The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 1 Dari dan Kepada Kegelapan (part 2)



Aku benar-benar hampir melupakan kejadian malam itu, menjalani hari-hari dengan mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru. Tapi ingatan itu kembali tepat ketika waktunya tiba. Waktu yang dilihat Karen dalam mimpinya. Hari itu matahari seperti enggan keluar dari peraduannya. Seolah ia sudah tahu apa yang akan terjadi dan tak ingin melihat. Sepanjang pagi matahari bersembunyi di balik awan mendung. Begitu malam tiba, bumi benar-benar tampak gelap, jauh lebih gelap dari malam biasanya. Senyap. Bahkan lalu lalang kendaraan dan hiruk pikuk kota


kehilangan suaranya. Hawa dingin mencekam, menggelitik belulang.


Aku berjingkat menuju tepi jendela, mengintip dari balik tirai. Beberapa siluet hitam muncul dan berkelebat di ujung jalan yang sepi. Mereka terlihat seperti manusia, tapi mereka  sama sekali bukan manusia. Aura pembunuh yang begitu kental seolah menyelimuti kelompok berbaju gelap itu. Lagipula kecepatan mereka benar-benar di luar batas manusiawi. Belum sempat aku memikirkan apa kiranya monster serupa manusia itu, jeritan ngeri muncul dari rumah tetangga kami. Ayah berdiri di pintu, memberiku isyarat untuk mengikutinya. Kami menuju ke ruang keluarga di mana ibu dan Karen berdirisaling mendekap. Detak jantungku menjadi seperti berpacu. Apakah mereka


benar-benar datang? Apakah yang dikatakan Karen sungguh terjadi? Mereka itu sebenarnya siapa? Mereka itu apa? Kenapa aku nyaris tidak bisa mendengar suara langkah kaki mereka? Ayahku sudah meraih senapan laras panjangnya. Tentu saja, ayah pasti sudah membaca situasinya lebih baik dariku. Ia menoleh menatapku


lalu meraih sebuah pistol dari laci bawah lemarinya. Mengulurkannya padaku.


"Tenanglah, kita harus melindungi keluarga ini", ujarnya sambil mengelus bagian atas dahiku.


Aku menerima pistol itu, tanganku gemetaran. Apa yang sedang terjadi? Apa yang harus kulakukan? "Ayah, jika memang mereka mengincarku... Aku akan keluar.."


"Key..", potong Ayah. "Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu" Ayah mengulum sebuah senyum, mencoba menenangkanku.


Aku menarik napas dalam-dalam, mengangguk. Mencoba mengumpulkan setiap keping keberanian dalam diriku yang mulai runtuh.  "Ok"


 Tak lama kemudian terdengar pintu depan rumah kami dibuka. Beberapa orang memasuki rumah kami dan berjalan mendekat. Ayah tersenyum sekali lagi ke arahku, berusaha meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Ibu menarikku ke pelukannya bersama Karen, sementara Ayah berjingkat tanpa suara menuju pintu. Suara langkah kaki para peneror mengarah ke ruangan tempat kami berada. Ayahku membidiknya dari balik pintu.


DORR!! Aneh, tidak ada suara orang jatuh bahkan tidak ada suara kesakitan. Ayah kembali menembak. Dua


kali tiga kali. Seseorang terjatuh. Lalu lebih banyak langkah kaki mendekat. Dua, tidak tiga orang! Ayah kembali menembak. Tidak berpengaruh! Tidak mungkin! Tembakan Ayah tidak mungkin meleset!! Mereka semakin dekat. Aku bahkan tidak mendengar suara langkahnya kali ini. Tahu-tahu seseorang bertubuh jangkung  berbaju hitam menyergap Ayah, tepat di lehernya. Ibu dan Karen menjerit histeris. Aku tidak berkutik. Aku terpaku membatu di


tempatku berdiri, tak percaya pada apa yang kulihat. Orang ini sungguh bukan manusia!!! Ujung jemariku dingin, seluruh tubuhku gemetaran. Dengan sigap ibu menarikku dan Karen, membawa kami berlari ke belakang rumah. Namun orang itu, makhluk apapun dia, mengejar kami dengan kecepatan yang tidak manusiawi!


Ibu berbisik padaku, “Lari, bawa adikmu, lindungi dia baik-baik, dan jangan menoleh ke belakang.”


“A-apa..?”, aku tergagap hendak bertanya.


“Lari!!”, seru Ibu dengan suara serak.


Aku menarik lengan Karen dan berlari, secepat yang bisa kulakukan. Tapi aku melanggar perintah Ibu, perintah terakhirnya, aku menoleh. Hanya sepersekian detik. Aku tak mampu melihat adegan itu untuk kedua kalinya. Tapi sepersekian detik itu cukup untuk menyadari makhluk apa yang menyerang mereka. Aku mengenal makhluk itu dari mitos, dari buku-buku, dan film-film. Vampire.


Karen terus menangis. Ia jatuh terjerembab. Dia pasti jauh lebih terguncang karena kemampuan yang dimilikinya. Aku melompat menaiki sebuah motor yang terparkir di tepi jalan, berteriak menyuruh Karen mengikutiku. Tak tahu harus ke mana. Yang jelas kami harus menjauh. Tak ada yang dapat dilakukan selain itu. Kompleks ini diserang habis-habisan, bahkan beberapa petugas polisi yang berjaga malam tampak tak berdaya. Aku sempat melihat salah satu vampire 'makan malam' di kantor polisis depan rumah. Merasakan siluet hitam mengikuti kami, aku


menembakkan pistol beberapa kali ke arah belakang, lalu memacu motor melaju lebih kencang hingga ke bibir hutan di pinggir kota. Aku menepi menghentikan motor lantas meraih lengan Karen, mengandengnya berlari masuk ke dalam hutan. Sial! Aku hanya bisa berharap masih ada sedikit keberuntungan untuk kami. Saat ini yang penting kami harus melarikan diri. Tapi tak ada yang bisa kami mintai tolong. Makhluk yang menyerang kami nampaknya jauh lebih kuat daripada manusia manapun. Setelah berlari selama beberapa menit, kami kemudian bersembunyi di


dalam sebuah gua kecil. Menahan napas. Berharap cerita di film-film benar, bahwa vampire tak dapat mengetahui keberadaan kita saat kita menahan napas. Percuma. Belum sempat aku mengatur napas, vampire itu sudah memasuki gua. Aku mencengkeram erat-erat pistol di tanganku, dan secara naluri  mendorong Karen ke belakang.


“Lihat apa yang kudapat! Jadi, siapa si penerus darah itu, huh?!!”, kata vampire itu. Dia nyaris terlihat seperti manusia biasa, hanya saja kulitnya tampak pucat dan ada dua taring yang dengan ganjilnya lebih panjang dari gigi lain.


Karen terus menangis. Meski takut setengah mati, aku memberanikan diri menimpali ucapannya.


“Apa maksudmu? A-apa kau mengincarku?”


“Ah-ha! Kau pintar rupanya. Kemarilah, tak perlu bersusah payah. Aku akan membuatnya lebih cepat untukmu. Juga makhluk kecil di belakangmu”


“Tidak semudah itu!”


Vampire itu mendekat perlahan. Memandangku dari kepala sampai kaki. Terkikik geli. “Hahaha…hehehe… Lihat ini. Kau pikir dengan apa kau berani menantangku?”


Kini vampire itu hanya dua-tiga meter dariku. Tanpa berpikir, aku serta merta membidiknya dan menembakkan pistol yang diberikan ayah. Aku terus menembak berkal-kali, tapi makhluk di depanku itu tidak juga tumbang. Aneh, aku yakin sebagian besar tembakanku mengenainya. Apakah pistolku tidak melukainya? Tanpa kusadari,


“Uurgh..”, erangku menahan sakit.


Vampire itu sudah membungkuk ke arahku, mencengkeram leherku. Aku menendangnya di bagian ‘anu’-nya, spekulatif. Tak disangka, vampire itu menjerit keras. Teramat keras. Menyumpah dan mengutuk.


“Bocah sialan!”, geramnya murka.


Aku mengira vampire itu akan langsung menyergap dan menggigit leherku dengan marah. Tapi ia malah mendatangi Karen. Mencengkeram lehernya dan bersiap menggigitnya. Aku membidikkan pistolku siap menembak. Sial! Peluruku habis!!


“Jangan! Jangan adikku!”, teriakku panik.


Diluar dugaan, si vampire berhenti, menoleh ke arahku.


“Jangan! Kumohon jangan adikku. Biar…biar aku saja. Aku yang kau cari. Jadi jangan sentuh adikku!”


“Kau tidak bisa memerintahku!!”, bentak vampire itu, amarah memenuhi suaranya.


 “Tolong, maafkan aku. Kumohon. Aku akan ke situ. Aku yang kau inginkan, bukan? Ambil darahku, tapi tolong jangan sakiti dia. Please…”


Vampire itu menatapku, seolah mempertimbangkan sesuatu. “Bagaimana aku bisa mempercayaimu kalau kau tak kan melakukan‘nya’ lagi”


“Kau punya leher adikku di cengkeramanmu”


Vampire itu menyeringai senang, lalu bergumam “Setuju”


Aku menjatuhkan pistolku dan menyeret kakiku yang mendadak mati rasa mendekati si vampire. Hatiku mencelos. Seolah sesuatu yang berat longsor ke bagian dalam perutku. Aku berdiri diam di depannya. Pasrah. Aku akan mati.


Vampire itu memandangiku sebentar, lantas menyeretku ke sisi dinding gua. Aku jatuh terduduk di sana. Diam. Tak bergerak, lebih tepatnya tidak bisa bergerak. Vampire itu melepaskan cengkeramannya dari leher Karen dan membungkuk ke arahku. Lalu dalam sekejap mata darah memuncrat dari perutku. Aku menjerit kelu melihat tangan berlumuran darah perlahan keluar dari perutku. Vampire itu menyeringai keji seolah menikmati tindakannya.


"Itu imbalan untuk peluru-peluru kecilmu yang menggelikan", bisiknya dengan suara rendah.


Tanpa basa-basi lagi, dua taring buas itu merobek sisi kiri leherku. Aku bisa mendengar jeritan Karen yang semakin menjadi-jadi. Aku bisa mendengar gelegak darahku yang menuruni tenggorokan si vampire. Rasanya seperti nyawaku ditelannya sedikit demi sedikit. Ia mengangkat wajahnya, dan memamerkan taring dan bibirnya yang berlumuran darah padaku, menyeringai keji. Tubuhku mati rasa. Bahkan aku tidak bisa merasakan panasnya darah yang masih mengalir keluar dari luka di perutku. Vampire itu kembali meneguk darahku tapi kemudian ia berhenti.


Dia terlihat memikirkan sesuatu. Penglihatanku kabur, tapi aku masih tahu dia memandangku, tepat ke dalam kedua mataku.


 “Darahmu benar-benar menarik. Seorang gadis yang tidak kenal rasa takut”


‘Apa yang dia bicarakan?’ Aku tidak bisa berpikir lagi. Tubuhku tak mampu kugerakkan sedikitpun. Dan mungkin nyawaku sudah tinggal di ujung tanduk. Aku sekarat.


“Entah kenapa rasanya sayang sekali membiarkan darah ini hilang sekali minum. Akan jauh lebih menyenangkan untuk memilikimu selamanya” Vampire itu menyeringai lebar. Ada kilat kesenangan di dalam matanya.


“A-pa maksudmu…?”


“Ingat ini jika kau selamat, kau adalah milikku. Mungkin akan sedikit sulit, kurasa aku sudah terlalu banyak meminum darahmu.  Tapi tidak ada salahnya dicoba” Vampire itu tertawa keras dengan seringai keji memenuhi wajahnya. “Aku akan mengubahmu menjadi bangsaku. Dengan begitu, aku akan memilikimu untuk selamanya”


“Apa?! Tidak. Aku tidak mau. Tidak..!!”, teriakku, berusaha bangkit dan lari. Gagal. Aku terlalu lemah setelah kehilangan banyak darah.


“Kau tak punya pilihan. Inilah takdirmu!!”


Vampire itu menggigit sendiri ujung jari telunjuknya, lantas memasukkan jari itu ke dalam lubang di sebelah kiri leherku di mana tadi taringnya menancap. Aku merasakan darah vampire yang dingin memasuki aliran darahku. Dingin. Darah itu benar-benar terasa dingin. Dan sakit luar biasa melanda setiap sel dalam tubuhku. Aku menjerit kelu. Seluruh badanku seperti terbakar dari dalam, kemudian semua berubah gelap.


***