
"Jadilah diamond menurut versimu. Diamond yang akan tetap bersinar meskipun badai, hujan, angin, berusaha membuatnya menjadi lusuh. Jadilah diamond yang berharga dengan menghargai diri sendiri. Karena kau cantik tanpa menyadari betapa cantiknya dirimu." Ucap Zhe seraya memasangkan flowercrown diamond yang tadi dibeli ke kepala Diamond, membuat gadis 16 tahun itu tersenyum lebar dan memeluk tubuh Zhea. Setelah itu, Zhe menyuapi Diamond hingga tak ada bubur yang tersisa di mangkoknya. Kemudian membantunya meminum obat. Setelah beberapa saat, Diamond tertidur. Membuat Zhe tersenyum kecil, mengelus kepala gadis itu dan mengeluari kamar.
Zhea memasuki kamar mandi panti asuhan dan menyalakan keran air wastafel untuk membersihkan dress-nya karena bubur yang mengenainya tadi. Hingga ia menyadari pantulan seorang pria di belakangnya melalui cermin besar di hadapannya.
"Maafkan aku William, aku mengotori dress mom Andrea," ucap Zhe lirih seraya membersihkan dress itu dengan air yang mengalir.
William tersenyum tipis. Dia melihat semua hal yang Zhea lakukan, semua hal yang Zhe katakan pada gadis 16 tahun bernama Diamond itu. Dan entahlah, dia hanya ingin melakukan ini pada Zhea.
William mempersempit jarak di antara mereka, hingga dadanya bersentuhan dengan punggung Zhea. Hal itu membuat Zhe bingung. Gadisnya menutup keran wastafel, hendak berbalik ke arah William ketika pria itu melingkarkan lengannya ke pinggang Zhe, memeluk gadis itu dari belakang. Zhea tersentak. Wajahnya memerah. Entah apa yang membuat gelinyir aneh di bagian perutnya.
"William," panggil Zhea dengan suara yang teramat lirih. Namun pria itu tidak mengindahkannya. William justru menundukkan kepalanya untuk menghirup pundak Zhe yang terbuka, membuat gadis itu menggigit bibir bawahnya seraya memejamkan matanya. Menikmati sentuhan deru nafas William, yang selama ini hanya ada dalam angannya.
"William," Oliv kembali memanggil, "Kau tidak boleh... Seperti ini," Aku ingin lebih. Aku menginginkan kau melakukan lebih.
****. Zhe merutuki bagian lain tubuhnya yang mengatakan itu.
William mempererat lengannya di perut Zhe dan berkata di telinga gadis itu yang justru terdengar seperti *******, "Damn, Zhe. Apa yang kau lakukan padaku?"
Zhea mati-matian menahan ******* keluar dari mulutnya. Kau pacar Alva, Azhalea! Berhenti meminta lebih!
Zhe melepaskan lengan William yang melingkar di perutnya, dan serius, ketika tangan kekar bertato pria itu lepas, Zhe merasakan sesuatu seperti... kehampaan?
"Sudah semakin gelap, kita harus pulang." Ucap Zhe. Gadis itu tersenyum canggung dan berjalan meninggalkan William yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan.
***
"Aku lupa beli camilan." William memberhentikan mobilnya di halaman supermarket yang begitu Zhea kenal. Ya. Supermarket dimana kopernya hilang kemarin.
"Aku ikut!" Zhe segera melepas sabuk pengamannya dan berlari menyusul William yang segera merangkul leher gadis itu.
Mereka berjalan dengan tawa yang terlontar satu sama lain. Hingga Zhe harus melepaskan rangkulan William dan mengambil keranjang dorong sebagai tempat belanjaan nanti.
Melihat tingkah Zhea yang seperti anak kecil, William tersenyum geli dan tidak bisa menahan untuk menepuk kepala gadis itu.
Zhe berjalan di belakang William, sedangkan pria itu tampak memasukkan belanjaan yang ingin ia beli. Dan lagi-lagi, Zhe harus menerima kenyataan bahwa ia harus dipandang sinis oleh beberapa wanita di supermarket. Gila, memangnya William itu orang terkenal, apa?! Zhe terus mendorong keranjangnya, hingga tidak sengaja menabrak kaki seorang wanita berdandanan menor, berumur pertengahan 30 an. Zhea hampir saja mengucapkan permintaan maaf ketika menyadari bahwa ia mengenal wajah wanita itu.
"Kau lagi?!" Wanita itu berkata ketus, membuat Zhea ikut memandangnya ketus. Wanita yang sebenarnya cantik tapi menor itu adalah manajer supermarket yang kemarin meminta satpam untuk mengusir Zhea ketika Zhe meminta untuk ditunjukkan rekaman CCTV.
"Saya sudah bilang, pihak supermarket tidak akan mengizinkan sembarang orang memeriksa CCTV. Kau ini benar-benar keras kepala!"
Zhe mendelik tak terima, "Kenapa manajer supermarket bisa setidaksopan ini? Apa kau tidak lihat bahwa aku sedang belanja?!"
Demi Tuhan. Zhe benci dengan orang yang tidak punya sopan santun.
Mendengar ada keributan, William segera menghampiri Zhe. Ya, Azhalea yang sedang menatap kesal seorang wanita di hadapannya.
"Zhe, ada apa?" Tanya Will menengahi mereka.
Keberadaan William membuat wanita itu gelagapan. Wanita itu terlihat salah tingkah sebelum akhirnya merapikan penampilannya dan tersenyum manis ke arah William, membuat Zhe muak.
"Begini, Pak. Gadis ini memaksa pihak supermarket untuk memeriksa CCTV karena kopernya hilang. Saya sudah memberitahunya baik-baik dan dia datang lagi untuk menanyakan itu."
Zhe menatap wanita itu jijik. Serius. Wanita itu berubah. 180 derajat menjadi manis dan centil, ditambah bahasa tubuhnya yang menunjukkan bahwa dia tertarik pada William.
"Baik-baik? Dia mengusirku!" Zhe tidak terima karena wanita itu bermuka dua.
"Bapak benar, kalau begitu kita bisa memeriksanya sekarang." Apa-apaan. Sebegitu mudahnya-kah?
Zhea melihat wanita itu menarik lengan William seraya berbisik, "Jika bapak mau, bapak bisa memeriksa sesuatu yang lain."
Demi Tuhan. Zhe muak dengan tingkah murahannya. Dengan kasar, Zhe menarik lengan kanan William dan menatap wanita itu tajam, "Kau benar-benar tidak sopan! Aku muak padamu!"
Wanita itu tidak mau kalah. Ia balas menatap Zhe dengan tatapan tajam, "Kau ini masih kecil, banyak omong!"
Zhe tertawa tak tahan, "Masih kecil? Gadis yang kau anggap masih kecil ini mampu membuatnya kelelahan!"
Zhe menunjuk William ketika mengatakannya, membuat pria itu menganga. Antara kaget dan ingin tertawa melihat betapa menggemaskannya Zhea.
"Kau ini siapa sih?! ***** sekali!"
Zhe mendelik, " ***** teriak *****! Bagaimana bisa kau menggoda kekasihku tepat di depan mataku, *****?!"
Wanita itu menatap Zhe tak percaya, begitu pula William, beruntung mereka berada di bagian supermarket yang lumayan sepi. Jangankan mereka, Zhea bahkan tidak percaya dengan apa yang ia ucapkan.
"Bagaimana,"
"Bagaimana bisa? Memangnya kenapa jika dia kekasihku? Kau iri kan tidak bisa punya kekasih setampan dan seseksi ini?!" Zhe memeluk lengan William erat sebelum menarik pria itu untuk mencium pipinya lama.
Wajah wanita itu memerah, membuat Zhe menatapnya puas. Selang beberapa saat, seorang pria yang mengaku sebagai pemilik toko menghampiri mereka dan bertanya apa yang terjadi.
William akhirnya angkat bicara, "Pegawai bapak menggoda saya tepat di hadapan pacar saya, dan lihat, dia benar-benar mengamuk."
Pria itu menepuk pipi Zhe yang masih menatap tajam wanita yang sedang benar-benar malu itu.
"Pacar saya memang sedikit ganas, Pak." William tersenyum geli ketika mengatakannya, membuat Zhe tersenyum kecil ke arah William, sekali lagi mencium pipi pria itu seraya menginjak kakinya keras-keras. Membuat Will memekik tertahan.
Mendengar penjelasan itu, si pemilik toko segera meminta maaf dan meminta manajer perempuan itu untuk ke ruangannya dengan tegas. Dan Zhe yakin, setidaknya wanita itu akan dapat surat peringatan.
Zhea segera memasuki mobil dengan nafas yang terengah-engah. Gila. Aktingnya bagus juga.
"Dasar bocah gila. Bisa-bisanya membuat keributan di supermarket!" William tertawa, tak habis pikir dengan apa yang Zhea lakukan.
Pria itu membuka kantong belanjaannya dan mengambil sebungkus es krim strawberry dengan cepat-cepat dan menyuapkannya ke mulut Zhe, "Tahan kata-katamu, sweetheart!"
Lagi-lagi, mood Zhea berubah baik ketika es krim strawberry itu sudah memasuki mulutnya, "Aaaa! Enak!"
Zhe merebut es krim itu dari tangan William dan mulai menyuapkan sesuap demi sesuap ke mulutnya.
"Kau pintar berakting, ya?" William tertawa, mengingat bagaimana Zhe mengakuinya sebagai pacar seraya membentak wanita itu, "Aku sedang mencoba menjadi jujur. Ini, aku sedang jujur, seperti yang kau inginkan ketika di butik tadi!"
William menyeringai, "Kalau tahu kau jadi mengerikan, aku tidak akan memintamu untuk jujur."
Zhe menatap pria itu kesal, "Dan membiarkanmu pergi dengan wanita ****** itu?! Tidak akan!"
William tertawa, "Memangnya kau ada hak apa? Kau kan hanya kekasih dari anakku."
Wajah Zhe memerah. William benar. Memangnya dia siapa? Kenapa dia harus marah ketika William berdekatan dengan wanita lain?
Zhe menutup wajahnya yang memerah, membuat William tertawa kecil. Pria itu mengecup punggung tangan Zhe yang masih ada di wajahnya, membuat gadis itu tersentak merasakan sensasi geli dalam perutnya. Dengan segera, ia membuka wajahnya, menatap wajah William yang berada 5 cm di depannya. William tersenyum, kembali mengecup Zhea, tepat di pipinya.