The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 8 Prasangka (part 1)



Mataku merah. Kantung mata hitam menggantung bertingkat-tingkat di bawah kedua mataku. Lagi-lagi aku terjaga semalaman. Meskipun aku sudah menenggak 3 butir obat tidur yang kubeli dari apotek beberapa hari lalu. Atau mungkin saja obat manusia tidak bekerja lagi padaku. Sebenarnya aku sempat tertidur sebentar, mungkin beberapa menit. Tapi mimpi burukku lagi-lagi membangunkanku. Ingatan tentang malam itu saat vanBlood memojokkan kami di dalam gua masih begitu jelas di benakku. Setiap menit setiap detiknya tak dapat kulupakan. Bahkan tubuhku


masih mengingat rasa sakit saat tangan vanBlood melubangi perutku.


Aku mandi dan keramas dengan air dingin, berharap bisa mendinginkan kepalaku. Beberapa saat tadi aku cukup yakin aku mendengar suara vanBlood. Dan dia tidak berkata seperti dalam ingatanku. Aku menepis pikiran itu. Ngeri membayangkan kemungkinan jika suara itu nyata dan bukan bagian dari ingatanku. Selesai berpakaian aku segera turun ke bawah, menuju ruang makan tempat semuanya berkumpul untuk sarapan. Bukan untuk makan, mengingat nafsu makanku yang belakangan semakin menghilang. Aku hanya butuh pengalih perhatian. Entah sejak kapan berada bersama Shine dan Shane  membuatku merasa lebih tenang. Aku bisa mendengar percakapan mereka saat aku menuruni tangga.


"...maksudku tentang vanBlood, apa kau yakin dia bukan pureblood yang kuat? Aku pernah mendengar rumor kalau kekuatan exhuman bergantung pada masternya..",  tanya Shine.


Langkahku melambat mendengar pertanyaan Shine. Aku bahkan tidak menyadari betapa banyaknya perubahan dalam diriku. Kemarin bisa sangat fatal, syukurlah Shine sudah pulih.


"vanBlood hanya sampah. Jika dia kuat keluarganya tidak akan dihabisi" Zero menjawab datar tanpa emosi.


"Lalu bagaimana dengan Key yang begitu kuat? Dia bahkan baru setengah vampire"


"Dia sudah kuat sejak dulu"


"Begitukah menurutmu? Jadi...apa itu juga alasan kenapa dia bisa bertahan tanpa darah sampai sekarang?"


Langkahku sempurna terhenti. Pintu ruang makan tinggal 3 meter di depanku.


"Bukan. Dia cuma terlalu keras kepala"


Aku menelan ludah. Tidak kusangka Shine yang terlihat santai dan spontan ternyata memikirkan begitu banyak hal


tentangku yang terus kehilangan sisi manusiaku. Yah, memang benar perubahanku masih penuh misteri, aku sendiri tidak tahu lagi tentang tubuhku. Tapi aku masih berharap mereka tidak menganggapku berbeda, bahwa aku bukan ancaman bagi mereka. Hah, benar juga. Aku lah yang bodoh karena berharap begitu. Aku membahayakan mereka.


Karen berdiri di depanku, wajahnya menunjukkan kalau dia juga mendengar percakapan Shine dan Zero. Karen tidak mengatakan apapun, dia bergegas masuk ke ruang makan.


"Kalian tidak bisa menyalahkannya" Kali ini Shane angkat bicara. "Dialah yang mengalami masa sulit"


"Dan akan tambah sulit jika dia hilang kendali karena terus menolak darah" Zero menimpali.


"Itu tidak akan terjadi kok", ujar Karen yang baru bergabung. "Kak Zero, aku akan terus mewaspadai  kemungkinan itu. Saat aku melihat hal buruk aku pasti akan memberitahu kakak"


Tch! Sejak kapan Zero menjadi kakaknya, batinku kesal. Sampai detik ini pun aku tidak bisa memahami kenapa Karen begitu mempercayai vampire suram yang hobi mengatur itu. Aku melanjutkan melangkah ke ruang makan. Sepertinya sudah tidak apa-apa aku masuk sekarang. Zero tidak menimpali Karen. Shane tampak kaget melihatku memasuki pintu. Karen menawarkan diri untuk memasak omelet untuk semua orang. Shine segera berdiri dari kursinya, dengan sigap membantu Karen.Aku berjalan ke lemari dapur, mengambil cangkir, membuat kopi panas.


"Ah, ngomong-ngomong kau harus mengganti papan target di belakang, Zero", ujar Shane.


Zero menatap Shine tak mengerti. Aku berhenti meneguk kopiku, merasa tahu arah pembicaraan Shine.


"Bukannya kau melempar semua pisauku ke papan itu? Aku sudah mengambil pisau-pisaunya, tapi papannya rusak"


"Aku tidak melempar pisaumu"


"Lalu siapa lagi yang melemparnya sampai berjajar rapat begitu selain kamu"


"Aku yang melemparnya", ujarku. "Maaf, nanti kuganti"


Shine dan Shane serempak melempar tatapan tak percaya padaku. Butuh beberapa detik untukku mengerti kenapa mereka begitu terkejut.


"Kakakku ahlinya melempar pisau", ujar Karen menjelaskan. Tangannya masih sibuk memotong sayuran.


"Benarkah?!", tanya Shine dan Shine nyaris serempak.


Aku mengangguk, membenarkan. "Yah..dulu ayah mengajariku"


"Itu hebat sekali", seru Shane. "Tapi bukankah jarang sekali gadis yang pandai melempar pisau?"


Aku menceritakan pada mereka bagaimanaAyah mengajariku lempar pisau, berburu, dan berkuda. Sejujurnya, aku tidak merasa kalau hal-hal yang ayah ajarkan padaku itu aneh atau tidak biasa. Perang mungkin sudah berakhir bertahun-tahun lalu. Tapi bukan berarti Negara ini sudah benar-benar aman, begitu menurut ayah. Ya, aku sependapat mengingat kerusuhan yang masih sering terjadi.


Saat Shine bertanya kenapa aku menyukai hobi-hobi Ayah yang tidak biasa itu sedangkan Karen tidak, Karen dan aku bersitatap sebentar lalu mengatakan alasannya adalah karena kami tidak kembar. Sisa percakapan pagi itu cukup menyenangkan, Shane bahkan berjanji akan mengajariku menggunakan senjata sepulang sekolah nanti. Dan beruntungnya, Zero memilih untuk tidak merusak suasana dengan komentar sinisnya.


Maka seperti yang dijanjikanya, sore itu sepulang sekolah Shane menunggu di halaman belakang rumah dengan beberapa senjata. Shine dan Karen baru saja pergi keluar untuk belanja ke kota. Seharusnya kali ini giliranku berbelanja, tapi lagi-lagi semuanya setuju dengan perkataan Zero untuk tidak mengijinkanku berada di antara kerumunan manusia. Karen pun mengajukan diri untuk menggantikanku. Kali ini aku tidak memprotes, mengingat kondisiku sendiri yang semakin kacau. Tapi mungkin berlatih dengan senjata hunter dapat membantuku mengosongkan pikiran. Seperti dulu sewaktu aku belajar bela diri dengan Ayah.


“Apa kau pernah menggunakan pistol?”, tanya Shane.


Aku menelan ludah, teringat satu-satunya waktu saat aku menggunakan pistol. “Pernah” Aku menembak vanBlood dengan pistol Ayah, dan itu tidak melukainya. “Tapi sepertinya pistol tidak mempan untuk membunuh vampire”


Ada perubahan emosi di wajah Shane untuk sesaat, tapi ia segera kembali tenang. “Memang. Tapi pistol kami berbeda. Ada racun khusus yang dimasukkan ke dalam setiap peluru hunter”


“Racun?”


Shane mengangguk. “Racun itu akan membuat pergerakan vampire melambat dan tubuhnya melemah. Saat itu akan lebih mudah untuk melawan mereka”


“Apa racun di dalam peluru tidak bisa membunuh vamprire?”


“Bisa, hanya saja butuh dosis yang besar. Tergantung kekuatan vampire itu. Jika hanya mad-vampire yang tidak dapat mengendalikan diri mereka sendiri 3 tembakan sudah cukup. Tapi lain halnya dengan mad vampire, vampire berakal sehat akan sangat sulit untuk dilawan. Bahkan nyaris tidak mungkin mengenai mereka sekali tembak” Shane menjelaskan. Tangannya meraih salah satu pistol dari tas yang sering dibawanya sewaktu bertugas. “Mau


coba menembak”


Aku mengambil pistol yang diulurkan Shane. Tiba-tiba teringat sesuatu. “Papan targetnya..”


Shane tertawa pelan. Menunjuk ke arah papan target yang kurusak kemarin. “Sudah kuganti”


“Oh.. maaf soal itu”


“Tidak masalah. Aku memesan banyak papan target untuk berjaga-jaga”


Aku mulai membidikkan pistolku ke papan target di seberang lapangan. Ayahku pernah memberitahu cara menggunakan pistol, tapi sebenarnya aku belum pernah melatihnya. Jariku menarik pelatuk dan DOORR!!, peluru melesat menggores tepi papan target.


“Gunakan tangan kirimu untuk menumpu tangan kanan sehingga tidak bergerak saat menembak”, ujar Shane sambil memberi contoh dengan pistol yang lain. DORR!! Peluru Shane mendarat mengenai target.


Aku memposisikan tanganku seperti yang dicontohkan Shane. Shane mendekat dan meraih tanganku, membetulkan caraku memegang pistol.


“Coba rilekskan tanganmu sedikit, peganganmu terlalu kuat”, katanya. “Tarik pelatuk dengan pelan tapi kuat, seperti ini” Jari Shane menggerakkan jari telunjukku untuk menarik pelatuk. DORR!!! Peluru mengenai target.


Shane tersenyum melihat hasil tembakan itu. “Coba lagi”


Aku menganguk dan menarik pelatuk, pelan. DORR!! DORR!!! DORR!!! Tembakan pertamaku mendarat tepat di tengah target. Tapi tembakan kedua dan ketiga semakin mendekati tepi target.


“Bagus!”, seru Shane. Sebuah senyum lebar mengembang di wajahnya. “Mungkin karena kau sudah biasa menembak dengan pisau, jadi kau bisa langsung mengenai target”


“Mungkin”, ujarku bohong. Tidak, ini tidak bagus. Seharusnya aku bisa mengenai target lebih baik dari ini. Tapi suara tembakan pistol ternyata lebih mengaggetkan dari yang kuduga. Tidak jga. Waktu aku menembak vanBLood, aku yakin suaranya tidak senyaring ini. Telingaku bahkan berdenging pelan. Mungkin karena aku kurang tidur. Aku melanjutkan menembak papan target. Aku harus menguasai teknik menembak ini. DORR! DORR!! DORR!! DOORRR!!!


“Itu buruk sekali”, komentar sebuah suara datar yang tak asing. Zero. Dia duduk di tepian atap, menonton kami mungkin.


“Zero, sudah kubilang jaga bicaramu”, ujar Shine sedikit mengecam. “Kami sedang berlatih di sini. Lagipula untuk pemula, hasil tembakan Key cukup bagus”


Shane menyahut. "Key tidak pernah meleset dari papan target"


"Bagaimana menurutmu?", tanya Zero, kini tatapan terpaku padaku.


Yah, aku benci mengakuinya tapi dia benar. Tembakanku semakin lama semakin jauh dari lingkaran target di pusat. "Kau benar. Suaranya sangat mengganggu"


Kedua mata Shane membesar, tidak menyangka jawabanku. “Benarkah itu?!”


Aku mengangguk, meraba telinga kananku yang terus berdenging. “Kurasa aku tidak bisa menggunakannya. Apa boleh buat", ujarku sambil mengembalikan pistol Shane. Sedikit kecewa memang karena aku cukup yakin aku bisa menguasainya. Tapi hal ini tidak berjalan baik. Aku tidak mau langsung mati begitu beehadapan dengan vampire. Aku harus berhasil menghadapi vanBlood. Aku perlu senjata lain.


"Apa kalian tidak memakai busur?", tanyaku pada Shane.


Shane menggeleng. "Tidak ada yang memakai busur. Kecepatan panahnya tidak cukup cepat untuk melawan vampire"


"Bagaimana dengan pedang?"


Shane meletakkan pistol yang dipegangnya, lalu ia mengeluarkan sebuah pedang besar dengan ujung lebar dan nyaris persegi. "Pedang ini kuat dan kokoh,  efektif untuk jarak dekat, tapi tidak begitu fleksibel. Jadi cuma dipakai saat berada dalam jarak serang dan setelah vampire itu terkena tembakan setidaknya sekali"


Aku menatap pedang itu. Benar, tidak akan mudah bergerak dengan pedang sebesar itu.


"Oi, Zero! Apa kau punya pedang lain yang bisa dipakai Key?", tanya Shane. Membuatku mau tidak mau bertanya-tanya apakah pikiranku dapat terbaca jelas dari wajahku.


Zero mengangguk. Tanpa mengatakan apapun dia melompat turun ke balkon lantai 2 lalu masuk ke kamarnya.


Sementara Shane menggerutu pelan. "Dasar! Kalau begitu kenapa tidak bilang dari tadi"


Aku mengikuti Shane yang berjalan masuk ke rumah. Kami menunggu Zero di dasar tangga lalu bersama-sama menuju koridor di bagian belakang kamae Shine dan Shane. Ada sebuah pintu di ujung lorong, sebuah tangga menanti di balik pintu itu, menjulur ke ruang bawah tanah. Lampu temaram memanjang di tepi atas dan bawah dinding otomatis menyala saat kami melangkah melewati pintu. Ruangan di dasar tangga juga memiliki lampu yang menyala secara otomatis. Tempat itu tidak seluas basement rumah pada umunya, hanya seluas ruang tamu atau sedikit lebih luas dari kamar yang kutempati. Beberapa lemari berjajar pada salah satu dinding. Di dalamnya terdapat berbagai senjata sejenis pedang. Mataku tertumpu pada sebuah busur putih di salah satu rak lemari. Tanpa pikir panjang tanganku terjulur meraihnya.


"Aahh!!" Aku berseru kaget. Api tiba-tiba tersulut entah dari mana tepat saat jariku menyentuh busur putih yang tampak usang itu. Aku segera menjatuhkannya ke lantai. Aneh, api itu terus menjalar di tangan kiriku.


"Ada apa?", tanya Shane yang bergegas berlari menghampiriku begitu melihat api. Shane dengan sigap membantuku. Dia melepas kaosnya untuk memadamkan api di tanganku.


Aku menatap ngeri sisa-sisa lidah api di tangan kiriku. Panas dan perih melanda bagian kulitku yang terbakar.


"Ta-tadi itu apa?!", tanya Shane terengah. Panik masih menyelimuti wajahnya.


Zero berdiri tak bergeming di belakang Shane. Wajahnya lebih pucat dari biasanya. Zero terlihat sama kagetnya dengan kami, atau bahkan lebih.


"Ah, kita harus mengobatinya dulu"


"Benar. Tunggu di sini", ujar Zero yang kemudian bergegas menuju tangga, naik ke atas.


Shane mengambil sebuah kursi untukku. Zero kembali tidak lama kemudian membawa sebuah baskom berisi air. Diulurkannya baskom itu padaku. Aku mengambilnya dengan tangan kanan, meletakkannya di atas pangkuanku. Lalu mencelupkan tangan kiriku yang terbakar ke dalam air. Suhu dingin air serasa menggigiti kulitku yang mengelupas dan panas. Aku meringis menahan sakit. Perlahan luka bakar di tanganku tampak menghilang. Sel-sel kulit yang mengelupas tadi seolah kembali mendapat kekuatan untuk beregenerasi dan kembali ke bentuk asalnya. Dalam beberapa menit saja, luka bakar itu sudahsempurna hilang.


"Air apa ini?" Pertanyaan itu langsung terlontar keluar.


"Air yang kuludahi", ujar Zero datar.


Ludah? Jadi ludah vampire benar-benar bisa menyembuhkan luka. Jadi waktu aku menyayat pergelangan tanganku, Zero menjilat darahku untuk menghentikan pendarahan. Aku masih sulit mempercayainya.


"Hei, Zero, apa kau menyimpan senjata berbahaya atau perangkap di sini? Kenapa busur itu mengeluarkan api?!", protes Shane. "Itu benar-benar berbahaya" Shane mencoba mengambil busur itu, mungkin berniat mencari tahu bagaimana api bisa keluar darinya. Tangan Shane bergerak pelan menyentuhnya. Tidak terjadi apa-apa. Dia lalu memegangnya. Mataku nyaris melompat keluar mengantisipasi munculnya api. Nihil.


"Lho..? Ini tidak menyala"


"Tidak bereaksi pada manusia?",ujarku menerka.


"Salah", kata Zero sambil mengambil busur itu dari tangan Shane. Tidak ada api yang tersulut walau Zero memegangnya erat-erat. "Busur ini tidak bereaksi pada siapapun, setidaknya selama 900 tahun terakhir"


"Apa maksudmu? Lalu kenapa tadi ada api yang keluar?” Shane mengajukan pertanyaan yang sama dengan yang


muncul di benakku.


Zero menggeleng. Kali ini tampaknaya dia juga tidak tahu apa-apa. Zero mencondongkan tubuhnya ke arahku, lalu meraih lengan kiriku sementara tanganya yang lain membasuhnya dengan air di baskom. Aku memperhatikannya siap dengan segudang sumpah serapah. Tapi aku urung melontarkannya demi melihat apa yang diperhatikan Zero di lengan kiriku, sebuah tanda merah.


“Zero, apa yang kau lakukan?”, tanya Shane terdengar geram.


“Luka merah ini tidak mau hilang”


“Hah?” Shane ikut mencondongkan tubuhnya, untuk melihat lebih baik. “Bagaimana bisa begitu? Luka lainnya sudah menutup kan”


Aku menarik lengan kiriku dari tangan Zero. Mendapatinya memegang tubuhku sama sekali tidak terasa nyaman. “Tidak apa-apa. Ini tidak sakit”


Zero mengambil busur putih usang yang tadi diletakannya di lantai lalu kembali berdiri tegap, tatapanya tertumpu pada busur itu. Matanya membesar dengan satu ekspresi yang belum pernah terlihat di  wajah datarnya. Suatu campuran antara terkejut, tak percaya dan terkesima.


"Jangan begitu Key. Mana bisa kita bilang 'tidak apa-apa' sementara ada bekas luka di tubuhmu"


"Bisa kau pegang lagi busur ini?", tanya Zero. Mata birunya yang biasanya hanya selebar garis masih tampak bulat besar.


"Apa yang kau katakan? Kau bercanda?!", sergah Shane geram. Sepertinya ia benar-benar kesal dengan perkataan Zero yang jelas-jelas tidak menggubris kekhawatirannya. "Tidak bisa! Busur itu berbahaya. Apa kau tidak melihatnya tadi?!!"


Zero melempar tatapannya pada Shane, tampaknya ia cukup terusik. Matanya kembali ke bentuk segaris seperti biasa. "Lukanya bisa disembuhkan"


"Hah? Lantas maksudmu kau ingin dia kembali melukai dirinya berapa kali pun kau mau karena kau bisa menyembuhkannya begitu?! Yang benar saja! Penyembuhanmu bahkan tidak sempurna!!"


Zero terlihat menelan ludah pelan, melirik tanda merah di lengan kiriku yang tadi terbakar.


Aku menarik napas, satu pertanyaan dari tadi mengusik kepalaku. "Apa kau punya dugaan kenapa busur itu hanya bereaksi padaku?"


Zero mengangguk. "Mungkin kau bisa menggunakannya"


"Dengan memakai pistol saja, masih sulit untuk mengimbangi kecepatan vampire" Shane mengomentari.


"Busur ini beda"


"Memang benar. Tapi benda itu bisa membakar tangan Key lagi. Lebih baik mencari jalan aman", ujar Shane. "Kau bilang akan membiarkannya memakai salah satu pedangmu, jadi apakah pedang kecil panjang itu boleh?"


Aku menoleh ke arah yang ditunjuk Shane. Rak ketiga di sebelah kanan rak tempat busur usang tadi berada. Sebuah pedang rapier bertubuh ramping sepanjang hampir setengah meter dengan pegangan melengkung cantik berwarna keemasan berdiri dengan angun di balik kaca. Zero berjalan ke arah rak itu, semula kupikir ia akan mengambil rapier yang dimaksud Shane. Tapi Zero melewatinya dan menuju rak di ujung kanan. Zero membukanya lalu mengeluarkan sebuah katana lurus panjang, terlihat tipis, tajam dan kuat. Aku meletakkan baskom air di lantai dan  menghampiri Zero. Berniat melihat katana itu lebih dekat, rasanya aku pernah melihatnya.


"Kenapa itu sama dengan pedangmu?", tanya Shane.


Benar juga! Pedang itu sama dengan yang bersandar di samping rak buku di kamar Zero.


"Mereka kembar"


Shane memasang tampang tak senang tapi tidak berkomentar. Mungkin dia kesal karena usulnya tidak dihargai. Sementara tanganku tanpa menunggu perintah otak sudah menjulur menerima pedang dari Zero. Ada kesenangan liar yang perlahan menjalari seluruh tubuhku saat aku membayangkan memotong-motong tubuh vanBlood dengan pedang i