The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 14 Di Sisi Lain



Sudah kuduga seharusnya aku tidak berangkat hari


ini. Humphire menjadi lebih berisik daripada biasanya. Pasalnya kemarin lusa


muncul rumor bawa pangeran vampire ada di antara murid Humphire. Para murid


vampire menjadi sering memperdebatkan siapa di antara mereka yang sebenarnya


adalah the lost prince. Beberapa orang menganggapnya kesempatan untuk mendekati


dan memihak sang pangeran, ada pula yang berdiskusi sembunyi-sembunyi


merencanakan untuk membongkar rahasianya. Mereka semua benar-benar larut dalam


membuktikan rumor itu.


"Kau tidak penasaran untuk mencarinya juga,


Key?", tanya Arion waktu kami berlatih pedang kemarin.


"Kenapa juga harus aku penasaran?"


"Kemarin-kemarin kan kau juga lumayan


penasaran tentang pangeran kami. Jadi kukira kali ini jugga begitu"


Aku menggeleng. "Sama sekali. Lagipula buat


apa juga pangeran itu datang ke Humphire. Jika dia memang mau sembunyi maka dia


tidak mungkin ke sini"


Arion menegak air mineral dari botol. Matanya


nampak menatapku penuh selidik. "Lalu bagaimana jika dia bukan ingin


sembunyi?"


Benar juga. Aku hampir lupa kalau Arion juga


pengikutnya. Arion berharap pangeran itu kembali. "Kalau begitu mungkin


saja. Tapi untuk apa datang ke sekolah?"


Arion mengangkat kedua bahunya. Dia juga tidak bisa


menerka tujuan pangerannya.


"Mengumpulkan pasukan, mungkin?", tanyaku


menebak. Seorang pangeran akan membutuhkan pasukan untuk kembali ke kursinya.


Arion juga sebatas menyetujui kemungkinan itu.


Rupanya dugaan dari kebanyakan murid juga sama, yang menyebabkan mereka pecah


menjadi dua kubu. Benar-benar berisik. Bahkan pojok sepi perpustakaan jadi


tidak sesepi biasanya. Sejak awal pendengaranku mmeang sudah tajam, jadi


sekarang pun telingaku lebih tajam dari vampire lain.


Sebuah suara langkah kaki mendekat ke tempatku


duduk. Aku mengenalinya. Itu kepala sekolah Humphire, prof. Quinton.


"Aku cukup terkejut kau ada di tempat seperti


ini, miss Wilder", ujarnya begitu sampai di depan kursi tempatku duduk.


"Tapi tetap saja, ketahananmu jauh lebih mengejutkan"


Ketahanan? Orang tua ini mau berceramah agar aku


meminum darah lagi. Merepotkan sekali. "Apa Anda juga sedang mencari buku,


profesor?"


Prof. Quinton menggeleng. "Aku mungkin tahu


lebih banyak daripada buku-buku itu", ujarnya. "Kau tidak akan


menemukannya di sini, miss Wilder. Terimalah sisi vampire itu demi kebaikanmu


sendiri"


Mataku membesar, tak percaya yang kudengar.


Bagaimana dia bisa tahu apa yang coba kucaritahu.


Prof. Quinton sudah berbalik dan mulai melangkah


pergi, tapi ia masih melanjutkan pembicaraanya. "Kurasa kau sudah tahu,


waktumu tidak lama lagi. Ah, satu lagi. Membunuh master mu juga bukan jalan


keluar untuk tidak menjadi mad vampire"


Bulu kudukku berdiri. Apa-apaan vampire tua itu?


Dia tidak mengenalku dan kami bahkan tidak pernah bicara lebih dari beberapa


detik. Bagaimana dia bisa tahu apa yang sedang aku coba lakukan dan apa yang


aku inginkan. Seolah dia bisa membaca pikiranku. Tapi itu tidak mungkin kan.


Walau seberapa hebat dan tidak masuk akalnya bakat vampire, tidak mungkin ada yang


seperti itu.


***


Sepulang dari sekolah hal tak terduga lain menyambutku. Karen memotong pendek rambutnya. Kini rambut pirangnya hanya sepanjang dagu. Waktu aku memanjangkan rambutku Karen ikut memanjangkannya


juga. Tapi sekarang dia malah memotongnya. Terlebih lagi Karen tidak meminta


pendapatku dulu. Tidak seperti Karen yang biasanya.


"Apa sejelek itu?", tanya Karen. Bibirnya


dimanyunkan sedikit, memasang wajah ngambek.


Mana mungkin jelek kan? Wajah Karen yang sedikit


chubby di bawah tulang pipinya, rambut pirang, mata biru terangnya yang besar


dan senyum yang tak pernah luput dari wajah itu. Dia nampak seperti boneka.


"Manis sekali", ujarku.


Karen kembali tersenyum. "Kakak..tidak marah kan?"


"Kenapa aku harus marah?" Aku tidak mengerti ke mana arah perkataanya.


"Aku memanjangkan rambutku mengikuti kakak,


karena aku ingin menjadi seperti kakak, walau cuma sedikit. Walau cuma sebatas


panjang rambut yang sama. Tapi sejujurnya, aku bukan cuma ingin meniru kakak


dari luar saja"


Aku masih tidak yakin ke mana arah pembicaraan ini.


Dan aku hanya diam tak bergeming.


"Dari dulu, aku selalu ingin seperti kakak.


Cantik, pintar dan kuat. Karena itu aku selalu mengganggumu. Aku memang tidak


sepintar dan sekuat kakak, tapi aku ingin berjuang sekuat tenaga. Mungkin aku tidak


akan pernah menjadi seperti kakak. Walau begitu, aku ingin menjadi kuat dengan


caraku sendiri"


Ah...aku tahu sekarang. Ini masih masalah bergabung


dengan hunter. Sudah seminggu lebih Karen dan aku tidak lagi memperdebatkannya.


"Karen..." Sial. Aku tidak bisa menemukan


kata-kata yang pas setelah mendengar ucapan Karen tadi.


"Aku akan bergabung ke vampire hunter. Dan


keputusanku tidak akan berubah walau kakak melarangnya", ujar Karen.


Ketegasan dalam kata-katanya terpantul pula dalam bayangan yang dipantulkan


mata indahnya.


Setelah mengatakan semua itu, apa yang dia harapkan


untik kukatakan. Dia menggunakan pujian di depan lalu menampakkan niatanya.


Bahkan menegaskan kalau dia tidak akan mengubahnya. Aku hanya menatapnya datar.


Tidak ada yang bisa kukatakan.


Aku bergegas menaiki tangga, menuju kamarku.


Sesuatu terasa berdenging di dalam kepalaku. Tapi kali ini bukan karena darah


vampire. Aku masih punya banyak stamina setelah ketiduran di perpustakaan


beberapa hari lalu. Setelah mengganti pakaian aku meraih busurku lalu melompat


keluar lewat jendela. Berlari dengan kecepatan penuh ke dalam hutan. Tidak


ingin ada yang menyusulku. Aku butuh waktu sendiri. Setelah melewati sungai di


tengah hutan, aku mulai mencari targetku dan membidiknya. Mengumpulkan


konsentrasi dan melambatkan napas saat membidik selalu manjur untuk


menjernihkan pikiranku. Terhanyut dalam konsentrasi aku melupakan waktu. Aku


sama sekali tidak mengingat berapa lama aku ada di dalam hutan sampai suara


yang familiar tiba-tiba muncul di sebelahku. Aku bahkan hampir menyerangnya


dengan belati.


"Kau mau membunuh semua burung di sini atau


bagaimana?", tanya Zero sedatar biasanya. Sebelah tanganya menangkis


seranganku.


Aku menarik tanganku, mundur selangkah. Mengagetkan


saja. Sejak kapan dia di sini? Dan lagi kenapa aku tidak mendengarnya datang?


"Astaga! Lihat itu!", seru Arion yang


baru menyusul. Dia berlari mengambil beberapa burung yang terkapar kaku di


tanah. "Semuanya tepat di mata kiri. Kau benar-benar berbakat Key. Kalau


seperti ini tidak perlu menjadi ahli pedang juga tidak apa"


"Sedang apa kalian di sini?”


“Mencegah kepunahan burung”,


ujar Zero tanpa emosi. Mata biru topaz nya menatap ke sekeliling kami,


memperhatikan burung-burung tanpa nyawa di tanah.


Arion tertawa kecil. “Kami


mencium bau darah yang cukup banyak. Jadi kami kemari untuk memastikan keadaan”


Zero tadi tidak di rumah.


Entah ada urusan apa, tapi belakangan ini dia sering pergi sendirian. Dan Arion


kemungkinan memang datang untuk melatihku. Tapi sepertinya kebetulan sekali


mereka datang bersamaan. Seperti Zero tidak baru main ke rumah Arion atau


semacamnya. Dia masih saja bersikap tak acuh pada Arion yang repot-repot


mencarinya dan membujuknya pulang. Bukanya aku peduli padanya, hanya saja Arion


tidak pantas diperlakukan seperti itu.


“Teman-teman, gimana kalau


kita makan malam di tengah hutan?”, tanya Arion. Ia mengangkat kedua tanganya


yang memegang kaki beberapa ekor burung. Senyum hangatnya mengembang dan cahaya


mentari senja terpantul lembut di mata berwarna hijau emerald nya. Kami


langsung mengerti maksud Arion. Dia ingin membuat api unggun seperti waktu itu,


lalu membakar beberapa ekor burung. Zero mendengus pelan, tapi dia tidak


menolak.


Arion tertawa pelan melihat


reaksi Zero. Lalu ia segera mengajukan diri untuk mencari kayu bakar. Aku pergi


ke balik pepohonan, mengambil burung-burung lain yang terkena panahku. Mengigit


bibir bawahku, merasa ngeri atas perbuatanku sendiri saat menyadari aku sudah


memungut  ekor 20 burung lebih. Sepertinya


aku memang memiliki masalah serius dalam emngendalikan emosiku sendiri.


Seharusnya aku mengatakan pada Karen alasanku tidak menyetujuinya adalah untuk


keselamatanya sendiri. Akulah yang akan menyelesaikan dendam kami pada


vanBlood. Karen tidak perlu terlibat lebih jauh lagi.


Saat aku kembali ke tempat


Zero dan Arion, api unggun sudah menyala. Dan mereka tengah membersihkan


burung-burung di tepi sungai kecil. Aku mendekat ke api unggun itu, meletakkan


burung-burung yang kubawa. Lalu mengambil beberapa ranting dan menajamkan satu


sisinya untuk dibuat tusuk. Udara malam ini dingin, malah sebenarnya sejak pagi


tadi sudah dingin. Aku melirik api unggun yang menyala terang dalam gelap.


Hebat juga mereka bisa membuat api secepat ini. Padahal semua ranting yang


kutemukan basah dan dingin. Sedangkan Zero maupun Arion tidak membawa-bawa


korek di saku, mengingat mereka tidak merokok.


Makan malam itu menyenangkan.


Walau udaranya benar-benar dingin. Arion menceritakan berbagai kisah menariknya


tentang dunia underworld. Walau aku tidak tertarik pada kehidupan vampire,


untuk suatu alasan ceritanya tetap menarik saat Arion yang mengatakan. Arion


sangat peka membaca suasana, seolah dia bisa selalu mengetahui mood seseorang


hanya dari matanya. Tapi dia tidak mengatakan apapun, tidak menanyakan apapun.


Tak lama kemudian Shane menyusul kami. Rupanya dia penasaran karena kami tidak


segera kembali ke rumah. Harus kuakui, di saat-saat seperti ini aku hampir lupa


kalau kami bukan manusia. Atau mungkin aku berharap demikian, jauh di dalam


hati kecil.