The Lost Prince

The Lost Prince
Special Chapter 2 (Shine) Dia Penyelamat Kami



16 April 1981


Waktu itu Shane dan aku baru berusia 8 tahun. Kami tinggal


di Nevada dan menjalani rutinitas normal seperti anak seusia kami. Kecuali


bahwa kami memiliki les yang berbeda setiap sore. Itu adalah pelatihan untuk


vampire hunter muda. Karena terlahir dari ayah dan ibu yang bekerja sebagai


vampire hunter, nama kami sudah terdaftar sebagai anggota hunter sejak lahir.


Hal seperti ini sudah menjadi tradisi keluara hunter dari generasi ke generasi.


Mengingat jumlah orang yang mengetahui keberadaan vampire juga terbatas,


umumnya hunter adalah mereka yang berasal dari keluarga hunter.


Kami baru mengetahui tentang vampire dan hunter sejak


setahun lalu. Ayah menceritakanya pada kami. Shane menangis selama lebih dari


satu jam saat Ayah bilang vampire benar-benar ada. Tapi anehnya, setelah


menerima keadaan itu, Shane berlatih dengan sungguh-sungguh. Dia mungkin akan


mnejadi huter yang lebih kuat dariku. Shane bahkan meminta Ayah dan Ibu


mengijinkan kami untuk ikut hunter camp akhir pekan ini.


“Shine, apa kau tidak enak badan?”, tanya Shane.


Aku menggeleng. “Aku baik-baik saja”


“Kau terlihat tidak seperti biasa. Apa kau sebenarnya tidak


mau ikut camp ini?”


“Bukan begitu…”


Shane menatapku tajam. Aneh, meskipun wajahnya persis


seperti wajahku sendiri, entah kenapa di balik mata Shane seolah terdapat api


yang berkobar. Aku tidak bisa berbohong padanya.


“Aku tidak tahu”, ujarku, memutuskan untuk berkata jujur.


“Sebenarnya, aku masih tidak yakin apa aku bisa menjadi seorang hunter?”


“Hah?! Kenapa tidak bisa?! Ayah dan Ibu kita hunter. Pak


guru Max juga bilang kalau kita berbakat”


Aku menarik napas dalam-dalam. Sepertinya Shane belum


benar-benar memikirkan pekerjaan hunter yang sebenarnya. “Kau tahu, tujuan


pelatihan hunter adalah untuk menjadikan kita sebagai pembunuh. Setiap kali


pergi, itulah yang dilakukan ayah dan ibu”


“Mereka melindungi manusia, Shine”, ujar Shane tegas.


“Vampire adalah musuh kita”


Aku tahu itu. Ayah, Ibu dan guru kami, Max, mengulang


kalimat itu hampir setiap hari.


“Aku mungkin tidak bisa membunuh”


Shane tidak menanggapi ucapanku. Ia hanya merangkulku pelan.


Pada saat seperti ini aku jadi bertanya-tanya, kenapa aku terlahir lebih dulu,


aku sama sekali bukan kakak yang baik untuk Shane. Shane selalu tegas dan


berani, tapi aku justru sering dipenuhi keraguan dan ketakutan. Menyedihkan.


Hunter camp berlalu dengan lebih menyenangkan dari yang


kuduga. Ayah datang menjemput kami hari minggu sore. Karena Shane dan aku


merasa lapar, kami segera kembali ke rumah. Ibu memasakkan menu favorit kami,


bacon panggang. Namun, saat mobil kami mendekati rumah, ayah mendadak menginjak


rem. Matanya terperangah menatap ke rumah. Aku ikut melihat ke rumah, seseorang


terlihat berjalan di belakang jendela. Seorang wanita tinggi berkulit pucat.


Dia bukan ibu!


Aku bergidik ngeri demi melihat sosok wanita di dalam rumah


kami. Perasaan ngeri menyelimuti kami hanya karena melihat wanita itu. Ayah


bergegas mengambil pistolnya, mengirim pesan darurat ke pusat dengan kode morse


lewat radio.


“Aku akan membantu ibu kalian”, ujar Ayah. “Kalian berdua


tetap bersembunyi. Jangan mengeluarkan suara, apapun yang terjadi, mengerti?”


Aku dan Shane mengangguk, walau sama sekali belum selesai


membaca situasi kami. Ayah langsung keluar mobil dan berlari ke rumah. Sosok


wanita di dalam rumah terlihat berjalan ke ruang depan. Wanita pucat itu


berdiri tepat di pintu yang terbuka. Ia membawa sesuatu yang menjuntai hingga


ke lantai. Sontak aku menutup rapat mulutku dan mulut Shane dengan kedua tanganku.


Ia membawa tubuh ibu kami yang lunglai dan tak bergerak.


Ayah berteriak menyumpahi wanita pucat itu, menghujaninya


dengan peluru. Tapi entah bagaimana dia bisa menepis semua peluru ayah. Ini


buruk, ayah tidak bisa berpikir tenang sekarang, dan dia sendirian. Aku berniat


mengirim kembali beberapa pesan darurat ke pusat, tapi ayah merusak radio itu


sebelum keluar mobil.


Shane mulai gemetaran. Aku mendekapnya erat-erat, walau


tubuhku juga gemetaran tidak karuan. Belum sempat kami memikirkan solusi


apapun, wanita itu sudah berdiri di depan ayah. Ia meremas pistol yang ayah


bawa. Ayah terlihat mencoba melawanya dengan tangan kosong.tapi, tepat seperti


yang pak Max ajarkan pada kami, vampire bukan tandingan manusia. Kita tidak


punya kesempatan dalam pertarungan tanpa senjata.


Napasku terbata-bata. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.


halaman rumah kami. Tubuh ayah dan ibu tergeletak tak bernyawa. Dan sang wanita


pucat itu berdiri dengan sebuah seringai sadis. Aku mematung di kursi belakang


mobil ayah. Menyaksikkan semuanya tanpa bisa menggerakkan satu jaripun. Air


mataku mulai tumpah tanpa peringatan. Begitu pula Shane. Detik selanjutnya, si


wanita pucat berjalan ke arah mobil kami.


Ia berjalan seperti manusia biasa. Pelan, mendekat. Aku


masih tidak bisa bergerak. Entah kenapa bahkan untuk berteriak saja rasanya


tidak bisa. Apakah kami juga akan mati di sini?


“Mrs. Shanafelt, Anda sudah kelewatan”, ujar sebuah suara,


membuat si wanita pucat menghentikan langkahnya.


Beberapa orang berjubah muncul entah dari mana. Tiga orang


pria dengan pedang di tangan. Mereka juga mengeluarkan aura pekat seperti si


wanita pucat.


“Ini sebuah kejutan. Saya tidak menyangka Anda akan datang


ke tempat seperti ini”, kata si wanita pucat.


“Ya, kami juga. Jadi kurasa kita bisa melewatkan basa basi


ini”, ujar pria bermata biru topaz yang berdiri di tengah.


“Anda benar”, ujar si wanita pucat. “Saya akan menyelesaikan


urusan ini sebentar jika Anda tidak keberatan”


Salah satu dari pria berjubah itu berlari maju dengan


kecepatan diluar nalar. Ia mengunuskan pedangnya di depan wanita pucat.


Memaksanya berhenti. Mereka hanya berjarak dua meter dari mobil tempat aku dan


Shane saling mendekap tanpa mampu menggerakkan tubuh kami.


“Minggir, aku harus mengurus dua saksi mata itu” Si wanita


pucat memerintahkan pria di depanya.


Pria berjubah yang berpostur paling tinggi mendekat dari


belakang si wanita pucat. “Anda melakukan kesalahan fatal. Dengan melanggar


perjanjian gencatan senjata dengan hunter, Anda juga melanggar perintah Yang


Mulia”


“Oh, ini tidak akan menjadi masalah jika tidak ada saksi” Si


wanita pucat nampaknya hendak berdalih lagi. Tapi sebuah pedang sudah menembus


dadanya sebelum ia sempat mengatakan apapun. Dan ia terjatuh ke tanah seperti


pohon tua yang tumbang.


Pria bermata biru menghampiri kedua temanya. Mereka


tampaknya memastikan si wanita pucat sudah tewas.


“Bagaimana dengan mereka?”, tanya pria bertubuh tinggi besar


yang tadi menusuk wanita pucat. Bulu kudukku kembali meremang menyadari ketiga


pasang mata vampire yang melirik ke arah kami.


“Mungkin kita bisa menghapus ingatan mereka”, saran pria


lainya.


“Tidak” Pria bermata biru topaz menolak. “Mereka mungkin


anak-anak hunter. Kita tidak boleh merampas ingatan tentang orang tua mereka”


Aku menelan ludah. Tidak mengerti apa yang terjadi di


depanku. Siapa orang-orang ini? Mereka jelas vampire, tapi mereka menyerang


bangsanya sendiri. Lalu saat ini mereka tengah menutupi tubuh ayah dan ibu


dengan beberapa kain yang diambil dari jemuran. Sekitar 5 menit kemudian


bantuan dari pusat hunter tiba. Tiga vampire berjubah itu tampak berdiskusi


dengan anggota bantuan dari pusat hunter. Sesaat kemudian mereka pergi sambil


membawa tubuh si wanita pucat yang tak bernyawa. Tim bantuan dari pusat hunter


bergegas mengurus jasad ayah dan ibu. Mereka juga membawa kami ke rumah sakit.


Kami mengalami trauma berat. Dan tidak bisa bicara selama


seminggu lebih. Shane bahkan terlihat seperti bukan dirinya lagi. Setelah bisa


mengendalikan diri, aku bertanya ada dokter yang merawat kami tentang keadaan


Shane. Menurut dokter, Shane hanya butuh waktu untuk menerima kenyataan. Selama


dirawat, Shane dan aku tetap bersama. Dan sebisa mungkin aku mengajak Shane


bermain seperti biasa. Kami tidak membicarakan kejadian malam itu untuk waktu


yang lama. Saat kondisi Shane sudah stabil aku membicarakan kejadian itu, tapi


Shane tidak bisa mengingat beberapa hal dengan baik. Ingatanya terhenti hingga


saat ayah terjatuh ke tanah.


Juni, 1989


Saat itu kami terpojok oleh sekelompok madvampire. Shane


terluka, aku menggendongnya sambil berlari. Tapi kami terkejar. Aku


mengeluarkan senapan, mulai menembak. Sial! Peluruku hampir habis. Saat itulah


seseorang menebas para mad vampire itu. Ia melakukanya dengan kecepatan tidak


manusiawi. Aku membeku di tempat, melihat pria yang berdiri di depanku. Seorang


vampire yang berusaha menutupi wajahnya dengan hoodie besar yang ia kenakan.


Tapi aku mengenalinya, sepasang mata biru topaz cemerlang di antara rambut


pirang yang terjatuh di dahinya. Dia vampire yang sama dari 8 tahun yang lalu.


***