The Lost Prince

The Lost Prince
Special Chapter 3 (Karen) Hunter Training



Bergabung dengan vampire hunter adalah saran dari Kak Shine.


Aku sebenarnya ragu-ragu untuk menerimanya. Tidak seperti kakakku yang kuat dan


dapat membela diri, aku hanya gadis cengeng yang tidak bisa apa-apa. Sementara


vampire hunter tetap saja setidaknya harus bisa melidungi diri sendiri dari vampire.


“Anggota baru tentu akan melalui pelatihanterlebih dahulu.


Meskipun aku bisa merekmendasikanmu ke dalam tim strategi, tetap saja kau perlu


latihan dasar. Pertarungan tidak selalu berjalan sesuai rencana”,ujar Kak


Shine.


Aku mengangguk. Seperti yang kuduga, ini tidak akan mudah


sama sekali. “Aku akan mencobanya”


“Kau serius, Karen? Pelatihanya berat, sangat berat”


“Ya. Tapi aku akan melakukanya”, ujarku mantap. “Aku juga


ingin berjuang sebisa mungkin. Jika aku bisa sedikit lebih kuat, kakak tidak


harus menanggung semuanya sendiri”


Kak Shine mengacak-acak rambut di atas keningku pelan. Ia


tersenyum kecil.”Kakakmu itu, kenapa dia keras kepala sekali?”


Aku ikut tersenyum. Mana kutahu kenapa bisa begitu. Tapi, ya


itulah kakakku. “Sudah dari sananya. Kak Shine tidak perlu terlalu


mengkhawatirkan kakakku”


Kak Shine mendesah. “Bagaimana tidak khawatir? Setelah


mengalami semua itu, dia sekarang berusaha melawan darah vampire yang mengambil


alih tubuhnya. Sudah begitu dia berniat membalas dendam apapun yang terjadi.


Benar-benar merepotkan”


“Maaf…”


“Ah, bukan seperti itu.Maksudku, dia tidak perlu melakukan


semuanya sendirian”, ujar kak Shine. “Itu tugas kami, para hunter, untuk


menghukum vanBlood. Walau butuh waktu dan berbahaya, kami tetap akan


melakukanya. Dia tidak perlu terlibat dalam semuanya. Apalagi mengingat kondisi


tubuhnya sendiri yang kewalahan”


Kak Shine benar, kakakku tidak seharusnya menanggung semua


sendiri. Tapi apapun yang kami katakana tidak akan bisa mengubah keinginan


kakak untuk membalas dendam. Aku tidak benar-benar mengerti jalan pikiran


kakak. Tapi aku akan membiarkanya melakukan apapun selama itu membuatnya tetap


memiliki semangat hidup. Walau itu berarti dia harus terlibat situasi bahaya


seperti bertarung dengan vampire pureblood. Yah, lagipula ada kak Zero.


Aku tahu betapa kakakku kesal mengenai bagaimana aku begitu


mempercayai kak Zero. Tapi, aku tidak punya pilihan. Lagipula, sejak pertama


kali melihat kak Zero, aku mendapat penglihatan tetangnya dan kakakku. Kak Zero


adalah orang yang kakakku cintai. Aku melihat lebih banyak hal tentang kak


Zero. Ia akan kembali ke suatu tempat yang tidak pernah kulihat. Ia akan


memerintah banyak vampire. Saat kak Shine menanyakan sesuatu mengenai pangeran


vampire yang hilang,aku tahu bahwa orang yang mereka bicarakan adalah kak Zero.


Dia adalah pangeran vampire. Dia orang yang sangat sangat berbahaya. Tapi


kakakku mencintai orang itu. Bahkan setelah dia mengetahui identitas kak Zero


yang sebenarnya.


Satu-satunya alasanku mempercayai kak Zero sepenuhnya,


adalah karena kakakku. Aku tidak peduli siapa kak Zero dan seberbahaya apa dia,


jika dia memang orang yang kakakku cintai, maka tidak ada alasan untuk


meragukanya. Aku pun menyembunyikan apa yang kulihat tentang kak Zero, bahkan


dari kak Shane dan Shine.


***


Meski kakak tidak memberikan persetujuan, aku tetap


mendaftarkan diriku ke markas hunter. Kak Shine menemaniku. Markas hunter


berada di bagian belakang salah satu stasiun pemadam kebakaran kota. Tidak


banyak yang mengenal hunter, pemerintah mengenali organisasi hunter sebagai


badan operasi khusus  semacam CIA.


“Jadi ini gadis yang kau ceritakan tempo hari?”, tanya


seorang pria paruh baya pada kak Shine.


Kak Shine mengangguk. “Karen Wilder”, ujarnya mengenalkanku.


“Aku komandan unit Woodlake, Connor Blake. Senang bertemu


denganmu” Mr. Blake mengulurkan tanganya.


Aku menyambutnya dan bersalaman denganya. “Senang bertemu


denganmu juga”


“Ah..ya… Saya harap dapat menggunakanya untuk membantu misi


hunter”


“Boleh aku bertanya apa alasanmu?”


“Keluargaku dibunuh oleh vampire. Bahkan dengan menggunakan


kemampuanku, aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya. Aku menginginkan


kekuatan lebih untuk berjuang, untuk mencegah hal yang sama menimpa orang lain”


Mr. Blake tersenyum. “Aku menyukai gadis kuat sepertimu.


Selamat datang di hunter”


Aku beralih menatap kak Shine.Sebuah senyum juga mengembang


di wajahnya. Membuatku tidak bisa menahan senyumku sendiri. Aku diterima! Bukan


cuma itu, Mr. Blake bilang aku adalah gadis yang kuat. Baru kali ini ada yang


memujiku begitu. Kakak, aku mendapat pujian kuat! Aku pasti akan berjuang untuk


pelatihan nanti. Sedikit demi sedikit, aku akan menjadi kuat seperti kakak


dengan caraku sendiri.


***


“Aah…..” Aku menguap panjang. Menoleh menatap jam di dindin.


Sudah jam 7. Astaga! Aku akan telat ke sekolah. Bagaimana dengan sarapan untuk


semuanya?


Aku berlari menuju dapur, mencium bau harum bawang putih


yang matang. Daging ham dan beberapa sayuran dimasukkan setelah itu. Tumis


daging, kesukaan kakakku.


“Kau terlambat bangun, Karen”, ujar kakak sambil


membalik-balik tumis di panci.


Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Meringis. “Maaf”


“Buruan mandi, semua orang sudah siap berangkat”


Aku mengangguk dan berbalik kembali ke kamar untuk mandi.


Tidak sampai sepuluh menit kemudian aku sudah keluar. Kak Shine dan yang lain


tampak sudah selesai sarapan dan siap berangkat. Kakak melambaikan tanganya


dari belakan meja dapur. Aku mendekat dan mendapati sebuah kotak bekal yang


siap dibawa. Kakak pasti menyiapkanya untukku. Kami segera berangkat dengan


mobil kak Shine. Duduk bersebelahan di kursi belakang.


“Apa pelatihanya sangat sulit?”, tanya kakak.


Aku tersenyum kecil. Tidak bisa berbohong kalau pelatihanya


mudah. Aku bukan gadis super kuat seperti kakak. Aku harus belajar bela diri


dari paling dasar. Pelatih menyuruh kami para rekrutmen baru untuk berlari,


aerobic dan sebagainya. Dan sekarang seluruh badankurasanya remuk.


“Aku hanya belum terbiasa”


“Bohong. Wajahmu bilang kalau itu sangat sulit”


“Yaa…sangat suliiiitt… Pelatih menyuruh kami berlari


berkeliling setiap hari, lalu push up sit up dan banyak lagi. Aku juga sama


sekali tidak bisa menembak mengenai papan target”, keluhku. Percuma saja


mencoba bohong pada kakak. Dia selalu bisa membaca ke dalam pikiranku dengan


baik. “Aku mungkin akan dikeluarkan jika terus seperti ini”


Kakakku tertawa kecil. Mungkin kalau dia ada di posisiku dia


tidak akan mengalami kesulitan. Kakak dari dulu sangat jago dalam berbagai hal


yang diajarkan ayah. Aku hanya bisa melihat mereka dari teras belakang.


“Tidak ada yang menyuruhmu ikut. Kau bisa keluar kapan saja,


Karen”


“Tidak mau!”, ujarku tegas. “Aku juga ingin menjadi kuat”


“Karen sudah cukup kuat. Kau tidak perlu memaksakan diri.


Pekerjaan hunter jauh lebih berbahaya dari dugaanmu”


Itu..aku juga tahu. Meskipun kak Shine dan Shane tidak


pernah mengeluhkanya. Dan meskipun mereka bisa berkata ‘kami akan melindungimu’


sambil tersenyum. Aku tahu mereka melalui banyak hal berat dan berbahaya.


Bahkan kakak juga begitu. Tidak, kakak akan terlibat dengan lebih banyak bahaya


di masa depan. Aku hanya, tidak ingin tertinggal jauh di belakang. Setidaknya


aku ingin berjuang dengan kedua tanganku sendiri. Setidaknya aku tidak mau


menjadi beban yang harus dilindungi orang lain terus menerus.


“Tidak apa. Aku masih kuat”


Kakak menatapku, menghela napas panjang. Mungkin sekarang


baru terasa kalau aku juga keras kepala sepertinya.