The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 20 Selamat Tinggal, Cinta



"Wah, kau memotong rambutmu? Terlihat cantik",


ujar Arion begitu ia melihatku.


Aku mengangkat wajah dari buku yang kubaca. Seperti biasa


aku tengah menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan. Aku tersenyum melihat Arion


yang sudah menarik kursi dan duduk di sebelahku.


"Kau kelihatan ceria hari ini, bahkan mengikat


rambutmu. Apa terjadi sesuatu?"


"Aku bertemu dengan orang tuaku kemarin lusa", ujarku.


"B-bertemu??"


Aku tertawa melihat ekspresi kaget Arion. Wajahnya menyiratkan


dia sedang membayangkan aku menemui hantu atau semacamnya. "Seorang


penyihir membantuku untuk berkomunikasi dengan roh mereka"


Arion magut-magut, otot-otot wajahnya mulai rileks.


"Mereka sama sekali tidak keberatan dengan kenyataan


aku yang menjadi vampire"


"Mereka pasti bilang bangga padamu. Benar, kan?"


Aku mengangguk. "Bagaimana..?"


Arion menghela napas panjang. "Kau saja yang keras


kepala selama ini. Semua orang juga bilang kau ini luar biasa, Key. Karen,


Shane, Shine, aku dan Zero. Hanya kau saja yang keras kepala dan terus


menyalahkan dirimu"


Ya, Arion benar.


"Kau sudah melakukan yang terbaik darimu, hal yang


bahkan tidak bisa dibayangkan siapapun. Tidak ada alasan untuk menghukum diri


sendiri"


Aku mengangguk membenarkan.


"Tapi ngomong-ngomong, apa tidak apa-apa kau


mengikat rambutmu ke atas begitu? Apa tidak ada yang keberatan?"


Aku mengangkat kedua pundakku. "Tidak. Jika maksudmu


Zero, well, dia bahkan tidak berkomentar apa-apa. Dan kalaupun iya, aku tidak


akan menurutinya juga"


"Dia punya alasan.."


"Jangan membelanya, Arion. Dia memang selalu begitu,


melakukan apapun yang disukai"


Arion tertawa kecil. "Memang benar. Tapi dia tetap


punya alasan"


Benar juga. Belakangan aku hampir lupa kalau Zero memang agak psikopat. Setelah kami


menyaksikkan matahari terbit dalam keheningan yang damai dan menenangkan ia


kembali memicu darahku mendidih.


"A-apa??!", tanyaku. Seolah tidak bisa mempercayai pendengaranku sendiri.


"Gunakan aku sebagai alasan untuk bertahan hidup", ujarnya datar. "Karena itu


perintahku"


Wajahku memerah. Kehabisan kata-kata. Apa yang psikopat ini bicarakan? Memangnya dia


pikir dirinya itu siapa?!


Bicara soal Zero, belakangan ini dia terlihat benar-benar


sibuk. Dia sering membolos sekolah, bahkan tidak pulang berhari-hari. Kalaupun dia


pulang, dia hanya menghabiskan waktu untuk tidur. Zero juga tidak pernah makan.


Kami nyaris tidak pernah bicara padanya. Terakhir kali adalah saat kembali dari


tempat Cornellius, sekitar tiga minggu yang lalu. Tapi hari ini dia berangkat


sekolah, aku melihatnya di kelas. Dia terlihat kelelahan. Begitu bel istirahat


berbunyi Zero berjalan keluar kelas, menuju ke arah belakang sekolah. Tanpa


sadar aku sudah mengikutinya hingga dia menghilang di balik pepohonan di kebun


belakang. Aku tidak mengerti kenapa aku mengikutinya. Aku berdiri di belakang


bangunan gedung yang letaknya paling belakang di Humphire. Beberapa saat


kemudian aku kembali mengikuti keinginan tidak masuk akal untuk mencari tahu ke


mana Zero pergi.


Tidak perlu waktu lama untukku menemukannya. Aku bisa


mengenali aroma minty Zero dari jauh. Dia berbaring di bawah sebuah pohon


rindang, menutupi matanya dengan sebelah lengannya. Dua kancing bajunya


terlepas, memperlihatkan dadanya yang berkeringat. Aku tidak tahu kalau vampire


juga bisa kelelahan seperti ini. Aku duduk di sampingnya, memperhatikan helai-helai


rambut pirangnya yang jatuh menutupi kening hingga ke matanya. Tampaknya Zero


juga tidak pernah memikirkan potong rambut. Ah, benar dia mungkin juga tidak


dalam kondisi hati yang senang. Dia pergi dari rumahnya karena melakukan


sesuatu yang buruk. Entah apa yang terjadi, tapi mungkin dia sama kacaunya


denganku selama ini. Angin bertiup pelan membawa beberapa daun kuning jatuh


bersamanya. Hidungku tiba-tiba mencium aroma lain dari Zero. Sesuatu yang tidak


kusadari sebelumnya. Aroma Zero biasanya seperti mint, sejuk seperti embun pagi


di rerumputan, dan bau darah beruang yang tidak enak. Tapi kali ini aku mencium


sesuatu yang sama sekali berbeda. Tanpa sadar, aku membungkuk mendekat ke


wajahnya. Menyadari asal aroma itu tepat ketika kelopak mata Zero terbuka. Aku


mundur seketika.


"Apa kau mau menyerang orang tidur? Benar-benar


tidak etis..."


"A-ku tidak berniat.."


Zero menurunkan tangan yang menutupi matanya, menatapku


curiga. "Kau baru mengendusku?"


"B-bukan begitu. Aku cuma melihatmu, eh... tidur"


Kedua mata biru Zero masih terpaku menatapku penuh


selidik. Tatapannya beralih dari mataku beberapa lama kemudian, menuruni


wajahku dan kurasa berhenti di leherku. Kenapa dia memandang leherku seperti itu?


"Kau harusnya tidak mengikat rambutmu dan


memperlihatkan leher itu ke vampire manapun"


"Dan kau tidak seharusnya melarangku.."


"Dan kau tidak bisa mendekati sembarang vampire pria


yang kelelahan seperti ini" Zero memotong perkataanku, kali ini menggunakan


nada yang lebih serius. Ia juga sudah duduk menghadapku.


"A-apa...kenapa..?"


Tanpa peringatan Zero meraih kedua pergelangan tanganku


dan mendorongku jatuh berbaring di atas tanah. Tubuhnya berada di atas tubuhku.


Ia membungkuk mendekat untuk berbisik di teligaku. "Karena dia bisa


melakukan ini" Wajah Zero begitu dekat dengan wajahku. Napasnya berhembus


di kulitku, menyebarkan sensasi sengatan aneh ke sekujur tubuhku. Aku mencoba


bergerak, tapi lengannya mencengkeramku semakin erat. Aku merasakan napas Zero


menimpa leherku. Kemudian sesuatu yang hangat dan agak basah mengecup leherku.


Dan tanpa peringatan dua taring tajam merobek kulitku.


"Ah.." Aku meringis merasakan darahku tersedot. "Zero..."


Zero berhenti beberapa tegukan kemudian. Dia tidak berniat


meminum habis darahku. Tapi dia tidak beranjak dari leherku. Lalu aku merasakan


sesuatu yang dingin memasuki aorta di leherku. Sesuatu yang merupakan asal


aroma menggiurkan tadi. Darah Zero! Tubuhku mendadak kehilangan kekuatan untuk


bergerak tanpa alasan. Aku tidak mampu berkata-kata. Seluruh akal sehatku


tergantikan dengan aroma darah Zero.


Zero menutup lukaku dengan ludahnya. Ia lantas mengangkat


wajahnya, menatap ke dalam kedua mataku. "Sekarang kau akan baik-baik


saja. Dan ini saatnya aku pergi. Untuk sekarang tidurlah", gumamnya pelan.


Aku tida tahu apa yang dilakukannya tapi kesadaranku menghilang digantikan


kegelapan yang tenang.


***


Aku mendengar suara. Beberapa orang kedengarannya sedang


berdebat. Ah, tidak mereka cukup banyak. Aku membuka kelopak mataku, mengerjap


menatap sekeliling. Aku ada di sebuah kamar alih-alih kebun belakang. Aku


menyibakkan rambutku, mulai mengingat. Benar, tadi Zero membuatku tertidur. Aku


beranjak dari ranjang, membuka pintu, membuat suara-suara yang tadi kudengar


semakin jelas. Aku bersandar di pagar, melihat ke lantai bawah. Hampir separuh


murid vampire di Humphire ada di ruangan luas di lantai bawah.


"Kami tidak percaya ucapanmu sebelumnya", kata


Raymond.


"Arion, kau bisa mengelak, tapi naluri vampire kami


tahu apa yang kami cium..."


"Aku mengatakan yang kuketahui", ujar Arion.


"Jawab satu pertanyaan ini, apakah yang tadi siang


itu darah Leith?"


Arion menghela napas panjang, mengangguk. "Aku tidak


akan mengatakan lebih dari ini. Jadi berhenti merengek dan pulanglah"


"Arion! Kau kira kami tidak tahu apa yang terjadi.


Kami ingin membantunya kembali ke posisinya. Dan kau adalah teman terdekatnya


pangeran.."


"Cukup! Aku bilang cukup" Arion sedikit


berteriak. Terlihat jelas kekesalan yang mulai memenuhi matanya. Dia terlihat


marah dan tidak sabar, tidak seperti biasanya. Arion berbalik menuju tangga.


Aku beringsut masuk kembali ke kamar dari mana aku keluar tadi. Berdiri


bersandar dinding di samping pintu. Arion melangkah masuk, kedua matanya


membesar melihat ranjang yang kosong, lalu menoleh ke arahku.


"Sejak kapan..?"


Aku terdiam. Tidak percaya dengan kesadaran yang baru


menamparku.


"Key..", panggil Arion ragu. Nampaknya ia bisa


membaca wajahku dengan sangat baik.


"Kenapa kau berbohong?", tanyaku. "Ah,


tentu saja aku tahu kenapa. Aku.."


"Dengar, aku bisa menjelaskan.."


"Jangan menjelaskan apapun padaku, Arion. Katakan


saja, di mana dia sekarang?"


Arion menatapku, matanya dipenuhi rasa bersalah dan


takut. Dia menggeleng. Tanpa menunggu sepatah kata lagi, aku berlari ke arah


jendela. Membukanya lebar-lebar dan melompat ke bawah. Kakiku mendarat dengan


baik di atas rumput. Aku berlari ke jalan raya, memanggil taksi. Aku harus


menemuinya. Hanya itu yang ada di pikiranku. Begitu sampai di rumah, aku


menghambur masuk dan berlari  menaiki


tangga. Membuka pintu kamar pertama di sebelah kiri. Tidak ada siapapun di


sana. Aku membuka setiap pintu lemari dan jendela. Tidak ada. Dia tidak ada di


sini. Baju dna sebagainya masih di tempatnya. Tapi dia sudah pergi. Laptop yang


selalu dipakainya dan sebuah buku harian di bawah kasurnya menghilang.


Arion menghambur masuk beberapa saat kemudiadn. Ia tampak


sama bingungnya denganku.


“Di mana dia?! Katakan, di mana dia, Arion?!” Entah


mengapa dua bulir air mata menggelinding dari sudut mataku. Aku cepat-cepoat


menyekanya.


“Aku juga tidak tahu”, ujar Arion pelan. Suaranya


terdengar lemas. Dia tidak berbohong.


Aku menjatuhkan diri duduk di atas ranjang, menarik napas


dalam-dalam dan menghelanya. Masih tidak percaya dengan kebenaran yang menampar


kesadaranku. Kami terdiam beberapa lama, sibuk dengan pikiran masing-masing.


“Kau tidak mengelaknya..”


“Karena aku tahu percuma. Dan untuk alasan tertentu kau


berhak tahu...” Arion mendesah panjang.Terdiam sebentar. “Apa yang dia lakukan


padamu?”


Aku memegangi leherku dengan satu tangan. Meraba bagian


yang tadi digigit. “Aku juga tidak tahu”


“Aku sama sekali tidak mengerti. Padahal aku pikir aku teman


terdekatnya. Apa yang sebenarnya dia lakukan?”


Aku mendongak menatap Arion. Kekecewaan dan rasa kesal


tergambar jelas di wajahnya. Kini aku mengerti semua itu utnuk dirinya sendiri,


kekecewaan dan kekesalannya. “Justru karena itu dia tidak melibatkanmu. Karena


kau teman terdekatnya, Arion”


“Kenapa-..?”


“Ingat bagaimana tadi semua orang menghampirimu dan


menghujanimu dengan pertanyaan? Kau menjadi sasaran semua orang karena kau


teman terdekatnya, dan lebih baik tidak terlibat”


Arion menghela napas panjang, bergumam pelan, “Begitu..”


Aku benar-benar tidak habis pikir. Aku menyelipkan jemari


di antara rambutku. Kepalaku terasa berat. Shane dan Shine merangsek masuk ke


kamar Zero. Mungkin mereka menyadari keributan yang terjadi. Mereka menanyakan


hal yang sama dengan yang semua murid vampire tanyakan pada Arion. “Apa yang


terjadi siang tadi? Bau darah siapa itu? benarkah Leith adalah the lost


prince?” Arion hanya menggeleng lemah kali ini, alih-alih berbohong mengiyakan


bahwa darah itu milik Leith.


Darah yang tercium oleh seluruh vampire di Humphire siang


ini adalah darah milik pureblood yang benar-benar kuat, yang tidak lain adalah


the lost pince. Vampire manapun pasti bisa mengenali darah sekuat itu tanpa


diperdebatkan lagi. Dan semua orang memakan umpan pengalih yang diaturnya,


Leith. Darah itu adalah milik Zero. Aku adalah satu-satunya orang yang


mengetahuinya. Selain Arion, tentu saja. Karena Zero meneteskan darahnya dan


memasukannya ke dalam tubuhku.


Apa yang Zero lakukan? Apa yang sebenarnya terjadi?Apa yang selama ini terjadi pada


Zero? Dia yang lari dari rumah karena melakukan kesalahan adalah the lost


prince? Jika dia benar adalah pangeran vampire yang menghilang itu maka


kesalahan yang dilakukannya adalah....Napasku tertahan. Sesuatu yang tajam baru mengiris-iris


ulu hatiku. Dia tidak mungkin


melakukannya. Zero bukan orang yang bisa melakukan hal itu. Zero  tidak mungkin memakan jantung tunanganya


sendiri!


Shane berdiri di depanku, meraih kedua bahuku. “Apa kau


baik-baik saja? Ada apa?”


Aku menggeleng. Karen juga ikut bergabung, dia duduk di


sebelahku. Diam seribu bahasa. Aku juga tidak merasa ingin bicara dengannya.


Karen kemungkinan besar sudah meilhat semua ini. Dan dia lagi-lagi memilih


diam. Tidak bahkan mungkin sejak awal, Karen sudah mengetahui siapa Zero itu.


Karena itu dia begitu mempercayainya.


Dadaku benar-benar sakit. Aku mulai susah bernapas. Jemari


tanganku gemetaran. Sebuah ingatan melintas di dalam kepalaku. Perbincangan


Arion dan Zero malam itu saat Efterpi datang, Zero membenarkan apa yang dilihat


Arion. Mungkinkah??


“Arion...benarkah dia...melakukannya?”


Arion menatapku, tampak merasa menyesal ketika ia


mengangguk pelan.


“Apa yang kalian bicarakan? Apa yang terjadi?”, tanay


Shine tidak mengerti.


Arion tidak menjawab, mungkin bibirnya sama kelunya


tadi. Itu darah kak Zero. Dialah the lost prince”


Shane dan Shine menahan napas bersamaan. Benar-benar


tidak mempercayai apa yang mereka dengar. Mata mereka dipenuhi ratusan perasaan


yang berkecamuk.


“Vermillion!”, guamku mengingat satu kata aneh dari perbincangan


arion dan Zero tempo hari. “Apa itu? kau berhenti bertanya begitu Efterpi


menyebutkan ricin”


Mata Arion membesar. “Kau mendengarnya? Tapi


bagaimana..?”


“Apa itu vermillion?”


“Itu adalah sebuah racun yang menyebabkan kematian sel


dalam tubuh. Mereka menemukanya di kamar Aileen dan juga di tubuhnya”, kata


Arion menjelaskan. “Putri Aileen kemungkinan sudah sekarat ketika...” Dia


berhenti. Kata-kata itu tak mampu kelaur dari mulutnya.


Aku mengerti. Arion menyaksikkan kejadian mengerikan itu


dengan mata kepalanya sendiri. Teman baiknya memakan jantung seorang pureblood.


Aku mendengar bahwa itu adalah dosa besar bagi vampire.


“Jadi, apa yang dilakukanya? Kenapa dia membuat darahnya keluar


jika dia sudah menyembunyikan dirinya selama ini?”, tanya Shine.


Shane terengah, kembali menatapku. “Apa dia melakukan


sesuatu padamu?!”


Aku menunduk menghindari tatapan Shane. “Tidak ada”


“Dia pasti melakukan sesutau! Dia selalu begitu. Katakan


saja pa-..”


“Aku bilang tidak ada, Shane. Dia tidak melakukan


apapun!” Aku tidak berniat membentaknya, tapi keluar seperti sebuah bentakan.


Enatahlah. Aku tidak peduli. Zero memang melakukan sesuatu. Tapi dia tidak


pernah menyakitiku. Tapi mengetahui kebenaran ini benar-benar membuat seluruh


badanku gemetaran. Aku mulai terisak. Dadaku benar-benar sakit seolah sebilah


pedang merobeknya dari dalam. “Aku ingin sendirian”


Arion mengajak Shine dan Shane untuk keluar. Shane


menolak meninggalkanku sendirian dan dia baru mau pergi setelah Karen meyakinkanya. Kurasa Arion lebih memahami perasaanku daripada


siapapun. Dia mungkin merasakan hal yang sama dulu, ketika dia menyaksikkan apa


yang terjadi dengan matanya sendiri. Aku benar-benar tidak bisa mempercayai apa


yang terjadi begitu saja. Semua kebenaran ini terasa tidak nyata. Tidak, lebih


tepatnya meskipun aku tahu betul semua ini benar hatiku tidak mau menerimanya.


Aku menjatuhkan diri ke kasur Zero. Tidak mengerti kenapa


aku merasa seperti ini. Aku sama sekali tidak tertarik dengan semua hal


mengenai pangeran vampire itu. Bahkan ketika menanyai Leith dan mendapati


reaksi anehnya. Leith sengaja membuat dirinya menjadi lost prince. Jika dia


benar-benar pangeran itu setidaknya dia akan berkata 'tidak bukan aku' berusaha


menutupinya. Jika dia bukan dia juga seharusnya berkata 'bukan aku'. Tapi dia


memilih diam seolah mengiyakan. Sejak awal dia sengaja menjadi pengalih


perhatian. Tidak. Mungkin Zero yang menyuruhnya. Kalau diingat-ingat, Leith


masuk ke Humphire di hari yang sama denganku. Dipikirkan berapa kali pun sama


sekali tidak ada alasan bagi pureblood yang ingin menyembunyikan dirinya untuk


datang ke sebuah sekolah yang separuhnya adalah vampire. Tindakan itu benar-benar


konyol. Sekarang menjadi masuk akal. Tentu saja, sebelumnya Zero juga menolak


datang ke Humphire karena itu beresiko. Dia hanya datang setelah ada pengalih


perhatian. Dan alasanya adalah aku. Dia ke Humphire untuk mengawasiku. Kenapa?


"Aah...!!" Aku mulai meraung dan menangis lebih


keras. Aku sendiri tidak tahu mengapa hatiku benar-benar sakit.


Kenapa aku merasa hancur? Aku tidak peduli tentang


pangeran vampire atau apapun itu. Aku hanya tidak percaya Zero lah orangnya.


Tapi kenapa sampai sesakit ini? Zero bukan siapa-siapa untukku. Kenapa aku


harus peduli tentang siapa dia dan apa yang terjadi padanya? Kenapa aku merasa


sakit karenanya? Zero selama ini melindungi dan menjagaku, dan aku terus


menerus membencinya yang selalu ikut campur dan mengaturku. Dia rupanya mengalami


hal yang lebih berat dariku. Dia juga kesakitan selama ini. Tapi dia masih saja


mengurusiku.


 Tapi...bukankah


aku membencinya? Jadi kenapa aku merasa sakit? Kenapa aroma tubuhnya dan


senyumnya yang jarang terlihat itu terus memenuhi kepalaku? Mungkinkah  aku salah. Aku tidak membencinya. Ah, itu


tidak menjelaskan jantungku yang berdebar saat di dekatnya belakangan ini. Dan


juga, bau darahnya itu. Tubuhku membeku ketika perasaan aneh muncul begitu bau


darahnya mencapai hidungku. Aku mengiginkannya! Lebih dari apapun, aku


mengiginkannya! Aku memgendus sisa aroma Zero yang tertinggal di sprei dan


selimutnya. Benar. Aku mengiginkannya. Aroma ini adalah candu bagiku. Aku harus


mencarinya!


Tangisku mereda. Aku bergegas menuju pintu, menyeka sisa


air mata di wajahku. Berlarian menuruni tangga ke ruang tamu, tempat semua


orang berkumpul.


"Key, ada apa?", tanya Shane yang terkejut


melihatku.


"Aku harus mengejarnya"


"Apa?! Apa kau sudah gila? Untuk apa mengejarnya?"


"Ada yang harus kukatakan padanya"


"Itu tidak penting sekarang, Key. Dia sudah


menyembunyikan dirinya menggunakan kami sebagai tameng. Dan jika dia benar-benar


pangeran itu maka dia sangat berbahaya. Dia bahkan memakan jantung pureblood


lain!" Shane menaikkan nada suaranya.


"Dia tidak akan menyakitiku"


"Kita tidak tahu itu. Kita tidak bisa


mempercayainya!"


"Aku tahu. Aku mempercayainya"


"Apa kau sudah gila? Kau tidak boleh


mengejar-.."


"Shane..", Shine memotong kata-kata Shane,


mungkin dia menyadari perasaanku.


"Aku minta maaf, Shane. Tapi aku akan pergi. Aku


harus memastikan sesuatu”


"A-apa katamu? Apa maksudnya? Kau tidak.."


Aku menyeka air mata yang nyaris menggelinding keluar.


"Aku menyukainya, Shane. Aku tidak tahu sejak kapan dan aku bahkan mungkin


tidak ingin mengakuinya. Tapi aku menginginkan darahnya lebih dari apapun, aku


mencintainya"


Shane berdiri dari kursinya, berjalan ke arahku. Dia


meraih kedua bahuku dan meremasnya. "Kau salah, Key. Kau hanya terbawa


suasana. Semua vampire di Humphire juga menginginkan darah yang tadi mereka


cium. Itu normal, karena naluri vampire membuatmu menginginkannya. Dan itu


bukan berarti kau menyukainya.."


"Tidak, Shane. Ini berbeda. Aku tahu apa yang


kurasakan. Ini bukan hanya karena darahnya atau naluri vampire. Aku..."


Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya, tapi lebih baik bagi Shane untuk


mengetahui apa yang kurasakan. Dengan begitu dia bisa menghapus perasaannya


padaku. "Siang tadi, dia memang melakukan sesuatu... Dan, eh... saat


wajahnya mendekat dan aku bisa merasakan napasnya, seluruh tubuhku terasa disengat,


dan aku pikir dia mau menciumku. Pikiranku benar-benar blank dan aku tidak bisa


bergerak. Aku kehilangan kekuatan ketika taringnya tenggelam ke dalam


kulitku..."


Shane menghela napas, tampak tidak percaya pada


pendengarannya. "Dia benar-benar kelewatan. Kau hanya merasa gugup


dan.."


"Bukan itu! Kau tidak akan mengerti karena kau bukan


vampire. Aku...aku menyukainya. Napasnya, aroma tubuhnya, dan taringnya... Aku


merasa sangat sakit mengetahui semua ini karena aku menyukainya"


Kedua tangan Shane yang tadi menggenggam bahuku


kehilangan kekuatan, jatuh lunglai  menggantung di bawah bahunya. Dia menatap ke dalam kedua mataku penuh


selidik. Mencoba mencari secercah kebohongan yang tidak ditemukannya. Aku tidak


berbohong. Aku sendiri tidak ingin mengakuinya, tapi aku menyukainya.


"Kau tidak boleh", ujar Shane. "Dia


berbahaya. Bahkan jika kau menyukainya. Dia bisa saja melakukan hal mengerikan


lain atau membuatmu terluka.."


"Aku tidak peduli. Apapun yang dia lakukan dan apa


yang bisa dia lakukan. Aku menyukainya. Maafkan aku"


"Dia bisa menyebabkanmu terbunuh!", seru Shane


yang mulai marah.


Shane merapatkan giginya, benar-benar kesal dan marah.


Dia menatapku dengan tatapan yang tak dapat kuterjemahkan. Lama dan tajam,


kemudian Shane berbalik pergi. Membanting pintu di belakang punggungnya. Shine


memilih diam alih-alih memanggilnya. Arion masih duduk di sofa, tidak


bergeming, menatap meja kosong dengan mata penuh emosi yang berkecamuk.


Aku beralih menatap Karen. "Kau bisa melihatnya,


kan? Di mana dia akan muncul?"


Karen mengangguk. Aku mendengarnya menelan ludah sebelum


bicara. "Sudah beberapa lama aku mendapat  penglihatan ini. Dan sangat jelas Karen menatapku dalam-dalam.


"Kakak mengejarnya dan terluka.."


"Apa?", tanya Arion dan Shine nyaris bersamaan.


"Kakak akan terluka parah....sebuah pedang menembus


perut...dan darah...banyak darah..."


"Cukup, Karen"


"Tapi ka-.."


"Aku ini vampire, ingat? Aku tidak akan mati semudah


itu. Jadi tidak apa-apa"


"Tapi Key, kau bisa terluka parah ..", ujar


Arion berusaha menahan niatku. Sia-sia.


"Katakan di mana tempatnya"


"Aku tidak ingin kakak terluka"


"Aku harus mengejarnya, Karen”


Karen menghela napas panjang. "Aku tahu kau akan


berkata begitu. Kakak selalu keras kepala.." Karen menghapus air mata yang


mulai mengalir dari ujung matanya. "Di sebuah pesta masquerade..."


"Masquerade?", ulang Arion. "Besok malam


memang ada pesta masquerade di alun-alun Lucania. Semua vampire menghadirinya,


bahkan keluarga kerajaan.."


"Begitu... Arion.."


Arion tersenyum ke arahku. "Tidak perlu kau minta.


Aku akan ke sana bersamamu"


"Terimakasih"


"Aku ikut", ujar Karen.


"Apa? Karen, tempat itu dipenuhi vampire.."


"Shine bisa menemaniku. Organisasi hunter juga butuh


informasi kembalinya pangeran vampire, kan?"


Shine mengangguk. "Jika tidak pun aku tetap akan


menemanimu" Sebuah senyum mengembang di wajahnya. Sebelumnya aku tidak


menyadari arti senyuman macam itu. Tapi itu adalah senyum terbaik yang hanya


diberikan pada orang yang dicintai.


Kilasan ingatan muncul di dalam kepalaku, Zero juga


tersenyum seperti itu waktu dia membawaku keluar dari sungai. Zero bodoh! Dan


ada satu orang bodoh lagi yang memberikan senyum semacam itu padaku. Orang


bodoh yang sekarang memacu mobilnya ke jalan masuk kota vampire, Lucania. Aku


meremas jemariku sendiri. Berdoa dalam hati semoga dugaanku salah. Malangnya,


dugaanku benar. Kami menyewa dua buah kamar hotel begitu sampai di Lucania.


Karen dan Shine diijinkan masuk karena datang bersama Arion, yang memiliki ijin


khusus dari ratu kerajaan vampire. Arion mengajakku bertemu di atap hotel


sehabis makan siang. Ada sebuah taman buatan dengan rumput palsu di atap,


beberapa meja dan bangku kecil dengan payung besar menancap di tengah meja. Aku


menunggu Arion dengan perasaan bercampur aduk. Arion duduk di kursi, berhadapan


denganku. Senyum hangatnya masih setia mengembang di wajahnya.


"Aku tahu mungkin saat ini benar-benar terlambat


untuk mengatakannya, tapi..."


"Jangan. Kumohon, jangan mengatakannya",


gumamku pelan memotong kata-kata Arion. "Aku tahu aku egois, tapi aku


tidak ingin kehilanganmu. Kau sahabatku, Arion. Aku belum pernah memiliki teman


sepertimu, jadi..."


"Dasar. Aku akan selalu menjadi temanmu, kenapa kau


harus kehilangan"


"Tapi.."


"Aku harus mengatakannya. Walaupun hanya sekali,


walaupun aku tahu bagaimana perasaanmu. Tapi aku hanya ingin


mengatakannya" Arion menatap kedua mataku dalam-dalam, membuat sesuatu di


dalam hatiku mencelos. "Aku menyukaimu. Aku akui, aku sudah tahu dari awal


dia menyukaimu dan aku mendekatimu karena ingin tahu orang seperti apa kau. Dan


entah sejak kapan rasa penasaran itu berubah menjadi suka dan tumbuh menjadi


cinta. Aku tahu tidak seharusnya aku mencintai gadis yang dicintai sahabatku.


Tapi hatiku tidak berubah seperti yang kuinginkan. Dan meskipun dia sahabatku,


aku pikir aku masih akan mencoba mendapatkanmu. Namun kemudian aku sadar, kau


juga menyukainya, meskipun kau sendiri tidak sadar. Jadi aku memutuskan


memendam perasaanku ini. Tapi sepertinya aku tidak kuat lagi, aku harus


mengatakannya padamu bahwa aku mencintaimu"


Sebuah aliran aneh di dalam syaraf ku membuat sekujur


tubuhku bergetar selama sepersekian detik. Arion baru menyatakan cintanya


padaku. Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Dia sudah mengetahui yang


kurasakan. "Arion.."


Arion tertawa pelan. "Haha. Tidak perlu tegang


begitu, kan. Aku tidak apa"


"Maaf.."


"Kenapa kau meminta maaf? Aku tidak.."


"Kau benar-benar orang yang baik, Arion. Maaf karena


aku tidak bisa membalas cintamu. Dan terimakasih untuk semuanya. Kau selalu ada


untukku dan membuatku merasa masih ada harapan. Kau teman yang sangat baik dan


pria yang luar biasa. Tapi aku hanya menyukaimu sebatas teman. Aku benar-benar


minta maaf.."


Mata Arion terlihat basah, dia menyeka ujung matanya


sebelum air mata menetes keluar. Tersenyum hangat seperti biasa.


"Terimakasih sudah mengatakannya. Jadi, kita masih teman, kan?"


Kedua mataku membesar. "Tentu saja" Kali ini aku


yang menangis.