
Bulir-bulir air hujan jatuh menimpa tanah. Menimbulkan
suara gemericik yang sambung menyambung. Di luar terlihat gelap. Padahal masih
beberapa jam lagi sebelum malam. Aku tidak mengerti kenapa aku merasa seperti
ini. Aku sudah membalaskan dendamku. Siang tadi, aku menyaksikkan kematian
vanBlood dengan mataku sendiri. Bukankah seharusnya aku merasa lega. Tapi
semuanya terasa kosong dan sia-sia. Setelah kembali ke rumah, aku bergegas
mandi dan ganti baju. Merasa kedinginan, aku meraih sebuah sweater dan
memakainya. Lantas duduk di lantai bersandar tempat tidur sambil memeluk lutut.
Entah berapa lama aku ada di posisi ini, diam seribu bahasa melihat ke luar
jendela.
Aku melangkah menuju balkon. Hujan tidak membuatku
dingin, tapi aku kedinginan sejak tadi. Jadi bukan karena hujan. Aku melompat
turun dari balkon, mendarat dengan dua kaki. Tubuhku terlalu sehat setelah
meminum darah Shane. Aku mulai berjalan, membiarkan tetes hujan terus
menimpaku. Tanpa kusadari aku sudah sampai di sebuah jembatan. Aku melangkah ke
pagar jembatan, memandangi air hujan yang jatuh ke sungai di bawah sana.
Benar-benar jembatan yang tinggi. Mungkin bahkan vampire bisa mati jika
terjatuh ke bawah sana. Tanpa pikir panjang, aku memanjat pagar pembatas
jembatan dan melompat ke sungai besar di bawahnya.
BYUURRR!!! Punggungku menyentuh dasar sungai. Sial,
sungai ini tidak sedalam kelihatannya. Aku menahan napas, membiarkan arus
sungai menghanyutkan tubuhku. Dan entah bagaimana, meskipun sudah cukup lama
aku berada di bawah air tubuhku tidak mengalami masalah. Padahal aku menahan
napasku selama ini. Suara kaki mendekat, terdengar familiar. Ia berhenti di
sampingku. Menahan tubuhku terhanyut lagi.
“Apa kau sudah selesai sekarang?”, tanya Zero. “Vampire
tidak akan mati dengan mudah hanya karena tenggelam, kau tahu? Sudahlah, ayo
bangun” Zero mengulurkan sebelah tangannya.
Aku meraih tangan itu, lalu ia menarikku keluar dari air.
Membuatku berdiri di depannya. Bagaimana dia menemukanku lagi kali ini?
“Apa yang sebenarnya kau lakukan?”, gumam Zero. "Apa kau tidak takut mati? Semua
orang takut pada kematian. Karena tidak ada yang tahu pasti, semua orang takut..."
Dia benar. "Aku juga takut. Tapi ketakutanku pada hidup lebih besar. Hidupku menyakitkan, penuh luka
dan menjijikkan" Aku menghela napas, entah mengapa sesuatu mendadak terasa
berat di dalam paru-paruku. “VanBlood sudah mati, tapi aku tidak merasa lega
atau senang atau apapun. Ini benar-benar aneh. Aku seharusnya lega karena sudah
membalas dendam untuk kematian orang tuaku. Tapi..”
“Tidak ada yang merasa lega setelah membunuh. Untuk
alasan apapun, mengakhiri hidup seseorang bukanlah hal yang benar”
“Tapi kau membunuhnya. Kau mengambil alih peranku untuk
membunuhnya. Bahkan aku yang hanya melihat, tanganku masih gemetar kedinginan.
Tidak mungkin kau tidak merasakan apapun”
“Apa kau lupa, aku terlahir sebagai vampire. Aku bahkan
sudah membunuh seseorang sebelum belajar cara berjalan”
Sampai seperti itukah? Hidup sebagai vampire? “Tapi kau
masih mengingatnya. Kau tidak baik-baik saja”
“Benar. Hidup terus berlanjut, Key. Tidak peduli sebanyak
apa luka yang kau dapat. Semua orang seperti itu” Zero terdiam selama beberapa
saat, mungkin mencerna kata-katanya sendiri. “Katakan padaku, sebenarnya kau
merasa bersalah, benar kan? Kau terus menyalahkan dirimu atasa semua yang
terjadi. Kematian orang tuamu, kau yang hidup sebagai vampire, bahkan
vanBlood..”
“Aku..” Tidak. Aku tidak merasa begitu, benar kan? Mereka
dibunuh oleh vanBlood jadi tidak salah untuk membunuhnya. Tapi, aku masih
hidup, sebagai vampire. Zero benar. Entah mengapa aku merasa semua ini salahku.
Aku tahu tidak ada hubungannya antara kematian ayah dan ibu dan perubahanku.
Tapi dia benar, bahwa aku menyalahkan diriku karena hidup sebagai vampire.
Bahkan jika itu salah vanBlood yang mengubahku, tetap saja kenyataan bahwa aku
masih hidup dan bukannya tetap manusia tapi aku menjadi seorang vampire.
Kenyataan ini benar-benar membunuhku.
"Kau juga korban Key, kau tidak perlu menyiksa
dirimu dengan terus menyalahkan diri sendiri. Kau tidak salah. Kurasa kau harus
belajar memaafkan dirimu sendiri"
Memaafkan diriku sendiri? Lagi-lagi air mataku mulai
meleleh menuruni pipi. “Bagaimana aku bisa melakukannya? Jika kau di posisiku
apakah kau akan memaafkan dirimu sendiri?”
Zero tidak menjawab. Tentu saja, dia juga tidak bisa
membayangkan jika ada di posisiku. Bicara memang mudah. Dasar bodoh!
“Apa kau juga masih merasa haus?”
Ya, aku masih haus. Sangat haus. Dan aku tidak bisa
meminta darah Shane lagi karena terakhir kali aku hampir menguras habis isi
pembuluhnya. “Aku tidak seharusnya mengambil darah Shane. Kau benar, dia tidak
akan bisa memuaskan rasa hausku”
“Tidak ada yang bisa. Satu-satunya yang bisa memuaskan
dahaga vampire adalah darah dari orang yang dicintainya”
“Apa maksudnya? Jadi semua vampire juga terus menahan
haus? Jadi, bagaimana kau menahannya selama ini?”
“Aku meminum banyak darah dan berburu binatang. Binatang
besar seperti beruang memiliki lebih banyak darah. Walaupun baunya tidak
enak..”
Ah, benar juga. Zero selalu memiliki semacam bau darah
yang tidak enak. Vampire lain pun sering mencemoohnya karena bau darah yang
busuk itu. Tapi aku tahu itu bukan milik Zero. "Kau...
kau bilang kau menyukaiku, kan? Itu pasti karena darahku. Kau bahkan terus menyhelamatkan
hidupku karena itu. Kalau kau begitu menginginkan darahku kenapa kau tidak
menghisapnya hingga habis. Jika kau menunggu ijin untuk itu, maka lakukanlah.
Aku mengijinkanya"
Zero mendengus. Terlihat kesal karena ucapanku. "Aku
tidak. Dibandingkan darahmu, aku lebih menyukai keberadaanmu ribuan kali lipat.
Itulah satu-satunya cara vampire bisa menjaga kewarasannya saat jatuh
cinta"
Aku mendongak menatap wajah tanpa ekspresi Zero. Tatapan
kami bertemu. Aku tidak bisa menahan senyumku. Dia pasti bercanda.
"Setidaknya jangan berekspresi sedatar itu, dengan begitu aku bisa sedikit
percaya pada kebohonganmu"
"Kata-kataku tulus, kok. Aku tidak pernah berbohong
padamu" kata Zero enteng kali ini sambil tersenyum.
Kedua mataku membesar. Ah, dia tersenyum! Tidak adil!
Kenapa dia harus memperlihatkan senyum itu? Bagaimana senyumnya bisa seperti
itu? Jantungku melompati beberapa irama detaknya. Aku memalingkan wajahku.
Tidak mengerti kenapa aku memalingkan wajah darinya. Satu-satunya hal yang
kuinginkan saat ini adalah menjadi tidak terlihat olehnya.
“Apa kau kedinginan? Dasar bodoh...”
Zero meraihku dengan lenganya, membopongku keluar dari
sungai. Aku masih tidak bisa menatap wajahnya. Zero menurunkanku setelah
mencapai tepi sungai.
“Uhm...Zero..”
“Apa?”
“Maaf, waktu itu aku membentakmu. Aku tidak bermaksud...”
Zero mengerjap beberapa kali. “Apa? Maksudmu... sekarang
kau tidak masalah atau suka aku menyentuhmu?”
Eh? “Bu-bukan seperti itu... Aku tidak..”
Zero mulai tertawa geli. Matanya yang kecil menjadi
sebuah garis di bawah alis tebalnya. Beberapa anak rambutnya jatuh menutupi
keningnya hingga ke mata. Dia benar-benar seperti orang yang berbeda. Benar sekali, aku belum pernah
melihatnya tertawa. Selama ini apakah dia pernah tertawa? Ada apa dengan Zero?
Kenapa senyumnya dan sekarang tawanya membuatnya terlihat seperti orang yang
benar-benar berbeda. Zero kembali menatapku, aku memalingkan wajahku lagi.
Masih tidak ingin terlihat olehnya.
“Tidak lucu”, kataku pendek.
“Aku cuma bercanda. Tidak perlu canggung begitu” ujar
Zero. “Apakah kau sebegitu bencinya tentang menjadi vampire?”
“Tentu saja” Kenapa dia menanyakan hal yang sudah jelas
begitu?
Ekspresi Zero berubah kaku. Ia melempar pandangan jauh ke
depan. “Jika semisal ada satu cara untuk mengembalikanmu menjadi manusia lagi,
apa kau akan memilihnya?”
“Ya, tentu” Aku mendesah. “Tapi itu tidak ada kan”
“Ada”, ujar Zero, sontak membuatku menatapnya dengan mata
sebesar bola pingpong. “Belum lama ini aku menemukan nashkan penelitian kuno
yang dilakukan pada masa raja pertama vampire. Penelitian terlarang yang
mengubah vampire menjadi manusia”
“Lalu, bagaimana hasilnya?”
“Gagal. Hanya saja, kurasa sedikit lagi bisa berhasil.
Kurasa mereka perlu orang yang tepat sebagai donor”, ujar Zero. “Jadi, jika kau
mau aku akan menjadi donormu dan mengembalikanmu menjadi manusia”
“Donor? Lebih tepatnya apa yang didonorkan?”, tanyaku
curiga.
Zero menatap ke dalam mataku, tanpa ragu. “Hidup”
Sesuatu terasa menohok ulu hatiku. Apa-apaan orang ini?!
Hidup? Apa maksudnya dia bersedia mati untuk mengubahku kembali?! Apa dia
gila?!
“Kau gila! Mana mungkin aku melakukanya kalau begitu?!”, teriakku
kesal.
“Kenapa tidak? Kau ingin menjadi manusia lagi”
“Aku tidak bisa hidup dengan cara mengorbankan orang
lalin seperti itu! Lupakan saja! Dasar bodoh! Harusnya kau tidak pernah
mengatakannya padaku” Aku merajuk. Merasa ditipu. Kalau seperti itu yang harus
dibayarkan, maka aku tidak mau menjadi manusia lagi. Zero memilih diam seribu
bahasa selama beberapa saat. Wajahnya
kembali datar, tanpa ekspresi. Aku tidak tahu apa yang tersembunyi di balik
mata birunya yang cemerlang.
“Ngomong-ngomong apa kau mau menemui orang tuamu sekali
lagi?”
Sontak aku menoleh menghadap Zero. Tidak percaya dengan
yang kudengar. “Apa?! Apa yang kau..?”
“Maksudku dengan roh mereka. Sebenarnya, beberapa
penyihir dapat berkomunikasi dengan roh. Kita bisa minta bantuan..”
Kedua mataku membesar, masih tidak mempercayai
pendengaranku. “Apa kau serius??!”
Zero mengangguk,
meyakinkan. Dia sungguh-sungguh! “Kita bisa ke sana malam ini juga. Tapi kita
perlu pulang dan ganti baju dulu”
Aku mengangguk penuh antusias. “Baiklah. Ayo cepat..”
Zero meraih tanganku, menghentikanku yang mulai melangkah
hendak pulang. Ia memberikan jaketnya padaku. “Pakai itu. Kau tidak akan kemana-mana seperti itu..”, ujarnya
menunjuk bajuku.
kuyup. Nyaris menunjukkan seluruh tubuhku kecuali yang tertutup sweater. Rona
merah mulai muncul di pipiku. Aku cepat-cepat memakai jaket Zero yang tebal dan
sepanjang lutut. Benar-benar berharap menjadi tidak terlihat saat ini.
Tanpa peringatan, Zero kembali membopongku dengan kedua
lenganya. Membuat rona merah di pipiku semakin terasa hangat.
“Apa yang kau lakukan? Aku bisa jalan sendiri..”
“Diamlah. Begini lebih cepat. Kau juga tidak memakai alas
kaki”
Ah, aku lupa. Aku melompat dari kamar dan berjalan ke
sini tanpa repot-repot mencari alas kaki. Aku emnangkupkan kedua mulutku
rapt-rapat. Menunduk menghindari tatapannya. Zero membawaku berlari dengan
super cepat. Tidak butuh lebih dari 3 menit untuk kami sampai di rumah.
***
Penyihir yang kami temui bernama Cornellius Nightowl. Dia
membuka semacam cafe ramalan di lantai dua sebuah hotel bintang 5. Zero dan aku
mengajak Karen untuk datang kemari. Cornellius nampak kegirangan begitu melihat
wajah Zero. Dia bahkan hanya minta dibayar dengan Zero menginap semalam
bersamanya. Jadi kami memesan dua buah kamar suite room di lantai teratas.
Cornelius memanggil roh dengan memasuikkan setetes darahku dan darah Karen ke
dalam sebuah cawan aneh. Kepulan asap berbentuk menyerupai ayah dan ibu pun
tampak terbang di depan kami beberapa saat kemudian.
“Ayah..ibu”, panggilku dan Karen bersamaan.
“Karen, Key!” Ayah dan ibu mencoba meraih kami dengan
tangan transparannya. Kami tak dapat bersentuhan, tangan mereka menembus tubuh
kami.
“Kalian baik-baik saja?”, tanya ibu.
Karen mengangguk, wajahnya sudah dibanjiri air mata.
“Kakak melindungiku, tapi kakak tidak bisa menjadi manusia lagi...”
Ayah dan ibu mengalihkan pandangan mereka padaku. “Maaf..
maafkan aku”
“Apa yang kau katakan, Key. Kamilah yang bersalah, kami
selalu membebankan hal berat padamu. Kau sangat mirip denganku. Jadi seringkali
aku lupa kalau kau anak perempuan dan menganggapmu seperti diriku yang lain. Maaf”, kata Ayah. “Kau tidak menghabiskan waktumenyalahkan diri dan membenci dirimu sendiri kan?”
Aku tidak bisa menjawabnya. Ibu mendekat kepadaku,
mengelus bahuku pelan walau tangannya menembus. "Itu bukan sesuatu untuk
disesali. Aku senang ayah menganggapku begitu"
“Kau sudah berjuang jauh lebih kuat dari siapapun, Key. Sekarang, berjuanglah sedikit lagi
untuk drimu sendiri”
“Ayah hanya ingin melihat kalian berdua hidup bahagia”,
ujar Ayah. "Key, kau terlalu cantik untuk bersikap murung"
Dasar! Ayah masih sempat-sempatnya bercanda di saat seperti ini. Menurut Cornellius,
hanya roh dengan penyesalan yang dapat dipanggil. Jadi aku menanyakan
penyesalan yang dimiliki ayah dan ibu. Mereka memberikan jawaban yang tidak
terduga. Akulah yang paling mereka sesalkan. Ayah merasa ia seharusnya
melidungiku dan Karen hingga kami aman. Sementara ibu menyesal tidak sempat
bilang untuk menjaga diriku sendiri dan hanya berpesan untuk melindungi Karen.
***
Aku membuang napas. Entah kenapa aku tidak bisa tidur.
Memang benar batu pengganjal hatiku terasa sudah dilepas. Tapi rasanya masih
ada yang kurang. Hanya saja aku sendiri tidak mengetahuinya.
“Ayah dan Ibu juga bilang untuk tidak menyalahkan
diri...”, ujar Karen yang sepertinya menangkap kecemasan di raut wajahku.
“Bukan itu”
“Eh?” Karen beringsut, membalik badannya hingga tengkurap
bertumpu di siku lenganya untuk menatapku.
“Kurasa aku sudah baik-baik saja sekarang. Aku tidak akan
bersikap bodoh dan menyiksa diri sendiri lagi. Hanya saja, aku tidak mengantuk”
“Syukurlah kalau begitu” Karen kembali meletakkan
kepalanya di atas bantal. Menguap. “Tapi Kakak tetap harus tidur walau
sebentar. Apa ada yang mengganggu pikiranmu?”
Apa ada yang mengganggu pikiranku? Entahlah. Aku juga
tidak tahu. Selama ini aku selalu mengalami insomnia karena rasa bersalahku dan
karena tiap detik aku tidak bisa berhenti berpikir bahwa semua ini adalah
salahku. Tapi setelah pertemuanku dengan Ayah dan Ibu tadi, rasanya beban berat
yang menghimpit hatiku sudah meleleh. Aku tidak menyalahkan diriku sendiri
lagi. Atau mungkin lebih tepatnya aku mencoba menerima dan memaafkan diriku
sendiri. Karena bagaimanapun bagian kecil dariku masih merasa ini salahku.
Meski begitu, bukan itu yang mengganggu pikiranku. Aku sendiri tidak tahu
kenapa aku tidak bisa tidur. Mungkin sebaiknya aku mengisi perut.
“Aku mau makan” Aku bangun dari ranjang, melangkah ke
dapur.
“Kakak boleh meminum darahku” ujar Karen dengan suara
mengantuk.
“A-apa?!”
“Darahku..”, ulangnya.
“Dasar bodoh. Aku cuma mau makan roti”
“Eh? Benarkah? Aku pikir...”
“Aku tidak akan melakukannya. Maksudku, aku belum
membutuhkanya saat ini. Jadi, tidurlah” Aku membuka kulkas, mengambil beberapa
potong roti dan lembaran keju. Aku menumpuk roti dan keju berselingan hingga
beberapa lapis. Mengembalikan sisa roti ke dalam kulkas.
“Tapi siapa tahu nanti tiba-tiba kakak ingin darah, minum
saja darahku, ok? Aku mau tidur dulu..”
“Kau pikir aku ini vampire apaan, menyerang seseorang
yang sedang tidur?! Hah, yang benar saja. Tidak masuk akal..” Aku terdiam,
terkejut mendengar kata-kataku sendiri. Tidak bisa dipercaya, aku barusan
mengakui diriku sebagai vampire dan kali ini tanpa rasa kelu di ulu hatiku. Dua
tetes air mata menetes dari ujung mataku. Dan aku tertawa.
Karen duduk di ranjang, menatapku dengan senyum
mengembang di wajahnya.
Aku segera menyeka air mataku, menjejalkan sandwich ke
mulutku. Cepat-cepat menghabiskanya. “Aku mau mandi”, ujarku berbalik ke kamar
mandi.
Aku memutar kran, mengalirkan air hangat hingga memenuhi
bak mandi. Setelah mandai dengan shower, aku berendam di bak mandi penuh air
hangat. Sudah cukup lama aku tidak berendam. Aku bahkan tidak pernah
melakukannya lagi sejak berubah menjadi vampire. Dulu aku dan Karen sering
berendam bersama. Benar-benar nyaman. Dan sangat sepi. Karen sudah tertidur aku
tidak bisa mendengar suara apapun selain detak jantung kami.
Aku keluar dari abk mandi setelah air sudha tidak hangat
lagi. Ingat betul kalau vampire juga bisa kedinginan. Bergegas meraih handuk
dan mengambil baju berlengan panjang dan celana pendek dari ruang pakaian.
Setelah mengenakan baju, aku berdiri di depan cermin besar di ruang pakaian
itu, menyisir rambutku sambil emngeringkanya dengan hair dryer. Entah sejak
kapan rambutku menjadi sepanjang pinggang. Bahkan poniku sudah mencapai bawah
hidung. Astaga. Apa selama ini aku tidak pernah bercermin? Aku meraih sebuah
gunting dari laci lemari. Mulai memotong poniku sepanjang alis. Tersenyum kecil. Ayah pasti bercanda, aku sama
sekali tidak terlihat cantik, dilihat dari manapun. Aku benar-benar kacau. Aku
menyisir ujung rambutku, memotongnya sepanjang punggung. Sebenarnya aku ingin
mencoba potongan pendek. Tapi, Karen memotong pendek rambutnya beberapa waktu
lalu untuk menjadi berbeda. Aku tidak boleh menyamainya yang ingin berbeda
dariku. Selesai.
Jam di dinding menunjukkan angka 4 sewaktu aku kembali ke
kamar. Tidak terasa sudah mau pagi. Dan aku sama sekali tidak mengantuk. Karen
masih lelap di atas ranjang. Tiba-tiba aku merasa ingin pergi ke atap, mungkin
melihat matahari pagi muncul bukan ide yang buruk. Aku kembali ke ruang
pakaian. Meraih sebuah jaket berwarna kuning lemon. Bergegas membuka pintu.
“Astaga!”, seru Cornelius tertahan. Dia hampir menabrakku
waktu bergegas keluar dari kamarnya. “Aku benar-benar kaget. Apa yang kau
lakukan pagi-pagi begini? Apa kau juga tidak tidur semalaman? Astaga! Aku
benar-benar lelah. Zero dan aku menghabiskan malam bersama tanpa tidur
sedetikpun”, ujarnya panjang lebar. Aku tidak yakin apa dia benar-benar berniat mengajukan pertanyaan atau hanya memberi
info. Cornelius mealnjutkan jalanya tanpa menunggu responku sama sekali. Bahkan
dia terlihat tergesa-gesa.
Aku baru mulai berjalan ketika pintu di depan kamarku
kembali terbuka. Zero keluar dari sana, menggaruk rambutnya yang acak-acakan.
Astaga,apa dia benar-benar tidak tidur? Apa saja yang
sebenarnya mereka lakukan? Mungkinkah...??
PUKK! Tangan Zero
menimpa bagian depan kepalaku.
“Jangan berpikir yang aneh-aneh”, gumamnya. “Dia terus
mengoceh sepanjang
malam, karena itu kami tidak tidur. Aku tidak menyangka kau menelan ucapan
Cornelius mentah-mentah. Dia selalu membuat dirinya seperti seorang gai” Zero
mengacak-acak rambutku, lantas berlalu pergi.
A-apa yang barusan itu? Apa wajahku benar-benar menyiratkan
pikiran aneh bahwa mereka sepasang gai? Astaga! Aku merasakan dua pipiku
berubah menjadi hangat. Benar-benar memalukan. Aku salah paham gara-gara perkataan
Cornelius. Kenapa juga dia membuat orang lain berpikiran yang tidak-tidak. Aku
mendengus kesal. Berusaha melupakan apa yang baru terjadi. Melanjutkan jalan ke atap.
Seseorang sudah ada di sana, berdiri bersandar di pagar
tepi atap. Aku bisa mengenali punggung dan tengkuknya. Zero. Kenapa dia ada di
sini? Hening. Aku berdiri sekitar satu meter di sampingnya. Menunggu matahari
terbit.
“Uhm...Zero, terimakasih”
“Tidak perlu”
“Kau tidak suka datang ke sini, tapi kau menemui
Cornelius karenaku. Dan untuk kesempatan bicara dengan orang tuaku. Karena itu
aku benar-benar berterimakasih. Selama ini aku hanya merepotkan dan terus
bersikap bodoh. Kalian semua selalu menolongku, aku bahkan belum berterimakasih”
“Kau bisa berterimakasih pada mereka, tapi bisakah tidak
melakukanya padaku? Aku tidak suka. Apapun itu, tidak perlu merasa terbebani”
“Kenapa begitu?”
“Karena aku inginnya begitu”
Aku mendesah pelan. “Apa-apaan itu? kau selalu melakukan
apapun semaumu..”
“Memang”
Menyebalkan. Dia malah mengakuinya dengan enteng. Zero
memang selalu begini. Melakukan apapun semaunya sendiri. “Tapi..”
“Ah! Lihat itu!”, ujar Zero setengah berseru, memotong
perkataanku. “Mataharinya muncul”
Aku mengikuti arah yang ditunjuknya, jauh di ufuk timur
sana. Zero benar, matahari mulai bergerak naik. Berkas cahanya yang kuning
jingga mulai menyeruak di antara awan-awan tipis di atas langit. Menimpa
sepetak demi sepetak hutan di batas kota. Pagi yang cantik.
***