
Aku melangkah keluar balkon. Tidak bisa tidur. Aneh sekali, sejak aku terbangun di kamar ini 3 hari lalu, aku belum merasa mengantuk walau tidak tidur sedikit pun. Memang ada yangberbeda dari tubuhku. Aku menoleh ke ruangan di sebelah kamar yang kutempati. Lampunya masih menyala. Dan samar-samar aku masih mendengar suara ketikan keyboard komputer. Zero juga tidak tidur. Sepertinya vampire tidak butuh tidur seperti manusia.
Aku mendengus pelan, menyeringai sendiri. Apa ini artinya aku akan benar-benar menjadi vampire? Sulit dipercaya.
“Apa masih sakit?”, tanya Zero yang tanpa kusadari sudah berdiri di sampingku.
Sejak kapan dia keluar? Aku sama sekali tidak mendengar langkah kakinya.
“Apa vampire tidak butuh tidur?”
Sebelah alis Zero tampak sedikit bergerak. “Hampir”
Entah apa maksud jawabanya yang datar itu. Hunter yang memilih tinggal bersama vampire itu memang mencurigakan. Tapi rasanya, Zero jauh lebih mencurigakan daripada mereka. Aku sampai tidak tahu harus mulai darimana.
“Besok kita tukar kamar”, kata Zero. “Aku mau kamarku. Kau tempati yang sana”
“Aku bisa sekamar dengan Karen di bawah”
“Itu ide buruk. Untuk sekarang, lebih baik kau menjaga jarak”
“Ha? Kenapa aku harus menjaga jarak?”
“Turuti saja”
Aku memutar bola mataku. Orang ini luar biasa sok hebat rupanya. Memangnya dia pikir aku mau menurut begitu saja? Terserahlah apa yang dia pikirkan. Tapi pertama aku perlu informasi.
“Kau…kenapa kau datang menyelamatkan kami?”
“Aku sudah menjawab pertanyaan itu”, gumamnya datar. Zero sedikit menguap, meski dia bilang vampire hampir tidak butuh tidur sepertinya ia butuh tidur sebentar.
“Bukan itu. Kemarin, Shine bilang kalau kau menyadari serangan di Siverra sebelum markas hunter. Apa itu artinya kau menyadarinya dari tempat ini lalu datang ke sana? Bagaimana bisa?”
“Kau mendengarnya ya… Aku mencium bau darahmu waktu itu. Jadi aku ke sana”
“Itu saja?”, tanyaku menyelidik.
Zero hanya mengangguk mengiyakan. Wajahnya tetap datar tanpa emosi. Baru kali ini aku melihat mata sekosong matanya. Aku tidak bisa membaca pikiranya sama sekali.Entah dia menyembunyikan motif lain atau mengatakan yang sejujurnya. Tapi jika itu jujur maka sepertinya situasinya tidak begitu baik. Zero mencium darahku dari sini sementara Siverra berada sekitar 20 km di balik hutan di belakang rumah ini. Mengerikan sekali monster yang disebut vampire.
“Tubuhmu, apa masih sakit?”, tanya Zero beberapa saat setelah kami berdiri di sana tanpa bicara.
“Sudah tidak” Aku meraba bagian perut yang seingatku dilubangi jemari Vanblood. Sewaktu memeriksanya sesaat setelah sadar, aku benar-benar terkejut. Luka itu hilang tanpa bekas. “Apa vampire tidak bisa mati?”, tanyaku tanpa sadar.
“Mana mungkin begitu. Semua makhluk hidup suatu saat mati. Kami hanya punya umur yang lebih panjang daripada manusia”
Itu aneh. Padahal mereka tidak mati saat peluru ayah mengenai mereka. Aku juga sempat menembak dan itu tidak melukainya. Dan luka di perutku…
“Lukamu disembuhkan temanku”, ujar Zero seolah bisa membaca pikiranku. Ia kembali menguap. Lantas berbalik masuk ke kamar sebelah. Aku sempat melihat bagian dalam kamar yang berantakan. Dan bau cat basah tercium dari sana.
Sepertinya Zero menyiapkan kamar itu sejak kemarin. Saat pagi tiba, ia menyuruhku pindah. Yah, kamar itu sudah rapi. Catnya masih agak basah. Tata letaknya sama persis dengan kamar Zero di sebelah. Sebuh tempat tidur king size di samping jendela besar mengarah ke balkon. Meja, kursi dan lemari di salah satu sisi ruangan. Hanya warna cat baru yang membuatnya beda. Biru seperti langit. Warna kesukaanku. Apa Karen memberitahunya? Lagipula apa tujuanya melakukan hal ini? Mencurigakan.
Tok! Tokk!! Aku mengetuk pintu kamar Karen. Memutuskan untuk tidur sekamar denganya.
“Kakak..?”, Karen membuka pintu, matanya tampak kemerahan. Sepertinya ia sudah mau tidur.
Tanpa bsa-basi, aku menyeruak masuk ke kamar Karen. Memeriksa setiap sudut ruangan.
“Apa yang kakak lakukan?”
“Tidak ada. Hanya memeriksa sesuatu” Sebenarnya sepanjang hari aku memeriksa seisi rumah ini. Setiap sudutnya. Shine dan Shane keluar rumah setiap jam 7 pagi. Jadi aku bisa masuk ke kamar mereka. Kabar baiknya, aku tidak menemukan kamera pengintai atau penyadap. Hanya saja rumah ini memiliki sound proof yang sangat baik. Bahkan dengan telingaku yang tajam aku hampir tidak bisa mendengar percakapan di ruang yang berbeda.
Karen menguap panjang. “Kakak terlalu khawatir. Mereka orang-orang yang baik kok”
“Mereka terlalu aneh”, ujarku. “Kenapa coba hunter dan vampire bekerjasama? Kalaupun mereka bekerjasama, tidak perlu sampai tinggal satu rumah kan?”
“Kak Shine bilang mereka berteman jadi tidak masalah”
“Teman?” Dia sudah gila, umpatku dalam hati. “Aku yakin si Zero itu punya motif tertentu untuk tinggal di sini. Begitu pula saat dia membawa kita ke sini”
“Kakak terus saja berprasangka buruk..”
“Aku hanya mencoba untuk realistis”, ujarku tegas. Karen juga terus bersikap aneh sejak kami tinggal di sini. “Kau sendiri kenapa kau begitu optimis pada semua hal?”
“Aku cuma lelah”, ujar Karen. “Setelah bakatku muncul, hampir setiap hari aku dihantui penglihatan. Aku melihat banyak kemalangan yang belum terjadi. Dan itu membuatku dipenuhi ketakutan dan kekhawatiran setiap saat”
Aku tahu itu. Dia tidak perlu mengatakanya. “Sekarang, apa kau tidak bermimpi buruk lagi?”
“Masih. Tapi aku tidak akan menjerit ketakutan lagi. Aku ingin menghadapinya dengan lebih berani” Karen tersenyum kecil, ia naik ke tempat tidur. Sepertinya matanya tidak kuat lagi. “Kakak mau tidur di sini?”
Aku mengangguk.
“Bukanya kak Zero menyiapkan kamar di…”
“Aku tidak berniat menuruti perkataanya”
Karen memilih tidak berkomentar dan menenggelamkan dirinya di balik selimut. Cuma butuh 5 menit untuknya terlelap. Aku membuang napas panjang. Malam ini pun aku tak merasa mengantuk sama sekali. Aku tidak suka mengakuinya, tapi memang ada yang berbeda dari diriku.
***
Pagi ini Karen sibuk memasak di dapur, sudah ada Shine yang membantunya. Kupikir aku sebaiknya mencoba berteman dengan Shine dan Shane jika menginginkan mereka membantuku. Masalahnya, aku tidak yakin bagaimana memulainya. Sepertinya aku terlalu lama menyendiri.
“Apa ada yang mengganggu pikiranmu?”,tanya Shane. Keringat mengalir dari keningnya, menetes di dagunya yang tegas. Dia baru jogging.
“Yeah…banyak sebenarnya” Saking banyaknya aku sampai tidak tahu harus mulai dari mana.
Shane duduk di tanah di depan teras samping di mana aku duduk di tangganya. Ia meluruskan kedua kakinya lalu mulai mengatur napasnya perlahan.
“Pelan-pelan saja…”, ujarnya. “Kalau terlalu banyak pikiran, lakukan saja pelan-pelan”
“Mungkin kau benar”
Karen berlari keluar memanggil kami. “Sarapan sudah siap. Ayo makan, Kak”, ajaknya sambil tersenyum cerah.
Tingkah Karen sungguh membuatku heran. Bagaimana bisa dia tersenyum secerah itu setelah semua hal yang menimpa kami. Bukanya trauma yang dialaminya lebih buruk dariku. Karen menanggung lebih banyak beban karena dia melihat pembantaian itu jauh sebelumnya. Tapi di luar dugaan, Karen mengatasinya dengan baik. Atau mungkin tidak juga. Karen hanya berusaha bersikap tegar. Adikku itu masih terlalu naïf. Dia mungkin tidak menyadari bahaya di depan matanya.
Zero bergabung saat sarapan. Ini pertama kalinya aku ikut makan. Benar juga, sejak sadar di kamar Zero selera makanku menghilang. Aku hampir tidak makan selama berhari-hari dan tidak merasa lapar atau lemas. Apa vampire tidak butuh makan? Tapi melihat Zero makan kupikir dia akan menjawab pertanyaanku seperti
sebelumnya. ‘Vampire hampir tidak butuh makan’.
Aku bertugas mencuci piring seusai sarapan. Karen mengajukan diri untuk membantuku.
“Karen, kita harus pulang”
Karen sontak menatapku dengan terkejut. “Pulang? Apa kita bisa pulang?”
“Kenapa tidak. Kita bisa pergi malam ini juga” Saat berkeliling rumah aku menemukan ada dua buah Karen mobil dan dua motor di garasi. Yang kubutuhkan tinggal sebuah batang logam tipis untuk membuka kuncinya.
“Maksudku, apa yang bisa kita lakukan saat pulang? Tidak ada yang tersisa di sana”, kata Karen. Air mata mulai menumpuk di pelupuk matanya. “Tidak ada tempat untuk kita pulang”
“Apa yang kau katakan? Kita punya rumah dan juga…” Aku menarik napas yang tersengal tanpa alasan. “Kita mungkin sedang dicari”
Gerakan tangan Karen mencuci piring terhenti sesaat. Nampaknya ia ingin me-restart semua hal dengan cara membuang masa lalu kami. Dan aku membangunkana dari mimpi itu. “Jika kita tidak kembali, mereka akan berhenti mencari”, ujarnya lirih.
“Apa maksudmu? Sudah jelas kita harus kembali kan”
Tidak kusangka Zero mendengar suara kami. Sepertinya jarak pendengaran vampire memang lebih jauh dari manusia. Cih, padahal aku tidak ingin campur tangan siapa pun sekarang ini.
“Zero, ini masalah kami. Jangan ikut campur!”, seruku. Tidak peduli lagi kalau Shine dan Shane juga bisa mendengar.
“Ada apa ini?”, tanya Shine.
“Key memaksa Karen pulang” Zero menjawab dengan datar.
Shine tampak terkejut dan mengalihkan padanganya ke tempatku dan Karen berdiri. Karen masih diam saja sambil menyelesaikan mencuci piring.
“Kalian mau pulang?”, tanya Shine.
“Tentu saja. Aku tidak mau bergantung ada orang asing” Ah, harusnya aku tidak mengatakanya.
Aku pikir mereka akan tersinggung atau marah. Tapi Shine justru tertawa pelan. Aku tidak yakin dengan reaksi Shane, tapi Zero tampaktidak terpengaruh. Wajahnya masih datar tanpa ekspresi.
“Hahaha…benar juga”, kata Shine. “Kalau begitu mari berteman dulu. Yang tinggal di sini cuma kami bertiga dan masih banyak kamar kosong. Kami sama sekali tidak keberatan kalian tinggal”
“Kenapa begitu? Bukankah kalian juga bisa terlibat bahaya?”, tanyaku menyelidik.
“Keyra, kami selalu terlibat bahaya”, ujar Shine santai. Tapi ada keseriusan di belakang suaranya yang ramah.
Shane ikut bicara, “Kami ini vampire hunter. Membunuh vampire adalah pekerjaan kami”
Membunuh vampire, katanya. “Kalian mungkin saja kehilangan nyawa jika Vanblood datang kemari”
“Itu memang resiko pekerjaan ini kan. Lagipula, tujuan dari hunter adalah untuk melindungi umat manusia dari vampire. Jadi melindungi kalian juga termasuk kewajiban kami. Kau tidak perlu mengkhawatirkanya”, ujar Shine.
“Aku…sebenarnya bukan tidak mau pulang. Aku hanya terlalu takut. Aku tidak mau kembali ke tempat di mana ayah dan ibu tidak ada lagi..” Karen sedikit memalingkan wajahnya. Seolah tidak mau orang lain melihat seberapa besar ketakutan yang ia sembunyikan. “Karena itu….”
Shine mendekat menghampiri kami. “Kan sudah kubilang, tidak apa-apa. Melindungi kalian memang
tugas kami”
Tampaknya kata-kata Shine berhasil menahan air mata Karen yang nyaris bergulir. Karen menatap Shine lekat-lekat. Dan entah ada apa dengan matanya. Ia seolah menceritakan banyak hal dari mata ke mata.
Entah Shinebisa dipercaya atau tidak, tapi alasanya masuk akal. Meskipun masih sedikit berlebihan. Masalahnya, Karen jelas telah menaruh kepercayaan penuh padanya. Membawanya pergi dari sini menjadi semakin sulit. Tapi, well, kupikir aku bisa pergi sendiri untuk melihat keadaan di rumah kami. Aku menunggu kesempatan saat Shine dan Shane pergi untuk misi. Zero biasanya keluar rumah dan pergi ke dalam hutan setiap jam 5 sore. Ini kesempatanku.
Setelah memastikan Zero tidak ada, aku menuju ke garasi. Membawa dua batang besi kecil di tangan. Niatnya aku mau memakai salah satu motor di sini. Tapi langkahku mendadak berhenti demi menyadari ada orang lain di dalam ruangan. Aku menengok ke mobil hitam di seberang ruangan. Napasku sempat tertahan mendapati Zero menatapku dari jendela depan mobil. Wajahnya masih tetap kosong tanpa ekspresi.
Dia..kenapa ada di sana? Dia tidak mungkin menungguku kan…
“Naiklah”, katanya. “Aku antar”
Eh? Apa maksudnya? Aku memasukkan dua batang besi kecil ke saku celana. Untuk sekarang, yang penting adalah niatku tidak ketahuan. Tempat ini tidak aman untuk Karen. Dengan terpaksa aku menghampiri mobil Zero, duduk di kursi depan di sampingnya. Zero langsung menyalakan mesin dan melaju tanpa sepatah kata pun. Kami saling diam selama perjalanan. Sejujurnya, wajahnya yang selalu kosong itu membuatku takut. Aku tak pernah tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Sementara Zero seolah selalu bisa membaca pikiranku.
Aku tersentak ketika melihat tulisan batas kota Siverra yang baru kami lalui. Tunggu…bagaimana dia tahu?
“Aku boleh bertanya?”
Zero tidak mengalihakan pandanganya dari jalanan. Dan kelihatanya tidak begitu peduli apapun yang kukatakan. “Apa?”
“Apa vampire bisa membaca pikiran?”
“Tidak”
“Lalu bagaimana kau tahu kalau aku mau ke sini?”
“Terlihat jelas”
Orang ini, Zero, benar-benar mencurigakan. Aku tidak bisa menebak apa yang dia pikirkan. Entah apa tujuan atau motif di balik tindakanya. Aku juga tidak yakin apa perkataanya bisa dipercaya. Kami kembali tak mengucapkan apapun hingga sampai di Siverra. Zero menghentikan mobilnya di samping sebuah gedung tinggi yang terletak di ujung jalan menuju ke kompleks rumahku. Aku memakai masker wajah, tidak yakin kalau membiarkan orang lain mengenaliku adalah ide bagus. Hari ini aku hanya ingin memeriksa keadaan.
Aku keluar dari mobil Zero. Berjalan menuju rumah bercat putih abu-abu yang telah kami tinggalkan. Garis polisi masih belm dilepas dari sekitar pintu rumah. Aku mengelilingi pagar, menuju halaman belakang. Langkahku terhenti demi mencim bau darah yang masih samar tersisa di atas rerumputan. Darah ibuku. Zero yang sedari tadi mengikutiku tanpa suara ikut berhenti. Sepertinya ia juga mencium bau darah walau sisa-sisa terror itu tampaknya sdah dibersihkan.
“Aku akan berjaga di sini”, ujarnya.
Zero berdiri si samping pagar, menatap ke arah jalan yang cukup ramai. Wajahnya datar tanpa ekspresi, aku tidak bisa membaca pikiranya. Well, itu tidak masalah toh aku memang mau datang ke sini sendirian.
Aku masuk lewat pintu belakang, sempat kembali membeku karena bau darah lain tercium. Butuh beberapa detik yang panjang hingga aku dapat melangkah lagi, ke ruang tengah. Keringatku mendadak bercucuran melihat ruangan tempat terakhir kali keluarga kami berkumpul. Aku menelan ludah, segera berbalik dan keluar lewat
pintu belakang. Aku memaksakan kakiku untuk menjauh dari rumah sebelum semua ingatan tentang malam terror itu menguasai kepalaku. Zero tak mengatakan apapun dan kembali mengikutiku berjalan di sekitar kompleks.
Bukan hanya di rumahku, beberapa rumah lain juga dikelilingi garis polisi. Dan walau samar masih ada bau darah dari dalam rumah-rumah itu. Aneh, terdapat banyak bekas tembakan di sana sini. Aku tidak mendengar suara tembakan sebanyak itu saat kami diserang. Ayah memang menembak beberapa kali dan kurasa para polisi yang
berjaga juga menembak penyerang kami. Zero mengajakku kembali ke mobil.
“Sebentar, aku ingin memastikan sesuatu”, ujarku saat Zero hendak menyalakan mesin.
Zero mendengus lantas mengulurkan padaku sebuah koran lokal. “Aku menemukanya”, ujarnya sambil
menyalakan mesin dan mengendarai mobil menjauh dari rumahku.
Mataku terpaku pada artikel-artikel di koran yang Zero temukan. Penyerangan vampire yang terjadi minggu lalu menjadi berita utama. Hanya saja di dalam artikel disebutkan penyerangnya adalah sekelompok ******* alih-alih vampire.
“Kenapa bisa seperti ini..?”
“Tidak ada bagusnya untuk manusia mengetahui keberadaan vampire. Jadi ada kelompok yang bertugas memanipulasi berita”
Aku mengerti, kelompok itulah yang membuat tembakan di seluruh lokasi kejadian. Bukan hanya berita, mereka memalsukan bukti. Aku kembali membaca isi koran dan menemukan berita orang hilang. Menurut berita itu, dua orang korban terror belum ditemukan. Dua orang itu adalah Karen dan aku. Polisi tampaknya menemukan motor
yang kukendarai untuk lari ke dalam hutan. Mereka masih melanjutkan pencarian karena keluarga kami memintanya.
Karen berlari menghampiriku begitu aku dan Zero sampai di rumah. Wajahnya tampak cemas.
“Dari mana kalian?”, tanya Shine. “Karen benar-benar khawatir”
“Maaf”, kataku lirih. Karen hanya mengangguk dengan sebuah senyum samar. “Aku ke Siverra”
Karen tidak tampak terkejut, malahan matanya tampak diselimuti kesedihan mendengar nama kota Siverra. “Lalu, bagaimana keadaan di sana?”
“Sudah mulai tenang, kurasa. Mereka membuatnya menjadi serangan teroris”
“Yah…itu pekerjaan Guardian dari kerajaan vampire”, ujar Shane. “Mereka yang bertugas menjaga rahasia adanya vampire di dunia ini”
“Karen… mereka masih mencari kita”
Karen kembali menatapku. Seolah dia tidak ingin mendengarnya sama sekali.
“Menurutku, kau harus pulang”, ujarku. “Mereka semua pasti mengkhawatirkanmu, keluarga paman Peter dan orang-orang di Nogart”
“Tapi…. Bagaimana dengan kakak?”
Aku benci mengakui ini, tapi…. “Aku tidak bisa kembali”
Karen terlihat tidak mempercayai apa yang baru didengarnya. Begitu pula Shane dan Shine. Dan Zero justru menambah keruh suasana.
“Aku akan membunuh Key”
***