
Untunglah, perpustakaan Humphire nyaris kosong hari ini.
Aku bisa beristirahat sebentar dari memahan diri setiap saat. Aku berjalan ke
bagian belakang, bersembunyi di balik barisan rak-rak buku tebal paling jarang dijamah
siapapun, bersandar di dinding. Tubuhku merosot ke lantai, benar-benar
kehabisan tenaga melawan sisi vampire ku. Aku tidak pernah tidur hampir sebulan
ini. Mungkin aku bisa terlelap sebentar. Aku benar-benar lelah.
"Dia memang cantik..."
Siapa itu? Mataku terbuka demi mendengar sebuah suara
yang amat dekat. Sejak kapan Leith duduk di sampingku?!
"Eh? Maaf...apa aku membangunkanmu?"
Aku menyibak beberapa helai rambut yang menutupi wajahku.
Tidak bisa bilang tidak.
"Uhm...maaf"
"Lupakan"
"Bukan...untuk yang kemarin"
Ah, benar juga, dia hampir menyerangku. "Kau tidak
sampai menggigitku, tidak apa-apa. Tapi, kenapa bisa mendadak berhenti? Aku
bersyukur untuk itu, hanya saja agak... janggal"
Leith tersenyum, dia tampaknya setuju denganku.
"Katakan saja, sebuah suara dalam diriku menghentikanku"
Aku tersenyum kecil mendengar gurauannya. Sebuah suara?
Seolah seseorang menyadarkannya dari dalam, seolah hal itu bisa.
"Kenapa kau menyiksa diri seperti ini? Sangat
menyedihkan, seorang vampire yang kelaparan..."
Apa sih maunya? Menceramahi?!
"Sayangnya aku tidak bisa menawarkan darahku
untukmu.."
Eh? "Kenapa? Apa karena kau adalah the lost
prince?"
Kedua mata Leith membesar mendengar pertanyaan langsung
itu. Ia menoleh menatapku.
"Eh? Jadi itu benar?"
"Kau tidak terlihat seperti seseorang yang
mempedulikannya..."
"Memang tidak. Aku hanya bercanda. Kau tahu, tidak
mudah untuk tidak mendengar apa yang lebih dari separuh murid di sini bicarakan
nyaris setiap hari"
Ekspresi di wajah Leith kosong. Tidak bisa dibaca apa
yang ada di pikirannya. Tapi tidak juga, kurasa aku bisa.
"Tidak usah khawatir begitu. Seperti katamu, aku
tidak peduli kebenarannya. Aku tidak akan mengatakannya pada siapapun" Aku
memberikan seulas senyum meyakinkan untuk Leith. Dia membalasnya dengan sedikit
seringai.
"Trims", gumamnya sambil melangkah pergi.
Ada apa dengan reaksinya tadi? Entahlah, bukan urusanku.
Lebih tepatnya, aku tidak punya waktu memikirkan hal lain selain diriku. Jam
istirahat sudah dari tadi berakhir. Tapi kurasa aku tidak bisa kembali ke
kelas. Aku berjalan ke arah belakang banngunan sekolah. Keringat dingin
mengucur dari sekujur tubuhku. Dadaku sakit seolah sesuatu menghantam
jantungku. Tubuhku seperti bukan milikku. Napasku memburu tiap kali aku
berpapasan dengan murid lain--manusia. Rasa haus darahku tak tertahan lagi.
Suara di dalam kepalaku kembali muncul. Suara vanBlood, vampire yang
mengubahku. Suaranya berbisik, "Minum darah manusia-manusia itu hingga
kering. Puaskan dahagamu! Bunuh mereka!!"
Aku berlari dengan seluruh kesadaran yang tersisa dalam
diriku, ke bagian belakang sekolah yang sepi. Tiba-tiba seseorang meraih
tanganku, menarikku masuk ke dalam sebuah kamar mandi tak terpakai. Shane!
"Apa yang kau lakukan?! Lepas! Tinggalkan aku
sendiri!!"
"Aku tahu seberapa keras usahamu untuk menahan nafsu
untuk darah. Dan kau juga tahu nafsu itu tak bisa ditahan lebih lama lagi. Jika
terus begini kau akan kehilangan dirimu sepenuhnya"
"Sudah kubilang, jika saat itu tiba kau harus
menghentikanku"
"Aku tidak bisa"
"Kau seorang hunter, Shane.."
"Aku tidak bisa membunuhmu!" Shane memotong
ucapanku, matanya menatap mataku dengan tajam. "Aku tidak ingin kau mati
ataupun menjadi mad vampire! Kau
tidak boleh menyerah, Key, atas hidupmu dan juga dirimu"
"Shane.."
Shane duduk bersandar ke dinding sambil menarikku ke
arahnya, ke lehernya. "Minum darahku. Hanya dengan ini aku bisa
membantumu"
Dari jarak ini aku bisa mendengar desir darah Shane di
balik kulit lehernya. Menggelegak dan hangat. "Tidak..."
"Ini satu-satunya cara kau bertahan"
menyayat lehernya sendiri. Tapi aku lebih cepat. Aku menyambar tangannya dan
memegangnya erat-erat. Detik selanjutnya taringku sudah tertancap di leher
Shane, menghisap darahnya. Dahaga membutakanku. Aku tidak sadar waktu berlalu
hingga Shane membisikan namaku.
"Key..."
Aku tersentak. Kesadaran menghantamku. Aku berada di
pangkuan Shane, menghimpit badannya dan menghisap lebih dari setengah darahnya!
"Aku baik-baik saja...", kata Shane, ujung bibirnya
membentuk simpul senyuman.
Bohong! Dia terlihat pucat dan lemas. "Ma-maaf"
"It's ok. Kau benar-benar menahannya terlalu lama..
Jangan lakukan itu lagi, ok?"
“Lagi?”
"Yah..aku akan siap kapanpun kau butuhkan"
Tidak! Ini tidak benar. "Aku minta maaf. Ini
kesalahanku. Aku tidak berniat untuk melakukan hal seperti itu..." Jari
telunjuk Shane menekan bibirku.
"Sst..."
Aku meraih jari itu, menurunkannya. "Tidak, Shane.
Kau seorang hunter. Mana bisa kau membiarkan vampire menghisap darahmu"
"Aku bisa melakukan apapun, jika itu kau. Sudah
kubilang, aku menyukaimu"
Uh?
"Aku seorang hunter dan kau vampire. Aku tahu itu.
Tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa aku menyukaimu"
Keributan mulai muncul di seantero Humphire. Para vampire
pasti mencium bau darah Shane. Akhirnya aku benar-benar melanggar peraturan
yang melarang vampire minum di sekolah. Shane kelihatanya menyadarinya juga.
“Cepat pulanglah. Aku akan menjelaskan pada mereka”
“Tidak ak-..”
“Kau hanya akan membuat dirimu dihukum. Cepat pergi. Aku
bisa menanganinya”
Aku menatap Shane. Merasa bersalah sudah meminum
darahnya, membuatnya lemas, dan kini aku tidak punya banyak pilihan. Aku
menuruti kata-kata Shane dan segera keluar dari kamar mandi rusak itu. Aku
berlari sekencang yang kubisa ke bagian belakang sekolah, memanjat pagar dan
kembali ke rumah Zero. Napasku memburu ratusan kali lebih cepat. Aku membanting
pintu tertutup di belakangku. Menemukan Karen berdiri di ruang tamu, menatapku
dengan penyesalan memenuhi matanya.
“Karen, kau tahu ini akan terjadi. Iya, kan?! Karena itu
kau tidak berangkat sekolah! Dan kenapa? Kenapa kau tidak menghentikanku?
Kenapa kau tidak mengatakan apapun?!”
“A-aku...”
Karen tidak meneruskan kata-katanya. Dia tahu apapun yang
dikatakan hanya akan membuatku marah. Dan dia juga tahu aku tidak benar-benar
tidak mengerti alasanya. Karen menginginkan hal ini terjadi. Karena dia tahu
aku sudah hampir kehilangan kesadaranku sepenuhnya. Tidak, bahkan jika dia
tidak tahu dia akan tetap memilih membiarkanku meminum darah. Dalam hal ini dia
sama saja seperti Zero. Aku menyibakkan rambutku ke belakang. Melangkah ke sofa
dan menjatuhkan diri duduk di sana. Aku benar-benar berakhir menjadi vampire.
Aku baru saja menggigit dan meminum darah Shane. Bagaimana mereka bisa
membiarkanku melakukannya, sementara mereka mengetahui dengan jelas aku tidak
menginkan hal ini terjadi.
Karen tidak mengatakan sepatah katapun. Membiarkan aku
sibuk menjambaki rambutku. Beberapa lama kemudian pintu terayun membuka. Shine
dan Shane melangkah masuk, Zero mengikuti di belakang mereka. Shane menjatuhkan
dirinya, duduk bersandar di salah satu sofa, wajahnya masih sepucat tadi.
“Aku benar-benar menyesal..”
Shane mendengus. “Jangan mulai lagi, Key. Aku baik-baik
saja, ok?”
“Tidak. Kau kehilangan banyak darah” Zero menyahut
mendahuluiku. “Jika kau manusia biasa mungkin saat ini kau sudah koma, Shane.
Tindakan kalian benar-benar ceroboh”
“Cukup, Zero. Aku yang menyuruhnya..”
“Dan kau seharusnya bisa menolak tawaran konyol Shane
jika kau tidak keras kepala sepanjang waktu dan menegak salah satu kantung
darah di kamarku. Sudah berapa kali aku katakan bahwa nafsu vampire tidak bisa
ditahan selamanya”
“Zero, ini bukan urusanmu! Aku yang membuatnya meminum
darahku. Kau tidak berhak menyalahkannya”, seru Shane.
Zero menatap Shane, tampak tidak percaya pada apa yang
baru didengarnya. Sebenarnya betul bahwa Zero tidak berhak menyalahkanku atau
melarangku setiap waktu. Hanya saja tidak ada yang mengatakannya selama ini.
Dan aku tidak bisa mengatakannya dengan mulutku sendiri. Aku sendiri pun merasa
salah. Tapi kata-kata Shane tampaknya membuat Zero marah.