Sweet Child OR Hot Daddy

Sweet Child OR Hot Daddy
Percakapan Malam



Zhea menarik nafas dan menghembuskan berkali-kali, mencoba meredakan detak jantungnya yang masih berdetak tidak karuan akibat perbuatan William. Bahkan, mandi air hangat selama 30 menit masih terasa sulit untuk meredakannya. Hanya William yang mampu membuatnya seperti itu. Ya. William. Pria tua menyebalkan sekaligus pria tua paling seksi yang pernah Zhe kenal.


Gadis itu berjalan mengendap-endap, keluar dari kamarnya. Berharap bahwa William sudah pergi ke butik temannya. Ketika merasa William benar-benar tidak ada, Zhe bisa bernafas lega. Gadis itu berjalan mengelilingi seisi rumah yang begitu mewah, membuatnya takjub dengan apapun yang ia temui.


Zhe tersenyum ketika melihat Jack yang sedang bermain dengan mainan anjingnya, kemudian gadis itu berlari ke arah Jack, membuat Jack menggonggong sekali, kemudian memeluk tubuh mungil Zhe dan menjilati gadis itu. Zhea terkekeh geli.


"Kau sangat merindukanku, ya? Aku juga sangat merindukanmu." Zhe tertawa seraya menepuk kepala Jack, kemudian mulai bergumam dengan dengusan, "Apakah tuanmu mengajakmu jalan-jalan dengan baik? Pria tua itu pasti terlalu sibuk, kan?"


"Jack, kenapa ada pria tua yang setampan itu ya? Jangan katakan ini pada siapapun, tapi pria itu jauh lebih seksi dari Alva." Wajah Zhea memerah ketika mengatakan itu. Tapi, serius. Apa yang Zhea katakan memang benar. Tentu, Alva adalah anak William. Alva memang tampan. Tapi jika dibandingkan dengan William, Alva jelas kalah. Wajah dewasa William benar-benar mampu membuat gadis manapun sesak nafas.


"Ya Ampun, Jack! Aku tidak percaya bisa bertemu denganmu!" Zhea memekik girang dan memeluk anjing coklat itu erat-erat, membuat Jack menggonggong berkali-kali.



Alis Zhe terangkat ketika Jack tidak berhenti menggonggong seraya melihat ke belakang Zhea. Zhe ikut melihat ke belakang, dan dia bersumpah untuk menarik wajahnya secara paksa dan membuangnya jauh-jauh. Bagaimana tidak? Di balik meja bar, dia menemukan William yang sedang menopang dagunya dan melihat mereka dengan senyuman tipis.


Apa-apaan.


Zhea menarik kembali kepalanya ketika merasakan pipinya memanas. Dan dalam hitungan detik, perubahan warna pada pipinya pun tidak dapat dihindari.


"Jadi, aku lebih seksi dari Alva, ya?" Ucapan William mampu meledakkan dadanya. Sialan. Sialan. Triple sialan. Zhea menahan nafasnya dan menutup wajahnya dengan penuh. Benar-benar khas seorang Zhe jika sedang malu.


"Sejak kapan dia disini!" Ucap Zhe tertahan, membuat William tertawa dan menghampiri gadis itu, "Sejak kau berjalan mengendap-endap seperti maling di rumahku."


Baiklah. Bisakah seseorang membunuh Zhea saat ini juga?


William duduk di sebelah Zhe yang sedang berjongkok, namun tetap saja, tinggi Zhe tidak bisa mengalahkan William. Pria itu kembali tertawa ketika melihat wajah merah Zhe. Azhalea, gadisnya yang gampang tersipu.


"Ayolah, bersikap biasa kepadaku," William mengacak-acak rambut Zhe, membuat gadis itu memberanikan diri untuk menatap penuh sosok pria tampan di hadapannya.


Zhea tidak sadar ketika tangannya sudah terulur untuk menyentuh pipi William yang halus dan dipenuhi jenggot halus, kemudian beralih ke hidung William, kemudian ke mata William, hingga turun ke bibir pria itu. Membuat William tampak menutup matanya dan mengerang oleh setiap sentuhan Zhe yang terasa begitu nyata, bukan angan-angan semata.


"Aku tidak percaya jika kau benar-benar nyata. For God's shake. Kau benar-benar nyata!" Ucap Zhe masih ragu untuk percaya. Hal itu membuat William tersenyum lebar. Jangankan Zhea, William bahkan tidak bisa tidur hanya untuk menunggu hari ini tiba, untuk membuktikan bahwa Azhalea memang benar-benar ada.


"Maafkan aku, Mr. Harison!" Zhea segera menarik tangannya dan menundukkan kepalanya dalam. Membuat William mendengus kesal, terutama dengan panggilan Zhea yang membuat mereka terasa seperti asing.


"Bisakah kau berhenti memanggilku seperti itu ketika tidak di kampus?" William cemberut, dan demi Tuhan, bolehkan Zhea mencium bibirnya?


"Maafkan aku, William." Ulang Zhe, membuat William menghela nafas. Gadisnya belum bisa memanggilnya seperti dulu, atau, gadis itu memang tidak berniat mengingat masa-masa mereka dulu?


"Panggilan lain? Daddy mungkin?" William tertawa seraya bangkit dari duduknya. Pria itu berjalan meninggalkan Zhe yang tampak mematung dengan wajah yang merah.


William berjalan ke arah ruang keluarga dan menyandarkan tubuhnya di sofa. Pria itu memilih untuk menonton TV untuk mengisi malam minggunya. Serius, ketika melihat Zhe, dia jadi malas keluar rumah. Zhe begitu imut ketika wajahnya memerah. Gadis itu masih saja bersikap menggemaskan seperti dulu walaupun sepertinya dia memang benar-benar ingin melupakan William.



William menoleh ketika tapak kaki terdengar mendekat ke arahnya. Dia mendapati sosok Zhe dengan nampan berisi beberapa camilan dan segelas susu hangat di tangannya. Zhe tersenyum seraya meletakkan nampan tersebut, "Aku tahu kau butuh ini,". William memang pernah bilang jika dia suka menonton televisi ditemani dengan coklat hangat, meskipun kenyataannya pria itu hampir jarang menonton TV karena kesibukannya.


William menghela nafas, pandangannya tak bisa lepas dari sosok gadis di hadapannya. Persetan dengan susu hangat, dia benar-benar ingin memeluk gadis itu.


William berbalik badan, hendak meninggalkan William ketika pria itu berkata, "Kemana?"


Membuat gadis itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah William, "Ke kamar, memangnya mau kemana lagi?"


William tersenyum. Pria itu menarik tangan Zhe hingga jatuh tepat di sebelahnya dengan posisi dimana sebagian tubuh Zhe ada di pangkuan William. Gadis itu membulatkan matanya tak percaya, "William! What are you doing?!"


William terkekeh, kemudian melingkarkan lengannya mengelilingi bahu Zhea, "Kenapa kau harus ke kamar jika bisa menonton TV?"


Wajah Zhe memerah, terlebih ketika punggungnya benar-benar bersentuhan dengan dada bidang William yang masih terhalang dengan kaos hitamnya, "William, please,"


Zhea berusaha untuk berdiri, namun William tetap menahannya. Hal itu membuat Zhea menyerah, "Apa sih maumu?"


"Aku mau kau duduk dengan tenang dan menonton televisi. Lihat, ini acara kesukaanmu, kan?" Ucap William seraya memperlihatkan sebuah acara debat mengenai hukum dalam negara oleh para pemimpin-pemimpin negara.


"Jika?" Ucap William, namun pandangannya masih ke arah TV. Mendengar itu Zhea menggigit bibir bawahnya, "Ingat, aku ini kekasih Alva."


William mengangguk setuju, "Aku tahu."


"Kau tahu? Bagus sekali," Zhe memutar bola matanya, "Kalau begitu kau harus melupakanku."


William kembali tertawa, "Aku sudah melupakanmu. Look, memangnya aku terlihat sedang menggodamu?"


Wajah Zhea memerah.


"Aku ayah Alva. Kau kekasih Alva. Aku adalah ayah dari kekasih Alva. That makes sense. Jadi, apa yang salah dengan memelukmu?"


Karena jantungku tidak bisa berhenti membuat ulah, bodoh.


Zhea memilih untuk diam. Zhe mulai menyandarkan punggungnya ke dada Will, menikmati setiap jengkal tubuh seksi itu. Demi Tuhan, Zhe benar-benar menikmatinya. Gadis itu menutup matanya ketika merasakan ******* nafas tenang menerpa lehernya.


William sangat wangi, hingga membuatnya melayang di udara. "Kenapa kau tidak ganti baju?" Tanya William, membuat


Zhe tertawa, "Aku kehilangan barang-barangku."


"Bagaimana bisa? Jangan bilang kau meletakkannya sembarangan lagi." William teringat cerita Zhe ketika gadis itu meletakkan dompetnya di bawah tumpukan majalah bekas, dan ketika Zhe kembali untuk mengambilnya, dompetnya sudah tidak ada. William benar-benar berpikir bahwa Zhe adalah orang bodoh kala itu.


"Kau benar." Zhe tertawa, membuat Will menaikkan alisnya. Pria itu menatap wajah Zhea, membuat gadisnya menyengir tanpa rasa bersalah.


"Seriously, Zhe? Kau melakukannya lagi?" Tanya William tak habis pikir, membuat Zhe mengangguk geli.


"Ya Tuhan, kau benar-benar bodoh. Aku heran kenapa kau bisa dapat beasiswa di universitas ternama dunia," William memutar bola matanya, membuat Zhe tertawa mendengar nada suara itu.


"Aku akan mengajakmu berbelanja besok." Ucap William.


Zhe menoleh ke arahnya, "Apa maksudmu?"


"Kau tidak mungkin memakai baju seperti ini terus menerus kan?" Ucap William, membuat Zhr menatap bajunya sendiri.


"Kau juga butuh handphone."


"Kau berlebihan. Daripada itu, lebih baik kau mencarikan aku pekerjaan atau semacamnya. Aku tidak peduli jika kau sudah menghasilkan uang sendiri, aku tetap tidak mau kau membuang uangmu untuk wanita yang tidak kau kenal. Demi Tuhan, kau punya anak yang harus kau nafkahi dan aku tidak akan pernah mau memaafkan ayah tidak bertanggung jawab sepertimu, jika Alva sampai kelaparan kemudian dia menjadi kurus kering dan ototnya menghilang. Tidak! Aku tidak bisa membayangkannya!"


Azhalea. Gadis paling cerewet yang mampu mencairkan hati seorang William Harison


"Terus berbicara, terus saja," William mencubit pipi kiri dan kanan Zhd bersamaaan, membuat gadis itu membulatkan matanya dan menatap kesal William.


"Aku tidak akan miskin hanya gara-gara membelikan kebutuhanmu, bocah. Lagipula, aku memang ingin mengajakmu jalan-jalan. Hanya saja, seseorang mengataiku pria sibuk yang melupakan seorang gadis cantik." William mencibir, membuat wajah Zhe memerah. Gadis itu menghela nafas dan berkata, "Jangan menggodaku, Pak Dosen!"


Pria itu tertawa sebelum suasana kembali berubah hening.


William termenung. Kini, acara televisi itu pun tidak lagi menjadi perhatiannya. Karena Azhalea yang ada di rengkuhannya, telah berhasil mengambil 100% kesadarannya untuk hanya memperhatikan gadis itu. Pipinya yang sedikit tembam, hidungnya yang tidak mancung, wajahnya yang halus, dadanya yang naik turun karena deraan nafas teraturnya. Ya Tuhan, Zhea benar-benar sempurna. Dan hanya dengan memperhatikannya, sudah mampu membuat jantung William berdetak kencang. Pria itu berharap Zhe tidak mendengar detakan kencang itu.


"Berhenti menatapku seperti itu. Apakah aku terlihat selezat pizza?" Ucap Zhea. Siapa yang tidak gugup ketika pria yang tampannya melebihi Cristiano Ronaldo itu menatapmu begitu intens?


Mendengar ucapan Zhe, William tidak bergeming. Pria itu justru menarik Zhe lebih dalam ke dalam rengkuhannya. Tangannya mengelus halus lengan atas Zhe, membuat Zhea bahkan harus mencari dengan usaha keras keberadaan oksigen di ruangan itu.


"Damn," Ucap William. Pria itu membenamkan kepalanya di rambut Zhea, mencium aroma gadis itu sangat dalam, "I miss you. So bad."


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Happy reading


jika suka dengan cerita ini mohon follow, like, coment, dan vote nya ya.๐Ÿคญ๐Ÿ˜