
Ditambah hari ini, genap seminggu aku tidak masuk
sekolah. Tidak ada yang menanyakan alasanku bolos. Mungkin memang alasan itu
sudah jelas terlihat. Setelah 2 minggu tanpa tidur, tubuhku kembali drop.
Darahku seolah mendidih di sekujur tubuh dan kepalaku mulai berkunang-kunang.
Kadang rasanya tubuhku bergerak di luar keinginanku, seolah bukan lagi milikku.
Tiga hari lalu, aku merasa seperti tertidur dan bermimpi. Tapi ternyata aku
berjalan ke tengah hutan lewat tengah malam. Entah bagaimana aku bisa berjalan
sejauh itu tanpa menyadarinya. Lalu munculah suara yang tak akan kulupakan di
dalam kepalaku. Suara vanBlood. Bulu kudukku meremang menyadari semua ini bukan
mimpi atau halusinasiku saja.
‘Kau tidak terlihat sehat ya?’, sapa suara vanBlood yang entah bagaimana muncul di dalam kepalaku. ‘Aku benar-benar tidak menyangka kau bisa menahanya selama ini. Bukankah menahan rasa haus vampire membuat seluruh sel dalam tubuhmu kesakitan?’
‘Di mana kau?’, tanyaku dalam hati.
Menjijikkan memang, tapi kami bisa berkomunikasi lewat pikiran. Entah sejak
kapan dia bisa melakukan hal ini. Dia bahkan mengendalikan tubuhku.
‘Eeh? Apa kau sebegitu ingin bertemunya denganku? Mengejutkan. Ah, benar juga, kau
memanfaatkan hunter untuk melacakku ya. Aku terharu loh kamu berusaha sekeras
itu untuk menemukanku’
‘Katakan saja di mana posisimu? Aku akan segera datang untuk membunuhmu’
‘Membunuhku? Ahahaha. Terlalu cepat 100 tahun untukmu, nona kecil’, ujarnya. ‘Aku
benar-benar tidak sabar menantikanmu datang bersama teman-temanmu itu. Biarkan
aku bersenang-senang dengan mereka sebelum menikmati darahmu. Tapi...kalau kau
mau jadi gadis baik yang menurut, aku akan memberitahumu lokasiku’
Aku mengepalkan jemariku. Aku harus membunuhnya! Akan kupastikan
untuk membunuhnya dengan tanganku ini! VanBlood memang vampire brengsek.
Berani-beraninya dia mengancamku. Dia pasti berpikir aku tidak akan bisa
membunuhnya. Karena itu aku menyeret Shine dan Shane dalam masalah ini. Tidak.
Tenang dulu. Justru bagus jika vanBlood berpikir begitu. Itu berarti aku bisa
mencari celah saat Shine dan Shane maju. Lagipula sejak awal aku memang berniat
memanfaatkan mereka.
Aku menyeringai geli. Tidak habis pikir kenapa vanBlood
menyangka ancaman semacam itu akan mempan terhadapku. Aku tidak peduli sedikit
pun pada apa yang mungkin menimpa kedua hunter itu, ataupun teman vampire
mereka. Aku akan membalaskan dendamku walau harus mengorbankan orang lain.
Entah atas dasar apa vanBlood berpikir aku akan mengurungkan niat dan memilih
menyerahkan diriku padanya. Jangan bercanda!
***
Tidak ada yang menyadari kejadian malam itu. Lagipula aku
memang sering berkeliaran sendirian ke hutan. Bahkan Karen tidak menganggapnya
hal yang mencurigakan. Untunglah, nampaknya Karen bisa menekan bakatnya denagn
baik. Dia tidak mendapat banyak penglihatan masa depan secara acak seperti
dulu. Karen hampir menjalani kehidupan senormal manusia biasa, kecuali bahwa
dan tinggal serumah dengan vampire.
Bukan cuma satu, rasanya ada dua vampire yang tinggal di
sini karena Arion datang hampir setiap hari. Dia masih tidak menyerah untuk
menempeli Zero, walau selalu diabaikan. Padahal kupikir hubungan mereka mulai
membaik, tapi sikap dingin Zero sama sekali tidak berubah.
Arion mendengus kesal. Dibukanya sekaleng cola yang baru
diambil dari kulkas. Arion meneguknya hingga nyaris habis. “Dia itu benar-benar
tidak pernah berubah”, uajrnya mulai mengumpat sikap Zero. “Aku kan tidak
setiap hari datang meminta bantuanya. Lagipula apa susahnya coba mengajariku
sedikit agar lulus remidi”
“Remidi?”, ulangku. Tidak yakin mendengar hal yang benar.
Bukanya Arion bilang ujian untuk vampire hanya masalah adaptasi mereka.
Arion memalingkan tatapanya menghindari mataku.
“Yaah..begitulah. Aku harus ikut remidi”
“Tapi kau bilang bukan ujian yang seperti itu untuk murid
vampire lulus”
Kali ini wajah Arion tampak sedikit memerah. Sambil malu,
dia bergumam, “Aku lulus tes adaptasi, tapi gagal di semua mata pelajaran”
Aku nyaris tersedak napasku sendiri. Semua mata
pelajaran? Serius? Arion tidak terlihat seperti orang yang akan remidi.
“Tahu begini aku tidak akan sering-sering bolos”,
keluhnya. “Tunggu dulu, bagaimana denganmu, Key? Kau tertular kebiasaan bolos
Zero dan hampir tidak pernah masuk sekolah”
Well, aku tidak yakin bagaimana menjawabnya.
“Tidak semua orang berotak kosong sepertimu, Arion”, ujar
Zero ketus. Dia berjalan menuruni tangga, menuju kulkas di dapur.
“Jahat sekali kata-katamu”, protes Arion. Lalu ia kembali
menatapku. “Apa kau tidak pernah remidi?”
Aku mengangguk mengiyakan. “Aku belajar sendiri dari buku
“Heh? Begitu saja? Hebatnya.... Padahal materinya
benar-benar rumit. Semua soal menanyakan tentang x dan y dan teman-temanya. Aku
bahkan tidak tahu kenapa x dan y harus dicari. Aku tidak mengerti kenapa manusia mempelajari semua itu?
Merepotkan sekali” Arion kembali menegak cola nya hingga habis, lalu ia meraih
buku sekolah yang ia bawa dan membukanya di atas meja. “Key, kau bisa
mengajariku?”
“Boleh”, ujarku. Duduk di sebelah Arion yang mulai membuka-buka
bukunya.
Bel pintu berbunyi, membuat kami bertanya-tanya siapa
yang datang. Penghuni rumah ini tidak pernah membunyikan bel. Karen bergegas
membukakan pintu. Dan Efterpi berdiri di sana.
“Kak Efterpi”, sapanya sambil tersenyum.
“Karen, lama tidak bertemu”, balas Efterpi ramah. Aku
tidak tahu kalau mereka dekat. Mereka bahkan berpelukan sebentar. “Oh, aku suka
rambutmu “
Karen kembali tersenyum ceria. “Makasih”
“Zero ada?”
Karen mengangguk. “Masuklah”
Efterpi melambaikan sebelah tanganya pada Zero yang
sekarang berdiri di samping tangga. Seperti biasa Zero memasang wajah datar,
seolah tidak mau repot-repot membalas sapaan temanya. “Kau tidak perlu datang
sendiri. Kenapa tidak memakai jasa pengantar barang?”
Efterpi tertawa pelan sambil berjalan masuk. “Aku tidak
terbiasa dengan kurir manusia”, ujarnya. Rupanya Efterpi membawa sesuatu untuk
Zero dalam totebag yang ditentengnya. “Kau di sini Arion”, sapanya begitu
melihat Arion.
“Well, aku sedang belajar untuk remidi”, ujarnya.
Efterpi mengangguk sambil tersenyum kecil menyapaku. Aku
pun membalasnya dengan cara yang sama. Butuh beberapa detik untuk tersadar dari
rasa terpana saat melihat Efterpi berjalan masuk. Benar juga, Efterpi juga
tampak berbeda dari para murid vampire di Humphire. Dia benar-benar anggun.
Kecantikanya bisa dibilang ada di luar batas normal, bahkan bagi vampire.
“Serius, Zero. Aku sungguh iri padamu. Kau bahkan
mengundang Efterpi jauh-jauh datang kemari, padahal belum lama ini tidur
bersama Keyra”
Jantungku nyaris melompat keluar mendengar ucapan Arion.
Apa yang dia katakan? Kenapa mengungkit masalah itu? Tidak, tunggu. Kenapa juga
aku merasa malu? Kami kan tidak ‘tidur bersama’. Aku mencubit lengan atas
Arion, dan dia malah tertawa.
Mata Efterpi tampak membesar, sudah jelas bahwa dia punya
banyak pertanyaan yang mendadak bermunculan dalam kepalanya setelah mendengar
kalimat Arion barusan. Tapi Efterpi menahan diri untuk berkomentar. Dia hanya
menatap lurus ke arah Zero.
“Berisik kau, Arion”, ujar Zero datar. Seolah sama sekali
tidak terpengaruh oleh kata-kata Arion. Arion hanya tertawa mendengar tanggapan
Zero. “Duduklah, aku akan mengambilkan minuman”, kata Zero pada Efterpi.
Efterpi tidak menjawab, dia hanya mengangguk. Alih-alih
duduk Efterpi menyusul Zero ke dapur. Untuk sesaat tadi, kupikir dia menatapku
dari sudut matanya. Jadi aku memasang telinga untuk mendengarkan pembicaraanya
dengan Zero.
“Dia masih belum minum?”, ujar Efterpi dengan suara
pelan. Ah, dia mengatakan hal yang paling tidak kusangka. “Ini sudah mendekati
batasnya, kau juga tahu itu kan”
“Diamlah. Itu bukan urusanmu”, sahut Zero datar.
“Key...Key, kau dengar?”, tanya Arion, membuatku
kehilangan konsentrasi untuk menguping. Yah, aku juga tidak mau mendengar lebih
lanjut sih. Aku mengalihkan pikiranku ke soal fisika yang ditanyakan Arion.
Jujur saja aku tidak menyangka Efterpi akan menanyakan
masalahku pada Zero. Aku tidak mengerti apa yang salah dengan mereka. Mungkin
vampire seperti Arion dan Efterpi inilah yang membuat Shine berpikir kita semua
dapat hidup berdampingan. Vampire yang baik hati kah? Tidak bisa dipercaya
mereka bahkan ada di depan mataku. Rasanya, tidak seperti nyata mengingat
mereka adalah spesies yang sama dengan vanBlood. Benar juga, masih ada satu
vampire lagi di sini. Kadang aku tidak bisa mencegah diriku bertanya-tanya,
jika Arion dan Efterpi seolah datang dari dongeng fairytale, dari manakah Zero
berasal? Mereka bertiga berteman baik, jadi sewajarnya mereka datang dari
tempat yang sama. Tapi entah kenapa, Zero serasa berbeda. Dia tidak datang dari
negeri dongeng.