The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 1 Dari dan Kepada Kegelapan (part 1)



Aku gadis yang aneh. Begitu kata semua orang. Yah, aku sendiri juga berpikir demikian. Aku memang gadis yang aneh. Di jaman yang sudah maju ini aku lebih suka menghabiskan waktu di dalam hutan dengan kuda kesayanganku, Mathew. Mau bagaimana lagi kan. Sejak kecil kami tinggal di peternakan keluarga, di daerah


pinggiran negara bagian ini. Hutan hanya sekitar 500 meter dari rumahku. Mungkin masih bisa dihitung sebagai halaman belakang. Ayahku bekerja sebagai sheriff di kepolisian pusat. Dan ibuku sehari-hari mengurus peternakan


peninggalan nenek. Aku dan adikku membantu ibu sebisa kami. Walau sejujurnya aku lebih sering melarikan diri dari pekerjaan rumah yang membosankan. Bagiku menjelajah hutan lebih mneyenangkan daripada mengurus telur-telur ayam. Terlihat seperti keluarga normal lain, untuk saat itu.


Aku sama sekali tidak pernah membayangkan kalau masa-masa membosankan penuh rutinitas di peternakan itu akan berakhir. Ayah bilang ia dipromosikan dan akan masuk ke satuan khusus. Jadi kami akan pindah ke kota Siverra.


“Kota itu jauh lebih besar dari Nogart. Jadi Key bisa cari teman di sana dan tidak perlu menyendiri di dalam hutan lagi”, kata ayah saat makan malam.


Aku hanya mengangguk.


“Syukurlah…”, ujar Karen pelan. Ibu mengelus bagian atas kepala Karen dengan lembut.


Ah, menyebalkan! Entah kenapa mereka seperti menghindari membicarakan masalah yang sebenarnya. Ayah dipromosikan? Cih! Aku sudah mengetahuinya sejak lama, 3 tahun lalu ayah sudah dipromosikan. Tapi ia menolaknya dan memilih menetap di kota kecil ini. Menurutnya tempat pinggiran seperti ini lebih aman untuk kami


tinggal. Tapi sekarang semuanya berubah 180 derajat. Dan itu semua hanya karena perkataan Karen. Adikku ini berbeda denganku. Sejak lahir dia sudah disanjung-sanjung. Dan tahun lalu Karen sempurna menjadi kebanggaan keluarga kami. Waktu itu nenek masih hidup. Menurut nenek Karen mulai menunjukkan bakat ‘future vision’. Kemampuan untuk melihat masa depan. Memang benar sejak usia 13 tahun, Karen jadi sering mengatakan hal-hal aneh. Bahkan di tengah tidur. Tapi, come on. Tidak mungkin kan mereka mempercayainya begitu saja? Yang diucapkanya adalah masa depan?! Yang benar saja!


Badai ketidak-masuk-akalan melanda sekelilingku. Mereka semua mempercayai penglihatan Karen. Karen itu gadis yang baik dan manis, dia tidak mungkin berbohong, begitu kata mereka. Aku juga tidak ingin menuduhnya berbohong. Lebih dari siapapun, aku mengenal Karen dengan baik. Anak itu tidak bisa berbohong. Tapi bukan


berarti penglihatan atau bakat tidak logis itu bisa dipercaya.


Pemikiran itu hanya berlaku untuk anak badung sepertiku. Beberapa anak seusiaku mengatai kalau aku cuma iri sama keistimewaan Karen. Dari awal, Karen memang anak yang manis dan sangat cantik dengan rambut panjang berwarna pirang cerah dan mata besar sebiru lautan. Ia selalu ramah kepada setiap orang. Kadang aku sendiri


pun heran kalau kami benar-benar saudara. Aku tidak mempermasalahkan orang lain mau bersikap seperti apa, tapi jika mereka menggangguku atau Karen, maka akan kupastikan membalasnya dengan tinjuku. Anak laki-laki berhenti menjahiliku dan anak perempuan seusiaku takut padaku. Dan hasilnya, aku tak punya teman. Yah,


dulu ada satu orang yang bertahan denganku, tapi keluarganya pindah ke Florida saat kami masuk SMP.


Sayangnya, kota yang menjadi rumah baru kami ada di arah yang berlawanan dari Florida. Aku tidak akan bertemu denganya. Yah, meski bilang begitu, aku juga tidak yakin apa aku bisa menemuinya seperti dulu. Apa dia masih seperti dulu? Kami pindah pada akhir bulan September. Dengan berat hati, aku menitipkan Mathew pada pamanku


yang memilih tinggal di Nogart dan mengurus semua peternakan. Aku menghela napas melihat dedaunan kuning yang mewarnai setiap penjuru hutan tempatku bermain. Tidak ada yang mengerti. Hutan itu seperti taman harta karun bagiku, penuh misteri. Serasa jauh di kedalaman hutan sana masih ada tempat yang belum dijamah manusia, masih ada petualangan yang berbeda, dan bentuk kehidupan yang belum diketahui. Kenapa mereka memutuskan semua ini semaunya.


Saat memasuki kota Siverra, aku sadar betapa berbedanya suasana ini dengan peternakan kami. Siverra kota yang besar, dipenuhi suara bising kendaraan dan kesibukan manusia. Ini adalah kota yang tidak mengenal kata tidur. Rumah baru kami terletak di depan kantor polisi, terpisah dua blok dari markas pasukan khusus. Tentu saja, dekat pusat kota. Kurasa ayah dan ibu merasa lebih tenang dengan tinggal di dekat aparat keamanan. Aku juga bisa melihat kantor pemadam kebakaran di ujung lain jalan yang melintasi depan rumah. Bukan cuma itu, sekolah kami yang baru juga tak jauh, sekitar 20 menit jalan kaki. Gezz…ini sedikit berlebihan.


“Ayah, kenapa harus di sekolah khusus perempuan?”, tanyaku hendak protes. “Aku mau masuk sekolah biasa saja”


“Ayolah, nggak masalah kan. Di sekolah khusus perempuan kalian tidak akan dijahili lagi”, kata Ayah.


“Kenapa tidak? Ada juga anak perempuan yang suka cari ribut”


“Asal kamu tidak memulainya duluan, kemungkinan besar hal seperti itu tidak akan terjadi”, ujar Ibu.


“Apa menurut Ibu aku memulainya?”, tanyaku.


“Key, Ibumu tidak bermaksud begitu. Kami tahu kau hanya membela diri”


Aku mendengus dan kembali ke kamar di lantai dua. Menyebalkan, rumah ini kecil dan hanya ada dua kamar. Jadi aku harus berbagi kamar lagi dengan Karen. Di Nogart kami juga berbagi kamar, karena Karen terlalu takut untuk tidur sendiri. Tapi sekarang kan kami sudah besar. Seharusnya kami tidak lagi berbagi kamar.


Aku melihat Karen sudah terlelap di ranjangnya. Dia tampak kelelahan karena sering tebangun di malam hari akibat mimpi tidak masuk akal. Karen mengangguk senang saat tahu Ayah mendaftarkan kami di sekolah khusus perempuan. Yah, itu mungkin tempat yang cocok untuknya. Tapi bukan untukku. Ayah berharap kami bisa mendapat teman baru di sana. Biar begitu, aku yakin saat sifat asliku terbuka, mereka semua akan menjauhiku karena takut. Aku menjatuhkan tubuhku di ranjang lain yang terletak di seberang lain ruangan. Perlahan mataku mulai mengatup karena kantuk.


“Aaahh….!!!”, suara teriakan Karen membangunkanku. Aku mengucek mata, menggaruk rambutku yang tidak gatal dan menyibakkan selimut dengan malas. Well, aku kasihan pada Karen yang sering tidak tidur tenang karena bakatnya, tapi ini juga lama-lama menyebalkan. Aku juga sudah lama tidak bisa tidur tenang. Tapi melihat Karen


menangis tersedu-sedu membuatku melupakan kekesalan itu. Aku bergegas ke tempat tidurnya, merangkul punggungnya.


“Tidak, Kak. Kakak....kakak harus lari....kita semua...”


Dia melihat masa depanku. “Tidak apa-apa..”


“Tidak! Ini bukan tidak apa-apa! Kakak.... harus pergi dari sini”, katanya sambil tersedu sedan. Karen terus memanggilku sambil menangis. “Kakak benar-benar harus pergi”, kata Karen setelah tangisnya mereda. “Mereka mengincar kakak”


Eh? Cerita tidak masuk akal apa lagi kali ini? Aku menarik napas, menenangkan diri.  “Siapa? Dan mengapa ada yang mengincarku?”


“Aku juga tidak tahu. Tapi dia akan datang. Dan kakak....darah....”


“Kita bisa bicarakan dengan Ayah dan Ibu. Tenang dulu. Jika memang bahaya kita bisa memanggil polisi atau...”


Karen kembali menangis. “Tidak! Tidak bisa.... kakak harus lari”


Aku menatap ke dalam kedua mata Karen lekat. Dia benar-benar ketakutan, lebih dari biasanya. “Katakan, apa yang kau lihat?”


“Darah... aku melihat kakak diselimuti darah dan...dan kejang....”


“A-aku...?” Aku akan sekarat! Bulu kudukku berdiri saat aku memikirkanya.  Aku tahu aku tidak mempercayai kata-kata Karen tentang masa depan. Tapi melihat derasnya air mata yang mengalir di wajah Karen membuatku membayangkan seandainya hal itu sungguh terjadi. Aku baru 16 tahun! Yang benar saja!! Karen tampaknya mengetahui perubahan ekspresiku. Dia mulai terisak lagi. Keringat dingin menuruni leherku, tapi aku mencoba tenang. Sambil menggenggam tangan Karen, aku kembali menenangkannya “Tidak apa-apa. Itu belum terjadi. Aku tidak akan takut. Jika aku harus berlari, maka aku akan berlari. Ok? Tenanglah. Aku akan lari sebisaku untuk menghindarinya. Ok?”


“Kita harus pergi dari sini”, bisik Karen setelah dia bisa lebih mengendalikan diri.


“Tidak, Karen!”, ujarku tegas. Aku benar-benar lelah dengan semua ini. “Kita baru pindah kemarin, kau ingat? Karena kau mengatakan sesuatu pada ayah dan ibu”


Karen tampak terkejut. Mungkin ia mengira aku tidak mengetahuinya karena Karen diam-diam menemui ayah saat aku tidur. Tapi ia salah perhitungan saat ia keluar dan berjalan ke kamar ayah danibu, aku cukup terjaga untuk mendengar semuanya.


“Itu mimpi yang sama kan”


Karen mengangguk. “Mereka melacak kita…”


“Siapa mereka? Dan apa maunya?”


“Mereka monster.. Yang mereka incar adalah….”, Karen menatapku, matanya dipenuhi ketakutan dan kesedihan. Aku bisa mengerti kelanjutan dari perkataanya tanpa menunggu. “…kakak”


“Hah???” Apa-apaan itu dia bercanda kan monster, katanya?? Dan lagi mereka mengincarku?!!


Ayah mengetuk pintu pelan, lalu segera berlari masuk memastikan keadaan Karen. Ibu yang berjalan di belakang ayah menghampiri ranjang Karen, meraaupnya ke dalam pelukan. Dan Karen kembali terisak, matanya masih dipenuhi ketakutan.


“Karen, apa kau bisa memperkirakan waktunya?”, tanya Ayah.


Karen menggeleng pelan. Ayah menepuk bagian atas kepala Karen dengan lembut, lantas beralih menatapku.


“Apa yang Karen llihat?”


Aku mengangkat kedua bahuku dengan malas. “Dia bilang ada yang melacak kita”


Ayah mengerutkan keningnya, sepertinya Ayah tahu kalau aku tidak percaya dengan penglihatan Karen. Tapi Ayah tidak mengatakan apapun. Dengan wajah  dipenuhi kekhawatiran, Ibu bertanya pada Ayah apa kita bisa pindah lagi.


“Itu akan butuh waktu”


Sepertinya kami akan pegi dari sini sebelum sempat beradaptasi dan mengenal siapapun. Tapi aku tahu keputusan itu sudah bulat dan aku bukan orang yang bisa mengubahnya. Walau beberapa hari lalu Ayah bilang untuk mencari teman baru di sekolah baru, kami langsung pulang ke rumah dan mengunci diri. Aku tidak tahu apa alasan Karen. Aku tidak bersembunyi karena penglihatanya atau masa depan yang Karen katakan. Hanya saja, aku tidak merasa benar-benar ingin jalan bersama teman baru kalau sebentar lagi harus berpisah. Lagipula menurut Karen aku akan segera menemui ajalku. Yah, bukanya aku mempercayainya sih.