The Lost Prince

The Lost Prince
Special Chapter 5 (Arion) Karma



Aku tidak membenci dunia di permukaan. Tapi aku tidak pernah


berpikir untuk menetap di permukaan. Di sini benar-benar penuh sesak dengan


manusia. Ini kali pertama aku membeli sebuah rumah untuk menetap. Aku menemukan


namanya terdaftar di sebuah sekolahan untuk beradaptasi vampire di permukaan.


Tentu saja itu nama samara yang biasa dia gunakan, Zero. Aku masuk ke sekolah


bernama Humphire itu, berharap segera bisa menemukanya. Tapi meskipun sudah


berbulan-bulan, aku tidak bisa menemukanya sama sekali.


Saat kupikir daftar nama yang kudapatkan itu salah, aku


menemukanya! Itu benar-benar dia! Archi! Aku bergegas membuntutinya ke bagian


belakang sekolah. Ia berbaring dibawah sebatang pohon rindang. Dua kantung mata


tampak bergelayut di sebelah ataas pipinya. Entah apa saja yang dilakukanya


selama menghilang.


“Aku menemukanmu”, ujarku begitu mendekatinya.


“Arion? Apa kau datang untuk menangkapku?”, tanyanya datar.


Dia ini benar-benar menyebalkan! Bagaimana bisa dia


menggunakan suara sedatar itu padaku setelah menghilang selama dua tahun. Apa


dia tidak sadar aku sudah mencarinya ke setiap sudut dunia?!


“Aku tidak akan bisa melakukanya” Meskipun sebenarnya aku


sangat menginginkanya. Kalau saja aku lebih kuat darinya mungkin aku sudah


mengikatnya dan menahanya lalu membawanya pulang ke Lucania. Tapi itu tidak


mungkin kulakukan. Yah, setidaknya aku sudah menemukanya. Dan setidaknya dia


terlihat baik-baik saja.tidak ada yang berubah darinya.


Zero bersikap tak acuh padaku. Tapi ada yang benar-benar


aneh. Dia membela seorang gadis yang mendengarkan pembicaraan kami. Betapa


kagetnya aku saat menemukan bahwa Zero tinggal bersama dua orang hunter. Bukan


itu saja gadis tadi juga tinggal di rumahnya, bersama adiknya. Adiknya, Karen


benar-benar manis tapi gadis setengah vampire bernama Key itu tampaknya tidak


hanya cantik di luar. Gadis itu bernama Key. Dia memiliki mata cokelat yang


indah dan rambut hitam panjang yang cantik. Aroma darahnya berbeda dari orang


biasa. Aku mulai bertanya-tanya orang seperti apa dia. Menurut perkataan Key,


Zero bukan orang yang mengubahnya tapi dia tertarik pada darahnya.


Key sama sekali tidak memahami vampire. Bagi kami, bangsa


vampire, ada satu darah yang sangat kami inginkan melebihi apapun di dunia,


yaitu darah dari orang yang dicintai. Aku sudah mengenal Archi, maksudku Zero


sejak kecil. Dan dia belum pernah menginginkan darah siapapun sebagai lawan


jenis. Aku bahkan berpikir Zero tidak menolak pertunanganya dengan putri Aileen


karena ia sudah menyerah mencari cintanya sendiri. Aileen sudah seperti adiknya


sendiri. Jadi mungkin itu akan baik-baik saja bahkan jika mereka berakhir


menikah.


Tapi sekarang jika Zero memiliki seseorang yang ia suka,


maka ceritanya akan menjadi berbeda. Aku mulai mendekati Key dan berteman


denganya. Aku ingin mengenalnya lebih dekat,penasaran dengan gadis yang dapat


mencuri hati Zero. Aku bahkan sempat menggoda Zero mengenai bagaimana dia


bersikap keras terhadap Key.


“Kau terlalu keras, Zero. Gimana coba kalau Key jadi takut


dan lari darimu”


“Itu akan bagus jika dia lari dariku”, ujar Zero datar. Ia


terdengar lebih pesimis dari dugaanku.


“Jangan bicara seperti itu.Kau akan menangis jika dia


benar-benar lari. Ah, tapi mungkin juga aku akan mencurinya sebelum itu


terjadi”


Zero menatapku tajam. Mata birunya tampak galak. Kurasa aku


sudah membuatnya marah.


“Kalau kau mempermainkanya, aku mungkin akan membunuhmu”


“Kalau aku bersungguh-sungguh?”


Tatapan Zero masih menghunus tajam ke dalam mataku. Tapi


kali ini ia tidak tampak marah lagi. Aku merasakan firasat buruk tentang ini.


“Kalau kau bisa membuatnya menyukaimu, tentu kau harus


sungguh-sungguh, Arion”


Entah kenapa perkataanya yang tanpa ancaman ini terasa lebih


menyayat ulu hatiku. Apa maksudnya ini? Bukankah Zero menyukainya? Mungkinkah


dia mencoba menyerah begitu saja? Apa dia tidak ingin memiliki Key di


sampingnya? Memang, jika pun Zero bersungguh-sungguh, tidak akan mudah untuk


memiliki Key di sisinya. Walau begitu aku tidak percaya dia akan menyerah


begitu saja.


Aku semakin dekat dengan Key. Sampai terkadang, kupikir aku


mungkin sudah bertindak terlalu jauh. Rasanya Key jauh lebih terbuka padaku


daripada saat dia bersama Zero. Tapi aku tidak bisa berhenti. Aku sadar kalau


Key itu berbahaya. Semakin aku mengenalnya semakin sulit untuk berpaling


Padahal Key hanya seorang gadis biasa, seorang exhuman. Dia


kehilangan kedua orangtuanya dan tubuhnya perlahan berubah menjadi vampire.


Tapi Key benar-benar kuat. Bahkan setelah melalui semua itu, dia masih berdiri


tegar. Bukan hal yang aneh jika exhuman jatuh depresi atau bahkan berubah


menjadi mad vampire. Kebanyakan kasus juga begitu. Tapi Key berbeda. Walau


sebenarnya dia mengalami trauma berat dan kesedihan yang mendalam, dia masih


berniat berjuang untuk melindungi adiknya.


Zero mencoba membuat Key menggugurkan niatnya untuk balas


dendam, tapi dia tidak berhasil. Key tetap keukeuh dan belajar menggunakan


pedang. Ia berbakat. Aku mungkin adalah orang yang mengajarinya, tapi aku juga


orang yang terkagum pada perkembanganya setiap hari. Key seringkali murung dan


kesulitan menahan sisi vampire dalam dirinya. Ia membuatku ingin mengulurkan


tangan dan mendorongnya untuk kembali berdiri. Tapi saat senyumnya kembali


mengembang, aku dibuatnya tidak mampu berkata-kata.


Mau tidak mau aku pun mulai bertanya-tanya, seperti apa


sosok Key sebelum mengalami tragedi ini. Seperti apa dia saat hidup sebagai


manusia biasa? Jika kemurungan dan nafsu untuk membalas dendam tidak ada


padanya, apakah ia akan tersenyum dengan lebih bersinar? Lalu…mungkinkah, Zero


melihat sosoknya itu? kalau begitu, pantas saja ia jatuh hati. Aku hanya bisa


membayangkanya dan bertanya-tanya, tapi mungkin Key akan terlihat begitu bebas


seperti kebebasan itu sendiri.


Aku sudah bertindak bodoh. Dan sekarang sudah terlambat


untuk mundur. Walau sudah tahu hasilnya, aku akhirnya mengatakan perasaanku


pada Key. Aku mencintainya. Tidak peduli jika dia adalah gadis yang sahabatku


sukai. Bahkan jika dia mencintai Zero. Aku tetap mencintainya.


Sial! Mendadak aku teringat perkataan Luke bertahun-tahun


lalu. Aku selalu memiliki beberapa gadis di sekitarku. Aku sudah mengencani


berbagai macam perempuan. Tidak ada yang terasa istimewa bagiku. Dan kupikir


begitu pula bagi mereka. Kami hanya bersenang-senang sebentar lalu putus begitu


saja. Kupikir akan selalu seperti ini. Luke bilang untuk tidak mempermainkan


orang lain jika tidak mau terkena karma. Dasar orang kaku!


Aku melangkah masuk ke salah satu bar di Lucania. Malam ini


sepi pengunjung, nampaknya semua orang bersiap untuk masquerade besok. Tapi


seorang pelanggan tetap di bar itu terlihat duduk di sudut ruangan dengan meja


penuh botol. Aku duduk di kursi di depanya, meraih salah satu botol bir di meja


dan menegaknya.


“Kapan kau kembali?”, tanya pria pemabuk itu. Dia Zane,


pengawal pribadi Archi. Entah kapan terakhir kali kami bicara berdua seperti


ini.


“Hari ini”, sahutku sambil kembai meneguk bir sebanyak yang


kubisa. “Kau bisa berhenti mabuk sekarang, Zane. Dia juga akan kembali”


Kedua mata Zane membesar. Dan sepertinya rasa mabuk akibat


bir yang diminumnya tiba-tiba menghilang tanpa jejak. “Kau serius?!”


Aku mengangguk. Masih menegak botol bir di tangan.


“Lalu kenapa kau minum?”


“Aku hanya ingin mengurangi kesadaranku sebentar”, gumamku.


“Kurasa aku terkena karma”


“Bukankah kau juga mengharapkan dia kembali? Lalu kenapa kau


terlihat depresi?”


Aku sudah menghabiskan satu botol bir. Meraih botol yang


lain dan kembali meneguknya. “Ini bukan tentang Archi. Aku depresi karena


kesalahanku sendiri”


Aku kembali menegak bir. Zane tampak menatapku dengan


prihatin. Tapi aku tidak peduli lagi. Aku benar-benar tidak tahu harus


bagaimana setelah ini. Aku membawa Key bersamaku ke Lucania karena ia


bersikeras ingin menemui Archi. Aku ragu dia akan kembali begitu saja setelah


mengatakan apa yang ingin dikatakanya. Setelah itu apa? Archi akan kembali ke


istana sebagai penerus takhta kerajaan. Sementara Key hanyalah seorang exhuman.


Mereka tidak bisa bersama seperti sebelumnya.


Sekarang aku mengerti kenapa Archi tidak benar-benar


mengejar Key. Dia malah berencana menyerah dan menyuruhku bersungguh-sungguh


untuk menyukainya. Untuk kebaikanya, Key seharusnya tidak menyukai Archi.


Memikirkan jalan yang menunggu di depan mereka benar-benar membuat hatiku


hancur. Lupakan masalah hatiku yang patah karena cinta yang tak berbalas. Aku


sudah tahu itu sejak awal. Dan itu salahku sendiri karena jatuh cinta. Tapi


sekarang, berpikir bahwa dua orang yang paling berharga bagiku akan melalui


begitu banyak jalanan terjal, aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan.