
Dua pria berlari sambil bersembunyi di gang-gang sempit di antara bangunan kota tua. Mereka adalah vampire hunter yang tersisa dari sebuah pertarungan yang baru berlangsung di sebuah satu gedung parkir yang tak terpakai. Di belakang mereka sesosok bayangan mengejar dengan kecepatan di luar batas manusiawi. Para pengejar itu bukan manusia, mereka adalah mad vampire. Saat vampire kehilangan akal dan kendali diri naluri buasnya mengambil alih tubuhnya. Dan mereka hanya akan bergerak untuk mencari darah demi memuaskan rasa hausnya. Mereka menyerang membabi buta, menghisap darah manusia hingga kering. Kesan manusiawi tak tersisa di wajah mereka, mata mereka berubah menjadi merah darah. Dan kekuatan mereka melebihi vampire normal. Sekelompok
hunter yang datang untuk mengatasi mad vampire itu kalah jumlah dan nyaris habis dibantai. Yang tersisa hanya dua hunter kembar yang berusaha menyembunyikan diri mereka. Salah satu di antaranya terluka parah. Darah terus mengucur dari luka di dadanya.
“Shine, larilah. Tingalkan aku”, kata Shane yang terluka. Ia bersandar pada dinding gedung yang dipenuhi lumut.
Shine menggelengkan kepalanya. “Mana mungkin aku meninggalkanmu! Bertahanlah, aku akan mengendongmu di punggung” , ujarnya sambil membuang senapan besar yang disandangnya di punggung.
Mereka kehabisan peluru di pertempuran tadi. Shine mengeluarkan sebuah pisau besar dari tas punggung yang ditanggalkanya di samping senapan. Hanya itu senjata yang masih bisa digunakan. Shane naik ke punggung kembarannya. Dalam sekejap mata, seorang mad vampire muncul di depan mereka. Shine dengan sigap menangkis serangannya dan menusukkan pisau di tanganya ke jantung mad vampire. Darah merah segar
menghambur keluar dari tubuh mad vampire yang mulai kehialangan nyawanya. Mendengar beberapa langkah mendekat, Shine pun bergegas lari ke arah lain. Tapi larinya tak bisa secepat sebelumnya dengan Shane di punggung. Mereka terkejar. Kali ini bukan hanya satu, tapi 4 mad vampire. Shine menangkis serangan dari
dua vampire di depanya, lantas merobek leher seorang mad vampire. Tapi dia tidak cukup cepat untuk menahan serangan 2 vampire lainnya.
Saat napas mereka terhenti karena bayang kematian sudah di depan mata, tiba-tiba darah memuncrat dari tubuh 4 mad vampire yang memojokkan mereka. Keempat tubuh mad vampire itu pun roboh. Seorang laki-laki berdiri di belakang tubuh-tubuh tak bernyawa itu dengan pedang berlumuran darah di tangan kanannya. Dia mengenakan hoodie dan syal sehingga wajahnya tidak tampak jelas tapi bagi Shine yang seorang hunter orang itu jelas seorang
vampire. Shine kembali menahan napas menyadari pria di depanya bukan seorang mad vampire. Dalam kondisi itu
jika dia menyerang maka Shine dan adik kembarnya akan benar-benar mati. Shane menyuruh Shine untuk lari dengan suara lemahnya, tapi Shine tetap tidak bisa meninggalkannya. Atau lebih tepatnya, saat ini Shine tak mampu mengerakkan seujung jari pun. Hanya kengerian yang menyelimuti pikiranya. Detik selanjutnya tahu-tahu vampire itu sudah jongkok dan membungkukkan badannya, kepalanya menunduk ke tubuh Shane. Ia
mengeluarkan lidahnya keluar melewati taringnya, menjilat darah yang keluar dari tubuh Shane. Dengan
gerak refleks, Shine mencengkeram leher vampire itu, mencekiknya. Tapi vampire bermata biru topaz cemerlang itu tidak bergeming atau balas menyerang Shine. Vampire itu menoleh menatap Shine, melepaskan cengkeramannya yang tidak cukup kuat untuk membunuh seorang vampire. Shine bisa melihat wajah vampire yang tampak seumuran mereka.
"Aku hanya mengambil sedikit imbalan. Asal kau tahu, aku baru saja menyelamatkan kalian", katanya sambil menyentakkan tangan Shine yang tadi mencekiknya. Dia bangkit berdiri dan berbalik, melangkah menjauh.
"Darahnya berhenti...", gumam Shane yang selama beberapa saat tadi kehilangan kemampuan bicara. Tentu saja dia mengira si vampire bakal meneguk habis darahnya. Tapi saat melihat lukanya yang berhenti mengeluarkan darah, Shane tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Sontak Shine memincingkan matanya memperhatikan luka di dada Shane yang perlahan menutup. Napasnya kembali tertahan, tidak percaya dengan yang dilihat. Dia pun ingat bahwa vampire sering menjilat luka mereka.
Konon ludah vampire punya kemampuan penyembuhan. Apa vampire itu mencoba membantu? Pertanyaan itu muncul di dalam kepala Shine. Tapi belum tuntas dia memikirkan apapun, tubuhnya sudah bergerak mengejar vampire tadi.
"Tunggu! Tunggu sebentar, kumohon!!", panggilnya.
Vampire itu berbalik, mematung di tempatnya berdiri. Wajahnya tanpa ekspresi. Mata biru cemerlang yang bersembunyi di balik rambut pirangnya menatap Shine. Rupanya vampire itu heran Shine mengejarnya. Yah,
sebenarnya Shine sendiri tidak yakin dengan yang dia lakukan, tapi dia harusmenyelamatkan Shane. "Tolong
selamatkan dia... kau bisa melakukannya kan..?"
Vampire itu masih menatapnya untuk beberapa detik yang panjang. "Kau pikir aku mau?", tanyanay datar.
"Ya..Tidak”, ujar Shine tidak yakin. “Tapi aku tidak bisa kehilangan adikku"
"Dia tidak akan mati dengan cepat. Bukankah aku sudah menghentikan pendarahannya?", ujar si vampire sambil mulai berbalik pergi.
"Tunggu! Kumohon...tolong selamatkan dia. Aku akan membayarmu. Berapapun! Kumohon"Shine dengan putus asa memohon pada vampire yang dianggapnya musuh.
Vampire itu kembali menghadap Shine, dia hanya diam selama beberapa detik menegangkan. Lalu dia mendengus sambil berbalik. Shine mengira dia akan pergi begitu saja, hingga vampire ituberkata, "Cepat ikuti aku"
"O..ok!"
Shine tidak percaya yang didengarnya. Dia juga tidak yakin apakah keputusanya tepat dengan meminta bantuan seorang vampire. Tapi dia sudah berlari menghampiri Shane, lalu menggendongnya di belakang punggung. Shine
mengikuti vampire tadi berjalan keluar dari kota tua itu, memasuki sebuah hutan di barat daya. Vampire itu berhenti di bawah pohon besar di sisi sebuah sungai. Masih tidak mengatakan apapun. Shine juga mengikutinya sejauh ini tanpa tahu apa rencananya membawa mereka ke hutan. Shine hanya mengandalkan intuisinya yang memilih mempercayai si vampire. Dan menurutnya vampire itu tidak begitu berbahaya melihat shadow nya yang tidak begitu kuat. Jika keadaan memburuk Shine mungkin masih bisa melindungi Shane. Setelah membaringkan Shane di atas rumput, Shine bersiap meluncurkan berbagai pertanyaan penuh prasangka yang sudah memenuhi kepalanya. Tepat saat itu seekor kuda putih keluar dari belakang semak-semak, seorang vampire wanita berambut putih panjang tampak menaikinya. Dia menuju tempat mereka, menatap vampire bermata biru topaz. Shine menahan napas, jantungnya nyaris lupa berdetak saat menyadari vampire wanita itu seorang pureblood. Vampire wanita itu turun dari kudanya, dia seperti hendak mengatakan sesuatu pada vampire laki-laki bermata biru, tapi tidak jadi begitu vampire laki-laki itu memberi isyarat dengan matanya menunjuk Shane. Tanpa mengatakan apapun vampire wanita itu berjalan ke arah Shane.
"T-tunggu! Apa yang mau kau lakukan?!", seru Shine mendadak panik.
Vampire wanita itu kini duduk di samping Shane yang memasang wajah sama paniknya dengan Shine. Wajah Shane pucat pasi, ia tidak kuat lagi menggerakkan tubuhnya. Tangan sang vampire wanita berambut putih terjulur, meraih dada Shane yang terluka. Suatu cahaya putih lembut keluar dari tangannya lalu masuk ke dalam luka di dada Shane. Shane hanya membeku di tempatnya terbaring, bahkan Shine menahan napas dan nyaris lupa berkedip. Ngeri dengan kemungkinan terburuk yang dapat terjadi. Dua-tiga menit kemudian vampire wanita itu bangkit berdiri lalu berjalan menghampiri vampire laki-laki tadi. Mereka berjalan menjauh dan tampak membicarakan sesuatu. Shane masih tidak bisa mengerakkan satu otot pun di tubuhnya, ketakutan mengambil alih kendali pikiranya. Shane berlari ke sisi Shane, mengecek keadaan adik kembarnya itu. Kedua mata Shine membesar. Entah bagaimana, tapi vampire wanita tadi menyembuhkan luka Shane. Benar-benar sembuh seperti tidak pernah ada luka tusukan menembus dada Shane.
Beberapa saat kemudian, vampire wanita itu tampak naik kembali ke kuda putihnya. Shine berdiri, melangkah mendekati kedua vampire itu tanpa pikir panjang.
"Terimakasih...", ujarnya.
Kedua vampire itu berbalik menatap Shine. Mengejutkan, vampire wanita itu tersenyum ramah dan mengangguk pelan. Ia berbalik dan berlalu dengan kudanya. Shine mengalihakn pandanganya kevampire laki-laki yang masih berdiri dengan wajah datar.
"Um...terimakasih. Jadi bagaimana aku harus membayarmu?"
"Bagaimana menurutmu?"Vampire itu balas bertanya.
Shine menelan gumpalan ludah di belakang lidahnya yang mendadak kaku. "Kau bisa mengambil darahku, jika itu maumu"
Vampire itu menatap Shinelama, diam, masih dengan wajah datar. Mendengus pendek. "Aku tidak membutuhkannya"
"Eh? Uh..apa?.. Benarkah?!" Shine tidak mempercayai pendengarannya sendiri. Untuk seseorang yang membenci vampire seumur hidupnya, dia menawarkan darahnya untuk vampire. Dan dia ditolak?! Apa ini benar terjadi?! "Lalu apa yang kau inginkan?"
"Namamu. Ijinkan aku memakainya sekali"
"Na-nama?!”, ulang Shine, mengecek apakah dia tidak salah dengar. “Kenapa kau membutuhkannya?!"
"Aku lari dari rumah. Jadi aku butuh tempat tinggal. Tapi begitu aku membelinya dengan namaku, orang tuaku bisa menemukanku"
Shine tampak kehilangan kata-kata untuk beberapa saat. Dia mungkin tidak menyangka akan mendengar cerita anak kabur dari seorang vampire. "Jadi kau ingin sebuah rumah dengan namaku untuk kau tinggali...?" Shine memutar otaknya. Apa vampire ini barusan memintaku membelikannya sebuah rumah? Apa dia gila?! Mana mungkin aku punya uang untuk membelikannya rumah, aku saja masih tinggal di apartemen sewaan, pikirnya
kacau. Dia tidak punya cukup uang.
Vampire itumengangguk. "Kau bisa tinggal di sana jika kau mau. Maksudku, jika kau keberatan aku menggunakan
namamu untuk keperluanku sendiri"
Shine mengerjap beberapa kali. Tinggal serumah dengan vampire? Kurasa tidak. "Begini... tentang rumah..maksudku, ok, aku akan membelikannya...tapi...."
"Aku tidak pernah memintamu membelikannya”, potong si vampire. “Aku hanya ingin memakai namamu untuk
membelinya. Apa permintaanku terlalu sulit?"
"Eh-oh..tidak” Kepala Shine kembali blank. Vampire ini benar-benar tidak terduga. “Jadi...cuma itu saja? Benarkah sudah cukup?"
Si vampiremengangguk pelan. "Jadi siapa namamu?"
"Shine. Namaku Shine Williams"
"Ok", gumam si vampiresambil berbalik, mulai melangkah pergi.
"Kau... siapa namamu?", panggil Shine.
"Zero", ujar si vampiremasih sambil melangkah pergi.
"Terimakasih, Zero. Dan...um, senang berkenalan denganmu"
Zero menghentikan langkahnya sebentar, tapi ia tidak menoleh. Lalu ia kembali berjalan pergi. Beberapa hari kemudian Zero menemui Shine di apartemennya. Tidak jelas bagaimana Zero mengetahui alamat Shine. Dia datang
meminta tanda tangan untuk surat kepemilikan rumah kemudian pergi. Shane dan Shine awalnya hanya penasaran dengan rumah yang dibeli Zero dan apa yang dilakukanya di sana. Shane mengatakan kalau keputusan Shine mungkin terlalu gegabah. Dan organisasi hunter mungkin akan menghukum mereka karena menyembunyikan seorang vampire. Lalu mereka memutuskan untuk pindah ke rumah Zero untuk mengawasi apa yang dilakukanya. Dan mereka mengunakan dalih pada organisasi bahwa mereka berhasil menjinakkan seorang vampire yang dapat digunakan untuk membantu misi.