
Shane mengajariku teknik berpedang setelah itu. Dan aku melatihnya setiap kali ada kesempatan. Bukan, bahkan hari ini aku membolos sekolah menggunakan latihan pedang sebagai alasan. Aku butuh waktu sendiri. Maksudku, benar-benar sendiri. Rasa hausku semakin menjadi, kadang aku berhalusinasi mendengar suara vanBlood, dan aku terlalu lesu akibat kurang tidur untuk tetap berpikiran jernih setiap saat. Tapi entah mengapa sejak dulu aktivitas fisik seperti berkuda, memanah, dan menjelajah hutan selalu berhasil membantuku membuang sebagian beban dalam kepalaku. Tidak kusangka ternyata berpedang juga berefek serupa.
“Kau terlalu banyak membuang energi”, ujar Arion memecah keheningan. Aku memang mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Kupikir itu Shane atau Zero.
“Arion? Apa yang kau lakukan di sini?”
“Mencari teman”
Aku tersenyum kecil, dia pasti bercanda. “Kau punya banyak di sekolah. Kurasa tindakanmu mengacuhkan gadis-gadis cantik itu tidak wajar”
“Yeah, kau mungkin benar. Tapi mereka yang bersikap baik untuk tujuan lain tidak bisa disebut teman, kan?” Arion mendekat menghampiriku. “Biar kutebak, Zero tidak mengajarimu teknik pedang?”
Aku mengangguk. Masih penasaran dengan maksud Arion tentang teman. Mungkinkah menurutnya para gadis yang mendekatinya memiliki motif tersembunyi atau semacamnya?
Arion meraih tanganku yang memegang pedang. “Peganganmu terlalu kuat, rileks sedikit”, ujarnya sambil membetulkan cengkeraman jemariku. Arion kemudian menggerakkan tanganku untuk mengayunkan pedang. Teknik Arion lebih halus daripada yang diajarkan Shane.
“Arion, aku tidak pernah bersikap baik padamu, lalu kenapa kau berteman denganku?”
Gerakan Arion terhenti, dia melayangkan tatapan matanya padaku. Wajahnya seolah menyiratkan dia tidak percaya kalau aku tidak mengerti jawabanya. “Justru itulah alasanku. Kau tidak membuat-buat sikapmu. Dan kau
cantik”
Kali ini giliranku yang melayangkan ekspresi tidak percaya pada Arion. Anehnya meski aku mempertanyakan pendengaranku, kedua pipiku terasa memanas perlahan. Aku mengalihkan perhatianku kembali pad pedang di tanganku. Mencoba mengulang gerakan yang dilakukan Arion tadi. Sementara Arion terlihat memasang senyum hangatnya yang menawan. Ia memutuskan untuk diam sesaat dan memperhatikan gerakanku.
“Menurutku kau sangat berbakat. Key”, ujarnya beberapa saat kemudian. “Cobalah untuk tidak menaruh terlalu banyak energi pada lenganmu saja. Kita bertarung tidak hanya dengan pedang tapi juga kecepatan. Kakimu juga
harus siaga bergerak untuk menyerang sekaligus menghindar”
***
Mimpi itu kembali lagi. Kelebat bayangan hitam yang mengejar kami. Menerkam leher ayah dan ibu dalam sekejap mata. Dan sosok tinggi jangkung berkulit pucat dengan serigai keji itu mendekat menampakkan sepasang taring vampirenya.VanBlood!
Aku terengah bangun dengan keringat dingin bercucuran dari keningku. Napasku memburu seratus kali lebih cepat. Jantungku berdebar keras melupakan iramanya yang biasa. Pupil mataku bergerak melirik Karen yang tidur nyenyak di sampingku. Lalu entah kenapa aku menelan ludah. Sebuah suara tak asing mengusik kepalaku. Suara
denyut nadi dan aliran darah! Menyadari pikiran yang mulai menggelitik isi kepalaku, sontak aku memalingkan wajah dan bangkit dari tempat tidur. Aku menuju dapur, meraih sebotol penuh air dingin. Meneguk habis isinya. Lantas menuju ke teras belakang. Dingin.
"Naiklah ke sini. Aku tidak akan berkata apapun"
Aku mengangkat kepalaku, menoleh ke arah datangnya suara. Zero tengah duduk di balkon dengan secangkir kopi. Aku teringat perkataan Zero tempo hari untuk tidak tidur sekamar dengan Karen dan menjaga jarak dari manusia. Mendengus. Aku tahu harusnya aku mendengarkannya.Tapi malam ini entah kenapa aku ingin di smaping Karen, jadi aku tidur di kamarnya tanpa pikir panjang.
Aku membuka pintu kamarku yang berada tepat di sebelah kamar Zero. Sebuah tempat tidur berukuran besar dengan jendela besar menghadap balkon di sebelahnya. Interior yang sama persis dengan kamar Zero. Bahkan balkon di luar jendela merupakan satu balkon. Aku merebahkan diri di ranjang. Mencoba mengatupkan kelopak mataku. Namun tiap kali aku melakukannya, ingatan itu kembali diputar dan menghantui kegelapan dalam kepalaku. Memaksaku kembali membuka mata. Hanya dengan terjaga aku bisa memastikan bahwa pikiranku masih waras. Aku membuka jendela besar sekaligus pintu keluar balkon. Zero mengangkat kepalanya menoleh ke arahku.
"Kau tidak tidur?"
"Hmm. Aku harus mengerjakan sesuatu", katanya datar sambil kembali menyeruput kopi yang asapnya semakin menghilang. "Mau kopi?"
"Eh, tidak"
Udara malam ini cukup hangat. Biasanya malam sangat dingin karena rumah ini bersebelahan dengan hutan. Sebenarnya tidak ada alasan untuk mengalami masalah tidur di tempat seperti ini. Kecuali bahwa ingatan sekolompok vampire yang menyerangku terus menghantui pikiran.
"Zero, apa aku bisa meminjam beberapa buku?"
"Ya, ambil saja"
Aku menuju ke kamar Zero. Teringat barisan buku di sebuah rak besar di samping meja. Mendesah pelan melihat barisan buku dengan judul bahasa pemrograman dan sebagainya. Beberapa buku dengan cover hitam tidak berjudul. Di bagian sudut mataku menemukan beberapa novel. Aku meraih salah satunya. Sherlock Holmes. Kembali keluar ke balkon lantas duduk di kursi dan mulai membaca. Ah, syukurlah membaca masih manjur untuk mengalihakan pikiranku.
***
Hangat. Sebuah aroma familiar menyapa hidungku. Aroma minty bercampur semacam rumput basah dan bau lembut vanilla. Aku berguling pelan, meneggelamkan bauku ke balik selimut. Sontak kesadaran menamparku. Aku membuka mata dan bangun duduk. Melotot memperhatikan selimut di tanganku, bajuku. Apa yang terjadi? Mataku menatap sekitar ruangan. Kamar Zero. Dan di sana, di meja kerjanya Zero tampak tertidur dengan posisi duduk.
"Kau sudah bangun?", tanya Zero. Matanya yang tampak kehitaman di bagian bawah kelopaknya perlahan membuka. Dia terlihat lelah.
"Hmm", gumamnya sambil mengangguk. Zero bangun dari kursinya melangkah pelan ke ranjang. "Aku mau tidur sebentar. Bangunkan aku saat mau berangkat nanti"
Ah, benar! Astaga. Aku lupa aku harus sekolah. Aku melirik jam dinding Zero, baru jam 6. Zero merebahkan diri di tepi lain tempat tidur. Kelihatannya dia benar-benar mengantuk.
"Pagi Zerooo...!!!", seru sebuah suara familiar dari arah jendela.
Aku menoleh ke arah datangnya suara. Arion berdiri di pintu, dengan mata membesar. Wajahnya memerah. Dan untuk alasan yang absurd wajahku ikut memerah.
"Eh??!! M-mma-maaf..!", kata Arion sambil berbalik dan melompat ke bawah dari balkon.
Zero mendengus pelan, mata birunya yang kemerahan karena kantuk terbuka saat Arion muncul tadi. Dia hanya menengokkan kepalanya ke arah jendela tanpa repot-repot bangun. Jantungku berdetak kencang untuk alasan yang tak kumengerti. Aku bergegas bangun dari tempat tidur Zero dan berjalan cepat keluar dari kamarnya. Astaga! Entah kenapa aku merasa baru berbuat salah. Yah, memang Arion tiba-tiba muncul saat Zero baru merebahkan badannya di kasur. Bodoh! Setelah dipikir lagi seharusnya tadi aku buru-buru bangun begitu Zero hendak tidur. Ah, entahlah. Aku meraih handuk dan bergegas mandi, menepis jauh-jauh skenario yang muncul di pikiran Arion tadi. Yah, wajahnya jelas tampak terkejut dan memerah.
"Um...maaf soal yang tadi", ujar Arion begitu aku meraih kursi di meja sarapan.
"Eh, tidak apa. Maksudku...tidak perlu. Ehm, itu bukan seperti yang kau pikirkan" Entah sebab apa kata-kataku tersendat. Begitu duduk di kursi aku menyibukkan diri memilih menu sarapan yang dimasak Karen.
"Ja..jadi?"
"Eh?" Apa maksudnya jadi?
"Jangan berpikiran aneh, Arion", ujar Zero yang melangkah menuju meja makan. Bergabung untuk sarapan. Zero sudha mengenakan seragam Humphire. Benar-benar cepat mandinya, padahal kupikir hari ini Zero akan bolos. "Key tertidur di balkon semalam. Jadi aku membawanya masuk"
"Kenapa membawanya masuk?", tanya Arion penuh selidik.
"Apa lebih baik dia dibiarkan di luar? Bahkan vampire bisa demam karena dingin"
"Terus.."
"Tidak ada lagi. Aku bekerja semalaman. Jadi apapun yang kau bayangkan tidak pernah terjadi" Zero memotong pertanyaan Arion. Mereka masih bersitatap untuk beberapa lama.
"Zero", panggil Shane. "Lalu kenapa kau membawanya masuk ke kamarmu alih-alih kamar yang kau berikan untuk Key?"
Mata biru Zero beralih menatap Shane. Entah hanya perasaanku saja atau tidak, Zero tampak kesal dengan pertanyaan Shane.
"Karena lebih dekat"
"Cuma itu?"
Zero mengangguk.
"Ehm... Maaf tapi ini salahku karena tertidur di balkon. Tidak perlu diributkan"
Aku melirik Karen yang sibuk menyantap sarapannya. Entah cuma perasaanku atau Karen memang sengaja tidak ambil pusing.
"Kau harus lebih berhati-hati, Key", saran Arion.
Aku mengagguk dengan mencoba tersenyum. Ujung mataku menangkap mata biru Zero tampak lebih gelap mendengar saran Arion. Kurasa dia tersinggung. Atau lebih tepatnya sangat tersinggung. Benar saja, saat kami berangkat ke Humphire, Zero menolak Arion yang hendak ikut naik mobilnya dengan berbisik pelan, "Kau harus
berhati-hati padaku, Arion"
"Eh? A-Apa?! Zero..!"
Zero bergerak cepat memasuki mobilnya dan menarik gas tanpa menghiraukan Arion. Shine tertawa lebar melihat tingkah mereka.
"Dia marah. Hahahaha"
Arion menelan ludah. "Yeah, benar"