Sweet Child OR Hot Daddy

Sweet Child OR Hot Daddy
Cara Berbeda



"Good morning, daddy!" Zhea tersenyum lebar seraya terduduk di kursi meja makan, di hadapan William. Pria itu menatap Zhe dengan wajah yang kusut. Ia ingat bagaimana Zhea meninggalkannya dengan kejam semalam.


"Eh, kenapa kau terlihat mengantuk? Apakah kau banyak pekerjaan semalam?" Zhea terkikik seraya mengambil roti tawarnya.


"Puas?" William mendengus, membuat Zhe tertawa terbahak-bahak. Well, jika William mengira bahwa hanya dirinya saja yang memuaskan diri sendiri semalaman gara-gara hasratnya yang tertahan, maka, William salah. Kenyataannya, setelah Zhea kembali ke kamarnya, gadis itu juga harus memuaskan dirinya sendiri dengan menyebut nama William. Sialan, mengingatnya, wajah Zhea jadi memerah.


"Makanya, jangan main-main denganku," Ucap Zhea seraya tertawa. Membuat William mencolekkan selai coklat ke pipi Zhe yang membuat gadis itu berteriak kesal dan membalas perbuatan William. Mereka terus melakukannya dan kemudian tertawa bersamaan.


"Good morning, guys!" Suara Alva memecahkan keramaian itu, membuat Zhea seketika terdiam seraya melanjutkan makannya.


"Good morning, son!" Ucap William. Melihat perubahan sifat Zhea, Alva menyahut, "Dad, aku berangkat ya."


William menatapnya, "Kau tidak makan? Dan, bukankah kau sendiri yang bilang semalam bahwa mobilmu perlu di servis jadi kau akan berangkat bersamaku?" Dan bukankah karena itu kau harus menghentikan acaraku dan Zhea?


"Iya, tapi Richard bilang dia akan menjemputku." Alva mengambil selembar roti tawar dan memakannya, "Bye, Dad, Zhe!"


Alva meninggalkan Zhea dan William yang tampak menatap punggungnya yang mulai menjauh. Membuat pria itu mendengus, "Jika dia pergi dengan Richard, kenapa harus mengetuk pintu kamarku malam-malam?!"


Zhea menatap William, "Eh, apa?"


"Maksudku, kemarin dia bilang ingin berangkat bersama kita ke kampus. Karena itu dia mengetuk pintu kamarku semalam."


Zhea mengangguk dan bersemangat, "Sungguh anak yang berbakti!"


"Senang? Senang membuatku menderita?" Dengus William, "Aku bersumpah, lain kali, aku tidak akan melepaskanmu, sweetheart."


Zhea mengangguk-angguk dramatis, "Aku sangat menunggunya, Mr. Harison."


William membersihkan mulutnya dan beranjak meninggalkan meja makan.


"Aku menunggumu di mobil."


Zhea hanya mengangguk. Gadis itu menggigit roti nya ketika William membungkuk untuk ******* bibir gadis itu. Membuat Zhe mendelik kaget karena Patricia hampir saja melihat mereka. Zhe memukul lengan William dan mendelik, "Apa kau sudah gila?!"


William terkekeh dan berkata dramatis, "Selaimu belepotan. Aku hanya berniat membersihkannya. Serius! Aku tidak punya niatan lain!"


Zhea hendak menjambak rambut William ketika pria itu sudah berlari menuju mobilnya. Gadis itu menyelesaikan makanannya dan berpamitan pada Patricia sebelum ikut menyusul William yang sudah siap di mobilnya.


Zhea menghempaskan tubuhnya di kursi penumpang. Gadis itu hendak memasang sabuk pengamannya ketika William berteriak, "No!"


Teriakan William membuat Zhea tersentak dan menatapnya kesal, "Daddy! Apa, sih?!"


William menyahut, "Aku saja yang memasangkan sabuk pengamanmu."


Ucapan pria itu membuat alis Zhea terangkat. Namun, gadis itu tak mau ambil pusing dan mengarahkan pandangannya ke jendela mobil. Setelah itu, William menjulurkan tubuhnya untuk meraih sabuk pengaman Zhe, membuat nafas pria itu menerpa hangat leher Zhea.


Terpaan hangat itu dengan spontan membuat Zhe menoleh, membuatnya mendapati wajah tampan William yang berada 2 cm di depan wajahnya. Zhea mengerjapkan matanya sesaat, kemudian mulai memejamkannya ketika menyadari wajah William yang semakin dekat.


"Kau ingin ku cium, ya?" William tertawa seraya memasangkan sabuk pengaman Zhe, membuat Zhea menatapnya kesal, "Daddy!"


Teriakan Zhea membuat Will semakin tertawa. Sedangkan Zhe tampak melipat tangannya dan membuang pandangannya ke jendela, "Demi Tuhan, kau sangat kekanak-kanakan!"


Setelah mengatakannya, Zhea merasakan dagunya ditarik, dan sesuatu yang lembab mendarat di bibirnya. Zhea tersenyum ketika William ********** dengan sangat halus.


"Sudah, kan? Jangan marah-marah lagi, ya."


William tersenyum seraya mengacak rambut Zhe sebelum akhirnya menjalankan mobilnya.


Zhea merasakan detak jantungnya yang berdetak tidak teratur. Entahlah, sudah beberapa hari terakhir, gadis itu sama sekali tak bisa mengontrolnya. Dia sering kehabisan nafas, wajahnya sering memerah, namun dibalik itu semua, dia juga merasakan ketagihan dan kebahagiaan. Dan lucunya, semua hal yang ia alami terjadi berkat pria yang sebenarnya lebih cocok untuk menjadi ayahnya.


Tidak, Zhe. Kau pasti terlalu menginginkan sosok ayah yang seperti dia.


Zhea menarik nafas dan mengarahkan pandangannya ke jendelanya. Kini, mereka berhenti di lampu merah. Dan disebelah mobil William ada bus umum. Tidak, bukan itu yang mampu membuat mata Zhea membulat. Melainkan sesosok pria yang sedang menyandarkan tubuhnya dengan earphone yang menutup telinganya di dalam bis itu.


Sosok Alva Harison.


Mobil William berjalan, namun pandangan Zhea tidak bisa terlepas dari sosok pria yang ada di bus umum itu. Demi Tuhan, Alva naik bus? Bukankah tadi pria itu berkata bahwa Richard akan menjemputnya?


"What's wrong, babe?" William menyahut, membuat Zhea tampak mengerjapkan matanya dan menatap pria itu bingung.


"Tidak. Eh, daddy," Zhe menatap pria yang masih memfokuskan pandangannya ke jalan raya.


"Ya?"


"Bisa ceritakan tentang Alva? Well, sejujurnya, aku belum terlalu mengenalnya."


Ucapan Zhea membuat William mendengus, "Bagaimana bisa kau berpacaran dengan orang yang belum kau kenal dekat?!"


Zhea mengerjap. Demi Tuhan, bukan ucapan itu yang ia harapkan keluar dari mulut William.


"Dengar, kalau aku tidak berpacaran dengan Alva, kita tidak akan bertemu. Jadi berterimakasihlah pada takdir."


William memutar bola matanya, "Dengan melihat mahasiswa terpendek di kelasku, aku juga akan langsung menyadari jika itu kau!"


Zhea mendelik kesal seraya mencubit pipi William keras-keras, "Daddy! Aku serius!!"


William menatapnya sejenak, "Aku juga serius! Ya ampun, apa kau mendekatiku untuk memperlancar hubungan kalian?"


Zhea mendengus, "Aku sudah putus dengan Alva."


Mata William berbinar. Pria itu tertawa, membuat Zhe menyipitkan matanya, "Kenapa kau sangat senang?"


William meringis seperti kuda seraya memainkan matanya ke arah Zhe, membuat gadis itu kembali bertanya, "I said, why are you so happy, William Harison?"


"Tidak, tidak. Ayo, tanyakan semua tentang Alva padaku." William tersenyum.


Zhea mengerjapkan matanya, "Apakah dia suka naik kendaraan umum?"


William menaikkan alisnya, "Spesifically? Taxi? Plane?"


Zhea menggeleng dan menjawab, "Public bus, mungkin?"


William tertawa terbahak-bahak, membuat Zhe menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya, "What?"


"Pertanyaanmu sungguh lucu. But, for your information, Zhe. Alva akan lebih memilih tidak masuk sekolah daripada ke sekolah naik bus umum. Bukannya manja, tapi anak itu memang tidak tahan."


Jawaban William membuat Zhea termenung. Jadi, siapa yang di dalam bus umum tadi? Alva? Tapi, Alva tidak mungkin naik bus umum, kan?


"Kenapa?"


Zhea menatap William sebentar dan menggeleng, "Hanya bertanya."


***


"Yah, Zhe. Kantin udah penuh banget, tuh. Gimana dong? Gue laper banget, lagi." Ucap Putri, membuat Zhea mengedarkan pandangannya ke seluruh kantin. Sebelumnya, Zhea memang satu kelas dengan Putri di kelas Hukum Perdata.


"Iya juga, mana gue sampe sore." Ucap Zhea membuat Putri mengangguk, "Gue juga sampe sore."


"Ya udah deh, gimana kalo ke kantin fakultas sebelah aja?" Ucapan Zhe membuat Putri menggeleng, "Yang bener aja, deh! Udah tau jauh banget kalo jalan!"


Zhea menghela nafas, "Abis gimana lagi, dong?"


"Put, pergi aja, yuk?"


Putri menggeleng, "Lo dipanggil Alva, tuh! Udah ayo kesana. Lumayan kumpul bareng anak-anak hits NYU."


Zhea mendesah pasrah ketika Putri tampak menarik lengannya menuju meja yang berisi Alva dan teman-temannya. Mereka semua sedang makan dan bercanda, membuat Zhe benar-benar ingin lari dari tempat itu.


"Eh, whatsup, Alva's girlfriend!" Zhea memandang tidak nyaman pada teman Alva yang tidak ia kenal itu.


"Aku bukan pacar Alva." Ucap Zhea membuat mereka semua membulatkan matanya. Tapi, Zhea bisa melihat binar kebahagiaan dari seorang gadis berambut pirang yang duduk di bagian paling ujung.


"Kau?" Pria berambut pirang itu tampak memainkan tangannya seolah menanyakan Kau putus, Alva? Hell!


Melihat pandangan menyelidik dari teman-temannya, Alva mulai menengahi, "Jangan ikut campur masalah orang lain! Sudahlah, kau tidak lihat Zhe dan temannya sedang kelaparan?"


"Oh, tidak. Kami sudah makan." Zhe menolak dengan halus. Gadis itu hendak menarik tangan Putri ketika Putri tampak menyahut, "Apa kau gila? Kau bilang, kau kelaparan karena hanya makan roti tawar dan itu bukan gaya orang Indonesia?"


Crap. Zhea bersumpah, ia ingin sekali memplester mulut Putri.


Melihat gelagat Zhea, Alva kembali tersenyum dan menatap teman-temannya, "Kita sudah selesai," Kemudian Alva kembali menatap Zhea, "Kau bisa duduk disini. Kita sudah selesai makan. Sebentar lagi juga akan masuk kelas."


Teman-teman Alva tampak memandang Alva tak percaya. Demi Tuhan! Mereka bahkan baru makan dan minum tidak sampai setengah dari total volume. Namun, melihat pelototan Alva, mereka akhirnya menyahut, "Ya. Kita sudah selesai!"


Mereka semua tersenyum tertahan dan bangkit dari duduknya, "Ayo teman-teman, kita kembali ke kelas. Kalian semua sudah kenyang, kan?"


Setelah mengatakannya, mereka bergegas untuk pergi dari kantin, meninggalkan Alva yang masih menatap Zhea dalam.


"Kau bisa makan," Ucap Alva. Zhe sama sekali tidak menjawab. Gadis itu mengalihkan pandangannya karena tidak sanggup akan dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.


Melihat perubahan ekspresi Zhea yang tidak nyaman, Alva kembali tersenyum, "Baiklah. Aku akan pergi. Kau, makan yang banyak ya."


Sepeninggal Alva, Zhea duduk di meja itu, diikuti dengan Putri yang tampak menatap takjub pada punggung Alva yang semakin menjauh.


"Zhe! Lo liat gimana pandangan Alva ke elo?!"


Zhea tidak menyahut, karena sungguh. Gadis itu sama sekali tidak peduli.


"Zhe! Lo nyadar nggak sih kalo Alva bener-bener suka ke elo?! Lo serius nggak pacaran sama dia? Tapi, gue ngeliat lo deket banget sama dia, apalagi sama bokapnya!"


Zhea mendesah. Sumpah, dia sedang tidak ingin membicarakan tentang Alva.


"Gue ambilin lo makanan, ya?" Zhea memilih untuk meninggalkan Putri dan bergegas mengantri di kantin kampus.


"Ms. Florenza!" Zhea mendongak ketika petugas kantin memanggilnya.


"Ya, Bu?"


"Ini." Petugas kantin itu memberikan nampan berisi dua porsi makan siang beserta dua gelas lemontea yang membuat Zhe mengangkat alisnya.


"Saya belum sempat mengantri, Mrs. Apa anda salah orang?"


Wanita itu hanya tersenyum dan memberikan nampannya, "Aku tidak salah orang. Ini untuk anda."


Zhea menerima nampan itu dan mengucapkan terima kasih sebelum kembali ke mejanya.


"Kok lo cepet banget, Zhe?" Tanya Putri membuat Zhea mengangkat bahunya, "Gue juga nggak tahu. Mau antri, tiba-tiba dikasih duluan."


Mata Putri berbinar, "Pasti Alva, nih!"


"Apaan sih? Ngaco lo." Zhea memakan suapan tanpa mau peduli dengan celotehan Putri.


"Ya ampun, Zhe! Lo beruntung banget sih, bisa diperhatiin cowok sebaik dan seganteng Alva?!"


Zhea terdiam ketika akhirnya, kalimat itu muncul dari mulut Putri. Perasaan sesak kembali menyerang dadanya. Entah mengapa, makanan yang kini ada di mulutnya terasa hambar.


Beruntung? Apa lo tetep bilang gue beruntung kalau lo tau apa yang Alva lakuin ke gue? Apa kalian semua bakalan tetep memandang gue dengan pandangan iri, kalau kalian ngerasain apa yang gue rasain?


Zhea berjalan di sepanjang trotoar. Karena terlalu lama berada di perpustakaan, dia jadi tidak ingat waktu. Dan ketika keluar ruangan, ia baru sadar jika langit sudah benar-benar menggelap. Bus yang melewati perumahan William sudah habis sejak sejam yang lalu, begitulah kata orang sekitar. Dan bodohnya, Zhe tidak membawa uang lebih untuk naik taksi. Zhea membayangkan betapa marahnya William karena Zhe yang datang terlambat dan ponselnya yang tidak bisa dihubungi karena lowbatt.


Ketika sedang asyik berjalan, Zhea merasakan sorot lampu mobil menyinarinya. Dan ketika Zhea menoleh, ia mendapati sebuah mobil menepi ke arahnya.


"Zhea, mantannya Alva, kan?"


Zhe menyipitkan matanya untuk melihat seseorang di dalam mobil tersebut. Dan ia tampak mengangguk ketika menyadari orang itu adalah salah satu teman Alva.


"Kenapa kau masih disini? Ini sudah lewat jam delapan malam." Ucap pria yang tidak Zhea ketahui namanya.


"Ya, aku ketinggalan bis." Ucap Zhe singkat, membuat mata pria itu membulat, "Kau dari kampus?"


Zhea mengangguk.


"Demi Tuhan, kau sudah berjalan sejauh 2 km?" Zhea kembali mengangguk.


"Ayo, naiklah. Aku akan mengantarmu ke rumah Mr. Harison." Ucap pria itu membuat Zhea menggeleng, "Tidak perlu. Aku suka jalan kaki."


"Kau harus jalan kaki sejauh 3 km lagi. Memangnya kau pikir, kau akan sampai rumah jam berapa?"


Zhd tampak berpikir.


"Tidak baik jika wanita berjalan sendirian malam-malam begini. Kau belum tahu bagaimana New York di malam hari, kan?"


Well, Zhea mulai takut.


"Baiklah."


Pria itu tersenyum dan membukakan pintunya untuk Zhea. Membuat gadis itu mendudukkan tubuhnya dengan canggung.


"Sebelumnya, perkenalkan. Aku Richard Shelton." Pria itu mengulurkan tangannya, membuat Zhea manggut-manggut dan berkata, "Oh, jadi kau yang namanya Richard?"


"Kau mengenalku?" Tanya pria berambut pirang itu seraya menjalankan mobilnya.


"Kau yang menjemput Alva tadi pagi, kan?"


Richard tampak menaikkan alisnya, "Aku? Menjemput Alva? Tidak. Aku berangkat dengan pacarku tadi pagi."


Zhda membulatkan matanya. Jadi, Alva berbohong ketika berkata dia berangkat bersama Richard?


"Jadi, yang di bus umum itu.. Alva?" Zhe bergumam, membuat Richard menyahut, "What? Alva? Di bus umum?"


Zhea mengangguk, "Aku tidak sengaja melihatnya di bus umum. Tapi ku pikir aku salah lihat karena dia bilang akan berangkat bersamamu."


Ya Tuhan. Kau benar-benar serius untuk mendapatkan hatinya, Alva? Kau bahkan rela turun di tengah jalan agar aku bisa mengantarkan gadis ini.


"Ngomong-ngomong, kau akan kemana?"


Richard gelagapan, well, rencananya, Richard memang akan mengantarkan Alva pulang. Namun, ketika Alva melihat Zhea berjalan sendirian, pria itu memaksa untuk pulang naik taksi. Ia berkata bahwa Zhe tidak akan mau diantar pulang jika ada Alva di dalamnya.


"Oh, aku ingin bertemu Alva. Aku ingin pinjam barangnya." Dusta Richard, membuat Zhea mengangguk-angguk mengerti.