
Kemarin aku meminta Shine dan Shane agar aku bisa membantu misi mereka.
Awalnya kupikir mereka akan membiarkanku ikut tanpa syarat mengingat mereka
tampak kewalahan. Belakangan ini hampir setiap hari mereka medapat misi. Katanya,
jumlah madvampire bertambah banyak di berbagai tempat. Tapi Shine menolak
tawaranku.
“Kami tidak bisa melibatkan orang di luar organisasi”, ujar Shine.
Aku tidak mengerti. Bukanya mereka selalu menerima bantuan Zero. “Bukanya
kalian sering membawa Zero”
“Iya sih. Cuma kali ini kami sedang waspada pada semua kemugkinan. Melibatknamu
dalam misi bisa membuat kami terkena masalah”
“Tapi jika tidak ada yang tahu, bukanya tidak apa-apa”, tanya Shane.
Shine tampak berpikir sebentar, menimbang. “Sebenarnya ada hal lain yang
lebih bisa kau bantu daripada terjun ke lapangan”
“Apa?”
“Menggali informasi”
“Shine!”, seru Shane. Kelihatanya dia tidak meyangka Shine akan mengatakanya.
“Tidak apa-apa kan. Kita memang butuh informasi sebanyak-banyaknya tetang
pangeran vampire itu. Dan Arion kelihatanya bekerja di istana, jadi tidak mugkin
dia tidak tahu apapun”
Sudah kuduga, Shine memang selalu bersikap
santai dan terbuka tapi sebenarnya dia lebih banyak memikirkan berbagai kemungkinan.
Shane yang dari luar terlihat lebih waspada justru masih kalah dari Shine.
“Walau begitu kau tidak boleh memita Key menggali informasi darinya.
Walau terlihat ramah, dia itu tetap vampire yang kuat”
“Shane, tidak apa-apa. Kurasa aku bisa melakukanya”
“Tidak Key. Jika terjadi sesuatu dan Arion marah..”
“Tidak masalah. Arion sangat terbuka padaku. Shine benar, kalian bisa
mendapat informasi darinya”, ujarku. Shie tampak terseyum menag. “Tapi jika aku
membawakan informasi berharga, kalian harus membawaku ke misi selajutnya”
Shane menatapku seolah tak percaya pada yang kukatakan. Sementara Shine
kelihatan sudah menduganya. Aku ingin mengamati madvampire dan mencoba melawanya
untuk mengukur kemampuanku saat ini. Shine mengangguk menyetujui. Misi itu tidak
sulit untukku, apalagi Arion datang sendiri ke rumah Zero. Kami masih belum
meyelesaikan persiapan remidi Arion.
“Kita sudahi dulu untuk hari ini”, kata Arion, membuatku berhenti mencari
soal latihan lain. “Key, kau mau main pedang sebentar? Duduk belajar membuat badanku
kaku”
“Kenapa tidak”, ujarku menyrtujui usulnya.
Kami pun segera mengambil pedang dan pergi ke halaman samping.
"Arion, ada yang membuatku
penasaran...kenapa kalian hanya memakai satu pedang?"
"Hmm? Habisnya sulit kalau 2", ujar
Arion. "Kalau aku sih begitu. Soalnya aku butuh satu tangan untuk
menggunakan kekuatanku"
"Oh... Lalu kalau vampire yang tidak punya
kekuatan sepertimu?"
"Aku tidak tahu. Tapi memakai 2 pedang itu
tidak gampang. Kau harus menggerakkan keduanya sekaligus kan. Apa kau mau
mencobanya?"
"Entahlah... Aku cuma berpikir aku mungkin
bisa. Tapi tidak untuk sekarang"
Arion tersenyum mendengarnya. Sepertinya aku
mengambil keputusan yang tepat. Aku masih belum tahu sejago apa seorang vampire
saat menggunakan pedang dalam pertarungan sesungguhnya. Waktu itu aku memang
melihat Zero, tapi rasanya dia belum mengeluarkan seluruh kemampuanya. Arion
juga tidak pernah serius saat berlatih.
Itu benar. Arion memang ramah dan sangat baik,
tapi dia tidak bodoh. Jadi kurasa tidak apa-apa menggali info darinya. Kalau
Arion menyimpan sebuah rahasia maka kemungkinan dia cuma akan bilang kalau dia
tidak bisa memberitahuku.
"Arion.."
"Hm?"
"Kau tidak mencari pangeranmu?",
tanyaku. "Ada rumor kalau dia ada di Humphire"
"Ah...aku juga mendengarnya. Kau penasaran
kabar itu benar atau tidak?"
Aku mengangguk. "Kau juga pernah bilang
dia mungkin ada di sana"
"Benar. Banyak yang percaya kabar itu"
"Kau tidak percaya"
Arion mengangkat kedua bahunya. "Entahlah.
Aku juga tidak yakin"
"Sebelum menghilang, seperti apa orangnya?"
"Dia berkulit pucat, tinggi dan berambut
di muka umum, dia cukup berantakan, tidak mencuci wajah atau rambut
berhari-hari" Arion mengatakanya begitu saja.
"Eh? Di luar dugaan, dia kedengaranya
mirip Zero"
Tawa Arion meledak. "Apa menurutmu
begitu?"
Aku mengangguk. "Kau yakin tidak salah?
Jika pangeran kalian orang seperti Zero maka masa depan vampire pasti
suram"
Aku ikutan tertawa bersama Arion.
"Aku tidak percaya aku
menertawakanya", ujar Arion sambil menutup wajahnya. Aku tidak yakin
apakah dia merasa menyesal atau miris.
"Mungkinkah kau akan dihukum karena
menertawai pangeran"
"Mungkin" Arion masih terkikik. Entah
dia bercanda atau tidak. "Kau mau mencoba mencarinya?"
"Buat apa aku mencarinya"
"Yah...mungkin saja dia sedang mencari
calon ratu" Arion kembali terkekeh.
"Kau sendiri, kenapa tidak mencarinya?
Padahal kau pengikutnya. Setidaknya bukankah seharusnya kau memastikan
kebenaran rumor itu?"
Arion menghela napas panjang. "Saat ini
aku tidak datang ke permukaan untuk pangeran. Aku datang hanya untuk menemui
temanku"
Sesuatu di ulu hatiku terasa lengser. Menyesal
mengajukan pertanyaan itu pada Arion. Sejak awal Arion memang bilang dia ingin
mengajak Zero pulang.
"Dia sepertinya akan terus bersikap dingin
padamu"
Arion tersenyum. "Memang begitu
orangnya", katanya enteng. "Tapi di dalamnya hangat kok. Lagipula aku
sudah berjanji pada ibunya untuk membawanya pulang"
Lihatlah. Dia begitu tulus. Dia datang kemari
cuma untuk seorang teman yang terus mengacuhkanya. Biar begitu Arion tidak
menyesal, dia juga tidak menyerah. Sudah begitu, dia selalu menyempatkan diri
untuk membantuku. Arion bahkan menjawab semua pertanyaanku tanpa curiga.
Aku mendesah. Arion terlalu baik. "Kalau
ada yang bisa kubantu, katakan saja", ujarku.
Arion menoleh menatapku. Tampak tak menyangka
akan mendengarku mengatakanya. Yah, walau aku sendiri ragu aku bisa
membantunya. Arion yang selalu bersikap baik saja diacuhkan Zero. Mana mungkin
orang yang selalu bertengkar denganya akan didengarkan. Tapi itu Zero. Arion
beda. Alih-alih mengomentari ataupun mencela tawaran sia-sia ku, Arion
mengangguk dengan sebuah sneyum lebar.
"Tentu saja", katanya.
***
Aku tidak pernah bicara dengan Zero, sejak pertengkaran waktu itu.
Malah aku juga nyaris tidak bicara pada Karen. Anak itu, dia benar-benar bergabung
ke organisasi hunter. Shine membuatnya diterima sebagai magang dengan memberitahukan
tetang bakat Karen. Dan ya, tepat seperti dugaanya pengliahtan masa depan Karen
sangat berguna dalam berbagai misi. Apalagi akibat meningkatnya populasi
madvampire belakagan ini. Aku jadi tidak tahan hanya berdiam diri. Makanya aku
mengajukan diri untuk ikut membantu juga.
“Kau mengkhawatirkan Karen?”, tanya Shane.
“Yah...Dia tidak mau mendengarkan orang lain”
“Bukanya kau juga sama”, ledek Shane, membuatku medegus kesal. “Dia ada
di pusat pegaturan strategi, tidak di garis depan. Dan Shine menemaninya”
Dia sudah pernah mengatakanya. Tapi meskipun tidak di garis depan,
tempat itu tetaplah medan perang. Dan lagi, vampire tidak bodoh. Saat mereka
megetahui lokasiya, tamatlah sudah. Bahkan hunter belum berhasil menemukan
lokasi vanBlood setelah berbulan-bulan. Aku memberi tahu Shane apa yang kudapat
dari Arion.
“Dia pasti bohong. Dia juga mencari pangeran itu”, ujar Shane.
Aku menggeleng. “Arion tidak berbohong”
Shane tidak setuju dan menganggapku tidak punya alasan
logis untuk mempercayai Arion. Dia tidak sepenuhnya salah. Aku yakin Arion
tidak berbohong karena aku mengenalnya. Tapi bukan cuma itu. Sepertinya jauh di
dalam hatiku, aku juga ingin mempercayainya. Dan meski tidak pantas untuk orang sepertiku, rupanya
aku ingin menyebut Arion sebagai teman. Setidaknya aku tidak akan
memanfaatkanya untuk menggali informasi lagi