
Shane meraih tas punggungnya, memasukkan sebuah senapan ukuran sedang, pisau besar dan peluru.
Tak lupa ia menyelipkan pistol kecil ke saku samping celana bersaku-8-nya.
"Ada misi?", tanyaku yang dari pagi buta duduk di teras samping.
Shane menggeleng. "Mau melanjutkan pelacakan. Zero saja bekerja keras dengan mencari di CCTV kota
Ireland. Aku juga harus membantu"
"Aku ikut", ujarku, berdiri dari kursi tempatku duduk membaca buku untuk menghabiskan
malam. "Aku juga tidak mau diam saja"
"Kurasa itu bukan ide bagus. Ireland memiliki banyak daerah misteri, ada kawasan hutan lindung di
sana. Banyak vampire tinggal di kota itu"
"Ayolah, Shane. Aku tidak akan mengacau"
"Sebaiknya kau menunggu di rumah saja. Bukankah aku sudah berjanji akan membantumu"
Aku sedikit memanyunkan bibirku. "Aku tidak suka cuma menunggu saja. Aku juga ingin berusaha. Jadi
biarkan aku ikut, hm?"
Shane menatapku sebentar lalu membuang napas panjang. Ia mengangguk pelan. Aku menang, batinku. Bergegas
aku naik ke lantai 2, ke kamarku, berganti pakaian. Aku memilih baju lengan
panjang serupa sweater dengan bagian leher tertutup, memadukannya dengan celana
jeans panjang dan jaket kulit hitam. Setelah mengikat rambut dan memoleskan
pelembab muka, aku meraih sepatu model boots dan kantung berisi pisau-pisau
kecil. Kurasa tak ada salahnya membawa senjata sendiri untuk berjaga-jaga. Aku
sempat menajamkan telinga sebentar, mengecek penghuni kamar sebelah. Kedengarannya
Zero sedang sibuk. Bagus, jadi cuma Shane dan aku.
Aku berlari keluar, menghampiri Shane yang menunggu di dalam mobil van hitam. Dan kami pun segera melaju ke kota Ireland, ke daerah pinggiran dekat kawasan hutan lindung. Kami butuh 2 jam
berkendara untuk sampai. Barisan pohon pinus yang menjulang tinggi menyambut
begitu memasuki daerah tujuan kami. Aku menurunkan kaca jendela di sampingku,
membiarkan udara segar menyeruak masuk ke mobil. Ah, aroma ini sungguh
membuatku terkenang masa-masa damai sebagai manusia biasa. Shane memarkirkan
mobil, lalu kami berjalan ke sebuah bar. Tapi kemudian langkah Shane berhenti, dan dia menyuruhku
menunggu di mobil saja. Aku menyetujuinya dan kembali ke mobil. Sepertinya
Shane bisa merasakan keberadaan vampire di dalam bar itu. Malah reaksinya lebih
cepat dariku. Benar juga, Shane dan Shine sudah menjadi vampire hunter sejak
masih di bangku SMP.
Beberapa saat kemudian Shane kembali. Menurut informasi yang
diperolehnya memang ada beberapa vampire yang sering berbuat onar di daerah
ini. Tapi Shane tidak mendapat kepastian apakah ada kelompok vanBlood.
“Lalu bagaimana kita bisa melacaknya? Di sini tidak ada kamera pengawas”
“Kita bisa mencoba bertanya pada beberapa orang. Lalu kembali dengan
anjing pelacak untuk mencari persembunyian vampire. Kelompok vampire yang
berbuat onar biasanya memiliki simpanan darah yang banyak atau lebih buruk lagi..”
Aku menelan ludah, menerka kelanjutan kata-kata Shane.
“Manusia”
Seperti dugaan. Jadi, vampire yang seperti vanBlood ada banyak.
“Kurasa aku harus kembali dan membiarkan markas mengurus hal ini. Ini
akan memakan waktu jika ada lebih dari 2 kelompok vampire. Dan kita butuh
anjing pelacak”
“Aku bisa melakukannya”
Shane menaikkan sebelah alisnya, tidak mengerti maksudku.
“Maksudku, melacak bau. Jadi tidak perlu kembali untuk mengambil anjing”
“Ah...benar” Shane memijat belakang lehernya dengan canggung. Kurasa
kadang Shane lupa kalau aku bukan manusia sepertinya.
Maka kami pun berjalan memasuki hutan, mencoba mencari petunjuk sekecil
apapun. Hidungku benar-benar bekerja secara optimal. Aku bisa mencium dan
membedakan bau berjarak setidaknya 3-4 km. Sebenarnya semua peningkatan indera
semacam ini benar-benar membuatku jijik dan ngeri. Seolah menegaskan bahwa aku
benar-benar tak kan bisa kembali menjadi diriku yang dulu. Aku berhenti
melangkah saat mendengar suara tawa yang familiar. Itu suara Sheryll! Dia
berjalan bersama seorang pria menuju ke arah kami. Aku mematung tak percaya
dengan yang kulihat, kenapa Sheryll ada di tempat seperti ini. Shane tampak
bingung melihat tingkahku, tapi aku tak punya waktu untuk memikirkanya. Saat
bisa menyadarkan diri, Sheryll dan pria itu sudah terlalu dekat, akan
mencurigakan kalau aku berlari sekarang. Tanpa pikir panajng aku berbalik dan
memeluk Shane, menyembunyikan wajahku di dadanya yang bidang. Aku tidak boleh
terlihat olehnya.
Aku segera melepas pelukanku setelah memastikan Sheryll tidak lagi
dalam jarak pandangnya. Perasaan bersalah menyerangku. Masih kudengar detak
jantung Shane yang seperti dipacu sekencang mungkin. Dari tadi Shane tidak
bergeming sedikitpun, seolah seluruh
tubunya membatu menjadi kaku. Ini salahku. Siapapun pasti ketakutan saat vampire
memeluknya.
“Aku benar-benar minta maaf, Shane. Aku tidak ada maksud apapun. Barusan itu teman lamaku. Dia tidak boleh
melihatku. Jadi.. maaf aku ceroboh”
Detak jantung Shane masih berdegum kencang, tapi dia menggeleng. “Tidak
apa-apa. Aku cuma terkejut”
Kami pun kembali melanjutkan menyusuri setapak kecil itu, walau suasana
menjadi canggung. Butuh beberapa menit hingga jantung Shane berdetak dengan
irama normal. Namun kemudian, sebuah jeritan menghentikan kakiku. Itu suara
Sheryll lagi! Sontak aku berlari ke arah datangnya suara.
“Ada apa?”, tanya Shane yang berlari mengikutiku. Dia mungkin tidak mendengarnya.
“Sheryll baru saja berteriak minta tolong”
Kami mempercepat langkah, lari ke sumber suara, lalu berhenti ketika mencapai bibir hutan, menyembunyikan diri
di balik sebatang pohon besar. Pria yang bersama Sheryll masuk ke sebuah jeep hitam,
menutup pintunya dan segera melaju. Sheryll ada di dalamnya, seorang pria lain
memaksanya ikut. Sontak aku bersiap untuk berlari mengejar jeep itu, tapi Shane
menghentikanku.
“Tunggu. Mereka akan membawa kita ke markasnya”, ujar Shane.
Aku menatap Shane dalam-dalam,mencoba menerka
pikirannya. Mungkinkah dia pikir kita akan bertemu vampire? “Dan bagaimana jika itu bukan sarang vampire?”
“Tentu saja kita tetap menyelamatkanya. Dia temanmu, kan?” Shane
berjalan menuju ke tempatnya memarkir mobilnya. “Cepatlah!”
Aku mengikutinya berlari ke mobil. Shane segera menginjak gas dan
mengejar mobil jeep tadi.
“Bukankah hunter akan kesulitan ikut campur jika bukan tentang
vampire?”, tanyaku masih tidak memahami rencana Shane yang asal mengejar jeep
dirahasiakan dan juga tidak memiliki wewenang selain menyangkut masalah
vampire. Entah atas dasar apa Shane menduga kami akan menemukan sarang vampire.
Yang kutahu, dua orang pria yang menculik Sheryll adalah manusia.
“Memang benar. Karena itu aku memanggil Zero alih-alih pasukan”, kata Shane.
Aku membuang wajah, mendengus sebal. Dia memanggil Zero! Tak bisa kupercaya itulah rencananya.
Shane tertawa pelan menyadari perubahan wajahku. “Di
saat seperti inilah dia sangat berguna. Aku tahu kau membencinya, tapi Zero
adalah pilihan terbaik saat ini”
Kurasa aku memang tidak punya pilihan. Tapi tetap saja
menyebalkan sekali harus bergantung pada bantuan vampire tanpa ekspresi itu.
Dan lagi, begitu Zero tahu aku mengikuti Shane pasti dia akan mulai mengomel
seperti biasa. Ini bahaya, itu bahaya. Padahal yang mau dikatakannya, yang
berbahaya itu aku. Aku bisa mengingat setiap kata yang dilontarkanya padaku.
Vampire itu sama buruknya dengan vanBlood. Dia selalu menyuruhku minum darah
dan menerima kenyataan. Lalu berbicara tentang bagaimana exhuman keras kepala
akan berubah menjadi madvampire saat mencapai batas. Tubuh exhuhman yang menolak
minum darah lama-kelamaan akan kehilangan kendali, kemudian ia pun menjadi sosok
tanpa kesadaran yang hanya mengincar darah manusia.
Aku tidak mungkin menjadi monster seperti itu. Akan kutunjukkan padanya! Aku juga tidak mau hidup sebagai penyedot darah makhluk lain.
Shane menghentikan mobilnya sesaat setelah kami melewati sebuah mansion
bergaya Eropa. Halamannya benar-benar luas, bahkan ada kandang kuda di bagian
belakang. Tempat itu dikelilingi pagar dari dinding setinggi 3 meter. Shane dan
aku harus memanjat pohon yang tumbuh di samping sisi luar dinding untuk melihat
ke dalam. Jeep yang membawa Sheryll berhenti di depan, kemudian pria yang terus
mencengkeram lengannya menyeretnya ke bagian belakang mansion. Aku melompat
turun dan bergerak pelan di belakang barisan tanaman, mencari titik yang bagus
untuk memantau keadaan. Sheryll dibawa masuk ke sebuah ruangan di bawah tanah,
dan lebih buruk lagi aku mencium bau darah dari ruangan itu. Shane benar, ini
adalah sarang vampire.
“Key...kau mengagetkanku”, ujar Shane pelan begitu dia menyusulku.
“Jangan buru-buru dan bergerak sendiri tanpa rencana. Jika tempat ini benar
persembunyian vampire kita mungkin tidak bisa menanganinya berdua saja”
Aku kembali mendengus sebal. Benar. Kami harus menunggu bantuan bernama
Zero datang. Menyebalkan. Tapi harus kuakui kami membutuhkanya, karena aku
merasakan ada setidaknya 4 orang vampire di dalam sana. Dan aku tidak punya pengalaman bertarung
sama sekali. Suka tidak suka aku harus menunggu Zero alih-alih gegabah dan membahayakan
Shane. Aku masih membutuhkannya untuk melacak vanBlood.
Untungnya, sekitar 10 menit kemudian Zero tiba. Aku cukup terkejut dia sampai secepat ini.
Padahal aku dan Shane butuh 2 jam untuk sampai di kawasan hutan lindung tadi.
Kami kemudian berpencar, Zero akan menyerang dari gerbang depan, mengalihkan
perhatian para penjaga lalu mematikan alarm keamanan. Aku dan Shane akan
menyusup ke belakang dan membebaskan tawanan. Zero mengenakan masker penutup
wajah dan segera memulai aksinya. Dia melompati gerbang depan mansion sehingga
para penjaga yang berdiri di depan dan samping bangunan itu bergegas lari
menyambutnya. Aku sempat melirik orang-orang yang menjaga mansion itu
membidikkan senapan laras panjang ke arah Zero. Ada enam penjaga yang menuju ke
arahnya bersenjata timah panas, kemudian dua orang vampire menyusul mereka
sambil menghunus pedang. Zero mungkin akan kesulitan untuk selamat tanpa luka,
pikirku.
"Zero bisa mengatasi mereka. Tidak masalah", ujar Shane. "Lihat"
Zero menghindari semua peluru yang mengincarnya, sesekali menepis peluru dengan pedangnya. Serangan para penjaga itu sama sekali tidak mengenainya. Zero terus berjalan mendekati mansion tanpa
masalah. Malah, para penjaga itu yang berhenti melangkah maju untuk melawannya.
Dua dari mereka lari tunggang langgang keluar pagar, yang empat lagi berusaha
melawan namun Zero dapat memukul bagian belakang kepala mereka dengan cepat.
Para penjaga itu jatuh tak sadarkan diri, tapi sekarang 2 orang vampire berlari
menyerangnya bersamaan. Dalam sekejap, pikiran buruk bahwa Zero mungkin terluka
serius menguap dari kepalaku. Dia bisa menghadapi serangan 2 vampire berpedang
tanpa kewalahan. Gerakanya terlihat berirama dan gesit. Lalu dalam hitungan
detik, pedang Zero pun menebas leher kedua vampire itu satu per satu. Aroma
darah yang menguar ke udara sontak membuat dua vampire lain bergerak. Aku menutup hidungku demi mencium aroma busuk yang keluar dari darah mereka. Shane menyerang mendahuluiku, menembakkan pistolnya
pada dua vampire yang baru keluar itu. Seorang di antaranya jatuh tersungkur
setelah menerima 2 peluru Shane. Yang satunya lagi cukup gesit menghindari
tembakan. Mataku membesar demi melihat vampire itu. Dia salah satu murid
Humphire, Sanchez, setahuku dia manusia. Sejak kapan dia menjadi vampire?
Shane meraih pisau besarnya untuk menangkis tebasan pedang vampire itu. Aku memasang masker wajah dan segera berlari sambil melemparkan 2 bilah belati, mengincar kakinya. Meleset! Dia berhasil menghindar
dengan melompat mundur. Aku kembali meraih 2 belati dan melempar ke arah
lehernya. Kali ini dia menangkisnya dengan pedang. Sanchez menatapku, tampak
cukup terkejut.
"Tunggu dulu. Kau ini juga exhuman kan? Kenapa kau bekerjasama dengan hunter?", tanyanya. Rupanya dia mengenaliku. "Mereka itu pembunuh vampire lho. Artinya kau juga akan mati"
"Bagus kalau memang begitu", ujarku sinis. "Kau sendiri, bulan lalu bukankah kau seorang manusia"
"Ah...jangan diingatkan begitu. Aku membencinya. Kau pun pasti sama saja denganku. Tubuh manusia yang lemah dan tak berdaya begitu memuakkan. Aku bekerja keras sehingga tuan Orlando mengakuiku
dan memberikanku kesempurnaan ini"
Menjijikan. Sanchez mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Dia sengaja membuat dirinya diubah? Tak bisa kupercaya.
"Kau, bergabunglah denganku. Hunter itu hanya memanfaatkanmu loh", katanya sambil mengulurkan sebelah tangan. "Atau mungkinkah kau tidak bisa meninggalkan mastermu. Ah..aku tidak
benar-benar mengingatnya. Itu kan vampire suram yang dijinakkan hunter.."
Slaasshh!!! Darah segar memuncrat keluar tanpa peringatan. Zero menebas leher Sanchez dari belakang. Entah sejak kapan dia ada di sana, aku pun tidak menyadarinya.
"Berisik", gumamnya datar. "Yang begini harusnya cepat disudahi, Shane"
"Kau benar. Tapi dia tadi sedang bicara"
"Tidak ada gunanya mendengar sampah bicara"
Aku menoleh ke arah vampire yang ditembak Shane, dia sudah tidak bernyawa. Zero bilang alarmnya sudah dia matikan. Kami segera menuju ke ruang bawah tanah di bagian belakang mansion. Masih ada 3
orang penjaga manusia dengan pistol. Aku segera melemparkan belati-belatiku,
memaku telapak kaki mereka ke lantai. Ketiganya tersungkur sambil meraung. Aku
kembali menutup hidungku. Aroma darah mereka masih bau busuk, tapi kali ini
manusia. Kerongkonganku mengeluarkan reaksi yang berbeda.
Di dalam ruangan yang kami masuki, terdapat 5 sel seperti penjara. Masing-masing dihuni
5 orang gadis, manusia. Zero mengeluarkan sebuah kotak kecil serupa handphone
jaman dulu, menekan beberapa tombol. Setelah suara 'beep' kelima sel yang
terkunci pun membuka. Shane segera membantu gadis-gadis itu keluar.
"Tenanglah, kami di sini untuk menyelamatkan kalian", kata Shane. "Ayo cepat keluarlah"
Sheryll hanya berdiri tak bergeming, menatapku. "Key..."