The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 10 Senja (part 2)



“Hei..Arion…mungkinkah kau takut dengan badut?”, tanyaku.


Wajah Arion tampak memerah, pupil matanya bergerak-gerak dan


ia tak berani menatapku.


“Nggak…”


“Pfft…” Aku tidak tahan lagi menahan tawaku.


“Kenapa? Apa tidak boleh aku takut dengan sesuatu?”


Aku masih terkikik geli untuk beberapa saat. “Itu lucu


sekali. Kau ini kan vampire…maksudku bukanya vampire lebih menakutkan daripada


badut”


“Bukan itu masalahnya! Lagian aku bukan vampire yang


menakutkan”Arionsedikit menggerutu. Wajahnya masih merah karena malu. Tidak


lama kemudian Arion menepikan mobil.


 “Tunggu sebentar”, ujarnya  lantas membuka pintu. Ditutupnya kembali pintu mobil dan ia berjalan ke


trotoar.


Jalanan di sini begitu sepi. Jauh dari rumah-rumah, bahkan hampir tak ada kendaraan yang


mengambil rute ini. Aku hendak bertanya siapa yang ditunggu Arion saat sisi


vampire ku merasakan kehadiran dua shadow yang rasanya sangat berbeda. Dua


shadow ini begitu liar dan gelap, lebih buruknya lagi mereka berlari ke arah


kami dengan kecepatan tinggi. Belum sempat aku memikirkan cara menghadapinya,


mereka sudah sampai. Di sana, di depan Arion, 2 vampire wanita dengan mata


semerah darah dan taring mencuat keluar bersiap menyerangnya. Hatiku menciut


mengingat baik Arion maupun aku pergi tanpa membawa senjata. Vampire bermata


merah menyerang, mengincar Leher Arion. Tapi Arion berhasil menghentikan


pergerakan mereka sebelum mencapai tubuhnya. Ia membuat beberapa tanaman sulur


keluar dari tanah dan menjerat kedua vampire itu. Kemudian dua batang duri


tajam tumbuh dari sulur-sulur dan menikam jantung mereka. Arion bergegas


kembali ke dalam mobil dan menginjak gas.


Kami berhenti di sebuah apartemen, lalu naik ke lantai 12 dengan lift. Rupanya Arion menyewa


salah satu apartemen mewah di tengah kota. Ah, benar-benar beda dengan Zero


yang memilih rumah di tengah hutan. Arion perlu menganti baju, kami tidak mau


mendapat kejutan lain seperti tadi. Aku menunggu di ruang tamu. Apartemen Arion


hampir sama luasnya dengan rumah Zero. Ruang tamunya kelewat besar dan


kelihatannya ada terlalu banyak ruangan di sini, padahal dia tinggal sendirian.


Sebuah piano putih berdiri dengan anggun di sudut ruang tamunya. Entah kenapa


aku merasa tertarik dan mulai memainkan beberapa tuts.


 “.but I don’t wanna love somebody else..”, gumam Arion dengan suara merdunya. Dia berjalan menuruni tangga, lalu menghampiriku di depan piano. “Apa itu lagu kesukaanmu?”


Aku menggeleng. “Entah kenapa lagu itu sering berputar di kepalaku”


“Eh?? Jadi...kenangan nih ceritanya?”


Aku tersenyum geli. “Bukan, sama sekali” Mana mungkin kenangan sementara aku belum pernah


jatuh cinta. Mungkin tidak akan pernah juga. “Yang tadi itu sebenarnya apa?”,


tanyaku teringat dua vampire bermata merah yang menyerang Arion.


“Mad-vampire”, ujar Arion. “Beberapa exhuman yang kehilangan kendali berubah menjadi liar


seperti itu. Mereka bergerak seperti binatang yang haus darah. Semua ingatan


dan pikiran mereka menghilang”


Ah, jadi seperti itukah mad-vampire, exhuman yang hilang kendali. Jadi mereka datang


karena mencium bau darah Arion.


“Apa tidak ada cara lain untuk menyelamatkan mereka?”


Arion menggeleng. “Sayangnya tidak ada. Selama ribuan tahun sejarah vampire, satu-satunya


cara menyelamatkan mad-vampire adalah dengan membunuh mereka”


Begitu rupanya. Sama seperti tak ada yang bisa dilakukan untuk mengembalikan exhuman menjadi


itu masih jauh lebih bagus dibanding manusia yang bekerja untuk vampire seperti


Sanchez. Dia bahkan membuat dirinya diubah menjadi vampire untuk memperoleh


kekuatan.


“Menyedihkan..”, gumamku tanpa sadar.


“Yah... memang”, sahut Arion.


“Eh..bukan madvampire. Aku baru ingat ada orang yang dengan sengaja membuat  vampire mengubahnya. Dan ada juga yang melakukan apapun yang diperintahkan vampire, termasuk membahayakan manusia


lain” Aku mendesah panjang. “Manusia itu menyedihkan”


“Kau tidak boleh bilang begitu, Key”, ujar Arion. “Kau sendiri juga manusia. Sama seperti


bagaimana ada vampire yang jahat dan baik, manusia juga begitu kan. Pada


akhirnya semua itu kembali ke diri masing-masing”


Arion tersenyum hangat, lantas duduk bangku panjang di depan piano, di sampingku. Jemarinya


yang indah mulai memainkan beberapa nada. Lalu ia pun bersenandung pelan. Dan


Arion terlihat menyatu dalam lagunya. Dia benar-benar menyukai musik. Entah


bagaimana rasanya udara di sekitar kami ikut menari bersama lantunan nada


Arion. Dan senyum Arion menyempurnakan sore itu. Sebuah senyum sehangat sinar


mentari senja.


Hari itu berjalan dengan menyenangkan. Setelah makan malam, Arion mengantarku pulang.  Kami sempat mampir ke sebuah toko roti. Rupanya Arion membeli sekotak besar cake cokelat untuk semua orang di rumah


Zero. Dan dia membelikanku sekotak cokelat yang berbeda.Aku menerimanya dengan


syarat dia mau mengajariku teknik berpedang lagi.


“Tentu saja. Aku akan datang kapanpun kau mau”, ujar Arion dengan semangat. “Tapi, bukanya


Zero bisa mengajarimu”


Aku mengalihkan pandanganku dari mata Arion. Mana mungkin kan aku meminta diajari oleh Zero.


Dan entah bagaimana Arion menangkap arti ekspresiku, seolah dia bisa membaca


pikiranku. Dia tertawa pelan.


“Zero lebih jago daripada aku”


Aku tidak bisa menyangkalnya. Kemarin aku sudah melihatnya sendiri. “Yang jadi masalah adalah


sikapnya”


“Maaf soal itu. Dia memang pintar dalam banyak hal, tapi bodoh dalam mengekspresikan


perasaanya”


“Dari dulu dia seperti itu?”, tanyaku.


Arion mengangguk mengiyakan. Saat mendengar kalau Zero pergi dari rumah karena ada


masalah dengan orang tuanya, kupikir karena itulah sikapnya menyebalkan. Tapi


rupanya memang seperti itulah Zero. Aku tidak habis pikir kenapa Arion berteman


dengannya.


“Tapi saat kau sudah memahaminya, kau tidak akan bisa tidak menyukainya”, uajr Arion. “Dia


orang yang seperti itu, Zero”


Aku meragukannya. Sangat malah. Belakangan aku terpikirkan kalau mungkin saja Zero


itu mata-mata. Dia bisa saja memanfaatkan Shine dan Shane untuk mengawasi


organisasi hunter. Tapi mana mungkin aku menanyakannya ke Arion. Dan lagi,


sulit untuk menaruh kecurigaan yang sama pada Arion.


“Kurasa kau melebih-lebihkan, Arion. Dia tetap anak yang memberontak dan lari dari rumah kan”


Arion tertawa. “Yah..benar. Masalahnya tidak sesederhana itu, Key”, ujarnya mulai serius.


“Mereka hanya salah paham. Zero mungkin melakukan sebuah kesalahan, tapi pasti


ada alasan di baliknya. Masalahnya dia tidak mau mengatakannya”


“Apa kau mencarinya untuk mengetahui alasanya?”


“Benar”


Lihat, mata Arion benar-benar hanya dipenuhi perasaanya yang tulus. Tidak mungkin orang


sepertinya adalah mata-mata. Arion terlalu baik.