
Aku sudah hampir berontak lebih keras saat mengenali
sepasang mata biru topaz cemerlangitu. Zero! Mataku membesar, tak percaya melihat Zero di
sini. Apa yang dilakukanya? Apa dia mau menyerangku? Zero menyingkirkan
tangannya dari mulutku. Dia mulai sibuk dengan tali yang mengikatku
“Apa yang kau lakukan?”
Zero tidak merespon.
“Hentikan! Kau tidak boleh melakukan ini! Zero! Apa yang mau kau
lakukan?”
“Mengeluarkanmu”
“Apa?! Apa kau gila?!! Kau bisa dihukum nanti! Cepat
pergilah dari sini!!”
“Aku tidak peduli”, ujarnya. Dia sudah selesai melepaskan
ikatanku. “Kau bisa berdiri?”
Aku mengangguk. Mencoba berdiri. Lututku sedikit gemetar,
tapi Zero meraih pinggangku sebelum aku terjatuh. Ia membantuku berdiri.
“Ayo pergi”
Ah, orang ini gila! Aku bahkan tidak mengerti kenapa aku
menurut dan mengikutinya. Arion terlihat berjaga di dekat gerbang. Mereka
memukul penjaga di gerbang dan membajak alarm keamanan. Tapi sepertinya kepala sekolah punya
keamanan cadangan. Kami keluar lewat gerbang belakang, berlari masuk ke hutan.
Kami memutuskan untuk menghabiskan malam di hutan itu. Tahu betul jika kembali ke rumah harus menghadapi amarah prof. Quinton.
“Kenapa kalian datang? Kalian akan dapat masalah
karenaku”
“Tidak akan. Percaya padaku”, kata Arion. Iamemberikan sebuah senyum menenangkan.
“Terimakasih”, ujarku nyaris seperti bisikan.
“Ayolah, Key. Itulah gunanya teman, bukan?”
Kami membuat api unggun dan tidur dengan mengitarinya.
Arion meminjamkan jaketnya padaku. Kupikir berkat itu aku tidak tidur dengan
kedinginan. Tapi ketika terbangun paginya aku melihat kaos Zero menyelimuti kakiku. Zero masih tidur sambil
meringkuk menekuk lutut. Dia tidur
bertelanjang dada semalaman,
pasti kedinginan. Aku menyelimutinya dengan kaos Zero dan jaket Arion, lalu berjalan ke arah sungai. Matahari belum bangun,
dan hutan masih lelap. Aku menarik napas dalam-dalam, memasukkan
sebanyak mungkin udara pagi ke paru-paruku. Berharap bisa menyegarkan pikiranku
yang kacau belakangan. Kemarin aku
pikir aku akan mati di dalam ruangan itu. Siapa sangka mereka akan
membebaskanku? Teman, kata Arion.Sebulir air mata menggelinding dari ujung mataku. Aneh
sekali. Ada apa denganku? Bukankah tadi aku berpikir lebih baik mati di sana?
Aku segera mengusap air mataku demi mendengar suara langkah kaki Zero mendekat.
“Kau kedinginan?”, tanyanya.
“Uh...tidak” Bukankah dia yang kedinginan? “Bagaimana
denganmu? Bukankah kau kedinginan tidur seperti itu?”
“Sedikit”
Bohon. Dia kedinginan. Bibirnya bahkan berubah ungu. Aku melipat bibirku menahan tawa. Tapi aku tidak bertanya
lebih lanjut.
“Tanda di lenganmu, apakah itu sakit?”
Aku mengangkat lengan kiriku, memperhatikan bekas luka merah akibat panah misterius
tempo hari. "Tidak sakit. Hanya saja warnanya menebal"
"Aku melihatnya semalam. Itu simbol phoenix", ujarnya. "Seorang kakek tua
memberikan busur itu padaku. Katanya bahkan setelah berabad-abad berlalu dia
tidak bisa menggunakannya ataupun menemukan orang yang bisa. Menurutnya aku
mungkin bisa menggunakannya atau setidaknya menemukan seseorang yang bisa. Aku
tidak bisa menggunakannya. Baguslah jika kau bisa"
"Kau tidak bisa? Kenapa?”
tentang busur phoenix. Penggunanya adalah seorang elf bernama Lakeesha. Dia
bertarung di garis depan demi keluarganya. Hanya dia yang bisa menggunakan
busur phoenix. Busur dengan panah api itu. Konon, hanya orang yang paling berani yang menjadi
penggunanya”, ujar Zero yang kini berjongkok di tepi sungai, bersiap mengambil
air dengan kedua tanganya. “Aku bukan orang yang berani”,
ujarnya lantas membasuh muka dengan air sungai.
Tidak yakin bagaimana harus menanggapi, aku hanya diam
selama beberapa saat memperhatikan air yang menetes dari dagu Zero saat ia
membasuh wajahnya. Air itu memantulkan sinar mentari lembut, membasahi sebagian
rambut pirang Zero lalu menuruni tepi garis rahangnya yang tegas. Di saat seperti ini, dia tidak terlalu menyebalkan,
batinku.
“Busur itu memilihmu, Key”, kata Zero. “Tanda itu
kemungkinan tanda penggunanya. Kau bisa mencoba memanggilnya”
“Memanggil?”
Zero mengangguk. “Kalau dia sungguh memilihmu, dia akan datang”
Sebenarnya aku tidak terlalu paham, tapi tidak ada
salahnya mencoba. Aku kembalimengangkat lengan kiriku, memperhatikan tanda merah di
dekat pergelangan tangan. Dan aku memanggilnya, “Datanglah”
Tidak ada yang terjadi. Hening. Suara angin sepoi menyapa
dedaunan dan meniupnya jatuh terdengar.
Beberapa saat kemudian, sesuatu memecah suara angin itu. Sesuatu datang ke arah
kami. Itu busur phoenix! Dan entah bagaimana busur itu nampak terbang seperti
burung. Busur phoenix mendarat di tangan kiriku. Aku memegangnya pelan. Dan
seperti sebelumnya, api merah menyala dari busur itu. Anehnya, kali ini api itu
sama sekali tidak panas, bahkan tidak membakarku. Aku menoleh menatap Zero yang
memasang sebuah senyum yang tampak asing di wajah tanpa ekspresinya. Dia mengangguk. Aku
memegang busur itu pada posisi untuk membidik, menarik api dari tali busur.
Ajaib! Api itu sungguh dapat kutarik dan berubah menjadi anak panah. Aku
membidik sebatang pohon kecil yang sudah kehilangan semua daunnya. Anak panah
api itu melesat, cepat dan tepat. Membakar pohon kecil itu.
“Astaga! Busur apa itu?!”, seru Arion yang baru
terbangun.Ia berlari kecil ke arah kami.
Zero memberitahu Arion bahwa yang kupegang adalah busur phoenix, dan busur itu
sekarang milikku.
***
Karen menyambut kami dengan senyuman lebar sambil
menawarkan sarapan. Ia sama sekali tidak terlihat khawatir. Arion menceritakan
bagaimana kami melarikan diri. Shine berkata bahwa prof. Quinton datang dan
menitipkan pesan untuk Zero, memintanya menemuinya pagi ini. Ini tidak terduga,
kenapa prof. Quinton memanggil Zero dan bukan aku. Seolah kepala sekolah sudah
tahu Zero akan mengeluarkanku dari ruang isolasi. Shine yang khawatir
menawarkan akan menemaninya tapi Zero menolak sambil berkata enteng, “Aku tidak
akan terbunuh”.
Entah bagaimana dia membereskan masalah dengan prof
Quinton, aku bahkan mendapat izin untuk tidak masuk sekolah selama seminggu.
“Bagaimana dia melakukanya?”, tanyaku penasaran. Teringat
bagaimana geramnya prof. Quinton mengenai aku yang kehilangan kendali.
Shine mengangkat kedua bahunya. “Entah. Katanya dia hanya
bernegosiasi”
“Negosiasi?”, ulangku tak habis pikir. Negosiasi macam
apa itu? maksudku apa yang bisa dinegosiasikan di sini? Jelas-jelas semuanya
terjadi karena aku menolak minum darah.
***