Sweet Child OR Hot Daddy

Sweet Child OR Hot Daddy
Ternyata



Pria itu tampak tersenyum lebar, memperhatikan gadis dengan dress abu-abu bermotif hitam itu semakin menjauhinya. Well, gadis itu cukup menarik. Dia cantik, dan bokongnya berisi. Tubuhnya yang pendek justru membuatnya terlihat lebih menarik. Namun sayangnya, dia ketus. Sangat ketus. Bayangkan, bagaimana bisa ia menolak berkenalan dengan seorang Alva Maximillan Harison? Hell, semua gadis mengantri hanya untuk mendapatkan ucapan Hi dari pria itu!


Sebenarnya, Alva juga tidak tahu apa yang sedang terjadi kepadanya. Yang ia tahu, ia sedang menunggu Alex yang tiba-tiba pergi mengejar wanitanya. Ia bahkan belum sadar ketika seorang gadis duduk di belakangnya. Namun, tiba-tiba gadis itu menangis. Hal itulah yang membuat Alva memutuskan untuk menoleh dan memberikan sehelai tisu. Hanya rasa simpatik. Namun, balasan gadis itu justru membuat Alva ketagihan untuk menggodanya.


Dengan langkah yang lebar, pria itu mengikuti gadis yang bahkan belum ia ketahui namanya itu. Gadis tersebut melewati koridor kampus dengan langkah tergesa, membuat bokongnya bergoyang kesana kemari, well, dress yang menutupi bagian pahanya cukup ketat, karena itulah bokong itu terbentuk sempurna.


Alva menyadari bahwa gadis itu akan melewati segerombolan pria-pria yang terkenal pervert dan penggoda. Karenanya, Alva mempercepat langkahnya. Mata pria itu mendelik ketika Jack hampir saja menyentuh bokong gadis itu.


"Whoah! Don't you dare, broh!" Dengan sigap, Alva memelintir lengan Jack, membuat pria itu berteriak keras, hingga gadis Asia tersebut memberhentikan langkahnya dan menoleh. Gadis itu terkaget melihat sosok Alva yang tampak memelintir tangan seseorang tepat di belakangnya.


"Come on Alva! Berbagilah denganku!" Jack mendengus kesal, membuat Alva memutar matanya, "Sorry, she is mine."


Alva membuka hoodie abu-abunya dan melingkarkannya di perut gadis itu. Dengan halus, pria itu mulai mengikat bagian lengan hoodie-nya ke perut gadis tersebut, kemudian menariknya menjauhi gerombolan pria tersebut.


"The ****, Alva!" Alva mendengar teriakan pria-pria tersebut, namun tidak mempedulikannya. Pria itu terus saja menarik tangan gadis yang baru saja ia temui di taman, namun berhasil menarik perhatiannya itu.


Setelah di rasa sepi, pria itu memberhentikan langkahnya dan menatap gadis itu.


"Bagaimana bisa kau memakai baju yang memperlihatkan pahamu, dan berjalan di tengah-tengah pria-pria mata keranjang seperti mereka?" Alva memutar bola matanya, "Pakai itu. Jangan dilepas!"


Alva tersenyum kemudian melanjutkan langkahnya. Aku akan mengandalkannya dan dia benar-benar akan meneleponku dengan senyum dan suaranya yang lembut dan dia akan menyesali saat dia menolakku dan dia akan memintaku untuk pergi keluar. Ucap Alva dalam hati. Satu... dua... t...


"Alva!" Alva tersenyum lebar dan menoleh ke arah gadis itu. Namun senyumannya perlahan menghilang ketika bayangan wajah gadis itu benar-benar berbeda dengan realitanya. Ya, gadis itu masih menatap dengan datar dan kesal.


"Kau yang membuat teman-temanku meninggalkanku, dan aku harus melewati gerombolan pria mata keranjang itu! Jadi, ini semua salahmu!" Alva membuka mulutnya tak percaya dengan apa yang keluar dari mulut gadis itu.


"Jadi, antarkan aku." Gadis itu tersenyum tipis. Sangat tipis, hingga Alva sendiri tidak yakin bahwa gadis itu sedang tersenyum.


Namun pria itu mengerti dan membalas senyuman tipis itu dengan senyuman yang begitu lebar. Pria itu mengangguk dan mengisyaratkan gadis asing itu untuk mengikutinya.


"Saya Zhea. Azhalea Putri Florenza."


Mendengar itu, Alva semakin tersenyum lebar.


***


Alva tersenyum lebar seraya menatap layar ponselnya. Ini gila. Dia sudah 21 tahun, dan masih bertingkah seperti anak 13 tahun yang menunggu balasan dari cinta monyetnya? Benar. Alva gila. Dan kegilaan itu diakibatkan oleh seorang gadis Asia yang baru ia temui tadi pagi. Alva tidak tahu apakah ia benar-benar menyukai gadis itu atau hanya ketertarikan semata, namun, yang jelas, ia hanya ingin tersenyum karena gadis itu saat ini.


"Apakah anak ayah sedang gila?" Seorang pria paruh baya yang masih sangat tampan itu bertanya, well, tentu saja. Anak semata wayangnya yang sudah berusia 21 tahun itu tampak tersenyum sepanjang hari. Dia juga lebih memilih untuk tinggal di rumah ketimbang pergi keluar dengan teman-temannya.


"Dad, I think I am in love." Alva bangkit dan menatap ayahnya yang tampak gagah dengan kaos pollo. Well, serius, Alva benci mengakui ini, namun daddy-nya yang berumur kepala empat itu terlihat jauh lebih menarik ketimbang dirinya. Pria itu memiliki tubuh yang kekar dengan perut dan otot yang masih terbentuk sempurna bak atlit. Selain itu, daddy-nya juga berwajah tampan dengan sedikit kerutan di bagian wajahnya. But overall, he is sexier than him.


"Gadis mana lagi sekarang?" Pria itu tampak tersenyum geli sekaligus khawatir melihat Alva. Pria itu sudah 21 tahun dan masih saja mencintai banyak wanita dalam waktu yang relatif dekat.


"Dad, ini beda!" Ucap Alva membuat sang ayah tertawa, "Kau juga bilang begitu tentang pacar terakhirmu."


"Dad, tapi yang ini benar-benar beda. I am in love at the pandangan pertama."


"Woah!" Sang ayah bertepuk tangan, "Gadis kurang beruntung mana yang harus menerima kenyataan bahwa anakku terpesona terhadapnya saat pertama kali melihatnya? Aku akan menghadiahinya, sungguh!"


"William Maximillan Harison, just, can you be serious now?!" Alva mendengus kesal, membuat pria bernama William itu tertawa lebar.


"William, just, can you be serious now?!" Alva mendengus kesal, membuat pria bernama William itu tertawa lebar.


"Baiklah, baiklah. Bagaimana kali ini? Brunnete?" Ucap William membuat Alva menggeleng, "Black hair."


"Black hair?" Ulang William membuat Alva mengangguk,


"Yep. Black hair. Dia cantik, tapi cuek. Gila, benar-benar cuek hingga membuatku ingin menggundulinya."


William tertawa.


"Tapi dad," Alva tersenyum lebar seraya menatap foto keluarga mereka bertiga dengan seksama.


"Sebenarnya, hal yang membuatku begitu ingin mendapatkannya itu.."


William terdiam, ikut menatap arah pandangan Alva. "Dia.. mengingatkanku pada Mom."


🌱🌱🌱


William Harison, Pria paruh baya 41 tahun yang menjabat sebagai dosen besar fakultas hukum Universitas New York. Dosen paling hot sepanjang masa. Dosen bertato dengan tubuh bak atlit. Dosen yang mampu membuat puluhan mahasiswi mendesah karena membayangkan bercinta dengannya. Dosen yang sekaligus single parent dari seorang Alva Harison, si idola kampus.


"Tidak ada yang bisa menggantikanya, kau tahu?" William tertawa seraya menepuk pundak Alva, membuat pria itu menghela nafas panjang, "I know it, dad. Hanya saja.. Gadis ini, dia bermata hitam dan dia pendek. Sama seperti mom."


Mendengar itu, senyum William perlahan menghilang. Dia juga pernah berpikir hal yang sama mengenai seorang gadis. Ya, gadis yang seharusnya ia lupakan karena bulan-bulan yang berlalu. Namun nyatanya, William tidak bisa.


"Ayah ke ruangan kerja dulu, ada banyak pekerjaan." Pria itu kemudian berjalan meninggalkan anaknya dan menuju ruang kerjanya. Dibukanya laptop yang memang sudah tersedia di atas mejanya.


William membuka suatu folder yang berisi beberapa foto dan video, kemudian mulai memainkan salah satu videonya.


"What are you doing, dad?" Seorang gadis tampak memperhatikan sosok pria bertato yang sedang menikmati minumannya di balkon kamar hotel tempat pria itu menginap. Ya, pria itu memang sedang ada kunjungan kerja ke luar kota, yang mengharuskannya menginap di hotel bersama dengan kolega lainnya.


"I am eating a banana, sweetheart." Pria itu memutar bola matanya kesal, membuat si gadis tampak tertawa kecil, "Wah, jadi, di New York, makan banana menggunakan gelas? Bagus sekali dad, aku jadi ingin ke sana!"


William memandang gadis itu gemas, kemudian menghampiri laptop yang tadi ia letakkan di atas meja.


"Aw, lucu sekali sayangku ini." William tertawa ketika melihat ekspresi gadis itu, membuatnya tampak menarik bantal dan menutupi wajahnya erat-erat.


"Zhea malu, ih, daddy!" Ucapnya dengan bahasa yang tidak William mengerti, namun pria itu jelas tahu bahwa Zhe sedang menggunakan bahasanya sendiri.


"Zhe, tolong bicara bahasa Inggris." William memutar bola matanya lagi, membuat Zhe terkekeh, "Tidak akan!"


"You just talk," William tertawa, membuat gadis itu cemberut. Namun hal itu justru menambah kesan lucu dalam dirinya. Ya, Zhe benar-benar menggemaskan untuk William.


"Ayah, kenapa kamu tersenyum? Apa menurutmu aku selucu itu?" Zhea mengerling, membuat William tersenyum lebar.


"Kamu bukan."


"Lalu, apakah aku seksi?" Zhea pemasangan pose bak model majalah dewasa, membuat William terkekeh geli.


"Tidak sama sekali! Serius?!"


"Lalu, apakah aku cantik?" Zhe kini tersenyum dan memainkan matanya.


"Tidak, hahaha!"


"Then what does it mean?!" Kini Zhea menyerah, membuat William menyeringai jahil, "That means you are ugly!"


"Ayah! AKU INGIN MEMBUNUHMU!"


Teriakan Zhea membuat William tertawa terbahak-bahak. Ya Tuhan, entah apa yang membuat pria berumur seperti William bisa terlihat sebahagia ini hanya karena gadis kecil di hadapannya.


William memberhentikan video yang merekam video-call nya beberapa bulan yang lalu, kemudian menarik nafas panjang. Dia begitu merindukan sosok itu. Sosok yang entah mengapa berhasil mewarnai hari-harinya yang membosankan. Sosok yang sudah melekat di hatinya. Sosok yang... mungkin merasa jijik kepadanya. Dia pedofil, bukankah gadis itu berpikir demikian?


Zhea adalah gadis yang William maksud. Gadis yang seharusnya sudah ia lupakan atas pemutusan hubungan secara sepihak, beberapa bulan yang lalu. Demi Tuhan, mereka hanya teman yang kenal secara online. Harusnya, Jonathan bisa melupakan Zhea secepat mungkin. Seharusnya, William tidak perlu memikirkan wajah gadis itu setiap malam. Namun kenyataannya, William tidak bisa. Pria itu masih mengingat dengan jelas setiap lekuk wajah Zhea. Mengingat dengan jelas bentuk tubuh Zhe. Mengingat dengan jelas suara Zhe. Mengingat dengan jelas bagaimana ceria-nya gadis itu, meskipun kenyataannya, banyak sekali hal-hal buruk yang terjadi di hidupnya.


Benar-benar seperti Alexa. Gadis itu selalu mengingatkanku kepada Alexa.


"Zhea, aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu."


🌱🌱🌱


William membenarkan letak dasinya. Kini, ia sedang duduk di sebuah ruangan untuk menyambut mahasiswa-mahasiswi dari Asia yang berhasil di terima di Universitas New York. Matanya terus berkeliaran kesana kemari, seolah menunggu sesuatu, lebih tepatnya seseorang.


Beberapa menit kemudian, terdapat pengumuman bahwa penerima beasiswa dipersilahkan masuk ruangan. William berdehem, menetralkan detak jantungnya yang entah kenapa berdetak sangat cepat. Jika bisa merasakan, pasti kau akan berpikir bahwa William baru saja ikut lomba lari jangka pendek.


Satu persatu mahasiswa tampak memasuki ruangan dan duduk di kursi yang di sediakan. Namun, sosok itu belum juga muncul. William menggigit bibir bawahnya. Apakah.. gadis itu menolak beasiswa ini? Oh, well, William memang bodoh untuk terlalu berharap bahwa gadis itu akan datang ke New York. Bukankah Zhe sudah jijik terhadapnya? Lalu, kenapa juga Zhe harus menerima beasiswa ketika hal itu berarti, bertemu secara langsung dengan seorang pedofil tua yang menyuruhnya telanjang bulat?


William menghela nafas panjang dan menundukkan kepalanya. Pria itu merasa bersalah, tentu saja. Karena pikiran bodohnya, dia benar-benar merusak hubungannya dengan Zhea.


"Sambutan yang pertama akan diberikan pada dosen besar fakultas Hukum Universitas New York. Kepada Mr. William Harison, dipersilahkan."


William mengangkat kepalanya. Sialan. Dia hampir saja tidak mendengar panggilan itu karena melamun. Dengan segera, pria itu berdiri dan tersenyum. Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan. Dia bisa melihat sebagian besar mahasiswi yang tampak berteriak tertahan, dan berbisik-bisik seraya menatapnya. Dia juga bisa melihat seorang mahasiswi yang duduk paling pojok, yang tampak acuh, dan lebih tertarik untuk memainkan ponselnya ketimbang bergosip dengan teman-temannya.


Dia sangat mengenal mahasiswi itu. Ya, mahasiswi yang saat ini sedang duduk di pojok dan menundukkan kepalanya seraya memainkan ponselnya. Oh, apakah gadis itu melupakannya?


"Mr. Harison?" William mengerjapkan matanya dan memilih untuk berjalan ke podium. Matanya masih tidak bisa lepas dari sosok gadis yang sama sekali tidak memperhatikannya. Bahkan, ketika ia bicara. Bahkan, ketika ia sedikit memberikan lelucon. Gadis itu masih tetap menunduk. Seolah.. benar-benar melupakan apapun tentang William


"Last, but not least. Welcome to New York University!" William mengakhiri pidatonya yang disambut dengan tepuk tangan meriah. Pandangannya kembali ke arah gadis di pojok ruangan. Oh, ****. Gadis itu benar-benar tidak memperhatikannya sedikitpun.


William kembali ke tempatnya dan mencoba untuk fokus terhadap acara penyambutan. Namun, sekali lagi, pandangannya tidak bisa lepas terhadap sosok gadis itu.


Pertanyaan terus memenuhi kepalanya, membuatnya mengerang kesal ketika memikirkan kemungkinan bahwa Azhalea, gadis itu, telah melupakan semua tentangnya. Menghapusnya dari memori dan hari-hari yang gadis itu lewati.


Dan entah mengapa, William merasakan sesak ketika kemungkinan itu selalu ia pikirkan.


Kini, William tak lagi memikirkan tentang acara penyambutan. Yang ia tahu, ia hanya ingin menatap ke arah Zhea. Yang ia tahu, ia hanya ingin waktu segera cepat berlalu, sehingga ia bisa berlari ke arah gadis itu dan mengajaknya berbicara. Ya, hari ini juga. Karena untuk seminggu ke depan, William harus pergi ke California. Dan demi Tuhan, William tidak akan bisa tahan melewati hari tanpa mendengarkan penjelasan dari gadis itu.


William tersentak ketika tiba-tiba, Zhea menatap ke depan. Bukan ke arahnya, melainkan ke arah pembicara. Kemudian gadis itu menatap jam tangannya, dan mendengus. Membuat William tersenyum lebar. Gadis itu...


Menatapnya secara langsung, membuat William berpikir bahwa gadis itu benar-benar cantik. Bahkan tanpa senyum di wajahnya, gadis itu tetap saja cantik.


Well, hanya saja, William merasa, gadis itu lebih kurus dari sebelumnya. Bukan. Bukan hanya itu. Ada lingkar hitam di bawah matanya. Wajahnya benar sayu. Tak ada semangat di matanya. Keramahan seolah lenyap dari dirinya.


Will tertegun.


Ada apa dengan gadisnya?


"Pertemuan hari ini bisa diakhiri. Kalian bisa melanjutkan aktivitas kalian dan mengurus berbagai keperluan sebelum benar-benar menjadi bagian dari kami. Selamat pagi semuanya!"


Dan tepat setelah kalimat tersebut dilanturkan, satu persatu mahasiswa berdiri dan hendak meninggalkan ruangan. Hal ini tentu membuat William segera berdiri dan turun dari tempatnya. Tujuannya hanya satu. Azhalea.


"Zhea!" William memberhentikan langkahnya ketika mendengar suara pria yang tak asing baginya. Kemudian, ia melihat perubahan ekspresi di wajah gadis itu. Gadisnya tampak tersenyum dan melambaikan tangannya. Membuat pria yang memanggilnya tadi mendekat dan mengacak rambutnya.


"Siap berjalan-jalan keliling New York?" Ucap pria itu, membuat Zhe mengangguk, "Siap, bos!"


Mereka berjalan dengan tertawa. Meninggalkan William yang masih membeku di tempatnya.


"Alva, semoga kau tidak berpikir untuk menyakitinya." Will menghela nafas dan memilih untuk pergi.