
Aku menghela napas panjang. Menghirup aroma kopi panas yang baru kubuat. Hangat dan
menenangkan. Aku mendekatkan cangkir kopi ke bibirku, menyeruputnya.
"Bukannya kopi membuatmu tambah susah tidur?" Shane melangkah ke ruang duduk di
lantai dua.
"Aku tetap tidak bisa tidur walau tidak minum kopi"
Shane mendesah pelan. Meraih kursi di dekat dinding dan membawanya mendekat ke
tempatku duduk. "Jadi, sudah berapa hari kau tidak tidur?"
"Sepuluh. Aku bisa bertahan hingga 21 dan 17 hari sebelumnya. Kurasa aku akan tidur lagi
sekitar hari ke 15"
"Andai ada yang bisa kulakukan...", gumamnya.
"Apa?"
"Mengenai masalah tidurmu. Tidak lucu jika kau terus menerus jatuh tidur di sembarang
tempat setelah mencapai batas"
Aku mengangguk pelan, kembali menyeruput kopi. Shane benar, terakhir kali aku tertidur di balkon dan
Zero membawaku masuk ke kamarnya. Sebelumnya aku tertidur di kebun belakang
sekolah.
"Aku akan berhati-hati. Setidaknya aku bisa memastikan untuk tidak tertidur di
sembarang tempat"
"Baguslah", kata Shane pelan. "Kau tahu, Key, menurutku kau agak berlebihan"
"Apanya?"
"Tentang apa yang terjadi dengan Zero. Kau tidak perlu semarah itu"
"Apa kau tidak akan marah jika ada di posisiku?"
"Entahlah. Maksudku..., kau terlihat takut kalau pedangmu melukainya"
"Itu benar"
"Kupikir kau membenci Zero"
"Yeah. Tapi tidak sampai ingin menusuknya tepat di jantung" Aku memperhatikan
Shane dari sudut mataku. Kupikir barusan aku melihat kilatan aneh di
matanya. "Kupikir kau temannya"
"Shine yang menyebutnya teman. Bagiku dia sekutu, yang untuk saat ini bekerjasama
dengan saling menguntungkan. Aku tidak bisa berteman dengan mereka setelah yang
mereka lakukan" Shane terlihat menerawang ke masa lalu yang masih menjadi
luka besar di hatinya. Vampire membunuh kedua orang tuanya, sama seperti yang
kualami. "Kau tahu, Key, menurutku kau memang berlebihan. Kau tidak seperti
marah karena sikap cuek Zero, lagipula kau tahu dia selalu begitu. Kau marah
karena Zero tidak mengerti bahwa kau mengkhawatirkannya. Sepertinya...kau
menyukai Zero.."
"Heh?! Apa?" Aku rasa aku salah dengar atau Shane mulai melantur dan salah bicara.
"Aku tidak menyukainya. Mana ada waktu bagiku memikirkan hal semacam
itu" Semua yang ada di kepalaku
adalah untuk bertahan dari hari ke hari menekan insting vampire dalam diriku
dan bersiap menunggu waktu untuk membalaskan dendam. Aku tidak habis pikir bagaimana
Shane bisa berpikiran begitu.
"Begitu..." Shane menatapku lama, seolah dia mencoba menerka apakah aku berbohong. Lalu ia
menghela napas panjang dan berjalan ke sebuah sofa di sisi lain ruangan. Shane
berbaring di atas sofa itu. "Kau keberatan aku menemanimu?"
Aku menaikkan sebelah alis mataku, cukup terkejut dengan perkataan Shane. Menemani?
Shane mulai menutup kelopak matanya yang terlihat berat. "Tidak",
gumamku pelan. Aku tidak mengerti kenapa Shane bahkan bertanya seperti itu.
Tidak ada alasan bagiku untuk keberatan kalau dia tidur di ruangan ini. Toh aku
juga tidak lagi mencoba untuk tidur. Kurasa aku mulai terbiasa dengan
berhari-hari tanpa tidur yang mulai kualami sejak tubuhku perlahan berubah
menjadi vampire. Aku tahu walau tidak ada yang mengatakannya, bahwa aku tidak
bisa kembali ke diriku yang dulu. Tapi aku tidak mampu bergerak maju dan
menerima kenyataan ini begitu saja. Kurasa Karen juga sudah tahu bahwa aku
hanya mencoba bertahan hari demi hari untuk bisa membalaskan kematian ayah dan
ibu.
***
"Key..kau tidur?", tanya Arion. Aku mengenali suaranya.
"Tidak", kataku membuka mata. Aku hanya memjamkan mata, berniat beristirahat sebentar.
Tubuhku sudah mulai kelelahan. Hari ini adalah hari ke 18 ku tanpa tidur. Lebih
lama dari sebelumnya. Dan sejujurnya, setiap menit terasa lebih berat dari
sebelumnya. Nafsuku untuk darah semakin meningkat.
"Ma-maaf...apa aku membangunkanmu?"
"Tidak. Aku memang tidak tidur, Arion. Hanya sedikit lelah"
Arion duduk di sebelahku di lantai, bersandar pada salah satu rak buku raksasa di
area paling tidak terjamah di perpustakaan. Salah satu tempat favoritku.
"Kupikir kau sedang tidur"
"Kupikir kau sibuk.."
"Apa maksudmu?"
"Bukannya minggu depan ada ujian akhir?"
"Eh? Hahaha... ujian ya?" Arion menghela napas pelan. "Jadi kau belum
tahu... ujian akhir di Humphire bagi murid vampire bukan tentang mata
pelajaran. Tujuan Humphire adalah untuk tempat latihan adaptasi bagi vampire
yang berniat hidup berdampingan dengan manusia"
"Jadi ujian untuk vampire berbeda..?" Bukan mengenai pelajaran di sekolah ini
melainkan kemampuan mereka menahan mafsu akan darah.
Arion mengangguk dengan sebuah senyum getir. Kurasa senyum itu muncul karenaku.
"Murid vampire bisa mengikuti ujian akhir kapanpun mereka siap"
"Menurutku kau tidak mengalami masalah dengan itu"
"Entahlah. Aku belum siap"
"Eh? Kenapa begitu?"
"Um...mungkin karena aku tidak pernah terlalu lama ada di atas sini, di mana manusia tinggal.
Aku tinggal di ibukota"
"Apa maksudnya di atas sini?"
"Ibukota kerajaan kami, Lucania adalah sebuah kota di bawah tanah"
"Eh??!"
Arion tertawa kecil melihatku terkejut. "Kebanyakan kami tinggal di kastel bawah
tanah. Karena itu kami sering menggunakan istilah underworld"
"Jadi, manusia tidak menemukannya karena ada di bawah tanah"
"Sebagian besar itulah alasannya. Tapi sekarang ini kami menginstal teknologi kamuflase
berbasis robot dan ilusi optik untuk menyamarkan jalan masuk ke
underworld"
Robot? Serius? Apa itu artinya vampire sudah memiliki teknologi yang lebih maju dari
manusia. Jika dipikir lagi, laptop yang Zero gunakan juga berbeda dari laptop
ayahku. Awalnya kupikir itu karena laptop ayah termasuk enerasi laptop pertama
yang masih mirip mesin ketik. Tapi sepertinya bukan itu, di Humphire juga ada
laptop dan computer, tapi semuanya tidak semaju milik Zero. Padahal kupikir
kemajuan teknologi manusia sudah berkembang pesat sejak tahun 1980an.
"Vampire rupanya menguasai teknologi"
"Hmm" Arion mengangguk. "Ini ide putra mahkota. Yang Mulia bahkan turun tangan
secara langsung"
Ah, pangeran yang hilang itu. Aku jadi teringat pembicaraan kami dengan Shane dan
Shine tentangnya. "Apakah kau mengenalnya?"
Arion menoleh menatapku, matanya tampak sedikit bergerak-gerak. "Kurasa semua
vampire mengenalnya"
"Ehm, maksudku kukira kau mengenalnya secara pribadi. Kau terlihat kurang senang saat
kita membicarakannya terakhir kali"
"Yeah. Bisa dibilang aku ini penggemarnya. Hehehe"
Aku menatap wajah Arion yang memasang senyum lebar. Entah hanya permainan cahaya
atau delusi, tapi wajah Arion tampak berbinar tiap kali seenyumnya mengembang.
Tapi kali ini ada rasa getir di ujung tawa renyahnya. Ah, Arion tentu merasa
kecewa dengan pangeran yang dikaguminya itu.
"Orang seperti apa pangeran itu?"
"Eh? Hmm...orang seperti apa.."
"Kau bilang kau mengaguminya. Jadi aku penasaran apa dia seseorang sepertimu"
Arion terkikik pelan, seperti merasa geli. "Mana mungkin dia sepertiku, Key. Dia
seorang pureblood dan aku hanya seorang halfblood"
Wah, bahkan Arion membedakan dirinya dengan darah. Tidak kusangka Arion pun
menggunakan kasta darah seperti itu. Tunggu dulu, dia bilang halfblood dan
bukan non pureblood. Apa artinya Arion hanya setengah vampire?
"Dia sangat mirip dengan yang mulia raja, ayahnya. Tinggi, berwajah tampan, dan
berwibawa. Kharisma kepemimpinanya sudah terlihat sejak kecil. Seorang jenius
yang bijak..." Arion tampak menerawang jauh ke dalam ingatannya sendiri.
"Karena itu...aku sama sekali tidak mengerti yang dilakukannya sekarang
ini"
"Ada yang tidak kumengerti, Arion. Jika tidak bisa melacaknya dengan shadow kenapa
tidak ada yang bis menemukannya dengan tanpa shadow?"
"Maksudmu dengan ciri fisiknya..?"
Aku mengangguk.
bagaimana dia terlihat sekarang ini"
"Eh?"
"Dia tidak hanya membunuh tunanganya, putri Aileen. Dia memakan jantungnya"
Napasku tercekat di tenggorokan. Jantungku nyaris melupakan detakannya. Memakan
jantungnya??!
"Darah pureblood bisa mengubah ciri fisik orang yang meminumnya. Warna rambut, mata,
bahkan warna kulitnya bisa benar-benar berbeda dari sebelumnya. Dan mengingat
putri Aileen memiliki darah Rainier, ada kemungkinan bahwa pangeran bisa saja
meninggal setelah menelan jantungnya"
Shadow yang disembunyikan dan penampilan fisik yang kemungkinan besar berubah total
menjadi alasan pangeran vampire tidak bisa ditemukan. Bahkan setelah 2 tahun
berlalu. Jika saja pangeran itu memiliki seseorang yang mengenalnya lebih dari
sekedar fisik mungkin keberadaanya bisa ditemukan. Dan mungkin ia tidak
memiliki seseorang seperti itu, dan tidak akan ada yang bisa menemukannya.
Kecuali jika ia berubah pikiran dan kembali ke tempatnya.
"Bagaimana menurutmu, apa dia sudah tiada?"
Arion menoleh menatap tepat ke dalam kedua mataku. "Tidak. Aku yakin ia masih
hidup"
"Kau benar-benar penggemar beratnya"
Arion mengangguk serius. "Menurutmu berapa besar kemungkinan dia untuk
kembali?"
"Eh? Mana mungkin aku bisa tahu"
"Yang Mulia Raja dan Ratu mengkhawatirkannya seperti orang tua lain pada anaknya.
Hubungan mereka tidak sebatas politik dan semacamnya..."
"Kalau begitu dia akan kembali", ujarku. "Karena ada orang yang menantinya
pulang sepenuh hati, tempat itu menjadi rumah"
"Aku harap begitu..."
"Kau tidak terlihat begitu yakin"
"Yeah... Banyak hal bisa terjadi, kau tahu"
"Hmm?"
Arion menghela napas. "Misalnya, bagaimana jika dia menemukan sesuatu yang
menarik, sesuatu yang membuatnya enggan untuk kembali. Misalnya saja...dia
jatuh hati pada seorang gadis"
"Hmm” Entah bagaimana aku harus menanggapinya. Aku bahkan
tidak yakin mengapa seorang gadis saja bisa menjadi alasan .”Nah, Arion, jika kau adalah pangeran
itu apa yang akan kau lakukan?"
Arion kembali menghela napas panjang. Ia terlihat hendak kembali menerawang tapi
kemudian matanya tertumbuk padaku. "Aku tidak tahu..."
Aku ikutan menghela napas, memberikan Arion sebuah senyum kecil. Berharap bisa
membantunya merasa lebih tenang. Terlihat jelas sekarang kalau Arion memihak
pangeran itu. Bukan hanya penggemarnya, Arion pengikutnya. Karena itu Arion
tidak suka sewaktu aku dan si kembar membicarakan pangeran itu. Meskipun dia
bilang ia cuma seorang seniman yang tidak terlibat dalam politik, kurasa Arion
berharap pangerannya segera kembali ke posisinya.
Aku meraih sebuah buku lain dari rak di belakang bangku yang kududuki. Arion pergi
tak lama setelah kami membicarakan pangeran vampire tadi. Ia harus mengurus
beberapa dokumen untuk ujian akhirnya minggu depan, katanya. Aneh sekali di
Humphire murid vampire bisa mengambil ujian akhir di tengah semester seperti
ini. Aku baru tahu belakangan bahwa murid vampire boleh menambilnya kapanpun
mereka merasa siap. Vampire tidak masuk ke sekolah ini untuk lulus sekolah,
tapi untuk beradaptasi di antara manusia. Jadi begitu mereka bisa menahan diri
dengan baik maka mereka dinyatakan lulus.
"Kupikir kau sibuk..", ujarku begitu mendengar langkah kaki mendekat. Aku
mengangkat wajahku menegok ke arah datangnya suara. Mengira akan mendapati
Arion berdiri di sana. Tapi bukan dia. Zero menatapku, mengerjap bingung.
Wajahnya tampak datar seperti biasa. "Eh..maaf, kukira kau Arion.."
Zero tidak menanggapi, ia berjalan meenghampiri salah satu rak buku. Meraih sebuah
buku dan membuka-buka halamannya. "Jadi di sini kau saat membolos
kelas"
Benar. Aku sering membolos dan datang ke perpustakaan. Alasannya sederhana saja.
Tempat ini sepi dan nyaris tidak ada orang saat kelas masih berlangsung. Aku
bisa mengistirahatkan jantungku yang terus berdegup kencang saat aku berada di
dekat murid lain, maksudku manusia. Harus kuakui, belakangan ini lebih berat untuk
mempertahankna kewarasanku. Alasan lainnya tidak lain karena dengan membolos
aku bisa menjauh dari Zero.
Zero meraih sebuah kursi di seberang meja di depanku dan duduk. Sepertinya dia mau
membaca buku yang baru diambilnya itu. Aku melirik sampul buku itu, membaca
judulnya. Cinta Pertama. Eh?! Sebuah novel romansa??!!
"Apa?"
Ah, kurasa aku baru membuat ekspresi aneh di wajahku karena terkejut mengetahui
judul novel di tangan Zero. Well, siapa sangka vampire psikopat itu tertarik
dengan cerita roman. Mata biru Zero menatapku dari balik poninya.
"Ah, tidak ada. Aku tidak menyangka kau tertarik pada buku itu.."
"Oh... Tidak boleh?"
Aku mengangkat kedua bahuku. Bukan maksudku tidak boleh. "Biasanya perempuan
yang lebih suka membaca hal semacam itu..."
"Perempuan?", gumam Zero. "Tapi kau tidak suka..."
Aku tidak bisa bilang dia salah. Memang aku tidak suka. Entahlah. Memangnya aku
peduli apa yang dia suka atau tidak. Bukan urusanku, batinku sambil kembali
menenggelamkan diri dengan bacaanku.
"Key..."
"Hmm?"
"Kau tahu, soal sebelumnya...maaf.."
Eh??! Apa? Apa aku salah dengar?!
"Aku tidak berpikir dengan baik"
"Ya..", ujarku pelan. Tidak bisa mengatakan apapun yang terdengar lebih baik. Astaga.
Kepalaku benar-benar terhenti. Siapa sangka Zero bisa meminta maaf. Yah, waktu
itu aku memang marah pada Zero. Tapi entah kenapa sekaraang aku rasa aku memang
berlebihan. Mungkin sedikit. Harusnya aku tahu Zero memang orang seperti itu.
Ah, lupakan saja. Ini tidak seperti aku akan balas minta maaf padanya. Aku
kembali memfokuskan diriku pada buku di depanku. Menjejalkan kata demi kata ke
dalam kepalaku. Perlahan tapi pasti aku tenggelam. Tenggelam.
Aku membuka mataku, mengerjap beberapa kali. Aku masih di perpustakaan. Tapi
semuanya tampak gelap. Astaga! Apa aku tertidur? Aku terhenyak bangun,
mengangkat kepalaku dan duduk di sofa panjang. Sofa? Detak jantungku tertahan
menyadari sepasang mata tengah menatapku dari balik gelap. Mata biru topaztampak memantulkan sinar bulan
yang masuk melalui teralis jendela. Zero!
"Sudah bangun?", tanyanya datar.
"Ya.. Aku tertidur", timpalku lebih seperti bergumam pada diri sendiri. Aku
tidak mengira akan tertidur di perpustakaan. Maksudku aku memang berusaha tidur
di perpustakaan beberapa hari belakangan ini dan tidak berhasil sama sekali.
Aku meraih ponsel di saku seragamku. Jam 1. Lewat tengah malam! Aku tidur lebih
dari 12 jam?!!!
Zero berdiri dari kursinya. Sedikit memggeliat meluruskan punggungnya.
"Untunglah.. Kukira aku harus berjaga sampai pagi"
"Kau menungguiku?"
"Haruskah kutinggal sendirian?" Zero bertanya balik. Seperti biasa Zero memilih
mengatakan sesuatu yang membuatku kesal. Tapi kurasa itu berarti dia memang
menungguiku sejak siang tadi. Zero bahkan memindahkanku ke sofa.
"Ayo pulang. Aku juga mau tidur"
Aku mengangguk. Bangkit berdiri dari sofa dan mengikuti Zero yang mulai berjalan ke
arah jendela. Zero membuka kunci di bagian bawah jendela, mendorong ke atas
kaca jendela hingga terbuka. Lalu ia melompat keluar dari jendela setinggi
pinggang itu. Zero yang sudah berdiri di luar berbalik menatapku, memberi
isyarat menturuhku mengikutinya dan ia mengulurkan sebelah tanganya. Aku
menelan ludah. Bukannya tidak mengerti kenapa Zero mengulurkan tangan. Ia
menawarkan bantuan untuk berpegangan. Hanya saja, dari semua orang, aku tidak
mengerti bahwa Zero bisa melakukan hal semacam ini. Aku meraih tangan Zero,
yang kemudian menggenggamku, dan keluar lewat jendela. Zero melepas tanganku begitu aku sudah
berdiri di luar. Ia menutup kembali jendela di belakang kami. Kemudian Zero
melompat turun ke dahan sebuah pohon di sebelah bangunan perpustakaan. Aku
mengikutinya begitu Zero memberi isyarat. Dahan pohon itu lebih licin dari
dugaanku. Kakiku sedikit tergelincir. Beruntung, Zero sempat meraih pinggangku sebelum aku
kehilangan keseimbangan. Lengannya yang kokoh melingkar di belakang pinggangku,
membuat kami nyaris berhimpitan. Mata Zero membesar, perlahan ia melepaskan
pegangannya. Zero mengalihkan wajahnya dan melompat turun ke tanah. Perlu
beberapa detik untukku teringat untuk mengikutinya. Untuk sesaat tadi kupikir
aku mendengar suara dentuman pelan berkali-kali.