
"Wil, how about club?" Alex, dosen di fakultas hukum, sekaligus sahabat William tampak mengajak pria yang tengah sibuk dengan laptopnya tersebut.
"Nah, Alex. I am a lot tired." Setelah mengatakan itu, Alex segera pergi karena orang-orang lainnya sudah menunggu. Kini, William sendirian di kamarnya. Dia sangat lelah. Pekerjaan hari ini membuatnya bahkan tidak punya kesempatan untuk menghubungi Alva.
Ngomong-ngomong tentang Alva... William segera mengambil ponselnya, bermaksud menghubungi Alva. Pada deringan ke lima, sambungan telepon terangkat.
"Halo, Tuan." DEG.
William terhenyak. Dia sama sekali tidak mendapati suara Alva dari sambungan telepon itu. Namun, dia jelas tahu siapa pemilik suara lembut di seberang.
"Maafkan saya karena lancang mengangkat telefon dari anda. Anda ayah dari Alva, kan? Maaf sebelumnya, tetapi Alva sedang tidur, dia kelelahan. Saya tidak tega membangunkannya." Will tersenyum. Betapa dia merindukan suara ini?
Hening. Tak ada yang berbicara. Hal ini membuat seseorang di seberang sana tampak gelagapan, "Oh sir. Bukan seperti yang anda pikirkan! Kami tidak melakukan apa-apa. Sebelumnya, nama saya Azhalea. Saya teman Alva. Dia kelelahan karena mengantar saya berkeliling New York."
William tersenyum. Gadis ini masih sama.
"Halo? Tuan?"
William berdehem sambil menurunkan nada suaranya, "Suruh dia meneleponku segera."
Dan setelah mengatakan itu, William menutup sambungan teleponnya.
William meneguk teh yang hangatnya seraya menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia menghela nafas, mengingat bagaimana ia melihat wajah Zhe hari ini. Rasanya masih seperti mimpi. Namun bedanya, ini bukan mimpi indah yang biasa ia mimpikan. Ia selalu memimpikan Zhe yang akan tersenyum dan berlari untuk memeluknya di pertemuan pertama. Lalu, mereka akan membicarakan banyak hal, banyak lelucon, dari hal yang penting sampai tidak penting. Jika saja kejadian itu tidak pernah ada.
Well, namun apa yang harus ia lakukan jika keadaan justru berbanding terbalik dengan apa yang ia impikan? Azhalea bahkan tidak menyadari keberadaannya. Atau bahkan... Zhea memang benar-benar sudah melunakannya Lebih parahnya Zhe justru begitu dekat dengan Alva.
Astaga.
Kenapa William harus tidak rela jika Zhea dekat dengan anak semata wayangnya? Bukankah, pria itu sendiri yang berjanji akan mengenalkan mereka berdua? Bukankah, pria itu sendiri yang berjanji untuk menyatukan mereka sehingga Zhea bisa menjadi anaknya juga?
William mengambil ponselnya, memperhatikan foto Andrea, mendiang istrinya yang tengah tersenyum manis di pelukannya. William tersenyum. Dia baru sadar bahwa Zhea benar-benar mirip dengan Andrea. Well, mereka berdua adalah dua individu yang berbeda. Sungguh berbeda. Namun terkadang, bukankah perbedaaan itulah yang membuat mereka semakin terlihat mirip? Itulah yang William rasakan. Apapun yang Zhea lakukan, selalu mengingatkan William kepada mendiang istrinya. Seolah Zhea adalah Andrea, William tidak mau siapapun dekat dengannya melebihi kedekatan mereka.
Gila. William pasti sudah gila.
Deringan ponsel membuat William mengerjapkan matanya. Dilihatnya nama Alva di layar ponsel, membuat pria itu segera menekan tombol hijau dan menempelkan ponselnya di telinga.
"Ya, ayah." Suara Alva memenuhi gendang telinganya, "Ada apa? Kau tidak pulang?"
"Well, aku baru sempat memberitahumu bahwa aku di California untuk seminggu ke depan." Ucap William.
"Wah, cukup lama ya?" Balas Alva dengan tertawa. Membuat alis William terangkat secara spontan, "Kenapa senang sekali?"
Alva tertawa, "Tidak, dad. Apakah aku terdengar begitu senang?"
"Ya?"
"Siapa gadis yang mengangkat teleponnya tadi?" Tanya William, membuat Alva lagi-lagi tertawa, "Dia.. gadis yang ku ceritakan kemarin."
Tepat sekali.
"Alva, berhentilah bermain-main," William menghela nafas panjang, "Kau sudah dewasa. Cobalah untuk serius."
"Dad?" Panggil Alva, kini, tidak ada lagi nada lelucon
dalam suaranya.
"Apa yang sedang kau bicarakan? Dan.. Mengapa kau harus peduli tentang mainanku?"
William menggeram marah ketika mendengar apa yang Alva katakan. Apakah pria itu baru saja mengatakan Zhea sebagai mainan?
"Alva!" Bentak William marah, "Berhentilah bermain-main!"
"Why dad? Kenapa kau begitu marah? Kau bahkan mengatakan bahwa di umurku yang sekarang, bermain-main itu wajar. Bukankah kau bilang begitu?"
Tangan William mengepal, "Jika mereka perempuan yang kau temui di club malam, aku tidak akan peduli," Will menghela nafas, "Tapi gadis itu, dia berbeda."
"Daddy? Apakah kau begitu mengenal Zhea? Kau terdengar seperti seorang pria yang sedang membela mati-matian kekasihnya di depan keluargamu." Ucap Alva sarkastis, membuat William memejamkan matanya sejenak, "Jaga bicaramu."
"Then, what, dad? Gadis-gadis yang ku dekati, tidak ada urusannya denganmu!" Tegas Alva. Pria itu kembali berbicara, "Dengar, dad. Aku memang seorang player, aku tak bisa menolaknya. Tentang apa yang akan ku lakukan kepada Zhe nantinya, aku tidak tahu. Aku tidak tahu apakah aku benar-benar menyukainya, atau hanya merasa tertantang untuk mendapatkannya. Aku tidak tahu apakah aku akan benar-benar mencintainya, atau akan membuangnya ketika tantanganku selesai. Tapi, satu hal yang akan ku lakukan saat ini."
Alva menghela nafas, "Aku akan membuatnya jatuh cinta kepadaku."
William tersenyum sinis, "Dengarkan aku, Alva."
Pria itu berkata dengan nada yang serius, "Sebagai seorang ayah, aku akan melindungimu dari berbagai macam bahaya. Sebagai seorang ayah, aku akan membunuh siapapun yang berusaha menyakitimu," William terdiam sejenak sebelum kembali meneruskan perkataannya, "Tetapi sebagai seorang pria, aku akan membunuhmu, jika kau berani menyentuh dan meretakkan sedikit saja hati gadis itu."
Alva terdiam di seberang sana.
"Aku benar-benar serius dengan ucapanku." Ucap Will bersungguh-sungguh
Alva mendengus, "Apa kau sedang mengancamku hanya karena gadis asing yang bahkan, kau sendiri belum pernah mengenalnya?!"
Kau salah Alva. Kau salah. Aku begitu mengenal gadis itu. Gadis itu akan membuatku tidak bisa tidur jika sedang merindukannya. Gadis itu akan membuatku melupakan pekerjaan jika sedang berbicara dengannya. Gadis itu akan membuatku berfantasi liar jika sedang menatap matanya. Gadis itu akan membuatku berniat membunuh siapapun yang menyakitinya jika sedang melihatnya menangis.
"Aku tidak mengancammu. Aku memperingatimu," William menghela nafas sekali lagi, ia mulai melunakkan suaranya, "Dia itu gadis pintar yang sedang dipercaya oleh orang tuanya untuk belajar di negeri orang. Jika kau hanya berniat bermain-main, lebih baik, cari wanita ******."
Alva tertawa ketika mengetahui alasan Will begitu marah, "Tidak perlu khawatir tentang itu, Dad."