Sweet Child OR Hot Daddy

Sweet Child OR Hot Daddy
pagi yang panas



Zhea membuka kedua matanya secara perlahan, merasakan kepalanya yang terasa nyeri. Gadis itu menoleh ke samping, mendapati sosok pria tampan yang menutup matanya dan memeluk kepalanya protektif. Zhe sedikit mengangkat tangannya yang masih bertautan dengan tangan pria itu, membuat Zhea tersenyum tipis. Dan sialnya, senyuman Zhe justru membuat rahang dan pipinya terasa nyeri.


Zhea menatap langit-langit kamarnya, dan sekelebat kejadian dimana teman-teman ayahnya hampir memperkosanya beberapa bulan yang lalu terjadi. Kala itu, Zhe ketakutan, benar-benar ketakutan, hingga ia terus berteriak kepada ayahnya agar dilepaskan. Namun, ayahnya seolah tutup mata dan telinga. Mata hati pria tua itu sudah buta, demi uang.


Perbuatan Salim benar-benar menghancurkan kehidupan Zhea, membuat gadis itu merasa jijik akan semua hal yang ia lakukan. Dia berubah 180 derajat menjadi seorang gadis pemurung dan ketus. Dia tidak akan tersenyum, atau bahkan tertawa. Dia menjadi temperamen hingga teman-temannya pun enggan berbicara padanya selain Sindi.


Ketika Zhea melamun, dan membayangkan pria-pria bajingan itu menyentuh tubuhnya, Zhe ingin sekali membakar tubuhnya hidup-hidup. Zhea memang bukan anak baik-baik yang hanya baca alkitab dan tidak tahu pergaulan bebas, namun ia juga bukan anak murahan yang bisa dinikmati hanya untuk 300 juta. Dia hanya akan menyerahkan tubuhnya kepada orang yang ia cintai, itu janjinya.


Hingga kemudian ia memulai kehidupannya di New York. Kehidupan berwarna yang membuatnya kembali tersenyum lebar, membuatnya kembali tertawa dan merasakan bagaimana rasanya di hargai. Kehidupan yang membuatnya berpikir bahwa tidak semua pria sebajingan ayahnya. Dan kehidupan itu ia dapatkan setelah ia mengenal Alva.


Ya, Alva Harison yang membuatnya merasakan kesakitan dan ketakutan. Bagaimana rasanya ketika seseorang yang memberikanmu harapan untuk hidup telah menjadi satu-satunya alasanmu untuk kembali ingin mengakhiri hidupmu?


Mata Zhea begitu perih karena tak bisa berhenti menangis kemarin, dan bahkan, ia pun tetap ingin menangis sekarang. Dia mengingat perlakuan manis Alva saat itu, ketika gadis itu mengingat tentang ayahnya, Alva akan memeluknya dan berkata bahwa Zhea tidak baik-baik saja. Alva akan menawarkan kehangatan yang membuat Zhe ketagihan. Alva akan memberikan begitu banyak alasan agar Zhe tetap bersemangat menjalani hidupnya.


Namun.


Kemana semua itu?


Kemana Alva-nya yang membuatnya jatuh cinta dalam beberapa hari saja?


Zhea meremas tangan yang bertautan dengan tangannya begitu erat, hingga membuatnya memerah. Zhe hanya ingin meredakan rasa sakitnya dengan menekan sesuatu begitu keras, walaupun pada kenyataannya, apa yang ia lakukan benar-benar sia-sia.


Hingga Zhe merasakan tangan kekar seseorang semakin erat memeluk tubuhnya yang kini sudah berbalut baju putih panjang. Membuat Zhea membuka matanya untuk memperhatikan betapa wajah itulah yang berhasil meredakan sedikit rasa sakitnya.


Pria itu membuka matanya dan tersenyum lebar, "Good morning, sunshine."


William mengaitkan rambut Zhea ke belakang telinga gadis itu, kemudian mencium mata gadis itu sedikit lama. Membuat Zhe tersenyum seraya menghapus air matanya, "Kau tidur nyenyak, daddy?"


William tersenyum melihat Zhe yang berusaha bersikap ceria. Membuat pria itu menoel hidung Zhe sebelum menciumnya, "Ini adalah tidur ternyenyakku."


"Aku akan membawamu ke dokter, Zhe." Lanjut William seraya melihat luka-luka yang Alva sebabkan di tubuh gadis itu, membuat Zhea menggeleng, "Aku tidak butuh dokter. Kau bisa mengobatiku."


Gadis itu bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan untuk membuka jendela kamarnya. Membuat William menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur Zhe dan tersenyum. William memperhatikan tubuh mungil Zhea dari belakang. Gadis itu tengah memakai baju putih panjang milik William yang kebesaran, sehingga ketika matahari menyinarinya, William bisa melihat jelas bayangan tiap bagian tubuh Zhe. Membuat juniornya berdiri.


"Aku tidak percaya, aku masih sanggup menghirup udara New York dan tersenyum," Zhe menata rambutnya dengan jari-jari tangannya, membuat baju itu tersingkap dan memperlihatkan bukit kembar Zhe yang memerah akibat pukulan Alva. Will benar-benar menginginkan Zhea.


Pria yang hanya memakai celana panjang hitam itu bangkit dan berjalan hingga ia berhenti di belakang Zhea. Tangannya memeluk pinggang Zhe dari belakang dan melingkari perut rata gadis yang hanya sebatas dadanya itu. Membuat Zhea harus tersenyum karena kenyamanan yang ia dapatkan. Jika dia dicap sebagai simpanan om-om, Zhea tidak akan peduli selama om-om yang dimaksud adalah William. Jika ia harus dipanggil b*tch sekali lagi, Zhea juga tidak akan peduli selama ia menjadi seorang j*l*ng hanya untuk pria di belakangnya.


Katakan Zhea gila, tetapi gadis itu teramat serius. Karena dia hanya ingin bersama William. Karena dia hanya ingin berada di pelukan William.


Karena dia hanya ingin mendengar d*s*han William.


Dan ya! Yang Zhea maksud adalah William Harison, pria yang 22 tahun lebih tua dari Zhe.


Zhea menoleh untuk mencium hidung William yang saat ini berada di bahu Zhea.


"Daddy, Patricia bisa melihat kita,"


"Aku menyuruhnya libur hari ini."


"Oh ya? Kenapa? Ahh,"


"Karena aku ingin berdua denganmu,"


Mendengarnya, Zhea tersenyum dan melahap bibir William. Oh, ya Tuhan. Zhe tidak tahu kenapa bibir itu seolah jadi candu untuknya. Serius. Zhea benar-benar melupakan segala kesakitannya hanya dengan mengecup bibir William. Khasiatnya lebih ampuh dari alkohol dan pereda rasa sakit sekalipun.


"Daddy, kau tidak pergi ke kampus?" Zhea melepaskan ciumannya dan bertanya.


"Aku membatalkan semua jadwalku hari ini."


"Kenapa?"


William tersenyum, "Kau menggodaku."


"Katakan padaku, daddy?"


"Karena aku ingin berdua denganmu."


Zhea tersenyum senang. Gadis itu menenggelamkan kepalanya di leher William dan menciuminya.


Ketika William berhenti, dan menyadari mereka sedang ada di tepi kolam renang, Zhea melepaskan kakinya dari pinggang Will dan menatap pria itu yang tersenyum sangat manis kepadanya, "Aku menyayangimu, Zhea."


Cara William mengatakannya. Cara William menatapnya. Kedua hal itu membuat Zhea merasa seperti wanita paling dicintai di dunia, karena sadar atau tidak sadar, William sudah menjadi dunianya.


Dan saat itu juga, Zhe mendorong William hingga pria itu jatuh ke dalam kolam renang. Membuat Zhe tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi terkejut William.


"Oh, daddy! Kau harus lihat bagaimana ekspresi wajahmu! Hahaha!" Zhea memegangi perutnya karena terlalu banyak tertawa. Membuat William yang masih berada di kolam renang melihat gadis itu dengan senyuman tipisnya. Zhea tertawa, dan hal itu membuat dasar hati William begitu senang.


"Dasar anak nakal." Ucap William pura-pura kesal, membuat Zhe semakin tertawa. Pria itu memainkan rambutnya, kemudian mengeluari kolam renang itu.


Membuat Zhe berhenti tertawa dalam sekejap. Tubuhnya menegang melihat pemandangan terindah yang ada di hadapannya saat ini.


Wajah Zhea memerah. Ia hendak membalikkan tubuhnya ketika William menggendong tubuhnya "Daddy akan menghukummu, little girl."


Gadis itu mendorong William hingga mereka berdua terjatuh bersama di kolam renang. Zhea semakin tertawa terbahak-bahak melihat bibir William yang mengerucut.


"Daddy jelek!" Zhe menekan kedua pipi William dan mengecup bibirnya berkali-kali. Membuat William tertawa seraya melingkarkan lengannya di pinggang Zhea.


"Dad, jangan hanya melihatiku. Kau harus mengobatiku." Ucap Zhe. Mendengarnya, William tertawa. Pria itu hampir lupa jika luka Zhe memang harus diobati.


William mengangkat tubuh Zhea dan mendudukkannya di gazebo sebelah kolam renang. Kemudian, pria itu mengambil kotak obat dan handuk untuk mengeringkan tubuh Zhe.


Setelah tubuh Zhea mengering, gadis itu membuka satu persatu kancing baju putihnya, membuat William mendelik dengan wajah memerah, "Apa yang kau lakukan?!"


Zhe menatap William yang wajahnya memerah dan mengerjapkan matanya, "Kau akan mengobati lukaku, kan?"


"Tapi kenapa kau melepas bajumu?"


Zhe tertawa, "Memangnya kenapa? Kau sudah melihat semuanya, kan?"


William meneguk ludahnya. Dia memang sudah melihat semuanya. Tapi entah kenapa dia tetap saja menegang ketika melihat tubuh Zhe. "Ayo, dad. Kenapa kau jadi diam saja, sih?" Ucap Zhe ketika bajunya sudah terlepas semuanya


"Oh, ya," Will meneguk ludahnya dan mulai nengobati luka-luka Zhe di sekujur tubuhnya dengan lembut. Benar-benar membuat Zheq terlena oleh setiap sentuhan William.


Gadis itu melihat dahi William dan mengernyit ketika menyadari bahwa dahi pria itu sedikit membiru. Tangannya terulur untuk menyentuh memar biru itu, "Ini kenapa? Aku baru menyadarinya."


William menatap tangan Zhe yang ada di dahinya dan tertawa, "Terpentok tembok."


Zhe mengernyit, "Kenapa bisa? Kasihan kan temboknya."


William kesal, "Teruskan, Zhe, teruskan." Zhea tertawa dan mengusap-usap kepala William,


"Kasihan sekali daddy-ku. Sini aku cium."


Zhea beranjak untuk mencium dahi William, kemudian kembali duduk di posisinya. Membuat wajah William memerah merasakan kehangatan bibir Zhe.


"Kapan kau terpentok tembok?"


"Saat kau mabuk. Aku mengganti pakaianmu."


Zhe memutar bola matanya, "Sudah kuduga. Daddy yang memperhitungkanku. Terus? Kenapa terpentok?"


"Aku menutup mataku selama ada di kamarmu." Ucap William membuat mata Zhe membulat, "Kenapa kau menutup matamu?"


"Aku tidak mau melihat tubuhmu tanpa seizin orangnya."


Zhea tersenyum lebar. Gadis itu kembali beranjak untuk mencium bibir William singkat.


"Sekarang kau melihat tubuhku? Memangnya aku mengizinkanmu?"


"Memangnya kau tidak mengizinkanku? Baiklah aku akan menutup mataku seperti ini." William memejamkan matanya, membuat Zhe tersenyum geli.


"Iya! Aku tidak mengizinkanmu, daddy. Aku tidak mengizinkanmu!" Zhea meraih kedua telapak tangan William dan meletakkannya di atas pegunungan himalaya nya, membuat William spontan membuka matanya, namun tidak kuasa untuk kembali menarik telapak tangannya.


"Zhe! Kau nakal, ya?" Ucap William khawatir jika ia tak bisa mengontrol nafsunya. Gadis itu tertawa dan meremas pegunungan himalaya nya menggunakan tangan William, "Aku nakal hanya untuk daddy, tidak apa-apa, kan?"


Wajah William kembali memerah, membuat Zhe benar-benar gemas dengan pria tampan yang menatapnya intens itu.


"Lihat, juniormu naik lagi." Ucap Zhea membuat gadis itu terkikik kecil.


"Kau sangat seksi."


"Lebih seksi mana, aku atau Jane?" Tanya Zhea membuat dahi William mengkerut.


"Tentu saja Jane!" Ucap William membuat Zhea mendengus. Gadis itu melepaskan tangan William dari tubuhnya.


"Pria memang semuanya sama!" Dengus Zhe.


William tertawa seraya merangkul tubuh Zhe, "Gampang cemburu banget, sih!"


Zhea menatap William tak percaya ketika pria itu mengucapkan bahasa Indonesia yang sering Zhea ucapkan ketika berbicara dengan William. Membuat Zhe tertawa kecil mendengar aksen William yang aneh.


"Yang seksi banyak, tetapi yang membuat William Harison menegang, hanya Azhalea." William mengerling jahil, membuat wajah Zhe memerah. Gadis itu duduk di pangkuan William dan memeluk pria itu. Menciptakan fantasi liar yang muncul di pikiran Will.


"Daddy..." Zhea mendesah, membuat William menciuminya hangat, "Yes, baby?"


"Aku lapar." Ucap Zhea membuat pikiran liar William berhenti saat itu juga. Pria itu tertawa seraya menepuk kepala Zhea, "Baiklah. Ayo kita berbelanja dan memasak di dapur."


Mendengarnya, Zhea mengangguk setuju.