
Sudah kuduga seharusnya aku tidak berangkat hari
ini. Humphire menjadi lebih berisik daripada biasanya. Pasalnya kemarin lusa
muncul rumor bawa pangeran vampire ada di antara murid Humphire. Para murid
vampire menjadi sering memperdebatkan siapa di antara mereka yang sebenarnya
adalah the lost prince. Beberapa orang menganggapnya kesempatan untuk mendekati
dan memihak sang pangeran, ada pula yang berdiskusi sembunyi-sembunyi
merencanakan untuk membongkar rahasianya. Mereka semua benar-benar larut dalam
membuktikan rumor itu.
"Kau tidak penasaran untuk mencarinya juga,
Key?", tanya Arion waktu kami berlatih pedang kemarin.
"Kenapa juga harus aku penasaran?"
"Kemarin-kemarin kan kau juga lumayan
penasaran tentang pangeran kami. Jadi kukira kali ini jugga begitu"
Aku menggeleng. "Sama sekali. Lagipula buat
apa juga pangeran itu datang ke Humphire. Jika dia memang mau sembunyi maka dia
tidak mungkin ke sini"
Arion menegak air mineral dari botol. Matanya
nampak menatapku penuh selidik. "Lalu bagaimana jika dia bukan ingin
sembunyi?"
Benar juga. Aku hampir lupa kalau Arion juga
pengikutnya. Arion berharap pangeran itu kembali. "Kalau begitu mungkin
saja. Tapi untuk apa datang ke sekolah?"
Arion mengangkat kedua bahunya. Dia juga tidak bisa
menerka tujuan pangerannya.
"Mengumpulkan pasukan, mungkin?", tanyaku
menebak. Seorang pangeran akan membutuhkan pasukan untuk kembali ke kursinya.
Arion juga sebatas menyetujui kemungkinan itu.
Rupanya dugaan dari kebanyakan murid juga sama, yang menyebabkan mereka pecah
menjadi dua kubu. Benar-benar berisik. Bahkan pojok sepi perpustakaan jadi
tidak sesepi biasanya. Sejak awal pendengaranku mmeang sudah tajam, jadi
sekarang pun telingaku lebih tajam dari vampire lain.
Sebuah suara langkah kaki mendekat ke tempatku
duduk. Aku mengenalinya. Itu kepala sekolah Humphire, prof. Quinton.
"Aku cukup terkejut kau ada di tempat seperti
ini, miss Wilder", ujarnya begitu sampai di depan kursi tempatku duduk.
"Tapi tetap saja, ketahananmu jauh lebih mengejutkan"
Ketahanan? Orang tua ini mau berceramah agar aku
meminum darah lagi. Merepotkan sekali. "Apa Anda juga sedang mencari buku,
profesor?"
Prof. Quinton menggeleng. "Aku mungkin tahu
lebih banyak daripada buku-buku itu", ujarnya. "Kau tidak akan
menemukannya di sini, miss Wilder. Terimalah sisi vampire itu demi kebaikanmu
sendiri"
Mataku membesar, tak percaya yang kudengar.
Bagaimana dia bisa tahu apa yang coba kucaritahu.
Prof. Quinton sudah berbalik dan mulai melangkah
pergi, tapi ia masih melanjutkan pembicaraanya. "Kurasa kau sudah tahu,
waktumu tidak lama lagi. Ah, satu lagi. Membunuh master mu juga bukan jalan
keluar untuk tidak menjadi mad vampire"
Bulu kudukku berdiri. Apa-apaan vampire tua itu?
Dia tidak mengenalku dan kami bahkan tidak pernah bicara lebih dari beberapa
detik. Bagaimana dia bisa tahu apa yang sedang aku coba lakukan dan apa yang
aku inginkan. Seolah dia bisa membaca pikiranku. Tapi itu tidak mungkin kan.
Walau seberapa hebat dan tidak masuk akalnya bakat vampire, tidak mungkin ada yang
seperti itu.
***
Sepulang dari sekolah hal tak terduga lain menyambutku. Karen memotong pendek rambutnya. Kini rambut pirangnya hanya sepanjang dagu. Waktu aku memanjangkan rambutku Karen ikut memanjangkannya
juga. Tapi sekarang dia malah memotongnya. Terlebih lagi Karen tidak meminta
pendapatku dulu. Tidak seperti Karen yang biasanya.
"Apa sejelek itu?", tanya Karen. Bibirnya
dimanyunkan sedikit, memasang wajah ngambek.
Mana mungkin jelek kan? Wajah Karen yang sedikit
chubby di bawah tulang pipinya, rambut pirang, mata biru terangnya yang besar
dan senyum yang tak pernah luput dari wajah itu. Dia nampak seperti boneka.
"Manis sekali", ujarku.
Karen kembali tersenyum. "Kakak..tidak marah kan?"
"Kenapa aku harus marah?" Aku tidak mengerti ke mana arah perkataanya.
"Aku memanjangkan rambutku mengikuti kakak,
karena aku ingin menjadi seperti kakak, walau cuma sedikit. Walau cuma sebatas
panjang rambut yang sama. Tapi sejujurnya, aku bukan cuma ingin meniru kakak
dari luar saja"
Aku masih tidak yakin ke mana arah pembicaraan ini.
Dan aku hanya diam tak bergeming.
"Dari dulu, aku selalu ingin seperti kakak.
Cantik, pintar dan kuat. Karena itu aku selalu mengganggumu. Aku memang tidak
sepintar dan sekuat kakak, tapi aku ingin berjuang sekuat tenaga. Mungkin aku tidak
akan pernah menjadi seperti kakak. Walau begitu, aku ingin menjadi kuat dengan
caraku sendiri"
Ah...aku tahu sekarang. Ini masih masalah bergabung
dengan hunter. Sudah seminggu lebih Karen dan aku tidak lagi memperdebatkannya.
"Karen..." Sial. Aku tidak bisa menemukan
kata-kata yang pas setelah mendengar ucapan Karen tadi.
"Aku akan bergabung ke vampire hunter. Dan
keputusanku tidak akan berubah walau kakak melarangnya", ujar Karen.
Ketegasan dalam kata-katanya terpantul pula dalam bayangan yang dipantulkan
mata indahnya.
Setelah mengatakan semua itu, apa yang dia harapkan
untik kukatakan. Dia menggunakan pujian di depan lalu menampakkan niatanya.
Bahkan menegaskan kalau dia tidak akan mengubahnya. Aku hanya menatapnya datar.
Tidak ada yang bisa kukatakan.
Aku bergegas menaiki tangga, menuju kamarku.
Sesuatu terasa berdenging di dalam kepalaku. Tapi kali ini bukan karena darah
vampire. Aku masih punya banyak stamina setelah ketiduran di perpustakaan
beberapa hari lalu. Setelah mengganti pakaian aku meraih busurku lalu melompat
keluar lewat jendela. Berlari dengan kecepatan penuh ke dalam hutan. Tidak
ingin ada yang menyusulku. Aku butuh waktu sendiri. Setelah melewati sungai di
tengah hutan, aku mulai mencari targetku dan membidiknya. Mengumpulkan
konsentrasi dan melambatkan napas saat membidik selalu manjur untuk
menjernihkan pikiranku. Terhanyut dalam konsentrasi aku melupakan waktu. Aku
sama sekali tidak mengingat berapa lama aku ada di dalam hutan sampai suara
yang familiar tiba-tiba muncul di sebelahku. Aku bahkan hampir menyerangnya
dengan belati.
"Kau mau membunuh semua burung di sini atau
bagaimana?", tanya Zero sedatar biasanya. Sebelah tanganya menangkis
seranganku.
Aku menarik tanganku, mundur selangkah. Mengagetkan
saja. Sejak kapan dia di sini? Dan lagi kenapa aku tidak mendengarnya datang?
"Astaga! Lihat itu!", seru Arion yang
baru menyusul. Dia berlari mengambil beberapa burung yang terkapar kaku di
tanah. "Semuanya tepat di mata kiri. Kau benar-benar berbakat Key. Kalau
seperti ini tidak perlu menjadi ahli pedang juga tidak apa"
"Sedang apa kalian di sini?”
“Mencegah kepunahan burung”,
ujar Zero tanpa emosi. Mata biru topaz nya menatap ke sekeliling kami,
memperhatikan burung-burung tanpa nyawa di tanah.
Arion tertawa kecil. “Kami
mencium bau darah yang cukup banyak. Jadi kami kemari untuk memastikan keadaan”
Zero tadi tidak di rumah.
Entah ada urusan apa, tapi belakangan ini dia sering pergi sendirian. Dan Arion
kemungkinan memang datang untuk melatihku. Tapi sepertinya kebetulan sekali
mereka datang bersamaan. Seperti Zero tidak baru main ke rumah Arion atau
semacamnya. Dia masih saja bersikap tak acuh pada Arion yang repot-repot
mencarinya dan membujuknya pulang. Bukanya aku peduli padanya, hanya saja Arion
tidak pantas diperlakukan seperti itu.
“Teman-teman, gimana kalau
kita makan malam di tengah hutan?”, tanya Arion. Ia mengangkat kedua tanganya
yang memegang kaki beberapa ekor burung. Senyum hangatnya mengembang dan cahaya
mentari senja terpantul lembut di mata berwarna hijau emerald nya. Kami
langsung mengerti maksud Arion. Dia ingin membuat api unggun seperti waktu itu,
lalu membakar beberapa ekor burung. Zero mendengus pelan, tapi dia tidak
menolak.
Arion tertawa pelan melihat
reaksi Zero. Lalu ia segera mengajukan diri untuk mencari kayu bakar. Aku pergi
ke balik pepohonan, mengambil burung-burung lain yang terkena panahku. Mengigit
bibir bawahku, merasa ngeri atas perbuatanku sendiri saat menyadari aku sudah
memungut ekor 20 burung lebih. Sepertinya
aku memang memiliki masalah serius dalam emngendalikan emosiku sendiri.
Seharusnya aku mengatakan pada Karen alasanku tidak menyetujuinya adalah untuk
keselamatanya sendiri. Akulah yang akan menyelesaikan dendam kami pada
vanBlood. Karen tidak perlu terlibat lebih jauh lagi.
Saat aku kembali ke tempat
Zero dan Arion, api unggun sudah menyala. Dan mereka tengah membersihkan
burung-burung di tepi sungai kecil. Aku mendekat ke api unggun itu, meletakkan
burung-burung yang kubawa. Lalu mengambil beberapa ranting dan menajamkan satu
sisinya untuk dibuat tusuk. Udara malam ini dingin, malah sebenarnya sejak pagi
tadi sudah dingin. Aku melirik api unggun yang menyala terang dalam gelap.
Hebat juga mereka bisa membuat api secepat ini. Padahal semua ranting yang
kutemukan basah dan dingin. Sedangkan Zero maupun Arion tidak membawa-bawa
korek di saku, mengingat mereka tidak merokok.
Makan malam itu menyenangkan.
Walau udaranya benar-benar dingin. Arion menceritakan berbagai kisah menariknya
tentang dunia underworld. Walau aku tidak tertarik pada kehidupan vampire,
untuk suatu alasan ceritanya tetap menarik saat Arion yang mengatakan. Arion
sangat peka membaca suasana, seolah dia bisa selalu mengetahui mood seseorang
hanya dari matanya. Tapi dia tidak mengatakan apapun, tidak menanyakan apapun.
Tak lama kemudian Shane menyusul kami. Rupanya dia penasaran karena kami tidak
segera kembali ke rumah. Harus kuakui, di saat-saat seperti ini aku hampir lupa
kalau kami bukan manusia. Atau mungkin aku berharap demikian, jauh di dalam
hati kecil.