
Karen berkata padaku untuk bertahan hidup. Bertahan sampai menemukan alasan untuk
membuat pilihan. Ah, ada apa sebenarnya dengan anak itu. Aku mengerti
belakangan ini Karen berusaha keras untuk kembali ke dirinya yang dulu. Mungkin
menurutnya dengan begitu akan membuatku bisa segera memulihkan diri dari trauma
yang kami alami. Padahal Karen menghadapi hal yang sama denganku, orang tua
kami dibunuh dengan keji di depan mata kami. Tapi rasanya, Karen berusaha bertahan jauh lebih
baik dariku. Karen bahkan berbohong dan bersandiwara di depan semua orang untuk
menutupi apa yang sebenarnya terjadi padaku. Demi merahasiakan fakta bahwa aku
hidup sebagai vampire.
Aku tidak ingin menjadi vampire. Walau harus mati pun, aku tidak mau menjadi
vampire. Tapi tubuhku, setiap selnya kini terasa terbakar karena haus tak
terkira. Rasa haus yang tak kan pernah dirasakan manusia. Haus akan darah. Ini
benar-benar menjijikkan. Aku tidak mungkin bisa hidup dengan tubuh yang
menginginkan darah manusia. Aku tidak bisa hidup dengan naluri vampire yang
terus timbul tenggelam dalam benakku. Aku tidak mau menjadiseorang monster. Karena itu aku
mencoba mengakhiri hidupku beberapa hari lalu. Lagipula aku tidak yakin lagi
apakah sekedar bergerak dan bernapas bisa disebut hidup. Apakah seseorang tanpa
tujuan, tanpa impian sepertiku yang hanya memikirkan pembalasan dendam bisa
dibilang masih hidup? Tidak. Ini bukan hidup. Aku tidak hidup. Aku sekarang ini
mungkin hanya hantu yang memiliki tubuh. Aku kosong.
Lucunya aku masih beraktivitas seperti biasa, berangkat sekolah seolah aku manusia. Bukan karena ingin, hanya sebatas karena aku tidak memiliki hal lain yang bisa kulakukan. Dan sekolah jauh lebih baik daripada terjebak 24 jam sehari bersama Zero. Tapi kegiatan sekolah pun semakin berat.
Duduk di dalam kelas saja terasa berat. Aku tidak tahan berada di antara semua
orang lebih dari 2 jam. Pikiranku serasa bisa tertelan dan hilang setelah 2 jam
berlalu. Membolos kelas menjadi hobi baruku selain menyendiri di waktu
istirahat. Aneh, guru di Humphire tidak pernah menegur murid yang membolos.
Tapi dengan begitu aku bisa bebas berkeliaran di sekolah tanpa perlu sembunyi
dari guru-guru. Kali ini kakiku membawaku ke gelanggang olahraga yang terletak
di sebelah timur bangunan utama sekolah. Tempat itusangat luas, ada berbagai arena
olahraga yang berbeda-beda. Seperti sekolah lain pada umumnya, atau bahkan
lebih.
"Pedang?", gumamku sewaktu mengintip salah satu arena
olahraga. Ruangan yang kumasuki tampaknya lebih luas daripada ruangan lainya.
Di dalamnya nyaris tidak ada benda apapun, hanya ada sebuah pedang kayu
tergeletak di tepi ruangan. Tanpa pikir panjang aku memungutnya dari lantai.
"Siapa..? Apa itu kau, Key?", tanya sebuah suara dari sisi lain ruangan. Aku tidak
menyadari sebelumnya, ada sofa panjang di sana. Dan seorang vampire berambut
coklat sepanjang wajahnya
hingga ke leher tampak baru terbangun.Aku langsung mengenali mata emerald itu.
"Arion? Sedang apa kau?"
"Sama sepertimu..", ujarnya disertai tawa renyah. Rupanya Arion jugamembolos. "Apa kau mau
berlatih pedang?"
"Eh? Ah, aku cuma melihat-lihat. Aneh rasanya ada tempat seperti ini di sekolah.
Maksudku, siapa yang akan memakai pedang?", ujarku tanpa berpikir.
Arion berdiri menatapku dengan mulut terbuka, seolah aku baru mengatakan hal yang
tidak bisa dia percaya. "Si Zero itu benar-benar tidak memberitahumu
apapun?"
Aku tidak merespon, tidak mengerti maksud Arion.
Arion mendesah panjang lalu menyibakkan rambut coklatnya yang jatuh di depan kening.
Ia berjalan ke arahku. "Vampire bertarung dengan pedang. Murid vampire memenuhi tempat ini saatjam makan siang"
Aku baru ingat! Benar, vampire menggunakan pedang untuk bertarung. Mereka yang
datang menyerang keluargaku menyandang pedang di sisi pinggangnya. Dan juga,
sewaktu datang menyelamatkanku Zero bertarung melawan mereka dengan pedang.
Karen menceritakannya padaku.
"Ah, jadi kalian memakai pedang.."
Arion kembali mendesah. Sorot mata hijau emerald nya tampak prihatin menatapku. Tapi
aku melihat kebingungan tercampur di dalamnya. Kenapa Arion bingung? Bukannya
wajar kalau aku tidak tahu.
"Nah, bagaimana kalau aku mengajarimu sebentar? Jam
makan siang masih lama, kita bisa leluasa di sini", ujar Arion mendadak
mengubah ekspresinya. "Aku akan ambil pedang lagi, tunggu sebentar"
Arion menuju ke loker-loker yang menyatu dengan dinding. Dia mengeluarkan sebuah
pedang kayu lain dari dalamnya. "Kau pernah belajar menggunakan pedang
sebelumnya?"
Aku menggeleng.
"Kalau begitu kita mulai dari dasar. Pertama kau harus berdiri seperti ini, kaki siaga
selebar bahu. Lalu pegang pedangmu di depan tubuh seperti ini..", kata
Arion mencontohkan. "Apa yang kau lakukan? Bukanya kau harus
menirukanku"
"Tapi..."
"Ayo
buruan..."
Dasar, Arion. Aku kan tidak bilang mau. Aku sedang tidak mood untuk melakukan apapun.
Tapi aku tidak bisa menolak Arion. Anehnya, dia memiliki bakatmembuat orang lain mengikuti
kemauannya. Bukan karena terpaksa, tapi lebih karena tidak bisa menolak. Aku
membuang napas, mulai mengambil posisi kuda-kuda. Arion menatapku dengan mata
membesar.
"Kau bilang ini pertama kali kau menggunakan pedang kan?", tanya Arion.
"Iya. Kenapa?"
Arion menggeleng. "Tidak. Hanya saja, caramu memegang pedang dan mengambil
kuda-kuda sudah sempurna"
Arion melanjutkan sesi pelatihannya. Ia mengayunkan pedangnya ke depan beberapa kali
sambil melangkah maju. Kali ini aku mengikutinya tanpa menunggu disuruh. Arion
dengan langkah cepat dan menebaskkan pedangnya seolah ada musuh di kiri
kanannya. Kemudian dia melompat dan kembali menebaskan pedang ke kanan kiri
depan belakang, lalu terakhir ia menusukkannya ke udara di depannya. Arion
berbalik melihatku yang mulai mengikuti gerakannya tadi. Dia menyambutku dengan
tepuk tangan begitu aku selesai menirukan gerakannya.
"Kurasa kau memang memiliki bakat alami, Key. Tadi itu sempurna!", kata Arion.
Sebuah senyum khas Arion mengembang di wajahnya. Mata emerald-nya yang berbinar tampak lebih cerah
dari biasanya.
"Kenapa kalian menggunakan pedang?", tanyaku usai kami mengakhiri sesi pelatihan
pedang singkat itu. "Bukankah banyak pilihan senjata lain yang lebih
maju?"
"Yaa..senjata yang lebih maju seperti teknologi manusia tidak bisa menandingi kecepatan
vampire. Bahkan jika bisa, senjata itu masih kalah dari 'bakat' unik para
vampire. Pedang adalah pilihan terbaik karena pedang dapat membantu kami tapi
kami masih menggunakan kekuatan tubuh kami sendiri untuk melawan musuh",
ujar Arion. "Kalau kata Zero, vampire itu punya selera kuno" Arion
tertawa kecil di ujung kalimatnya. Tawanya terdengar hambar.
"Arion, sebenarnya ada yang terjadi di antara kalian kan?", tanyaku sedikit ragu.
Mungkin saja perkara ini sensitif untuk Arion, aku harus berhati-hati untuk
tidak bertanya terlalu jauh. "Habisnya kadang matamu terlihat sedih saat
membicarakan Zero"
Arion mengambil napas dalam-dalam. Nampaknya memang ini perkara pelik untuknya.
"Memang ada. Aku membuatnya marah padaku. Kejadiannya sudah 2 tahun lalu. Aku tidak bisa
menyalahkannya karena kecewa padaku. Tapi aku tidak ingin dia terus menjaga
jarak dariku"
Mataku membesar. Tidak menyangka Arion akan terbuka padaku. Aku tidak bermaksud
membuatnya bercerita lebih lanjut.
"Begitu"
"Karena itu aku akan terus menempel padanya meski dia tidak suka. Aku akan selalu ada
untuknya mulai sekarang"
"Kau benar-benar baik padanya, padahal dia terus mengacuhkanmu"
Arion tertawa pelan mendengar komentarku. "Habisnya aku ini kan teman
terdekatnya. Sebenarnya Zero itu hanya bodoh. Dia tidak bisa mengekspresikan
dirinya dengan baik"
"Tapi dia sangat beruntung, karena memilikimu sebagai temannya"
Wajah Arion tampak tersipu. Ia memalingkan tatapannya keluar jendela. "Aku kan
juga temanmu, Key"
Kali ini aku yang memalingkan tatapanku. Bukan karena tersipu. Tapi lebih karena
malu. Sampai detik ini pun aku tidak mengerti kenapa Arion mau berteman denganku. Aku ini bukan manusia dan bukan vampire. Aku tidak bisa kembali menjadi manusia dan tidak mau menjadi vampire.
Aku hanya bertahan untuk membalaskan dendamku pada vanBlood. Seseorang dengan
kebencian dan dendam untuk bertahan hidup sepertiku tidak layak menjadi teman
Arion. Maksudku, Arion itu sangat baik dan populer, banyak
murid vampire yang ingin berteman dengannya. Bahkan murid manusia pun
seringkali menghampirinya. Tidak mengherankan memang, mengingat pesona Arion
yang tampan dan ramah pada siapapun. Dia jauh dari kesan berbahaya seperti
kebanyakan vampire lain. Arion bisa berteman dengan siapa saja selain aku.
"Kurasa kau tidak lagi membenci vampire", ujar Shane tiba-tiba saat kami tengah menyiapkan makan malam.
"Kenapa kau bicara begitu?"
"Belakangan kau terlihat sangat akrab dengan Arion.
Apa kau menyukainya?"
"Eh? Tidak mungkin. Aku memang cukup akrab
dengannya, tapi tidak mungkin aku sampai menyukainya"
Shane menatapku beberapa saat. "Begitu, syukurlah. Jadiapa rencanamu masih sama, mengenai vanBlood?"
"Apa kau berhasil melacak lokasinya?", seruku
antusias. Tentu saja rencanaku masih sama. Aku akan membunuhnya.
"Belum. Sangat susah melacak vampire berakal sehat
karena mereka bersembunyi dengan baik. Jika itu mad vampire kami hanya butuh
beberapa jam untuk melacak lokasinya"
Aku menghela napas kecewa. Aku pikir dia punya petunjuk
atau semacamnya.
"Aku akan membantumu"
"Eh?" Aku kembali melempar tatapanku ke arah
Shane.
"Tentang rencanamu itu. Aku bisa memahami
perasaanmu", ujar Shane. Ratusan emosi kini memenuhi matanya. "Orang
tuaku juga dibunuh oleh vampire, 6 tahun lalu. Mereka juga vampire hunter.
Mereka dibunuh oleh seorang vampire yang dendam terhadap mereka. Dan aku dan
Shine menggantikan posisi mereka dalam organisasi. Kami berlatih sangat keras
untuk membalaskan dendam"
"Jadi, apakah...?"
Shane menggeleng. "Tidak. Kami tidak pernah
membunuhnya. Vampire itu sudah terbunuh sebelum kami sempat membalaskan
dendam"
Begitu rupanya. Lalu apa yang terjadi dengan dendam dalam
hati mereka? Apakah itu menghilang begitu saja? Ataukah menggantung di dalam
sana selamanya? Ataukah mereka menjalani pekerjaan sebagai hunter untuk
menyalurkan emosi mereka.
"Jadi, karena itulah aku mengerti apa yang kau
rasakan. Aku akan membantumu"
***