The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 9 Teman Lama (part 1)



Shane meraih tas punggungnya, memasukkan sebuah senapan ukuran sedang, pisau besar dan peluru.


Tak lupa ia menyelipkan pistol kecil ke saku samping celana bersaku-8-nya.


"Ada misi?",  tanyaku yang dari pagi buta duduk di teras samping.


Shane menggeleng. "Mau melanjutkan pelacakan. Zero saja bekerja keras dengan mencari di CCTV kota


Ireland. Aku juga harus membantu"


"Aku ikut", ujarku, berdiri dari kursi tempatku duduk membaca buku untuk menghabiskan


malam. "Aku juga tidak mau diam saja"


"Kurasa itu bukan ide bagus. Ireland memiliki banyak daerah misteri, ada kawasan hutan lindung di


sana. Banyak vampire tinggal di kota itu"


"Ayolah, Shane. Aku tidak akan mengacau"


"Sebaiknya kau menunggu di rumah saja. Bukankah aku sudah berjanji akan membantumu"


Aku sedikit memanyunkan bibirku. "Aku tidak suka cuma menunggu saja. Aku juga ingin berusaha. Jadi


biarkan aku ikut, hm?"


Shane menatapku sebentar lalu membuang napas panjang. Ia mengangguk pelan. Aku menang, batinku. Bergegas


aku naik ke lantai 2, ke kamarku, berganti pakaian. Aku memilih baju lengan


panjang serupa sweater dengan bagian leher tertutup, memadukannya dengan celana


jeans panjang dan jaket kulit hitam. Setelah mengikat rambut dan memoleskan


pelembab muka, aku meraih sepatu model boots dan kantung berisi pisau-pisau


kecil. Kurasa tak ada salahnya membawa senjata sendiri untuk berjaga-jaga. Aku


sempat menajamkan telinga sebentar, mengecek penghuni kamar sebelah. Kedengarannya


Zero sedang sibuk. Bagus, jadi cuma Shane dan aku.


Aku berlari keluar, menghampiri Shane yang menunggu di dalam mobil van hitam. Dan kami pun segera melaju ke kota Ireland, ke daerah pinggiran dekat kawasan hutan lindung. Kami butuh 2 jam


berkendara untuk sampai. Barisan pohon pinus yang menjulang tinggi menyambut


begitu memasuki daerah tujuan kami. Aku menurunkan kaca jendela di sampingku,


membiarkan udara segar menyeruak masuk ke mobil. Ah, aroma ini sungguh


membuatku terkenang masa-masa damai sebagai manusia biasa. Shane memarkirkan


mobil, lalu kami berjalan ke sebuah bar. Tapi kemudian langkah Shane berhenti, dan dia menyuruhku


menunggu di mobil saja. Aku menyetujuinya dan kembali ke mobil. Sepertinya


Shane bisa merasakan keberadaan vampire di dalam bar itu. Malah reaksinya lebih


cepat dariku. Benar juga, Shane dan Shine sudah menjadi vampire hunter sejak


masih di bangku SMP.


Beberapa saat kemudian Shane kembali. Menurut informasi yang


diperolehnya memang ada beberapa vampire yang sering berbuat onar di daerah


ini. Tapi Shane tidak mendapat kepastian apakah ada kelompok vanBlood.


“Lalu bagaimana kita bisa melacaknya? Di sini tidak ada kamera pengawas”


“Kita bisa mencoba bertanya pada beberapa orang. Lalu kembali dengan


anjing pelacak untuk mencari persembunyian vampire. Kelompok vampire yang


berbuat onar biasanya memiliki simpanan darah yang banyak atau lebih buruk lagi..”


Aku menelan ludah, menerka kelanjutan kata-kata Shane.


“Manusia”


Seperti dugaan. Jadi, vampire yang seperti vanBlood ada banyak.


“Kurasa aku harus kembali dan membiarkan markas mengurus hal ini. Ini


akan memakan waktu jika ada lebih dari 2 kelompok vampire. Dan kita butuh


anjing pelacak”


“Aku bisa melakukannya”


Shane menaikkan sebelah alisnya, tidak mengerti maksudku.


“Maksudku, melacak bau. Jadi tidak perlu kembali untuk mengambil anjing”


“Ah...benar” Shane memijat belakang lehernya dengan canggung. Kurasa


kadang Shane lupa kalau aku bukan manusia sepertinya.


Maka kami pun berjalan memasuki hutan, mencoba mencari petunjuk sekecil


apapun. Hidungku benar-benar bekerja secara optimal. Aku bisa mencium dan


membedakan bau berjarak setidaknya 3-4 km. Sebenarnya semua peningkatan indera


semacam ini benar-benar membuatku jijik dan ngeri. Seolah menegaskan bahwa aku


benar-benar tak kan bisa kembali menjadi diriku yang dulu. Aku berhenti


melangkah saat mendengar suara tawa yang familiar. Itu suara Sheryll! Dia


berjalan bersama seorang pria menuju ke arah kami. Aku mematung tak percaya


dengan yang kulihat, kenapa Sheryll ada di tempat seperti ini. Shane tampak


bingung melihat tingkahku, tapi aku tak punya waktu untuk memikirkanya. Saat


bisa menyadarkan diri, Sheryll dan pria itu sudah terlalu dekat, akan


mencurigakan kalau aku berlari sekarang. Tanpa pikir panajng aku berbalik dan


memeluk Shane, menyembunyikan wajahku di dadanya yang bidang. Aku tidak boleh


terlihat olehnya.


Aku segera melepas pelukanku setelah memastikan Sheryll tidak lagi


dalam jarak pandangnya. Perasaan bersalah menyerangku. Masih kudengar detak


jantung Shane yang seperti dipacu sekencang mungkin. Dari tadi Shane tidak


bergeming  sedikitpun, seolah seluruh


tubunya membatu menjadi kaku. Ini salahku. Siapapun pasti ketakutan saat vampire


memeluknya.


 “Aku benar-benar minta maaf, Shane. Aku tidak ada maksud apapun. Barusan itu teman lamaku. Dia tidak boleh


melihatku. Jadi.. maaf aku ceroboh”


Detak jantung Shane masih berdegum kencang, tapi dia menggeleng. “Tidak


apa-apa. Aku cuma terkejut”


Kami pun kembali melanjutkan menyusuri setapak kecil itu, walau suasana


menjadi canggung. Butuh beberapa menit hingga jantung Shane berdetak dengan


irama normal. Namun kemudian, sebuah jeritan menghentikan kakiku. Itu suara


Sheryll lagi! Sontak aku berlari ke arah datangnya suara.


“Ada apa?”, tanya Shane yang berlari mengikutiku. Dia mungkin tidak mendengarnya.


“Sheryll baru saja berteriak minta tolong”


Kami mempercepat  langkah, lari ke sumber suara, lalu berhenti ketika mencapai bibir hutan, menyembunyikan diri


di balik sebatang pohon besar. Pria yang bersama Sheryll masuk ke sebuah jeep hitam,


menutup pintunya dan segera melaju. Sheryll ada di dalamnya, seorang pria lain


memaksanya ikut. Sontak aku bersiap untuk berlari mengejar jeep itu, tapi Shane


menghentikanku.


“Tunggu. Mereka akan membawa kita ke markasnya”, ujar Shane.


Aku menatap Shane dalam-dalam,mencoba menerka


pikirannya. Mungkinkah dia pikir kita akan bertemu vampire? “Dan bagaimana jika itu bukan sarang vampire?”


“Tentu saja kita tetap menyelamatkanya. Dia temanmu, kan?” Shane


berjalan menuju ke tempatnya memarkir mobilnya. “Cepatlah!”


Aku mengikutinya berlari ke mobil. Shane segera menginjak gas dan


mengejar mobil jeep tadi.


“Bukankah hunter akan kesulitan ikut campur jika bukan tentang


vampire?”, tanyaku masih tidak memahami rencana Shane yang asal mengejar jeep


dirahasiakan dan juga tidak memiliki wewenang selain menyangkut masalah


vampire. Entah atas dasar apa Shane menduga kami akan menemukan sarang vampire.


Yang kutahu, dua orang pria yang menculik Sheryll adalah manusia.


“Memang benar. Karena itu aku memanggil Zero alih-alih pasukan”, kata Shane.


Aku membuang wajah, mendengus sebal. Dia memanggil Zero! Tak bisa kupercaya itulah rencananya.


Shane tertawa pelan menyadari perubahan wajahku. “Di


saat seperti inilah dia sangat berguna. Aku tahu kau membencinya, tapi Zero


adalah pilihan terbaik saat ini”


Kurasa aku memang tidak punya pilihan. Tapi tetap saja


menyebalkan sekali harus bergantung pada bantuan vampire tanpa ekspresi itu.


Dan lagi, begitu Zero tahu aku mengikuti Shane pasti dia akan mulai mengomel


seperti biasa. Ini bahaya, itu bahaya. Padahal yang mau dikatakannya, yang


berbahaya itu aku. Aku bisa mengingat setiap kata yang dilontarkanya padaku.


Vampire itu sama buruknya dengan vanBlood. Dia selalu menyuruhku minum darah


dan menerima kenyataan. Lalu berbicara tentang bagaimana exhuman keras kepala


akan berubah menjadi madvampire saat mencapai batas. Tubuh exhuhman yang menolak


minum darah lama-kelamaan akan kehilangan kendali, kemudian ia pun menjadi sosok


tanpa kesadaran yang hanya mengincar darah manusia.


Aku tidak mungkin menjadi monster seperti itu. Akan kutunjukkan padanya! Aku juga tidak mau hidup sebagai penyedot darah makhluk lain.


Shane menghentikan mobilnya sesaat setelah kami melewati sebuah mansion


bergaya Eropa. Halamannya benar-benar luas, bahkan ada kandang kuda di bagian


belakang. Tempat itu dikelilingi pagar dari dinding setinggi 3 meter. Shane dan


aku harus memanjat pohon yang tumbuh di samping sisi luar dinding untuk melihat


ke dalam. Jeep yang membawa Sheryll berhenti di depan, kemudian pria yang terus


mencengkeram lengannya menyeretnya ke bagian belakang mansion. Aku melompat


turun dan bergerak pelan di belakang barisan tanaman, mencari titik yang bagus


untuk memantau keadaan. Sheryll dibawa masuk ke sebuah ruangan di bawah tanah,


dan lebih buruk lagi aku mencium bau darah dari ruangan itu. Shane benar, ini


adalah sarang vampire.


“Key...kau mengagetkanku”, ujar Shane pelan begitu dia menyusulku.


“Jangan buru-buru dan bergerak sendiri tanpa rencana. Jika tempat ini benar


persembunyian vampire kita mungkin tidak bisa menanganinya berdua saja”


Aku kembali mendengus sebal. Benar. Kami harus menunggu bantuan bernama


Zero datang. Menyebalkan. Tapi harus kuakui kami membutuhkanya, karena aku


merasakan ada setidaknya 4 orang vampire di dalam sana. Dan aku tidak punya pengalaman bertarung


sama sekali. Suka tidak suka aku harus menunggu Zero alih-alih gegabah dan membahayakan


Shane. Aku masih membutuhkannya untuk melacak vanBlood.


Untungnya, sekitar 10 menit kemudian Zero tiba. Aku cukup terkejut dia sampai secepat ini.


Padahal aku dan Shane butuh 2 jam untuk sampai di kawasan hutan lindung tadi.


Kami kemudian berpencar, Zero akan menyerang dari gerbang depan, mengalihkan


perhatian para penjaga lalu mematikan alarm keamanan. Aku dan Shane akan


menyusup ke belakang dan membebaskan tawanan. Zero mengenakan masker penutup


wajah dan segera memulai aksinya. Dia melompati gerbang depan mansion sehingga


para penjaga yang berdiri di depan dan samping bangunan itu bergegas lari


menyambutnya. Aku sempat melirik orang-orang yang menjaga mansion itu


membidikkan senapan laras panjang ke arah Zero. Ada enam penjaga yang menuju ke


arahnya bersenjata timah panas, kemudian dua orang vampire menyusul mereka


sambil menghunus pedang. Zero mungkin akan kesulitan untuk selamat tanpa luka,


pikirku.


"Zero bisa mengatasi mereka. Tidak masalah", ujar Shane. "Lihat"


Zero menghindari semua peluru yang mengincarnya, sesekali menepis peluru dengan pedangnya. Serangan para penjaga itu sama sekali tidak mengenainya. Zero terus berjalan mendekati mansion tanpa


masalah. Malah, para penjaga itu yang berhenti melangkah maju untuk melawannya.


Dua dari mereka lari tunggang langgang keluar pagar, yang empat lagi berusaha


melawan namun Zero dapat memukul bagian belakang kepala mereka dengan cepat.


Para penjaga itu jatuh tak sadarkan diri, tapi sekarang 2 orang vampire berlari


menyerangnya bersamaan. Dalam sekejap, pikiran buruk bahwa Zero mungkin terluka


serius menguap dari kepalaku. Dia bisa menghadapi serangan 2 vampire berpedang


tanpa kewalahan. Gerakanya terlihat berirama dan gesit. Lalu dalam hitungan


detik, pedang Zero pun menebas leher kedua vampire itu satu per satu. Aroma


darah yang menguar ke udara sontak membuat dua vampire lain bergerak.  Aku menutup hidungku demi mencium aroma busuk yang keluar dari darah mereka. Shane menyerang mendahuluiku, menembakkan pistolnya


pada dua vampire yang baru keluar itu. Seorang di antaranya jatuh tersungkur


setelah menerima 2 peluru Shane. Yang satunya lagi cukup gesit menghindari


tembakan. Mataku membesar demi melihat vampire itu. Dia salah satu murid


Humphire, Sanchez, setahuku dia manusia. Sejak kapan dia menjadi vampire?


Shane meraih pisau besarnya untuk menangkis tebasan pedang vampire itu. Aku memasang masker wajah dan segera berlari sambil melemparkan 2 bilah belati, mengincar kakinya. Meleset! Dia berhasil menghindar


dengan melompat mundur. Aku kembali meraih 2 belati dan melempar ke arah


lehernya. Kali ini dia menangkisnya dengan pedang. Sanchez menatapku, tampak


cukup terkejut.


"Tunggu dulu. Kau ini juga exhuman kan? Kenapa kau bekerjasama dengan hunter?", tanyanya. Rupanya dia mengenaliku. "Mereka itu pembunuh vampire lho. Artinya kau juga akan mati"


"Bagus kalau memang begitu", ujarku sinis. "Kau sendiri, bulan lalu bukankah kau seorang manusia"


"Ah...jangan diingatkan begitu. Aku membencinya. Kau pun pasti sama saja denganku. Tubuh manusia yang lemah dan tak berdaya begitu memuakkan. Aku bekerja keras sehingga tuan Orlando mengakuiku


dan memberikanku kesempurnaan ini"


Menjijikan. Sanchez mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Dia sengaja membuat dirinya diubah? Tak bisa kupercaya.


"Kau, bergabunglah denganku. Hunter itu hanya memanfaatkanmu loh", katanya sambil mengulurkan sebelah tangan. "Atau mungkinkah kau tidak bisa meninggalkan mastermu. Ah..aku tidak


benar-benar mengingatnya. Itu kan vampire suram yang dijinakkan hunter.."


Slaasshh!!! Darah segar memuncrat keluar tanpa peringatan. Zero menebas leher Sanchez dari belakang. Entah sejak kapan dia ada di sana, aku pun tidak menyadarinya.


"Berisik", gumamnya datar. "Yang begini harusnya cepat disudahi, Shane"


"Kau benar. Tapi dia tadi sedang bicara"


"Tidak ada gunanya mendengar sampah bicara"


Aku menoleh ke arah vampire yang ditembak Shane, dia sudah tidak bernyawa. Zero bilang alarmnya sudah dia matikan. Kami segera menuju ke ruang bawah tanah di bagian belakang mansion. Masih ada 3


orang penjaga manusia dengan pistol. Aku segera melemparkan belati-belatiku,


memaku telapak kaki mereka ke lantai. Ketiganya tersungkur sambil meraung. Aku


kembali menutup hidungku. Aroma darah mereka masih bau busuk, tapi kali ini


manusia. Kerongkonganku mengeluarkan reaksi yang berbeda.


Di  dalam ruangan yang kami masuki, terdapat 5 sel seperti penjara. Masing-masing dihuni


5 orang gadis, manusia. Zero mengeluarkan sebuah kotak kecil serupa handphone


jaman dulu, menekan beberapa tombol. Setelah suara 'beep' kelima sel yang


terkunci pun membuka. Shane segera membantu gadis-gadis itu keluar.


"Tenanglah, kami di sini untuk menyelamatkan kalian", kata Shane. "Ayo cepat keluarlah"


Sheryll hanya berdiri tak bergeming, menatapku. "Key..."