The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 7 Vampire Putih (part 1)



Karen berkata padaku untuk bertahan hidup. Bertahan sampai menemukan alasan untuk


membuat pilihan. Ah, ada apa sebenarnya dengan anak itu. Aku mengerti


belakangan ini Karen berusaha keras untuk kembali ke dirinya yang dulu. Mungkin


menurutnya dengan begitu akan membuatku bisa segera memulihkan diri dari trauma


yang kami alami. Padahal Karen menghadapi hal yang sama denganku, orang tua


kami dibunuh dengan keji di depan mata kami. Tapi rasanya, Karen berusaha bertahan jauh lebih


baik dariku. Karen bahkan berbohong dan bersandiwara di depan semua orang untuk


menutupi apa yang sebenarnya terjadi padaku. Demi merahasiakan fakta bahwa aku


hidup sebagai vampire.


Aku tidak ingin menjadi vampire. Walau harus mati pun, aku tidak mau menjadi


vampire. Tapi tubuhku, setiap selnya kini terasa terbakar karena haus tak


terkira. Rasa haus yang tak kan pernah dirasakan manusia. Haus akan darah. Ini


benar-benar menjijikkan. Aku tidak mungkin bisa hidup dengan tubuh yang


menginginkan darah manusia. Aku tidak bisa hidup dengan naluri vampire yang


terus timbul tenggelam dalam benakku. Aku tidak mau menjadiseorang monster. Karena itu aku


mencoba mengakhiri hidupku beberapa hari lalu. Lagipula aku tidak yakin lagi


apakah sekedar bergerak dan bernapas bisa disebut hidup. Apakah seseorang tanpa


tujuan, tanpa impian sepertiku yang hanya memikirkan pembalasan dendam bisa


dibilang masih hidup? Tidak. Ini bukan hidup. Aku tidak hidup. Aku sekarang ini


mungkin hanya hantu yang memiliki tubuh. Aku kosong.


Lucunya aku masih beraktivitas seperti biasa, berangkat sekolah seolah aku manusia. Bukan karena ingin, hanya sebatas karena aku tidak memiliki hal lain yang bisa kulakukan. Dan sekolah jauh lebih baik daripada terjebak 24 jam sehari bersama Zero. Tapi kegiatan sekolah pun semakin berat.


Duduk di dalam kelas saja terasa berat. Aku tidak tahan berada di antara semua


orang lebih dari 2 jam. Pikiranku serasa bisa tertelan dan hilang setelah 2 jam


berlalu. Membolos kelas menjadi hobi baruku selain menyendiri di waktu


istirahat. Aneh, guru di Humphire tidak pernah menegur murid yang membolos.


Tapi dengan begitu aku bisa bebas berkeliaran di sekolah tanpa perlu sembunyi


dari guru-guru. Kali ini kakiku membawaku ke gelanggang olahraga yang terletak


di sebelah timur bangunan utama sekolah. Tempat itusangat luas, ada berbagai arena


olahraga yang berbeda-beda. Seperti sekolah lain pada umumnya, atau bahkan


lebih.


"Pedang?",  gumamku sewaktu mengintip salah satu arena


olahraga. Ruangan yang kumasuki tampaknya lebih luas daripada ruangan lainya.


Di dalamnya nyaris tidak ada benda apapun, hanya ada sebuah pedang kayu


tergeletak di tepi ruangan. Tanpa pikir panjang aku memungutnya dari lantai.


"Siapa..? Apa itu kau, Key?", tanya sebuah suara dari sisi lain ruangan. Aku tidak


menyadari sebelumnya, ada sofa panjang di sana. Dan seorang vampire berambut


coklat sepanjang wajahnya


hingga ke leher tampak baru terbangun.Aku langsung mengenali mata emerald itu.


"Arion? Sedang apa kau?"


"Sama sepertimu..", ujarnya disertai tawa renyah. Rupanya Arion jugamembolos. "Apa kau mau


berlatih pedang?"


"Eh? Ah, aku cuma melihat-lihat. Aneh rasanya ada tempat seperti ini di sekolah.


Maksudku, siapa yang akan memakai pedang?", ujarku tanpa berpikir.


Arion berdiri menatapku dengan mulut terbuka, seolah aku baru mengatakan hal yang


tidak bisa dia percaya. "Si Zero itu benar-benar tidak memberitahumu


apapun?"


Aku tidak merespon, tidak mengerti maksud Arion.


Arion mendesah panjang lalu menyibakkan rambut coklatnya yang jatuh di depan kening.


Ia berjalan ke arahku. "Vampire bertarung dengan pedang. Murid vampire memenuhi tempat ini saatjam makan siang"


Aku baru ingat! Benar, vampire menggunakan pedang untuk bertarung. Mereka yang


datang menyerang keluargaku menyandang pedang di sisi pinggangnya. Dan juga,


sewaktu datang menyelamatkanku Zero bertarung melawan mereka dengan pedang.


Karen menceritakannya padaku.


"Ah, jadi kalian memakai pedang.."


Arion kembali mendesah. Sorot mata hijau emerald nya tampak prihatin menatapku. Tapi


aku melihat kebingungan tercampur di dalamnya. Kenapa Arion bingung? Bukannya


wajar kalau aku tidak tahu.


"Nah,  bagaimana kalau aku mengajarimu sebentar? Jam


makan siang masih lama, kita bisa leluasa di sini", ujar Arion mendadak


mengubah ekspresinya. "Aku akan ambil pedang lagi, tunggu sebentar"


Arion menuju ke loker-loker yang menyatu dengan dinding. Dia mengeluarkan sebuah


pedang kayu lain dari dalamnya. "Kau pernah belajar menggunakan pedang


sebelumnya?"


Aku menggeleng.


"Kalau begitu kita mulai dari dasar. Pertama kau harus berdiri seperti ini, kaki siaga


selebar bahu. Lalu pegang pedangmu di depan tubuh seperti ini..", kata


Arion mencontohkan. "Apa yang kau lakukan? Bukanya kau harus


menirukanku"


"Tapi..."


"Ayo


buruan..."


Dasar, Arion. Aku kan tidak bilang mau. Aku sedang tidak mood untuk melakukan apapun.


Tapi aku tidak bisa menolak Arion. Anehnya, dia memiliki bakatmembuat orang lain mengikuti


kemauannya. Bukan karena terpaksa, tapi lebih karena tidak bisa menolak. Aku


membuang napas, mulai mengambil posisi kuda-kuda. Arion menatapku dengan mata


membesar.


"Kau bilang ini pertama kali kau menggunakan pedang kan?", tanya Arion.


"Iya. Kenapa?"


Arion menggeleng. "Tidak. Hanya saja, caramu memegang pedang dan mengambil


kuda-kuda sudah sempurna"


Arion melanjutkan sesi pelatihannya. Ia mengayunkan pedangnya ke depan beberapa kali


sambil melangkah maju. Kali ini aku mengikutinya tanpa menunggu disuruh. Arion


dengan langkah cepat dan menebaskkan pedangnya seolah ada musuh di kiri


kanannya. Kemudian dia melompat dan kembali menebaskan pedang ke kanan kiri


depan belakang, lalu terakhir ia menusukkannya ke udara di depannya. Arion


berbalik melihatku yang mulai mengikuti gerakannya tadi. Dia menyambutku dengan


tepuk tangan begitu aku selesai menirukan gerakannya.


"Kurasa kau memang memiliki bakat alami, Key. Tadi itu sempurna!", kata Arion.


Sebuah senyum khas Arion mengembang di wajahnya. Mata emerald-nya yang berbinar tampak lebih cerah


dari biasanya.


"Kenapa kalian menggunakan pedang?", tanyaku usai kami mengakhiri sesi pelatihan


pedang singkat itu. "Bukankah banyak pilihan senjata lain yang lebih


maju?"


"Yaa..senjata yang lebih maju seperti teknologi manusia tidak bisa menandingi kecepatan


vampire. Bahkan jika bisa, senjata itu masih kalah dari 'bakat' unik para


vampire. Pedang adalah pilihan terbaik karena pedang dapat membantu kami tapi


kami masih menggunakan kekuatan tubuh kami sendiri untuk melawan musuh",


ujar Arion. "Kalau kata Zero, vampire itu punya selera kuno" Arion


tertawa kecil di ujung kalimatnya. Tawanya terdengar hambar.


"Arion, sebenarnya ada yang terjadi di antara kalian kan?", tanyaku sedikit ragu.


Mungkin saja perkara ini sensitif untuk Arion, aku harus berhati-hati untuk


tidak bertanya terlalu jauh. "Habisnya kadang matamu terlihat sedih saat


membicarakan Zero"


Arion mengambil napas dalam-dalam. Nampaknya memang ini perkara pelik untuknya.


"Memang ada. Aku membuatnya marah padaku. Kejadiannya sudah 2 tahun lalu. Aku tidak bisa


menyalahkannya karena kecewa padaku. Tapi aku tidak ingin dia terus menjaga


jarak dariku"


Mataku membesar. Tidak menyangka Arion akan terbuka padaku. Aku tidak bermaksud


membuatnya bercerita lebih lanjut.


"Begitu"


"Karena itu aku akan terus menempel padanya meski dia tidak suka. Aku akan selalu ada


untuknya mulai sekarang"


"Kau benar-benar baik padanya, padahal dia terus mengacuhkanmu"


Arion tertawa pelan mendengar komentarku. "Habisnya aku ini kan teman


terdekatnya. Sebenarnya Zero itu hanya bodoh. Dia tidak bisa mengekspresikan


dirinya dengan baik"


"Tapi dia sangat beruntung, karena memilikimu sebagai temannya"


Wajah Arion tampak tersipu. Ia memalingkan tatapannya keluar jendela. "Aku kan


juga temanmu, Key"


Kali ini aku yang memalingkan tatapanku. Bukan karena tersipu. Tapi lebih karena


malu. Sampai detik ini pun aku tidak mengerti kenapa Arion mau berteman denganku. Aku ini bukan manusia dan bukan vampire. Aku tidak bisa kembali menjadi manusia dan tidak mau menjadi vampire.


Aku hanya bertahan untuk membalaskan dendamku pada vanBlood. Seseorang dengan


kebencian dan dendam untuk bertahan hidup sepertiku tidak layak menjadi teman


Arion. Maksudku, Arion itu sangat baik dan populer, banyak


murid vampire yang ingin berteman dengannya. Bahkan murid manusia pun


seringkali menghampirinya. Tidak mengherankan memang, mengingat pesona Arion


yang tampan dan ramah pada siapapun. Dia jauh dari kesan berbahaya seperti


kebanyakan vampire lain. Arion bisa berteman dengan siapa saja selain aku.


"Kurasa kau tidak lagi membenci vampire", ujar Shane tiba-tiba saat kami tengah menyiapkan makan malam.


"Kenapa kau bicara begitu?"


"Belakangan kau terlihat sangat akrab dengan Arion.


Apa kau menyukainya?"


"Eh? Tidak mungkin. Aku memang cukup akrab


dengannya, tapi tidak mungkin aku sampai menyukainya"


Shane menatapku beberapa saat. "Begitu, syukurlah. Jadiapa rencanamu masih sama, mengenai vanBlood?"


"Apa kau berhasil melacak lokasinya?", seruku


antusias. Tentu saja rencanaku masih sama. Aku akan membunuhnya.


"Belum. Sangat susah melacak vampire berakal sehat


karena mereka bersembunyi dengan baik. Jika itu mad vampire kami hanya butuh


beberapa jam untuk melacak lokasinya"


Aku menghela napas kecewa. Aku pikir dia punya petunjuk


atau semacamnya.


"Aku akan membantumu"


"Eh?" Aku kembali melempar tatapanku ke arah


Shane.


"Tentang rencanamu itu. Aku bisa memahami


perasaanmu", ujar Shane. Ratusan emosi kini memenuhi matanya. "Orang


tuaku juga dibunuh oleh vampire, 6 tahun lalu. Mereka juga vampire hunter.


Mereka dibunuh oleh seorang vampire yang dendam terhadap mereka. Dan aku dan


Shine menggantikan posisi mereka dalam organisasi. Kami berlatih sangat keras


untuk membalaskan dendam"


"Jadi, apakah...?"


Shane menggeleng. "Tidak. Kami tidak pernah


membunuhnya. Vampire itu sudah terbunuh sebelum kami sempat membalaskan


dendam"


Begitu rupanya. Lalu apa yang terjadi dengan dendam dalam


hati mereka? Apakah itu menghilang begitu saja? Ataukah menggantung di dalam


sana selamanya? Ataukah mereka menjalani pekerjaan sebagai hunter untuk


menyalurkan emosi mereka.


"Jadi, karena itulah aku mengerti apa yang kau


rasakan. Aku akan membantumu"


***