleh mimpi yang sama.
Aku bahkan ragu apakah aku sudah tidur. Aku bukan manusia lagi, kalimat itu
selalu terdengar dalam pikiranku setiap malam. Sudah sebulan sejak saat itu,
aku belum pernah mendapatkan tidur malam yang cukup. Dan aku masih baik-baik saja.
Segala hal tentang tubuhku benar-benar tidak normal. Kelima indraku menjadi semakin
tajam. Aku bahkan bisa melihat jauh ke dalam hutan yang gelap dari balik
jendela kamar. Pendengaran dan penciumanku juga meningkat pesat. Bahkan kulitku
juga lebih sensitif pada suhu. Beberapa hari lalu, Arion mengatakan bahwa itu
normal. Vampire memang lebih sensitif terhadap perubahan suhu.
"Kau suka tempat sepi, ya. Kau mengingatkanku pada temanku. Dia
juga menyukai tempat-tempat sepi yang jarang dilewati orang. Tapi ngomong-ngomong
apa di sini tidak terlalu panas?"
"Apa vampire akan berubah menjadi abu jika
kepanasan?"
Arion tertawa mendengar pertanyaanku. Ah, kurasa
aku berhasil membuat lelucon. Dalam banyak cerita vampire adalah makhluk
kegelapan yang tidak bisa keluar di bawah sinar matahari. Tapi kurasa sinar
matahari tidak berpengaruh pada vampire di dunia nyata. Murid vampire di
Humphire tidak mengalami masalah dengan aktivitas di siang hari.
"Tidak. Kami tidak berubah menjadi abu hanya
karena sinar matahari. Hanya saja karena indra vampire lebih sensitif, kami
lebih suka menghindari tempat panas. Lihat, kulitku mulai kemerahan karena
panas", ujar Arion.
"Oh" Aku mengangguk, memperhatikan warna
kulit di lengan Arion yang kini kemerahan.
"Kenapa kita tidak ke perpustakaan saja?
Tempat itu sangat luas, jadi ada banyak tempat sepi"
"Kau benar. Mungkin di sana juga sepi"
"Kalau begitu, ayo ke sana", kata Arion.
Sebelah tangannya sudah meraih tanganku.
"Eh.." Aku tidak bilang aku mau ke sana
sekarang juga. Tapi Arion sudah menarikku bersamanya sebelum aku sempat berkata
apapun. Vampire yang satu ini memang agak aneh. Dia begitu, um, bagaimana aku
harus mengatakannya, bersahabat.. Seperti manusia. Dari yang kuamati kebanyakan
vampire tidak bersikap ramah ataupun peduli pada manusia. Dan tidak ada murid
vampire yang mengajakku bicara karena aku exhuman.
"Kalau tebakanku tidak salah, maka Zero pasti
tidak banyak memberitahumu tentang vampire?"
"Yah... Hanya satu, lebih tepatnya"
"Satu?"
"Hmm. Minum darah"
"Uuh... Ehm, sebenarnya itu penting. Tapi
kurasa kau tidak suka membicarakannya kan"
Aku mendongak menatap wajah Arion. Sungguh, ada
yang sangat berbeda darinya. Arion melangkah masuk ke perpustakaan sekolah,
masih menarik tanganku sehingga aku mengikuti langkahnya. Kami menuju tempat
duduk kecil yang menyatu dengan jendela yang mencekung keluar. Tempat itu
berada di sudut perpustakaan yang dipenuhi rak-rak dengan buku-buku besar.
Daerah yang paling jarang dijamah orang. Arion duduk di salah satu sisi
jendela, melepaskan tanganku yang dari tadi dipeganginya. Aku mengikutinya
duduk di sisi yang lain. Tempat ini cukup bagus, aku bisa melihat kebun
belakang sekolah dari jendela besar di sampingku.
"Kau mungkin juga tidak peduli untuk
mengetahui apapun tentang kami. Meski begitu, dengarkan saja, aku akan
menceritakan hal-hal yang harus kau ketahui. Ah, kau bisa bertanya padaku jika
ada sesuatu yang ingin kau ketahui", ujar Arion.
Aku menaikkan sebelah alisku, lagi-lagi gagal
mengerti maksud Arion. "Kenapa?"
"Apa? Kenapa apanya?"
"Kenapa kau mau repot-repot memberitahuku? Aku
tidak pernah memintamu"
"Ehm...entahlah. Aku tidak merasa ini
merepotkan. Lagipula apa aku harus memiliki alasan jika aku ingin melakukan
sesuatu?"
"Entahlah..." Dia tidak salah. Kadang
alasan tidak dibutuhkan. Tapi tetap saja, aku tidak mengerti kenapa dia
repot-repot mencampuri hidupku. Aku yang tidak punya tujuan selain untuk
membalas dendam. Dan aku bahkan berteman dengan Shine dan Shane agar aku bisa
memanfaatkan mereka. Kenapa Arion begitu peduli?
"Kau tahu, teman kan memang saling
membantu", ujarnya sambil mengulum senyum. "Mitos yang dibuat manusia tentang vampire, semua itu benar-benar mengada-ada. Kami tidak hidup
di dalam gua di gunung hitam, atau berubah menjadi kelelawar, atau tidur di
dalam peti mati"
"Kalian hidup seperti manusia, di antara
manusia"
Arion mengangguk. "Benar. Sebagian besar. Tapi
kami punya tempat untuk mereka yang tidak bisa atau tidak ingin tinggal di
antara manusia"
"Benarkah?"
"Hmm. Ada beberapa kota bawah tanah yang
tersembunyi di berbagai benua. Dan yang paling besar adalah ibukota kerajaan
kami, Lucania"
"Kerajaan?" Aku mengulang kata itu, tidak
yakin apakah aku mendengarnya dengan benar.
"Yep. Kerajaan vampire"
"Maksudmu, kerajaan sungguhan? Jadi ada raja vampire dan sebagainya?"
Arion mengangguk. Dia tampak sama terkejutnya
denganku. "Zero tidak mengatakan apapun?"
Aku menggeleng. Rupanya Arion mengira Zero sudah
memberitahuku.
"Wah, dia keterlaluan. Dia tahu cukup banyak
tentang kerajaan kami. Kau harusnya membuatnya memberitahumu."
"Jadi seperti apa raja vampire?" Entah
kenapa hal ini cukup membuatku ingin tahu. Ah, bukan itu. Aku hanya sedang
tidak mood untuk membaca buku jadi kupikir cerita Arion lebih menarik untuk
menghabiskan waktu istirahat.
"Seperti apa? Hmm... Bagaimana aku harus
mengatakannya" Arion tampak bersemangat. Seolah dia hendak menceritakan
sangat sangat kuat. King Arthur Rainier, raja ketiga kerajaan vampire,
shadownya berupa singa putih besar. Yang Mulia memiliki kekuatan telekinesis
yang memungkinkannya mengontrol gerakan"
"Jadi kalian punya kekuatan super? Kau
bercanda.."Aku hampir tidak bisa menahan tawa.
Arion menoleh padaku dan berkedip beberapa kali.
"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?"
Aku mengangguk. "Maksudku, bagaimana mungkin
ada hal seperti kekuatan super"
"Lalu bagaimana dengan Karen yang bisa melihat
masa depan? Apa itu juga tidak mungkin?"
"Entahlah. Jujur saja, kadang aku masih tidak
percaya"
Arion menarik tanganku, membawaku ke salah satu
balkon tak jauh dari tempat kami duduk. Ia menjulurkan tangan kirinya ke atas
sebatang tanaman mawar yang tidak berbunga. Beberapa detik kemudian sebuah
sinar tampak keluar dari balik batang tanaman itu. Sinar itu mendorongnya tumbuh
dari dalam hingga keluarlah sekuntum mawar merah yang merekah. Rahangku jatuh
hingga mulutku terbuka, bagaimana mungkin hal itu terjadi? Tidak. Apakah aku
sedang bermimpi?
Arion mengulum senyuman hangatnya, meraih tangkai
mawar itu dan memberikannya padaku. "Untukmu"
"Eh?! B-bagaimana kau melakukannya?"
"Tidak tahu. Konon katanya, spesies kami mengembangkan kekuatan setelah
bertahun-tahun mengkonsumsi darah manusia. Kekuatan ini bersifat magis dan
tidak bisa dijelaskan dengan sains. Yah, pokoknya beberapa vampire terlahir
dengan bakat unik"
‘Beberapa’ katanya. "Jadi tidak semua memilikinya?"
Arion menggeleng. "Benar. Tapi semua vampire
memiliki shadow. Kau sudah tahu apa itu shadow?"
"Ya. Aku bisa melihatnya" Aku teringat
perkataan Arion tadi. "Apa maksudmu waktu kau bilang shadow raja vampire
berbentuk singa putih?"
"Shadow vampire berhubungan dengan
kekuatannya. Pada vampire yang kuat, shadow tampak lebih padat dan seringkali
menyerupai bentuk binatang"
Jadi begitukah? Jadi bayang-bayang binatang besar
yang kadang kulihat di Humphire bukan cuma halusinasiku saja. Kalau diingat
lagi, beberapa murid vampire yang termasuk anak populer memiliki shadow dengan
bentuk tertentu. Aku yakin aku melihat semacam rusa, kelinci bahkan rubah. Aku
mengalihkan mataku ke shadow di belakang Arion. Milik Arion bentuknya seperti
rusa kutub dengan tanduk besar seperti dahan pohon. Uniknya lagi, shadow Arion
memiliki warna hijau cerah, sewarna dengan mata emerald-nya. Aku kemudian mengingat vampire lain yang
kukenal, Zero. Anehnya, aku tidak
ingat seperti apa shadow Zero.
***
Saat ini Karen menggunakan alasan sekolah di
Humphire dan tinggal di asrama untuk tetap bersamaku. Aku tidak suka Karen
harus berbohong demi merahasiakanku. Dia bahkan berbohong bahwa dia ingin
mandiri untuk bisa melupakan semua yang terjadi pada keluarga kami. Yang
membuatku paling heran, Karen melakukannya dengan baik tanpa keberatan
sedikitpun. Padahal Karen bukan seseorang yang biasa berbohong. Kami hanya melakukannya agar tak ada
orang yang terluka. Tapi aku tidak mengerti kenapa hunter membantu vampire
menyembunyikan keberadaan mereka.
"Berapa kalipun dipikirkan, aku masih tidak
mengerti. Kalian melawan dan membunuh vampire, lalu kenapa kalian membantu
merahasiakannya?" Akhirnya rasa penasaranku tidak sanggup kutahan lagi.
Menurutku, manusia menjaga rahasia vampire itu konyol.
Shine menatapku, dia nampak sedikit terkejut dengan
pertanyaanku. Tapi di saat yang sama dia tampak mengerti. "Itu adalah
bagian dari perjanjian"
"Perjanjian?"
Shine meletakkan koran yang sedari tadi dibacanya.
Memfokuskan diri pada pertanyaanku. "Benar. Dulu kami bertarung dengan
vampire secara terbuka. Sampai raja vampire datang dan menawarkan gencatan
senjata. Pemimpin kami dan raja vampire itu sepakat menandatangani sebuah perjanjian.
Isinya adalah bahwa kami menyetujui gencatan senjata dengan syarat mereka tidak
akan membahayakan manusia dan bagi vampire yang melanggar akan dianggap musuh.
Mereka menyetujunya dengan satu syarat juga. Yaitu untuk merahasiakan
keberadaan mereka"
"Itu tidak adil!", seruku tak habis
pikir. "Mereka masih membunuh manusia!"
"Iya, tapi tidak semuanya dari mereka
membunuh. Setidaknya keadaan membaik setelah perjanjian itu"
Yang benar saja, batinku. "Apakah ini pilihan
yang bijak untuk merahasiakan keberadaan mereka?"
Shine mengangguk, dia benar-benar yakin.
"Begitulah yang kami percaya. Menurutmu, apa yang akan terjadi kalau kita
tidak merahasiakannya?"
Aku berpikir sebentar, mendadak teringat malam itu,
dan mimpi buruk yang masih datang setiap malam. "Semua orang akan sangat
ketakutan. Mereka akan sulit percaya pada awalnya. Laluu mereka akan mulai
melawan"
"Perang", kata Shane yang dari tadi
memilih diam menikmati kopinya.
Shine mengangguk. "Banyak orang akan
mati"
"Tapi kita mungkin menang. Dan jika menang,
maka tidak akan ada lagi vampire!", ujarku mulai tersulut emosi. Tentu
saja akan jatuh korban. Tapi itu bukan berarti kita harus menyerah sebelum mencoba.
"Kalian tidak bisa menang", ujar suara
lain dari lantai 2. Aku mendongak untuk melihat Zero yang tengah duduk dekat
pagar, menyeruput kopinya.
Kali ini aku benar-benar geram. Memang setiap kali vampire sialan itu bicara
hanya hal menyebalkan yang keluar. Tapi belum sempat aku menimpali, Shine
mendahuluiku.
"Kita akan kehilangan terlalu banyak orang.
Dengan kekuatan kita saat ini, kita akan kalah"
"Apa??! Bagaimana kau bisa tahu? Jika semua
manusia bekerjasama, kita bisa menggunakan nuklir dan sebagainya.."
"Key", potong Shine. "Kau belum
mengetahui seberapa kuatnya mereka"
Aku menggemeretakkan gigi, komentar Shine
benar-benar membuat frustasi. Apa hunter hanya akan duduk melihat vampire
membantai kami sedikit demi sedikit? "Tadi kau bilang 'saat ini', jadi
hunter tetap berencana menyerang?"
Shane tanpa ragu berkata, "Ya"
"Tidak", ujar Shine di saat yang sama
dengan Shane. Mereka berdua otomatis bertukar pandangan, saling mengkritik
dengan tatapan matanya.
"Kami akan menepati perjanjian. Lagipula, mereka juga menepatinya"
"Hah?? Kau bersungguh-sungguh?! Kenapa? Untuk
apa perjanjian bodoh itu?! Menurutku mereka hanya mempermainkan kita. Vampire
masih menghisap darah manusia, membunuh dengan brutal. Dan mungkin ini cuma
masalah waktu saja.."
"Mereka tidak akan memulai perang", ujar
Shine mengerti arah pembicaraanku. "Raja vampire berkata kalau dia tidak
ingin kita manusia mati"
Tch! Itu sudah jelas karena mereka membutuhkan darah manusia. Lalu apa kita akan
diam saja mengetahui bahwa setiap hari beberapa manusia dibunuh dengan kejinya
dan darah mereka dihisap hingga kering. Yang benar saja!! Kita ini bukan hewan
ternak! Aku tidak percaya para hunter masih bisa hidup walau mengetahui hal ini.