
Siang ini aku sedikit terkejut menemukan Shane di atap
gedung perpustakaan Humphire. Dia berjongkok di dekat pagar pembatas dengan
memegang sebuah teropong pengintai.Aku menghampirinya karena penasaran.
“Kau sedang mencari seseorang?”
“Ah, tidak”, timpal Shane tampak kaget melihatku di
belakangnya. “Maksudku iya. Aku mencari seseorang”
“Siapa? Cewe ya?”
“Bukan. Pangeran vampire”
Telingaku nyaris melompat karena tidak menyangka sama
sekali jawaban Shane. “Eeeh?! P-pangeran? Maksudmu pangeran yang hilang tu?”
Shane mengangguk.
“Kenapa kau mencarinya”
“Menurutmuu dia tidak ada di sini?” Shine.balik bertanya.
“Kalau dia sedang bersembunyi, meurutku dia tidak aka
datang ke sebuah sekolah?”
“Aku juga berpikir begitu. Tapi rumor tentang pangeran
itu ada di Humphire sudah menyebar. Makanya aku juga penasaran, kalau-kalau dia
benar ada di sini”
The lost prince, menurut informasi dia menyembuntikan
shadow-nya. Jadi kami tidak bisa yakin akan tampak seperti apa shadow pangeran
vampire itu sekarang. Ditambah lagi akibat dari perbuatannya memakan jantung
tunangannya, dia mungkin memiliki penampilan yang jauh berbeda dari
penampilannya dulu. Warna dan ciri fisiknya saat ini tidak diketahui siapapun.
Egitu kata Ario.
“Jadi, menurutmu siapa?”, tanyaku, bersandar ke pagar
lalu melongok ke bawah, ke area taman dan cafetaria yang ramai sesak.
“Bagaimana dengan dia?” Shane meminta pendapat, sambil
menunjuk seorang vampire berkulit pucat dengan rambut coklat gelap menjuntai
dan mata hijau emerald yang berkilauan. “Arion?”, gumamku tak percaya.Tidak,
aku juga sempat berpikir Ario adalah pangeran itu. “Oh, bukan Arion”
“Kenapa begitu? Dia tampak mencurigakan”
“Arion seorang halfblood”
“Eh?! Benarkah?!”
Aku mengangguk mengiyakan. Shane tampak sama kagetnya
denganku waktu mendengar ini. Arion memiliki shadow yang besar dan jelas dia
punya bakat yang kuat. Siapapun akan berpikir bahwa dia adalah seorang
pureblood.
“Itu di luar dugaan. Well, jadi siapa lagi orang
mencurigakan di sini?”
Setelah menyapu pandangan sekeliling beberapa kali, kami
pun mendapat beberapa nama calon tersangka.dan pada akhirnya sependapat
mengenai yang paling mencurigakan di antara para calon. Leith Longsword.
“Jika benar dia lantas apa rencanamu?”
“Belum ada. Untuk saat ini aku hanya mengawasi dan
melaporkan keadaan ke markas. Tapi kami harus berhati-hati pada semua
kemungkinan. Keberadaan pangeran itu bisa jadi ancaman untuk manusia”
Aku melayangkan tatapanku ke Leith, vampire berambut
putih sedikit bergelombang, tidak tersisir rapi. Matanya berwarna kelabu hampir
putih seolah warnanya luntur. Dia tampak duduk di bangku sudut dengan beberapa
murid vampire. Biasanya dia lebih memilih menyendiri di kebun belakang atau di
atap gedung. Entah apa alasannya dia tampak berubah.
“Ngomong-ngomong, Key. Maukah kau datang ke prom
bersamaku?”
“Eh? Prom?” Aku dibuat bingung dengan pertanyaan
tiba-tiba ini. Prom apa? Aku bahkan tidak pernah mendengarnya.
“Minggu depan akan diadakan prom tahunan. Datanglah
bersamaku, ok?”
“T-tunggu...aku...”
Shane sudah pergi tanpa memberiku kesempatan menjawab. Ia
melambaikan tanganya sambil bergegas menuju pintu. Tentu saja dia tahu aku akan menolak. Mengingat kondisiku
sekarang yang sering hilang kesadaran. Belum lagi mood jelek akibat pertengkaran
hebat dengan Zero beberapa hari lalu. Sebenarnya hari ini pun aku berangkat
sekolah untuk menjauh darinya. Entah sudah berapa ratus kali kami bertengkar
gara-gara topik yang sama. Dan kali ini sepertinya aku melewati batas kesabaran
Zero.
"Ok, baik! Yeah, kau benar!Aku tidak ada bedanya dengan vampire sampah itu! Aku
menginginkan yang dia inginkan! Aku menginginkan darahmu! Dan aku tidak akan
membiarkanmu pergi karena aku mau menyimpanmu untuku sendiri!! Dan kau akan
mematuhiku! Puas sekarang?!!!”, teriak Zero. Matanya membesar dan berubah merah
penuh amarah.
Sesuatu terasa longsor di dalam dadaku. Lututku
kehilangan kekuatannya. Aku menemukan diriku gemetaran mendengar amarah Zero.
Yang mana sama sekali tidak masuk akal. Kenapa aku terkejut tentang ini?
Bukankah aku sudah menduganya? Bukankah hal ini tepat seperti yang kupikirkan
tentang Zero?
"H-hey...Zero, kau tidak boleh berteriak pada seorang gadis", kata Arion, mencoba menenangkan teman karibnya.
"Dia mengharapkannya" Zero berbalik dan berjalan keluar rumah. Ia menuju ke dalam
Di luar terik, namun petir terlihat menyambar beberapa
kali membelah langit. Aku tak bisa menghiraukan Arion yang mencoba mencairkan
suasana. Aku menghentikan gemetaran di kakiku, melayangkan tatapanku pada
Karen.
“Kau dengar tadi? Sekarang apa kau bisa mengatakan bahwa
dia tidak akan melakukannya?”
“Tapi dia sungguh tidak akan..”
“Cukup! Dia sudah mengatakannya sendiri, Karen. Dia
menginginkan darahku. Tidak ada jaminan bahwa selanjutnya dia tidak akan
menginginkan darahmu!”
Karen tidak menimpali. Rupanya dia memutuskan untuk diam,
paham bahwa tidak ada yang bisa mengubah pendapatku sekarang. Tapi aku juga
tahu, Karen tidak mengubah pendapatnya sedikitpun tentang Zero. Dia
mempercayainya. Kehabisan kesabaran, aku beranjak dari kursiku dan berjalan
menuju tangga. Keluar ke atap rumah. Petir masih menyambar berkali-kali di
langit tanpa awan. Aku mendengar suara langkah kaki familiar mendekatiku.
“Dia mengatakanya karena marah. Kau juga tahu kan?’
“Kau memihaknya, Arion”
“Aku mengenalnya. Dia mungkin agak brengsek, tapi dia
bukan orang seperti itu”
Aku memilih diam, tidak merespon. Arion membuang napas panjang.
“Kau juga sudah tahu sifat Zero yang sebenarnya, benar
bukan? Karena itu kau masih di sini meskipun dia mengatakan hal macam tadi”
“Arion, aku tidak peduli apa yang akan terjadi padaku”,
ujarku. “Hidupku berakhir pada malam vanBlood mengubahku. Aku tidak peduli pada
apa yang direncanakan si brengsek Zero padaku. Lagipula keadaan tidak akan
lebih baik walau aku tidak di sini”
Mata Arion membesar, ada bayang sedih di balik retina
emerald-nya yang sebening kristal. “Jadi, kau mengkhawatirkan tentang Karen?”
Aku mengangguk. “Tidak ada yang bisa aku lakukan mengenai
diriku yang berubah menjadi vampire. Aku nyaris kehilangan semuanya.Hanya Karen
yang tersisa dari apa yang berharga bagiku. Aku ingin dia tidak terlibat dengan
vampire. Aku ingin dia bisa hidup normal seperti orang lain. Aku tidak mau
menyeretnya ke dalam masalahku”
“Tapi, Key, sebenarnya Karen lah yang menyeretrmu ke dalam
semua ini”, ujar Arion. “Aku tahu aku seharusnya tidak mengatakan ini, tapi
kenyataanya jika bukan demi Karen kau tidak akan ada dalam situasimu sekarang”
“Kau benar-benar tidak seharusnya mengatakanya”, desisku
geram. Bisa-bisanya Arion berkata begitu.
“”Maaf”, gumamnya menyesali kata-katanya sendiri. “Aku
tidak terlalu mengerti bagaimana hubungan bersaudara
karena aku tidak punya. Tapi bukankah normal untuk merasa terganggu atau cemburu di
antara saudara?”
“Apa kau mau bilang aku mungkin membencinya atas apa yang
terjadi?”
Arion tampak ragu, tapi dia mengangguk.
Ah, Arion selalu seperti ini. Begitu jujur dan hangat.
Tidak sulit mengatakan isi hatiku yang sebenarnya, jika itu pada Arion. “Aku
tidak membencinya”,ujarku. “Memang benar ada saat-saat di mana aku merasa kesal
dengan memilikinya sebagai saudara. Aku juga cemburu pada banyak hal
tentangnya. Aku akui itu. Tapi sekarang kami hanya memiliki satu sama lain. Aku
tidak mau menyia-nyiakan waktuku untuk perasaan kekanak-kanakan seperti dulu
lagi. Lagipula aku tidak punya banyak waktu”
Arion tampak menatapku lama. Awalnya kupikir dia hanya
menyelidik apa aku berbohong. Tapi matanya mengatakan kalau dia marah. “Pernahkah
kau berpikir bahwa setiap kali kau mengatakan hal semacam itu, kau menyakiti
teman-temanmu? Kau baru saja membuat hatiku sakit, Key”
“Apa yang kukatakan?” Aku tidak mengerti. Apa yang
membuatnya marah?
“Kau selalu begitu, Key. Berkata seolah kau akan segera
mati, seolah kau hanya menunggu waktu, seolah kami akan membiarkannya terjadi!”
Ah..Mengenai itu ya, batinku. Aku tidak mengatakan hal yang
salah. Memang seperti itu. Aku hanya bertahan menunggu waktu untuk balas dendam
dan untuk kematianku. Itu pun kalau aku masih bisa bertahan.
“Demi Tuhan, Key! Aku tidak akan membiarkanmu mati!”
Arion mengatakannya dengan tegas. Mata hijau emeraldnya tampak bersinar oleh
tekad.
Aku tersenyum kecil. Arion memang berbeda. Dia akan
selalu seperti ini. Seolah dia punya kesempatan untuk mengubah takdir. Saat aku berubah menjadi mad vampire, tak ada
yang bisa dilakukan selain membunuhku. Tapi, mendengar apa yang Arion katakan
masih membuat hatiku merasa hangat. Dia benar-benar teman yang baik. Sayang
sekali bahwa aku baru bertemu dengannya setelah aku bukan lagi manusia.
Terkadang aku tidak bisa berhenti berpikir betapa menyenangkanya jika saja kami
berdua adalah manusia.
***