The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 15 Untuk Seorang Teman (part1)



Siang ini aku sedikit terkejut menemukan Shane di atap


gedung perpustakaan Humphire. Dia berjongkok di dekat pagar pembatas dengan


memegang sebuah teropong pengintai.Aku menghampirinya karena penasaran.


“Kau sedang mencari seseorang?”


“Ah, tidak”, timpal Shane tampak kaget melihatku di


belakangnya. “Maksudku iya. Aku mencari seseorang”


“Siapa? Cewe ya?”


“Bukan. Pangeran vampire”


Telingaku nyaris melompat karena tidak menyangka sama


sekali jawaban Shane. “Eeeh?! P-pangeran? Maksudmu pangeran yang hilang tu?”


Shane mengangguk.


“Kenapa kau mencarinya”


“Menurutmuu dia tidak ada di sini?” Shine.balik bertanya.


“Kalau dia sedang bersembunyi, meurutku dia tidak aka


datang ke sebuah sekolah?”


“Aku juga berpikir begitu. Tapi rumor tentang pangeran


itu ada di Humphire sudah menyebar. Makanya aku juga penasaran, kalau-kalau dia


benar ada di sini”


The lost prince, menurut informasi dia menyembuntikan


shadow-nya. Jadi kami tidak bisa yakin akan tampak seperti apa shadow pangeran


vampire itu sekarang. Ditambah lagi akibat dari perbuatannya memakan jantung


tunangannya, dia mungkin memiliki penampilan yang jauh berbeda dari


penampilannya dulu. Warna dan ciri fisiknya saat ini tidak diketahui siapapun.


Egitu kata Ario.


“Jadi, menurutmu siapa?”, tanyaku, bersandar ke pagar


lalu melongok ke bawah, ke area taman dan cafetaria yang ramai sesak.


“Bagaimana dengan dia?” Shane meminta pendapat, sambil


menunjuk seorang vampire berkulit pucat dengan rambut coklat gelap menjuntai


dan mata hijau emerald yang berkilauan. “Arion?”, gumamku tak percaya.Tidak,


aku juga sempat berpikir Ario adalah pangeran itu. “Oh, bukan Arion”


“Kenapa begitu? Dia tampak mencurigakan”


“Arion seorang halfblood”


“Eh?! Benarkah?!”


Aku mengangguk mengiyakan. Shane tampak sama kagetnya


denganku waktu mendengar ini. Arion memiliki shadow yang besar dan jelas dia


punya bakat yang kuat. Siapapun akan berpikir bahwa dia adalah seorang


pureblood.


“Itu di luar dugaan. Well, jadi siapa lagi orang


mencurigakan di sini?”


Setelah menyapu pandangan sekeliling beberapa kali, kami


pun mendapat beberapa nama calon tersangka.dan pada akhirnya sependapat


mengenai yang paling mencurigakan di antara para calon. Leith Longsword.


“Jika benar dia lantas apa rencanamu?”


“Belum ada. Untuk saat ini aku hanya mengawasi dan


melaporkan keadaan ke markas. Tapi kami harus berhati-hati pada semua


kemungkinan. Keberadaan pangeran itu bisa jadi ancaman untuk manusia”


Aku melayangkan tatapanku ke Leith, vampire berambut


putih sedikit bergelombang, tidak tersisir rapi. Matanya berwarna kelabu hampir


putih seolah warnanya luntur. Dia tampak duduk di bangku sudut dengan beberapa


murid vampire. Biasanya dia lebih memilih menyendiri di kebun belakang atau di


atap gedung. Entah apa alasannya dia tampak berubah.


“Ngomong-ngomong, Key. Maukah kau datang ke prom


bersamaku?”


“Eh? Prom?” Aku dibuat bingung dengan pertanyaan


tiba-tiba ini. Prom apa? Aku bahkan tidak pernah mendengarnya.


“Minggu depan akan diadakan prom tahunan. Datanglah


bersamaku, ok?”


“T-tunggu...aku...”


Shane sudah pergi tanpa memberiku kesempatan menjawab. Ia


melambaikan tanganya sambil bergegas  menuju pintu. Tentu saja dia tahu aku akan menolak. Mengingat kondisiku


sekarang yang sering hilang kesadaran. Belum lagi mood jelek akibat pertengkaran


hebat dengan Zero beberapa hari lalu. Sebenarnya hari ini pun aku berangkat


sekolah untuk menjauh darinya. Entah sudah berapa ratus kali kami bertengkar


gara-gara topik yang sama. Dan kali ini sepertinya aku melewati batas kesabaran


Zero.


"Ok, baik! Yeah, kau benar!Aku tidak ada bedanya dengan vampire sampah itu! Aku


menginginkan yang dia inginkan! Aku menginginkan darahmu! Dan aku tidak akan


membiarkanmu pergi karena aku mau menyimpanmu untuku sendiri!! Dan kau akan


mematuhiku! Puas sekarang?!!!”, teriak Zero. Matanya membesar dan berubah merah


penuh amarah.


Sesuatu terasa longsor di dalam dadaku. Lututku


kehilangan kekuatannya. Aku menemukan diriku gemetaran mendengar amarah Zero.


Yang mana sama sekali tidak masuk akal. Kenapa aku terkejut tentang ini?


Bukankah aku sudah menduganya? Bukankah hal ini tepat seperti yang kupikirkan


tentang Zero?


"H-hey...Zero, kau tidak boleh berteriak pada seorang gadis", kata Arion, mencoba menenangkan teman karibnya.


"Dia mengharapkannya" Zero berbalik dan berjalan keluar rumah. Ia menuju ke dalam


Di luar terik, namun petir terlihat menyambar beberapa


kali membelah langit. Aku tak bisa menghiraukan Arion yang mencoba mencairkan


suasana. Aku menghentikan gemetaran di kakiku, melayangkan tatapanku pada


Karen.


“Kau dengar tadi? Sekarang apa kau bisa mengatakan bahwa


dia tidak akan melakukannya?”


“Tapi dia sungguh tidak akan..”


“Cukup! Dia sudah mengatakannya sendiri, Karen. Dia


menginginkan darahku. Tidak ada jaminan bahwa selanjutnya dia tidak akan


menginginkan darahmu!”


Karen tidak menimpali. Rupanya dia memutuskan untuk diam,


paham bahwa tidak ada yang bisa mengubah pendapatku sekarang. Tapi aku juga


tahu, Karen tidak mengubah pendapatnya sedikitpun tentang Zero. Dia


mempercayainya. Kehabisan kesabaran, aku beranjak dari kursiku dan berjalan


menuju tangga. Keluar ke atap rumah. Petir masih menyambar berkali-kali di


langit tanpa awan. Aku mendengar suara langkah kaki familiar mendekatiku.


“Dia mengatakanya karena marah. Kau juga tahu kan?’


“Kau memihaknya, Arion”


“Aku mengenalnya. Dia mungkin agak brengsek, tapi dia


bukan orang seperti itu”


Aku memilih diam, tidak merespon. Arion membuang napas panjang.


“Kau juga sudah tahu sifat Zero yang sebenarnya, benar


bukan? Karena itu kau masih di sini meskipun dia mengatakan hal macam tadi”


“Arion, aku tidak peduli apa yang akan terjadi padaku”,


ujarku. “Hidupku berakhir pada malam vanBlood mengubahku. Aku tidak peduli pada


apa yang direncanakan si brengsek Zero padaku. Lagipula keadaan tidak akan


lebih baik walau aku tidak di sini”


Mata Arion membesar, ada bayang sedih di balik retina


emerald-nya yang sebening kristal. “Jadi, kau mengkhawatirkan tentang Karen?”


Aku mengangguk. “Tidak ada yang bisa aku lakukan mengenai


diriku yang berubah menjadi vampire. Aku nyaris kehilangan semuanya.Hanya Karen


yang tersisa dari apa yang berharga bagiku. Aku ingin dia tidak terlibat dengan


vampire. Aku ingin dia bisa hidup normal seperti orang lain. Aku tidak mau


menyeretnya ke dalam masalahku”


“Tapi, Key, sebenarnya Karen lah yang menyeretrmu ke dalam


semua ini”, ujar Arion. “Aku tahu aku seharusnya tidak mengatakan ini, tapi


kenyataanya jika bukan demi Karen kau tidak akan ada dalam situasimu sekarang”


“Kau benar-benar tidak seharusnya mengatakanya”, desisku


geram. Bisa-bisanya Arion berkata begitu.


“”Maaf”, gumamnya menyesali kata-katanya sendiri. “Aku


tidak terlalu mengerti bagaimana hubungan bersaudara


karena aku tidak punya. Tapi bukankah normal untuk merasa terganggu atau cemburu di


antara saudara?”


“Apa kau mau bilang aku mungkin membencinya atas apa yang


terjadi?”


Arion tampak ragu, tapi dia mengangguk.


Ah, Arion selalu seperti ini. Begitu jujur dan hangat.


Tidak sulit mengatakan isi hatiku yang sebenarnya, jika itu pada Arion. “Aku


tidak membencinya”,ujarku. “Memang benar ada saat-saat di mana aku merasa kesal


dengan memilikinya sebagai saudara. Aku juga cemburu pada banyak hal


tentangnya. Aku akui itu. Tapi sekarang kami hanya memiliki satu sama lain. Aku


tidak mau menyia-nyiakan waktuku untuk perasaan kekanak-kanakan seperti dulu


lagi. Lagipula aku tidak punya banyak waktu”


Arion tampak menatapku lama. Awalnya kupikir dia hanya


menyelidik apa aku berbohong. Tapi matanya mengatakan kalau dia marah. “Pernahkah


kau berpikir bahwa setiap kali kau mengatakan hal semacam itu, kau menyakiti


teman-temanmu? Kau baru saja membuat hatiku sakit, Key”


“Apa yang kukatakan?” Aku tidak mengerti. Apa yang


membuatnya marah?


“Kau selalu begitu, Key. Berkata seolah kau akan segera


mati, seolah kau hanya menunggu waktu, seolah kami akan membiarkannya terjadi!”


Ah..Mengenai itu ya, batinku. Aku tidak mengatakan hal yang


salah. Memang seperti itu. Aku hanya bertahan menunggu waktu untuk balas dendam


dan untuk kematianku. Itu pun kalau aku masih bisa bertahan.


“Demi Tuhan, Key! Aku tidak akan membiarkanmu mati!”


Arion mengatakannya dengan tegas. Mata hijau emeraldnya tampak bersinar oleh


tekad.


Aku tersenyum kecil. Arion memang berbeda. Dia akan


selalu seperti ini. Seolah dia punya kesempatan untuk mengubah takdir.  Saat aku berubah menjadi mad vampire, tak ada


yang bisa dilakukan selain membunuhku. Tapi, mendengar apa yang Arion katakan


masih membuat hatiku merasa hangat. Dia benar-benar teman yang baik. Sayang


sekali bahwa aku baru bertemu dengannya setelah aku bukan lagi manusia.


Terkadang aku tidak bisa berhenti berpikir betapa menyenangkanya jika saja kami


berdua adalah manusia.


***