The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 17 Ujung Naluri (part 2)



Untunglah, perpustakaan Humphire nyaris kosong hari ini.


Aku bisa beristirahat sebentar dari memahan diri setiap saat. Aku berjalan ke


bagian belakang, bersembunyi di balik barisan rak-rak buku tebal paling jarang dijamah


siapapun, bersandar di dinding. Tubuhku merosot ke lantai, benar-benar


kehabisan tenaga melawan sisi vampire ku. Aku tidak pernah tidur hampir sebulan


ini. Mungkin aku bisa terlelap sebentar. Aku benar-benar lelah.


"Dia memang cantik..."


Siapa itu? Mataku terbuka demi mendengar sebuah suara


yang amat dekat. Sejak kapan Leith duduk di sampingku?!


"Eh? Maaf...apa aku membangunkanmu?"


Aku menyibak beberapa helai rambut yang menutupi wajahku.


Tidak bisa bilang tidak.


"Uhm...maaf"


"Lupakan"


"Bukan...untuk yang kemarin"


Ah, benar juga, dia hampir menyerangku. "Kau tidak


sampai menggigitku, tidak apa-apa. Tapi, kenapa bisa mendadak berhenti? Aku


bersyukur untuk itu, hanya saja agak... janggal"


Leith tersenyum, dia tampaknya setuju denganku.


"Katakan saja, sebuah suara dalam diriku menghentikanku"


Aku tersenyum kecil mendengar gurauannya. Sebuah suara?


Seolah seseorang menyadarkannya dari dalam, seolah hal itu bisa.


"Kenapa kau menyiksa diri seperti ini? Sangat


menyedihkan, seorang vampire yang kelaparan..."


Apa sih maunya? Menceramahi?!


"Sayangnya aku tidak bisa menawarkan darahku


untukmu.."


Eh? "Kenapa? Apa karena kau adalah the lost


prince?"


Kedua mata Leith membesar mendengar pertanyaan langsung


itu. Ia menoleh menatapku.


"Eh? Jadi itu benar?"


"Kau tidak terlihat seperti seseorang yang


mempedulikannya..."


"Memang tidak. Aku hanya bercanda. Kau tahu, tidak


mudah untuk tidak mendengar apa yang lebih dari separuh murid di sini bicarakan


nyaris setiap hari"


Ekspresi di wajah Leith kosong. Tidak bisa dibaca apa


yang ada di pikirannya. Tapi tidak juga, kurasa aku bisa.


"Tidak usah khawatir begitu. Seperti katamu, aku


tidak peduli kebenarannya. Aku tidak akan mengatakannya pada siapapun" Aku


memberikan seulas senyum meyakinkan untuk Leith. Dia membalasnya dengan sedikit


seringai.


"Trims", gumamnya sambil melangkah pergi.


Ada apa dengan reaksinya tadi? Entahlah, bukan urusanku.


Lebih tepatnya, aku tidak punya waktu memikirkan hal lain selain diriku. Jam


istirahat sudah dari tadi berakhir. Tapi kurasa aku tidak bisa kembali ke


kelas. Aku berjalan ke arah belakang banngunan sekolah. Keringat dingin


mengucur dari sekujur tubuhku. Dadaku sakit seolah sesuatu menghantam


jantungku. Tubuhku seperti bukan milikku. Napasku memburu tiap kali aku


berpapasan dengan murid lain--manusia. Rasa haus darahku tak tertahan lagi.


Suara di dalam kepalaku kembali muncul. Suara vanBlood, vampire yang


mengubahku. Suaranya berbisik, "Minum darah manusia-manusia itu hingga


kering. Puaskan dahagamu! Bunuh mereka!!"


Aku berlari dengan seluruh kesadaran yang tersisa dalam


diriku, ke bagian belakang sekolah yang sepi. Tiba-tiba seseorang meraih


tanganku, menarikku masuk ke dalam sebuah kamar mandi tak terpakai. Shane!


"Apa yang kau lakukan?! Lepas! Tinggalkan aku


sendiri!!"


"Aku tahu seberapa keras usahamu untuk menahan nafsu


untuk darah. Dan kau juga tahu nafsu itu tak bisa ditahan lebih lama lagi. Jika


terus begini kau akan kehilangan dirimu sepenuhnya"


"Sudah kubilang, jika saat itu tiba kau harus


menghentikanku"


"Aku tidak bisa"


"Kau seorang hunter, Shane.."


"Aku tidak bisa membunuhmu!" Shane memotong


ucapanku, matanya menatap mataku dengan tajam. "Aku tidak ingin kau mati


ataupun menjadi mad vampire! Kau


tidak boleh menyerah, Key, atas hidupmu dan juga dirimu"


"Shane.."


Shane duduk bersandar ke dinding sambil menarikku ke


arahnya, ke lehernya. "Minum darahku. Hanya dengan ini aku bisa


membantumu"


Dari jarak ini aku bisa mendengar desir darah Shane di


balik kulit lehernya. Menggelegak dan hangat. "Tidak..."


"Ini satu-satunya cara kau bertahan"


menyayat lehernya sendiri. Tapi aku lebih cepat. Aku menyambar tangannya dan


memegangnya erat-erat. Detik selanjutnya taringku sudah tertancap di leher


Shane, menghisap darahnya. Dahaga membutakanku. Aku tidak sadar waktu berlalu


hingga Shane membisikan namaku.


"Key..."


Aku tersentak. Kesadaran menghantamku. Aku berada di


pangkuan Shane, menghimpit badannya dan menghisap lebih dari setengah darahnya!


"Aku baik-baik saja...", kata Shane, ujung bibirnya


membentuk simpul senyuman.


Bohong! Dia terlihat pucat dan lemas. "Ma-maaf"


"It's ok. Kau benar-benar menahannya terlalu lama..


Jangan lakukan itu lagi, ok?"


“Lagi?”


"Yah..aku akan siap kapanpun kau butuhkan"


Tidak! Ini tidak benar. "Aku minta maaf. Ini


kesalahanku. Aku tidak berniat untuk melakukan hal seperti itu..." Jari


telunjuk Shane menekan bibirku.


"Sst..."


Aku meraih jari itu, menurunkannya. "Tidak, Shane.


Kau seorang hunter. Mana bisa kau membiarkan vampire menghisap darahmu"


"Aku bisa melakukan apapun, jika itu kau. Sudah


kubilang, aku menyukaimu"


Uh?


"Aku seorang hunter dan kau vampire. Aku tahu itu.


Tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa aku menyukaimu"


Keributan mulai muncul di seantero Humphire. Para vampire


pasti mencium bau darah Shane. Akhirnya aku benar-benar melanggar peraturan


yang melarang vampire minum di sekolah. Shane kelihatanya menyadarinya juga.


“Cepat pulanglah. Aku akan menjelaskan pada mereka”


“Tidak ak-..”


“Kau hanya akan membuat dirimu dihukum. Cepat pergi. Aku


bisa menanganinya”


Aku menatap Shane. Merasa bersalah sudah meminum


darahnya, membuatnya lemas, dan kini aku tidak punya banyak pilihan. Aku


menuruti kata-kata Shane dan segera keluar dari kamar mandi rusak itu. Aku


berlari sekencang yang kubisa ke bagian belakang sekolah, memanjat pagar dan


kembali ke rumah Zero. Napasku memburu ratusan kali lebih cepat. Aku membanting


pintu tertutup di belakangku. Menemukan Karen berdiri di ruang tamu, menatapku


dengan penyesalan memenuhi matanya.


“Karen, kau tahu ini akan terjadi. Iya, kan?! Karena itu


kau tidak berangkat sekolah! Dan kenapa? Kenapa kau tidak menghentikanku?


Kenapa kau tidak mengatakan apapun?!”


“A-aku...”


Karen tidak meneruskan kata-katanya. Dia tahu apapun yang


dikatakan hanya akan membuatku marah. Dan dia juga tahu aku tidak benar-benar


tidak mengerti alasanya. Karen menginginkan hal ini terjadi. Karena dia tahu


aku sudah hampir kehilangan kesadaranku sepenuhnya. Tidak, bahkan jika dia


tidak tahu dia akan tetap memilih membiarkanku meminum darah. Dalam hal ini dia


sama saja seperti Zero. Aku menyibakkan rambutku ke belakang. Melangkah ke sofa


dan menjatuhkan diri duduk di sana. Aku benar-benar berakhir menjadi vampire.


Aku baru saja menggigit dan meminum darah Shane. Bagaimana mereka bisa


membiarkanku melakukannya, sementara mereka mengetahui dengan jelas aku tidak


menginkan hal ini terjadi.


Karen tidak mengatakan sepatah katapun. Membiarkan aku


sibuk menjambaki rambutku. Beberapa lama kemudian pintu terayun membuka. Shine


dan Shane melangkah masuk, Zero mengikuti di belakang mereka. Shane menjatuhkan


dirinya, duduk bersandar di salah satu sofa, wajahnya masih sepucat tadi.


“Aku benar-benar menyesal..”


Shane mendengus. “Jangan mulai lagi, Key. Aku baik-baik


saja, ok?”


“Tidak. Kau kehilangan banyak darah” Zero menyahut


mendahuluiku. “Jika kau manusia biasa mungkin saat ini kau sudah koma, Shane.


Tindakan kalian benar-benar ceroboh”


“Cukup, Zero. Aku yang menyuruhnya..”


“Dan kau seharusnya bisa menolak tawaran konyol Shane


jika kau tidak keras kepala sepanjang waktu dan menegak salah satu kantung


darah di kamarku. Sudah berapa kali aku katakan bahwa nafsu vampire tidak bisa


ditahan selamanya”


“Zero, ini bukan urusanmu! Aku yang membuatnya meminum


darahku. Kau tidak berhak menyalahkannya”, seru Shane.


Zero menatap Shane, tampak tidak percaya pada apa yang


baru didengarnya. Sebenarnya betul bahwa Zero tidak berhak menyalahkanku atau


melarangku setiap waktu. Hanya saja tidak ada yang mengatakannya selama ini.


Dan aku tidak bisa mengatakannya dengan mulutku sendiri. Aku sendiri pun merasa


salah. Tapi kata-kata Shane tampaknya membuat Zero marah.