The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 3 Tak Ada Jalan Kembali (part 2)



“A-apa??!!”, seru Shine dan Shane serempak.


“Apa yang kau katakana? Apa kau sudah gila, Zero?”, Shine tampak kehilangan sikap tenangnya.


“Dia tidak bisa kembali kan. Jadi itulah satu-satunya cara agar orang-orang berhenti mencarinya”


Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Zero sudah mengatakan ide ini di perjalanan pulang. Tapi caranya


memberitahu yang lain menimbulkan salah sangka.


“Zero bilang dia punya kenalan anggota Guardian. Orang itu mungkin bisa diajak bekerjasama untuk membuat


laporan kematianku”, ujarku menjelaskan.


“Apa itu benar?”, tanya Shine.


Zero cuma mengangguk.


“Kau membuat kami jantungan”, ujar Shine. Sementara Shane hanya mendengus kesal.


Karen mengatakan kalau ia sebenarnya tetap tidak ingin pulang tanpaku. Tapi ia pun mengerti kalau ada orang-orang yang mencemaskanya. Saat itulah Shine mengusulkan cara agar Karen bisa tetap tinggal di sini. Karen akan masuk ke sekolah yang Shane dan Shine awasi saat ini, akademi Humphire. Dan di sanalah Karen mengajukan satu syarat lain. Yaitu agar aku juga masuk ke sekolah yang sama denganya.


“Tidak”, tolak Zero mentah-mentah. “Key tidak akan bisa berada di tengah-tengah begitu banyak manusia. Dan dia tidak cocok menjadi bagian dari vampire”


"Memang beresiko. Tapi mungkin juga itu pilihan terbaik. Kami bisa melindunginya di sana sementara mereka butuh sekolah", ujar Shine. “Dan lagi kau tidak berhak memutuskan apa yang harus Keyra lakukan, Zero. Dia tidak


bisa bersembunyi dari peradaban selamanya”


Shine mengatakan apa yang kupikirkan. Zero tidak berhak mengaturku seperti yang terus dilakukannya. Tapi sejujurnya aku juga tidak yakin dengan saranuntuk kembali sekolah ini. Aku sendiri menyadari perubahan pada diriku.


"Kenapa tidak bisa?", tanya Zero. Seolah dia tidak mengetahui jawabannya. Seolah dia berencana membuatku tetap jauh dari peradaban manusia. Seperti tetap di rumah besar di samping hutan dan berjarak 3 km dari pemukiman terdekat ini. Apa yang dipikirkannya?


"Eh...menurutku...”


“Terlalu berbahaya, Karen” Zero memotong perkataan Karen yang sudah jelas menyetujui usul itu. Entah kenapa dia benar-benar berusaha melarangku. Dan untuk alasan itu aku menyetujui usul Shine. Menyetujui hal yang Zero tentang.


"Aku setuju"


"Apa?" Zero melempar tatapan tidak percaya ke arahku.


"Aku akan datang ke sekolah itu"


"Kau gila? Masih terlalu dini untukmu berada di tempat dengan banyak manusia. Kau bisa saja menggila dan menyerang seseorang"


"Aku tidak akan melakukannya! Sudah kubilang aku tidak mau menjadi vampire!!. Dan aku akan ke sekolah" Aku tidak bisa membiarkan Zero melarangku. Ini juga mungkin satu-satunya kesempatanku untuk keluar dari rumah ini. Keluar dari pengawasan Zero.


"Zero, tenang sedikit", kata Shine. Zero membuang napas dengan kesal. Matanya masih memancarkan kemarahan, tapi dia menahan diri. "Kurasa kau harus memberinya kesempatan. Dia bukan anak kecil, dia tahu yang dilakukanya"


Zero kembali mendengus kesal lantas berdiri dari kursinya dan berbalik pergi. Menyebalkan! Dia pikir siapa dirinya hingga aku harus menuruti setiap kata-katanya. Shine dan Shane harus berangkat ke markas hunter. Shine


mengatakan padaku untuk tidak terlalu khawatir sebelum pergi. Sebenarnya aku memang tidak khawatir. Karena satu-satunya hal yang kukhawatirkan—selain Karen—adalah terjebak dengan Zero selamanya. Aku punya sesuatu yang ingin kulakukan sekarang. Dan keputusanku tepat tentang berteman dengan dua orang hunter itu. Mereka lebih baik daripada Zero yang bersikeras mengawasiku 24/7. Selain itu mereka bisa menuntunku ke vanBlood. Saat lokasinya ditemukan aku harus memastikan aku bisa ke sana bersama Shine dan Shane. Maka kemungkinan


besar aku bisa membalaskan dendamku. Entah bagaimana caranya, mungkin juga aku harus memanfaatkan mereka. Aku tidak peduli. Tapi akan kupastikan untuk membunuhnya dengan tanganku sendiri.


***


Setiap kali menutup mata, aku melihat mimpi yang sama. Tentang malam saat semua milikku dirampas. Malam


ketika mimpi buruk bangkit dan menyeretku jauh ke dalam jurang keputusasaan. Kemudian darah dalam tubuhku menjadi panas seolah mendidih. Sesuatu menggerogotiku dari dalam. Mengambil alih tubuhku sedikit demi sedikit. Dan rasa panas muncul di balik kerongkonganku. Seolah mengingatkanu bahwa aku tidak sama lagi.


Takut akan tertelan kegelapan dalam mimpiku sendiri, aku terbangun. Menoleh ke jam kecil di atas meja, jam 2.59. Di luar masih gelap. Karen masaih terlelap tidur di sampingku. Aku melangkah ke pintu, keluar menuju dapur, mengambil segelas air putih dan meneguknya. Berharap untuk meredakan panas di dalam kerongkonganku. Aku


berjalan ke teras samping, disambut angin dingin yang bertiup dari arah hutan. Langit tetutup mendung dan gerimis turun dengan lembut. Anehnya, aku bisa melihat menembus ke dalam kegelapan hutan. Jika saja tidak hujan, mungkin aku akan jalan-jalan sebentar melihat hutan itu.


Dari lantai dua terdengar suara gitar dimainan di kamar Zero. Dia masih terjaga. Aku duduk di lantai, bersandar ke dinding. Memandang gerimis yang terus menghujani bumi. Saat fajar mulai menyingsing, gerimis menghilang dan suara langkah-langkah kaki mendekat. Itu Shine dan Shane.


“Kau membuatku kaget!”, seru Shine saat melangkah keluar lewat pintu di teras samping. Tidak menyangka


melihatku duduk di sana. “Apa yang kau lakukan?”


“Aku tidak bisa tidur. Kalian sendiri?”


“Kami keluar untuk jogging pagi”, ujar Shane, sambil mengenakan sepatu olahraganya.


Kedua hunter itu kemudian berlari di tepi jalan raya. Aku tidak beranjak dari tempatku duduk. Ah,di sini sebenarnya dingin. Mendung yang tebal menutupi sinar matahari pagi. Yah, tidak seperti aku akan peduli. Aku mencemaskan ide kembali ke sekolah yang kusetujui begitu saja kemarin lusa. Maksudku, itu memang lebih bagus daripada terjebak di rumah Zero selamanya. Tapi aku tidak yakin bagaimana harus menghadapi dunia luar dengan diriku yang sekarang.


Zero sudah mulai bekerja untuk membuatku ‘mati’. Seperti yang dijanjikanya ia bekerjasama dengan seorang Guardian untuk memanipulasi laporan. Sementara hari ini Shine dan Shane akan muncul sebagai saksi mata. Mereka akan menjadi penyelamat Karen dari kejaran para *******. Karen akan menyampaikan kesaksian palsu bahwa dia terpisah denganku saat berlari di hutan. Dan aku menjadikan diriku sebagai target pengejaran sementara Karen secara kebetulan bertemu Shine dan Shane yang tengah berburu di hutan. Aku terjatuh dari sebuah tebing, dan sungai di bawahnya mengalir menuju laut. Begitulah cerita yang dibuat untuk laporan kematianku.


Karen bukan seseorang yang bisa berbohong. Dan hari ini dia harus melakukanya karenaku.


“Kakak…” Karen memanggilku dari dalam.


“Di sini”


Karen berlari ke teras samping setelah mendengarku. Ia membawa dua cangkir coklat panas yang masih mengepul. Karen berjongkok di sampngku, memberikan salah satu cangkirnya.


“Thanks”


Karen tersenyum kecil, meniup-niup coklat panasnya. “Kakak bisa demam jika duduk di luar dengan baju tipis itu.


Apa yang kakak khawatirkan?”


“Apa kau tidak khawatir?” Aku mulai meniup coklat panasku.


“Tidak. Aku tidak sendirian”, ujarnya. “Kakak juga tidak perlu khawatir. Kak Zero akan tetap di rumah”


Shine dan Shane bilang mereka akan menginap di dekat rumah pamanku selama Karen di sana. Yah, itu memang


melegakan. Tapi aku mungkin lebih memilih untuk tidak bersama Zero.


“Keyra…kau di sini dari tadi?”, tanya Shine yang baru kembali dari jogging bersama Shane.


Aku mengangguk. “Kalian juga lama joggingnya? Pasti melelahkan”


“Ini sudah biasa. Kami perlu menjaga stamina agar tidak kalah dari vampire”, ujar Shane. Ia duduk dan meluruskan kakinya di lantai teras samping.


“Mau sarapan apa? Aku akan membuatkan”, ujar Karen.


“Daging…”, sahut Shane.


Shine memukul pelan bahu Shane. “Maniak daging. Kurasa aku mau sup”


Karen tersenyum. “Baiklah. Sup dengan banyak daging!” Ia lantasa berbalik masuk ke dapur.


“Kau tidak punya saran, Keyra?”, tanya Shine.


“Apa saja boleh”, kataku pendek. “Um…kau bisa memanggilku Key. Itu terdengar lebih mudah”


Shine tersenyum lebar. “Key, baiklah. Kalau begitu aku akan mandi dan membantu Karen”


Aku kembali meneguk coklatku yang sekarang tidak lagi panas. Ini sudah cukup untuk sarapanku. Dan kalau boleh


jujur, aku tidak benar-benar merasa ingin makan. Rasa lapar mungkin juga telah menghilang dariku.


“Kau tidak membantu Karen?”, tanya Shane memecah kesunyian.


“Ah…aku tidak terlalu bisa memasak”


“Um…Shane, aku boleh tanya?”Aku sedikit ragu Shane mau menjawab apapun yang kutanyakan. Dia selalu tampak acuh tak acuh. Tapi Shane mengangguk menyetujui.


“Apakah Zero dulunya seorang manusia?”


Shane tampak tidak menyangka pertanyaanku. “Bukan. Dia lahir sebagai vampire. Kenapa kau menanyakanya?”


“Yah, sebenarnya menurutku aneh karena kalian tinggal bersama Zero”


“Jadi kau berpikir mungkin Zero juga manusia yang diubah menjadi vampire?”


Aku mengangguk.


“Kau tidak perlu terlalu khawatir tentang Zero. Shane dan aku jelas bisa menandinginya kalaupun hal terburuk


terjadi”


Aku mengangguk. Mungkin dia benar. Shane dan Shine memiliki postur tubuh yang tinggi dan maskulin. Mereka


juga terbiasa bertarung dengan vampire. Mereka berdua pasti lebih kuat dari orang normal. Mungkin ini cuma firasatku saja, Zero kelihatanya memiliki banyak hal yang disembunyikan di balik wajah datar tanpa ekspresi itu. Bukan itu saja, aku tidak bisa mendengar langkah kaki Zero. Dia bukan vampire biasa.


***


Tiga hari berlalu sejak Karen menemui keluarga paman Peter. Urusan mengenai laporan kematianku sudah diselesaikan. Pagi ini dia mengirim pesan bahwa hari ini akan diadakan pemakaman untukku. Polisi setempat mempercayai kesaksian Karen dan Shine serta Shane. Dan lagi, batas waktu  pencarian sudah lewat, mereka setuju untuk menyimpulkan kalau jasadku tidak akan bisa ditemukan. 23 September 1990, sepuluh hari setelah penyerangan ******* di kota Siverra, korban yang hilang dinyatakan telah meninggal.


Aku melihat dari sebuah gedung tinggi, 1,5 km dari rumah paman Peter, iring-iringan orang membawa peti tanpa


isi ke sebuah area pemakaman di kaki bukit. Beberapa orang menangis tersedu-sedu di sana, paman dan bibiku, Karen, dan teman masa kecilku, Sheryl. Aku menelan ludah yang terasa pahit. Sudah lebih dari 3 tahun kami tidak saling kontak. Ayah Sheryl tidak kembali dari perang, dan ia pindah ke rumah neneknya. Komunikasi adalah hal yang rumit di masa ini. Sheryl sampai repot-repot datang, menembus jarak lebih dari 200 km jauhnya. Aku tidak bisa bilang kalau aku tidak merasa bersalah.


“Apa kau ingin tahu siapa saja yang benar-benar menangisimu?”, tanya Zero. Ia sedari tadi tiduran di lantai atap gedung, tepat di belakangku.


“Tidak. Aku hanya ingin melihat mereka” Keluarga paman Peter adalah satu-satunya kerabatku dan Karen. Biar


bagaimanapun, saat ini aku menipu mereka. Yah, walau ini memang pilihan terbaik yang bisa kulakukan. Tidak ada bagusnya bagi mereka mengetahui kalau aku bukan lagi manusia. Apalagi membuat mereka terseret dalam urusanku dengan vampire.


Karen akan tinggal bersama pamanku dan menyelesaikan urusan peninggalan orang tua kami. Ayah punya sejumlah tabungan dan asuransi, kami memutuskan untuk mengambil warisan yang Ayah tinggalkan.


"Keiva Nathalie Smith", gumamku membaca nama di kartu identitas 'manusia' yang Zero berikan padaku.


"Gunakan nama itu saat keluar"


"Lalu orang dengan nama ini, apa yang terjadi padanya?"


"Orang itu tidak ada. Hanya data dalam komputer"


Sulit bagiku mempercayainya. Zero menciptakan identitas baru, seseorang yang tidak ada di bumi. Ini terlalu berlebihan, batinku sejak pertama mendengar ide ini. Tapi aku tidak bisa menentangnya. Kenyataanya, aku tidak


bisa kembali seperti dulu. Tubuhku yang perlahan kehilangan sisi manusia dan jiwaku yang bertahan hanya untuk membalaskan dendam. Menjadi ‘orang mati’ mungkin adalah penjelasan terbaik untuk keluarga kami. Selain itu, fakta tentang adanya vampire adalah rahasia yang ditutupi rapat-rapat baik oleh vampire maupun hunter.Dan lagi, sebuah organisasi vampire akan membunuh manusia awam yang mengetahui keberadaan mereka. Aku tidak bisa berkutik dengan ancaman bahaya ini. Tidak akan kubiarkan siapapun mati karena salahku lagi. Tidak akan.


***


Kami masih belum tahu kapan Karen dan si kembar akan kembali. Aku terjebak dalam pengawasan Zero. Dia terus menyuruhku tidur di kamar tepat di sebelah kamarnya. Entah apa tujuanya. Tapi apapun itu, aku tidak punya niat untuk menurutinya begitu saja. Belum lagi ia terus menerus mengatakan padaku untuk minum darah. Yang benar saja! Aku tidak mungkin melakukanya.


Aku tidak mau berubah menjadi vampire! Lebih baik aku mati daripada menjadi salah satu dari mereka. Mungkin... jika malam itu Zero tidak datang, aku sudah mati kehabisan darah. Begitu juga Karen. Vampire sialan itu berjanji tidak akan menyentuh Karen jika dia mendapatkan darahku. Karena itu aku menyerahkan diri. Meski aku tahu sebenarnya aku tidak mempercayai kata-katanya. Vampire itu pasti akan menyerang Karen setelah ia menghabisiku. Tapi setidaknya aku tidak harus melihatnya. Setidaknya aku sudah berusaha sebisaku untuk melindunginya. Benar. Seandainya Zero tidak muncul.


Air mataku mulai meleleh menggelinding. Di luar jendela kamar gerimis tampak turun. Seolah langit mengerti yang kurasakan. Aku tidak mau seperti ini. Jika saja ada jalan lain, apapun itu lebih baik daripada berubah menjadi vampire perlahan-lahan. Aku tahu Zero benar. Aku merasakannya dalam tubuhku. Darah vampire itu mengubah sel demi sel dalam diriku. Perlahan tapi pasti. Kalau bisa memilih, aku lebih memilih kematian.


Tiba-tiba pikiran itu menyelinap di kepalaku, merasuki tubuhku. Perlahan aku membuka pintu dan berjalan tanpa suara menuju ke dapur. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang kuinginkan. Aku meraih sebilah pisau yang tergeletak di atas meja. Tanpa pikir panjang lagi aku mengiris pergelangan tanganku sendiri hingga darah mengucur


deras. Aku meringis merasakan perih sayatan pisau, tapi aku tidak bisa berhenti. Tiba-tiba sebuah tangan menyambar pisau yang kupegang, lantas menghancurkannya menjadi debu. Zero!


“Apa yang kau lakukan?!”, teriakku parau.


Zero meraih lenganku yang mengucurkan darah dan mendekatkannya ke mulutnya. Sesaat aku mengira aku tahu apa yang akan dilakukannya, dia akan menghisap darahku! Tapi aku salah. Zero menjilat lukaku yang berdarah. Dan luka itu menutup dengan sendirinya!


“Hentikan!” Aku mencoba menghentakkan tanganku. Tidak berguna, cengkeraman Zero terlalu kuat untuk kuhentakkan. “Kau tidak berhak melarangku!! Ini yang aku inginkan. Aku tidak peduli apa maumu dariku


tapi kau tidak berhak menahanku untuk tetap hidup!!”


Zero menarikku ke pelukannya. “Maaf kalau ini egois, tapi aku tidak ingin kau mati”


“Kau gila!” Aku memukuli dada Zero. Aku tidak mengerti. Zero dan semua tentangnya tak bisa kumengerti sama sekali. Yang lebih tidak kumengerti lagi adalah bahwa saat ini aku tergugu menangis di dalam pelukannya.


"Apa yang kakak lakukan?", ujar Karen menghambur masuk ke dapur. Wajahnya pias, keringat tampak mengalir menuruni pelipisnya. Napasnya terengah-engah seolah nyaris putus. Dia habis berlari secepat mungkin.


"Tidak ada", kataku pendek sambil melepaskan diri dari lengan Zero. Aku berlari ke kamar tanpa repot-repot


melihat ekspresi di wajah Zero.


Karen mengejarku hingga ke kamar. "Apa maksud kakak tidak ada?! Aku tahu apa yang kakak coba lakukan!! Aku melihat kak Zero menghentikannya!"  Tangis Karen pecah. Keyakutan tampak memenuhi matanya yang biru. "Kenapa kakak melakukannya?!"


Aku memaksa diriku menarik napas yang mendadak terasa berat. Memalingkan wajahku dari Karen. "Kau sudah tahu, Karen. Aku tidak mampu hidup seperti ini. Aku tidak mau jadi salah satu dari mereka!!"


Karen masih terus dibanjiri air mata. Napasnya mulai patah-patah karena isakannya. "Semua ini salahku. Yang terjadi pada ayah dan ibu, dan juga kakak, semuanya salahku! Salahkan aku, kak. Kakak boleh marah dan membenciku.. aku yang bersalah"


Aku menelan ludah, seolah dengan begitu akan membantuku menggerakkan lidahku yang kelu. "Ini bukan salahmu"


"Ini salahku! Semuanya karena aku salah mengartikan masa depan yang kulihat. Karena aku bilang mereka mengincar kakak makanya kakak menjadi seperti sekarang. Aku yang salah!!"


"Tidak, Karen. Bahkan jika kau mengartikannya dengan benar, jika kau bilang mereka mengincarmu, hal ini akan tetap terjadi. Aku akan tetap mengatakan kalau akulah yang mereka cari. Karena itu, ini bukan salahmu"


Karen mulai membetulkan irama napasnya yang terputus-putus. "Kalau begitu tetaplah hidup! Jangan tinggalkan


aku.."


"Karen, aku.." Aku kehabisan kata-kata. Walau aku tahu Karen juga mengalami masa-masa sulit. Walau aku tahu semua hal ini bukan salah Karen. Aku tidak bisa...aku hanya tidak tahan lagi dengan keadaanku.


"Aku tahu apa Kakak masih memikirkannya. Kakak ingin mengakhiri hidup kakak sendiri" Karen kembali terisak.


"Cukup. Kau tidak mengerti"


"Iya, aku memang tidak mengerti!", sahut Karen, suaranya meninggi. "Aku sama sekali tidak mengerti. Kenapa kakak mengorbankan diri kakak? Kenapa kakak bersedia mati untuk melindungiku? Tapi kenapa kakak tidak mau bertahan hidup untukku?!"


Aku menghindari tatapan  Karen. Masih tidak sanggup bertemu matanya. "Dengar, Karen ini tidak mudah. Kita sudah kehilangan segalanya. Dan jika aku harus kehilangan diriku suatu hari nanti, maka lebih baik aku mengakhirinya sekarang...."


"Ok. Baguslah. Kalau begitu, tepat setelah kakak meninggal, aku juga akan bunuh diri"


"Apa??!"


"Aku juga kehilangan segalanya. Jadi aku tidak bisa kehilangan kakak. Aku tidak peduli tentang vampire atau balas dendam atau akan jadi seperti apa kakak nanti. Aku tidak bisa hidup tanpa kakak. Jika kakak bunuh diri, berarti kakak juga akan membunuhku", ujar Karen bersungguh-sungguh. Matanya menatapku tajam seolah menantang.


"Apa kau gila?!! Karen..."


"Aku bersumpah!!! Apa kakak mau bertaruh?!", seru Karen memotong perkataanku. Dia tahu betul aku juga tidak bisa kehilangannya. "Berjanjilah kakak tidak akan melakukannya lagi"


Air mata hangat menggelinding dari pelupuk mataku. Tidak mampu kutahan lagi. "Ok. Aku janji. Tapi kau juga harus berjanji padaku kalau kau tidak akan memintaku menjadi penghisap darah"


Air mata Karen mengucur semakin deras. Tapi dia segera bisa mengendalikannya. "Selama kakak menepati janjimu"


Aku cukup terkejut dengan jawaban Karen. Selama ini dia selalu memihak Zero yang terus menyuruhku meneguk darah. Jadi kupikir Karen juga akan bersikeras membujukku. Karen tersenyum kecil, seolah mengerti isi kepalaku.


"Aku benar-benar tidak akan membujuk kakak minum darah lagi. Aku janji", ujarnya. "Aku mengerti betul kenapa


kakak menolak. Itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan karena paksaan orang lain, tapi sesuatu yang harus dilakukan karena pilihan sendiri. Dan bukan aku yang bisa membuat kakak memilihnya. Jadi setidaknya, tolong jangan melakukan hal bodoh. Bertahanlah sampai kakak menemukan alasan untuk membuat pilihan itu"