The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 15 Untuk Seorang Teman (part 2)



Kemarin aku meminta Shine dan Shane agar aku bisa membantu misi mereka.


Awalnya kupikir mereka akan membiarkanku ikut tanpa syarat mengingat mereka


tampak kewalahan. Belakangan ini hampir setiap hari mereka medapat misi. Katanya,


jumlah madvampire bertambah banyak di berbagai tempat. Tapi Shine menolak


tawaranku.


“Kami tidak bisa melibatkan orang di luar organisasi”, ujar Shine.


Aku tidak mengerti. Bukanya mereka selalu menerima bantuan Zero. “Bukanya


kalian sering membawa Zero”


“Iya sih. Cuma kali ini kami sedang waspada pada semua kemugkinan. Melibatknamu


dalam misi bisa membuat kami terkena masalah”


 “Tapi jika tidak ada yang tahu, bukanya tidak apa-apa”, tanya Shane.


Shine tampak berpikir sebentar, menimbang. “Sebenarnya ada hal lain yang


lebih bisa kau bantu daripada terjun ke lapangan”


“Apa?”


“Menggali informasi”


“Shine!”, seru Shane. Kelihatanya dia tidak meyangka Shine akan mengatakanya.


“Tidak apa-apa kan. Kita memang butuh informasi sebanyak-banyaknya tetang


pangeran vampire itu. Dan Arion kelihatanya bekerja di istana, jadi tidak mugkin


dia tidak tahu apapun”


Sudah kuduga, Shine memang selalu bersikap


santai dan terbuka tapi sebenarnya dia lebih banyak memikirkan berbagai kemungkinan.


Shane yang dari luar terlihat lebih waspada justru masih kalah dari Shine.


“Walau begitu kau tidak boleh memita Key menggali informasi darinya.


Walau terlihat ramah, dia itu tetap vampire yang kuat”


“Shane, tidak apa-apa. Kurasa aku bisa melakukanya”


“Tidak Key. Jika terjadi sesuatu dan Arion marah..”


“Tidak masalah. Arion sangat terbuka padaku. Shine benar, kalian bisa


mendapat informasi darinya”, ujarku. Shie tampak terseyum menag. “Tapi jika aku


membawakan informasi berharga, kalian harus membawaku ke misi selajutnya”


Shane menatapku seolah tak percaya pada yang kukatakan. Sementara Shine


kelihatan sudah menduganya. Aku ingin mengamati madvampire dan mencoba melawanya


untuk mengukur kemampuanku saat ini. Shine mengangguk menyetujui. Misi itu tidak


sulit untukku, apalagi Arion datang sendiri ke rumah Zero. Kami masih belum


meyelesaikan persiapan remidi Arion.


“Kita sudahi dulu untuk hari ini”, kata Arion, membuatku berhenti mencari


soal latihan lain. “Key, kau mau main pedang sebentar? Duduk belajar membuat badanku


kaku”


“Kenapa tidak”, ujarku menyrtujui usulnya.


Kami pun segera mengambil pedang dan pergi ke halaman samping.


"Arion, ada yang membuatku


penasaran...kenapa kalian hanya memakai satu pedang?"


"Hmm? Habisnya sulit kalau 2", ujar


Arion. "Kalau aku sih begitu. Soalnya aku butuh satu tangan untuk


menggunakan kekuatanku"


"Oh... Lalu kalau vampire yang tidak punya


kekuatan sepertimu?"


"Aku tidak tahu. Tapi memakai 2 pedang itu


tidak gampang. Kau harus menggerakkan keduanya sekaligus kan. Apa kau mau


mencobanya?"


"Entahlah... Aku cuma berpikir aku mungkin


bisa. Tapi tidak untuk sekarang"


Arion tersenyum mendengarnya. Sepertinya aku


mengambil keputusan yang tepat. Aku masih belum tahu sejago apa seorang vampire


saat menggunakan pedang dalam pertarungan sesungguhnya. Waktu itu aku memang


melihat Zero, tapi rasanya dia belum mengeluarkan seluruh kemampuanya. Arion


juga tidak pernah serius saat berlatih.


Itu benar. Arion memang ramah dan sangat baik,


tapi dia tidak bodoh. Jadi kurasa tidak apa-apa menggali info darinya. Kalau


Arion menyimpan sebuah rahasia maka kemungkinan dia cuma akan bilang kalau dia


tidak bisa memberitahuku.


"Arion.."


"Hm?"


"Kau tidak mencari pangeranmu?",


tanyaku. "Ada rumor kalau dia ada di Humphire"


"Ah...aku juga mendengarnya. Kau penasaran


kabar itu benar atau tidak?"


Aku mengangguk. "Kau juga pernah bilang


dia mungkin ada di sana"


"Benar. Banyak yang percaya kabar itu"


"Kau tidak percaya"


Arion mengangkat kedua bahunya. "Entahlah.


Aku juga tidak yakin"


"Sebelum menghilang, seperti apa orangnya?"


"Dia berkulit pucat, tinggi dan berambut


di muka umum, dia cukup berantakan, tidak mencuci wajah atau rambut


berhari-hari" Arion mengatakanya begitu saja.


"Eh? Di luar dugaan, dia kedengaranya


mirip Zero"


Tawa Arion meledak. "Apa menurutmu


begitu?"


Aku mengangguk. "Kau yakin tidak salah?


Jika pangeran kalian orang seperti Zero maka masa depan vampire pasti


suram"


Aku ikutan tertawa bersama Arion.


"Aku tidak percaya aku


menertawakanya", ujar Arion sambil menutup wajahnya. Aku tidak yakin


apakah dia merasa menyesal atau miris.


"Mungkinkah kau akan dihukum karena


menertawai pangeran"


"Mungkin" Arion masih terkikik. Entah


dia bercanda atau tidak. "Kau mau mencoba mencarinya?"


"Buat apa aku mencarinya"


"Yah...mungkin saja dia sedang mencari


calon ratu" Arion kembali terkekeh.


"Kau sendiri, kenapa tidak mencarinya?


Padahal kau pengikutnya. Setidaknya bukankah seharusnya kau memastikan


kebenaran rumor itu?"


Arion menghela napas panjang. "Saat ini


aku tidak datang ke permukaan untuk pangeran. Aku datang hanya untuk menemui


temanku"


Sesuatu di ulu hatiku terasa lengser. Menyesal


mengajukan pertanyaan itu pada Arion. Sejak awal Arion memang bilang dia ingin


mengajak Zero pulang.


"Dia sepertinya akan terus bersikap dingin


padamu"


Arion tersenyum. "Memang begitu


orangnya", katanya enteng. "Tapi di dalamnya hangat kok. Lagipula aku


sudah berjanji pada ibunya untuk membawanya pulang"


Lihatlah. Dia begitu tulus. Dia datang kemari


cuma untuk seorang teman yang terus mengacuhkanya. Biar begitu Arion tidak


menyesal, dia juga tidak menyerah. Sudah begitu, dia selalu menyempatkan diri


untuk membantuku. Arion bahkan menjawab semua pertanyaanku tanpa curiga.


Aku mendesah. Arion terlalu baik. "Kalau


ada yang bisa kubantu, katakan saja", ujarku.


Arion menoleh menatapku. Tampak tak menyangka


akan mendengarku mengatakanya. Yah, walau aku sendiri ragu aku bisa


membantunya. Arion yang selalu bersikap baik saja diacuhkan Zero. Mana mungkin


orang yang selalu bertengkar denganya akan didengarkan. Tapi itu Zero. Arion


beda. Alih-alih mengomentari ataupun mencela tawaran sia-sia ku, Arion


mengangguk dengan sebuah sneyum lebar.


"Tentu saja", katanya.


***


Aku tidak pernah bicara dengan Zero, sejak pertengkaran waktu itu.


Malah aku juga nyaris tidak bicara pada Karen. Anak itu, dia benar-benar bergabung


ke organisasi hunter. Shine membuatnya diterima sebagai magang dengan memberitahukan


tetang bakat Karen. Dan ya, tepat seperti dugaanya pengliahtan masa depan Karen


sangat berguna dalam berbagai misi. Apalagi akibat meningkatnya populasi


madvampire belakagan ini. Aku jadi tidak tahan hanya berdiam diri. Makanya aku


mengajukan diri untuk ikut membantu juga.


“Kau mengkhawatirkan Karen?”, tanya Shane.


“Yah...Dia tidak mau mendengarkan orang lain”


“Bukanya kau juga sama”, ledek Shane, membuatku medegus kesal. “Dia ada


di pusat pegaturan strategi, tidak di garis depan. Dan Shine menemaninya”


Dia sudah pernah mengatakanya. Tapi meskipun tidak di garis depan,


tempat itu tetaplah medan perang. Dan lagi, vampire tidak bodoh. Saat mereka


megetahui lokasiya, tamatlah sudah. Bahkan hunter belum berhasil menemukan


lokasi vanBlood setelah berbulan-bulan. Aku memberi tahu Shane apa yang kudapat


dari Arion.


“Dia pasti bohong. Dia juga mencari pangeran itu”, ujar Shane.


Aku menggeleng. “Arion tidak berbohong”


Shane tidak setuju dan menganggapku tidak punya alasan


logis untuk mempercayai Arion. Dia tidak sepenuhnya salah. Aku yakin Arion


tidak berbohong karena aku mengenalnya. Tapi bukan cuma itu. Sepertinya jauh di


dalam hatiku, aku juga ingin  mempercayainya. Dan meski tidak pantas untuk orang sepertiku, rupanya


aku ingin menyebut Arion sebagai teman. Setidaknya aku tidak akan


memanfaatkanya untuk menggali informasi lagi