
“Hei..Arion…mungkinkah kau takut dengan badut?”, tanyaku.
Wajah Arion tampak memerah, pupil matanya bergerak-gerak dan
ia tak berani menatapku.
“Nggak…”
“Pfft…” Aku tidak tahan lagi menahan tawaku.
“Kenapa? Apa tidak boleh aku takut dengan sesuatu?”
Aku masih terkikik geli untuk beberapa saat. “Itu lucu
sekali. Kau ini kan vampire…maksudku bukanya vampire lebih menakutkan daripada
badut”
“Bukan itu masalahnya! Lagian aku bukan vampire yang
menakutkan”Arionsedikit menggerutu. Wajahnya masih merah karena malu. Tidak
lama kemudian Arion menepikan mobil.
“Tunggu sebentar”, ujarnya lantas membuka pintu. Ditutupnya kembali pintu mobil dan ia berjalan ke
trotoar.
Jalanan di sini begitu sepi. Jauh dari rumah-rumah, bahkan hampir tak ada kendaraan yang
mengambil rute ini. Aku hendak bertanya siapa yang ditunggu Arion saat sisi
vampire ku merasakan kehadiran dua shadow yang rasanya sangat berbeda. Dua
shadow ini begitu liar dan gelap, lebih buruknya lagi mereka berlari ke arah
kami dengan kecepatan tinggi. Belum sempat aku memikirkan cara menghadapinya,
mereka sudah sampai. Di sana, di depan Arion, 2 vampire wanita dengan mata
semerah darah dan taring mencuat keluar bersiap menyerangnya. Hatiku menciut
mengingat baik Arion maupun aku pergi tanpa membawa senjata. Vampire bermata
merah menyerang, mengincar Leher Arion. Tapi Arion berhasil menghentikan
pergerakan mereka sebelum mencapai tubuhnya. Ia membuat beberapa tanaman sulur
keluar dari tanah dan menjerat kedua vampire itu. Kemudian dua batang duri
tajam tumbuh dari sulur-sulur dan menikam jantung mereka. Arion bergegas
kembali ke dalam mobil dan menginjak gas.
Kami berhenti di sebuah apartemen, lalu naik ke lantai 12 dengan lift. Rupanya Arion menyewa
salah satu apartemen mewah di tengah kota. Ah, benar-benar beda dengan Zero
yang memilih rumah di tengah hutan. Arion perlu menganti baju, kami tidak mau
mendapat kejutan lain seperti tadi. Aku menunggu di ruang tamu. Apartemen Arion
hampir sama luasnya dengan rumah Zero. Ruang tamunya kelewat besar dan
kelihatannya ada terlalu banyak ruangan di sini, padahal dia tinggal sendirian.
Sebuah piano putih berdiri dengan anggun di sudut ruang tamunya. Entah kenapa
aku merasa tertarik dan mulai memainkan beberapa tuts.
“.but I don’t wanna love somebody else..”, gumam Arion dengan suara merdunya. Dia berjalan menuruni tangga, lalu menghampiriku di depan piano. “Apa itu lagu kesukaanmu?”
Aku menggeleng. “Entah kenapa lagu itu sering berputar di kepalaku”
“Eh?? Jadi...kenangan nih ceritanya?”
Aku tersenyum geli. “Bukan, sama sekali” Mana mungkin kenangan sementara aku belum pernah
jatuh cinta. Mungkin tidak akan pernah juga. “Yang tadi itu sebenarnya apa?”,
tanyaku teringat dua vampire bermata merah yang menyerang Arion.
“Mad-vampire”, ujar Arion. “Beberapa exhuman yang kehilangan kendali berubah menjadi liar
seperti itu. Mereka bergerak seperti binatang yang haus darah. Semua ingatan
dan pikiran mereka menghilang”
Ah, jadi seperti itukah mad-vampire, exhuman yang hilang kendali. Jadi mereka datang
karena mencium bau darah Arion.
“Apa tidak ada cara lain untuk menyelamatkan mereka?”
Arion menggeleng. “Sayangnya tidak ada. Selama ribuan tahun sejarah vampire, satu-satunya
cara menyelamatkan mad-vampire adalah dengan membunuh mereka”
Begitu rupanya. Sama seperti tak ada yang bisa dilakukan untuk mengembalikan exhuman menjadi
itu masih jauh lebih bagus dibanding manusia yang bekerja untuk vampire seperti
Sanchez. Dia bahkan membuat dirinya diubah menjadi vampire untuk memperoleh
kekuatan.
“Menyedihkan..”, gumamku tanpa sadar.
“Yah... memang”, sahut Arion.
“Eh..bukan madvampire. Aku baru ingat ada orang yang dengan sengaja membuat vampire mengubahnya. Dan ada juga yang melakukan apapun yang diperintahkan vampire, termasuk membahayakan manusia
lain” Aku mendesah panjang. “Manusia itu menyedihkan”
“Kau tidak boleh bilang begitu, Key”, ujar Arion. “Kau sendiri juga manusia. Sama seperti
bagaimana ada vampire yang jahat dan baik, manusia juga begitu kan. Pada
akhirnya semua itu kembali ke diri masing-masing”
Arion tersenyum hangat, lantas duduk bangku panjang di depan piano, di sampingku. Jemarinya
yang indah mulai memainkan beberapa nada. Lalu ia pun bersenandung pelan. Dan
Arion terlihat menyatu dalam lagunya. Dia benar-benar menyukai musik. Entah
bagaimana rasanya udara di sekitar kami ikut menari bersama lantunan nada
Arion. Dan senyum Arion menyempurnakan sore itu. Sebuah senyum sehangat sinar
mentari senja.
Hari itu berjalan dengan menyenangkan. Setelah makan malam, Arion mengantarku pulang. Kami sempat mampir ke sebuah toko roti. Rupanya Arion membeli sekotak besar cake cokelat untuk semua orang di rumah
Zero. Dan dia membelikanku sekotak cokelat yang berbeda.Aku menerimanya dengan
syarat dia mau mengajariku teknik berpedang lagi.
“Tentu saja. Aku akan datang kapanpun kau mau”, ujar Arion dengan semangat. “Tapi, bukanya
Zero bisa mengajarimu”
Aku mengalihkan pandanganku dari mata Arion. Mana mungkin kan aku meminta diajari oleh Zero.
Dan entah bagaimana Arion menangkap arti ekspresiku, seolah dia bisa membaca
pikiranku. Dia tertawa pelan.
“Zero lebih jago daripada aku”
Aku tidak bisa menyangkalnya. Kemarin aku sudah melihatnya sendiri. “Yang jadi masalah adalah
sikapnya”
“Maaf soal itu. Dia memang pintar dalam banyak hal, tapi bodoh dalam mengekspresikan
perasaanya”
“Dari dulu dia seperti itu?”, tanyaku.
Arion mengangguk mengiyakan. Saat mendengar kalau Zero pergi dari rumah karena ada
masalah dengan orang tuanya, kupikir karena itulah sikapnya menyebalkan. Tapi
rupanya memang seperti itulah Zero. Aku tidak habis pikir kenapa Arion berteman
dengannya.
“Tapi saat kau sudah memahaminya, kau tidak akan bisa tidak menyukainya”, uajr Arion. “Dia
orang yang seperti itu, Zero”
Aku meragukannya. Sangat malah. Belakangan aku terpikirkan kalau mungkin saja Zero
itu mata-mata. Dia bisa saja memanfaatkan Shine dan Shane untuk mengawasi
organisasi hunter. Tapi mana mungkin aku menanyakannya ke Arion. Dan lagi,
sulit untuk menaruh kecurigaan yang sama pada Arion.
“Kurasa kau melebih-lebihkan, Arion. Dia tetap anak yang memberontak dan lari dari rumah kan”
Arion tertawa. “Yah..benar. Masalahnya tidak sesederhana itu, Key”, ujarnya mulai serius.
“Mereka hanya salah paham. Zero mungkin melakukan sebuah kesalahan, tapi pasti
ada alasan di baliknya. Masalahnya dia tidak mau mengatakannya”
“Apa kau mencarinya untuk mengetahui alasanya?”
“Benar”
Lihat, mata Arion benar-benar hanya dipenuhi perasaanya yang tulus. Tidak mungkin orang
sepertinya adalah mata-mata. Arion terlalu baik.