The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 13 Dari Sebuah Dongeng (part 2)



Ditambah hari ini, genap seminggu aku tidak masuk


sekolah. Tidak ada yang menanyakan alasanku bolos. Mungkin memang alasan itu


sudah jelas terlihat. Setelah 2 minggu tanpa tidur, tubuhku kembali drop.


Darahku seolah mendidih di sekujur tubuh dan kepalaku mulai berkunang-kunang.


Kadang rasanya tubuhku bergerak di luar keinginanku, seolah bukan lagi milikku.


Tiga hari lalu, aku merasa seperti tertidur dan bermimpi. Tapi ternyata aku


berjalan ke tengah hutan lewat tengah malam. Entah bagaimana aku bisa berjalan


sejauh itu tanpa menyadarinya. Lalu munculah suara yang tak akan kulupakan di


dalam kepalaku. Suara vanBlood. Bulu kudukku meremang menyadari semua ini bukan


mimpi atau halusinasiku saja.


‘Kau tidak terlihat sehat ya?’, sapa suara vanBlood yang entah bagaimana muncul di dalam kepalaku. ‘Aku benar-benar tidak menyangka kau bisa menahanya selama ini. Bukankah menahan rasa haus vampire membuat seluruh sel dalam tubuhmu kesakitan?’


‘Di mana kau?’, tanyaku dalam hati.


Menjijikkan memang, tapi kami bisa berkomunikasi lewat pikiran. Entah sejak


kapan dia bisa melakukan hal ini. Dia bahkan mengendalikan tubuhku.


‘Eeh? Apa kau sebegitu ingin bertemunya denganku? Mengejutkan. Ah, benar juga, kau


memanfaatkan hunter untuk melacakku ya. Aku terharu loh kamu berusaha sekeras


itu untuk menemukanku’


‘Katakan saja di mana posisimu? Aku akan segera datang untuk membunuhmu’


‘Membunuhku? Ahahaha. Terlalu cepat 100 tahun untukmu, nona kecil’, ujarnya. ‘Aku


benar-benar tidak sabar menantikanmu datang bersama teman-temanmu itu. Biarkan


aku bersenang-senang dengan mereka sebelum menikmati darahmu. Tapi...kalau kau


mau jadi gadis baik yang menurut, aku akan memberitahumu lokasiku’


Aku mengepalkan jemariku. Aku harus membunuhnya! Akan kupastikan


untuk membunuhnya dengan tanganku ini! VanBlood memang vampire brengsek.


Berani-beraninya dia mengancamku. Dia pasti berpikir aku tidak akan bisa


membunuhnya. Karena itu aku menyeret Shine dan Shane dalam masalah ini. Tidak.


Tenang dulu. Justru bagus jika vanBlood berpikir begitu. Itu berarti aku bisa


mencari celah saat Shine dan Shane maju. Lagipula sejak awal aku memang berniat


memanfaatkan mereka.


Aku menyeringai geli. Tidak habis pikir kenapa vanBlood


menyangka ancaman semacam itu akan mempan terhadapku. Aku tidak peduli sedikit


pun pada apa yang mungkin menimpa kedua hunter itu, ataupun teman vampire


mereka. Aku akan membalaskan dendamku walau harus mengorbankan orang lain.


Entah atas dasar apa vanBlood berpikir aku akan mengurungkan niat dan memilih


menyerahkan diriku padanya. Jangan bercanda!


***


Tidak ada yang menyadari kejadian malam itu. Lagipula aku


memang sering berkeliaran sendirian ke hutan. Bahkan Karen tidak menganggapnya


hal yang mencurigakan. Untunglah, nampaknya Karen bisa menekan bakatnya denagn


baik. Dia tidak mendapat banyak penglihatan masa depan secara acak seperti


dulu. Karen hampir menjalani kehidupan senormal manusia biasa, kecuali bahwa


dan tinggal serumah dengan vampire.


Bukan cuma satu, rasanya ada dua vampire yang tinggal di


sini karena Arion datang hampir setiap hari. Dia masih tidak menyerah untuk


menempeli Zero, walau selalu diabaikan. Padahal kupikir hubungan mereka mulai


membaik, tapi sikap dingin Zero sama sekali tidak berubah.


Arion mendengus kesal. Dibukanya sekaleng cola yang baru


diambil dari kulkas. Arion meneguknya hingga nyaris habis. “Dia itu benar-benar


tidak pernah berubah”, uajrnya mulai mengumpat sikap Zero. “Aku kan tidak


setiap hari datang meminta bantuanya. Lagipula apa susahnya coba mengajariku


sedikit agar lulus remidi”


“Remidi?”, ulangku. Tidak yakin mendengar hal yang benar.


Bukanya Arion bilang ujian untuk vampire hanya masalah adaptasi mereka.


Arion memalingkan tatapanya menghindari mataku.


“Yaah..begitulah. Aku harus ikut remidi”


“Tapi kau bilang bukan ujian yang seperti itu untuk murid


vampire lulus”


Kali ini wajah Arion tampak sedikit memerah. Sambil malu,


dia bergumam, “Aku lulus tes adaptasi, tapi gagal di semua mata pelajaran”


Aku nyaris tersedak napasku sendiri. Semua mata


pelajaran? Serius? Arion tidak terlihat seperti orang yang akan remidi.


“Tahu begini aku tidak akan sering-sering bolos”,


keluhnya. “Tunggu dulu, bagaimana denganmu, Key? Kau tertular kebiasaan bolos


Zero dan hampir tidak pernah masuk sekolah”


Well, aku tidak yakin bagaimana menjawabnya.


“Tidak semua orang berotak kosong sepertimu, Arion”, ujar


Zero ketus. Dia berjalan menuruni tangga, menuju kulkas di dapur.


“Jahat sekali kata-katamu”, protes Arion. Lalu ia kembali


menatapku. “Apa kau tidak pernah remidi?”


Aku mengangguk mengiyakan. “Aku belajar sendiri dari buku


“Heh? Begitu saja? Hebatnya.... Padahal materinya


benar-benar rumit. Semua soal menanyakan tentang x dan y dan teman-temanya. Aku


bahkan tidak tahu kenapa x dan y harus dicari. Aku tidak mengerti kenapa manusia mempelajari semua itu?


Merepotkan sekali” Arion kembali menegak cola nya hingga habis, lalu ia meraih


buku sekolah yang ia bawa dan membukanya di atas meja. “Key, kau bisa


mengajariku?”


“Boleh”, ujarku. Duduk di sebelah Arion yang mulai membuka-buka


bukunya.


Bel pintu berbunyi, membuat kami bertanya-tanya siapa


yang datang. Penghuni rumah ini tidak pernah membunyikan bel. Karen bergegas


membukakan pintu. Dan Efterpi berdiri di sana.


“Kak Efterpi”, sapanya sambil tersenyum.


“Karen, lama tidak bertemu”, balas Efterpi ramah. Aku


tidak tahu kalau mereka dekat. Mereka bahkan berpelukan sebentar. “Oh, aku suka


rambutmu “


Karen kembali tersenyum ceria. “Makasih”


“Zero ada?”


Karen mengangguk. “Masuklah”


Efterpi melambaikan sebelah tanganya pada Zero yang


sekarang berdiri di samping tangga. Seperti biasa Zero memasang wajah datar,


seolah tidak mau repot-repot membalas sapaan temanya. “Kau tidak perlu datang


sendiri. Kenapa tidak memakai jasa pengantar barang?”


Efterpi tertawa pelan sambil berjalan masuk. “Aku tidak


terbiasa dengan kurir manusia”, ujarnya. Rupanya Efterpi membawa sesuatu untuk


Zero dalam totebag yang ditentengnya. “Kau di sini Arion”, sapanya begitu


melihat Arion.


“Well, aku sedang belajar untuk remidi”, ujarnya.


Efterpi mengangguk sambil tersenyum kecil menyapaku. Aku


pun membalasnya dengan cara yang sama. Butuh beberapa detik untuk tersadar dari


rasa terpana saat melihat Efterpi berjalan masuk. Benar juga, Efterpi juga


tampak berbeda dari para murid vampire di Humphire. Dia benar-benar anggun.


Kecantikanya bisa dibilang ada di luar batas normal, bahkan bagi vampire.


“Serius, Zero. Aku sungguh iri padamu. Kau bahkan


mengundang Efterpi jauh-jauh datang kemari, padahal belum lama ini tidur


bersama Keyra”


Jantungku nyaris melompat keluar mendengar ucapan Arion.


Apa yang dia katakan? Kenapa mengungkit masalah itu? Tidak, tunggu. Kenapa juga


aku merasa malu? Kami kan tidak ‘tidur bersama’. Aku mencubit lengan atas


Arion, dan dia malah tertawa.


Mata Efterpi tampak membesar, sudah jelas bahwa dia punya


banyak pertanyaan yang mendadak bermunculan dalam kepalanya setelah mendengar


kalimat Arion barusan. Tapi Efterpi menahan diri untuk berkomentar. Dia hanya


menatap lurus ke arah Zero.


“Berisik kau, Arion”, ujar Zero datar. Seolah sama sekali


tidak terpengaruh oleh kata-kata Arion. Arion hanya tertawa mendengar tanggapan


Zero. “Duduklah, aku akan mengambilkan minuman”, kata Zero pada Efterpi.


Efterpi tidak menjawab, dia hanya mengangguk. Alih-alih


duduk Efterpi menyusul Zero ke dapur. Untuk sesaat tadi, kupikir dia menatapku


dari sudut matanya. Jadi aku memasang telinga untuk mendengarkan pembicaraanya


dengan Zero.


“Dia masih belum minum?”, ujar Efterpi dengan suara


pelan. Ah, dia mengatakan hal yang paling tidak kusangka. “Ini sudah mendekati


batasnya, kau juga tahu itu kan”


“Diamlah. Itu bukan urusanmu”, sahut Zero datar.


“Key...Key, kau dengar?”, tanya Arion, membuatku


kehilangan konsentrasi untuk menguping. Yah, aku juga tidak mau mendengar lebih


lanjut sih. Aku mengalihkan pikiranku ke soal fisika yang ditanyakan Arion.


Jujur saja aku tidak menyangka Efterpi akan menanyakan


masalahku pada Zero. Aku tidak mengerti apa yang salah dengan mereka. Mungkin


vampire seperti Arion dan Efterpi inilah yang membuat Shine berpikir kita semua


dapat hidup berdampingan. Vampire yang baik hati kah? Tidak bisa dipercaya


mereka bahkan ada di depan mataku. Rasanya, tidak seperti nyata mengingat


mereka adalah spesies yang sama dengan vanBlood. Benar juga, masih ada satu


vampire lagi di sini. Kadang aku tidak bisa mencegah diriku bertanya-tanya,


jika Arion dan Efterpi seolah datang dari dongeng fairytale, dari manakah Zero


berasal? Mereka bertiga berteman baik, jadi sewajarnya mereka datang dari


tempat yang sama. Tapi entah kenapa, Zero serasa berbeda. Dia tidak datang dari


negeri dongeng.