The Lost Prince

The Lost Prince
Special Chapter 4 Their First Meeting



Suatu hari di bulan April 1987


Desa Nogart yang memiliki populasi kurang dari 100 jiwa.


Tidak banyak banyak anak muda di sana. Penduduk umumnya bekerja mengurus ladang


gandum dan peternakan. Keseharian anak-anak diisi dengan membantu orangtua


mereka di peternakan. Anak-anak perempuan biasanya bertugas mengurus ayam dan


memerah susu. Sedangkan anak laki-laki mengurus kuda dan menggembala domba.


Daerah pinggiran seperti desa ini sudah sepenuhnya pulih dari luka-luka akibat


perang.


Srakk!!! Bruk!


Suara seekor burung terjatuh melewati ranting pepohan besar


di dalam hutan. Sebuah panah menancap di kepalanya. Seseorang mengendarai


kudanya menghampiri burung itu dan memungutnya. Ia seorang gadis remaja dengan


tinggi sedang dan rambut hitam yang diikat ke atas. Gadis itu tampak puas


dengan hasil buruanya. Ia lantas mamacu kudanya ke sebuah sugai kecil.


Alih-alih mengikat kuda itu di pohon, ia melompat turun dan membiarkan kudanya


berlari ke sungai untuk minum. Sang kuda tampak menikmati waktunya di air.


Gadis itu duduk di salah satu batu besar di tepi sungai.


Memainkan air sungai yang jernih dengan jemarinya. Sang kuda merengek seolah


mengajak sang gadis bermain air. Mereka saling mencipratkan air untuk beberapa


saat kemudian. Hingga si gadis menjadi setengah basah. Gadis itu melepas ikatan


rambutnya yang basah, berniat membiarkanya mengering dengan bantuan angin.


Tiba-tiba ia menangkap sebuah suara. Nampaknya seseorang


mengawasinya dari kejauhan. Tapi pendengaranya yang tajam dapat menangkap suara


dedaunan kering yang terinjak langkah kakikudan.


“Siapa di sana!”


Sosok yang mengawasi dari kejauhan justu mematung, tidak


meyangka gadis itu akan menyadari kehadiranya. Jarak itu masih terlalu jauh


bagi manusia untuk mendengar apapun. Untuk beberapa detik yang panjang, pria


itu hanya mematung tak bergerak seinchi pun. Ia tampak tengah menghitung


situasinya. Atau mungkin juga tidak. Ia hanya tak bisa mengalihkan tatapanya


dari gadis kecil berambut hitam panjang yang menatap tajam ke arahnya.


Gadis itu tidak bisa melihatnya yang bersembunyi di belakang


rimbunya pepohonan. Tentu saja pria itu tahu. Ia bisa saja pura-pura tidak ada


dan tidak mendengar apapun. Lalu menghilang dari sana secepat mungkin. Tapi ia


justu melangkah keluar dari bayangan pohon. Mendekat ke hulu sungai. Ia


mengenakan jubah panjang dan memasang hoodie hingga menutupi setengah wajahnya.


Untuk beberapa alasan ia tampak seperti seseorang yang keluar dari masa kuno.


Merasa terancam, gadis itu meraih gagang belati kecil di


saku belakang celananya. Berbisik menyuruh kudanya untuk tenang. “Mau apa kau?”


Pria itu masih terdiam untuk beberapa detik yang panjang.


Akhirnya ia sadar kalau penampilan anehnya membuat sang gadis merasa terancam.


Pria itu membuka hoodie-nya, menampakkan wajah pucatnya dengan rambut pirang


kekuningan dan mata biru topaz cemerlang. Berusaha membuat ekspresi bersahabat,


walau yang nampak hanya wajah salah tingkah yang gugup.


“A-aku..datang untuk mengambil beberapa air…tapi saat


kulihat ada orang….”


Gadis itu meletakkan kembali belati ke dalam saku. Pria di


depanya berpakaian aneh, seperti datang dari puluhan tahun lalu. Tapi ternyata


dia hanya seorang remaja seusianya. Mungkin satu-dua tahun lebih tua.


“Silahkan, kalau begitu”, ujarnya.Gadis itu menghela napas


panjang. Merasa lega karena tampaknya pria itu tidak mencurigakan.


“Kau..sendirian?”, tanya si pria bermata biru yang tengah


memasukkan air ke dalam botol.


Gadis itu menggeleng. “Aku bersamanya”, katanya sambil


mengelus kepala kuda kesayanganya.


“Bukan itu maksudku” Si pria mendengus. “Berbahaya untuk


gadis sepertimu berkeliaran sendiri di hutan begini. Aku mendengar sering ada


pemburu dan perampok yang melintas daerah sini”


Gadis itu mendengus. Merasa si pria tidak pantas bilang


begitu setelah membuatnya merasa dia salah satu perampok atau pemburu


mengerikan. Sebenarnya ayahnya juga sudah memperingatkanya.


“Aku baik-baik saja”, ujarnya. “Kau sendiri, apa aku bukan


salah satu dari perampok atau pemburu”


“Tentu saja bukan!”


“Lalu siapa kau? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya”


“Ah..aku…dari Huntington, di sebelah timur laut hutan ini.


Aku hanya sedang berburu…”


“Berarti kau pemburu kan?”


Pria itu mengangguk. Ia tidak terlihat berbohong, tapi untuk


suatu alasan ia terlihat linglung. Pria itu bahkan tidak membawa busur ataupun


senapan. Alih-alih sebuah pedang panjang tersemat di samping pinggangnya.


“Bohong”, kata gadis itu menyimpulkan.


“Apanya? Aku tidak berbohong”


“Lalu bagaimana caramu berburu tanpa senjata?”


Pria itu menelan ludah. Ia sadar kalau kebohonganya


terungkap. Sepertinya diatidak seharusnya berbohong pada gadis itu. Tapi ia


tidak bisa mengatakan yang sejujurnya. “Aku..lari dari rumah…”


“Pfft…ahahaha…” Gadis itu tertawa lepas. Tidak bisa menahan


geli melihat wajah pucat pria yang lebih tinggi darinya kini menjadi kemerahan


karena malu-malu. Orang ini kelihatanya lebih besar darinya tapi kelakuanya


seperti anak kecil. Lagian kenapa juga dia harus memakai jubbah besar dengan


hoodie mencurigakan itu.


“Itu tidak lucu”


“Maaf”, kata si gadis. “Kau sepertinya lebih tua dariku,


bukankah kau harusnya lebih dewasa. Kenapa lari dari rumah dan masuk ke hutan?


Padahal kau sendiri tahu kalau daerah sini berbahaya”


“Aku tidak masalah. Aku bukan seorang gadis”


Gadis itu tampaknya kesal. Terutama karena kalimat terakhir


barusan. Dia tidak suka diperlakukan berbeda hanya karena dia seorang gadis.


“Itu tidak adil! Kenapa selalu seperti itu.Hanya karena terlahir sebagai


seorang gadis, kenapa kami harus dibatasi?”


“Kedengaranya aneh”


“Apa?”


“Kedengaranya seperti kau berharap menjadi laki-laki”


Gadis itu memalingkan wajahnya. “Kalau memang begitu…tidak


boleh?”


“Hmm”, ujar pria itu. “Aku akan menyayangkan kalau


orangsecantik kamu bukan gadis”


“Ehh??”


Wajah gadis itu memerah. Matanya yang sudah besar semakin


membulat. Tidak mempercayai pendengaranya sendiri. Apa yang terjadi? Apa pria


pucat dengan wajah datar itu baru memujinya? Tunggu,lalu kenapa? Itu hanya


sebuah pujian. Ini bukan pertama kali ia disebut cantik. Kenapa kata-kata pria


itu menggerakkan hatinya? Kenapa pujian kecil itu membuatnya sulit menarik


napas?


Pria itu juga menaiki seekor kuda. Dan bukan hanya kuda


biasa,itu adalah seekor stallion yang gagah dengan bulu seputih salju. Si gadis


yang menyukai kuda terpesona oleh kecantikan kuda putih yang diberi nama


Hercules itu. Saat si gadis akhirnya puas menaiki Hercules berkeliling hutan,


ia pun pamit pulang. Pria bermata biru itu bersikeras mengantarkan si gadis


hingga bibir hutan.


“Ah, benar juga. Aku belum tahu namamu”, ujar si gadis. “Aku


Keyra Wilder. Kau bisa memanggilku Key”


“Aku Archi…”


“Archi…saja?”


Si pria menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tampaknya ia


tidak ingin memberitahu namanya. Atau malah sebaliknya, ia ingin memberitahu


gadis itu lebih dari apapun. Tapi namanya mungkin terdengar kuno. “Archibald


Rainier”


Si gadis tertawa kecil.


“Kenapa tertawa?”


“Kau terlihat tidak percaya diri dengan namamu sendiri. Apa


karena itu terdengar seperti nama abad pertengahan?”


Archi mendengus. “Yeah…sudah kuduga kau akan bilang begitu”


“Tidak masalah kan. Namanya sangat cocok denganmu”, ujar si


gadis. “Rumahku di sebelah sana, itu sudah terlihat”


“Ah..kalau begitu, aku mengantarmu sampai sini saja”


“Hmm. Trims” SI gadis memacu kudanya ke jalanan kecil keluar


hutan. Beberapa langkah kemudian dia berhenti dan menoleh ke belakang. “Sampai


jumpa besok, pangeran abad pertengahan”, ujarnya meledek.


Pipi Archi memerah. Gurauan gadis kecil itu membuatnya


tersipu. Gadis yang aneh, batinya. Ia tidak menyangka akan menemukan seorang


gadis remaja berkeliaran sendirian di dalam hutan itu. Dan ia lebih tidak


menyangka lagi kalau ternyata ia menunggu si gadis kembali keesokan harinya.


“Jangan bilang kalau kau bermalam di sini”, ujar  si gadis begitu menemui Archi.


Archi mengangguk. Yang seperti itu bukan masalah besar


“Hutan ini jauh lebih berbahaya dari kelihatanya. Tidak


peduli apa alasanmu, kau sebaiknya segera pulang, Arch”


Archi menelan ludah. Ia selalu menyembunyikan jati dirinya


setiap kali berkelana sendirian. Tapi untuk beberapa alasan, ia merasa tidak seharusnya


membohongi gadis itu terlalu banyak.


“Aku jauh lebih kuat dari kelihatanya. Jadi tidak apa-apa”


Key menatap Archi, cukup terkejut dengan perkataanya. Ia


tidak bermaksud untuk meremehkan Archi yang berbadan tinggi tapi kurus dan


pucat itu. Dasar pria aneh, batinya. Walaupun dia memang lebih kuat dari


kelihatanya, dia tidak akan bisa berkutik jika sekelompok perampok datang.


Hari itu mereka berburu bersama. Archi sangat pintar. Ia


membuat beberapa jebakan untuk menangkap hewan buruanya. Bukan sekadar jebakan


biasa, Archi memperhitungkan ukuran dan berat target, kecepatan dan tempat


serta makanan yang disukainya untuk dipakai sebagai umpan. Archi juga sangat


lihai menggunakan busur. Bukan itu saja, Archi benar-benar bisa menggunakan


pedang. Key sempat diajari beberapa gerakan.


Pria aneh. Archi tinggal di hutan itu sudah hampir seminggu.


Tapi dia masih tidak pernah membicarakan apa-apa tentang dirinya sendiri.


Bagian paling aneh ialah bagaimana Key bisa dekat denganya tanpa merasa


canggung sama sekali. Ia sendiri juga tidak mengerti. Key biasanya sangat


waspada pada orang yang tidak dikenalnya. Tapi ia tidak pernah menaruh curiga


pada pria yang ditemuinya di dalam hutan itu.


“Apa kau selalu seperti ini, Key?”


Key duduk di sebelah Archi.  “Apanya?”


“Tidak kenal takut dan bicara begitu santai dengan orang


asing”


“Tidak juga”, ujar Key. Entah kenapa Archi bicara begitu


tapi sepertinya ia mengerti maksudnya. Key biasanya tidak mudah dekat dengan


orang asing. Tapi ia bertingkah tidak seperti biasa terhadap Archi. “Ini


salahmu”


“Aku?”


Key mengangguk. “Aku biasanya sangat waspada dengan orang


lain, tapi aku menurunkan kewaspadaanku di sekitarmu. Rasanya aku tidak


memerlukanya”


“Kalau begitu kau membuat kesalahan besar, Key”, ujar Archi.


“Kau seharusnya lebih waspada. Aku orang yang berbahaya”


Key mendongak menatap wajah Archi. Apa maksudnya? Ia tidak


akan bilang kalau dia seorang pembunuh berdarah dingin atau semacamnya kan.


Yah…tidak mungkin. Mata biru topaz cemerlang di balik rambut pirang kekuningan


itu sama sekali tidak memiliki hawa kejahatan. Mata itu beralih menatap Key


tajam. Lalu dalam sekejap, Archi sudah menjatuhkan tubuh Key ke tanah,


mengapitnya dengan tubuhnya, menahan kedua tangan Key.


“LIhat, aku bisa menyerangmu”,kata Archi. Mata biru topaznya


masih menatap Key dengan tajam.


Key terkejut dengan serangan itu, tapi ia tidak mengalihkan


pandanganya dari mata Archi. “Baiklah, kau memang berbahaya. Lalu kenapa?”


Archi mendekatkan wajahnya ke samping wajah Key. Seolah dia


tengah membaui sesuatu di balik kulit Key. Napas Archi berhembus membelai


sebelah atas lehernya. Jantung Key berdetak sangat keras, hingga rasanya bisa


melompat dari balik dadanya kapan saja.


“Cukup, Arch. Berhenti main-main!”, seru Key mulai kesal.


Detak jantungnya semakin menggila, rasanya ia bisa kehilangan kewarasan kapan


saja. “Archi!”


Pegangan Archi yang menahan tangan Key mengendur. Ia


kemudian melepasnya dan mundur. Archi duduk sambil memalingkan wajahnya, seolah


takut menatap mata Key. Sebagian dirinya menyesali perbuatanya barusan setengah


mati. Tapi sebagian lagi tidak mau berhenti. Ia ingin menyerang Key lebih dari


itu. ia menginginkan semua hal dalam diri Key.


“Kau mulai menyebalkan!”, gerutu Key. Wajahnya masih terasa


panas. Detak jantungnya belum kembali normal. Untuk sesaat tadi ia pikir Archi


benar-benar tidak akan berhenti.


“Aku sudah memperingatkanmu”


Ya, sedetik sebelum menyerang, batin Key menggerutu. Pria


aneh. Apa maksudnya yang tadi itu? Kenapa Archi bertingkah aneh?


“Arch…apa kau mau pulang?”, tanya Key tanpa sadar. Entah


dari mana pertanyaan itu muncul.


“Hmm. Sudah seminggu. Ibuku akan khawatir”


“Kalau kau mengkhawatirkanya seharusnya kau bergegas” Tidak,


seharusnya dari awal Archi tidak perlu melarikan diri. Benar juga, kami tidak


pernah membicarakan hal ini. Alasan kenapa Archi pergi dari rumah. Key mulai


bertanya-tanya, apakah alasan itu akan terlalu sensitif untuk ditanyakan.


“Hmm”, gumam Archi. Entah mengapa ia terlihat tidak ingin


bergegas pulang. “Kalau aku pulang, aku tidak bisa menemuimu lagi”


“Kenapa begitu? Aku selalu main di sini”


Archi tidak menyahut. Key menduga mungkin orang tua Archi


terlalu ketat atau semacamnya. Dia tidak akan diijinkan pergi ke hutan


sendirian.


“Sebaiknya kau tidak bermain di hutan sendirian lagi. Dan


juga jangan mendekati orang asing dengan ceroboh seperti yang kau lakukan”


“Kau bukan orang asing, Arch”


“Kau bisa biang begitu sekarang. Tapi tetap saja, laki-laki


itu lebih kuat darimu. Kau tidak boleh mempercayai mereka begitu saja. Jika kau


ceroboh, kau bisa diserang seperti tadi”, ujar Archi memperingatkan.


“Kau tidak perlu mengomeliku”


“Habisnya kau membuatku khawatir. Kau sangat tidak


hati-hati. Menurutmu apa yang akan terjadi kalau aku berniat buruk padamu?”


Key tersenyum kecil. “Kau pasti sudah melakukanya sejak lama


jika itu niatmu. Tapi bukan begitu kan. Aku tahu kau bukan orang jahat. Aku


juga tidak sembarangan berteman dengan siapapun yang kutemui”


Archi mendengus. Seolah Key tidak mengerti apa masalah


sebenarnya. “Bagaimana jika kau salah?”, tanyanya mengancam. “Aku ini orang


jahat, Key. Aku juga pernah membunuh orang. Tidak, aku lebih buruk dari itu….”


“Aku hanya mempercayai apa yang kulihat dengan mataku


sendiri”, ujar Key. “Saat aku melihatmu, aku tidak melihat orang jahat”


Archi kembali memberikan tatapan tajam pada Key. “Lalu


bagaimana jika aku bukan manusia”


“Bukan manusia?”, ulang Key, meragukan pendengaranya.


Archi mengangguk. “Aku seorang vampire berdarah murni. Aku


adalah calon penguasa vampire”


Untuk sepersekian detik, Key sempat berpikir Archi bercanda


dan membuat lelucon untuk mengerjainya. Tapi Key segera sadar Archi tidak


sedang bercanda.


“Well…itu mengerikan jika kau tanya pendapatku”


Archi menatap Key penuh pertanyaan. Ia tidak melihat gadis


itu merasa ketakutan sama sekali. Bahkan saat ia menanggapi ucapanya dengan


serius. “Kau tidak akan lari dariku?”, tanya Archi setelah beberapa detik yang


panjang.


“Kenapa aku harus lari?”


“Aku ini vampire. Kau tahu apa yang kumakan? Maka larilah


sebelum kau menjadi makananku”


Key menggeleng. Ia mendengus kesal. “Ini tidak lucu, Arch”


“Aku tidak sedang bermain-main”


“Aku tahu. Tapi jika kau sedang mencoba membuatku lari


darimu dengan ketakutan maka lupakan saja”, ujar Key menegaskan. “Aku tidak


takut padamu. Tidak peduli siapa atau apa kau sebenarnya”


Archi mendengus. Ia merasa kehabisan kata-kata. Key berbeda


dari gadis normal. Archi sudah tahu itu sejak ia pertama kali mematung menatap


Key di sungai. Gadis itu memiliki darah dengan aroma menggiurkan. Baru kali ini


Archi dibuat tak berkutik karena terpesona. Bukan hanya darahnya, Key sendiri


juga mempesona. Ia begitu cantik, begitu berani, begitu bebas lepas


mengekspresikan dirinya.


Seminggu ini Archi mencoba mengambarkan gadis itu. atau


lebih tepatnya mencoba mencari celah untuk menjauhi Key. Tapi ia justru semakin


tertarik mendekatinya. Seolah Key memiliki gravitasi tersendiri. Archi tahu dia


tidak boleh memiliki perasaan terhadap sembarang orang. Tapi ia tak bisa


menahanya. Ia jatuh cinta. Setiap kali senyum Key mengembang saat mereka


bertemu, ia jatuh cinta. Setiap kali mata Key berbinar memantulkan sinar lembut


mentari, ia jatuh cinta.


Tapi lebih dari siapapun, Archi mengerti perasaan itu tidak


boleh dibiarkan tumbuh terlalu jauh. Key adalah seorang manusia. Sementara


Archi adalah seseorang yang akan duduk di takhta kerajaan vampire. Ia harus


membunuh hatinya sendiri. Maka saat senja tiba, saat ia akan berpamitan untuk


pulang, Archi menghapus ingatan Key tentangnya. Dan ia menghilang dari hidup


Key, untuk selamanya. Setidaknya begitulah yang ia rencanakan.