The Lost Prince

The Lost Prince
Chapter 2 Exhuman (part 2)



        "Eh?!” Dua teman Zero serempak menoleh ke arahku. Tampak terkejut melihat ada orang lain di rumah ini. “Siapa…?”


        "Katakan! Vampire yang menyerang Siverra...di mana mereka?!!"


         "Kami kehilangan jejak...", ujar salah satu dari dua teman Zero. Sekali lihat siapapun tahu kalau mereka kembar. Benar-benar mirip. Hanya suara mereka sedikit berbeda. Orang yang menjawab pertanyaanku lebih ramah dan dewasa.


        "Jadi dimana itu?! Di mana kalian kehilangan jejaknya??! Bagaimana bisa kalian kehilangan jejak mereka? Apa kalian tahu yang sudah mereka lakukan??!! Kalian harus menemukannya!!"


        "Memangnya apa yang akan kau..."


        "Aku akan membunuhnya"


        Aku benar-benar geram. Ingatan tentang hari itu masih begitu segar. Aku tidak bisa melupakan bahkan satu menit atau satu detikpun dari horor yang menimpa kami. Amarahku membludak. Seolah di dalam dadaku terdapat bara api yang terbangun dan kembali membara.


        Zero mengenalkanku pada mereka, singkat. "Dia salah satu korban penyerangan itu"


        Kedua pria kembar itu tampak semakin terkejut.


        "Tenang dulu", kata Zero yang beralih menatapku. "Kau tidak..."


        "Kau tidak bisa menghalangiku, Zero, atau aku akan membunuhmu juga!"


        Zero membuang napas. "Kau tidak akan bisamembunuhnya"


        Apa? Aku melotot kepada Zero.


        "Dia pureblood yang mengubahmu. Darahnya di dalam tubuhmu akan mengendalikanmu dan mustahil bagimu untuk membunuhnya."


        "Kalau begitu..."


        "Biar dia membunuhmu?", potong  Zero. "Itu kan yang kau inginkan?"


        Cih!! Apa-apaan orang ini! Kenapa dia berlagak sok tahu sekali!! "Kau.."


        "Dia tidak akan melakukannya"


        "Bagaimana kau tahu?!"


        "Dia mengubahmu karena tidak ingin kau mati. Dia menginginkanmu menjadi kantung darah dan mainannya. Darahmu yang dia inginkan. Kau punya darah yang istimewa"


        Darah, katanya. Jadi dugaanku benar. "Kau salah. Dia tidak mengincarku" Zero menatapku tidak mengerti. "Dia mungkin mengincar adikku, tapi aku mengatakan padanya akulah yang dia incar. Jadi dia menggigitku"


        "Tunggu dulu, kenapa dia menginginkan adikmu?" Zero tampak terkejut. Well, sepertinya dia tidak menyangka hal ini sama sekali. Jadi dia tidak tahu tentang Karen. Aku masih diam untuk beberapa detik yang


panjang. Berhitung apakah sebaiknya aku diam atau memberitahunya.


        "Karena aku dapat melihat masa depan", kata Karen yang tanpa kusadari sudah berdiri di belakangku.


        "Karen, tunggu.."  Aku tidak percaya dia mengatakanya begitu saja.


        "Tidak apa-apa, kak. Kita bisa mempercayai mereka", ujarnya enteng sambil berjalan ke salah satu sofa. "Aku Karen Wilder, dan dia kakakku, Keyra Wilder. Senang bertemu kalian. Aku boleh duduk kan?"


        "Ya, tentu", jawab salah satu dari pria kembar. Dia bukan yang bersuara serius. "Aku.."


        "Shine Williams, kan?", ujar Karen mendahului. Entah kenapa dia malah memamerkan kemampuannya pada orang-orang ini. "Dan yang di sana adik kembarmu, Shane?"


        "Wuah! Astaga! Bagaimana..? Maksudku, apa kau benar-benar melihat masa depan?!" Shine terlihat takjub dengan bagaimana Karen mengetahui nama mereka.


        Karen mengangguk dengan sebuah senyum di wajah. Mungkin dia menyukai reaksi Shine. Aku menghampiri Karen dan duduk di sampingnya. "Apa yang kau lakukan?", bisikku di telinga Karen.


        "Aku tahu yang kakak khawatirkan. Tapi aku ingin mempercayai mereka"


        Aku kehabisan kata-kata. Aku sudah memperingatkannya tapi Karen tetap bersikeras. Ini aneh, Karen tidak seperti dirinya yang biasanya.


        "Um..jadi, Karen dan Keyra ya. Senang berkenalan dengan kalian. Kalian telah mengalami hal berat, tapi sekarang tidak apa-apa  kalian aman di sini", kata Shine.


        Aku mendengus sebal, melirik dua pria kembar itu. Apanya yang aman?!


        "Kakak, mereka berdua manusia", kata Karen yang sepertinya menangkap maksud raut wajahku.


        "Hah?! Serius?!"


        "Kau tidak bisa membedakan manusia dan vampir, dan bilang mau membunuh vampire. Tidak bisa dipercaya" Shane mengomentari sinis.


        "Dia half vampire baru", ujar Zero.


        "Bagaimana kalian bisa membuktikan kalau kalian bukan vampire?"


        "Apa kau pernah mendengar indra keenam?", tanya Shine.


        Aku menggeleng. Aku tidak tahu menahu hal seperti itu.


        Shinemendesah pelan. "Indra keenam adalah kemampuan untuk merasakan dan melihat aura. Setiap orang memiliki aura yang berbeda. Dan aura vampire biasanya lebih gelap dan pekat. Kami menyebutnya shadow" Shine menunjuk ke arah Zero yang tampak tak acuh. "Coba perhatikan di sekitar Zero. Kau bisa melihatnya kan, sesuatu yang tampak berdiri di belakangnya seperti bayangan besar"


        Aku memfokuskan pandanganku ke Zero. Memang benar, jika diperhatikan ada bayangan yang berdiri di belakangnya. Entah kenapa aku tidak memperhatikannya sebelumnya. "Jadi itu shadow?"


        Shine mengangguk. "Shadow vampire. Nah, sekarang lihat kami. Apa kau melihat shadow seperti itu?"


        Aku mengalihkan pandanganku kepada Shine lalu ke Shane. Tidak ada. Seperti kata Shine, aku bisa merasakan aura mereka. Tapi berbeda dengan Zero. Aura mereka tidak membentuk shadow yang terasa pekat seperti milik Zero.


        "Karen, apa kau benar-benar bisa melihat masa depan?", tanya Zero serius. Wajahnya masih tetap datar seperti biasa, tapi matanya tampak berbeda. Seolah sebuah lilin baru dinyalakan dari balik mata birunya.


        Karen mengiyakan. "Aku bisa"


        "Bagaimana kau bisa melihat masa depan?" Kali ini Shane yang dari tadi memilih diam ikut mengajukan pertanyaan.


        "Yah, itu sulit dijelaskan", ujar Karen. "Aku melihat gambar-gambar seperti film pendek di dalam kepalaku. Dan semuanya akan terjadi seperti yang kulihat"


        Shine nampak bertukar pandangan dengan Shane. Seolah mereka berdiskusi lewat mata mereka apakah cerita Karen bisa dipercaya atau tidak.


        "Sejauh apa yang kau lihat?" Suara Zero terdengar lebih rendah dan lebih datar dari biasanya. Tapi entah kenapa aku merasakan ancaman di balik suaranya.


        "Tidak menentu. Aku sendiri sering tidak tahu kapan masa depan itu akan terjadi"


        Mata Zero tidak beralih dari Karen. Dia menggosok-gosok ujung hidungnya dengan jari telunjuk kanan. Sepertinya Zero tengah memikirkan banyak hal. Dan untuk beberapa alasan aku tidak menyukai hal itu.


        "Jadi kau bisa melihat masa depan yang masih lama sekalipun?", tanya Shine memastikan. Karen mengangguk mengiyakan. "Pada siapapun? Di manapun?"


        Kali ini Karen menggeleng. "Hanya orang-orang yang kukenal"


        Menurutku Karen terlalu gegabah dengan memberitahukan semua informasi ini. Bahkan seharusnya mereka tidak mengetahui hal ini sama sekali. Bukankah sejak bakat itu muncul kami setuju untuk merahasiakannya dalam anggota keluarga saja. Sudut mataku menangkap perubahan kecil pada mata Zero. Sebuah ekspresi baru melesat


di balik mata berwarna biru topaz cemerlang itu. Aku tidak mengerti arti ekspresinya.


        "Di manapun?" Shane mengulang pertanyaan Shine yang belum dijawab.


        "Hampir di manapun"


        "Itu luar biasa" Shine bergumam pelan.


        "Jadi vanBlood mengetahuinya?", ujar Shane.


        "Dia tidak tahu. Jika iya maka dia tidak akan membiarkannya hidup", kata Zero. "Kemungkinan dia hanya tahu ada darah spesial dalam keluarga mereka, tapi tidak tahu bakat apa dan siapa yang memilikinya"


        "Lalu kenapa dia menyerang?", tanyaku tidak mengerti. Jika vampire itu tidak tahu, lalu untuk apa mereka menyerang kompleks perumahan kami.


        "Untuk makan"


        Jawaban Zero membuat bulu kudukku berdiri. Apa maksudnya untuk makan? Apa cuma karena itu


banyak orang dibantai? Shane dan Shine juga tampak kesal dengan jawaban datar Zero. Yah, kurasa mereka memang berada di pihak manusia.


        "Banyak kelompok seperti itu, vampire yang melakukan penyerangan terbuka dan besar-besaran. Mereka tidak peduli apapun. Mereka melakukannya hanya untuk bersenang-senang" Rasanya ada kebencian mendalam di balik kata-kata Shane. Kebencian yang mungkin sama besarnya dengan kebencianku pada vampire.


        Mata Shine tampak menunjukkan simpati. "Apa kau mengenali kelompok vanBlood,  Zero?"


        Zero menggeleng. "Aku hanya pernah dengar klan vanBlood sudah dibereskan" Zero tampak kembali menggosok ujung hidungnya. "Tapi Key, ini tidak menjelaskan kenapa dia mengubahmu. Seharusnya dia tahu kalau dia salah orang saat meminum darahmu karena kami bisa mengetahui banyak hal dari darah seseorang. Tapi dia tidak menyadarinya. Menurutku itu karena darahmu"


        "Darahku?"


        Zero mengangguk pelan. "Darahmu itu spesial. Sangat menggiurkan. Dan karenanyaadikmu baik-baik saja sekarang"


        'Menggiurkan', dia bilang. Well, Zero juga seorang vampire jadi mungkin dia benar. Jika vampire bisa merasakan darah maka seharusnya vanBlood menyadarinya. Jika itu terjadi, mereka akan datang menyerang Karen. Tapi hal itu tidak terjadi. Jika benar itu karena darahku memikat vampire, maka kemungkinan pendapat Zero bahwa vanBlood tidak berniat membunuhku juga benar. Tiba-tiba aku teringat waktu vampire itu sudah menghisap sebagian besar darahku. Dia mengatakan sesuatu tentang menjadi miliknya. Dia benar-benar ingin menjadikanku kantung darahnya. Dia tidak berniat membunuhku karena ingin menghisap darahku lagi dan lagi.


Menjijikkan!


Tapi jika itulah satu-satunya alasan Karen aman, kurasa aku tidak begitu keberatan. Biarkan saja vampire itu terus mengincarku. Lagipula aku sudah menjadi vampire. Tidak ada yang lebih buruk lagi. Aku tidak peduli lagi apa yang akan terjadi padaku. Jika itu bisa mengalihkannya dari Karen maka aku akan membiarkannya menjadikanku targetnya. Entah vanBlood akan membunuhku atau aku yang membunuhnya. Keduanya tidak merugikanku. Sama sekali. Tapi kemungkinan untukku dapat menemukan lokasi vampire itu sangat tipis. Mungkin nyaris nihil jika aku bersikeras mencarinya sendirian. Lagipula bagaimana caranya aku bisa mengalahkan makhluk yang begitu kuat itu. Aku membutuhkan orang-orang ini. Shine dan Shane adalah vampire hunter. Organisasi mereka bekerja melacak dan membunuh vampire. Atau yang menurut kata mereka 'vampire jahat'. Dan entah atas alasan apa mereka menggolongkan Zero sebagai 'vampire baik'. Aku tidak habis pikir sebaik apa vampire itu atau sepicik apa kedua hunter itu hingga mereka bisa tinggal serumah. Sebenarnya, aku sudah menanyakan hal ini. Kepalaku tidak mampu menampung rasa ingin tahu, atau lebih tepatnya, menuntut jawaban dari lelucon tidak masuk akal dari pemburu yang berteman dengan buruannya