
Aku tidak membenci dunia di permukaan. Tapi aku tidak pernah
berpikir untuk menetap di permukaan. Di sini benar-benar penuh sesak dengan
manusia. Ini kali pertama aku membeli sebuah rumah untuk menetap. Aku menemukan
namanya terdaftar di sebuah sekolahan untuk beradaptasi vampire di permukaan.
Tentu saja itu nama samara yang biasa dia gunakan, Zero. Aku masuk ke sekolah
bernama Humphire itu, berharap segera bisa menemukanya. Tapi meskipun sudah
berbulan-bulan, aku tidak bisa menemukanya sama sekali.
Saat kupikir daftar nama yang kudapatkan itu salah, aku
menemukanya! Itu benar-benar dia! Archi! Aku bergegas membuntutinya ke bagian
belakang sekolah. Ia berbaring dibawah sebatang pohon rindang. Dua kantung mata
tampak bergelayut di sebelah ataas pipinya. Entah apa saja yang dilakukanya
selama menghilang.
“Aku menemukanmu”, ujarku begitu mendekatinya.
“Arion? Apa kau datang untuk menangkapku?”, tanyanya datar.
Dia ini benar-benar menyebalkan! Bagaimana bisa dia
menggunakan suara sedatar itu padaku setelah menghilang selama dua tahun. Apa
dia tidak sadar aku sudah mencarinya ke setiap sudut dunia?!
“Aku tidak akan bisa melakukanya” Meskipun sebenarnya aku
sangat menginginkanya. Kalau saja aku lebih kuat darinya mungkin aku sudah
mengikatnya dan menahanya lalu membawanya pulang ke Lucania. Tapi itu tidak
mungkin kulakukan. Yah, setidaknya aku sudah menemukanya. Dan setidaknya dia
terlihat baik-baik saja.tidak ada yang berubah darinya.
Zero bersikap tak acuh padaku. Tapi ada yang benar-benar
aneh. Dia membela seorang gadis yang mendengarkan pembicaraan kami. Betapa
kagetnya aku saat menemukan bahwa Zero tinggal bersama dua orang hunter. Bukan
itu saja gadis tadi juga tinggal di rumahnya, bersama adiknya. Adiknya, Karen
benar-benar manis tapi gadis setengah vampire bernama Key itu tampaknya tidak
hanya cantik di luar. Gadis itu bernama Key. Dia memiliki mata cokelat yang
indah dan rambut hitam panjang yang cantik. Aroma darahnya berbeda dari orang
biasa. Aku mulai bertanya-tanya orang seperti apa dia. Menurut perkataan Key,
Zero bukan orang yang mengubahnya tapi dia tertarik pada darahnya.
Key sama sekali tidak memahami vampire. Bagi kami, bangsa
vampire, ada satu darah yang sangat kami inginkan melebihi apapun di dunia,
yaitu darah dari orang yang dicintai. Aku sudah mengenal Archi, maksudku Zero
sejak kecil. Dan dia belum pernah menginginkan darah siapapun sebagai lawan
jenis. Aku bahkan berpikir Zero tidak menolak pertunanganya dengan putri Aileen
karena ia sudah menyerah mencari cintanya sendiri. Aileen sudah seperti adiknya
sendiri. Jadi mungkin itu akan baik-baik saja bahkan jika mereka berakhir
menikah.
Tapi sekarang jika Zero memiliki seseorang yang ia suka,
maka ceritanya akan menjadi berbeda. Aku mulai mendekati Key dan berteman
denganya. Aku ingin mengenalnya lebih dekat,penasaran dengan gadis yang dapat
mencuri hati Zero. Aku bahkan sempat menggoda Zero mengenai bagaimana dia
bersikap keras terhadap Key.
“Kau terlalu keras, Zero. Gimana coba kalau Key jadi takut
dan lari darimu”
“Itu akan bagus jika dia lari dariku”, ujar Zero datar. Ia
terdengar lebih pesimis dari dugaanku.
“Jangan bicara seperti itu.Kau akan menangis jika dia
benar-benar lari. Ah, tapi mungkin juga aku akan mencurinya sebelum itu
terjadi”
Zero menatapku tajam. Mata birunya tampak galak. Kurasa aku
sudah membuatnya marah.
“Kalau kau mempermainkanya, aku mungkin akan membunuhmu”
“Kalau aku bersungguh-sungguh?”
Tatapan Zero masih menghunus tajam ke dalam mataku. Tapi
kali ini ia tidak tampak marah lagi. Aku merasakan firasat buruk tentang ini.
“Kalau kau bisa membuatnya menyukaimu, tentu kau harus
sungguh-sungguh, Arion”
Entah kenapa perkataanya yang tanpa ancaman ini terasa lebih
menyayat ulu hatiku. Apa maksudnya ini? Bukankah Zero menyukainya? Mungkinkah
dia mencoba menyerah begitu saja? Apa dia tidak ingin memiliki Key di
sampingnya? Memang, jika pun Zero bersungguh-sungguh, tidak akan mudah untuk
memiliki Key di sisinya. Walau begitu aku tidak percaya dia akan menyerah
begitu saja.
Aku semakin dekat dengan Key. Sampai terkadang, kupikir aku
mungkin sudah bertindak terlalu jauh. Rasanya Key jauh lebih terbuka padaku
daripada saat dia bersama Zero. Tapi aku tidak bisa berhenti. Aku sadar kalau
Key itu berbahaya. Semakin aku mengenalnya semakin sulit untuk berpaling
Padahal Key hanya seorang gadis biasa, seorang exhuman. Dia
kehilangan kedua orangtuanya dan tubuhnya perlahan berubah menjadi vampire.
Tapi Key benar-benar kuat. Bahkan setelah melalui semua itu, dia masih berdiri
tegar. Bukan hal yang aneh jika exhuman jatuh depresi atau bahkan berubah
menjadi mad vampire. Kebanyakan kasus juga begitu. Tapi Key berbeda. Walau
sebenarnya dia mengalami trauma berat dan kesedihan yang mendalam, dia masih
berniat berjuang untuk melindungi adiknya.
Zero mencoba membuat Key menggugurkan niatnya untuk balas
dendam, tapi dia tidak berhasil. Key tetap keukeuh dan belajar menggunakan
pedang. Ia berbakat. Aku mungkin adalah orang yang mengajarinya, tapi aku juga
orang yang terkagum pada perkembanganya setiap hari. Key seringkali murung dan
kesulitan menahan sisi vampire dalam dirinya. Ia membuatku ingin mengulurkan
tangan dan mendorongnya untuk kembali berdiri. Tapi saat senyumnya kembali
mengembang, aku dibuatnya tidak mampu berkata-kata.
Mau tidak mau aku pun mulai bertanya-tanya, seperti apa
sosok Key sebelum mengalami tragedi ini. Seperti apa dia saat hidup sebagai
manusia biasa? Jika kemurungan dan nafsu untuk membalas dendam tidak ada
padanya, apakah ia akan tersenyum dengan lebih bersinar? Lalu…mungkinkah, Zero
melihat sosoknya itu? kalau begitu, pantas saja ia jatuh hati. Aku hanya bisa
membayangkanya dan bertanya-tanya, tapi mungkin Key akan terlihat begitu bebas
seperti kebebasan itu sendiri.
Aku sudah bertindak bodoh. Dan sekarang sudah terlambat
untuk mundur. Walau sudah tahu hasilnya, aku akhirnya mengatakan perasaanku
pada Key. Aku mencintainya. Tidak peduli jika dia adalah gadis yang sahabatku
sukai. Bahkan jika dia mencintai Zero. Aku tetap mencintainya.
Sial! Mendadak aku teringat perkataan Luke bertahun-tahun
lalu. Aku selalu memiliki beberapa gadis di sekitarku. Aku sudah mengencani
berbagai macam perempuan. Tidak ada yang terasa istimewa bagiku. Dan kupikir
begitu pula bagi mereka. Kami hanya bersenang-senang sebentar lalu putus begitu
saja. Kupikir akan selalu seperti ini. Luke bilang untuk tidak mempermainkan
orang lain jika tidak mau terkena karma. Dasar orang kaku!
Aku melangkah masuk ke salah satu bar di Lucania. Malam ini
sepi pengunjung, nampaknya semua orang bersiap untuk masquerade besok. Tapi
seorang pelanggan tetap di bar itu terlihat duduk di sudut ruangan dengan meja
penuh botol. Aku duduk di kursi di depanya, meraih salah satu botol bir di meja
dan menegaknya.
“Kapan kau kembali?”, tanya pria pemabuk itu. Dia Zane,
pengawal pribadi Archi. Entah kapan terakhir kali kami bicara berdua seperti
ini.
“Hari ini”, sahutku sambil kembai meneguk bir sebanyak yang
kubisa. “Kau bisa berhenti mabuk sekarang, Zane. Dia juga akan kembali”
Kedua mata Zane membesar. Dan sepertinya rasa mabuk akibat
bir yang diminumnya tiba-tiba menghilang tanpa jejak. “Kau serius?!”
Aku mengangguk. Masih menegak botol bir di tangan.
“Lalu kenapa kau minum?”
“Aku hanya ingin mengurangi kesadaranku sebentar”, gumamku.
“Kurasa aku terkena karma”
“Bukankah kau juga mengharapkan dia kembali? Lalu kenapa kau
terlihat depresi?”
Aku sudah menghabiskan satu botol bir. Meraih botol yang
lain dan kembali meneguknya. “Ini bukan tentang Archi. Aku depresi karena
kesalahanku sendiri”
Aku kembali menegak bir. Zane tampak menatapku dengan
prihatin. Tapi aku tidak peduli lagi. Aku benar-benar tidak tahu harus
bagaimana setelah ini. Aku membawa Key bersamaku ke Lucania karena ia
bersikeras ingin menemui Archi. Aku ragu dia akan kembali begitu saja setelah
mengatakan apa yang ingin dikatakanya. Setelah itu apa? Archi akan kembali ke
istana sebagai penerus takhta kerajaan. Sementara Key hanyalah seorang exhuman.
Mereka tidak bisa bersama seperti sebelumnya.
Sekarang aku mengerti kenapa Archi tidak benar-benar
mengejar Key. Dia malah berencana menyerah dan menyuruhku bersungguh-sungguh
untuk menyukainya. Untuk kebaikanya, Key seharusnya tidak menyukai Archi.
Memikirkan jalan yang menunggu di depan mereka benar-benar membuat hatiku
hancur. Lupakan masalah hatiku yang patah karena cinta yang tak berbalas. Aku
sudah tahu itu sejak awal. Dan itu salahku sendiri karena jatuh cinta. Tapi
sekarang, berpikir bahwa dua orang yang paling berharga bagiku akan melalui
begitu banyak jalanan terjal, aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan.