Sweet Child OR Hot Daddy

Sweet Child OR Hot Daddy
Minggu Pagi



William mengerjapkan matanya ketika merasakan sesuatu bergetar di dalam celananya. Dengan segera, pria itu mengambil ponsel tersebut dan membukanya. Masih jam setengah tiga pagi, dan siapa pula yang meneleponnya sepagi itu.


"Ha-"


"Dad, aku tidak akan pulang malam ini."


William menjauhkan sedikit ponselnya ketika suara berisik tiba-tiba memenuhi telinga kirinya. Di lihatnya layar tersebut, nama Alva terbaca dengan sempurna.


"Tugasnya sangat sulit dad, kami sampai tidak tidur semalaman untuk mengerjakannya!"


"Man! Ayo! Ledakan!


"Ah sayang, tolong lebih keras! Ah!!"


William memutar bola matanya ketika suara-suara tersebut terdengar. Yang benar saja. Mana ada suara berisik ketika kau sedang mengerjakan tugas di rumah temanmu? Apalagi, suara musik disko yang jelas sekali menunjukkan bahwa Alva sedang di club malam, dan sedang mabuk. Seriously? Alva Harison mengerjakan tugas di malam minggu? Damn. Unbelievable!


"Pokoknya aku tidak pulang malam ini, Dad! Jangan lupa jaga gadisku ya. Iya, gadisku, Azhalea. Azhalea itu gadisku. Hanya kau yang mau menerimanya! Teman-temanku tidak terima. Jadi, jaga dia baik-baik bersamamu! Hahaha!"


Demi Tuhan. Alva benar-benar mabuk. William baru saja akan membalas ucapan pria itu ketika sambungan terputus secara sepihak, membuat pria itu mendengus dan melempar ponselnya ke sembarang arah.


Pria itu berusaha untuk kembali memejamkan matanya ketika menyadari adanya sosok lain di atas dada bidangnya. Ya. Sosok lain yang tengah memejamkan matanya dan memeluk tubuhnya. Sosok itu menggunakan dada William sebagai bantalannya, sehingga ia bisa tidur dengan nyenyak.


Sosok itu adalah Azhalea Putri Florenza.


Mata William membulat seketika. Dia tidak tahu bahwa mereka bisa tertidur di sofa dengan posisi yang sama seperti tadi malam. Namun bedanya, kini, tangan Zhe melingkari tubuh William. Membuat William terkekeh geli merasakan sensasi geli di perutnya. Zhea memang benar-benar ajaib. Gadis itu mampu menciptakan berbagai macam perasaan dalam diri William.


Pria itu tersenyum lebar ketika memperhatikan wajah Zhe yang begitu tenang. Nafas gadis itu terasa halus dan teratur. Bahkan, senyuman tipis terbentuk di bibir gadis itu. Keadaan yang sama, dimana ia melihat gadis itu kelelahan setelah hari terakhir mereka berhubungan, karena Zhe yang secara sepihak memutuskan hubungan mereka. Meninggalkan sosok William yang kebingungan setengah mati, namun tidak mencoba. untuk menghubungi kembali sosok Zhea karena perasaan bersalahnya.


William mengeratkan lengannya ke seluruh tubuh Zhe. Menciptakan kenyamanan yang sudah lama tidak ia rasakan. Kenyamanan yang membuatnya rela menyerahkan apapun, kehilangan apapun, membayar berapapun hanya demi tetap memiliki kenyamanan itu.


Zhea membuka kedua matanya perlahan ketika mendengar suara ribut air di halaman belakang yang letaknya memang tidak jauh dari ruang keluarga. Gadis itu bingung kenapa dia bisa berbaring di atas sofa ketika sebelumnya...


Wajah Zhea memerah.


Sebelumnya, dia berada di pelukan William hingga tertidur. "****. Masih pagi dan pria tua itu sudah membuatku segila ini!" Zhe menutup wajahnya, namun tersenyum ketika merasakan perasaan senang di dadanya.


Zhea berjalan menuju halaman belakang, ada kolam renang dan gazebo di sana. Zhea memandangnya takjub. Bukan, bukan kolam renang maupun gazebonya. Gadis itu memandang takjub sosok pria yang membuat keramaian hingga membangunkannya tadi.


"Oh. My. Gosh." Zhea membuka mulutnya tak percaya. Well, dia memang pernah melihat tubuh shirtless William sebelumnya, namun, gadis itu tidak pernah berpikir bahwa William berlipat-lipat kali lebih seksi ketika dilihat secara langsung.


Zhea meraba kedua roti burger didanya secara bergantian dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya mulai meraba pahanya hingga ke kue apemnya. Gila. William benar-benar membuatnya panas hanya dengan membayangkannya. Jika saja Zhe sedikit gila, gadis itu akan bertelanjang dan menerjang tubuh William saat ini juga.


"Zhea?" Gadis itu mengerjapkan matanya ketika suara William terdengar seperti memanggil namanya.


"Apa yang kau lakukan?" Ucap William, dan percayalah, sesuatu di dalam celana William tampak berdiri karena melihat Zhea yang meraba tubuhnya sendiri.


Zhe gelagapan. Gadis itu melepaskan pegangannya pada roti burger dan kue apem nya, kemudian menatap ke arah William yang sedang mengeluari kolam renang. Demi Tuhan. Zhea basah.


Pria itu keluar dari kolam renang, menampilkan tubuhnya yang kekar dan penuh dengan tato sedang basah karena air. Dan hal itu justru membuatnya terlihat semakin hot. Zhea memandang rambut basah William, kemudian wajah pria itu, kemudian leher, dada bidangnya, perutnya yang terbentuk dengan sempurna.. Kemudian celana renang ketatnya. Yang memperlihatkan tonjolan besar, dan Zhea harus mengumpat kesal karena celana renang itu harus menghalangi penglihatannya.


Bisakah aku melihatnya tanpa busana? Zhe memejamkan matanya untuk menghilangkan pikiran itu. Namun, bukannya hilang, bayangan dimana ia melihat tubuh polos William di video call terakhir mereka justru terngiang di pikiran Zhea. William punya tongkat ajaib yang besar, sesuai dengan tubuhnya. Saat dimana William memainkan tongkat ajaibnya sendiri adalah saat dimana tubuh Zhea mulai memanas.


"Zhea?" Suara William kembali menginterupsi pikirannya. Zhea mengerjapkan mata ketika menyadari William sudah berada di depan matanya.


Stupid Zhe. Buang pikiranmu jauh-jauh! Kau ini kekasih Alva, Azhalea!


Zhea memukul kepalanya berkali-kali, membuat William menatapnya tak percaya. Pria itu menahan tangan Zhea agar tidak memukuli kepalanya, "Come on. Kau menyakiti dirimu sendiri, Zhe!"


Suara dan sentuhan William membuat darah Zhea seakan berdesir. Di bawah sana, ia semakin basah. Menatap pria ini lama-lama membuatnya benar-benar basah.


"Aku harus,"


Zhe membalikkan tubuhnya, berusaha menjauhi William ketika pria itu memotong ucapannya, "Kau baik-baik saja?"


Zhe menggerutu. Dosen yang bodoh hanyalah William. Bagaimana bisa pria itu bertanya apakah Zhea baik-baik saja dengan keadaan William yang justru membuat Zhea... terangsang?


"Zhe, come on. Jawab aku!" William mulai khawatir. Pria itu menarik tubuh Zhea agar menatap penuh ke arahnya. Pria itu semakin khawatir ketika melihat wajah Zhea yang memerah. Benar-benar memerah.


"Kau baik-baik sa,"


"For God's shake, William! Kenapa kau harus berbicara dengan keadaan seperti ini denganku?! Aku benar-benar membencimu! Kau mengacaukanku, Argh!" Teriak Zhea, membuat mata William membulat tak percaya. Dia bahkan tidak tahu apa salahnya hingga Zhea membentaknya seperti ini.


"Diam dan lanjutkan acara renangmu! Jangan pernah berbicara denganku jika kau masih seperti ini!" Bentak Zhea lagi. Gadis itu membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauhi William, membuat pria itu tampak menatap kepergiannya tak percaya.


"For God's shake, Zhea! Aku bahkan tidak tahu apa salahku!" Teriak Will. Membuat gadis itu berhenti melangkah, kemudian menatapnya tajam.


"Don't you know behind your son's girlfriend, I am still a normal girl?!" Teriak Zhe kemudian melanjutkan langkahnya dengan perasaan kesal.


William terdiam, mencerna perkataan Zhea. Perkataan yang pernah Zhea katakan di videocall pertama mereka, hanya saja, waktu itu Zhea memakai kata your daughter, bukan your son's girlfriend. Perlahan, pria itu menggelengkan kepalanya dan terkekeh kecil. Apakah gadisnya baru saja terangsang karena melihat tubuhnya? Oh, entah mengapa, William merasakan perasaan senang yang lagi-lagi bersarang di dadanya.


"Come on baby, bersiaplah, kita akan jalan-jalan!" William tertawa keras-keras.


***


Zhea menghampiri William yang sudah siap di meja makan. Wajah gadis itu memberengut, terlebih ketika mendengar tawa pria itu tadi. Tapi, kenapa juga Zhea harus kesal kepada William? Apakah salah William jika pria itu terlalu hot? Ya, itu salahmu, berkatmu, aku harus menghabiskan satu jam di kamar mandi dengan meneriaki namamu. Kau dengar itu, bodoh?


"Wait, kenapa menatapku seperti itu?" William meringis geli, seraya menyuruh Zhea untuk duduk di hadapannya.


Zhe semakin mendengus melihat penampilan William. Dasar om-om ganteng sok muda! Dia mau nyari perhatian siapa sih, sampai harus berdandan seganteng itu?!


"Kau tahu? Aku menunggumu hampir 90 menit. Kau berbuat apa saja di kamar mandi hingga selama itu?" William menyeringai. Membuat wajah Zhea memerah. Gadis itu meremas tisu dan melemparkannya ke arah William, yang dengan spontan ditangkap William dengan sempurna.


"Calm down, girl!" Pria itu tertawa, membuat wajah Zhea semakin memerah, "Tertawa sepuasmu, William! Tertawalah!"


Seorang wanita tua membawakan piring dan makanan seraya menaruhnya di atas meja. Zhea memandang wanita itu dan tersenyum lebar, "Hello, Mrs! Kau pasti Patricia, kan?"


Wanita itu menatap Zhe bingung, "Apa kau mengenalku, Nona?"


Zhea menyengir dan melirik ke arah William sejenak, "Hanya saja, seorang pria tua sok ganteng yang berdandan seperti anak muda untuk menarik perhatian wanita-wanita diluar sana menceritakanku sedikit tentangmu,"


"Aye. Aye. I can hear you, sweetheart!" William tersenyum lebar seraya mengambil piringnya, membuat Zhea menjulurkan lidahnya ke arah William.


"Kau terlihat cantik mengenakan dress mendiang Nyonya Andrea. Kau jadi mirip dengannya." Patricia tersenyum lebar, membuat Zhea tampak menatap wanita itu tak percaya seraya menunjuk dress blaster hitam putih yang ia kenakan, "Dress Nyonya Andrea? Ini?"


Patricia hanya tertawa melihat tingkah kekasih tuan mudanya. Ya, setidaknya, itulah yang William bilang ketika Patricia menanyakan perihal gadis itu.


"Saya permisi ke belakang." Patricia meninggalkan Zhe dan William, yang kini sudah menikmati makanannya.


"Ini dress Mom Andrea?" Tanya Zhe, membuat William tersedak, "Mom Andrea?!"


"Dia ibunya pacarku, apa masalahnya denganmu?" Ucap Zhe membuat William mendengus, "Dan aku ayahnya pacar bodohmu itu. Kenapa tidak panggil aku... itu?"


Zhea menaikkan alisnya, "Memanggilmu seperti yang Alva panggil, memberikan ingatan tersendiri buatku. Ah, ingatan macam apa ini!!" Zhe memegang kepalanya dramatis, membuat William dengan gemas memasukkan sendok berisi makanan ke mulut Zhe, "Makan, makan!"


"Dan kau bilang apa? Pacar bodohku?!" Ucap Zhe ketika berhasil menelan makanannya, membuat William memandang Zhe dengan pandangan menantang, "Ya! Pacar bodohmu!"


"Asal kau tahu, kekasihku itu salah satu mahasiswa terbaik di New York University, kau belum tentu bisa sepintar dia!" Zhe tersenyum bangga, membuat William lagi-lagi memasukkan sendok berisi makanan ke mulut Zhea, "Kenapa aku harus jadi mahasiswa terbaik jika aku sudah menjadi dosen terbaik di NYU?"


Wajah Zhea memerah, well, William benar juga.


"Hey, serius, ini dress Mom Andrea?" Tanya Zhea lagi, membuat William mengangguk.


"Wah," Zhea tersenyum lebar. Wajahnya memerah karena senang. Dia tahu banyak tentang Andrea karena William sering menceritakan perihal wanita itu. Andrea sangat spesial, dia bisa melihat itu dari cara William menceritakannya secara spesial.


"Aku senang memakainya, terima kasih, ya! Dia wanita yang spesial." Ucap Zhea membuat William tersenyum tipis. Zhea dalam dress Andrea benar-benar mengingatkan William pada wanita itu. Zhea benar-benar anggun.


"Ngomong-ngomong, dimana Alva? Aku tidak melihatnya sejak tadi? Hah? Apa dia..." Wajah Zhea mendadak ketakutan. Gadis itu mendekatkan wajahnya ke wajah William, membuat jantung William berdetak kencang, "...apa dia melihatku tidur... di dekatmu?"


William memasukkan suapan ketiganya ke mulut Zhea dan berkata, "Dia tidak pulang. Tugasnya terlalu rumit. Sekarang, makanlah, dan jangan banyak omong."


Zhea mengangguk-angguk lega, kemudian menelan makanannya. Gadis itu mendekatkan wajahnya ke wajah William lagi, kemudian membuka mulutnya yang sudah bersih. William menatap mulut Zhea yang terbuka, dengan nafas yang memburu. Membayangkan jika ia bisa meletakkan juniornya di dalam sana... membuat sesuatu di dalam celananya mengeras. ****, berhenti berpikir kotor, William!


"W-what?" Tanya William gugup, membuat Zhea memutar matanya, "Makan!"


"Hah?"


"William, aku menyesal mengatakan ini. Tapi, Patricia sudah cukup lelah dengan pekerjaan rumah yang begitu besar ini. Jadi aku tidak mau menambah pekerjaannya dengan piring bekasku makan, well, sebenarnya aku mau mencuci piringku sendiri. Tapi masalahnya, aku memakai dress mom Andrea dan aku tidak mau dress ini kotor jadi,"


Ucapan Zhea terpotong ketika William memasukkan suapan ke empatnya, membuat Zhea mengunyahnya dengan tersenyum lebar.


William menggeleng-gelengkan kepalanya menatap gadis menggemaskan di hadapanya.