The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 12 Asa (part 2)



Aku sudah hampir berontak lebih keras saat mengenali


sepasang mata biru topaz cemerlangitu. Zero! Mataku membesar, tak percaya melihat Zero di


sini. Apa yang dilakukanya? Apa dia mau menyerangku? Zero menyingkirkan


tangannya dari mulutku. Dia mulai sibuk dengan tali yang mengikatku


“Apa yang kau lakukan?”


Zero tidak merespon.


“Hentikan! Kau tidak boleh melakukan ini! Zero! Apa yang mau kau


lakukan?”


“Mengeluarkanmu”


“Apa?! Apa kau gila?!! Kau bisa dihukum nanti! Cepat


pergilah dari sini!!”


“Aku tidak peduli”, ujarnya. Dia sudah selesai melepaskan


ikatanku. “Kau bisa berdiri?”


Aku mengangguk. Mencoba berdiri. Lututku sedikit gemetar,


tapi Zero meraih pinggangku sebelum aku terjatuh. Ia membantuku berdiri.


“Ayo pergi”


Ah, orang ini gila! Aku bahkan tidak mengerti kenapa aku


menurut dan mengikutinya. Arion terlihat berjaga di dekat gerbang. Mereka


memukul penjaga di gerbang dan membajak alarm keamanan. Tapi sepertinya kepala sekolah punya


keamanan cadangan. Kami keluar lewat gerbang belakang, berlari masuk ke hutan.


Kami memutuskan untuk menghabiskan malam di hutan itu. Tahu betul jika kembali ke rumah harus menghadapi amarah prof. Quinton.


“Kenapa kalian datang? Kalian akan dapat masalah


karenaku”


“Tidak akan. Percaya padaku”, kata Arion. Iamemberikan sebuah senyum menenangkan.


“Terimakasih”, ujarku nyaris seperti bisikan.


“Ayolah, Key. Itulah gunanya teman, bukan?”


Kami membuat api unggun dan tidur dengan mengitarinya.


Arion meminjamkan jaketnya padaku. Kupikir berkat itu aku tidak tidur dengan


kedinginan. Tapi ketika terbangun paginya aku melihat kaos Zero menyelimuti kakiku. Zero masih tidur sambil


meringkuk menekuk lutut.  Dia tidur


bertelanjang dada semalaman,


pasti kedinginan. Aku menyelimutinya dengan kaos Zero dan jaket Arion, lalu berjalan ke arah sungai. Matahari belum bangun,


dan hutan masih lelap. Aku menarik napas dalam-dalam, memasukkan


sebanyak mungkin udara pagi ke paru-paruku. Berharap bisa menyegarkan pikiranku


yang kacau belakangan. Kemarin aku


pikir aku akan mati di dalam ruangan itu. Siapa sangka mereka akan


membebaskanku? Teman, kata Arion.Sebulir air mata menggelinding dari ujung mataku. Aneh


sekali. Ada apa denganku? Bukankah tadi aku berpikir lebih baik mati di sana?


Aku segera mengusap air mataku demi mendengar suara langkah kaki Zero mendekat.


“Kau kedinginan?”, tanyanya.


“Uh...tidak” Bukankah dia yang kedinginan? “Bagaimana


denganmu? Bukankah kau kedinginan tidur seperti itu?”


“Sedikit”


Bohon. Dia kedinginan. Bibirnya bahkan berubah ungu. Aku melipat bibirku menahan tawa. Tapi aku tidak bertanya


lebih lanjut.


“Tanda di lenganmu, apakah itu sakit?”


Aku mengangkat lengan kiriku, memperhatikan bekas luka merah akibat panah misterius


tempo hari. "Tidak sakit. Hanya saja warnanya menebal"


"Aku melihatnya semalam. Itu simbol phoenix", ujarnya. "Seorang kakek tua


memberikan busur itu padaku. Katanya bahkan setelah berabad-abad berlalu dia


tidak bisa menggunakannya ataupun menemukan orang yang bisa. Menurutnya aku


mungkin bisa menggunakannya atau setidaknya menemukan seseorang yang bisa. Aku


tidak bisa menggunakannya. Baguslah jika kau bisa"


"Kau tidak bisa? Kenapa?”


tentang busur phoenix. Penggunanya adalah seorang elf bernama Lakeesha. Dia


bertarung di garis depan demi keluarganya. Hanya dia yang bisa menggunakan


busur phoenix. Busur dengan panah api itu. Konon, hanya orang yang paling berani yang menjadi


penggunanya”, ujar Zero yang kini berjongkok di tepi sungai, bersiap mengambil


air dengan kedua tanganya. “Aku bukan orang yang berani”,


ujarnya lantas membasuh muka dengan air sungai.


Tidak yakin bagaimana harus menanggapi, aku hanya diam


selama beberapa saat memperhatikan air yang menetes dari dagu Zero saat ia


membasuh wajahnya. Air itu memantulkan sinar mentari lembut, membasahi sebagian


rambut pirang  Zero lalu menuruni tepi garis rahangnya yang tegas. Di saat seperti ini, dia tidak terlalu menyebalkan,


batinku.


“Busur itu memilihmu, Key”, kata Zero. “Tanda itu


kemungkinan tanda penggunanya. Kau bisa mencoba memanggilnya”


“Memanggil?”


Zero mengangguk. “Kalau dia sungguh memilihmu, dia akan datang”


Sebenarnya aku tidak terlalu paham, tapi tidak ada


salahnya mencoba. Aku kembalimengangkat lengan kiriku, memperhatikan tanda merah di


dekat pergelangan tangan. Dan aku memanggilnya, “Datanglah”


Tidak ada yang terjadi. Hening. Suara angin sepoi menyapa


dedaunan dan meniupnya jatuh  terdengar.


Beberapa saat kemudian, sesuatu memecah suara angin itu. Sesuatu datang ke arah


kami. Itu busur phoenix! Dan entah bagaimana busur itu nampak terbang seperti


burung. Busur phoenix mendarat di tangan kiriku. Aku memegangnya pelan. Dan


seperti sebelumnya, api merah menyala dari busur itu. Anehnya, kali ini api itu


sama sekali tidak panas, bahkan tidak membakarku. Aku menoleh menatap Zero yang


memasang sebuah senyum yang tampak asing di wajah tanpa ekspresinya. Dia mengangguk. Aku


memegang busur itu pada posisi untuk membidik, menarik api dari tali busur.


Ajaib! Api itu sungguh dapat kutarik dan berubah menjadi anak panah. Aku


membidik sebatang pohon kecil yang sudah kehilangan semua daunnya. Anak panah


api itu melesat, cepat dan tepat. Membakar pohon kecil itu.


“Astaga! Busur apa itu?!”, seru Arion yang baru


terbangun.Ia berlari kecil ke arah kami.


Zero memberitahu Arion bahwa yang kupegang adalah busur phoenix, dan busur itu


sekarang milikku.


***


Karen menyambut kami dengan senyuman lebar sambil


menawarkan sarapan. Ia sama sekali tidak terlihat khawatir. Arion menceritakan


bagaimana kami melarikan diri. Shine berkata bahwa prof. Quinton datang dan


menitipkan pesan untuk Zero, memintanya menemuinya pagi ini. Ini tidak terduga,


kenapa prof. Quinton memanggil Zero dan bukan aku. Seolah kepala sekolah sudah


tahu Zero akan mengeluarkanku dari ruang isolasi. Shine yang khawatir


menawarkan akan menemaninya tapi Zero menolak sambil berkata enteng, “Aku tidak


akan terbunuh”.


Entah bagaimana dia membereskan masalah dengan prof


Quinton, aku bahkan mendapat izin untuk tidak masuk sekolah selama seminggu.


“Bagaimana dia melakukanya?”, tanyaku penasaran. Teringat


bagaimana geramnya prof. Quinton mengenai aku yang kehilangan kendali.


Shine mengangkat kedua bahunya. “Entah. Katanya dia hanya


bernegosiasi”


“Negosiasi?”, ulangku tak habis pikir. Negosiasi macam


apa itu? maksudku apa yang bisa dinegosiasikan di sini? Jelas-jelas semuanya


terjadi karena aku menolak minum darah.


***