The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 13 Dari Sebuah Dongeng (part 1)



Tidak ketemu. Biar dicari di manapun, dan walau semua buku sudah kubaca, aku tetap


tidak bisa menemukanya. Cara untuk mempertahankan sisi manusiaku. Exhuman harus


minum darah dan menjadi vampire sepenuhnya atas kemauan sendiri. Jika tidak


maka darah vampire yang terlanjur mengalir dalam tubuhnya akan menelan


kesadaranya. Saat itulah mereka menjadi madvampire. Monster yang hanya bergerak


mengikuti nafsunya untuk mendapat darah. Seperti dua orang vampire bermata merah


tempo hari. Memang menyebalkan mengakuinya, tapi profesor tua itu benar. Aku


tidak bisa menemukan apapun. Aku tidak peduli jika harus mati, tapi aku tidak


mau berubah menjadi monster gila darah. Kalau akal sehatku menghilang bukan


tidak mungkin aku bisa mencelakai Karen, Shine atau Shane.


"Kita sudahi dulu untuk hari ini", ujar Arion sambil menyarungi kembali


pedangnya. "Kau tampak tidak fokus dari tadi. Apa ada yang


mengganggumu?"


Aku hampir lupa. Tentu saja Arion bisa membaca suasana hatiku. Aku menyarungkan


pedangku dan meletakkanya di teras samping. Tidak yakin apakah sebaiknya


menyembunyikanya atau mengatakanya. Habisnya Arion bisa membaca orang dengan


baik. Rasanya percuma untuk membohonginya. Tapi aku juga tak bisa mengatakan


apapun.


"Kau tidak perlu mengatakanya", ujar Arion yang kini duduk di lantai teras


samping. Sebuah senyum mengembang di wajahnya. "Kalau memang sulit, tidak


perlu mengatakanya. Aku memang berharap bisa membantu tapi sepertinya ada


hal-hal yang hanya bisa dilakukan olehmu sendiri"


Dia benar. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha mengubah mood ku sendiri. Ikutan


duduk di lantai, di samping Arion.


"Apa kau sudah lama belajar memanah?", tanya Arion. Mungkin dia mencoba


mengubah topik.


"Sejak umur 5 tahun. Ayah yang mengajariku"


"Oh...Sudah lama sekali. Kau bercita-cita jadi atlet?"


"Tidak. Yah..dulu pernah ikut turnamen beberapa kali"


"Tidak dilanjutkan?"


Aku menggeleng. "Aku hanya melakukanya karena ayah suka. Memenangkan satu


turnamen saja sudah cukup bagiku"


"Harusnya dilanjutkan. Bakatmu itu tidak main-main. Kita bahkan tidak bisa menghabiskan


burung-burung buruanmu walau sudah dimakan berempat"


Makan malam kemarin lusa ya. Aku tersenyum mengingatnya. Arion yang kelewat


bersemangat memasak semua burung tapi tidak bisa menghabiskanya.


"Ngomong-ngomong, apa kau mengenal kepala sekolah Humphire?"


Arion menaikkan sebelah alisnya. Kali ini aku yang mengubah topik. Arion menggeleng,


dia tidak mengenal prof. Quinton. "Ada apa dengan orang tua itu?"


"Apa dia bisa membaca pikiran?"


"Setahuku dia tidak punya bakat loh. Aku tidak mengenalnya tapi kurasa dia bukan vampire


yang kuat. Kau lihat shadownya kan"


Arion benar. Aku melihat shadow nya. Biasa saja. Sama sekali tidak ada yang spesial.


Tidak seperti milik Raymond, Arion atau Efterpi. Tapi entah kenapa aku punya


firasat buruk. Tidak. Ini pasti cuma karena profesor tua itu mengatakan hal


yang mengusikku. Lagipula tidak mungkin ada kemampuan membaca pikiran.


"Sebenarnya aku tahu orang yang bisa membaca pikiran", ujar Arion.


Sontak mataku membesar, tak percaya pada yang baru kudengar.


"Ada loh. Namanya Cuthbert. Dia adiknya Efterpi"


"Eh?!"


Kali ini mataku nyaris melompat keluar. Serius ada? Dan lagi, adiknya Efterpi?!


Arion tersenyum seolah puas bisa membuatku terkejut. "Orangnya benar-benar


pendiam. Malah hampir tidak pernah bicara. Rambutnya juga berwarna putih, sama


seperti Efterpi. Wajah mereka juga mirip sekali"


Efterpi versi laki-laki ya... Pasti tampan sekali mengingat wajah Efterpi yang begitu


cantik tanpa kurang apapun.


"Oh iya, Efterpi juga punya kakak laki-laki. Kakaknya juga mirip denganya. Aku selalu kagum bagaimana kakak beradik punya banyak kemiripan", ujar Arion. "Kau dan Karen juga begitu"


"Kurasa kami tidak mirip"


Arion menggeleng. "Kalau dari  wajah menurutku kalian mirip. Mungkin karena sifat kalian yang berbeda, kau jadi tidak menyadarinya. Karen itu gadis yang manis dan imut"


Sudah kuduga. Yap. Semua orang juga bilang begitu. Tak ada alasan kenapa Arion akan berbeda pendapat. Karen memang manis.


"Tapi kakaknya lebih cantik"


Aku tersedak napasku sendiri. Apa Arion sedang mabuk? Apa yang barusan dia bilang?


Arion meraih sebotol air mineral dari meja, memberikanya padaku. Langsung saja aku


meneguknya. Lalu mengatur napas perlahan. Arion tertawa kecil melihatku.


"Kamu", jawabnya masih sambil tertawa. "Baru kali ini aku melihat vampire tersedak


padahal tidak sedang minum"


Aku mengalihkan tatapanku dari mata Arion. "Habisnya kau melantur"


"Eh? Nggak melantur kok", ujarnya. "Ngomong-ngomong, kamu dan Karen mirip


siapa? Ibu?"


"Karen mirip ibu, aku lebih mirip ayah"


“Begitukah? Berarti ayah dan ibumu juga mirip kah?” Arion


tampak mencoba menggambarkan wajah orang tua kami di dalam kepalanya.


“Bagaimana denganmu?”


Arion kembali menatapku, mata emerald nya tampak sedikit


membesar. Ah, benar juga. Mungkin pertanyaanku barusan termasuk tidak sopan.


Aku baru ingat Arion pernah bilang kalau dia halfblood.


“Aku mirip ibu”, ujar Arion. Sebuah senyum mengembang di


wajahnya. Sulit bagiku menebak apakah dia tidak tersinggung atau terlalu pandai


menyembunyikan perasaanya. “90% mungkin? Soalnya aku mewarisi warna rambut dan


darah vampire dari ayah”


Aku mengangguk.


“Sebenarnya, aku tidak mengingat wajah ibuku. Aku hanya


mengetahuinya dari lukisan yang ayah buat. Ibuku benar-benar cantik. Ia


memiliki warna rambut pirang terang, mata hijau emerald yang cemerlang dan


wajah yang selalu tampak bersinar. Begitu kata ayahku”


Aku tersenyum. Penggambaran itu terdengar cocok sekali


untuk ibu Arion. “Kalau begitu kau benar-benar mirip ibumu”


“Ayahku juga bilang begitu”, ujar Arion. “Tapi aku


seorang vampire. Kurasa biar bagaimanapun aku lebih mirip ayah”


Jadi benar, ibu Arion bukan vampire. Memang susah


mempercayainya saat melihat shadow Arion yang besar itu. Tapi dia adalah halfblood.


Berarti setengah dari tubuhnya masih seperti manusia.


“Kenapa kau tidak bertanya apapun?”, tanya Arion.


“Biasanya kau selalu ingin tahu pada hal-hal baru. Jadi kupikir kau akan punya


banyak pertanyaan untukku”


Aku kembali mengalihkan pandanganku, menatap rerumputan


di bawah kaki. Menyesali kebiasaanku itu. “Karena kupikir hal seperti itu bisa


menyinggung perasaan. Bukankah vampire melihat kelas mereka dari darah? Maaf


tadi keceplosan tanya”


“Tidak apa-apa. Malah aku senang kau bertanya”, ujarnya


enteng. Membuatku menatap matanya, menyelidik. “Memang benar biasanya masalah


darah bisa menjadi tidak mengenakkan untuk dibicarakan. Tapi anehnya, aku


senang kalau kau yang tanya”


Senyum hangatnya kembali mengembang. Syukurlah kalau


Arion tidak tersinggung karena pertanyaanku. Meskipun kelihatanya cukup aneh,


karena sepertinya dia ingin aku menanyainya lagi. Aku memutar otak, mencari


pertanyaan yang tidak terlalu sensitif.


“Eh...um...kalau boleh tahu, ibumu warga negara mana?


Warna mata emerald itu sangat jarang kan ya..”


“Bukan cuma jarang, Key. Cuma aku vampire dengan mata


emerald. Dan tidak ada manusia yang memilikinya”, ujar Arion.


Tunggu dulu... Tidak ada manusia yang memilikinya,


katanya.


Arion tersenyum penuh kemenangan. “Aku memang halfblood.


Tapi ibuku bukan manusia, melainkan seorang elf”


“E-elf??!!”, ulangku. Tidak bisa mempercayai


pendengaranku sendiri.


Arion tertawa pelan. Yap, dia berhasil menyulut rasa


ingin tahuku yang sudah kutahan mati-matian. Tapi Arion menolak memberitahuku


lebih banyak. Katanya dia akan menyimpan pertanyaanku untuk lain waktu.


Bzz...menyebalkan. Setiap kali memandang wajah tampan Arion dengan mata emerald


nya yang mempesona, aku sadar ada yang berbeda darinya. Dia tidak terlihat


seperti vampire pada umumnya. Memang benar kalau hampir semua vampire memiliki


penampilan yang mempesona, tapi Arion memiliki pesona yang beda. Seperti bukan


bagian dari underworld, dia justru terlihat seperti datang dari wonderland,


dunia dongeng dari negeri jauh.